[:id]”Curhat” Guru Agama Soal Pendidikan Perdamaian[:]

[:id]JAKARTA, ICRP – Pendidikan di Indonesia dinilai masih belum memasukan Peace Education sebagai wacana penting. Padahal sebagai sebuah bangsa majemuk, peace education merupakan hal yang sangat krusial. Terlebih mengingat Indonesia menghadapi konflik bermotif agama maupun etnis yang kian meningkat tiap tahun.

Karena itu, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menjadikan bahasan “Peace Education dalam Sistem Pendidikan di Indonesia” di Sekolah Agama. Mendaulat  pengurus Asosiasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Mahnan Marbawi dan Aktivis Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Sudarto, ICRP membahas topik krusial ini, Jumat (16/10).

Kesempatan memulai sesi sekolah agama diperuntukan pada guru PAI. Memulai diskusi, pak guru PAI dari Bekasi ini menuturkan signifikannya fatwa Majelis Ulama Indonesia  (MUI) dalam membuat aksi-aksi kekerasan pada yang berbeda. Mahnan Marbawi mengakui fatwa MUI kerap dijadikan rujukan untuk melakukan kekerasan.

Sementara itu, pada sisi lain Marbawi melihat negara belum berperan serius dalam mengembangkan pendidikan yang ramah pada perbedaan. Karena itu, menurutnya, intoleransi kerap terjadi di tanah air. “Intoleransi terjadi karena kegagalan sistemik di bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia tidak secara kuat membasiskan penghargaan terhadapa perbedaan,” jelas Marbawi.

Dalam kesempatan itu, Marbawi pun menerangkan masih buruknya kurikulum pendidikan di Indonesia, khususnya kurikulum pendidikan agama. Pasalnya, memang tidak ada poin dalam kurikulum di pendidikan agama yang secara spesifik menyebutkan pentingnya merawat keberagaman.

Karenanya, Marbawi malam itu menyajikan rumusannya soal kurikulum. Dalam  kurikulum yang Ia rancang, Marbawi menempatkan poin keberagaman menjadi hal yang krusial dalam pendidikan.

Bahkan, Marbawi mengaku di dalam kelas dirinya kerap mengundang para pemuka agama untuk mengurangi kecurigaan para siswa pada kemajemukan. “Saya mempunyai kelas inspiratif. Di dalamnya, kadang saya mengundang para tokoh-tokoh agama untuk membahas ajaran-ajaran universal dari agama-agama. Karena itu saya mengundang bapak dan ibu untuk sesekali datang ke kelas inspiratif kami,” kata Marbawi.

Marbawi terdorong untuk melakukan hal demikian karena Ia melihat negara memang belum serius mengelola keberagaman di dunia pendidikan. “Tidak ada sistem pendidikan yang berupaya mengelola perbedaan…terlebih tokoh-tokoh agama hari ini sedikit yang mencontohkan untuk mau berbaur denga yang berbeda. Jadi tidak ada keteladanan untuk menghargai perbedaan,” sesal Marbawi.

Sudarto mengamini pendapat sang guru soal masih rendahnya tingkat pemuka agama yang mau berbaur. Menurut Sudarto yang juga sempat menjadi tenaga didik di dunia pendidikan itu di Sekolah sulit sekali mengajarkan kemajemukan. Padahal, pendidikan merupakan cara untuk membangun karakter masyarakat.[:]

[:id]Mengenal Konsep Toleransi Agama Sikh[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Tidak banyak masyarakat yang tahu agama Sikh dan Baha’i. Meskipun keduanya sudah ratusan tahun berada di Indonesia. Ditengarai, agama Baha’i masuk ke Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1878. Begitu pun dengan agama Sikh. Agama Sikh berkembang pada abad ke-16 dan 17 di India, dan saat ini telah menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Kuil Emas di Amritsar, Punjab, India merupakan kuil paling suci bagi agama Sikh

Kuil Emas di Amritsar, Punjab, India merupakan kuil paling suci bagi agama Sikh

Jum’at (21/8/15), ICRP melaksanakan Studi Agama dan Perdamaian yang ke-5. Pada pertemuan ini membahas tema “Agama dan Perdamaian: Perspektif Sikh dan Baha’i”, dengan pembicara Balwant Singh atau akrab disapa Ben Rahal (Sikh), dan Destya Nawriz (Baha’i). Ben Rahal adalah salah satu pemuka agama Sikh yang tinggal di Jakarta. Dia beserta pemeluk agama Sikh lainnya telah membangun sebuah Gurudwara (tempat ibadah umat Sikh) di daerah Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Di Gurudwara tersebut juga dibangun sebuah Yayasan Sosial Guru Nanak yang sering digunakan untuk pengobatan gratis dan bakti sosial lainnya.

