Kisah Hidup Nida dan Mohan, Pasangan Pernikahan Beda Agama di India

Kamis, 11 Maret 2021

 

India – Nida Rahman, muslimah 26 tahun, dan Mohan Lal, lelaki Hindu 28 tahun asal India memutuskan untuk mengikat janji suci setelah saling jatuh cinta pada 2011 saat masih duduk di bangku kuliah.

Bagi Nida, pernikahan mereka adalah bunga mekar yang bisa menenangkan hubungan kedua komunitas agama yang pernah terlibat pertikaian di Negeri Sungai Gangga.

Nida juga menyatakan bahwa anak yang akan hadir dalam rumahnya akan akrab dengan tradisi Hindu dan Islam. “Anak-anak akan tumbuh untuk menghormati kedua agama.” Ujar Nida kepada The Straits Times.

Ia menyatakan bahwa sejak awal menjalin hubungan, keduanya sudah sama-sama berkomitmen untuk tidak pindah agama. Mereka ingin apa adanya. Keduanya menyatakan telah memilih pasangan apa adanya dan tak ada yang perlu diubah.

 

Kisah Penikahan Nida dan Mohan

Negara India yang penduduknya terdiri dari berbagai umat beragama menjadi tempat yang tidak ramah bagi pernikahan beda agama. Para pelakunya kerap dikecam, tidak hanya oleh keluarga tapi juga masyarakat luas.

Nida pergi dari rumahnya pada Agustus 2020 karena pihak keluarga meminta Mohan untuk pindah agama yakni masuk Islam dan pindah ke satu kontrakan yang Nida dan Mohan sewa bersama.

Sebelumnya, Nida sempat tinggal beberapa hari di Dhanak of Humanity, sebuah organisasi nirlaba yang fokus membantu pasangan beda agama, beda kasta, dan memberi mereka tempat untuk berlindung.

Asif Iqbal, pendiri Dhanak of Humanity pada 2005 menyatakan bahwa pelecehan dan penundaan pernikahan beda agama membuat pasangan menderita dan terpaksa meminta pasangan mereka pindah agama.

The Straits Times mewartakan bahwa pada 5 Oktober 2020, pasangan Nida dan Mohan telah memberanikan diri untuk mengajukan keberatan hukum ke Pengadilan Tinggi Delhi untuk mengubah undang-undang yang mereka yakini mendiskriminasi pasangan beda agama.

Sebelumnya, pada 21 September 2020, dua sejoli tersebut mengajukan petisi terhadap Undang-undang Pernikahan Khusus (SMA) 1954 yang mewajibkan pasangan beda agama menyerahkan surat pemberitahuan kepada petugas Kantor Urusan Agama di daerah tempat tinggal asal.

Salah satu syaratnya adalah pasangan yang akan dinikahi sudah tinggal di daerah tersebut selama 30 hari atau lebih sebelum menyerahkan surat. Surat tersebut harus memuat data pribadi lengkap seperti nama, alamat, dan foto pasangan serta harus diletakkan di tempat yang mencolok di KUA.

Hal tersebut dilakukan agar siapa pun yang tidak setuju dengan pernikahan yang dilakukan bisa mengajukan keberatan. Ketentuan ini tidak hanya berlaku untuk keluarga dan kerabat pasangan tersebut semata.

Baca juga: Eti Kurniawati Guru Kristen Pertama yang Mengajar Madrasah di Tana Toraja

Pelecehan dari Beberapa Pihak

Nida percaya bahwa pernikahan beda agama akan berisiko besar. Salah satunya adalah dengan mendapat pelecehan dari pejabat pemerintah yang tidak kooperatif dan penyalahgunaan data.

Penyalahgunaan data tersebut bisa dilakukan oleh orang asing setelah data pribadi diumbar ke publik lewat surat-surat resmi, terutama oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan politik dari hubungan mereka.

Petisi yang diajukan oleh Nida bertujuan untuk menghapuskan aturan soal keberatan publik. Menurutnya aturan ini melanggar hak asasi individu, termasuk hak privasi.

Aturan tersebut dinilai menghambat masyarakat untuk maju. Nida mempertanyakan, jika ada seorang laki-laki dan perempuan sudah siap untuk menikah, mengapa masih butuh persetujuan orang ketiga lagi?

Pelaksanaan pernikahan beda agama di India kerap mengalami pelecehan, bahkan bisa memicu pembunuhan demi kehormatan dan di banyak kasus juga bunuh diri.

Seorang laki-laki Hindu 23 tahun dibunuh tidak jauh dari rumahnya di Delhi pada 2018 oleh keluarga perempuan muslim yang putrinya berkencan dengan dia. Untuk kasus perempuan Hindu dan laki-laki muslim, tudingan “jihad cinta” yang kerap memicu ketegangan antar komunitas agama.

Istilah “jihad cinta” adalah sebutan dari kaum Hindu radikal untuk menuduh lelaki muslim yang dianggap melancarkan konspirasi untuk mengajak perempuan Hindu masuk Islam.

Sejak Januari sampai September 2020, ada 461 pernikahan yang didaftarkan dengan Undang-Undang Pernikahan Khusus berbanding 13.572 pernikahan sesama Hindu di New Delhi. Nida dan Mohan menolak melakukan langkah itu.

 

Penulis: Ayu Alfiah  Jonas

Temu Nasional Jaringan GUSDURian 2020

Penutupan TUNAS atau Temu Nasional Jaringan GUSDURian kemarin malam Rabu, 16 Desember 2020, telah selesai dilaksanakan. TUNAS sendiri dilaksanakan setiap dua tahun sekali, pada tahun ini TUNAS diselenggarakan dengan cara tidak biasa, dilaksanakan secara online karena situasi pandemi covid-19. Penutupan TUNAS 2020 kemarin diorganize dengan sangat baik, walaupun dilaksanakan secara virtual semua partisipan yang hadir tetap dapat menikmati acara tersebut.

Pada malam tadi, penutupan TUNAS 2020 juga ditutup dengan penganugerahan GUSDURian Award dengan kategori individu, komunitas, dan lembaga.

Pengharagaan untuk kategori lembaga diberikan kepada Institute Mosintuwu, Poso, Sulawesi Tengah. Kemudian untuk kategori komunitas diberikan kepada GUSDURian Semarang, lalu untuk kategori individu diberikan kepada Lian Gogali yang juga sebagai pengurus dari Institute Mosintuwu. Lian menyampaikan bahwa penghargaan yang ia terima adalah sebuah kehormatan baginya karena ini GUSDURian Award yang pertama, namun penghargaan ini juga Lian anggap sebagai hutang kemanusiaan yang harus terus menerus dilakukan, penghargaan ini menjadi tanggung jawab kemanusiaan yang harus diteruskan untuk meneladani nilai-nilai GUSDURian.

