thumb

Anjangsana ke Parmalim, Belajar Setia dengan Tulus

Oleh: Ai Siti Rahayu

Hari itu, Jakarta cukup sibuk dengan segala aktivitasnya di penghujung pekan. Stasiun Manggarai yang menjadi tempat berkumpul pertama juga seolah turut meramaikan awal perjumpaan kami dengan segala hiruk pikuk kesibukan banyak orang menuju tempat berbeda. Kami para pemuda lintas agama dari berbagai daerah melakukan perjalanan menuju kota hujan, Bogor untuk Anjangsana ke Agama asli orang Batak, mereka adalah Parmalim.

Kurang lebih dua jam kami bersama di dalam satu gerbong KRL (Kereta Rel Listrik) menuju Stasiun Bogor. Kepadatan penumpang membuat kami harus berdiri selama perjalanan, namun meski begitu semangat kami untuk belajar dari Parmalim tetap menggebu.  Setibanya di Stasiun Bogor, tanpa menunggu lama kami segera melanjutkan perjalanan menuju Perumahan Tasmania Bogor,  Sabtu (26/3) siang. Bale ini adalah komplek peribadatan jemaat penghayat Ugamo Bangsa Batak (UBB) Parmalim cabang Kota Bogor.

Jemaat dan Tamu Wajib Mengenakan Ulos

Masuk ke dalam komplek  peribadatan jemaat penghayat Ugamo Malim wajib mengenakan sarung tanpa terkecuali, begitu juga dengan tamu. Khusus bagi para jemaat dan tamu, kewajiban lain adalah mengenakan Ulos dan terutama bagi jemaat pria yang sudah menikah, diwajibkan mengenakan Tali-tali, sejenis Sorban berwarna putih yang dikenakan di bagian kepala yang menyimbolkan kesucian. Tak hanya itu, selama berada di dalam komplek ini, tak boleh mengenakan alas kaki baik sepatu ataupun sendal.

Gernus Tabuni salah satu peserta Anjangsana dari Papua sedang dibantu menggunakan sarung dan ulos oleh Jemaat Parmalim

 

Yanti Oktaviyani peserta dari Aliran Kebatinan Perjalanan juga dibantu megenakan ulos oleh Jemaat Parmalim

Dengan balutan ulos yang dihiasi banyak ornamen indah, semua peserta nampak gembira mengawali awal perjumpaan dengan Parmalim. Seolah segala rasa lelah di perjalanan terbayarkan sudah dengan keramah tamahan yang menyambut kedatangan peserta.

Henri Simanjuntak, Ulu punguan (Pimpinan Cabang) Parmalim Bogor mengungkapkan merasa senang dengan kedatangan teman-teman pemuda lintas agama ke Parmalim. Awalnya bahkan beliau tidak menyangka jika yang datang ternyata adalah para pemuda.

Henri Simanjuntak, Ulu punguan (Pimpinan Cabang) Bogor
Henri Simanjuntak, Ulu punguan (Pimpinan Cabang) Bogor

“Saya kira yang akan anjangsana ini bukan pemuda, keren saya senang dengan semangat para pemuda lintas agama ini yang mau belajar dan mengenal keragaman di Indonesia,” ungkap Henri.

Henri kembali menerangkan bahwa Ugamo Malim merupakan sebuah agama asli dari tanah batak. Tersebar di daerah sekita Danau Toba dan Pulau Samosir di Sumatera Utara. Bahkan Umago Malim ini sudah lebih dulu dianut oleh masyarakat batak. Jauh sebelum masuknya agama Islam, Kristen, dan Katolik.

Baca Juga: Mengenal Sunda Wiwitan di Anjangsana Pemuda Lintas Iman

“Parmalim jauh lebih dikenal dibandingkan Ugamo Malim. Para pengikut agama ini disebut parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim sedangkan kepercayaannya disebut ugamo Malim ” jelas Henri.

Keyakinan Parmalim adalah terhadap Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam semesta yang disebut dengan Mulajadi Nambolon. Mereka menyikapi religiusitas, dengan memperlakukan alam tumpuan hidup yang dipadukan dengan rasa syukur dan berserah pada sang pencipta Mulajadi Nambolon.