Sikh dan Ketulusan Pengabdian

Sikh merupakan salah satu lima agama besar di dunia. Agama ini berkembang di India pada abad ke-16 dan 17. Sejalan dengan perkembangannya, agama Sikh sedikit dipengaruhi perubahan dalam agama Hindu di India dan Islam di Pakistan pada waktu itu. Saat ini, pengikut agama Sikh sudah mencapai 23 juta penduduk yang menyebar ke berbagai belahan dunia. Di Asia Tenggara, penganut Sikh dapat ditemukan di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Kata Sikh sendiri berasal dari kata sisya  dalam bahasa sanskrit yang berarti “murid” atau “pelajar”, atau siksa yang berarti “arahan”. Kepercayaan utama yang diajarkan dalam Sikh adalah percaya kepada satu Tuhan yang pantheistik yang tidak mengandungi antropomofisme (pemberian sifat manusia kepada dewa-dewa).

Seorang Sikh sedang membaca Guru Granth Sahib. Sumber: Sikh24.com

Seorang Sikh sedang membaca Guru Granth Sahib. Sumber: Sikh24.com

Dasar agama Sikhis adalah ajaran sepuluh guru Sikh yang tertulis dalam kitab suci yang bernama Guru Granth Sahib. Selain mengikuti ajaran sepuluh guru, umat Sikh juga mengikuti ajaran dari cendekiawan Muslim dan Hindu yang ajarannya mengandung kebaikan. Di sini terlihat keluhuran ajaran Sikh, yang mengakui nilai luhur bisa datang dari siapa saja dan agama apapun.

Agama Sikh bermula di Punjab, India,  dan digagas oleh Guru Nanak (1469-1539). Penganut Sikh hanya percaya kepada satu tuhan yang dipanggil Waheguru.  Setelah Guru Nanak meninggal, dia digantikan oleh penerusnya sampai sepuluh guru. Selepas kematian Gobind Singh, kepemimpinan guru ini tidak dilanjutkan namun digantikan dengan himpunan skrip suci yang dikenal Adi Granth, dan kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Tidak hanya meninggalkan skrip suci, Gobind Singh juga mengajarkan sebuah persatuan “Persaudaraan Khalsa Sikh” dengan memulai pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang terkenal istilah “Lima K”.

News Photo: Fiona Goodall/Eastern Courier. Constable Jagmohan Singh police officer wearing turban on duty. sikh. Howick police

News Photo: Fiona Goodall/Eastern Courier. Constable Jagmohan Singh police officer wearing turban on duty. sikh. Howick police

Lima K ini pun hingga sekarang menjadi style khas pemeluk agama Sikh. Yang dimaksud dengan Lima K ini adalah:

  1. kesh (rambut yang tidak dipotong)
  2. kanga (sikat)
  3. kara (gelang ditangan kanan)
  4. kirpan (pisau kecil yang tidaklah begitu tajam)
  5. kachha (seluar dalam pendek)
Sikh Kirpan. Sumber: http://www.infinitegoddess.com

Sikh Kirpan. Sumber: http://www.infinitegoddess.com

Jika di Islam mempunyai Makkah sebagai tempat Suci, tempat suci agama Sikh adalah  Gurdwara Emas di Amritsar. Gurudwara adalah tempat sembahyang agama Sikh. Di Jakarta ada tiga Gurdwara yang terletak di Ciputat, Pasar Baru, dan Tanjung Priok.

Sikh Memaknai Toleransi

Menurut kepercayaan Sikh toleransi adalah “Accepting and allowing the faithful from other religions to follow their spiritual beliefs and practices without oppression or discrimination.” Yang berarti menerima dan memungkinkan umat beriman dari agama lain untuk mengikuti keyakinan mereka dan praktik spiritual mereka tanpa penindasan atau diskriminasi.

Toleransi dalam agama sikh mengacu pada perkataan sang guru, sebagai berikut:

 “ Recognise the divine vision of the Oneness of the World of plurality; live for God in yourself and others; judge yourself not others; see unity in diversity; practice patience and forgiveness; accept all as your friends; do not slander or insult others; engage in selfless service; respect other religions and their scriptures; give up fanaticism and finally, live and let live.”

