Menggapai Kebahagiaan dan Ketenangan Batin

Selasa, 30 Maret 2021

 

Oleh Untung Suhardi

 

Kebahagiaan bukan sesuatu yang baru dan sulit digapai dan dicapai. Sebab, kebahagiaan itu melekat pada diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lupa dan belum mampu menghayatinya karena tertupi oleh Ego. Ego ini berperan sebagai tabir yang menyelubungi kebahagiaan tertinggi dan menyembunyikannya dari pandangan kita. Kita harus merobek tabir/selumbung hingga hancur, maka akan muncullah sifat asli kita yaitu Ananda (kebahagiaan).

Kedamaian batin kita harus alami, dengan berusaha sedapat mungkin mengurangi serta melenyapkan keinginan, hawa nafsu serta kebencian. Berusahalah mengembangkan dan meningkatkan kebenaran, kebajikan, kasih, kesabaran, dan ketahanan menderita. Bersamaan dengan itu, praktik dan lakukan sadhana secara terus menerus. Apabila telah melakukan perilaku keutamaan tersebut, tidak akan ada orang yang merebut atau menyerobot secara egois. Setiap orang akan saling dihormati dan kedamaian dunia akan terpelihara.

Sebaliknya, apabila kita tidak memiliki kedamaian batin pada diri kita sendiri, bagaima bisa kita mewujudkan kedamaian dunia. Jadi untuk mewujudkan kedamaian dunia, kita harus belajar menghayati dan menikmati kedamaian itu dalam diri kita sendiri, barulah kemudian, kita menyebarkan kedamaian tersebut kepada lingkungan sekitarnya dan mengembangkannya.

Dalam Bhagavad-Gita 12:13 dijelaskan bahwa: Advesta sarva bhutanam, maitrah karuna eva ca. Nirmamo nirahamkara, sama dukha-sukha ksami. Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, pemberi maaf (Pudja, 2010).

Harus disadari bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman. Dengan demikian, jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman. Maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini. Sebab, kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini: tanah, air, api, udara, dan angkasa.

Baca juga: Harapan yang Membawa Sukacita

Dalam agama Hindu dikenal ajaran Tat Twam Asi yang mengandung pengertian bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Menyakiti makhluk hidup lain, pada dasarnya adalah menyakiti diri sendiri, dan juga sebaliknya. Dari kesadaran inilah, akan tercapai kebahagiaan dan keharmonisan. Sebab, orang sadar dab tahu bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain, serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam). Kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, bagaikan satu rumah dengan satu atap dengan sifat dan tempramen yang berbeda, tetapi satu.

Hal ini juga dijelaskan dalam Atharwa Veda III. 30. 1 yang dijelaskan bahwa: Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah. Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya. Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu (Griffith, 2005).

Kehidupan dalam bingkai kerukunan yang ada dalam agama Hindu jelas dalam tatanan yang berbhineka tunggal ika. Konsep yang ada, tat twam asi, vasudaidewa kutumbhakam, tri hita karana dan serangkaian konsep yang lain hanya sebatas konsep dengan deretan kata-kata indah. Semuanya harus  dijalankan dalam kehidupan. Penerapan nilai-nilai kerukunan yang ada dalam kehidupan ini harus segera dipupuk sejak dini bahwa Indonesia adalah negara Pancasila.

Cinta kasih dan kasih sayang mempunyai makna yang universal, yaitu tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Untuk menumbuhkan cinta dan kasih sayang, harus dimulai dari individu masing-masing dengan cara menaklukan nafsu, amarah, serakah, irihati, kebingungan dan kemabukan.

Oleh karena itu, marilah kita coba merenung sejenak, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku benci kepadanya, mengapa aku selalu dendam kepadanya, mengapa aku memusuhi dia, kenapa aku dengki kepadanya, mengapa aku iri kepadanya? Sambil merenung, kita harus sadar bahwa di antara kita adalah saudara (vasudaiva kutumbhakam) dan diri kita dengan seluruh makhluk hidup lain adalah sama bahwa aku adalah engkau (Tat Twam Asi). Maka, Setiap timbul dalam pikiran kita benih-benih permusuhan selalu ingat yaitu Satya (kebenaran), Santy (kedamaian), Dharma (kebijakan), Ahimsa (tanpa kekerasan).

 

Untung Suhardi, Rohaniwan Hindu, Pengajar Religious Studies Universitas Prasetya Mulya, Tangerang

Harapan yang Membawa Sukacita

Minggu, 28 Maret 2021

 

Jakarta – Setiap orang selalu mengharapkan hal yang baik terjadi dalam hidupnya. Rasanya tidak ada yang dalam keadaan stabil mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi baginya atau bagi orang yang dikasihinya.

Tahun lalu, kita mengawali tahun 2020 dengan harapan, impian, cita cita dan segala hal yang baik. Dengan semangat dan optimisme tinggi, kita berharap bahwa apa yang kita targetkan itu terwujud. Namun apa daya, mulai bulan Maret 2020 semua berubah. Impian besar mulai berganti menjadi upaya bertahan hidup. Ekonomi terguncang, suasana politik bergejolak, ketakutan melanda seluruh bangsa, bahkan dunia. Kita dituntut untuk beradaptasi, melakukan perubahan agar bisa bertahan menghadapi situasi yang diporak-porandakan makhluk tak kasat mata itu, COVID-19. Puluhan, ratusan, hingga ribuan orang harus meregang nyawa, setelah sekuat tenaga berperang melawan virus dan penyakit penyerta yang mengikutinya.

Baca Juga : Katong Samua Basudara

Pada akhir 2020, kita menemukan bahwa kita jauh dari apa yang kita bayangkan pada awal tahun. Sebagian orang terdampak buruk, sebagian lain justru mendapatkan berkah yang tak terduga. Sebagian orang menyesali apa yang terjadi, sebagian lain bersyukur karena ada banyak hal baru yang didapatkan dari situasi ini. Pada akhirnya kita menyadari bahwa pandangan manusia hanya sebatas tembok, tak mampu melampauinya.

Saudara, jika kita merenungkan secara mendalam, setiap kejadian, apa pun itu, selalu bersifat netral. Hujan di siang bolong, gelas yang terjatuh dari meja makan, ban mobil yang kempes di tengah jalan, dan rangkaian peristiwa lainnya, selalu bersifat netral. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana persepsi kita melihat kejadian tersebut. Hujan di siang hari yang sama bisa disyukuri oleh sejumlah orang, dan bisa disesali oleh orang yang lain. Semua tergantung dari bagaimana kita melihat kejadian itu. Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi di sekitar kita, itu benar-benar di luar kontrol kita. Namun, kita bisa mengendalikan persepsi yang kita pakai dan persepsi itulah yang menentukan tindakan apa yang kita ambil untuk merespons kejadian tersebut.

Pandemi dan segala peristiwa yang mengikutinya, tidak bisa kita kontrol, tetapi persepsi apa yang ingin kita pakai, benar-benar ada di kendali kita. Tentu, saya bisa sangat memahami, tidak mudah bagi kita untuk menggunakan persepsi yang terus positif ketika mengalami hal yang merugikan kita, dan pada momen seperti itulah kita membutuhkan harapan untuk membuat kita keluar dan menyongsong hari depan yang lebih cerah.

