Stara

Hilangkan Diskriminasi Perempuan di Dunia Jurnalis

Bandung – Para jurnalis hendaknya dapat berperan di dalam mentransformasi nilai-nilai sosial budaya yang masih patriarkis. Ke depan kita perlu mengubah kondisi ini ke arah masyarakat yang lebih egaliter, demokratis dan pluralis melalui karya jurnalistiknya.

Persnyataan tersebut disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Linda Amalia Sari Gumelar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (21/4). Dalam kegiatan Seminar Jurnalistik dan Perempuan itu pula Linda menyampaikan bahwa secara de jure, kesetaraan gender dan pemenuhan hak asasi manusia perempuan sebagai bagian dari hak asasi manusia sudah diatur secara tegas di dalam konstitusi kita.

Linda juga menambahkan bahwa secara de fakto, sudah banyak kemajuan yang dicapai sampai saat ini misalnya perempuan dan laki-laki sudah ikut berkiprah di berbagai bidang pembangunan, baik sebagai subjek maupun objek pembangunan; tidak ada restriksi bagi perempuan untuk menduduki jabatan strategis dimanapun. “Perkebangan yang baik ini pula terjadi di dunia jurnalis,” katanya.

Linda mengungkap data yang dilansir lembaga studi pers dan perempuan, yang menyebutkan bahwa diperkirakan dari 100.000 jurnalis yang ada, 17 persennya adalah perempuan. Angka ini memang sangat minim. “Data ini cukup menggembirakan namun menyadarkan kita secara langsung bahwa para kaum perempuan masih jauh tertinggal dibanding laki-laki,”uangkapnya. Karenanya, perempuan saat ini dinilai Linda masih jauh tertinggal dibanding laki-laki untuk mengakses dunia jurnalistik.

Seperti yang telah diketahui, ketimpangan gender yang digulirkan di tengah masyarakat Indonesia telah menelusup ke setiap sendi-sendi kehidupan sosial, tak terkecuali dalam bidang jurnalistik. Padahal, Linda menilai bahwa penguasaan jumlah jurnalis akan sangat berpengaruh pada penguasaan wacana publik. “Cara pandang media akan berbeda terhadap perempuan jika jumlah perempuan semakin banyak,” tegasnya. Karenanya, tidak aneh jika saat ini perempuan seolah menjadi objek penderita dalam media kita.

Sayangnya, permasalahan ini justru datang dari kaum perempuan sendiri. Untuk memasuki dunia jurnalis, Linda yakin bahwa banyak perempuan yang belum percaya diri. Mereka masih menganggap bahwa dirinya kurang mampu, kurang pengetahuan dan kurang terampil.

Untuk mengatasi persoalan di atas, Linda mengajukan tiga hal yang perlu menjadi komitmen bersama. Pertama, media massa harus membuka ruang yang sama kepada wanita sebagaimana halnya peluang buat laki-laki. Kedua, perlu perempuan meningkatkan kepercayaan diri, tidak merasa nomor dua dari laki-laki. Ketiga, bagi kampus-kampus khsususnya yang ada jurusan jurnalistik hendaknya memberi keterampilan yang lebih kepada para mahasiswi dan kaum perempuan lainnya. [Roni/Mukhlisin]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close