Opini

Lucinta Luna & Millen Cyrus

Oleh Pdt. Albertus Patty

Lucinta Luna dan Millen Cyrus tertangkap basah karena menjadi pengguna narkoba. Fine! Mereka salah! Tangkap dan penjarakan! Moga mereka jera dan tidak melakukannya lagi. Biar bagaimana pun perbuatan seperti itu menghancurkan masyarakat dan menghancurkan diri mereka sendiri.

Tulisan ini tidak mengulik kesalahan mereka, tetapi membahas cara media menyoroti kasus mereka. Media mengangkat bukan kesalahannya, tetapi jati diri keduanya. Status transgendernya dikuliti tuntas. Dengan cara merendahkan! Muak saya pada pertanyaan:”disel mana Millen Cyrus akan ditempatkan?” Pertanyaan ini menghancurkan kepercayaan diri Millen Cyrus. Media menghancurkan hidupnya!

Lucinta Luna maupun Millen Cyrus tidak merencanakan mengisi jiwa perempuan dalam tubuh laki-laki mereka. Tidak! Mereka menjadi seperti itu karena kodrat. Sudah dari lahir! Dari sananya! Jangan pikir mereka suka. Tidak sama sekali! Sejak kecil mereka menderita: secara psikologis, sosial, ekonomis, dan spiritual. Saya pernah melihat anak laki-laki usia 5 tahun digampar ayahnya karena bertindak seperti perempuan. Ayahnya malu! Anaknya dianggap cacat! Harus diubah. Bila perlu dengan gamparan keras. Bukan gamparan itu yang membuat si anak menjerit, tetapi penolakan sang ayah atas jati dirinya. Ini jauh lebih sakit! Tidak ada yang melindungi kerapuhan dan kerentanannya. Ayah pun tidak!

Menjadi transgender berarti mengalami bullyan, penghinaan, dan cemoohan. Ditolak keluarga, dihindari tetangga, dinista di sekolah dan di kampus, didiskriminasi di tempat kerja, diejek masyarakat, dilecehkan media, dan dituding penghuni neraka oleh orang-orang ‘saleh dan taat’ beragama. Bahkan sebagian orang beragama bisa berubah bengis seperti serigala lapar lalu menganggap kaum transgender layak dibinasakan.

Orang seperti Lucinta Luna dan Millen Cyrus sering mengalami situasi teralienasi total: dari hidupnya sendiri, dari keluarga, dari masyarakat, dan bahkan dari institusi agama, termasuk gereja. “Tidak ada tempat bagi mereka untuk membaringkan kepala!” Lengkap sudah! Pantas saja mereka frustrasi berat. Lalu, tingkat bunuh diri anak-anak Tuhan ini sangat tinggi. 10 kali lebih tinggi dari mereka yang mendaku diri ‘normal.’ Kita tidak mau tahu! Tetap saja orang-orang seperti Lucinta Luna atau Millen Cyrus dianggap pendosa. Harus bertobat! Tudingan sangat semberono.

Teman saya, transgender kaya raya. Bisnisnya banyak dan sukses. Menariknya, kemana-mana dia mengendarai motor biasa. Saya heran! ‘Dipakai untuk apa saja kekayaanmu?,’ tanya saya. Dia ragu menjawab, tetapi akhirnya dia mengaku: “Uangku digunakan untuk membangun banyak salon kecantikan dan tempat2 pelatihan untuk para transgender.” Sudah ratusan orang ditolongnya. Ternyata dia berjuang keras menaikan harkat dan martabat kaum transgender. Saya terharu. Saya panggil dia ‘Suster Teresa.’ Bagi saya, inilah ‘anak Tuhan” yang sesungguhnya. Secara moral dan spiritual, dia jauh lebih baik dari kita semua!

Lucinta Luna dan Millen Cyrus memang salah langkah, tetapi perlakukanlah mereka secara manusiawi. Mereka warga negara yang perlu diterima apa adanya. Perlakukanlah secara manusiawi. Kecerdasan sosial, intelektual dan kecerdasan spiritualitas kita nampak dari cara kita memperlakukan anak-anak Tuhan ini. Moga Tuhan ampuni kita semua!

 

Sumber ilustrasi : https://kumparan.com/berita-artis/perbedaan-kasus-narkoba-lucinta-luna-dan-millen-cyrus-1uelMWusmDD

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close