Beberapa waktu lalu, kita merayakan Natal. Natal adalah salah satu hari terpenting dalam kekristenan. Pada momen itulah kita mengingat cinta Allah yang begitu besar pada umat Nya dalam wujud Yesus Kristus yang hadir di tengah dunia. Biasanya, kita merayakan Natal dengan melihat ke masa lalu, yaitu peristiwa kelahiran Yesus. Tentu hal ini penting dan tak boleh kita lupakan. Namun, ada hal lain yang perlu kita lakukan walau sering terlupakan, yaitu merayakan Natal dengan melihat ke depan, sebuah harapan. Kelahiran Yesus di tengah dunia sesungguhnya adalah kelahiran sebuah harapan baru. Harapan yang membawa pembebasan dan sukacita bagi mereka yang mengimaninya.

Saya ingin mengajak kita untuk sejenak melihat masa lalu, tentang peristiwa pemberitaan kabar baik yang dibawa oleh malaikat, sebelum kita menatap masa depan.

Jika kita melihat kisah di Lukas pasal yang kedua, kita akan menemukan sebuah peristiwa yang hanya terdapat di dalam injil Lukas, yaitu tentang pemberitaan kelahiran Yesus yang dibawa oleh malaikat dan disampaikan kepada para gembala. Sudah menjadi hal umum di masyarakat Yahudi, bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan mengalami hari bahagia seperti kelahiran, akan menyewa seorang pembawa kabar untuk memberitakan kabar baik yang mereka alami. Terlebih jika anak sulung yang lahir itu laki-laki, berita itu akan disampaikan dengan penuh sukacita. Tak lain, karena kelahiran anak sulung laki-laki dalam sebuah keluarga diyakini sebagai perkenan Allah kepada keluarga tersebut. Keluarga itu dianggap diberkati Tuhan karena Tuhan mengizinkan mereka meneruskan generasi mereka.

Allah melakukan hal yang serupa. Kelahiran Yesus Kristus, Anak Tunggal-Nya, tak terlepas dari kabar yang disiarkan oleh pembawa berita, dalam hal ini malaikat Allah. Namun kepada siapa berita itu pertama kali disampaikan, menarik untuk kita perhatikan. Bayangkan Saudara, jika seorang raja atau penguasa memiliki anak sulung laki-laki, kepada siapa ia akan mengabarkan kabar sukacita itu? Secara logika, tentu kepada raja lain, penguasa lain, atau setidaknya kepada para pemuka agama Yahudi. Namun bukan itu yang Allah lakukan. Dia justru mengabarkan kabar sukacita itu kepada para gembala yang sedang menjaga ternak mereka di padang.

Mungkin sebagian dari kita akan berpikir, “Oh, ya, gembala itu kelompok orang sederhana. Lalu mengapa? Tak ada yang salah, bukan?” Ya, memang tidak salah, tapi ada hal lain yang lebih mendalam. Para gembala adalah kelompok yang tidak dihargai di tengah masyarakat Yahudi. Mereka miskin, karena umumnya ternak yang mereka gembalakan bukan kepunyaan mereka sendiri. Mereka hanya orang upahan. Selain miskin, mereka juga bukan kelompok orang yang terdidik, dan yang tak kalah penting, secara spiritual mereka dianggap tidak layak. Pekerjaan mereka—yang menuntut mereka untuk mengembara berminggu-minggu bahkan berbulan bulan—membuat mereka harus meninggalkan keluarga mereka. Selain itu, sulit sekali bagi mereka untuk bisa menguduskan hari Sabat. Ternak mereka menuntut perhatian mereka 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, sehingga tentu nyaris tak mungkin mereka mematuhi seluruh hukum Taurat. Kondisi ini membuat mereka merasa tidak berharga, tidak layak, dan tidak dicintai.

Pemuka agama Yahudi jelas menjauhi mereka, karena dianggap tak taat dengan hukum Taurat. Bahkan salah satu stigma negatif yang menempel dalam diri mereka adalah pencuri pembohong. Para gembala ini kerap kali mencuri dalam berbagai bentuk, salah satunya yang paling umum adalah dengan membawa ternak mereka masuk ke lahan orang lain untuk mendapatkan makanan ternak tanpa izin pemilik lahan. Meskipun tidak semua gembala melakukannya, namun stigma itu melekat kuat dalam identitas mereka. Hal ini juga membuat para gembala sulit mendapatkan kepercayaan masyarakat. Bahkan, dalam sebuah pengadilan, gembala tidak umum dijadikan sebagai saksi, mereka tidak dipercaya. Jika mereka jatuh cinta pada seorang perempuan di daerah mereka, sulit sekali mereka mendapatkan restu dari orangtua perempuan itu. Bayangkan, dengan segala stigma buruk yang melekat pada diri mereka, ayah mana yang mau menikahkan anak perempuan mereka dengan seorang gembala.

Masa depan mereka pun sulit mendapatkan perubahan, dan pada umumnya keturunan gembala akan kembali menjadi gembala. Menariknya, kepada kelompok orang seperti inilah Allah pertama-tama memberitakan kabar kelahiran Yesus. Kepada kelompok orang yang secara Yahudi dianggap tidak layak, malaikat mengatakan, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ay 10- 11). Kabar baik apa yang diterima oleh para gembala ini? Kabar baik tentang lahirnya Juru Selamat bagi mereka, dan bagi seluruh dunia.

Selama ini, hal yang membuat para gembala makin merasa tidak layak di hadapan Tuhan dan sesama adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh agama. Di sinilah salah satu letak bahayanya agama jika tidak dihidupi secara baik dan benar. Salah satu kekeliruan yang bisa dilakukan agama adalah mereduksi kekristenan menjadi sebatas ritus dan peraturan. Padahal, kekristenan bukan soal aturan, tapi soal relasi cinta kasih antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan sesama. Itu sebabnya Allah hadir di dunia bukan untuk menciptakan agama baru, bahkan terkadang dalam situasi situasi tertentu Yesus justru melanggar apa yang ditetapkan oleh agama.

Kepada orang-orang inilah kabar kehadiran Juru Selamat itu pertama kali diberitakan. Mereka yang dinilai tak layak itu, justru mendapatkan ‘Kunjungan Kerajaan’, hak istimewa, dan terlebih lagi, keselamatan. Mereka yang selama ini berpikir bahwa mereka mungkin tidak selamat karena ketidakmampuan mereka menaati hukum Taurat, kini mendapatkan kabar bahwa Juru Selamat hadir bagi mereka. Tentu ini sebuah harapan yang membawa sukacita luar biasa bagi mereka. Kini mereka bisa menjalani hidup dengan keyakinan dan pemahaman baru, bahwa bukan kemampuan seseorang menjalankan hukum Taurat secara sempurna yang membuatnya layak di hadapan Allah, tetapi karena belas kasih Allah.

Pada hakikatnya, Natal menyoal tentang harapan, tentang pembebasan, dan tentang lunturnya stigma yang mengatakan ketidaklayakan seseorang di mata agamanya. Di momen inilah saya mengajak kita merayakan Natal bukan sekadar melihat ke belakang, melainkan juga menatap masa depan. Harapan apa yang muncul dalam diri Saudara pada Natal yang baru saja kita lalui? Harapan apa yang muncul dalam keluarga Saudara? Sebagaimana yang sempat saya utarakan di atas, setiap kejadian bersifat netral. Bahkan Natal yang kita rayakan setiap tahunnya pun bersifat netral. Ia takkan bermakna jika kita tidak memaknainya. Ia takkan berarti jika kita tidak menghayati dan membuatnya memiliki arti.