Mengakui visi ilahi Keesaan Dunia pluralitas; hidup bagi Allah dalam diri sendiri dan orang lain; menilai diri sendiri bukan orang lain; melihat kesatuan dalam keragaman; berlatih kesabaran dan pengampunan; menerima semua sebagai teman; tidak fitnah atau penghinaan orang lain; terlibat dalam pelayanan tanpa pamrih; menghormati agama lain dan kitab suci mereka; menyerah fanatisme dan akhirnya, hidup dan biarkan hidup.

Kunjungan ICRP dan yayasan cahaya guru ke gurudwara sikh temple di Ciputat. Sumber: Dok ICRP / Mukhlisin

Kunjungan ICRP dan yayasan cahaya guru ke gurudwara sikh temple di Ciputat. Sumber: Dok ICRP / Mukhlisin

Sikh adalah agama yang inklusif dan menekankan kesetaraan terhadap semua manusia, termasuk kesetaraan terhadap perempuan. Agama Sikh percaya pada kesejahteraan seluruh umat manusia. Dalam akhir sebuah doa yang rutin digelar, jemaat berdoa untuk kesejahteraan semua umat manusia. Nilai seperti ini sudah mendarah daging di semua Sikh. Dan doa seperti itu sudah berulang kali di lakukan ketika berdoa sehari-hari dan dalam setiap kegiatan agama sepanjang tahun.

VandChakna and Seva dan Konsep Pelayanan Sosial

VandChakna and Seva merupakan konsep pelayanan yang terdapat dalam Sikh. Dalam konsep Vand Chakna umat Sikh diminta untuk berbagi kekayaan mereka dalam masyarakat dan di luar dengan berlatih amal (Daan). Sikhisme memerintahkan untuk “Berbagi dan mengkonsumsi bersama-sama

Sementara Seva adalah tugas dari setiap Sikh untuk terlibat menjadi relawan setiap kali ada kemungkinan. Sebuah Sikh bisa menjadi sukarelawan di Gurdwara Sahib; pusat komunitas; pusat hidup senior; pusat perawatan, bencana besar dunia, dll. Seva penting untuk Sikh karena membantu membangun komunitas yang lebih baik dan juga menjaga Sikh sederhana dengan menekan ego.

Seva bisa bermakna melayani, menghadiri atau mengabdi, namun seva juga berarti beribadah (to worship), menyayangi atau menghormati, dan menghargai. Dalam tradisi Hinduisme, Seva identik dengan kasta tertinggi Brahmin, namun Sikhisme yang egaliter dan menolak sistem kasta di masyarakat, dan mengajarkan Seva dapat dilakukan oleh setiap orang.

Dalam faham ketuhanan Sikhisme, Tuhan itu berada dalam setiap ciptaanNya. Sehingga ketika seorang Sikh melayani sesamanya, lingkungan maupun makhluk lainnya, maka ia telah melayani Tuhannya.

Seva merupakan hal yang penting dalam kehidupan spiritual sikh. Seva yang paling tinggi adalah mengabdi atau melayani Guru. Guru Nanak berkata “Saya memohon untuk mengabdi pada orang yang mengabdi kepadaMu” [Mukhlisin]

 [:]

Di Pertemuan Ketiga Sekolah Agama, Romo Magnis Ungkap Perdamaian Perspektif Gereja

JAKARTA, ICRP – Setelah mengkaji perdamaian dalam perspektif Islam dua minggu lalu, kali ini Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) membahas Agama dan Perdamaian dalam Perspektif Kristen. Dalam pertemuan ketiga Sekolah Agama dan Perdamaian Jumat (27/6) ini, ICRP mendaulat guru besar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Frans Magnis Suseno dan Dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta Pdt. Mulyadi.

Mendapat panggung pertama, Frans Magnis Suseno langsung membahas sejarah kekerasan dan Katolik di Eropa. Dalam sejarahnya, Pastur yang akrab disapa Romo Magnis ini mengakui Katolik pun tidak lepas dari kekerasan atas nama agama. Romo Magnis mencontohkan  beberapa momen dalam sejarah dimana gereja menjadi alat untuk menghukum perbedaan keyakinan. Reformasi Martin Luther yang melahirkan protestanisme dan Akuisisi di Spanyol menjadi dua bahasan yang cukup gamblang dibahas. “Warisan kekerasan dalam gereja itu besar,” singkat Romo Magnis.