Inayah Wahid membacakan puisi

Inayah Wahid membacakan puisi

Pada TUNAS 2020, Alisa Wahid sebagai Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian memberikan sambutan dan sekaligus menutup TUNAS 2020, beberapa poin yang disampaikan oleh Alisa,

  1. Beragama secara moderat harus kembali menjadi praktik beragama yang mendominasi kehidupan Indonesia, para GUSDURian harus menjadi penggerak-penggerak moderatsi beragama dimana mereka berada, sebagaimana GUSDUR dulu menggerakan keberagamaan dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan.
  2. Ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya komunitas GUSDURian, bukan banyaknya kota dimana GUSDURian itu ada tetapi ukuran keberhasilan itu adalah apakah kita semakin dekat pada cita-cita kita untuk bangsa Indonesia.
  3. Tema TUNAS 2020 adalah “Menggerakkan Masyarakat, Memperkuat Indonesia.” Tema dipilih bukan untuk berandai-andai, berangan-angan saja, bukan untuk berslogan belaka tetapi karena inilah peran yang dulu diemban GUSDUR yang sangat kuat menggerakan masyarakat, memperkuat Indonesia.
  4. “Menjadi GUSDURian adalah panggilan sejarah”. GUSDUR meneruskan perjuangan Ayahnya K.H. Wahid Hasjim, K.H. Wahid Hasjim meneruskan perjuangan Ayahnya K.H. Hasyim Asy’ari. GUSDUR melanjutkan perjuangan Ayahnya dan Kakeknya. Sekarang sejarah semakin nyaring memanggil kita untuk melanjutkan perjuangan para ayah-ayah kita.

-Admin

Menemukan Tuhan dalam Segala

Menemukan Tuhan  dalam  segalanya,   merupakan  Spiritualitas  Santo  Ignatius yang dihidupi  oleh  para  Imam Jesuit yang  membangkitkan  kesadaran   bagi  setiap  orang  untuk  dapat  menemukan  Tuhan  dalam perjalanan hidupnya.

Tidak  hanya  para  Jesuit  saja  yang  diharap  menemukan  Tuhan  dalam  segala namun  setiap  kita, yang  lahir  dan  kembali  pada  tujuan  yang  sama yaitu  dari  dan  kembali kepada  Allah  TRITUNGGAL.

Kapan  dalam  hidupku  saya  mengenal  Tuhan? Kuterawang  dan  dalam  kesadaranku ketika  saya  bisa  baca  tulis serta  melihat  gambar-gambar  Yesus, alam  semesta, Allah  Trinitas  yang  kuterima  dari  Imam dan  guru  agamaku, serta  ditunjukkan  oleh  orang  tuaku, mendengar  cerita dari  nenek  maupun bapakku disitulah  saya  mengenal  Tuhan.

Kesadaran  itu  berkembang  bahwa  Tuhan  itu  Maha  Baik  yang  kehadiran-Nya  kurasakan  dari  cinta  kasih  orang  tua, nenek, saudara, para  tetangga dan  teman-temanku, para  guruku. Para  Pastor  dan para Suster, paa  tetangga  yang  hidup  rukun  berdampingan. Saya  hidup  dan  dibesarkan  dalam suasana  yang  heterogin baik suku, agama. Tetanggaku  banyak  yang  Thionghoa, ada  juga  Arab, ada  yang  dari  Madura.

Kami  merayakan  Hari  Raya  Idul  Fitri, Natal, Imlek / Tahun baru  China, Waisak. Karena  kampungku  dekat  Alun-alun pusat  kota. Maka  di hari  Raya  yang  biasanya  ada  pertunjukkan  kami  biasa  melihat Wayang  Kulit, Wayang  Golek,  ketika  1 Suro, Gambus, Kentrung, dan  Pasar  Malam  saat  Hari  Raya  Idul  Fitri, Barongsai  dan  Leang  Leong Wayang  Potehi, ketika hari  Raya,  Imlek.

Juga  setiap  tahun  ada  doa  bersamadi Makam  Sunan  Pojok 9 yang  disebut  acara Kol )  saya  sendiri  tidak  tahu  apa  artinya, namun  jika  ada  acara  Kol di makam Sunan  Pojok ramai  pengunjung untuk  berdoa  dan  tirakatan.

Ayahku  senang  mengajakku  keliling kota  Blora  naik  sepeda,bahkan  jika  hari  libur saya  diajak  kesekolah  juga bersepeda, maklum  karena  saya  sekolah  di  Sekolah Katholik  dan  ayahku  sebagai  Kepala  Sekolah  dan  guru  di sekolah  negeri, jaraknya 8 km serta  melewati perkampungan &  persawahan  nan  hijau.

Ayahku  selalu  bercerita, menunjukkan nama  gedung dan  bangunan  seperti  Gereja, Masjid, Kletheng, kantor Kejaksaan, gedung  DPR dll  dari  situ  saya  mengenal lingkunganku  dan  alam  semesta, bahkan  untuk menghafalkan  nama-nama  gunung ayahku  menyanyikan  nama  gunung  tersebut  sehingga  saya  biasa mengingatnya hingga  sekarang.

Pengalaman kecilku menggugah kesadaranku tertarik untuk hidup seperti para Suster. Waktu itu saya kelas 2 SD. Romo Parokiku selalu orang Italy yang mempunyai adat yang baik untuk mengadakan  prosesi / perarakan Sakaramen Maha Kudus pada hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Dari komplek Sekolah Katolik menuju ke Gereja. Saat prosesi dipilihlah anak- anak kecil menjadi malaekat yang didadani oleh para suster yang didatangkan dari Rembang karena di Blora, kotaku belum ada biara Susteran.

Nah saya terkesima dengan kebaikan para suster SND yang ramah, baik hati dan penuh semangat. Kebaikan Tuhan merasuk dan mengaliri hidup mereka dan itu kurasakan. Betapa indahnya hidup dalam kebersamaan dan dipersembahkan kepada Tuhan, meskipun saya  minim  pengetahuan hingga  dewasa  dalam  benakku semua   suster/ biarawati  itu  sama.

Saya  baru  tahu  adanya  TAREKAT/ KONGREGASI setelah  saya  menjadi  Aspiran (  Calon  suster  dan  tinggal hidup bersama  para  suster  SND)  yang  waktu  itu  sudah  punya  biara &  berkarya  di  Blora.

Pengalaman  masa  kecil  itu  menumbuhkan  panggilanku  untuk  semakin  dekat  dan  melayani  Tuhan, sehingga dengan  jalan  yang  berliku-liku  penuh  kesulitan  saya  belajar dan  membuka  hati  serta  hidup  tinggal  bersama para  suster.

Bersyukurlah  saya karena  Tuhan  menganugerahkan  padaku  karakter  yang  gembira, terbuka, mudah  merasa damai  dan  krasan  dimanapun  berada, mudah  menyesuaikan  diri, mudah  bersyukur  dan  mengagummi  semesta dan ciptaan  Tuhan, siap  dan  mau  bekerja  keras.

Semuanya  itu  membantuku  untuk lancar  melangkah mengikuti  suara  hatiku  yang  mengajak  untuk  mengabdi Tuhan  dalam  hidup  membiara. Meskipun  sejak  awal  saya  mengalami tantangan  yang  berat  dari  bapakku, nenekku  yang  tidak  mengijinkan  saya  untuk  masuk  biara  karena  saya  anak  pertama.