Jangan lewatkan Natal begitu saja, maknailah peristiwa besar itu di tengah kehidupan keluarga Saudara. Dan kini, pada awal tahun yang baru ini, apa yang Saudara harapkan akan terjadi dalam kehidupan Saudara? Berharaplah agar hal yang baik bukan hanya terjadi pada diri kita dan keluarga kita, melainkan sisipkanlah juga harapan kepada Tuhan, agar kita bisa meneladan Kristus, yang kehadiran-Nya mampu membawa pembebasan dan harapan bagi orang-orang di sekitar kita. Tuhan mendengar dan memampukan kita. Amin. [ ]

 

Penulis : Alex C. Sardo

Sumber: gkipi.org/harapan-yang-membawa-sukacita/

Belas Kasih

Sabtu, 27 Maret 2021

 

Jakarta – “Janganlah memiliki kemarahan atau kebencian. Begitu muncul marah dan benci, praktekkanlah meditasi belas kasih untuk mengembangkan kasih sayang pada mereka yang menjadi penyebab timbulnya kebencian dan kemarahan. Belajarlah untuk memandang makhluk lain dengan belas kasih.”

“Lihatlah makhluk hidup dengan penuh belas kasih”, adalah petikan dari Sutra Teratai.

Belas kasih merupakan buah yg manis yg tumbuh dari pohon kebijaksanaan.

Jika saya lahir dan dibesarkan di lingkungan bajak laut, maka tentu saya akan menjadi seorang bajak laut pula. Beberapa sebab musabab yang saling bergantungan telah membentuk seseorang menjadi bajak laut. Ini bukanlah semata-mata hanya tanggung jawab dari si bajak laut dan keluarganya, namun juga tanggung jawab seluruh masyarakat.

Baca Juga : Kasih yang Tidak Memandang

Meditasi pandangan terang dan melihat dengan pandangan belas kasih membantu kita untuk mengenal kewajiban dan tanggung jawab kita kepada mereka yg berada dalam kesengsaraan.

Saat kita menanam pohon jeruk, maka kita berharap pohon tersebut akan tumbuh lebat dan indah.

Apabila pohon itu tidak tumbuh sesuai harapan, tentunya tak akan kita salahkan pohon tersebut. Kita harus meneliti penyebab ketidaksuburan pohon itu. Mungkin kurang baik perawatannya. Alangkah lucunya jika kita menyalahkan pohon tersebut karena tidak dapat tumbuh dengan baik.

Namun itulah yang cenderung kita lakukan pada makhluk hidup, saudara2 kita, anak2 kita, dll.

Kita seringkali beranggapan bahwa mereka adalah manusia yang selayaknya memiliki perilaku yg pantas dan bisa bertanggungjawab atas segala tindakannya.

Nyatanya manusia tidak berbeda dengan pohon jeruk itu.

Andai kita bersedia merawat mereka dengan baik, tentu mereka akan hidup layak.

Harus dicamkan bahwa menghakimi itu tidak bermanfaat, hanya cinta kasih dan kebijaksanaan yang bisa mengubah seseorang.

Perasaan terluka, kemarahan, dan kebencian muncul dari kurang pemahaman. Andaikata ada seorang anak yg berkata jorok, maka hal itu disebabkan contoh yg diberikan oleh orang2 dewasa dan anak2 lainnya yg berkata serupa.

Jika kita bisa mengerti hal ini, tentunya kita tidak akan mencela perbuatan si anak. Kita justru akan berusaha untuk memperbaiki lingkungan si anak sehingga ia tidak akan mendapat pengaruh buruk.

Ketika perasaan terluka dan kemarahan ada dalam diri kita, sebaiknya untuk sementara kita tidak melakukan perbuatan dan tindakan apapun. Hal ini akan membantu mencegah timbulnya bencana lain di seputar kita.

Sebaiknya perhatikan keluar masuknya nafas dan mulailah bermeditasi dengan obyek akibat2 buruk yg dapat timbul karena kemarahan kita.

Kadang2 kita melihat bahwa penyebab kemarahan hanyalah karena adanya kesalahpahaman saja.

“Lihatlah semua makhluk dengan pandangan belas kasih.”

Kalimat ini bisa menjadi praktek yg dilaksanakan seumur hidup.

Belajarlah untuk melihat, karena belas kasih adalah rasa pengertian itu sendiri.

 

Penulis: Thich Nhat Hanh, Biksu Buddha Zen asal Vietnam, penulis, penyair, dan aktivis HAM,  tinggal di Biara Desa Prem, Dordogne,  Prancis Selatan

Sumber: buddhayana.or.id

Menghindari Kekerasan

Jumat, 26 Maret 2021

 

Oleh Ust. Masykurudin Hafidz

 

Manusia menempati posisi yang sangat sentral dalam Islam. Manusia adalah obyek ajaran, sekaligus subyek dan pelaksana dari ajaran tersebut. Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang terhormat dan bermartabat. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna (QS. Al-Tin: 4). Allah juga memuliakan manusia sebagai keturunan Adam dengan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki (QS. Al-Isra’: 70).

Tentu saja, status manusia yang demikian mulia, terhormat dan bermartabat, merupakan rahmat Allah Swt. Dan sekiranya tidak karena karunia Allah atas kamu dan rahmat-Nya, niscaya tidak sekali-kali seorangpun dari kamu jadi bersih, tetapi Allah membersihkan siapa yang Ia kehendaki (QS. al-Nur: 21). Watak manusiawi tak memiliki nilai sejati kecuali karena kebaikan Tuhan “yang menciptakan manusia yang lemah” (QS. al-Nisa’: 28).

Keistimewaan manusia dibanding mahluk-mahluk lain sebagai ciptaan Tuhan karena kedudukannya sebagai wakil Allah di dunia (QS. al-Baqarah: 30) yang mempunyai kemampuan khusus. Dalam kondisinya yang asli dan tinggi, manusia adalah suatu tanda yang ajaib dari suatu kekuasaan dan rahmat Tuhan (QS. Fushshilat: 53).

Sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, tentu saja manusia harus diperlakukan secara mulia juga. Anjuran untuk berbuat baik terhadap sesama manusia adalah salah satu ajaran inti dari Islam. Itulah sebabnya, tidak ada satu pun alasan yang membolehkan seseorang untuk melecehkan orang lain. Islam menganjurkan berbuat baik tidak hanya kepada sesama manusia, bahkan terhadap budak sekalipun, kita diharuskan berbuat baik, sebagaimana firman Allah:

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. (An-Nisa’, 36)

Baca juga: “Aku” di dalam Aku

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? (An-Nahl, 71)

Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu). (An-Nur, 33)

Ketiga ayat ini menekankan agar budak tidak semata-mata diperlakukan sebagai “alat” bagi majikannya, tetapi juga diimbangi dengan sikap dan perlakuan yang lebih manusiawi terhadap budak.

Itulah sebabnya, kekerasan merupakan tindakan yang sama sekali tidak dibenarkan. Kekerasan dalam pengertian tindakan yang melukai orang lain, baik secara fisik maupun secara psikis.

 

Boleh untuk Pembelaan

Pada prinsipnya, tindakan melukai orang lain, baik fisik maupun psikis, apalagi tindakan yang dapat mengancam keselamatan jiwa, tidak dibenarkan dalam Islam. Namun, ada sejumlah ayat dan hadits yang seringkali digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, seperti:

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’.” (QS Al-Hajj [22]: 39–40)

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyukai batas.” (QS Al-Baqarah [2]: 190)

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu.” (QS At-Taubah [9]: 13)

“Aku (Muhammad) diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan lafadz la ilaha illa Allah” (HR. Imam Bukhori, Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’I, Ibn Majah, Daramy, Abu Dawud, dan Imam Ahmad).

Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan dengan tangan, jika tidak bisa maka gunakanlisan; jika tidak bisa, gunakan dengan hati. Sesungguhnya (menggunakan hati) itu termasuk selemah-lemahnya iman. (HR Bukhari)

Sejumlah ayat dan hadits di atas memang memberi legitimasi bagi penggunaan kekerasan. Namun, nash di atas harus dipahami dalam konteks yang tepat, baik konteks kesejarahan maupun konteks dengan ayat dan hadits yang lain. Dalam kenyataannya, ayat dan hadits di atas tidak dalam konteks menyerang (ofensif), tetapi lebih dalam konteks mempertahankan diri (defensive). Kita dibolehkan menyerang hanya dalam keadaan kita diserang.

Namun, sebagian kelompok muslim mengartikulasikan ayat-ayat di atas secara ofensif. Makna jihad, misalnya, bagi mereka tidak lain adalah perang suci. Dan memenuhi panggilan jihad, menurut mereka, adalah kewajiban setiap muslim.

Inilah yang menyebabkan citra Islam seolah-olah tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Bahkan sebagian pengamat Barat mengidentikkan Islam dengan terorisme. Pendapat ini, meskipun keliru, didasarkan pada tindakan sejumlah kaum muslim yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan, seperti terjadi dalam kasus bom Bali, Bom di Kedubes Australia dan sejumlah kasus lainnya.

Maraknya kekerasan atas nama agama menunjukkan betapa beragamnya pandangan dan eksresi keberagamaan umat Islam. Ekspresi keberagamaan seperti ini mewakili pandangan yang menganggap manusia hanya sebagai obyek dari kehendak Tuhan. Manusia dianggap tidak memiliki hak. Atas dasar inilah mereka menolak konsep hak asasi manusia (HAM). Hak sepenuhnya milik Allah. Sedangkan manusia hanya menjalani apa yang sudah disyariatkan oleh Allah.

Perspektif seperti ini perlu dikritisi bukan hanya karena mudah terjebak dalam kategori hitam putih sesuai dengan apa yang dinyatakan Al-Qur’an dan Hadits, terutama dalam memandang kelompok lain, tetapi karena doktrin Islam sendiri terlalu kompeks untuk direduksi hanya sebagai kitab undang-undang yang sudah final tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mendalami konteks kesejarahan serta makna tersirat yang terdapat di balik teks suci tersebut.

Baik Qur’an maupun Sunnah tidak cukup dipahami secara harfiah seperti yang tersurat dalam bunyi teksnya. Disamping konteks kesejarahannya perlu ditelusuri, makna di balik teks juga perlu disingkap untuk memperoleh pesan yang paling substansial dari teks suci tersebut. Usaha seperti ini perlu dilakukan agar pemahaman terhadap teks suci tersebut lebih dekat dengan apa yang dalam ushl fiqh disebut maqashid al-syariah (tujuan penetapan syariat).

Secara umum, maqashid al-syariah telah terangkum Surat al-Anbiya’, 107: Dan tidaklah Kami utus engkau Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam datang  untuk menjawab berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, untuk menyelamatkan manusia dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar; dari jalan gelap menuju jalan terang; dari kemungkaran, kedzaliman dan ketertindasan menuju kearifan, kedamaian dan keadilan.

 

Kewenangan Negara

Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan merupakan salah satu problem serius yang dihadapi bangsa ini. Kita layak prihatin bukan semata-mata karena gejala kekerasan menunjukkan grafik yang kian naik dengan tingkat eskalasi yang terus meluas, tetapi juga karena negara sebagai satu-satunya lembaga yang diberi otoritas menggunakan kerasan untuk mewujudkan tertib sosial, justru justru seolah-olah tidak berdaya menghadapi masalah itu. Kegagalan negara mengatasi masalah kekerasan membuat bangsa ini seperti kembali ke zaman primitif di mana penyelesaian masalah selalu menggunakan cara-cara kekerasan.

Kekerasan yang terjadi belakangan ini lebih dari sekadar patologi individu seperti terlihat pada berbagai kasus kriminalitas. Kekerasan juga mencerminkan patologi sosial, di mana masyarakat cenderung main hakim sendiri menghadapi kasus-kasus kriminal seperti pencurian, penjamberetan, pencopetan. Ada semacam dendam sosial terhadap kejahatan yang kian berani dan terang-terangan dengan menghukum pelakunya dengan cara yang lebih sadis.

Lebih dari itu, seringkali kekerasan dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Tindakan main hakim sendiri terhadap tempat-tempat yang dianggap sebagai sarang maksiat dengan mengobrak-abrik secara bringas justru membuat citra Islam semakin tercoreng.

Sebagaimana kisah agama-agama samawi lainnya, Islam hadir pada saat masyarakat betul-betul membutuhkan semacam “juru selamat” dari keterpurukan moral, sosial, ekonomi maupun politik. Melalui Nabi sebagai pembawa risalah Tuhan, agama hadir untuk melawan berbagai bentuk penindasan dan kedzaliman guna mewujudkan tatanan baru yang lebih berkeadilan, berkemanusiaan dan berkeadaban.

Sebagaimana ditunjukkan dalam masa-masa awal Islam, Nabi Muhammad ditentang keras oleh kaum Quraisy Mekkah, bukan semata-mata karena Nabi membawa agama baru yang sama sekali berbeda dengan kepercayaan sebelumnya, tetapi terutama karena ajaran yang dibawa Nabi dapat mengancam kepentingan kaum elite Quraisy yang begitu dominan menguasai berbagai sumber daya, baik ekonomi, sosial maupun politik. Dan, sebagaimana kita lihat dalam sejarah, keberhasilan Nabi membangun tatanan ekonomi, sosial dan politik yang berkeadilan, berkemanusiaan dan berkeadaban lebih mengutamakan jalan damai melalui musyawarah ketimbang jalan kekerasan melalui perang.***

 

Ust. Masykurudin Hafidz, direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.

“Aku” di dalam Aku

Kamis, 25 Maret 2021

 

Oleh: Yusuf Daud

 

Jika kita bertanya di mana Allah maka Alquran yang hidup akan menjawab, “Allah bersemayam di atas Arsy yang Agung“. Jadi Allah itu jauh dong. Alquran pun menjawab Aku lebih dekat kepadamu dari pada urat lehermu (Q.Surat Qaf : 16 ).

Jadi Allah itu selalu bersama kita karena lebih dekat daripada urat leher kita artinya Allah ada di dalam diri kita.

Dengan demikian siapa Aku ini ? Alquran pun akan menjawab, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah”  (Q. Thaha : 14). Di sini kita diberi jawaban bahwa ada aku dan ada Aku .Aku dengan huruf  “a” kecil adalah aku manusia sedangkan aku dengan huruf A besar adalah Allah. Artinya ada Aku di dalam aku.

Baca juga : Hindu dan Pentingnya Merawat Kebhinekaan

Lantas jika aku ingin bertemu dengan Aku bagaimana caranya Alquran pun

Menjawab,

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (perbuatan yang membawa diri ini bertransformasi dari materi menuju energi menuju cahaya – dari kegelapan menuju Cahaya Nya), dan jangan ia mempersekutukan seseorang pun di dalam beribadah kepada Tuhan nya,” (QS 18 : 110). Itu lah caranya.

Semua yang disebutkan itu bukan untuk didiskusikan atau dibicarakan tetapi harus dialami. Apa yang dialami disebut pengalaman dan pengalaman tidak bisa dikatakan kepada siapapun apalagi pengalaman rohani atau pengalaman spiritual itu hanya dapat diketahui oleh orang yang sudah mampu melakukan perjalanan ruhani (dari alam melebur ke ‘Alim).

