HarianStara

Hilangkan Diskriminasi Perempuan di Televisi

Kekerasan terhadap perempuan semakin hari semakin banyak terjadi. Bentuknya juga beragam. Mulai dari kekerasan fisik, verbal, dan psikologis. Bahkan program-program televisi  yang secara bebas ditayangkan menggunakan frekuensi publik juga banyak mengandung unsur diskriminasi terhadap perempuan. Salah satunya adalah program tayangan “Kakek-Kakek Narsis (KKN)”. “Tayangan ini telah menempatkan perempuan menjadi objek subordinasi” ungkap Muhammad Heychael peneliti Remotivi dalam diskusi di Komnas HAM Rabu (18/04/2012).

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan tersebut, turut pula Agus Sudibyo (anggota Dewan Pers), dan Nina Muthmainnah Armando (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai pembicara. Diskriminasi terhadap perempuan tersebut memang jelas diperlihatkan melalui muatan tayangan yang terdiri dari perkataan, komentar, dialog, dan interaksi pengisi acara tayangan tersebut. Hal tersebut dapat memberi stereotipe yang negatif pada perempuan, khususnya terhadap tubuh perempuan. Dan konsekuensinya hal tersebut dapat memicu pada belbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Nina Muthmainnah Armando menilai media baik Televisi dan Radio merupakan media yang ketat peraturannya (high regulated) karena operasionalnya menggunakan frekuensi publik. Oleh sebab itu UU No. 32 tahun 2002 secara jelas mengatur pelbagai hal tentang regulasi penyiaran di Indonesia. KPI juga juga telah melakukan pengawasan terhadap tayangan penyiaran selama 24 jam. Pihaknya juga mengakui banyak laporan masyarakat mengenai kasus pelanggaran penyiaran yang diadukan ke KPI. Pada tahun 2011 saja KPI menerima pengaduan masyarakat sebanyak 3.856 kasus dengan jenis acara yang beragam seperti sinetron, iklan, reality show, berita, komedi, dll.

Sementara itu Agus Sudibyo menyatakan mendukung pernyataan remotivi yang mengkritisi tayangan-tayangan di televisi. Menurutnya hal tersebut sesuai dengan UU dan Kode etik jurnalistik. Menurutnya, permasalahan bisnis media dan penyiaran merupakakn permasalahan yang komplek, jadi harus sering diingatkan. “Dalam sebuah tayangan terjadi saling ketergantungan antara jurnalis, editor, pemilik modal dan para pengiklan” tegas Agus sudibyo.

Menanggapi hal tersebut, Komnas Perempuan dalam siaran persnya menegaskan pihaknya mendukung Remotivi untuk memberikan gugatan terhadap program-program yang tidak sensitif gender seperti tayangan “Kakek-kakek Narsis” ini. Gugatan tersebut diharapkan mampu untuk menghentikan tayangan KKN, dan mendukung optimalisasi kewenangan KPI demi tercipta upaya bersama dalam penghapusan bentuk kekerasan terhadap perempuan. [Mukhlisin]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close