Dalam  perjalanan waktu saya  diijinkan oleh  ayahku  dan  nenekku  dan  saya melangkah  masuk  biara meninggalkan  kota  Blora  pada  14 Mei 1980. Sebagai Postulan saya  mempunyai  banyak  waktu  untuk  berdoa, bekerja  dan mendapat pelajaran  tentang  Kitab, Suci, Hidup  Membiara, ketrampilan, Bahasa  Inggris, Etika dari pelbagai  nara  sumber, Imam, suster  maupun  awam.

Disitulah saya  semakin  menemukan  Tuhan  dalam hidup  keseharianku, baik dalam  doa, kerja, study  atau  tugas perutusan (  maklum para  postulant &  Novis saat  itu  yang  punya  keahlian  khusus sebagai  guru, perawat, social langsung diterjukan  dalam  karya)  waktu  itu  saya  baru  postuland  2  minggu  sudah ditugaskan untuk  mengganti tugas  Kepala  Sekolah yang  absen  selama  1  bulan di Purbolinggo.

Sesudah  itu  saya  mengajar  di  TK  St  Yosep dan  mengajar  agama  di  SD  Pius dan  SDN Sampangan di  Pekalongan. Interaksi  dengan  para  murid, para  staf  pengajar  dan  masyarakat mengajariku dan  memberi inspirasi  tentang hidup  bersama, saling  berbagi, belajar  dan  mengajar, dan  menyalurkan  anugerah  Tuhan.

Dari  Postulan  saya  diperkenankan  mengenakan  pakaian  biara  dan  menjadi  Novis pada  tanggal31 Mei 1981, pelajaran  dan  keteraturan  hidup  membiara  lebih  intens, dan  tugas  mengajarpun ditambah  selain  di  Sekolah mengajar  agama  juga  di  Bendan dirumah  Bapak  A. Sarjiman dimana  anak-anak  yang  sekolah  negeri  berkumpul, juga  di  Stasi  Batang.

Dengan  mengajar, saya  mewajibkan  diri  untuk  membaca  banyak  buku  agama  &  rohani, merefleksikan dan mensharingkan Betapa  Allah  itu  sangat  mencintai  manusia  dan  ingin  agar  setiap  manusia  itu  selamat dan kembali  kepangkuan  Allah  Tri Tunggal  Maha  Kudus. oleh  karena  itu  Yesus  sebagai  pribadi  Allah  berkenan lahir, hidup didunia  bahkan  disalib  agar  manusia  selamat  dari  dosa  asal  dan  kukungan  roh  jahat  dan  hidup sebagaimana  direncanakan  Allah  sebagai  Citra-Nya.

Setiap mengalami  perjumpaan  dan  kasih  Allah, saya  rajin  menuangkan dalam  tulisan  sebagai  Puisi  atau  essay renungan dimasa  Pendidikan kebiaraanku  hingga  Junior. Waktu terus  bergulir, semakin saya  memasukki  Masa Terisiat dan  Kaul  Kekal  di  Roma, dipercaya  dalam  pelbagai  tugas  perutusan  kongregasi  hingga  dimanca  negara, semakin  saya  mendispinkan  diri  untuk  belajar  kehidupan.

Teori  maupun  praktek, mengikuti  kursus, spiritual maupun profane  keahlian, semakin  saya  rajin  membaca  buku  rohani  dan  Inspiratif, semakin  disiplin  dalam doa dan  terbuka  pada  perubahan , tanda-tanda  semesta, menyimak  dengan mata, mengolah  dengan  rasa, merekam  dalam  hati  mewujud-nyatakannya  dalam kehidupan.

Dan  kurasakan Allah  ada  di  mana-mana memberkatiku  sepanjang  hari dari  pagi saya  membuka  mata  hingga malam  saya  menutup  hari  dalam  doa  keprasahan kepada-Nya.Dia  mencintaiku  tanpa  syarat  dan  memampukan saya  untuk  selalu bersyukur  kepada-Nya” Betapa  indahnya  hidup  ini, betapa  saya  mencitai  hidup ini, namun hanya  DIA yang  terindah  dengan  surga-Nya  saya  akan  mencintai  dan mengabdi  DIA  dalam  hidupku dibumi dan disurga-Nya. Amin

Sumber : https://www.kompasiana.com/monikaekowati6276/5f34eb9f097f3671875bb2b2/menemukan-tuhan-dalam-segala?page=1

Pernyataan Sikap Jaringan GUSDURian Terkait Penyerangan Keluarga Assegaf di Solo

Pernyataan Sikap Jaringan GUSDURian
Terkait Penyerangan Keluarga Assegaf di Solo

Kekerasan terhadap warga negara kembali terjadi di Indonesia. Di tengah upaya keras menanggulangi pandemi Covid-19 sebuah peristiwa memilukan terjadi di Solo, Jawa Tengah. Sekitar dua ratus orang menyerang acara Midodareni yang tengah berlangsung di kediaman almarhum Segaf Al-Jufri, Jl. Cempaka No. 81 Kp. Mertodranan Rt 1/1 Kel/Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 8 Agustus 2020 malam.

Midodareni merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk mempersiapkan hari pernikahan. Sebagaimana diberitakan 5news.co.id, ratusan orang tiba-tiba mendatangi lokasi dan memaksa tuan rumah membubarkan acara tersebut. Mereka juga merusak sejumlah mobil dan memukul beberapa anggota keluarga. Sembari meneriakkan takbir, penyerang meneriakkan bahwa Syiah bukan Islam dan darahnya halal.

Syiah merupakan salah satu mazhab teologi dalam Islam yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Di Indonesia, Syiah termasuk dalam kategori kelompok minoritas dan kerap menerima perlakuan diskriminatif. Tiga orang dilaporkan menjadi korban tindakan brutal kelompok tersebut, sehingga harus menjalani perawatan medis akibat luka-luka yang diderita.

Peristiwa ini menambah catatan buruk intoleransi di Indonesia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman. Apalagi beberapa waktu yang lalu, peristiwa intoleransi juga terjadi pada masyarakat adat di Kuningan, Jawa Barat. Hal ini sungguh ironis mengingat presiden Joko Widodo pernah menyerukan tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia.

Perlu langkah kongkrit dari berbagai pihak agar tidak ada lagi kasus intoleransi atas nama agama. Oleh karena itu, Jaringan GUSDURian sebagai perkumpulan yang berupaya meneruskan perjuangan KH. Abdurrahman Wahid, pejuang kemanusiaan, menyatakan sikap sebagai berikut.

Pertama, mengutuk peristiwa penyerangan tersebut karena mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas alasan apapun.

Kedua, meminta kepolisian setempat untuk menuntaskan kasus ini melalui mekanisme konstitusi. Sebagai lembaga negara, kepolisian harus menegakkan hukum tanpa mempertimbangkan opsi harmoni sosial yang hanya akan melanggengkan praktik kekerasan di masa mendatang. Pelaku harus dihukum setimpal dengan undang-undang
yang berlaku.