 

IQRA KITABAK ! dengan mata terbuka. March 24 21

 

Ustad Romo Yusuf DaudPh.D., Pendiri dan pengajar di Lembaga Sofia Citra Institute

Menjadi Seorang Hamba

Kamis, 25 Maret 2021

 

HARI ini adalah Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita dari Malaikat Gabriel. Suatu peristiwa besar dalam rangkaian rencana keselamatan Allah. Maria disapa oleh Gabriel sebagai wanita yang mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan.

Bunda Maria mungkin tidak dibekali dengan latar belakang pendidikan formal yang ternama dan bukan berasal dari  keluarga yang berkelimpahan, namun Maria mempunyai kepribadian yang dibutuhkan Allah.

Ia adalah seorang wanita yang rendah hati dan kuat dalam iman. Hal itu dinyatakannya kala menjawab sapaan dari Gabriel:

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Baca juga: Gelar Turun Temurun Keturunan Nabi Kong Zi

Maria sungguh menyadari siapa dirinya di hadapan Sang Mahakuasa. Maria menyebut dirinya hamba, sebagai seorang yang bersedia untuk taat dan setia untuk melaksanakan apa yang dikehendaki tuannya.

Apakah kita berani menempatkan diri sebagai seorang hamba di hadapan Allah? Menjadi seorang hamba berarti kita taat mendengarkan dan setia melaksanakan apa yang menjadi panggilan dan tanggung jawab kita; sebuah pilihan untuk setia pada perintah tuannya karena hamba sangat mempercayai tuannya.

Seorang hamba percaya bahwa tuannya adalah yang memberinya kehidupan, yang memberinya berkat, yang memeliharanya dalam damai sejahtera. Tuan kita adalah Allah sendiri.

Sudahkah kita menjadi hamba-Nya?

Ya Bapa, semoga kami mampu menjadi seorang hamba yang seperti diteladankan oleh Bunda Maria. Amin.

 

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2020, Penerbit OBOR dipublikasikan di website www.mirifica.net

Gelar Turun Temurun Keturunan Nabi Kong Zi

Rabu, 24 Maret 2021

Oleh Xs. Buanadjaja B.S

 

Pada masa dinasti Song (960 – 1279 M) kaisar Song Ren Zong memberi gelar khusus kepada keturunan keluarga Nabi Kong Zi sebagai Pangeran Yan Sheng. Gelar ini boleh diturun-temurunkan agar keluarga Kong terus berjaya. Karena kedudukan yang istimewa, keturunan Nabi Besar Kong Zi mendapat hak-hak khusus untuk diizinkan masuk di lingkungan istana. Mereka mendapat gelar turun temurun sebagai Yan Sheng Gong.

Selama pemerintahan dinasti Ming (1368 – 1644) dan Qing (1644 – 1911), Pangeran Yan Sheng mendapat kehormatan untuk berjalan di sebelah kaisar di istana. Ia juga diizinkan berkuda di lingkungan ‘Tembok Kota Terlarang Ungu’, selain mendampingi kaisar dalam inspeksi ke lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan bagian dari pendidikan rohani, moral kebajikan.

Nabi Besar Kong Zi adalah orang pertama yang menerima kelebihan spiritual, mengembangkan wahyu yang diturunkan kepada para Nabi sebelumnya, seperti Yao, Shun, Yu, Cheng Tang (nenek moyang Nabi Besar Kong Zi dari pihak ayahanda Kong Shu Liang He), Wen Wang dan adik keempat pendiri dinasti Zhou, Wu Wang yakni pangeran Zhou Gong (nenek moyang Nabi Besar Kong Zi dari pihak ibunda Yan Zheng Zai).

Sejak puteranya yang kelak dikenal sebagai Da Cheng Zhi Sheng Kong Zi masih dalam kandungan, ibunda Yan Zheng Zai telah menerima petunjuk tentang wahyu Yu Shu yang Tian turunkan kepada Nabi Besar Kong Zi. Hal itu digambarkan dengan kedatangan hewan mulia Qi Lin dengan melontarkan keluar dari mulutnya batu kumala yang bertuliskan perihal Yu Shu dan Kan Sheng, kelebihan spiritual yang hanya dikaruniakan kepada Nabi Besar Kong Zi.

Jika para Nabi sebelumnya di dalam Ru Jiao pada umumnya seorang Raja Suci (Sheng Wang) dan keturunan istana, maka Nabi Kong Zi saat dilahirkan bukan lagi lekat dengan istana. Beliau dilahirkan sebagai bagian dari rakyat kebanyakan negeri Lu. Nabi Besar Kong Zi, bernama Kong Qiu alias Zhong Ni adalah putera perwira Kong Shu Liang He dan ibunda Yan Zheng Zai, yang bukan lagi seorang bangsawan istana.

Justru kelebihan spiritual yang dikaruniakan Tian kepada Nabi Besar Kong Zi, beliau difirmankan sebagai Genta Rohani Tuhan YME (Tian Zhi Mu Duo), juru penerang dan penyedar rohani insan beriman Ru Jiao. Di zaman yang sudah berubah itu, Nabi Besar Kong Zi memiliki 3000 orang murid. Beberapa murid adalah para pangeran Negeri Lu, namun kebanyakan murid beliau adalah dari kalangan rakyat jelata.

Baca juga: Hindu dan Pentingnya Merawat Kebhinekaan

Nabi Besar Kong Zi pernah menduduki jabatan perdana menteri dan menteri hukum di Negeri Lu, tetapi lebih banyak yang mengenal beliau adalah seorang suci dan mulia yang berprofesi sebagai Guru Besar (Fu Zi). Acapkali kita dengar beliau dipanggil dengan sebutan Guru Besar Kong atau Kong Fu Zi.

Kelebihan spiritual sebagai Guru Besar inilah yang menyebabkan beliau dihormati oleh seluruh umat Tuhan (Tian Min) di zaman Chun Qiu (bagian dari masa kekuasaan dinasti Zhou). Dari raja sampai rakyat jelata, utamanya kaum cendekiawan menghormati beliau.

Ini pula sebabnya semua raja di berbagai dinasti kemudian memberikan gelar anumerta khusus. Bahkan, dua tahun sesudah kemangkatan Nabi Besar Kong Zi, Raja Lu Ai Gong membangun sebuah Kelenteng Besar untuk menghormati Nabi Besar Kong Zi, yang disebut Kong Miao.

Di antara Kong Miao yang dibangun para raja dinasti berikutnya ada yang memakai nama Kong Zi Miao, adapula yang dinamakan Wen Miao (seperti yang dibangun di kota Surabaya, Jawa Timur – Indonesia). Keturunan beliau, dari generasi ke generasi, seperti disebutkan terdahulu, juga mendapatkan kedudukan terhormat sebagai Pangeran Yan Sheng dari kerajaan.

Bahkan, pernah seorang putri kaisar menikah dengan seorang Pangeran Yan Sheng. Kedudukan terhormat bagi seluruh keturunan Nabi Besar Kong Zi ini menunjukkan betapa pentingnya Ru Jiao atau agama Khonghucu dalam kehidupan masyarakat pemeluknya, maupun bagi sistem moral kepemimpinan negara semenjak berabad-abad yang lalu.

