Musdah Mulia

Jalan Terjal dan Sunyi Perempuan-perempuan Sufi

Aspek Feminisme dalam Spiritualitas

“Tuhan itu seharusnya sesuatu yang dekat tak berjarak seperti urat nadi”

Meski dikesankan hanya mengedepankan syair, meditasi, serta tarian whirling dervishes yang berputar-putar, Musdah Mulia mengatakan bahwa sufisme atau tasawuf bukanlah jalur yang mudah untuk ditempuh. Perlu ada kemauan untuk belajar lebih dalam melihat posisi manusia dengan penciptanya.

Namun jika kita tertarik untuk memperbaiki spiritualitas diri, hal itu bisa dimulai dengan cara sederhana, yakni bertanya pada diri sendiri, ujarnya.

“Kita harus selalu bertanya dalam hidup ini kita siapa? Ngapain ada di dunia ini? Habis dari dunia ke mana? Kalau tidak begitu mungkin spiritualitas kita akan terus kosong,” kata Musdah.

Tasawuf bisa dikatakan sebagai ajaran yang melawan masyarakat yang hanya beragama secara fiqiah, atau hukum, sehingga mudah menyebut sesuatu halal dan haram. Imam besar sufi Al-Ghazali menjelaskan bahwa pokok-pokok dalam tasawuf itu berhubungan dengan hablum minallah dan habluminanas, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia.

Dalam tasawuf dikenal istilah tarekat yang dapat diartikan sebagai sistem pengajaran atau jalan untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqam) dalam rangka proses pendekatan kepada Allah. Untuk belajar sufi memang idealnya harus dengan mursyid atau guru spiritual. Melalui guru inilah tarekat mulai membangun sistem ajaran dan metode-metode tasawuf, misalnya seperti zikir dan do’a.

“Sayangnya di Indonesia itu memang jarang sekali adanya mursyid, saya pernah ketemu tapi dia tidak dianggap di masyarakat,” ujar Musdah.

Untuk dapat menjalani tasawuf sepenuhnya sampai pada tingkatan Rabi’ah Al-Adawiyah yang menemukan keutuhan cinta hanya pada Tuhan bukan manusia ada enam tingkatan, yaitu:

  1. Maqam tobat

Untuk bisa mendekatkan diri pada Allah, kita harus mulai dengan pertobatan. Hakikatnya, perbedaan manusia dengan malaikat adalah hawa nafsu. Jika malaikat bisa sepenuhnya patuh pada Allah tanpa cela, sedang manusia adalah sumber kekhilafan karena adanya hawa nafsu, baik nafsu mata, pikiran, maupun syahwat.

“Di tahap pertama ini saja orang menjalani proses yang berbeda-beda, karena berkaitan dengan pengendalian nafsu akan diri sendiri. Ada yang bertahun-tahun baru menyelesaikan maqam tobat, ada yang setahun sudah bisa sampai tahap ini. Jadinya setiap melakukan kesalahan harus sadar,” ujar Musdah.

  1. Maqam Zuhud

Zuhud bisa diartikan sebagai jalan hidup yang menghindari perilaku hedonisme, menjauhkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi zuhud tidak berarti memutuskan kehidupan dengan unsur duniawi lalu pergi ke hutan yang lebih sedikit godaannya. Seorang sufi diharuskan tetap bekerja dan berbaur dengan kemajuan zaman namun wajib mengendalikan nafsu untuk berperilaku konsumtif.

“Bukan berarti menghindar, yah, justru dengan adanya godaan untuk hedon, iman kita diuji jadi lebih kuat,” kata Musdah.

  1. Maqam Sabar

Sabar di sini bukan sabar dalam artian statis yang hanya  didefinisikan sebagai pasrah menerima keadaan. Tapi sabar seharusnya bersifat dinamis atau refleksi diri untuk terus menyampaikan kebenaran meski keadaan sedang sulit.

Maqam sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan, tapi lebih kepada menahan diri dalam memikul kesusahan baik dalam sesuatu perkara yang tidak diingini maupun dalam kehilangan sesuatu yang disenangi.