Ketiga, meminta kepada pemerintah daerah agar menjamin keamanan warga negara, khususnya yang berstatus sebagai kelompok rentan. Setiap jengkal wilayah Indonesia harus memberikan rasa aman kepada penduduknya. Negara memiliki tugas untuk mewujudkan keamanan bagi warga negara tersebut

Keempat, meminta tokoh agama setempat untuk bahu membahu menebar gagasan
agama yang penuh rahmah. Intoleransi terjadi salah satunya karena adanya ideologisasi
nilai-nilai eksklusivisme yang dibalut dengan semangat keagamaan. Padahal sejatinya
agama mengajarkan manusia untuk mensyukuri perbedaan sebagai karunia dari Allah
SWT.

Kelima, mengajak para GUSDURian dan masyarakat pada umumnya untuk terus
merawat semangat “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai warisan para pendiri bangsa.
Sejak didirikan, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku
bangsa, agama, adat istiadat, dan lain sebagainya.

Keenam, menyerukan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan dan ujaran kebencian pada mereka yang berbeda. Sebagaimana kata Gus Dur, kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan.

Yogyakarta, 9 Agustus 2020

Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian
Alissa Wahid
Hotline: 082141232345 (Rifa Mufidah)

Sumber:  https://gusdurian.net/pernyataan-sikap-jaringan-gusdurian-terkait-penyerangan-keluarga-assegaf-di-solo/

Penganiayaan Terhadap Kelompok Minoritas Terulang Kembali

Penganiayaan terhadap kelompok minoritas terulang kembali. Pada tanggal 8 Agustus 2020 terjadi penganiayaan terhadap keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri. Berawal saat keluarga menggelar acara Midodareni. Midodareni adalah salah satu prosesi pernikahan adat di Jawa Tengah.

Sekitar pukul 17.45 datang sekelompok massa yang menyebut dirinya adalah kelompok Laskar, kemudian mempertanyakan kegiatan yang sedang berlangsung di dalam rumah itu. Kelompok tersebut mencurigai kegiatan yang dilaksanakan oleh keluarga merupakan kegiatan keagamaan yang ditentang oleh kelompok Laskar. Kelompok tersebut pun berteriak-teriak “Allahuakbar, Bubar, Kafir” dan ada yang mengatakan “Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, darah kalian halal, bunuh”

Kedatangan aparat dari Polresta Surakarta tidak terlalu mengubah keadaan, kelompok Laskar bersikeras bertahan dan tidak mau membubarkan diri jika keluarga masih melakukan kegiatan tersebut. Pihak keluarga juga tidak mau membubarkan diri dengan alasan kuatir jika salah satu dari mereka keluar akan langsung dianiaya oleh kelompok laskar, mengingat kejadian di tahun 2018.

Selang beberapa waktu ada tiga anggota keluarga yang keluar rumah dan dengan tiba-tiba kelompok laskar memukul dan sebagian melempari dengan menggunakan batu. Karena jumlah yang tidak seimbang dengan petugas, tiga orang tersebut mengalami luka-luka. Namun akhirnya petugas mampu mengendalikan kelompok laskar. Kelompok laskar baru membubarkan diri saat Adzan Isya.

Pada malam hari, sekitar pukul 20.55, Habib Novel (Majelis Ar Raudah) tiba di lokasi dan menyampaikan kepada Kompol I Made Sukada (Kabag Ops Polresta Surakarta) untuk segera menangkap otak kejadian atau pemimpin penganiayaan tersebut dan di perhadapkan dengannya. Jika polisi tidak mampu menyelesaikan, Habib Novel akan turunkan seluruh umat muslim ke Solo.

Haryo, salah satu alumni Peace Train Indonesia memberi komentar terkait berita tersebut dan mengatakan :

“Sangat disayangkan di negara Bhineka Tunggal Ika ini masih ada saja kelompok-kelompok orang (utamanya yang mayoritas) yang tidak menghargai perbedaan. Malah merasa paling benar, lalu menyalahkan, membenci bahkan menyerang kelompok lain yang berbeda. Tugas aparat menindak tegas kekerasan dan intimidasi, apapun alasannya karena itu melanggar hukum.”

Mendukung, Mengawal, dan Memastikan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Komnas Perempuan mencatat bahwa pada tahun 2020 terdapat 431.471 kasus kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan. Namun perlu diketahui bahwa kasus kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapa saja tanpa memandang gender, etnis, agama, latarbelakang sosial, dan tingkat pendidikan.

Kasus pelecehan seksual yang merupakan bagian dari kekerasan seksual belakangan banyak terungkap, salah satunya yang belum lama ramai diperbincangkan oleh warganet di twitter yaitu kasus fetish kain jarik.

Semakin meningkatnya kasus membuktikan bahwa situasi ini berada pada tahap yang darurat, oleh karena itu diperlukan peraturan yang tegas serta berpihak pada korban kekerasan seksual. Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) harus segera disahkan yang diharapkan peraturan itu dapat memberikan perannya dengan memberikan perlindungan kepada korban.

Kelompok Aliansi Akademisi melakukan survey untuk menjaring pandangan masyarakat terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) dengan harapan survey ini mampu memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan untuk segera mensahkan RUU P-KS ini sebagai sebuah bentuk perlindungan nyata kepada korban. Kelompok ini mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama mengawal & memastikan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Indonesia.

Mari menjadi “bagian” dari gerakan mendukung, mengawal, dan memastikan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, berikut link surveynya : https://bit.ly/SurveyPungkas

Info lebih lanjut :

Tim Akademisi Indonesia

Narahubung:
1. Dr Ina Hunga, Email: akademisi.hapusks@gmail.com; ina.hunga@uksw.edu
2. Hani Yulindrasari, PhD, Email: haniyulindra@upi.edu
3. Sri Wiyanti Eddyono, PhD; Email: sriwiyanti.eddyono@ugm.ac.id.

Gereja: Idiot, Immoralitas & Spiritualitas Politik!

Gereja: Idiot, Immoralitas & Spiritualitas Politik!
Oleh Albertus Patty

Saat saya katakan bahwa belakangan ini gereja-gereja kita semakin idiot, seorang pimpinan gereja langsung bereaksi keras “Apa hakmu menyebut dan menuding gereja idiot?” Mendengar ungkapan gereja idiot, ia emosi dan langsung bereaksi. Kita tahu bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), idiot menunjuk pada orang yang kecerdasan berpikirnya sangat rendah. Idiot adalah orang yang tingkat IQ-nya kurang dari 25! Definisi seperti itu baru muncul pada abad ke-14, tetapi tetap bertahan hingga kini. Ini yang menjadi penyebab idiot diartikan sebagai fool atau stupid alias dungu atau goblok! Definisi KBBI tentang idiot ini membuat sang pimpinan gereja jengkel. Ia anggap saya telah merendahkan kapasitas dan kualitas gereja. Nah, sebelum anda ikut menghakimi saya, mari kita telisik makna lain dari kata idiot.

Kata Idiot asal katanya idiota (Latin) adalah orang yang tidak mengenyam pendidikan apa pun alias orang bodoh. Dalam bahasa Yunani kata idiot berasal dari ‘idiotes’ yang berarti orang biasa atau warga negara biasa. Definisi lain dari idiot adalah kaum awam atau orang yang tidak memiliki kapasitas professional pada bidang tertentu. Contoh, di lingkungan gereja istilah ‘kaum awam’ menunjuk pada orang yang bisa saja ahli di bidang lain, kecuali teologi. Jadi, pada awalnya idiot bukanlah kata yang merendahkan. Kata idiot ini erat kaitannya dengan dunia politik.

