Resensi Buku

“Kristen Bertanya, Muslim Menjawab” karya Ahmad Nurcholish

Menjelajahi buku ini, kita dibawa ke pengembaraan dan dialog spritualitas yang sejuk. Mengundang tanya dan rasa ingin tahu, serta mencerahkan. Buku ini menunjukkan, bahwa untuk menjawab pertanyaan yang rada rada serem-pun tidak perlu harus dengan diksi dan kalimat kalimat seram.

Peluncuran buku secara daring ( on line – karena dalam suasana PSBB) beberapa minggu yang lalu, yang dihadiri banyak orang – sekitar 100 orang, menampilkan tiga pembahas yang sangat kompeten. Ada Pdt. Gomar Gultom – Ketum PGI, Romo Jo Hariyanto – Sekum ICRP, dan ibu Susi Ivvaty (Founder alif.id). Beberapa pandangan, harapan, apresiasi dan masukan diberikan. Yang intinya bagaimana dalam rumah bersama Indonesia ini dialog antar iman tersebut menjadi sesuatu yang konstruktif, kolaboratif dan memberi kontribusi dalam semangat kebhinnekaan keluarga besar Indonesia.

Beberapa pertanyaan yang kritis disampaikan terhadap refleksi dan ekspektasi para penanggap tersebut, mendapat jawaban secara proporsional. Bung Jerry Sumampow sebagai host moderator dapat mengatur lalu lintas diskusi – sambil ngabuburit on line tersebut dengan baik.

Dengan menyimak daftar dan sambutan dari berbagai kalangan pada bagian awal buku ini, sesungguhnya telah menunjukkan kelas sosial dan kasta pergaulan spritualitas penulisnya. Penulis, yang menyandang nama Nurcholish di belakangnya, tidak berada di bawah bayang bayang kebesaran alm. Nurcholish Madjid, sang cendekiawan muslim par excellence pada zamannya. Tetapi justru mempertegas benang biru DNA tradisi kecendekiawanan mereka sebagai keluarga muslim yang inklusif, toleran dan mempraktekkan bahwa agama itu adalah rahmat untuk manusia dan kemanusiaan kita.

Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesia Conference on Religion And Peace (ICRP) menyimpulkan dengan tepat “Letak penting buku ini adalah menjelaskan ajaran Islam yang benar dan kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sehingga selaras dengan prinsip demokrasi dan pluralisme beragama, serta juga selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia.

Jawaban jawaban yang diberikan tidak menunjukkan adanya kepongahan rohani, debat kusir apologetik – meminjam istilah Pdt Albertus Patty. Buku ini juga menjawab hoax yang lagi subur suburnya berseliweran di jagat maya Indonesia. Buku ini merupakan menu yang pas bagi penggemar kuliner “berkuah” ukhuwah wahtoniyah maupun ukhuwah basyariyah, meminjam istilah KH M. Cheng Hoo Djadi Galapajo.

Buku ini adalah seteguk oase yang dirindukan

Walau cukup tebal, 530 halaman, 7 bagian, di luar sambutan dan daftar pustaka, sesungguhnya isinya dapat kita cerna dengan santai. Sambil mendengar lagu lagu top hit dari spotify misalnya. Tidak membosankan.

Cara menjawab Cak Nurcholish yang terkadang jenaka, tetapi mengena dan walau sedikit diambangkan bagi saya sangat terasa pas. Beberapa bagian saya coba cuplik ya.
Pada Bagian I hal Kitab Suci dan Kenabian Muhammad, ada yang bertanya apa alasan Nabi Berpoligami.

Saya memperhatikan struktur cara menjawab Cak Ahmad yang cukup jitu. Ada simpati kepada para wanita yang mungkin mempertanyakan dan menolak praktek tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan alasan historis, alasan teologis, dan kondisi faktual pada zaman Nabi, terutama akibat kekalahan pada perang Uhud yang menyisakan banyak anak yatim dan janda-janda, yang tidak terlalu percaya kepada sebagian wali yang lebih tertarik kepada harta almarhum dibanding untuk melindungi anak anak itu. Juga dijelaskan bahwa Nabi berpoligami selang tiga atau empat tahun setelah isteri pertama beliau meninggal, dan yang dinikahi tersebut adalah para janda. Penulis juga menjelaskan bahwa tradisi poligami itu telah ada jauh sebelum masa Nabi. Nabi mengaturnya agar memenuhi unsur keadilan.

