Surat Terbuka Kemanusiaan Kepada DPR RI Untuk Penetapan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Sebagai RUU Inisiatif DPR RI

Hal: SURAT TERBUKA KEMANUSIAAN KEPADA DPR RI UNTUK PENETAPAN RUU PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA SEBAGAI RUU INISIATIF DPR RI

Kepada Yth.
Ketua dan Wakil Ketua DPR RI
Pimpinan Fraksi-Fraksi DPR RI
Ketua dan Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI
Anggota DPR RI

Salam perjuangan,

Sejak 2004 masuk Prolegnas DPR RI, 16 tahun perjalanan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) di DPR berkali masuk Prolegnas dan Prioritas Prolegnas, dibahas dan dihentikan, akhirnya tahun 2020 RUU PPRT masuk kembali sebagai Prioritas Prolegnas DPR RI 2020.

Setelah melalui serangkaian pembahasan, Rapat Baleg DPR RI 1 Juli 2020 menetapkan Draft RUU Perlindungan PRT diajukan sebagai RUU Inisiatif DPR RI ke Rapat Paripurna DPR RI.

Kami mengapreasiasi langkah maju DPR RI melalui  Baleg DPR RI dan Tim Panja RUU PPRT sebagai bagian sejarah dalam perlindungan 5 juta nasib wong cilik PRT di Indonesia yang mayoritas adalah perempuan dan selama ini ditinggalkan dalam pembangunan, bekerja dan  hidup dengan situasi yang tidak layak.

Bahwa PRT adalah warga negara merupakan konstituen Ibu, Bapak wakil Rakyat, pekerja dan rakyat kecil yang selama ini bekerja di balik layar untuk berlangsungnya segala aktivitas publik dan yang memungkinkan perekonomian bisa berjalan. Namun selama ini PRT tidak mendapat pengakuan dan bekerja rentan eksploitasi, perbudakan modern dan berbagai bentuk kekerasan serta pelecehan.

Kami juga mengingatkan bahwa kehadiran UU Perlindungan PRT adalah kebutuhan mendasar untuk memperkuat perlindungan PRT Migran Indonesia di luar negeri, sebagaimana Indonesia dituntut menjadi negara yang konsisten di dalam dan di luar negeri untuk perlindungan PRT di Indonesia dan PRT migran yang merupakan mayoritas dari Pekerja Migran Indonesia.

Hadirnya UU Perlindungan PRT  merupakan perwujudan dari Pancasila khususnya Sila Ke-2 Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Sila Ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia serta Amanat UU Dasar 1945.

Atas berbagai pertimbangan tersebut dan menyikapi langkah maju DPR RI serta mendesaknya pembahasan serta terwujudnya UU PPRT, maka demi kemanusiaan, kami memohon dengan sangat  kepada Ibu, Bapak Anggota DPR RI Wakil Rakyat untuk segera mengagendakan dan menetapkan RUU PERLINDUNGAN PRT sebagai RUU INISIATIF DPR RI dalam Rapat Paripurna DPR RI terdekat.

Besar harapan kami atas terpenuhinya permohonan kami, bahwa nasib PRT di Indonesia dan PRT Migran Indonesia ada di hati nurani, kehendak untuk kemanusiaan Ibu Bapak Wakil Rakyat untuk wong cilik PRT dan keluarganya.

Atas perhatiannya, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Jakarta,  1 Oktober 2020
Hormat kami dalam keprihatinan,

Lembaga / Organisasi Umum
1. Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP)
2. JALA PRT
__

Individu:
Lita Anggraini
dst

Pernyataan Sikap ICRP Terkait Penangkapan Aktivis Perdamaian Sudarto Toto

Selasa, (7/1/19), Polisi menangkap saudara Sudarto Toto aktivis perdamaian dari Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka) Padang. Sudarto Toto ditangkap di Kantor Pusaka Padang oleh Kepolisian Daerah Sumatera Barat karena dituduh menyebar informasi yang menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan seperti yang diatur dalam Pasal 28 ayat (2) Juncto Pasal 45 A ayat (2) Undang-undang No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang ITE. Semua itu terjadi atas upaya advokasi saudara Sudarto Toto dalam kasus pelarangan perayaan Natal 2019 di Kabupaten Dharmasraya.

Namun surat keterangan dalam Surat Penangkapan Sudarto Toto merujuk pada status facebook Sudarto Toto pada tanggal 14-15 Desember 2019. Anehnya, pihak kepolisian yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat justru tunduk dengan ancaman-ancaman anarkisme dari sekelompok massa yang tidak bertanggung jawab yang sejak awal sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan Sudarto Toto. ICRP sepenuhnya akan terus melakukan pendampingan sekaligus memonitor setiap perkembangan dari kejadian penangkapan Sudarto Toto.

Sebagai aktivis keberagaman yang memiliki keberanian mengungkapkan kebenaran atas perlakuan diskriminasi dari kelompok masyarakat yang melarang kegiatan ibadat mingguan maupun ibadah perayaan Natal di Jorong Kampung Baru Dharmasraya dan di Sungai Tambang Kabupaten Sijunjung.