Di Yunani, tempat lahirnya sistem demokrasi, partisipasi masyarakat dalam politik sangat dihargai. Mereka yang tidak berpartisipasi akan dikritik habis karena tidak berkontribusi apa pun. Dalam situasi ini, idiot bermakna orang yang egois dan bodoh yang tidak berpartisipasi dalam ruang publik. Sekali lagi, kata idiot tidak ditujukan untuk merendahkan orang yang kapasitas intelektualnya rendah. Sebaliknya, ia justru digunakan untuk mengeritik orang yang moralitas sosialnya tumpul. Alasannya simple, karena mereka menolak berpartisipasi dalam ruang publik, terutama politik.

Ungkapan saya tentang ‘gereja idiot’ ada dalam perspektif politik. Gereja idiot adalah gereja yang enggan berkiprah dalam ruang publik. Menolak melibatkan diri dalam dunia politik! Apatis! Masa bodo! Filsuf Yunani, Thucydides mengatakan bahwa orang yang ‘ogah’ mengambil bagian dalam ruang publik adalah orang yang hidupnya tanpa ambisi. Statik! Diam di tempat! Dan Thucydides melanjutkan, orang seperti ini tidak berguna!

Bercermin dari kata-kata Thucydides itu, gereja ditantang untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, terutama dalam dunia politik. Bila enggan melibatkan diri dalam dunia politik, gereja seperti garam yang tawar. Tidak berguna! Tentu saja keterlibatan gereja dalam dunia politik bukan keterlibatan sebagai institusi, tetapi keterlibatan secara moral dan etik! TB Simatupang menyebutnya dengan ‘ikut memberikan landasan moral dan etik bagi kehidupan bangsa. Tetapi, di saat politik menjadi arena perebutan kekuasaan dan menjadi ajang transaksi kekuasaan dan uang, muncul pertanyaan: bagaimana gereja berpartisipasi dalam ruang publik, terutama dalam dunia politik, sehingga memberikan kontribusi besar bagi kebaikan bangsa?

Spiritualitas Politik!
Prinsip terpenting bagi gereja saat melibatkan dirinya dalam kehidupan publik, terutama dalam dunia politik adalah bahwa partisipasinya itu bukan untuk dan demi kepentingan gereja saja! Tetapi demi kepentingan masyarakat dan bangsa, terutama mereka yang terpinggirkan dan termarjinalisasikan. Sungguh tidak bermoral dan tidak kristiani bila niat dan tujuan gereja berpartisipasi dalam dunia politik adalah demi memuaskan syahwat kekuasaan. Kecenderungan seperti itu menjebak gereja menjadi penjilat penguasa atau sebagai predator sesamanya. Gereja yang tidak berpartisipasi apa pun dalam dunia politik disebut sebagai gereja idiot. Tetapi gereja yang berpartisipasi dalam dunia politik demi kepentingan kekuasaan adalah gereja yang immoral!

Dalam sejarah, gereja sering terjebak dalam immoralitas yaitu saat gereja lebih mementingkan kekuasaan daripada melayani sesama. Contohnya Deutsche Christen (Kristen Jerman) pada masa Hitler. Gereja ini menjadi immoral. Ia lebih taat kepada Hitler daripada kepada Tuhan. Pada masanya, Hitler melakukan semua jenis dosa politik. Otoritarianisme, penindasan, ketidakadilan, diskriminasi rasial, dan juga politik agama. Gereja yang tunduk pada Hitler ikut menjustifikasi kebencian dan genosida terhadap orang Yahudi dengan ayat-ayat Kitab Suci. Syukurnya, muncul kesadaran dari sebagian pendeta gereja Jerman. Didukung oleh Karl Barth, mereka mendeklarasikan berdirinya Bekennende Kirche (Gereja yang Mengaku). Gereja ini meyatakan perlawanan teologis terhadap impotensi moral Deutsche Christen (Gereja Jerman), dan sekaligus perlawanan politik otoritarianisme yang mempertuhankan Hitler.

Dalam perlawanan itu, Bekennende Kirche mengeluarkan seruan kenabian yaitu Deklarasi Barmen. Isinya pernyataan bahwa kesetiaan gereja-gereja Jerman hanya pada Tuhan Yesus Kristus. Mereka menolak tunduk pada Hitler. Mereka tegaskan bahwa kekuasaan politik bukan untuk menindas dan mendiskriminasi. Kekuasaan itu untuk melayani. Meski menghadapi resiko berat, Bekennende Kirche tetap nekad! Aksinya telah mengembalikan politik kepada marwahnya yaitu ‘politik itu suci,’ kata Sabam Sirait. Politik menjadi sebuah panggilan spiritual!

Aksi heroik gereja ini menunjukkan bahwa spiritualitas politik itu memang ada! Pemilik spiritualitas politik pasti mampu mentransenden dirinya, yaitu mampu berpikir dan bertindak melangkaui egoisme pribadi dan kepentingan kelompoknya demi kebaikan semua. Mereka yang dikuasai spiritualitas politik sadar bahwa panggilan politiknya adalah menjadi abdi dan pelayan bagi kebaikan bangsa. Adanya spiritualitas politik membuktikan bahwa gagasan hedonistik ala David Hume tidak selalu benar. Artinya tidak selalu tindakan manusia dimotivasi oleh hawa nafsu. Hume lupa bahwa manusia adalah juga makhluk spiritual yang mampu bertindak dalam kasih, yang melampaui kepentingan diri sendiri.

Saat Pilkada Desember ini mendekat, kita bertanggungjawab untuk menjaga agar gereja-gereja tidak terjebak pada kesalahan fatal yaitu menjadi gereja yang idiot atau menjadi gereja yang immoral. Kita harus menjaga agar keterlibatan kita dan gereja-gereja kita dalam dunia politik didasarkan pada spiritualitas yang kokoh yang menegaskan ucapan Johannes Leimena yaitu: politik adalah etika untuk melayani! Ya, untuk melayani demi kebaikan bangsa ini!

Ikan Petrus Memacu Semangat Cinta

Cuaca begitu cerah mengiringi  perjalanan  para  peziarah. Udara tidak  begitu  dingin dan  juga  tidak   panas, enak  untuk  berjalan dan menikmati  alam  sekitar. Setelah  berziarah  ke  Kana dan  gereja Maria  Anunciation, masih  di  Wilayah  Galilea kini  para  peziarah menuju pantai  Danau  Galilea  yang  disebut  juga  Danau  Kineret, Danau Genezaret, Laut Tiberias atau  Danau Tiberias.

Saat  makan  siang para peziarah diajak ke restoran untuk menikmati santap siang dengan  lauk Ikan Petrus. Rasanya tidak lengkap  kalau ziarah  ke  Tanah  Suci  tanpa  menikmati  Ikan  Petrus.  Ikannya  seperti  ikan  mujair (dalam  ukuran  besar) dihidangkan bersama  nasi  uduk (nasi  yang  dicampur  santan,  gurih  rasanya) serta oseng-oseng  terong  dan lalapan ala Galilea.