Peserta Mengikuti Ibadah Bersama Parmalim

 

Setelah sedikit berbincang, tepat pukul 11 siang, tibalah waktunya untuk Parmalim melakukan ritual peribadatan, hari Sabtu adalah waktu ibadah Parmalim. Pada hari itu di Cabang Bogor sendiri puluhan jemaat sudah berkumpul untuk beribadah.

 

Jemaat pria dan wanita duduk secara terpisah dipimpin oleh Henri, selaku Ulu Punguan Bogor. Ritual ibadah dilakukan selama satu jam lebih dengan penuh khidmat.  Para peserta juga mengikuti peribadatan hingga akhir dengan seksama. Peribadatan kemudian ditutup dengan percikan air suci dengan daun yang harum wanginya ke permukaan kulit para jemaat dan peserta.

Makan Siang dengan Sajian Khas Batak

Siang yang begitu ramah ditambah masih dalam nuansa khidmat selepas ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Tentunya agenda makan siang ini menambah keceriaan bagi para peserta, yang memang sudah keroncongan.

Makan siang bersama sajian khas Batak

 Menu makanan yang disajikan adalah rendang, sop sapi dan ikan mas yang sangat menggiurkan bahkan dalam segi tampilan. Parmalim makan dengan menggunakan tangan yang menambah cita rasa lokal. Mungkin ini juga adalah titik temu budaya makan di Parmalim dan muslim, karena dalam muslim juga makan dengan tangan sangat dianjurkan dan merupakan sunnah Rasul. Selain itu, Parmalim tidak mengonsumsi daging babi.

Ternyata benar saja sajian khas batak itu sangat lezat ketika dinikmati. Rendang yang disajikan begitu empuk dengan bumbu rempah rempah yang meresap sempurna kedalam daging. Ikan mas yang disajikan juga begitu lembut hingga tulang, tak lupa sayur sop sapi adalah menu andalan yang memiliki cita rasa berbeda dibanding sayur sop lainnya yang pernah saya santap.

Selesai makan kami kembali melanjutkan perbincangan yang sempat dijeda untuk melakukan peribadatan. Sebelum itu peserta satu persatu bersama dengan jemaat Parmalim, memperkenalkan dirinya. Kegiatan tanya jawab itu riuh dengan perbincanan yang menarik diselingi gelak tawa dan gurauan dari peserta dan Parmalim.

Parmalim Memuliakan Perempuan

Banyak yang kami pelajari dari perjumpaan kami kala itu. Beberapa hal yang saya ingat adalah ajaran kesetiaan dalam Parmalim. Bagi Parmalim kesetiaan adalah poin penting dalam hidup. Selain itu konsep lain yang saya ingat adalah konsep kesetaraan dalam Parmalim.

Di masyarakat Batak, perempuan itu sangat dimuliakan, yakni Boru Ni Raja, sehingga segala sesuatu tak akan bisa terjadi tanpa ada restu dari istri, dan ini bukan saja di Parmalim tapi di masyarakat batak secara keseluruhan.

Parmalim Menginginkan Penyamaan Hak dan Derajat

 

Menjadi Parmalim bagi Henri dan jemaat lainnya adalah sebuah kebanggaan rohaniah. Henri mengungkapkan penyamaan hak dan derajat dengan masyarakat Indonesia yang lainlah yang dibutuhkan oleh para penganut agama Parmalim.

Para jemaat kemudian berbagi cerita bahwa hingga kini diskriminasi masih saja dialami khususnya generasi muda penganut ajaran Parmalim.

Menurut mereka sekarang masih ada anak-anak Parmalim  yang tidak bisa melamar pekerjaan, ada yang bisa lolos, tapi rata-rata mereka mendapat tekanan di lingkup pekerjaannya.

Saat ini penganut Parmalim sendiri tersebar di banyak daerah di Indonesia meskipun secara keseluruhan penganutnya memang masih belum banyak. Namun, Parmalim memiliki ikatan serta kesetiaan yang kuat dalam komunitasnya.

Kehangatan yang peserta terima dari Parmalim membuat kami enggan untuk beranjak pulang meninggalkan tempat yang kami jadikan kanvas melukiskan pengalaman hebat yang kami terima itu.

Namun demikian kami berharap perjumpaan kali ini adalah awal untuk kemudian berjumpa kembali dengan Parmalim. Sebelum kami beranjak pergi selanjutnya perwakilan peserta menyerahkan cindera mata untuk Parmalim, agar kunjugan kami tetap diigat di kemudian hari.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu