Esai

Makna Tersembunyi Hari Kathina

Oleh: Kirmi*

Agama Buddha telah berusia lebih dari 500 tahun setelah Buddha sebagai penemu ajarannya meninggal. Perumusan ajaran secara sistematis dalam Agama Buddha baru dilakukan setelah Buddha meninggal atau sering disebut Parinibbana. Parinibbana merupakan istilah untuk menyebut meninggalnya makhluk suci atau yang telah mencapai kebuddhaan. Kitab Suci dan berbagai tatanan disusun setelah Buddha parinibbana. Sehingga dalam Agama Buddha tidak begitu menekankan kesakralalan ajaran Buddha namun lebih kepada mempraktikkan ajarannya. Setelah Buddha meninggal siswa dan umat begitu berterima kasih terhadap jasa Buddha telah mengajarkan cara untuk menjalani dan memanfaatkan waktu dalam kehidupan.  Untuk menghormati dan mengenang kemulian dan jasanya umat Buddha memiliki empat perayaan besar. Empat perayaan tersebut diantaranya Magga Puja, Waisak, Asadha, dan Kathina. Ke-empat perayaan tersebut masing-masing memiliki historis yang penting sehingga umat Buddha pantas patut berbahagia untuk merayakannya.

Antara bulan Oktober dan November merupakan bulan dimana umat Buddha akan merayakan Khatina. Perayaan Kathina merupakan perayaan dimana umat akan mempersembahkan dana kepada para Bhikkhu atau Bhikkhuni yaitu berupa empat kebutuhan pokok (makanan-minuman, jubah/pakaian untuk bhikkhu/bhikkhuni, obat-obatan, dan tempat tinggal). Dalam perkembanganya persembahan atau dana dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Secara historis perayaan Kathina adalah bermula dari saat Buddha masih hidup. Pada masa Buddha Gotama para Bhikkhu dan Bhikkhuni untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan lain seperti obat adalag dengan cara pinda pata, yaitu berkeliling kampung atau kerumah-rumah penduduk untuk memberikan kesempatan bagi penduduk berbuat baik dengan berbagi makan.

Sebelum bulan Oktober atau dimulai bulan April merupakan dimulainya musim hujan, sehingga penduduk akan meulai melakukan masa tanam. Karena kebiasaan pindapata dan jumlah bhikkhu dan bhikkhuni yang banyak terkadang mereka dapat menginjak tanaman para petani, selain itu binatang kecil yang muncul pada musim hujan juga banyak muncul di tanah. Maka dengan alasan binatang-bintang kecil akan sulit di lihat sehingga mudah terinjak, begitu juga bibit tanaman yang sedang ditaman akan sulit dilihat.  Dengan adanya kejadian tersebut maka Buddha membuat ketetapan baru bagi para bhikkhu dan bhikkhuni yaitu selama 3 bulam di awal musim hujan mereka akan tinggal di vihara. Mereka tidak lagi melakukan pindapata dan banyak melatih diri di vihara untuk meningkatkan kualitas Dhammanya. Sehingga umat akan memberikan dana makanan dan kebutuhan yang lain dengan datang ke vihara. Setelah melaksanakan masa vasa bhikkhu dan bhikkhuni akan mendapat penghormatan dari umat yaitu dengan membuat perayaan kathina.

Berbagai fenomena telah berubah seiring bumi semakin berumur tua. Musim sudah tidak disiplin berganti, namun masa vasa masih dilaksanakan sesuai ketentuan yang terdahulu. Sehingga saat ini selama satu bulan penuh para umat Buddha akan mengadakan perayaan Kathina. Terdapat pejaran berharga yang tidak nampak mencolok dalam historis perayaan Kathina. Di mana Buddha telah mengajarkan betapa beliau sangat menghargai bumi dan seisinya, Buddha dengan bijaksana merubah kebiasaan dan peraturan yang telah ditetapkan untuk menjaga keberlangsungan binatang kecil yang mungkin usianya hanya sampai musim hujan usai, dan usaha para petani untuk bercocok tanam serta tanaman yang mulai tumbuh setelah mendapat siraman air hujan. Buddha dengan bijaksana menyadari begitu pentingnya seluruh isi dari bumi ini tak terkecuali.

Secara umum umat Buddha sudah tidak asing dengan tatacara, perlengkapan, dan aktivitas yang dilakukan saat merayakan Khatina. Sesuai dengan perkembangan zaman umat Buddha dan sangha (perkumpulan persaudaraan para bhikkhu dan bhikkhuni) memanfaatkan dengan baik momen Khatina. Dengan adanya Kathina hasil dari persembahan umat di salurkan untuk membatu umat yang membutuhkan, seperti makanan, obat-obatan, bahkan untuk pembagunan vihara. Tindakan tersebut sangat baik demi meningkatkan kesejahteraan hidup umat. Kebiasaan yang terbangun dalam perayaan Kathina bagi umat Buddha sudah berhasil dengan baik. Namun umat Buddha juga harus melakukan tindakan yang lain sebagai sumbagsih untuk bumi ini. Yaitu dengan melakukan kebiasaan yang berbeda dari perayaan Kathina yang sudah berlalu. Seperti telah dijelaskan yaitu telanda Buddha untuk menhargai bumi beserta isinya. Kathina juga harus menjadi momen untuk menambah semangat baru guna menjaga bumi ini.

Dengan momen Kathina dan musim hujan yang telah tiba, meskipun tidak seperti musim hujan beberapa tahun yang lalu. Musim hujan kali ini tidak datang tepat waktu. Dan dunia sedang menghadapi ancaman pemanasan global, yang disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bisa menghindarkan terhadap penyumbangan pengikisan lapisan ozon. Udara bersih semakin berkurang, sedangkan manusia membutuhkan udara yang bersih. Udara bersih, segar, dan sehat diproduksi oleh tanaman atau pepohonan, maka seharusnya setiap masusia menyisakan sejengkal tanahnya sebagai habitan tumbuhan hijau. Tentunya Buddha mengetahui mengapa beliau begitu menghargai kehidupan dan isi dari bumi ini. Dengan semangat Kathina Umat Buddha melangkah untuk membiasakan diri, menanamkan dalam setiap aktivitas hidupnya untuk menghargai alam.

Para tokoh dan cendekiawan dalam Agama Buddha akan lebih baik apabila membantu untuk menanamkan kebiasaan hidup menghargai bumi ini. Dalam setiap kesempatan dan bimbingannya, mengajak untuk hidup lebih baik dalam menjaga lingkungan. Merawat tanaman, membuang sampah dan mengelola sampah dengan baik, tidak hanya melakukan perapian lingkungan dengan menutup tanah sehingga tidak mampu menumbuhkan tanaman. Kesadaran umat Buddha akan pentingnya menjaga lingkungan dan memiliki tanaman hijau tentunya tidak dapat diulur lebih lama lagi. Meskipun dunia tidak memandang kita, namun sunguh bergembira apabila kita tetap memmpersembahkan yang terbaik untuk dunia.

Selamat merayakan Kathina, semoga menjadikan kualitas hidup menjadi lebih biak, lebih sensitif terhadap berbagai masalah, dan menjadi lebih dewasa.

 

*Penulis adalah aktifis Buddhis, dan komunitas sekolah agama ICRP

 

 

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close