Ikan  inilah  yang  sering  disantap  para  Rasul  sebelum  dan  sesudah  menjadi  murid  Yesus. Rupanya  ikan  jenis  ini yang  menjadi  ciri  khas Danau  Galilea.  Jadi  semasa  para  murid  bersama  Yesus dan  sesudah  bertemu  Yesus sesudah  kebangkitan-Nya juga  menyantap  ikan ini.

Entah  mengapa  disebut  Ikan  Petrus, mungkin  karena  Petrus  nelayan  yang  paling  TOP  di antara  mereka  dan dia  dipilih  oleh  Yesus menjadi  pemimpin  mereka  maka  ikan  ini  diberi  nama  Ikan  Petrus, tokohnya  para  nelayan Galilea  saat  itu.

Yang menarik  bagiku  adalah  ikan  itu  sendiri  menjadi  lambang orang  kristen  perdana. Jika  kita  pernah berkunjung  di  Katakombe — Katekombe / gua makam  dibawah  tanah, misalnya  di  Katekombe  St.Calixtus  di Roma disitu  banyak  tergambar  ikan di tembok-tembok.

Ikan = PICCES  dalam  Bahasa  Yunaninya  adalah  ICHTUS. Sangat  menarik  kalau  kata  ini  dipecah  akan  tertulis seperti  ini : I (iota) X (Chi) O (Theta) Y (Upsilon)E(Sigma) merupakan kependekan  dari  Iesous Christos Theou Yios Soter   yang  berarti Yesus Kristus (diurapi) Anak Allah Penyelamat.

Saya  jadi  ingat  apa  yang  diajarkan  oleh  almarhum Rm  Kitrup,  MSC. sewaktu saya di noviciat  (masa  pendidikan awal  biarawan /wati )  dia yang  mengajar  Kitab  Suci. Romo  seorang ahli  perbintangan, bahkan  dia  menunjukkan rasi  bintang  dilangit dengan  telanjang  mata, lengkap  dengan  ciri-khas  bintang  itu  dan  namanya.

Romo  pernah  bercerita  bahwa   pada  abad  pertama, umat  kristen  perdana  selalu  dikejar-kejar, dianiaya dan dibunuh.  Sehingga  mereka takut  untuk  menunjukkan  identitasnya  sebagai  Pengikut  Kristus.

Ikan Petrus

Ikan Petrus

Maka  mereka  menggunakan  simbol  Ikan (Ichtus) untuk  menunjuk  identitas meraka.  Kalau  mereka  ditempat umum, dipasar  atau  di  alun-alun mereka  sering  mencoretkan  ditanah  gambar  ikan. Dengan  cara  demikian mereka  berkomunikasi. Bila  ada  orang  Kristen  yang  lain, mendekat  dan  menanyakan  dimana  mereka berkumpul akan  mengadakan  Ekaristi  atau  Ibadat  Sabda?  Mereka  saling  mengkomunikasikan  dan  mereka menyebar  ketempat  lain  dan menggoreskan  gambar  yang  sama. Dengan  demikian  mereka  dapat  berkumpul dan  bertemu  sesama  umat  Kristen.

Konon  sebelum  Salib  diketemukan  oleh  Santa  Helena Ibu Raja Constantine Agung, umat  kristen  masih mengalami penganiayaan  hebat. Bahkan  Orang  yang  membenci  umat  Kristen  ingin  meluluhlantakkan kepercayaan  bahwa   atas  petunjuk  bintang  ajaib, tiga  raja  yang datang  dari  timur  itu  mencari  dan  menemukan Yesus  kecil yang  baru  lahir.

Para  ahli  perbintangan,  mereka  akan  menyelidiki  munculnya  bintang  ajaib.  Data -data  dikumpulkan  dan dipelajari dan  yang terjadi setelah  mereka  mempelajari  data-data  terkuaklah  misteri bahwa pada  saat  Yesus lahir  diruang  angkasa  terjadilah  konstalasi.

Tiga  planet  yaitu  Mercurius, Yupiter dan  Pluto mendekati  gugusan  Picces. Sedangkan  Matahari mendekati gugusan  Virgo. Betapa ajaibnya  alam  semesta  menguak  kuasa  Tuhan.  Tiga  planet  lambang  TRINITAS berdekatan dengan  PICCES = ICHTUS. Matahari berkonstalasi  dengan  Virgo/ Virgin, lambang Perawan  Maria.

Bukankah  Matahari  adalah  lambang  Yesus, sebagai  Terang  dunia  Sang  “Matahari  Sejati” lahir dari  seorang Perawan  Maria. Sedang Picces/ Ichtus  merupakan kependekan  dari  inisial  Iesous Christos Theou Yios Soter yang berarti Yesus Kristus Anak Allah Penyelamat. 

Mereka  para  ahli  perbintangan  yang  anti  Kristus itu  tercengang  akan  penemuannya. Akhirnya  mereka bersujud mengakui  Yesus  Kristus sebagai  Tuhan  yang  diimaninya  sebagai  Penebus, Anak  Allah  Penyelamat.

Banyak  cara  Tuhan  menginsyafkan, menyadarkan  manusia  untuk  percaya. Rasul  Paulus  yang  ingin  membunuh umat  kristen, dengan  cara  ajaib  ditemui  Yesus dan jatuh  dari  kudanya, karena  silau  melihat  sinar  terang.  Dia jadi buta, dalam  perjalanannya  menuju  Damsyik, menjadi  jalan  pertobatannya  dan  dibaptis.

Tuhan  senantiasa  punya  cara  untuk  memanggil, menyentuh, mentobatkan, mencari  jiwa  umat-Nya,  karena kehidupan  jiwa  amat  dicintai-Nya.  Jiwa  yang  diciptakan seturut  CITRA /  GAMBARANNYA.

Yang  penting  bagi  kita  adalah  membuka hati  dan  jiwa  kita  pada  panggilan  rahmat-Nya. Kehidupan  kekekalan jiwa  agar  bahagia  dengan Dia.  Untuk  itu  Dia  rela menjilma  menjadi  bayi, lahir  didunia, supaya  Dia  dapat  tinggal diantara  kita.

Kita didekati, disentuh  dan  sepandan  dengan  Dia.  Agar  kita  memahami  cinta-Nya  yang  membumi.  Tidak  hanya itu  Dia  memanggil  para rasul  untuk  menjadi  penerus  Sabda  gereja-Nya  dan  saksi  cinta  kasih-Nya.

Patung St Petrus di rumah St Petrus (dok pri)

Patung St.Petrus

Dia   mewartakan  kabar  baik  kepada  siapa  saja  yang  mau mendengar-Nya, bahkan  Dia  rela menderita  sampai titik  nadir, disamakan seperti para  penjahat  dan  para  pesakitan, hingga  wafat  disalib. Semua dilakukan  karena memenuhi  kehendak  Bapa demi  cita-Nya kepada manusia.

Yesus Kristus Anak Allah Penyelamat telah  berkenan  bersatu  dengan kita  umat-Nya, ini  anugerah  terindah  yang  dikaruniakan  Tuhan kepada  kita.  Kesadaran  ini mesti  kita  rasakan sungguh  merasuk dalam nubari.