Pada abad-abad berikutnya, Ru Jiao memberi pengaruh terhadap perkembangan peradaban dan kebudayaan serta way of life bangsa-bangsa di berbagai wilayah, utamanya di kawasan Asia Timur. Agama Khonghucu di kawasan Asia Timur terutama di Korea dan Jepang, serta Indo China, terutama Vietnam maupun Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, memiliki pemeluk, tokoh agamawan, dan cendekiawan Kong Jiao yang ikut berperan serta di dalam kebersamaan lintas tokoh agama besar dunia.

Keturunan nabi Kong Zi ke 77 Kong De Mao menulis dalam sebuah hikayat keluarga Kong:

”Ayah saya, Kong Ling Yi diangkat sebagai Pangeran Yan Sheng ke-76, sejak usia lima tahun dan meninggal tahun 1919. Adik saya satu-satunya laki-laki adalah Kong De Cheng lahir setelah ayah meninggal.

Kong De Cheng diangkat sejak lahirnya sebagai Pangeran Yang Sheng ke-77 Konon, ia mirip betul dengan ayah. Kami berdua masih mempunyai seorang kakak perempuan, Kong De Qi.

Kong De Cheng (sampai akhir hayat sebagai professor di beberapa perguruan tinggi di berbagai negara) dilahirkan tanggal 4 bulan pertama Yin Li atau 23 Februari 1920. Kata orang, Kong De Cheng memiliki ‘kelebihan’ yang tak dimiliki orang biasa. Suatu ketika seekor ular bergelung di atas pintu, orang tak berdaya mengusirnya pergi, tetapi begitu De Cheng datang, ular itu langsung merayap pergi.

Kami tinggal dalam kompleks istana yang didirikan secara bertahap sejak tahun 1038. Di tempat seluas ± 15 ha itu terdapat berpuluh-puluh bangunan selain taman, kolam, dan sebagainya. Jumlah ruangannya lebih dari 460 buah. Kediaman kami itu pernah didatangi oleh berbagai dinasti.

Di zaman Republik, Generalissimo Chiang Kai Shek pun pernah berkunjung; kira-kira 2 km ke sebelah utara ada tanah pemakaman keluarga kami yang disebut: ‘Kong Lin’ artinya Hutan Kong Fu Zi. Luasnya ± 23 ha dan dikelilingi oleh 7,5 km tembok, sehingga menjadi taman yang paling besar di Cina. Disanalah Nabi Agung Kong Zi dimakamkan”.

Kisah sejati di atas dipetik dari wawancara langsung cucu keturunan Nabi Besar Kong Zi, Kong De Mao. Kisah ini tidak banyak terungkap sebelumnya, betapa untuk ribuan tahun kebesaran kebajikan Nabi Besar Kong Zi di bawa dari generasi ke generasi di kalangan keturunan beliau.

 

 Xs. Buanadjaja B.S., Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

 

Sumber: kemenag.go.id

Hindu dan Pentingnya Merawat Kebhinekaan

Selasa, 23 Maret 2021

 

Oleh: Pitri Widyowati

 

Om swastyastu. Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai pulau Rote. Dari berbagai suku bangsa, yang memeluk agama yang berbeda, dengan budaya yang berbeda menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multiculture , berbagai macam suku bangsa agama dan budaya. Ini semua merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Masyarakat Indonesia sangat majemuk  dengan keanekaragaman agama, budaya, dan bahasa. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa berpotensi menjadi sumber konflik. Karenanya perlu dasar yang bisa mengikat semua anggota kelompok sosial yang berbeda-beda. Dasar negara Pancasila  adalah pilihan yang tepat dari para pendiri bangsa untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan lambang Burung Garuda dan Bhineka Tunggal Ika

Merawat Kebhinekaan

Pluralitas dan heterogenitas yang tercermin pada masyarakat diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan Bhinneka Tunggal Ika . Semboyan ini bersumber dari Kakawin Suta Soma yang ditulis oleh  Mpu Tantular: Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua)

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, merawat kebhinekaan menjadi sebuah kewajiban bagi umat Hindu. Ini ditegaskan dalam Sloka Bagavad Gita Bab IV Sloka 11: Bagaimanapun (jalan) manusia mendekatiku , aku terima wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.

Sloka dari Bagavad Gita tersebut memberikan ajaran yang sangat jelas bahwa  Tuhan tidak diskriminasi, hanya memihak satu bangsa dan agama, melainkan mengajarkan adanya perbedaan jalan menuju kepada-Nya.

Ajaran Hindu juga mengenal filosofi Wasudhaiwa Kutumbhakam. Artinya, kita semua bersaudara. Dengan dasar inilah, perbedaan budaya dan agama tidak membuat umat Hindu menjadi terkotak-kotak dan saling curiga. Kita  tetap sebagai saudara.

Baca juga: Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di masa Pandemi

Ajaran lainnya adalah Tat Twam Asi, engkau adalah aku, aku adalah engkau. Sebagai sesama makhluk Tuhan yang sama-sama memiliki atman yang bersumber dari Brahman (Brahman Atman Akyam), rumusan ini membimbing kita mengasihi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri . Inilah jalan utama menuju masyarakat santih, kehidupan damai dan harmonis. Kita merasakan perasaan yang sama bila saudara kita tersakiti. Sehingga, kita tetap saling menjaga, melindungi, memahami satu sama lain. Jika demikian, niscaya kedamaian kita dapatkan.

Tat Twam Asi berarti selalu mengutamakan cinta kasih, bhakti, rela berkorban tanpa pamrih untuk menjaga  keharmonisan dalam kebhinekaan

Di masa Pandemi Covid -19, penyebaran virusnya tidak memilih siapa dan apa suku agamanya. Semua tersasar oleh virus ini. Dengan demikian, marilah kita saling menjaga, bahu-membahu, saling menolong tidak menyebarkan berita hoak yang dapat menciptakan suasana kegaduhan. Mari kita merawat kebhinekaan dengan terus memupuk rasa persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan filosofi Vasudhaiwa Kutumbakam, bahwa kita adalah bersaudara. Bhineka Tunggal Ika, bahwa berbeda-beda tetap satu juga. Loka samasta sukhina bhawantu, biarlah seluruh dunia Bahagia.

 

OM Santih Santih Santih Om

Pitri Widyowati, Rohaniwan Hindu

 

Sumber: kemenag.go.id

Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di masa Pandemi

Sabtu, 20 Maret 2021

 

Jakarta –Umat Kristen di seluruh Indonesia yang dikasihi Tuhan Yesus. Tema khotbah Mimbar Kristen hari ini adalah Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di Masa Pandemi Covid-19. Tema ini didasarkan pada pembacaan Alkitab dari Yohanes 15:1-8;

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Demikianlah pembacaan Alkitab, Tuhan Yesus berkata: “Yang Berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya.” (Lukas 11:28)

Umat Kristen di seluruh Indonesia. Kita semua mengalami dampak Covid-19 dan banyak dari kita yang sudah mendengar bahwa dalam menghadapi Covid-19 kita perlu melakukan 3 wajib yaitu wajib iman, wajib aman, dan wajib imun. Wajib aman kita harus memakai masker secara benar, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, selalu menjaga jarak, membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan atau tidak menyebabkan kerumunan.

Baca Juga : Hindu dan Toleransi Kehidupan Beragama

Wajib imun, kita wajib berolah raga secara teratur, makan makanan bergizi, tidur cukup supaya kita kuat. Lalu bagaimana dengan wajib iman? Wajib iman artinya kita harus kuat di dalam Tuhan sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 6:10, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

Karena itu kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa kuat hubungan kita dengan Tuhan Yesus Kristus? Apakah dalam pergumulan kita menghadapi Covid-19 ini kita memiliki keyakinan atau iman yang kokoh di dalam Yesus Kristus Tuhan kita?