Namun, Romo Magnis menegaskan perspektif Gereja kini berbeda sekali dengan abad ke-16 menyikapi perbedaan. “Gereja Katolik kini sekarang konsisten dalam mempromosikan perdamaian,” ujar Romo Magnis.  Perubahan perspektif menyoal keyakinan di Gereja Katolik, kata lelaki kelahiran Jerman 79 tahun lalu ini juga tidak lepas dari sumbangsih Pencerahan (Aufklarung) di Eropa pada abad 17 dan 18.

Gereja Katolik, sambung Romo Magnis, kembali mendapat pelajaran serius mengenai perdamaian pada abad ke-20. Romo Magnis mengungkapkan kekejaman NAZI pada perang dunia kedua (PD II) memberikan kesadaran yang tinggi dalam Gereja Katolik pentingnya menghargai perbedaan. Pasalnya, kata Romo Magnis, gereja juga diyakini turut andil dalam kebencian terhadap Yahudi kala itu.

Karena itu, dalam konsili kedua Vatikan Romo Magnis menyatakan beberapa poin amat menguatkan posisi Gereja Katolik untuk mempromosikan penghargaan terhadap keyakinan yang berbeda. Poin pertama, kata Romo menyatakan bahwa Protestan adalah saudara umat Katolik. Kedua, Katolik mesti menghormati hal-hal yang disucikan oleh agama-agama lain. Ketiga,  yang tak kalah menarik ungkap Romo Magnis adalah bahwa Gereja Katolik mengapresiasi monoteisme di dalam Islam. Beberapa poin lainnya menyinggung sikap gereja Katolik menolak hukuman mati.

Namun, hal yang paling penting dalam konsili dua menurut Romo Magnis adalah mengenai jalan keselamatan. “Poin terpenting adalah bahwa orang tidak dibaptis bisa masuk surga,” kata Romo Magnis. Poin ini, menurutnya memberikan kelewusan bagi missionaris seperti dirinya untuk tidak melihat yang lain sebagai entitas yang salah dan pasti masuk neraka.

Selain membahas mengenai gereja Katolik, Romo Magnis juga menyinggung mengenai pluralisme di Indonesia. Menurut budayawan terkemuka ini situasi keberagamaan di Indonesia sudah cukup baik meski dengan sekian catatan. Malam itu, ia memberikan sejumlah resep bagi para agamawan agar kondisi keberagamaan di Indonesia membaik.

“Pertama, (agamawan) perlu menolak kekerasan, memenagkan Tuhan itu tidak perlu. Kedua, agamawan mesti rendah hati. Jika seorang agamwan itu arogan sudah pasti itu kontradiktif dengan ajaran Tuhan. Ketiga, nah ini saya suka mengambil istilah dalam Islam, agamawan harus menyiarkan agama dengan penuh Rahmatan Lil Alamain,” tutur Romo Magnis.

 

 

Sumbangan Studi Agama untuk Perdamaian, Mungkinkah?

dewi nova wahyuni

Dewi Nova Wahyuni

Oleh: Dewi Nova (Peserta Studi Agama dan Perdamaian ICRP 2015)

Mampukah kita meninggalkan semangat pembenaran atas nama agama ke pencarian sejati dekontruksi beragama yang mampu menjawab soal-soal kemanusiaan & kelestarian alam raya?  

Tafsiran dan praktik beragama menjadi satu dari ragam basis konflik dalam  peradaban manusia. Tafsir dan praktik “jiwa”  beragama yang hierakis, ekspansif, biner dan kebenaran yang terbenar agamanya sendiri menjadi bahan yang lebih dari cukup untuk menimbulkan konflik. Yang tak jarang dilengkapi doktrin pembenaran untuk melakukan perampasan kemerdekaan, kekerasan kepada sesama manusia dan penguasaan-eksploitasi alam raya.   Kehadiran sekolah yang menggali gagasan-gagasan perdamaian bersumber dari agama/keyakinan  seperti ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) menantang pikiranku berulang-ulang. Aku berasumsi, setiap orang sekolah di ICRP, sedikitnya punya keterbukaan pikiran dan hati untuk berani mengunjungi-mengkritik agama/keyakinannya sendiri. Sekaligus mengunjungi-mengkritik agama/keyakinan lain sambil mensucikan dari tendensi agama/keyakinanku lebih baik dari semua agama/keyakinan yang pernah,  sedang dan akan ada. Bagaimana membangun kerelaan dan kerendahan hati seperti itu? Sehingga agama/keyakinan dan menjadi pengikut agama/keyakinan tertentu memungkinkan menjadi satu dari banyak cara untuk mengkreasi bumi yang damai dan lestari.

