Esai

Chris Poerba: Kasus HKBP Filadelfia, Kodok pun Dipaksa Intoleran

Ibadah HKBP Filadelfia (sumber: elsam.or,id)

Ketika Ibadah yang dilakukan oleh jemaat HKBP Filadelfia akan berakhir. Dan semua jemaat yang ikut kebaktian hendak kembali ke rumah masing-masing, tiba tiba seorang ibu, yang mengenakan kerudung berwarna pink, bercelana hitam, menghampiri para ibu-ibu jemaat yang hendak pulang. Perempuan setengah baya itu melempar tujuh ekor kodok ke kerumunan jemaat yang akan pulang. Sekejab terjadi kepanikan. Karena ibu itu memprovokasi agar massa intoleran kembali merangsek mendatangi jemaat HKBP. Spontan ibu-ibu jemaat HKBP berusaha menghentikan upaya dari ibu pelempar kodok tersebut.

Tujuh ekor kodok yang diikat

Provokasi dari ibu tersebut cukup berhasil, dan sempat membuat massa yang intoleran kembali merangsek maju, namun akhirnya Ketua Satpol PP, meletuskan senjata api, untuk menghalau massa. Begitulah peristiwa yang di alami oleh jemaat HKBP, yang terjadi tanggal 22 April 2012, tepatnya pukul 10.30 setelah kebaktian yang dilakukan oleh jemaat HKBP Filadelfia telah berakhir. Peristiwa ini di rekam dalam film dokumenter dan diputar ulang saat berlangsungnya konferensi pers di Aula PGI (23/04/2012). Konferensi pers ini dilakukan dengan menghadirkan beberapa narasumber: Thomas E Tampubolon (Koordinator Tim Advokasi HKBP Filadelfia), Saor Siagian (Tim Advokasi HKBP Filadelfia), Pendeta Palti Panjaitan (Pendeta HKBP Filadelfia), yang difasilitasi oleh Jeirry Sumampow (Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI). Dalam konferensi pers tersebut, Saor Siagian mengatakan,”Ini semua sistematis, sudah direncanakan, bayangkan saja sampai ada yang mengikat tujuh ekor kodok, yang kakinya diikat satu sama lain.” Saor Siagian menjawab salah seorang dari wartawan yang menanyakan kaitan HKBP Filadelfia dengan Ciketing, karena kabarnya, ada orang-orang yang dulu terdapat di kasus Ciketing muncul juga di kasus Filadelfia ini.

Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia Bekasi, sudah mengalami intimidasi dalam pendirian rumah ibadah sejak tahun 2000. Padahal logika hukum di pengadilan telah memenangkan gugatan dari HKBP Filadelfia. Pengadilan Tata Usaha Negeri Bandung (PTUN) Nomor 42/ G/ 2010/PTUN-BDG, tertanggal 02 September 2010 dan Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) Jakarta Nomor  255/ B/ 2010/ PT.TUN.JKT tertanggal 30 Maret 2011 menyatakan BATAL Surat Keputusan (SK) Bupati Bekasi No: 300/ 675/ Kesbangponlinmas/ 09, tertanggal 31 Desember 2009, perihal Penghentian Kegiatan Pembangunan dan Kegiatan Ibadah, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia, RT 01 RW 09 Dusun III, Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat dan bupati Bekasi harus mencabut SK tersebut, dan memberikan izin untuk mendirikan rumah ibadah bagi HKBP Filadelfia sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Nota kesepakatan?

Namun apa faktanya, HKBP Filadelfia yang telah sah mengantongi izin resmi masih terus mendapat intimidasi. Intimidasi yang pertama kali dilakukan adalah dengan menaruh loudspeaker, sekencang mungkin, yang menghadap langsung saat kebaktian tengah dilakukan. Tapi Ibadah tetap berlangsung, meski pendeta saat berkotbah, harus hilir mudik,  maju mundur, agar khotbahnya dapat di dengar jemaat. Intimidasi berikutnya adalah dengan memaksa HKBP Filadelfia untuk melakukan Nota Kesepakatan dengan Warga Jejalen Jaya. Yang isinya antara lain agar seterusnya tidak ada kebaktian lagi dan pemerintah Bekasi akan mencarikan tempat peribadatan bagi jemaat HKBP Filadelfia. Namun Nota Kesepakatan, tanggal 30 Maret 2012, yang judulnya, Hasil Musyawarah Antar Umat Beragama ini sudah dicabut pada tanggal 10 April 212. Dalam surat pencabutan kesepatan tersebut tertuliskan bahwa ke empat wakil HKBP Filadelfia, dipaksa dan dicaci maki dengan meneriakan kata-kata “Goblok Lu”, “Pake Otak Lu”, Percuma Lu Sekolah Tinggi-Tinggi” serta sambil menunjuk-nunjuk, sembari mengacungkan tangan dan hendak memukul, sehingga kami harus menandatanganinya dengan rasa takut, dikarenakan pada saat itu juga pihak aparat keamanan berseragam, seperti Babinsa, Wakapolsek, dan Kabag Operasional Polresta Kota Bekasi sudah meninggalkan tempat, sehingga nyawa kami merasa terancam (Sumber: Surat Pernyataan Pencabutan Kesepakatan). Namun nota kesepakatan awal, tanggal 30 Maret 2012, masih dijadikan oleh massa intoleran untuk memaksa jemaat untuk tidak beribadah.