Injil Yohanes 15:1-8 yang sudah kita baca tentu tidaklah asing bagi kita umat Kristiani. Kita sudah sering membaca dan mendengarkan khotbah dari Firman Tuhan ini. Namun pada kesempatan ini, kita kembali membaca, kita kembali memperhatikan dan merenungkan Firman Tuhan ini.

Injil Yohanes 15:1-8 ini menggambarkan hubungan Tuhan Yesus dengan para muridnya, Tuhan Yesus sebagai Pokok Anggur dan para muridnya adalah ranting-rantingnya. Sebagai Pokok Anggur, Yesus adalah sumber kekuatan bagi para murid yang adalah ranting-ranting.

Demikian juga kita sebagai pengikut Kristus. Kekuatan kita dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan di dalam hidup ini, terutama dampak dari Covid-19 ini, kekuatan kita hanya datang dari Yesus Kristus. Ranting-ranting hanya mendapat kekuatan untuk hidup dari pokok anggur. Demikian juga kita, kita hanya mendapat kekuatan dari Yesus Kristus Tuhan kita.

Ayat 1-5 dari bacaan ini menekankan bahwa Yesuslah sumber kekuatan kita. Sebagaimana ranting tidak mungkin berbuah jika tidak melekat dan tertanam pada pokok anggur, demikian juga kita tidak dapat berbuah jikalau tidak kokoh tinggal tetap di dalam Yesus Kristus atau bersekutu erat dengan dia sumber kehidupan dan kekuatan.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk tinggal tetap di dalam Dia, sumber kekuatan kita supaya kita berbuah banyak. Istilah berbuah banyak disebutkan di ayat 5 dan ayat 8. Di ayat 8 disebutkan “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Artinya Bapa menghendaki kita para pengikut Kristus supaya berbuah banyak. Di ayat-ayat selanjutnya, ayat 9-17 disebutkan mengenai buah-buah rohani yang dimaksudkan yakni sukacita dalam kasih Kristus dan saling mengasihi sesuai perintah Tuhan.

Umat Kristen di manapun berada. Di masa Pandemi Covid-19 ini, kita sangat memerlukan sukacita di dalam kasih Kristus. Di ayat 11, Tuhan Yesus mengatakan “Semuanya itu Ku-katakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Tuhan Yesus adalah sumber dari sukacita yang kita perlukan di masa pandemi ini karena Dialah sumber kekuatan kita.

Selanjutnya kita membaca mengenai buah kasih, saling mengasihi. Mulai ayat 9 sampai dengan ayat ke 17 disebutkan mengenai saling mengasihi. Saling mengasihi sebagai wujud ketaatan kita kepada perintah Yesus Kristus. Di ayat 17, Tuhan Yesus berkata, “Inilah perintahku kepadaMu, kasihilah seorang akan yang lain, betapa kita memerlukan atau membutuhkan buah kasih, saling mengasihi di masa pandemi Covid-19 ini.”

Pemirsa Mimbar Kristen. Wajib aman (pakai masker secara tepat, menjaga jarak, mencuci tangan, membatasi mobilisasi, menjauhi kerumunan), semua itu dengan mudah dapat dijalankan, jika kita meningkatkan wajib iman. Karena iman kita kepada Tuhan Yesus yang berwujud, yang nyata di dalam hubungan erat dengan Dia akan membuahkan sukacita di dalam kasih Tuhan dan kasih kepada sesama berdasarkan ketaatan kepada perintahNya.

Mungkin kita bertanya bagaimana supaya bisa berbuah banyak? Bagaimana supaya kita tetap memiliki sukacita dan tetap saling mengasihi secara terus menerus?

Ayat 7 bacaan kita memberi jawabannya. Di ayat 7, Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.” Perkatan Tuhan Yesus ini menekankan bahwa jika kita tetap tinggal di dalam Yesus Kristus, bersekutu  erat dengan Dia sebagai sumber kekuatan kita dan jika Firman-Nya tetap tinggal di dalam kita, maka kita akan selalu berdoa sesuai kehendak Bapa, yaitu berdoa supaya berbuah banyak untuk memuliakan Bapa.

Perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 15:7 ini mendorong kita untuk selalu bersekutu dengan Dia yang adalah sumber kekuatan kita. Misalnya, ibadah minggu, meskipun secara online, harus kita ikuti dengan sungguh-sungguh. Kita harus semakin tekun berdoa dan semakin erat bersekutu dengan Dia. Perkataan Tuhan Yesus ini juga mendorong kita untuk selalu membaca Firman Tuhan, membaca Alkitab secara teratur setiap hari. Tidak hanya membaca, kita juga mentaati perintah-perintahNya.

Umat Kristen yang Tuhan Yesus kasih. Marilah, kita melakukan 3 wajib yang dimulai dengan wajib iman supaya kita didorong untuk melakukan wajib aman dan wajib imun. Marilah kita mengevaluasi diri kita, sekuat apakah, sedalam apakah iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus, sumber kekuatan dalam kesulitan dan penderitaan termasuk dalam menghadapi dampak dari Covid-19.

Yesus Kristus adalah Imanuel (Matius 1:23), Dia adalah Allah yang menyertai kita, dalam kehidupan kita menghadapi kesulitan, tantangan, menghadapi Covid-19 ini dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, karena Dia menyertai kita selama-lamanya (Matius 28:20).

Marilah kita terus beriman hanya kepada-Nya, selalu bersekutu dengan Dia, dengan erat bersandar dan menyerahkan diri kita hanya kepada-Nya. Yesus Kristus sumber kekuatan kita hari ini sampai  selama-lamanya.. Amin

 

Penulis: Pdt. Dr. Jesias Frits Palandi, Ketua Umum Sinode Gereja Misi Injili Indonesia atau GMII

Sumber: kemenag.go.id | dimuat di laman Kementerian Agama RI, 21 Februari 2021

Cinta Kasih dalam Ajaran Khonghucu

Kamis, 18 Maret 2021

 

Ibnu Zaenal Arifin

 

Ajaran Khonghucu bersumber dari ajaran para nabi purba di Tiongkok yang dirumuskan dan disempurnakan oleh Nabi Khongcu (551- 479 SM). Artinya, sebelum Nabi Khongcu lahir bahan ajaran “agama Khonghucu” itu sudah ada. Saat itu disebut Ru Jiao. Nabi Khongcu menyebut dirinya sebagai pengikut agama Ru Jiao itu. Sebutan agama Khonghucu untuk agama Ru Jiao itu hanya di Indonesia karena para pegawai pemerintah kolonial Belanda tidak tahu sebutan Ru Jiao, mereka hanya tahu nama Nabi Khongcu atau Khonghucu. Namun, sebutan agama Khonghucu sudah sangat dikenal di Indonesia, maka seterusnya tetap menjadi sebutan resmi di Indonesia. Dalam bahasa Tionghoa agama Khonghucu tetap disebut dengan Ru Jiao. (Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd, 2013)

Ru, dalam bahasa Tionghoa artinya orang terpelajar yang bersikap lemah lembut. Orang yang telah mempelajari ajaran Ru seyogyanya selalu menjaga penampilan dan perilaku sebagai orang terpelajar yang bersikap santun. Pada masa Nabi Khongcu, ajaran Ru hanya  dianut oleh para cendekiawan dan pejabat Negara. Oleh karena itu agama Ru mempunyai arti konotatif sebagai agamanya orang terpelajar dan lemah lembut. Kata Ru itu sendiri dilihat dari hurufnya 儒 bisa diartikan sesuatu yang diperlukan manusia. Artinya ajaran agama Ru itu diperlukan manusia sebagai pedoman hidup yang benar.