Menanggapi berbagai kejadian tersebut, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mengutuk keras tindakan penangkapan Kepolisian Daerah Sumatera Barat atas Sudarto Toto dalam memperjuangkan hak konstitusi sekaligus penegakan hukum bagi kelompok agama yang dilarang untuk beribadat Natal dan ibadat mingguan. Karena tindakan kepolisian tersebut telah menciderai demokrasi dengan memasung hak kebebasan intelektual dan berfikir setiap warga negara.
  2. Mengutuk keras tindakan aparat kepolisian yang melakukan pembiaran dan tunduk terhadap kelompok intoleran yang melakukan ancaman-ancaman. Polisi telah turut serta menebar ancaman dengan mengatakan bahwa ibadah Natal yang dilaksanakan telah melanggar kesepakatan, justru kepolisian mengakomodir tuntutan massa intoleran.
  3. Kapolri Jenderal (Pol) Idham Azis harus mengambil langkah hukum yang tegas terhadap para kelompok intoleran yang melakukan aksi ancaman dan teror terhadap kelompok agama Kristen dan Katolik di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Sijunjung supaya tidak terjadi lagi pemasungan hak kebebasan beragama. Serta membuat SOP yang jelas untuk aparat kepolisian agar tidak tunduk terhadap aksi teror dan ancaman pelarangan ibadah. 
  4. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk menindak tegas aparat Kepolisian Pamong Praja (Pol PP) Kabupaten Sijunjung yang turut serta melakukan upaya pelarangan kegiatan ibadah Natal 2019 dengan memaksakan umat Katolik menggunakan bus yang mereka siapkan untuk digunakan beribadat di Sawahlunto yang berjawak 97,9 Km.
  5. Sikap penolakan peribadatan adalah sikap intoleran dan tidak sesuai dengan prinsip kebebasan beragama yang dijamin dalam konstitusi kita. Karena itu Polisi harus segera membebaskan Sudarto Toto dan melakukan pembatalan seluruh tuntutan hukum yang dikenakan kepada Sudarto Toto

Jakarta, 07 Januari 2020
PENGURUS YAYASAN
INDONESIAN CONFERENCE ON RELIGION AND PEACE (ICRP)

Musdah Mulia
Ketua Umum Yayasan

 

Johannes Hariyanto, SJ
Sekretaris Umum Yayasan

Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

CISForm Meluncurkan Film Animasi Religi

CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meluncurkan film animasi religi di Jakarta. Kegiatan ini adalah launching ke-2 setelah kegiatan serupa telah dilaksanakan di Yogyakarta, 3 Februari 2018. Film animasi religi CISForm yang masing-masing berdurasi sekitar 1,5 s/d 2 menit ini berjumlah 40 film. 20 film animasi religi pertama sudah dilaunching di Yogyakarta dan 20 film berikutnya diluncurkan di Jakarta ini. Film animasi religi ini merupakan komitmen CISForm untuk mengantisipasi penyebaran narasi Islamisme dan radikalisme di Indonesia. Acara ini merupakan bentuk kerja sama antara CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam peluncuran di Jakarta ini, acara diisi dengan pemutaran film animasi religi dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Ustadz H. Muhammad Nur Hayid sekalu tokoh ulama dan Dhania selaku returnee Syiria. Kegiatan ini dihadiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan akademisi, yang dibuka langsung oleh Dr. Muhammad Wildan selaku Direktur CISForm.

CISForm adalah salah satu pusat studi dan penelitian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kosen dalam menangani fenomena radikalisme melalui pendekatan yang lunak/moderat. Studi terbaru menunjukkan bahwa rata-rata kebiasaan membaca kaum muda di negara Indonesia ini kurang dari 10%. Menariknya, media sosial online lebih dipilih menjadi alternatif yang cukup efektif untuk mendapatkan isu-isu update terkini. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa banyak pemuda akhir-akhir ini yang lebih suka memilih akses mudah ke gadget dan internet dalam mencari dan memperlajari segala hal termasuk dalam belajar ilmu agama. Maka dari itu CISForm berupaya menggunakan animasi sebagai sarana yang mudah dan fleksibel untuk menjangkau kaum muda.

CISForm menyadari bahwa tidak bisa dipungkiri arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, paham extremisme dan radikalisme menyebar dan berkembang dengan pesat. Media sosial merupakan media paling rawan untuk penyebaran ideologi ultra-konservatif seperti ISIS. Gerakan-gerakan ultra-konservatif tersebut menyebarkan ideologi (propaganda) mereka khususnya ke generasi muda dengan narasi-narasi extremism dan radikalisme. Berdasaran pengamatan dan penelitian CISForm, ideologi yang dikembangkan oleh gerakan-gerakan extremism adalah seputar narasi hijrah, jihad, khilafah dan intoleransi. Oleh karena itu, CISForm berusaha untuk menangkal perkembangan ideologi ultra-konservatisme tersebut dengan membuat film animasi religi yang menarik yang berisi pesan-pesan Islam moderat yang rahmatan lil’alamin.

Harapannya, melalui animasi religi ini mampu menjadi counter-narratif yang efektif bagi kalangan muda yang familiar dengan sosial media, dan mudah untuk disebarkan melalui youtube, facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Dengan demikian mampu diharapkan dapat berkontribusi dalam mengarusutamakan pemahaman Islam moderat yang rahmatan lil’alamin di kalangan muda, sekaligus menjadi sebagai wacana tanding (counter violent extremism) untuk meredam propaganda ideologi radikalisme di Indonesia melalui pesan-pesan yang dikemas dalam bentuk animasi yang menarik, dan menghibur.

Untuk dapat menikmati film-film animasi hasil karya CISForm, cukup menonton melalui kanal Youtube Cisform Uinsuka.

Test reports

content report