thumb

Mengenal Sunda Wiwitan di Anjangsana Pemuda Lintas Iman

Kabar Damai I Senin, 13 Desember 2021
 
 
Jakarta I kabardamai.id I Di tengah keasrian Kabupaten Kuningan, ada Masyarakat adat sunda wiwitan Paseban Tri Panca Tunggal. Tri Panca Tunggal memiliki makna tersendiri, yaitu tri yang berarti tiga unsur rasa, budi dan pikir. Lalu panca yang diartikan lima indera manusia. Dan tunggal diartikan Tuhan Yang Maha Esa.
 
Maka bila diartikan secara harfiah, Paseban Tri Panca Tunggal adalah tempat untuk mempersatukan tiga kehendak yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa yang diwujudkan dalam sikap perilaku, lalu diterjemahkan melalui panca indera ketika mendengar, melihat, berbicara, bersikap, bertindak, dan melangkah, untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Tunggal.
 
Paseban selain digunakan sebagai tempat berkumpul juga mempunya kesakralan diantaranya terletak pada pendopo, jinem (Panjinekan), Sri Manganti, Megamendung dan Dapur Ageung.
 

Peran Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda wiwitan yang menjaga dan melestarikan alam. Sunda Wiwitan merupakan keyakinan masyarakat Sunda yang sudah menjadi budaya setempat. Sunda wiwitan memiliki ajaran tentang melestarikan lingkungan, perlakuan yang baik terhadap alam, sumber air, dan perlakuan yang mulia terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi.

Ajaran Prinsip Hidup Pangeran Madrais Serta Kaitannya Terhadap nilai Kebudayaan, Kebangsaan dan Keagamaan. Dari ajaran mengenai prinsip hidup sebagai cara-ciri manusia dan cara-ciri bangsa tersebut, dapat dilihat bahwa dalam nirsadar masyarakat setidaknya terdapat  tiga elemen yang harus diamalkan dan dilaksanakan dalam kehidupan mereka.

Yaitu nilai kebudayaan, nilai kebangsaan, dan nilai keagamaan. Meskipun ajaran yang disebutkan adalah prinsip hidup cara-ciri manusia dan cara-ciri bangsa, namun nirsadar masyarakat Cigugur menangkap bahwa ketiga elemen  kebudayaan, kebangsaan dan keagamaan adalah nilai-nilai yang tersirat dari prinsip hidup tersebut.

Berbagai aktivitas dan cara-ciri hidup masyarakat adat  termanifestasi oleh nilai-nilai kebudayaan, keagamaan dan kebangsaan.

Foto Oleh Ai Siti Rahayu
 
 
 

Pertama, Nilai Kebudayaan. Nilai kebudayaan yang sangat dilestarikan oleh komunitas masyarakat AKUR, sehingga jika kita berada dalam lingkungan masyarakat adat, akan terasa sangat kental nilai-nilai kebudayaan sunda.

Adapun kebudayaan masyarakat adat yang masih dilestarikan hingga saat ini diantaranya: Keberadaan Cagar Budaya Paseban Tri Panca Tunggal. Taman Paseban yang merupakan areal di sekitar paseban, di dalamnya terdapat “Taman Atikan” untuk pendidikan, tempat pagelaran seni, kolam paseban dan lain-lain. Upacara adat “Seren Taun”.

Tempat sakral masyarakat adat yaitu Situ Hyang, Curug Goong, dan Leweung Leutik. Sekolah yayasan “TriMulya” yang mengajarkan ajaran kebudayaan sunda. “Sampurasun-Rampes” budaya saling sapa dalam budaya sunda. Ritual kebudayaan Pesta Dadung. Batik khas CIgugur. Dan Batu-batuan purbakala.

Kedua, Nilai Kebangsaan. Hal tersebut dapat terlihat dari beberapa bentuk fisik maupun aktivitas sehari-hari masyarakat adat. Dari bentuk fisik contohnya tugu yang berada di depan paseban, “Tugu Paseban” tersebut berbentuk segitiga dengan tiang menjulang ke atas, dan tepat di atas ujung tiang tersebut berkibar sang saka bendera merah putih.

Selain itu terdapat sekolah Tri Mulya yang merupakan sekolah bentukan Yayasan Tri Mulya, di sekolah ini selain diajarkan nilai-nilai kebudayaan Sunda, diajarkan pula nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan, salah satunya terdapat pelajaran bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Selain bentuk fisik tersebut, terdapat contoh-contoh lainnya yang menggambarkan nilai kebangsaan yang menjadi manifestasi dari prinsip masyarakat adat, yaitu dapat dilihat pada aktivitas masyarakat adat tersebut, salah satunya peran aktif setiap kali ada pemilihan umum / pemilu. Selain itu perjuangan Komunitas AKUR Cigugur untuk mempertahankan agama yang dianutnya yaitu sunda wiwitan untuk diakui oleh Negara kesatuan republic Indonesia.

Ketiga, Nilai Keagamaan. Nilai-nilai keagamaan diwariskan oleh Pangeran Madrais sejak dahulu kala, pada awalnya kepercayaan yang dianut oleh masyarakat CIgugur adalah Agama Djawa Sunda (ADS), namun berdasarkan sejarahnya seiring berjalannya waktu Pemerintah Indonesia mengharuskan masyarakat memeluk kepercayaan resmi yang ada di Indonesia, di mana saat itu masyarakat CIgugur terbagi menjadi 2 pemeluk agama yaitu Islam dan Katolik.

Bahkan berdasarkan cerita yang berhembus di masyarakat, dahulu kala Pangeran Madrais sangat mendalami agama Islam sehingga seringkali disebut sebagai “Kyai Madrais”.

fenomena-fenomena tersebut menjadikan masyarakat adat pemeluk Sunda Wiwitan memiliki hubungan emosional yang cukup tinggi dengan pemeluk agama Islam dan Katolik, sehingga pada saat ini rasa toleransi beragama terasa sangat kental di CIgugur, selain itu dalam satu keluarga terdapat perbedaan pandangan mengenai kepercayaan, sehingga bukan hal yang tabu lagi jika dalam satu keluarga di CIgugur terdapat bermacam-macam pemeluk agama.

Masyarakat Cigugur, baik yang tergolong ke dalam komunitas adat ataupun masyarakat umum, meyakini bahwa agama bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan, karena agama adalah suatu kepercayaan, maka agama merupakan urusan antara pribadi dengan tuhannya, bukan antar manusia dengan manusia lainnya.

Di saat pengunjungan kemarin, kami juga disambut dengan penampilan Tari Jamparing Apsari dan Tari Buyung oleh teman-teman muda Penghayat Kepercayaan Sunda Wiwitan.

 

Tari Jamparing Apsari

Tari Jamparing Apsari adalah satu tarian yang menceritakan tentang para bidadari yang turun dari kayangan dan berperang dengan hawa nafsu yang bersenjatakan jamparing (panah).

 

 

Tari Buyung

Gerakannya Menggambarkan Penyelarasan Manusia Dengan Alam. Dalam tarian itu, manusia diajak untuk lebih dekat dengan alam dan mencintainya sebagai sahabat yang harus terus berjalan bersama. Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupun tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam.

Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Sang Hyang Maha Kuasa diyakini sebagai segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Sang Hyang Maha Kuasa lainnya.

 
Ria Umaroh, Mahasiswa Studi Agama-agama UIN Sunan Ampel Surabaya dan Peserta Anjangsana Pemuda Lintas Iman 2