Harian

Maarif Institute Meluncurkan Buku “Membuka Mata Tertutup”

Peluncuran Buku "Membuka Mata Tertutup”

 

Hari Kamis, 21 Juni 2012, Maarif Institute menyelenggarakan siaran pers peluncuran dan diskusi buku “Membuka Mata Tertutup”. Buku ini memuat kompilasi komentar dan resensi mengenai film “Mata Tertutup”, yang pada 2011 lalu dirilis oleh lembaga yang sama. Bertempat di Kafe Tjikini,, sekumpulan aktifis, blogger, kritikus film, dan kelompok masyarakat lainnya berkumpul mendiskusikan film dan buku ini.

Khelmy K. Pribadi, manajer program dari Maarif Institut yang membuka acara ini mengungkapkan keprihatinan atas peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Ini mencerminkan betapa isu intoleransi beragama sudah menjadi hal yang urgent. Penangkapan pelajar di Klaten tahun lalu terkait rencana aksi pemboman masjid dan kantor polisi, dan terakhir penggerebekan asset tersangka teroris di Medan tanggal 21 Juni 2012. Selanjutnya  kabar dari The New York Times edisi 21 Mei dan Survey Litbang Kompas yang dimuat 8 Juni 2012, semakin memperlihatkan betapa intoleransi menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh semua pihak.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq mengamini hal ini seraya menambahkan bahwa Maarif Institute berkeinginan agar “massa mengambang” (istilah Fajar untuk kelompok dengan pilihan ideology yang belum solid) dapat didekati untuk diajak berdialog. Pilihan Maarif Institute kemudian jatuh pada media popular semisal film, sosial media, dan media popular lainnya yang memang lebih akrab digunakan oleh massa mengambang ini.

Dalam diskusi lebih lanjut, Hikmat Darmawan, seorang kritikus film terkemuka Indonesia memberikan apresiasi tinggi pada langkah yang telah diambil oleh Maarif Institute ini. Menyinggung film “Mata Tertutup”, Hikmat memuji teknik pengambilan gambar yang minim efek artistik karena membawa penonton untuk lebih dekat pada realitas yang dibangun dalam film ini. Pilihan untuk membuat buku kompilasi ini juga dipandang sebagai langkah maju karena dapat membuka ruang dialog yang sehat dan kampanye Maarif Institut dalam memperkenalkan radikalisme menjadi lebih terarah.

Pilihan komunikasi (media dan bahasa) ini kemudian menjadi bahan diskusi menarik dalam acara ini. Pandangan bahwa media audiovisual dan sosial media yang selama ini dianggap sebagai media komunikasi banal, yang tidak bisa cukup dalam membahas bahkan lebih sering mengambangkan sebuah masalah, pada diskusi ini dibahas dengan cukup lengkap oleh Hikmat Darmawan. Menurutnya, sudah saatnya para aktifis pluralis melakukan apa yang disebutnya dengan revolusi media. Selama ini, para aktivis pluralis lebih banyak memaksakan pembahasan panjang melalui jurnal, majalah, dan media “aksara” lainnya. Para intelektual kita ternyata gagap jika memasuki dunia dengan media baru semacam facebook, twitter, film, dan media popular lainnya. Hal ini menjadikan para intelektual kita terpinggirkan dan tidak dapat menjadi intelektual publik. Menurut Hikmat, sudah saatnya para aktifis dan intelektual pejuang pluralis untuk mulai belajar cara menggunakan media popular sehingga pesan mereka bisa lebih tersampaikan. Hasil survey Kompas seharusnya cukup menjadi peringatan bahwa: bahkan kelas menengah yang diharapkan menjadi penggerak demokrasi pun sudah mulai lepas dan menjadi intoleran, karena kelompok-kelompok intoleran ternyata lebih fasih dalam penggunaan media-media popular. Contoh lainnya adalah kalah masifnya gerakan #IndonesiaTanpaFPI dibandingkan dengan #IndonesiaTanpaJIL di twitter. Peluncuran dan Diskusi Buku “Membuka Mata Tertutup” kemudian harus diakhiri karena sempitnya waktu.  (NhR.)

Show More

Related Articles

One Comment

  1. ha ha ha… maarif institut, aktivis..ck ck..
    Saya jadi ingat wkt kuliah dulu, pas tingkat akhir, menjelang kejatuhan suharto. Ada seorang teman kampus, seharusnya menyelesaikan skripsi, dia malah asyik beraktivis ria. Saya masih ingat, HP-nya saja sampai mempunyai 4 buah, padahal waktu itu (’97/’98) alat komunikasi itu harganya selangit.
    Tampa ditanya, mengalir deras celotehan dia, mengenai sepak terjang keaktivisannya, kegiatan – kegiatannya, yg ternyata bukan lahir dari idealisme, aktivis-nya dia, ternyata lahir dari perut yg bermuara pada dolas saja, termsuk mempunyai alat komunikasi sebanyak itu. Ternyata, dia itu dibiayai oleh donatur asinng.
    He he he.. ternyata sekarang banyak juga yah, itstitut – institutan.. kayaknya saya juga bisa bikin gituan.. sangat gampang …
    tinggal bikin proposan aja ke donatur luar, pasti dolar ngalir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close