AgendaKajian Islam Salam

Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi

Kajian Islam Salam

Menandai awal tahun 2020, Club Islam Salam kembali menggelar kajian di Kantor Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP), Cempaka Putih Barat XXI No. 34, Jakarta Pusat pada hari Rabu, 22/1/2020.

Tema kali ini adalah Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi. Dari waktu ke waktu, makna hijrah mengalami pergeseran. Kita sering mendengar orang-orang berhijrah kemudian menutup diri dari pergaulan. Banyak yang hijrah dan tidak bisa menerima perbedaan. Berbagai praktik diskriminasi, persekusi dan intoleransi pun kian menguat akhir-akhir ini.

Lalu, apa makna hijrah yang sebenarnya? Menilik arti katanya, hijrah berarti meninggalkan. Menurut Ragib Al-Isfahani, istilah hijrah ini mengacu pada tiga hal. Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai. Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS. Al-Ankabut: 29:26). Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mengontrol hawa nafsu: “Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan segala yang dibenci Allah.” (HR. Bukhori).

Dalam konteks Islam, peristiwa hijrah dikaitkan dengan aktivitas Nabi Muhammad saw yang meninggalkan Kota Mekkah ke Madinah. Saat di Mekkah, Nabi saw menghadapi masa-masa berat penuh ancaman dan penderitaan. Nabi kemudian berhijrah ke Madinah. Di sana, beliau diangkat menjadi kepala negara dan memegang kekuasaan politik. Disinilah, hijrah menjadi momentum perubahan dan pembebasan umat Islam dari semua belenggu diskriminasi dan kezaliman.

Masyarakat Madinah yang majemuk diikat dalam sebuah tali persaudaraan atau ukhuwah. Selain ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman), diperkenalkan pula ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Melalui persaudaraan umat Islam diajarkan untuk menghayati perbedaan dan keberagaman. Nabi saw juga memberi tanggung jawab yang sama bagi semua golongan untuk memelihara keamanan dan ketertiban. Mereka diberi hak, kesempatan serta jaminan yang sama, sehingga tidak ada yang mendominasi serta memaksakan kehendaknya satu sama lain.

Masyarakat Indonesia seharusnya mengaca pada teladan Nabi saw. Hijrah bukannya membuat kelompok dan golongan saling gontok-gontokan dan merasa diri paling benar. Hijrah seharusnya menjadi momentum perubahan dan transformasi sosial. Melalui semangat hijrah, seharusnya umat Islam terdepan dalam memberantas KKN; menghapus diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan. Terakhir, kita harus melek ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terbelakang.

Pewarta: Siti Rubaidah

Tags
Show More

Related Articles

Close