Daily

Khutbah Alumnus Jihad Afghanistan Provokasi Rakyat Yogyakarta

Khutbah Alumnus Jihad Afghanistan Provokasi Rakyat Yogyakarta

Jebolan Jihadis Afghanistan Jafar Umar Thalib kembali menyampaikan khutbah provokatif di Yogyakarta, Minggu (8/6).  Dalam tabligh akbar di Mesjid Agung Gede, Jafar  mendeklarasikan perang melawan pluralisme.

Berperan sebagai pengkhutbah di acara bertemakan “Umat Islam Bersatu untuk Indonesia Maju”, Jafar mengecam pluralisme sebagai ajaran yang sesat bagi muslim.  Pluralisme dinilai ajaran sesat oleh pria kelahiran Malang 52 tahun lalu karena memandang semua agama adalah benar.

“ini (pluralisme) merupakan sebuah pernyataan perang terhadap muslim, karena pandangan itu membuat seorang muslim menjadi murtad”, Ujar Jafar malam itu kepada kurang lebih 2000 jemaat yang hadir. Lebih lanjut, ia meyakini bahwa memerangi pluralisme adalah sebuah kewajiban. Karena pluralisme, kata Jafar, memiliki potensi untuk menimbulkan konflik.

“Tidak ada toleransi saat agama direndahkan”, ujar Jafar yang sempat menjadi komandan Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jamaah. Dikabarkan anggota organisasi Jafar pernah berkiprah ini terlibat dalam konflik berdarah di Ambon awal tahun 2000.

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta itu disebarkan lewat poster berwarnakan hitam dan putih yang bertuliskan “Umat Islam Bersatu Melawan Pluralisme”. Pada umumnya kelompok Islam garis keras menyukai kedua warna ini. Hal ini bisa dilihat dari bendera ISIS (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Imam mesjid Gede, Budi Setiawan menuturkan acara tablig akbar tersebut awalnya bertemakan “Umat Islam Bersatu Melawan Pluralisme”. Tetapi, Ia memohon pada panitia pelaksana untuk mengubah tema acara agar tidak terlalu meresahkan warga. Ia mengatakan telah menerima beragam pengaduan atas tema yang diangkat setelah selebaran dan poster bertebaran dimana-mana. Kekecewaan pun, menurut Budi, terlihat dari suara di sosial media.

Budi memastikan panitia telah mengganti tema tablig akbar tetapi, ia tak sebegitu yakin jika publik menerima surat undangan yang versi revisi.

“tema pertama yang diangkat tidak kondusif untuk sekarang, terlebih setelah rantaian peristiwa akhir-akhir ini”, kata Budi sebagaimana dilansir Jakarta Post.

Sebelumnya diwartakan beberapa aksi kekerasan yang diduga berkaitan dengan paham agama radikal mewarnai Yogyakarta. Beberapa waktu lalu, jemaat Gereja yang tengah melakukan ibadah diserang gerombolan lelaki bergamis dan berkalung surban. Dalam waktu yang berdekatan dengan penyerangan terhadap jemaat Gereja, kembali sebuah gereja jadi target gerombolan tak dikenal yang menerikan keagungan tuhan.

Budi khawatir tema yang diangkat panitia memperkeruh suasana di Daerah Istimea Yogyakarta. Ia menduga tema awal itu bisa memperburuk kekerasan sektarian yang tengah mewabah di Yogyakarta akhir-akhir ini.

Sempat diberikan ruang dalam membuka tablig akbar, Budi menyampaikan pada jemaat bahwa isi khutbah sebaiknya tidak memicu kebencian antar umat beragama. Ia juga mengatakan bahwa Islam agama yang adil terhadap perbedaan. “Adalah tujuan kita mencari persamaan, bukan perbedaan”, imbuh Budi.

Sementara itu, Koordinator Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo) Denny Susanto memandang khutbah Jafar amat provokatif.

“Yogyakarta tengah menghadapi tantangan serius dalam merawat pluralisme,” kata Denny yang juga hadir dalam acara itu.

Budi Setiawan tidak sepakat dengan pandangan Jafar. Menurutnya, Islam yang dipahami Jafar tidak bisa dijadikan rujukan untuk menilai pandangan muslim secara umum. Pernyataan ini ia maksudkan untuk membantah komentar Jafar yang memandang Islam sebagai sebuah “agama peperangan”.

Banyak pihak khawatir acara malam itu didorong oleh kepentingan politik. Meskidemikian tidak ada politisi satupun yang menghadiri tablig akbar itu. (Jakpost)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close