Esai

Kolom Musdah Mulia: Islam Mendorong Umatnya Menjadi Khaira Ummat

Musdah Mulia

Saya di undang sebagai pembicara dalam Regional Conference on Promoting of Family Planning/ Birth Spacing, di Kabul, Afganisthan, bertempat di Kabul Serena Hotel, tanggal 29 Februari-3 Maret 2012. Acara ini diadakan oleh UNFPA (United Nations Population Found)  yang bekerjasama dengan Ministry of Health Afghanistan, yang disponsori oleh ICOMP and Marie Stopes International. Saat itu peserta yang hadir sekitar 150 orang, yang terdiri 50 orang peserta yang berasal dari luar Afghanistan, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Pakistan, Malaysia dan Turki. Dalam acara tersebut hadir juga sejumlah ulama Taliban yang dikenal sangat keras menentang modernitas, demokrasi KB (Keluarga Berencana), kesetaraan gender dan ide-ide modern yang lainnya.

 

Kabul Serena adalah hotel antik. Hotel bintanglimadengan sentuhan klasik yang amat indah. Sayangnya keindahan hotel terganggu oleh kehadiran polisi bersenjata di setiap sudutnya. Suasana Kabul sangat dingin, bahkan salju tebal kira-kira 50 cm di jalan, bahkan di beberapa tempat sampai setebal 1m. Dari pesawat terlihat seluruh pegunungan seperti kapas putih, diselimuti salju yang tebal.

 

Sayangnya, udara dingin tidak membuat kita merasa sejuk karena di jalan-jalan dan di semua tempat selalu terlihat tentara bersenjata laras panjang, sungguh pemandangan yang mencekam.Afghanistandikenal dengan cuaca yang ekstrim, di musim dingin terasa sangat menusuk, sebaliknya di musim panas pun sangat menyengat, bisa sampai 55 derajat Celcius. Cuacanya ekstrim, demikian pula penduduknya, yang juga dikenal keras.

 

Mengapa Afghanistan? Karena negera ini paling buruk di dunia; terkait Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan, angka kematian bayi, angka kekerasan terhadap perempuan (women violence), juga kesehatan reproduksi dan angka buta huruf  bagi para perempuan. Pemerintahnya sibuk dengan perang dan konflik.Para ulamanya hanya ngurusin jenggot yang panjang dan punya isteri dan anak banyak.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qu’ran oleh perempuan. Lalu sambutan Menteri Kesehatan, Dr. Soraya Dalil. Acara ditutup oleh pidato ulama yang cukup progres, yang menekankan Islam sebagai agama yang  menyuarakan respek bagi perempuan sama halnya dengan laki-laki dalam kapasitas keduanya sebagai manusia. Tetapi dia masih saja menegaskan, keutamaan tugas domestik perempuan.

 

Sesi yang paling menarik, karena saya khusus diminta bicara tentang Inequities in Acces to Family Planning from Islamic Perspective. Sepanjang presentasi, saya perhatikan para ulama Taliban mengelus-elus jenggotnya yang panjang, tanda greget dan tidak setuju. Begitu sesi tanya jawab di buka, mereka langsung menyerang pandangan saya dengan tajam sambil membaca rangkaian ayat Qu’ran.

 

Seperti biasa, saya merespon dengan tenang sambil berusaha selalu senyum, saya katakan Islam adalah agama yang sangat konsen pada berbagai problem kemanusiaan, termasuk problem ledakan penduduk, kemiskinan dan kesehatan reproduksi. Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat terbaik (khaira ummat) agar dapat menolong sesama manusia. Dalam rangka menjadi Khaira Ummat itulah, muslim harus meningkatkan kualitas dan kesejahteraan mereka terlebih dahulu, antara lain lewat Family Planning. Jadi Islam bukanlah hambatan dalam KB, yang menjadi hambatan adalah interpretasi yang sempit tentang Islam dan sikap kaku kaum Muslim yang tidak mau berubah ke arah ayng lebih baik.

Para Taliban mendengar penjelasan saya dengan tenang, dan terlihat masuk akalnya dan mereka heran saja melihat ada perempuan yang berani mengajukan interpretasi yang progres dan mampu berargumentasi dengan ayat-ayat Qu’ran. Hal ini belum terlihat dalam masyarakat Taliban. Setelah sesi saya, di dalam forum muncul istilah mazhab Musdah, untuk merujuk setiap pandangan Islam yang progres.*)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close