Harian

[:id]Jabar Duduki Peringkat Satu Intoleransi, Kang Dedi : Teu Tarima Aing Mah![:]

[:id]JAKARTA, ICRP – Berdasar laporan dari Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan Wahid Institute, Jawa Barat kembali menduduki peringkat tertinggi perihal intoleransi. Kondisi ini menjadi perhatian serius orang nomor satu di Purwakarta, Bupati Dedi Mulyadi. Ia menuturkan kenapa terjadi intoleransi yang cukup tinggi di tanah Pasundan.

“Saya ini orang Jawa Barat. Jawa Barat ini mayoritas Sunda. Orang sunda itu paling toleran sepanjang sejarah. Dulu saat SMA teman sebangku saya Ahmadiyah dan guru PMP Saya orang Katolik gak ada problem. Baru sekarang ribut, kenapa ribut? orang sunda itu pendiem (di Jabar) banyak pendatang yang ngomongnya itu banyak. Para pendatang yang ngomongnya banyak ini lah yang membuat kerusakan di tanah Sunda. Ngaruksak lah eta jalma, teu tarima Aing,” ungkap bupati yang giat mengkampanyekan toleransi di masyarakat itu dalam acara kongres yang diselenggarakan Komnas HAM dan The Wahid Institute di Balai Kartini Jalan Gatot Subroto kavling 37, Selasa (23/2).

Bupati yang akrab disapa Kang Dedi siang itu menyebutkan sejumlah wilayah yang dominan terjadi aks-aksi kekerasan atas nama agama di Jawa Barat. Umumnya, kata politisi yang cinta tanah Pasunda itu, kekerasan atas nama agama terjadi di wilayah perkotaan bukan pedesaan. “Orang pedesaan mah nek (mau) keyakinan naun-naun ge masing-masing lah nu (yang) penting mah kerja bakti bareng,” jelasnya mendeskripsikan karakter masyarakat pedesaan di tanah Sunda yang sejatinya toleran.

Dedi mengakui karakter masyarakat Sunda memang agak berbeda dengan orang Jawa. Masyarakat Sunda cenderung lebih cepat menerima budaya baru. Lebih lanjut, Dedi menuturkan orang Sunda enggan untuk berkonfrontasi dengan pihak lain. “Orang Sunda mah, daripada ribut geus mending icing (udah daripada ribut lebih baik diam),” kata Dedi.

Jadi, menurut Kang Dedi kurang tepat masyarakat Sunda tidak toleran. “Jadi saya tegaskan, orang intoleran bukan orang Jawa Barat asalnya. Orang Jawa Barat, ikut-ikutan intoleran,” kata Kang dedi.

Kang Dedi juga turut menyinggung  penanganan kasus-kasus intoleransi belakangan ini. Ia menyayangkan  sejauh ini pihak keamanan agak ragu dalam menghadapi kelompok-kelompok intoleran yang mengatasnamakan agama. “Pengikutnya paling seratus dua ratus tapi karena bawa golok jadi kelihatan hebat. Persoalannya karena bawa golok, polisi ini takut menindaknya. Nah, ini problem,” ujar politisi dari Partai Beringin itu.

Salah satu problem dalam penangan kasus intoleransi juga yang Kang Dedi sebutkan siang itu adalah soal “kompromi”. Kadang kala, Ia menemukan atas dasar menghindari konflik, maka yang lemah harus dikorbankan. Menurutnya, perspekif demikian keliru. “Kalau kebenaran dikalahkan oleh sejumlah orang yang ngotot ini problem,” tutur Dedi.

“Profesor Doktor ahli apaun bisa digebukin, nanti mereka  takut lagi berpendapat. Nah ini lah yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

 [:]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close