Kitab-kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan  beragama umat Khonghucu adalah “Su-Si” (Kitab yang Empat atau Empat Kitab) dan “Wu Cing” (Ngo King atau kitab lima). Kitab-kitab suci itu antara lain kitab Su Si yang aslinya berbahasa Mandarin (bahasa nasional Tiongkok). Kitab ini diterjemahkan oleh Matakin ke dalam bahasa Indonesia. Kitab ini dicetak dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 1996. Kitab ini ditetapkan sebagai kitab agama Khonghucu di Indonesia pada  bulan Agustus 1967, yaitu saat konggres agama Khonghucu ke 6 diselenggarakan. Dalam konggres tersebut, tidak hanya menetapkan Su Si (empat kitab) dan Ngo King (lima kitab) sebagai kitab agama Khonghucu, namun konggres juga menetapkan sifat upacara agama Khonghucu. (Lihat, http://www.psychologymania.com/2013/07/ajaran-agama-konghucu.html)

Pada zaman Nabi Khongcu, di Tiongkok sedang berada dalam situasi kacau, negara terpecah belah menjadi puluhan kerajaan kecil yang saling berperang berebut wilayah. Nabi Khongcu melihat keadaan seperti itu ingin memperbaikinya. Selama empat belas tahun ia berupaya untuk itu. Tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia kembali ke negeri Lu tanah kelahirannya dan membuka sekolah gratis dengan menerima tiga ribu orang murid. Salah seorang muridnya bernama Xun Zi (326-233 SM). Sang murid inilah yang  berhasil merumuskan ajaran atau teori untuk menyatukan Tiongkok kembali. Tahun 221 SM Qin Shi Huang Di berhasil menyatukan Tiongkok dengan bantuan Li Shi seorang murid Xun Zi.

Xun Zi merumuskan ajaran Nabi Khongcu dalam bentuk ajaran yang praktis untuk membina masyarakat agar hidup rukun, damai, dan sejahtera. Ajaran Xun Zi ini besifat realistis positif. Semua orang dalam suatu negara dihimpun dalam organisasi yang tertib dan program kerjanya jelas. Jika  ada orang yang tidak terhimpun dalam organisasi  mungkin menjadi sengsara hidupnya, mungkin juga akan menjadi pengacau. Organisasi yang dimaksud anggotanya meliputi penduduk di daerah terpencil, setiap 50 orang satu unit dengan pengurus atau pimpinan orang pandai.

Baca juga: Hati yang Terjaga

Menurut Xun Zi, demikian Oesman Arief menjelaskan, masyarakat tidak rukun karena tidak ada cinta kasih dan rasa keadilan dalam masyarakat. Dengan menumbuhkan cinta kasih dan rasa keadilan dibangun nilai kesusilaan yang dijadikan tatanan moral masyarakat.

“Tatanan moral yang wajib ditaati seluruh masyarakat  perlu dimasukkan dalam hukum formal. Orang yang melanggar hukum formal harus dijatuhi hukuman berat agar yang lain tidak berani ikut melanggar. Suatu organisasi, terutama negara, tidak boleh lemah menghadapi orang yang menyimpang dari tatanan moral dan hukum. Kalau pimpinan organisasi tegas dan konsisten orang baik terlindung, dan orang jahat takut berbuat kejahatan”. (Oesman Arif, Ibid)

Dalam ajaran Khonghucu, selain menjunjung tinggi cinta kasih, agama ini juga menentang keras tindak kekerasan, baik yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya, maupun kekerasan yang dilakukan oleh sesama rakyat atau warga negara. Perbuatan kekerasan itu bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai jabatan tinggi, juga bisa dilakukan orang biasa. Bisa dilakukan oleh remaja, bisa pula dilakukan oleh siapa saja yang tidak dapat mengendalikan dirinya. Karena itu setiap orang perlu dilatih untuk mengendalikan dirinya agar tidak berbuat sesuatu yang tidak pantas, termasuk melakukan perbuatan kekerasan.

Melatih orang mengendalikan diri itu, dalam Ru Jiau, harus dimulai dari kanak-kanak. Anak kecil mudah sekali melakukan tindak kekerasan kepada siapa saja yang menjadi sasaran kemarahannya. Jika anak kecil tidak diarahkan melalui pendidikan yang benar, setelah besar pasti akan berbuat kekerasan untuk melampiaskan amarahnya.  Pendidikan dalam agama Khonghucu diutamakan membantu siswa membina diri, menguasai emosi dan nafsunya dan meningkatkan kecerdasannya. Para remaja dilatih seni beladiri Kungfu dan kesenian Barongsay tujuannya untuk menyalurkan energy yang berlebihan. Dengan berkesinan dan beladiri itulah energi remaja tersalurkan dalam aktivitas positif yang bermanfaat baik bagi diri mereka.

Bagi mereka yang mendapatkan kepercayaan untuk memangku jabatan atau kekuasaan, wajib untuk memelihara dan menjaga kepercayaan tersebut dengan kejujuranb (Da Xue X: 14). Kejujuran itu tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia dalam mengemban kewajibannya, melainkan pula dipertanggungjawabkan kepada Thian (Tuhan). Sebaliknya, jika dengan jabatannya seseorang memperkaua diri sendiri dan berdampak pada kesenghsaraan masyarakat, perbuatan itu bukan saja tidak bermoral tetapi juga merupakan pembangkangan terhadap Sang Khalik. Dan setiap tindakan tak terpuji akan selalu berakibat buruk pula (Shu Jing IV, V, 8).

Oleh karena itu seorang penganut Ru Jiao yang diselimuti Cinta Kasih akan menggunakan hartanya untuk membina diri, dan bukan sebaliknya menumpuk harta seraya mengabaikan sesamanya yang berkekurangan. Seorang pemangku jabatan yang berperi-Cinta Kasih, akan menginspirasi bawahannya untuk selalu berjalan pada jalan Kebanaran (Da Xue X: 20-21). (Xs. Tjandra R. Muljadi, 2006: 79)

Cinta Kasih itu sendiri merupakan dasar dari agama Khonghucu. Jin (cinta kasih) sangat erat kaitannya dengan Lee (kesusilaan), dimana cinta kasih berarti menempatkan diri dalam batas-batas kesulilaan dan hanya yang bersangkutan sendirilah yang dapat mengembangkannya. Kesusilaan mempunyai makna yang sangat luas dan dapat disimpulkan sebagai sopan santun hidup, meliputi seluruh aspek tata-pergaulan hidup manusia.

Selain cinta kasih, Ru Jiao juga memiliki ajaran sipiritual yang disebut Tiong (setia) dan Si (tenggang menenggang). Tiong adalah melaksanakan tugas sepenuh hati dan sepenuh tenaga. Si tidak melakukan perbuatan terhadap orang lain yang dirinya sendiri tidak mau diperlakukan dengan perbuatan semacam itu.

Ajaran Cinta Kasih Ru Jiao akan menjadi sempurna ketika ditopang oleh ajaran Delapan Kebijakan, yang meliputi Hauw (tindak laku baik), Tee (rendah hati), Tiong (setia), Sin (dapat dipercaya), Lee (kesusilaan), Gi (keadilan, kebenaran), Lhian (suci hati), dan Thi (tahu malu). [ ]

 

 

Ibnu Zaenal Arifin, peminat studi agama-agama