Front Pembela Islam (FPI) Bubar ?

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengumumkan pembubaran organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI), hari Rabu, 30 Desember 2020.

ICRP mencoba mewawancarai Ust. Ahmad Nurcholish untuk melihat bagaimana respon beliau terhadap keputusan pemerintah tersebut.

Q: Bagaimana respon Pak Ust. terkait berita pembubaran FPI, dimana secara de jeru telah bubar sejak 20 Juni 2019?

Sebetulnya sejak 20 Juni 19 itu bukan bubar tapi tidak terdaftar lagi sebagai organisasi masyarakat. Karena itu mereka tetap beraktivitas, hanya karena mereka mengklaim sebagai pembela Islam tapi nyatanya justru kerap menistakan Islam, maka saya senang tentunya jika pemerintah tegas melarang.

Q: Apakah berita pembubaran FPI sebuah kabar baik bagi ketentraman masyarakat atau sebaliknya?

Dalam soal ketentraman rasanya iya. Tapi dari sudut pandang demokrasi pasti akan memunculkan pro dan kontra.

Q: Hal-hal atau bentuk pertimbangan seperti apa yang membuat pemerintah pada akhirnya membuat keputusan ini, setelah sekian lama sesungguhnya FPI melakukan berbagai aktivitas yang melanggar ketertiban umum?

Itu sudah tercantum dalam SKB – FPI. Paling inti saya kira karena kita, pemerintah selama ini selalu membiarkan. Masa pemerintahan Jokowi inilah baru bisa tegas terhadap FPI.

Q: Adakah hubungannya pembubaran FPI ini dengan ditetapkanya Rizieq menjadi tersangka atas kasus pelanggaran prokes?

Salah satunya iya. Tapi banyak faktor kenapa hingga akhirnya FPI dilarang karena sebagian anggotanya juga terlibat terorisme.

Q: Akankah FPI sungguh-sungguh bubar?

Rasanya gak juga. Organisasinya saja yang bubar. Setelah itu mereka sangat mungkin bikin wadah baru.

Melihat hasil wawancara, banyak hal memang yang terjadi sesuai dengan yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Nurcholish.

Sehari setelah pembubaran FPI muncul berbagai pro dan kontra. Sebagaian masyarakat menyambut gembira dan menganggap sebagai hadiah akhir tahun namun disisi lain Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai pemerintah tidak tepat dengan membubarkan FPI.

“Pembinaan lebih baik ketimbang pembubaran,” ucap Amirsyah, sekjen MUI, Rabu (30/12).

Pada hari yang sama (30/12), beberapa tokoh (Ahmad Shabri Lubis, Munarman, Abu Fihir Alattas, Tb Abdurrahman Anwar, Abdul Qadir Aka, Awit Mashuri, Haris Ubaidillah, Idrus Al Habsyi, Idrus Hasan, Ali Alattas SH, dan Ali Alattas S.kom, dsb) mendeklarasikan organisasi Front Persatuan Islam, setelah Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan pemerintah.

“Kepada seluruh pengurus, anggota dan simpatisan Front Pembela Islam di seluruh Indonesia dan mancanegara, untuk menghindari hal-hal yang tidak penting dan benturan dengan rezim dzalim maka dengan ini kami deklarasikan Front Persatuan Islam,” demikian bunyi keterangan tertulis dari Front Persatuan Islam.

Mereka juga menilai pembubaran FPI hanya upaya pengalihan isu atas kasus penembakan mati 6 laskar FPI oleh polisi.

Menarik, karena saya pikir Front Persatuan Islam adalah wadah baru yang dimaksud oleh Ust. Ahmad Nurcholish.

Hendak memasuki tahun yang baru adalah baik jika kita mengawali segala sesuatu dengan berpikir positif, oleh karena itu semoga Front Persatuan Islam berbeda dengan Front Pembela Islam (FPI), mereka lebih humanis, lebih toleran dengan perbedaan, lebih penuh kasih sayang, Amin.

-Admin

Sumber ilustrasi: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/12/31/15345931/pernyataan-dan-sikap-fpi-usai-dibubarkan-tuding-pengalihan-isu-hingga?page=all

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.