Kliping Berita

Kejati Terima SPDP Kasus Perusakan Masjid Ahmadiyah

Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) mengaku, telah menerima Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar), atas nama tersangka AB dan 7 tersangka lainnya. Tersangka merupakan para pelaku perusakan Masjid Ar-Rohim yang merupakan tempat ibadah jemaat Ahmadiyah di Kampung Cisaat RT 01 RW 08 Desa Cipeuyeum Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.

Setelah menerima SPDP itu, kejaksaan pun menunggu pelimpahan tahap dua dari penyidik Polda Jawa Barat. Pelimpahan tahap dua tersebut merupakan pelimpahan para tersangka dan alat bukti. Sebab, para tersangka dan alat bukti masih berada di Polda Jabar.

“Jaksa penuntut dari Kejati Jabar menganggap, berkas perkara yang diserahkan Polda Jabar itu, dinyatakan sudah lengkap pada Selasa (24/4) lalu. Maka, kejaksaan menunggu pelimpahan tahap dua dari penyidik Polda Jabar,” ungkap Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Jabar, Atang Bawono kepada “PRLM” saat ditemui, Minggu (29/4).

Atang menjelaskan, kasus ini bermula saat tersangka AB yang dianggap seorang pemuka agama, secara terbuka di muka umum diduga telah menghasut orang lain untuk melakukan perbuatan yang melawan hukum, yakni menyuruh pengikutnya untuk melakukan perusakan masjid jemaat Ahmadiyah yang berada di lingkungan sekitar warga.

Dasar penghasutan itu dilakukan, karena tersangka AB menganggap aliran Ahmadiyah merupakan aliran ajaran Islam sesat. Selain itu, tersangka AB pun menganggap bahwa yang dilakukan para jemaat Ahmadiyah telah melanggar Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pelarangan Kegiatan Penyebarluasan Ajaran Ahmadiyah.

“Saat itu, pada Jumat ( 17 Februari 2012), sekitar pukul 8.00 WIB, tersangka AB, melakukan upaya penghasutan kepada tersangka lainnya untuk merusak tempat ibadah jemaat Ahmadiyah. Kemudian, mendengar hal itu, ketujuh tersangka lainnya menuruti perintah tersangka AB,” katanya.

Dikatakan Atang, pelaku perusakan terhadap tempat ibadah jemaat Ahmadiyah itu dipimpin oleh YS dengan keenam rekannya. Maka, berkas perkara para pelaku yang melakukan perusakan secara langsung terhadap tempat ibadah itu pun displit (digabung). Sedangkan khusus untuk AB, berkas perkaranya terpisah dari pelaku pengrusakan.

“Pasal yang dijeratkan kepada AB dan pelaku perusakan pun berbeda. Hal itu dikarenakan perannya yang berbeda pula,” ungkap Atang. (A-198/A-147)***

Sumber: pikiran-rakyat.com

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close