Betapa  Allah  Bapa  Yang  Maha  Baik  sangat  mencintai  kita, hanya Yesus  Putra-Nya,  penyelamat  terjanji  yang bisa  mengembalikan hubungan  kita  dengan  Bapa-Nya agar  jiwa  manusia  sebagai  Citra Allah, bersatu  pada  Citranya  dalam  kebahagiaan  surgawi.

Di tepi  Danau  Genesaret sambil  menikmati  gurihnya  Ikan  Petrus, kutatap  birunya  danau  yang  semakin menawan, sebiru  cinta  Yesus yang  semakin  mendalam.

 

Sumber :

https://www.kompasiana.com/monikaekowati6276/5f2c0f98d541df404f759172/ikan-petrus-memacu-semangat-cinta?page=all

Rukun Iman dalam Islam

Tema Kajian Salam kali ini sepintas terlihat sepele. Mengapa? Karena rukun iman sudah diajarkan sejak anak-anak masih di tingkat TK. Sebagian besar anak-anak di lingkungan masyarakat Islam hafal rukun iman di luar kepala. Muncul pertanyaan kritis apa itu rukun iman? Bagaimana mengimplementasikan iman tersebut dalam kehidupan nyata sehari-hari sebagai Muslim dan Muslimah?

Penjelasan tentang rukun iman diperoleh dari hadits Umar bin Khattab sebagai berikut: “Diriwayatkan bahwa  seseorang bertanya kepada nabi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; para malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Kemudian orang tersebut pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui,” Dia bersabda: Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian. HR Muslim, no. 8.

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah keyakinan dalam hati, diucapkan secara lisan dan diamalkan dalam hidup sehari-hari. Iman ini juga tidak statis, melainkan dinamis, bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang jika seseorang berbuat maksiat”. Para ulama salaf menjadikan amal perbuatan termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu, iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang”. Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya. Dengan demikian, iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

Rukun Iman ada 6 yaitu:

  1. Iman kepada Allah swt
  2. Iman kepada para Malaikat Allah.
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah.
  4. Iman kepada para Rasul.
  5. Iman kepada hari Kiamat.
  6. Iman kepada Takdir.

Iman kepada Allah swt bukan hanya sekedar pengakuan verbal tanpa bukti perbuatan. Beriman kepada Allah bermakna paling tidak mencakup 4 hal: Mengimani adanya Allah, Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah; Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah; dan Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma’ul Husna).

Jika seseorang mengaku beriman kepada Allah swt, paling tidak dalam kehidupan nyata seseorang itu menerapkan prinsip tauhid yang benar. Dia hanya mengakui Allah sebagai Tuhan yang patut disembah karena Dialah pencipta semua makhluk di alam semesta. Dia hanya menyembah Allah sebagai Tuhan, dan menafikan semua tuhan-tuhan lain dalam beragam wujud seperti ideologi, kekuasaan, kekayaan, partai, kemuliaan suku dan sebagainya. Keimanan ini juga menggerakkan manusia untuk meneladani sifat-sifat Tuhan, seperti mengasihi, menyayangi, merawat dan memelihara, serta melindungi dengan sepenuh hati (passion and compassion).

Keyakinan penuh hanya kepada Allah swt membuat seseorang tegar dan berani menegakkan nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan kebenaran, serta tidak takut melawan semua bentuk thagut yang menggerus keimanan yang suci. Keimanan kepada Allah swt menguatkan komitmen seseorang untuk melawan semua sistem yang tiranik, despotik, dan koruptif, serta berani memberantas semua praktek hedonistik yang membuat seseorang menuhankan kepuasan biologis yang semu dan palsu.

Keyakinan kepada para malaikat Tuhan membuat seseorang memiliki kekuatan spiritual untuk terus melakukan kebaikan dan menolak semua bentuk kejahatan. Mengapa? Karena dia yakin semua yang dilakukannya itu ada yang merekam dan mencatatkannya dengan sangat cermat sehingga tidak ada yang sia-sia. Keimanan kepada para malaikat juga mendorong kita selalu aktif mengontrol diri dan keluarga serta melakukan upaya-upaya pengawasan agar semua orang terhindar dari bahaya dan kejahatan. Sebaliknya, juga aktif  menghimbau sesama untuk berbuat kebaikan tanpa henti selama hayat masih dikandung badan.

Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah swt menginspirasi manusia untuk belajar seumur hidup. Kitab-kitab suci tersebut berisi pesan-pesan moral yang sangat dahsyat, mendalami dan menghayati pesan-pesan moral tersebut akan meningkatkan kualitas moral manusia. Bukankah tujuan akhir semua agama adalah memanusiakan manusia? Artinya, membuat manusia menjadi makhluk yang bermoral atau berbudi luhur atau berakhlak mulia. Rasulullah saw sendiri menyebutkan bahwa beliau diutus ke dunia ini hanya untuk menyempurnakan kualitas moral manusia. Karena itu, untuk dapat memahami pesan moral dalam kitab suci, tidak bisa hanya dengan membacanya secara tekstual atau secara harfiyah. Melainkan perlu mengkajinya secara kontekstual, mencermati faktor politik, sosio-kultural dan intelektual dari masyarakat dimana kitab suci itu diturunkan.

Keimanan kepada para Rasul Allah swt mendorong manusia untuk melanjutkan perjuangan mereka. Tugas-tugas kenabian (prophetic tasks) seperti mengajak manusia ke jalan kebenaran dan keadilan tidak berakhir dengan wafatnya para rasul dan nabi tersebut. Tugas-tugas tersebut dibebankan ke pundak kita sebagai penerus para rasul dan nabi. Riwayat hidup para rasul dan nabi hendaknya menginspirasi kita untuk hidup penuh tangung jawab, berjuang demi menjaga kebaikan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Kita harus meneladani mereka yang membaktikan hidupnya untuk kepentingan dan kemashlahatan orang banyak. Para rasul mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama.

Kita tidak boleh membeda-bedakan para rasul Allah swt. seperti terbaca pada ayat berikut:

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

Al-Baqarah, 2:136.  Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Keimanan kepada kepada hari akhir dengan meyakini adanya hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di surga dan neraka akan membulatkan tekad dan komitmen suci seseorang untuk hidup penuh makna. Dengan menyadari bahwa kehudupan di dunia ini sangat fana dan hanya sementara, seharusnya menggerakkan seseorang untuk menata kehidupan di planet bumi dengan seksama dan penuh rencana strategis untuk berbuat kebajikan dan kemashlahatan bagi sesama manusia dan bahkan juga sesama makhluk demi meraih kemenangan di akhirat. Keyakinan kepada hari akhirat mengingatkan manusia untuk tidak egois, serakah, tidak menimbun harta, tidak melakukan perbuatan yang diskriminatif dan eksploitatif terhadap sesama, bahkan juga terhadap sesama makhluk lainnya di alam semesta.

