Daily

Kiprah ISIS di Irak pengaruhi Kelompok Radikal Tanah Air

Menguatnya ancaman ISIS (Negara Islam Irak dan Mediterania Timur) disambut meriah oleh kalangan Islam radikal di tanah air. Atas perkembangan situasi di Irak itu, Direktur proyek International Crisis Group untuk Asia Tenggara, Sidney Jones menilai dukungan terhadap kelompok teroris multinasional ini semakin menguat di tanah air. Hal ini, lanjut Sidney, terlihat dari besarnya antusiasme kelompok jihadis asal Indonesia untuk pergi ke medan perang menyertai ISIS.

Sidney menemukan website-website yang dikelola kalangan radikal tengah mengumpulkan dana guna membantu ‘perjuangan’ ISIS.

Dalam temuannya lebih lanjut yang diwartakan jakartapost, Sidney memaparkan upaya kelompok radikal membantu  ISIS sudah sampai ke UIN Syarif Hidayatullah. Padahal sebagaimana diketahui UIN Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal UIN Ciputat dinilai sebagai kampus kalangan intelektual muslim  tanah air. Infiltrasi para pendukung ISIS ke UIN ini, Sidney contohkan dengan penggalangan dana bagi ISIS pada tanggal 8 Februari. Kala itu, panitia mengundang ideolog kelompok radikal, Halawi Makmun sebagai pembicara. Tak kurang dari 41, 9 juta rupiah terkumpul dalam acara itu.

Menguatnya dukungan terhadap ISIS yang signifikan dalam enam bulan terakhir diyakini karena beberapa penaklukan ISIS atas rezim Assad dibeberapa titik di Suriah. Terlebih, kini ISIS mampu untuk merebut dua kota  di Irak, Tikrit dan Mosul.

ISIS mendapat dukungan dari jaringan teroris di Indonesia sebut saja, dari Indonesia Timur seperti Santoso yang hingga kini masih berstatus buronan, atau Abu Bakar Baasyir yang memimpin Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan juga Mujahidin dari Indonesia Barat lainnya.

Bulan lalu, Aman Abdurahman, teroris yang menjalani hukuman sembilan tahun penjara karena membantu Baasyir mendirikan pendirian kamp paramiliter di Aceh, melakukan sumpah via dunia maya pada pimpinan ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi. Dalam pernyataan sumpahnya, Aman berjanji untuk setia pada perjuangan ISIS. “Jemaah Islamiyah (kelompok teroris domestik lainnya) secara umum tidak mendukung ISIS, kelompok ini lebih mendukung saingan ISIS di Suriah yang bergabung dengan Front Al-Nusra”, tutur Sidney.

Pakar terorisme Noor Huda Ismail mengatakan bahwa sejumlah jihadis tanah air telah berniat untuk bertempur bersama ISIS di Irak dan Suriah. Beberapa diantaranya, ungkap Ismail, didorong oleh pandangan ideologi ekstrim. Sementara  sisanya , menurut Ismail, tergiur oleh imbalan. “para jihadis menyatakan mereka menerima bayaran dan akomodasi yang dipenuhi oleh ISIS”, ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail juga meyakini para jihadis asal Indonesia bisa dengan mudah memasuki teritori Suriah via Turki. Hal ini, menurutnya membuat semakin banyak militan asal di tanah air yang kelak akan bergabung dengan ISIS.

Berdasar laporan BNPT (Badan Nasional Penanggulan Terorisme) sekurang-kurangnya 50 warga negara Indonesia tengah bergabung dengan pemberontak di Suriah untuk menggulingkan Bashar Al-Assad.

Hingga kini masih belum diketahui keberadaan 50 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS itu  masih berada di Suriah atau telah hijrah ke Irak. Tetapi, dikabarkan seorang pemuda 19 tahun asal tanah air, Wildan Mukhallad, telah melakukan bom bunuh diri di Irak. Sebelumnya Wildan diketahui bertempur di Alleppo, Suriah.

Sidney meyakini para jihadis yang  pulang  pasca berperang di Suriah akan membentuk ancaman serius bagi keamanan di tanah air. Para militan itu, Sidney melanjutkan,  telah terlatih untuk melakukan pelatihan menyerang,  mahir dalam bersenjata dan berhubungan dengan jaringan teroris internasional. Hal yang tidak dimiliki kelompok teroris lokal.

“Kita memang tidak mampu memprediksi ke depan seperti apa, tetapi pemerintah Indonesia harus bersiap diri untuk menghadapi dampak yang bisa jadi lebih mengerikan ketimbang era 90an ketika para mujahid asal Indonesia pulang dari Afghanistan dan membentuk gelombang baru terorisme”, Ujar Sidney.

Guna mencegah alumni ISIS melakukan aksi-aksi terorisme di tanah air, Ismail menyarankan pemerintah harus secara serius memberikan perhatian pada mereka ketika pulang ke Indonesia.

“(pemerintah) perlu untuk memberikan wacana alternatif yang menerangkan pada para mujahid yang kembali ke tanah air bahwaapa yang terjadi di Suriah dan Irak tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Ada banyak kepentingan yang berperan dalam konflik itu, Indonesia menjadi salah satu kepentingan yang signifikan”, Pungkas Ismail. (thejakartapost.com)

 

 

 

 

 

 

Show More

Related Articles

2 Comments

  1. “Salam sejahterah bagimu, “HIDUPLAH DALAM DAMAI TUHAN !”. Tuhan menciptakan keragaman RAS, AGAMA, SUKU yg berbeda untuk saling melengkapi dengan penuh pelayanan KASIH TERHADAP SESAMA !”. Janganlah saling membenci/curiga/fitnah/merugikan orang lain ataupun membunuh !”.

  2. “Salam sejahterah bagimu, “HIDUPLAH DALAM DAMAI TUHAN !”. Tuhan menciptakan keragaman RAS, AGAMA, SUKU yg berbeda untuk saling melengkapi dengan penuh pelayanan KASIH TERHADAP SESAMA !”. Janganlah saling membenci/curiga/fitnah/merugikan orang lain ataupun membunuh !”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close