  1. Maqam Tawakal

Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan, dan mewakilkan segala urusannya kepada Allah tapi dengan catatan ia sudah melakukan berbagai usaha terlebih dahulu. Musdah mencontohkan, ada seorang sahabat yang tidak mengikat untanya ketika sedang beristirahat. Ketika ditanya oleh Nabi Muhammad mengapa ia tidak mengikat untanya, ia menjawab bahwa ia sedang bertawakal kepada Allah apa pun nanti yang akan terjadi pada untanya. Tawakal tanpa adanya usaha terlebih dahulu semacam itu yang dilarang Nabi.

“Padahal belum ada tuh usahanya mengikat sudah bilang tawakal. Kata Nabi, itu bukan tawakal tapi lalai. Jadi istilah tawakal itu setelah kita usaha habis-habisan,” ujar Musdah.

  1. Maqam Rida (Maghfirah)

Apa pun usaha yang kita lakukan ujung-unjungnya adalah untuk mengharapkan rida Allah. Dikisahkan pada riwayat sufi bahwa ada dua perempuan di tanah suci, yang satu berkata hendak ke baitullah (rumah Allah) dan yang satunya lagi hendak pergi ke Ka’bah. Ketika perempuan kedua bertanya kepada perempuan pertama kenapa ke baitullah, ia menjawab bahwa ia tidak mencari benda ciptaan Allah berwujud fisik Ka’bah tapi lebih kepada pencarian spiritual untuk mencari keridaan pemiliknya.

  1. Maqam cinta

Sebagai tingkatan paling tinggi, maqam cinta bisa diraih ketika kita sudah memiliki rasa cinta pada Tuhan lebih daripada terhadap ciptaan-Nya. Saking besarnya cinta kita pada Tuhan sampai tidak ada ruang untuk orang lain, karena cinta kita pada Allah sudah memenuhi segala kebutuhan kita akan kasih sayang. Sebagai tingkatan paling tinggi maqam cinta mereka yang sudah bisa sampai di tahap ini biasanya dijuluki sebagai orang-orang istimewa.

Perempuan sufi

Karena karakter ajarannya yang tidak mengenal jenis kelamin, gender, maupun perbedaan warna kulit dan latar belakang kita, Musdah mengatakan bahwa sufisme sejak awal telah menarik perhatian banyak perempuan. Selain Rabi’ah Al-Adawiyah, sebetulnya masih banyak tokoh perempuan sufi yang berperan menyebarkan ajaran ini, seperti Hyuna, Syahwanah, dan Aisyah Al-Bauniyyah.

Syahwanah, misalnya, membuat Imam Ghazali terpukau karena dikenal sering menangis setiap kali salat dan menyebut nama Allah, teringat akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya karena ia sempat melupakan Tuhan.

“Sampai ia menyebut bahwa batal berwudu bukan lagi perkara bersentuhan dengan lawan jenis atau buang angin, tapi ia merasa harus berwudu kembali ketika dia melupakan Tuhan,” kata Musdah.

Sayangnya, di tengah masyarakat yang patriarkal, narasi sufisme juga didominasi oleh laki-laki. Selama ini jika membicarakan sufisme tokoh yang selalu hadir adalah laki-laki. Di Indonesia, mursyid laki-laki pun lebih menonjol.

“Dalam sufisme, feminitas dan maskulinitas itu seimbang. Asmaul husna (99 nama baik Allah) itu menggambarkan Tuhan dengan karakteristik yang lebih feminin. Sayangnya, pendidikan (agama) di sekolah tidak menumbuhkan aspek feminin makanya ada perempuan tegas dianggap seperti laki-laki,” ujarnya.

Ajaran sufisme yang bersifat nonbiner seharusnya bisa membantu meningkatkan ajaran agama yang lebih ramah gender dan tidak memandang latar belakang manusia, Musdah menambahkan.

Sumber: Magdalene

Show More

Kris Hidayat

Bidang Filantropi dan Pengembangan Masyarakat ~ ICRP

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close