Sebagai warga Indonesia yang pemerintahnya senang melembagakan agama –antara lain melalui Qanun Syariat Islam, Surat Keputusan Bersama, dll— dan masyarakatnya yang melihat agama sebagai rujukan hidup yang super, aku berterima kasih kepada ICRP. Karena ICRP membuka sekolah perdamaian bersumber dari agama/keyakinan. Bagaimanapun, kita perlu berbicara, menyampaikan pikiran-pikiran damai dengan bahasa agama kepada negara dan masyarakat beragama. Berterima kasih juga aku diterima menjadi peserta sekolah sehingga mengakses kemewahan dialog pikir dengan teman sekelas dari ragam agama/keyakinan yang sama-sama mempercayai perdamaian itu sungguh penting. Tantangannya pasti tidak mudah, karena praktik agama selalu bermuka dua –wajah kekerasan-dominasi dan wajah welas asih-perdamaian. Tetapi itu sesuatu yang akan selalu begitu untuk setiap kontruksi manusia. Bukankah agama cara manusia mengkontruksi-menjangkau penciptanya dan merumus-praktikan tata laksana hubungan dia dengan penciptanya dan dia dengan alam raya? Dengan begitu, kabar baiknya, sejahat-jahatnya tafsir-praktik beragama, sebagai kontruksi ia bisa didekontruksi menjadi sesuatu yang menyumbang pada perdamaian.  Dengan nama Allah  yang maha pengasih dan penyayang…

Gelisah-gairahku itu berjumpa dengan kelas bertajuk “Pengantar Urgensi Studi Agama dan Perdamaian,” pada 22 Mei 2015 di kantor ICRP, Jakarta. Di kelas pertama itu, Syafiq Hasyim, Dr Phil membantu peserta dengan menyampaikan konteks kelahiran studi agama dan kaitannya dengan perdamaian.  Syafiq membedakan studi agama dengan kakak kandungnya studi teologi. Merujuk konteks di Jerman, studi teologi mempelajari agamanya sendiri. Di Eropa,  fakultas/ departemen teologi mengajarkan khusus teologi Katolik atau Protestan. Di Indonesia, misalnya UIN (Universitas Islam Negeri) menyediakan studi perbandingan agama, tetapi Islam dijadikan alat ukur untuk melihat agama lain. Sedangkan studi agama memposisikan agama sebagai ilmu yang menyoal perjuangan manusia menuju transendensi karena itu letaknya di bidang humaniora. Syafiq mengutip pikirannya Joachim Wach yang mengklaim religious studies sebagai disiplin independen. Sejak 1924, dia membuat garis batas tegas antara teologi dan ilmu agama (science of religion, Religionswissenschaft). Dipengaruhi Max Weber, ilmu tentang empirical science dia menempatkan ilmu agama sebagai ilmu yang melihat fenomena agama atau bagian agama yang empiris. Dia mengkritik Madzhab Sejarah Agama yang lebih menekankan pada Kekristenan dan melokalisasi sejarah agama ke dalam teologi. Wach menyatakan religious studies harus netral, tidak berposisi dan tidak normatif. Metodologi religious studies harus berjarak, termasuk pada sikap keberagamaan yang dianutnya dengan hal yang ditelitinya. Menyimak penjelasan Syafiq aku berpikir bila yang dimaksud studi agama oleh ICRP itu memang bukan studi teologi, kemungkinan sekolah ini sebagai satu alternatif untuk membangun hidup damai bersama akan lebih besar.

Tetapi seberapa mampu netral studi agama ini untuk menyokong perdamaian? Tanya peserta kepada Syafiq. Syafiq menunjukan pengalamannya yang berlatarbelakang NU (Nahdlatul Ulama) dan mampu melakukan riset yang mengkritik NU. “Bagaimana kita bisa membedakan siapa diri kita dan apa yang sedang kita kaji. Mampu mentransedensikan apa yang ada dalam diri kita dan apa yang kita kaji. Walaupun tidak mampu netral 100 %, paling tidak objektifikasi melalui apa yang kita kaji,” kata Syafiq.  Menurutnya dalam masyarakat Islam sedari dulu sudah ada para pemikir traveller yang melakukan kajian dan menuliskan perbandingan antara agama Islam dan agama lain. Dan seperti hari ini mereka terbagi 2: (1) pengkaji netral-berjarak dengan kerangka ilmu dan (2) kerangka teologi yang tak jarang menulis hasil kajian untuk meninggikan Islam dan merendahkan agama/keyakinan lain. Menurutku dari jenis pemikir dan buku yang dihasilkan kita akan mengerti, buku yang mana yang lebih banyak membawa kepada jalan damai.