Atas pertanyaan di bagian II tentang Jilbab, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi, ada pertanyaan, apakah hijab dan cadar, kewajiban agama atau budaya Arab. Beliau mengutip beberapa pandangan, termasuk yang bertolak belakang, misalnya pendapat Al-Qurtubi. Pendapat yang mengaitkan bahwa orang Arab meniru agama Persia lama, yang mewajibkan atau juga yang tidak memerintahkan dan tidak melarang juga dikutip. Penulis juga mengaitkan praktek berjilbab di Indonesia yang mulai marak pasca revolusi Iran. Didukung oleh industri fashion, sehingga menjadi pakaian populer bagi wanita muslim.

Akan halnya cadar, penulis juga menanggapi secara hati hati. Ada pernah stigmatisasi terkait dengan bom bali, di mana isteri isteri para pelaku semuanya bercadar. Penulis tidak jelas menanggapi pertanyaan itu. Tapi menutupnya dengan cerdas.. asal usul wanita bercadar, tidak penting dijadikan perdebatan apalagi sampai mengecam agama dan mencaci masyarakat tertentu.

Pertanyaan pertanyaan yang diajukan cukup tajam.

Pada bagian V misalnya hal Negara, Khilafah dan Kepemimpinan. Pertanyaan pertanyaan yang didialogkan sangat tajam. Misalnya, Adakah perintah membuat Negara Islam ?. Apa makna jihad yang sesungguhnya. Kenapa banyak umat Islam menuntut Israel. Bolehkah memilih Pemimpin non Muslim dalam Islam… dan banyak pertanyaan menarik lainnya.

Model menjawab pertanyaan ala Ahmad Nurcholish relatif seperti dua hal di atas. Beliau sadar bahwa misi buku ini adalah untuk mengkomunikasikan hal hal secara umum, menghilangkan prasangka yang salah, dan menunjukkan nilai nilai universalitas di dalamnya. Beliau mencoba meluruskan beberapa hal yang sering menjadi isu yang hangat atau kontroversial di masyarakat.
Bagian akhir atau bagian VII dari Kitab ini bertema “Dari dialog Kristen-Islam menuju Indonesia Damai”. Bagian ini tidak menyangkut pertanyaan-pertanyaan sebagaimana pada enam bab sebelumnya. Bagian VII ini merupakan perjalanan sejarah perjalanan dialog dan kerukunan antar umat beragama, yang menjadi dasar penting bagi terwujudnya perdamaian. Bab tersebut berisi prinsip dalam dialog, Tiga pendekatan dialog, yakni pendekatan teologis, pendekatan kultur atau budaya serta pendekatan politis. Bab ini juga mencatat adanya tiga tantangan perdamaian di bumi, yaitu : menguatnya kelompok radikal keagamaan yang bekerja masif, pendidikan agama yang eksklusif doktrinal, serta menguatnya kelompok mayoritas diam, yang hanya mengandalkan kata prihatin, mengutuk keras dan menyayangkan tindakan kekerasan atau radikalisme (agama) yang kerap terjadi di masyarakat.

Pemilihan judul yang mendahulukan kata Kristen dari Islam pada bagian terakhir ini menunjukkan kecerdasan sosial, simpati dan elegansi seorang Ahmad Nurcholish, yang mewongke rekan saudaranya. Konsisten dengan cara menyapanya kepada rekan rekan Kristen penanya dengan misalnya… Shalom Saudaraku yang diberkati Tuhan.

Bagi saya, kehadiran buku ini – sekali lagi – sangat bermakna berkontribusi untuk menciptakan dan membangun kedamaian dan adab Nusantara yang damai. Ibarat air dari oase yang ngademin dan ngangeni untuk diteguk berkali-kali, di tengah kegersangan dan hawa yang tidak terlalu adem ini.

Jakarta, Mei 2020
Peresensi : Sampe L. Purba
Penikmat dan Pecinta Budaya Nusantara

Show More
Close