Harian

Hari Pers Internasional, Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis

Memperingati hari pers internasional yang jatuh pada tanggal 3 Mei 2012, wartawan di berbagai daerah di Indonesia menggelar aksi. Dalam aksinya, mereka  meminta penuntasan berbagai kasus kekerasan yang menimpa wartawan di Indonesia.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Midwan, dalam orasinya mengecam segala bentuk kekerasan terhadap wartawan saat menjalankan tugasnya. Seperti diberitakan kompas.com Kasus terbaru di Sultra dialami koresponden SCTV, Muhammad Syamsuddin, saat meliput rapat DPRD Kabupaten Buton, Selasa (1/5/2012) lalu. Syamsuddin atau yang biasa dipanggil Ilor, dihalang-halangi dan diusir saat meliput kericuhan yang terjadi dalam rapat DPRD Buton di Kota Baubau. Kamera kerja Ilor juga dirusak oleh salah satu anggota DPRD.

Sementara itu ditempat yang berbeda, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyayangkan masih banyaknya kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Menurut mereka Persoalan ini akhirnya memperburuk citra Indonesia sebagai negara yang berlandaskan hukum dan HAM.

Dari data yang dikemukakan oleh LBH Pers, setidaknya terdapat 45 kasus kekerasan terhadap jurnalis dalam kurun waktu Januari – Mei 2012. Sedangkan tahun lalu jumlah total tindakan kekerasan sebanyak 95 kasus.

Sementara itu seperti dilansir hukumonline.com AJI Jakarta mencatat sedikitnya ada delapan kasus pembunuhan jurnalis sejak tahun 1996 sampai sekarang yang belum diselesaikan secara tuntas. Nama para jurnalis yang menjadi korban yaitu Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin dari harian Bernas, Naimullah jurnalis Sinar Pagi dan Agus Mulyawan jurnalis Asia Press. Selanjutnya, Ersa Siregar jurnalis RCTI, Herliyanto jurnalis Delta Pos, Adriansyah Matrais Wibisono jurnalis TV lokal di Merauke dan Alfred Mirulewan jurnalis tabloid Pelangi.

“Selama ini LBH Pers mencermati setiap laporan kasus kekerasan terhadap jurnalis sejak tahun 1996 banyak yang tidak ditindaklanjuti kepolisian. Sehingga terkesan ada pembiaran dan menciptakan impunitas hukum bagi para pelaku,” kata Hendrayana ketika menyatakan sikap dan tuntutan LBH Pers di kantor LBH Pers Jakarta dalam hukumonline.com, Kamis (3/5/2012).

Dian Yuliastuti salah satu pengurus AJI Jakarta, dalam memperingati hari pers internasonal ini mendesak Presiden RI memberi perhatian khusus terhadap kasus pembunuhan dan hilangnya jurnalis Indonesia. Mendesak Polri mengusut tuntas kasus tindak kekerasan yang menimpa jurnalis ketika meiliput aksi unjuk rasa mahasiswa di Gambir, Jakarta pada akhir Maret lalu. Serta mendesak Polri mengusut kasus penyiraman cairan kimia kepada jurnalis yang meliput aksi unjuk rasa di depan gedung DPR pada 30 Maret 2012. [M.Mukhlisin]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close