Mengherankan bila aksi massa yang intoleran hanya berbekal nota kesepakatan, padahal ada putusan pengadilan yang lebih tinggi yaitu, PTUN Bandung dan PT.TUN Jakarta saja sudah membatalkan SK Bupati, yang secara hirarki jauh lebih rendah. Tapi yang terlihat adalah aparat kurang sigap semenjak dari fase intimidasi yang pertama, yaitu saat loudspeaker, sampai fase kedua yakni pemaksaan nota kesepakatan sepihak tersebut. Tanggal 15 April, Pendeta Palti pun pernah mendapatkan ancaman akan di bunuh oleh seorang yang bernama Azis.

Dagelan aneh!

Intimidasi yang paling akhir, terjadi hari Minggu, 22 April 2012, yang sudah mengarah kekerasan. Awalnya jemaat HKBP Filadelfia coba dihadang oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dengan alasan dari mereka, kondisi yang tidak kondusif. Namun jemaat HKBP Filadelfia, yang berjumlah sekitar 100 orang, tetap ingin beribadah, dan berjalan dari daerah Villa 2 Tambun menuju Desa Jejalen Jaya. Dorong-dorongan pun terjadi antara jemaat HKBP dengan Satpol PP. Ironis sekali.  Namun pukul 09.15 jemaat tetap beribadah meski hanya dilakukan di tengah jalan di depan pintu masuk perumahan Villa Bekasi Indah 2.

Dalam film yang di putar, terlihat jelas, saat ibadah tetap bisa dilaksanakan, ada seorang yang berada dekat di kerumunan massa, seorang yang bertopi, dituliskan di film tersebut bernama: Adik Nainun. Dia menonton aksi dorong-dorongan, namun setelah jemaat akan menjalankan ibadah. Adik Nainun ini pulang, dengan menumpang sepeda motor (mungkin ojek). Lantas sepertinya kondisi ini sudah aman. Namun berikutnya, pukul 09.15, sekitar 500 orang massa intoleran datang menuju jemaat yang tengah jelang ibadah akhir. Mereka menjebol barisan penahan dari Satpol PP, namun berhasil dihalau pihak keamanan. Ketika ibadah benar-benar selesai, dan jemaat hendak pulang, munculah ibu yang menyusup dan melemparkan tujuh ekor kodok yang kakinya diikat satu sama lain. Akhirnya pukul 11.00, Polisi datang dengan satu truk dan langsung membuat pagar betis untuk membentengi jemaat yang sudah terkepung. Yang menarik di film tersebut, saat 500 aksi massa intoleran mendatangi jemaat, termasuk di dalamnya ada seorang Camat bernama: Soeharto. Silahkan untuk menyaksikan film tersebut.

Kasus ini pun memang sangat berbeda dengan kasus yang lainnya, terlebih-lebih tidak ada kaitan agama secara langsung, tidak ada embel-embel ormas. Sehingga aparat bisa lebih tuntas untuk menyeleasikan masalah ini, bisa lebih cepat dam tidak berlarut-larut. Belum lagi ada isu politis yang terkait di dalamnya, karena bupati Bekasi yang sekarang ini akan berakhir masa jabatannya. Tapi yang disampaikan oleh  Saor Siagian, lebih jelas,” Mengapa aparat sampai bisa membiarkan hal seperti ini kembali terjadi lagi di Bekasi? Kenapa aparat tidak belajar dari kejadian sebelumnya?”

Apa ini kristenisasi yang dilakukan HKBP? Mana mungkin gerejanya orang Batak bisa melakukan kristenisasi kepada penduduk di luar etnis Batak. Khotbahnya saja menggunakan bahasa Batak. Kalau ada yang menyaksikan film ini, terlihat kalau film ini memang film dokumenter (asli), bukanlah sinetron meski aktor-aktor intoleransi di dalamnya berlakon dagelan. Namun dari peristiwa ini, yang “biasa di luar” (bukan lagi luar biasa) adalah: Kodok pun diajak intoleran, dagelan yang aneh sekali! (Chris Poerba)

 

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close