Terakhir, keimana terhadap qada dan qadar, yaitu takdir yang baik dan buruk. Hendaknya kita meyakini secara tulus bahwa kejadian yang baik maupun yang buruk terjadi atas izin dari Allah swt. Perlu diingat bahwa keyakinan pada takdir baik dan buruk bukan berarti  harus menerima apa adanya nasib kita. Bukan membuat kita malas, pesimis dan apatis. Keyakinan yang benar terhadap takdir justru mendorong seseorang untuk selalu aktif dan dinamis, jauh dari sikap putus asa dan frustrasi.

Keyakinan yang benar terhadap takdir membuat seseorang senantiasa giat, berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas diri, kualitas keluarga, bahkan juga kualitas masyarakat di sekelilingnya. Sebab, dia yakin bahwa Allah swt Mahaadil dan Mahakasih. Tuhan pasti membimbingnya ke jalan yang benar untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keyakinan yang benar akan takdir Tuhan menguatkan komitmen suci manusia untuk selalu positive thinking, bersikap tawadhu dan tawakkal, jauh dari sikap takabur dan arogan.

Akhirnya, keyakinan yang benar akan takdir membimbing seseorang untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur dan rendah hati atas semua kesuksesan, keberhasilan dan nikmat Tuhan. Sebaliknya bersikap sabar dan penuh ketaatan manakala ditimpa bencana, kesulitan, kekurangan dan kegagalan. Hidup di dunia memang tidak abadi dan penuh dinamika. Namun, yakinlah dengan pertolongan Allah swt kita mampu menjalani kehidupan yang singkat dan sementara ini dengan penuh kebahagiaan.

Demikianlah keyakinan yang benar terhadap Allah swt, para malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Hari Akhir dan Takdir-Nya akan menjadikan seseorang menjalani hidup dengan penuh makna. Sebab, dia mengerti kemana tujuan hakikat hidupnya, menyadari visi-misi penciptaannya di dunia sebagai khalifah fil ardh. Dia menyadari keberadaannya sebagai makhluk Tuhan termulia yang diserahi amanah untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Karena itu, dia menjadi sangat peduli selalu hidup dengan aktivitas yang positif dan konstruktif, penuh kasih sayang terhadap sesama, penuh pengharapan dan optimisme serta kegembiraan. Sebab yakin, kehidupan dunia ini hanya singkat dan sementara menuju kehidupan akhirat yang sarat dengan kebahagiaan abadi.

Kajian Islam Salam #5: Islam Agama Cinta Lingkungan

Kajian Salam kali ini mengambil tema yang unik, yaitu tentang Islam sebagai Agama Cinta Lingkungan. Tema ini masih jarang dibahas di berbagai pengajian dan kegiatan keislaman. Karena itu, tidak heran jika perilaku umat Islam terkait upaya kelestarian alam dan kesehatan lingkungan sangat jauh dari ideal sebagaimana diamanatkan dalam Qur’an dan Sunnah Rasul.

Islam adalah agama yang vokal bicara tentang pentingnya kelestarian alam dan kesehatan lingkungan. Salah satu konsep Islam dalam pemanfaatan alam adalah had al-kifayah (standar kebutuhan yang layak). Artinya, dalam memanfaatkan alam manusia perlu menggunakan standar kelayakan, yakni gunakanlah sekedar kebutuhan yang layak. Jangan memanfaatkan alam di luar standar yang digariskan. Sebab, itu bermakna mengeksploitasi atau menzalimi alam.

Kecenderungan global yang merupakan kegelisahan manusia antara lain karena modernisasi adalah sebagai berikut:1) industrialisasi yang semakin cepat, 2) pertumbuhan penduduk semakin padat, 3) kekurangan gizi yang semakin parah, 4) sumber daya alam semakin terbatas dan tidak bisa diperbaharui, serta 5) lingkungan hidup yang semakin rusak.

Eksploitasi manusia terhadap lingkungan disebabkan oleh tiga faktor: populasi, konsumsi dan teknologi. Akibat dari perbuatan mengeksploitasi alam akan timbul bencana berupa tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, meningkatnya suhu panas bumi, melelehnya es di kutub sehingga volume air laut meninggi drastis. Semua itu akan berdampak sangat buruk bagi kehidupan manusia di planet bumi ini. Bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan yang akan merasakan dampaknya, melainkan orang lain yang tidak bersalah juga terkena dampaknya.

Upaya menjaga kelestarian alam sudah diingatkan sejak masa Rasul. Setidaknya, Rasul melakukan tiga upaya konkret sebagai berikut. Pertama, beliau misalnya tercatat melakukan upaya penetapan daerah konservasi dengan menjadikan wilayah Naqi’ sebagai daerah konservasi. Kebijakan Nabi juga diikuti khalifah Umar dengan menjadikan Saraf dan Rabazah sebagai daerah konservasi.

Kedua, upaya lain yang dilakukan Rasul adalah mendorong umatnya untuk rajin menanam pohon. Mengapa perlu menanam pohon?  Paling tidak ada dua pertimbangan. Pertama, pertimbangan manfaat seperti dinayatakan dalam QS. ‘Abasa, 80:24-32. Kedua, pertimbangan keindahan seperti disebut dalam QS, al-Naml, 27:60.

Ketiga, terakhir tapi tidak kurang pentingnya adalah melarang umatnya melakukan pencemaran lingkungan. Hadis Rasul yang terkenal soal ini, antara lain berbunyi: “Takutlah tiga hal yang menimbulkan laknat Tuhan, yaitu buang air besar di saluran air (sumber air), di tengah jalan dan di tempat teduh (HR. Abu Daud).

Qur’an dan Sunnah Rasul memuat sejumlah pedoman pemeliharaan lingkungan yang dapat dipolakan pada tiga hal: Pedoman pemeliharaan lingkungan (al-A’raf 55, Baqarah 205, Rum 41, Qashas 77, Saba, 27-28). Pedoman pemanfaatan lingkungan (al-Baqarah, 22, al-Nahl, 11, al-Anbiyaa, 30), dan Pedoman pencegahan bencana lingkungan (al-Baqarah, 11-12-195 dan Ali Imran 190-191).

Apa yang harus kita  lakukan? Mulai sekarang dan dimulai dari diri sendiri lakukanlah hal-hal berikut:

Pertama, belilah dan gunakanlah barang-barang dan jasa yang ramah lingkungan. Kedua, berlaku hematlah dalam segala hal, terutama terkait penggunan air bersih dan energi. Ketiga, pilihlah transportasi yang rendah emisi gas. Keempat, jangan menggunakan gelas, botol dan kantong plastik. Plastik sangat berbahaya bagi planet ini karena plastik tidak dapat mengalami biodegradasi, sulit untuk hancur dan merusak lingkungan. Kelima,  gunakanlah produk organik. Makanan organik bebas dari pestisida, pupuk kimia, dan tidak mengandung organisme transgenik dan seterusnya. Keenam, buanglah sampah pada tempatnya dan biasakanlah memilah-milah sampah sebelum dibuang. Ketujuh, biasakanlah pola hidup sehat bersih dan peduli pada kelestarian alam.  Ketahuilah, perilaku kita hari ini sangat menentukan masa depan nasib anak-anak kita. Berpikirlan untuk menyelamatkan sesama. Sebab, itulah inti kesalehan dalam beragama.