Tapi sebenarnya seberapa tafsiran-praktik beragama/berkeyakinan menyumbang pada perdamaian? Pdt Dr. Nelman A. Weny membantu peserta untuk melihat beragama pada konteks kini. Sebuah realitas satu bumi banyak agama/keyakinan. Dalam pandangannya, agama kini dalam posisi dilematis. Diantara ketegangan kreatif, krisis relevansi dan krisis identitas. Semakin agama-agama berusaha merelevankan ajarannya dengan dunia yang terus berubah, agama-agama akan kehilangan identitasnya. Sebaliknya, semakin agama-agama mempertahankan identitas dan doktrinnya, agama-agama semakin tidak relevan dengan tuntutan kebutuhan dunia modern. Akibatnya, lambat atau cepat, agama ditinggalkan para penganutnya.  Menurut tangkapanku, rupanya kesulitan-kegagalan mengelola dinamika tafsir-praktik beragama/berkeyakinan itu yang membuat wajah agama sebagai kekerasan-dominan memburuk dan kehilangan penggemar. Belum lagi menurut pendapatku penggunaan agama untuk penguasaan manusia dan sumber daya alam seperti sejak zaman kolonial hingga kini –pinjaman bank untuk umroh yang kalau tak hati-hati bisa mengakibatkan pengalihan kepemilikan tanah peminjam kepada pihak bank syariah. Semoga kajian agama-perdamaian versus global economy-security akan menjadi satu kajian di kelas ICRP selanjutnya.

Pdt Nelman juga mengutif gagasan Azyumardi Azra yang mengidentifikasi 5  penyebab kekerasan atas nama agama di Indonesia: (1)  penerbitan/penyebaran tulisan-tulisan oleh pihak/kalangan agama tertentu tentang agama lain yang dianggap para pemeluknya tidak sesuai dengan yang mereka imani, dan karena itu, dianggap mencemarkan agama mereka. Dalam hal ini juga, tercakup tulisan-tulisan (sering sumbernya tidak jelas) yang berisi “rencana” penyebaran agama tertentu; (2) usaha penyebaran agama secara agresif/masif; (3) penggunaan rumah (tempat) tinggal sebagai tempat ibadah bersama atau pembangunan rumah ibadah di lingkungan masyarakat penganutagama lain; (4)  penetapan dan implementasi ketentuan yang dinilai diskriminatif dan membatasi penyebaran agama tertentu; (5) kecurigaan timbal-balik berkenaan dengan posisi serta peran agama-agama dalam negara bangsa Indonesia (Aritonang 2004, 15-16).  Yang menurut Pdt Nelman dipicu 3 realitas: Pertama, terbukanya keran demokrasi yang dikenal dengan nama Era Reformasi 1998. Kedua, desentralisasi yang disalahartikan sebagai kebebasan pemerintah daerah menciptakan kebijakan publik yang berbeda dari pusat. Ketiga, semakin meluasnya ketidakadilan sosial yang dibaca sebagai kegagalan pemerintah sekuler (yang menganut demokrasi ala Barat) sehingga memperkuat aspirasi mendirikan negara Islam (Mulia 2013, 165 dst.; Yewangoe 2013, 207-212).

Karena itu, menurut Pdt Nelman, dalam hidup bernegara kita membutuhkan pejabat publik matang beragama. Peserta lain menyebutnya sebagai spiritual tanpa batas. “Yesus tidak pernah mengkotak-kotakan siapa yang harus ditolong dan dicinta dan kita ada di satu bumi yang diberkati banyak agama,” tutur Pdt Nelman. Selain itu, menurutku, organisasi agama juga harus lebih berani mengambil peran-berpihak untuk mempertahankan perdamaian – merawat sumber daya untuk sebanyak-banyaknya orang. Sebagaimana sikap Pengurus Besar NU yang menyerukan Pemprov Jawa Tengah menghentikan PT Semen Indonesia dan perusahaan-perusahaan tambang lain di Rembang, baru-baru ini.

Jadi  seberapa urgen studi agama ini menyumbang perdamaian? Syafiq memberikan 5 catatan: (1) studi agama memberi masukan untuk melihat secara jernih mana aspek sakral dan non-sakral dalam agama; (2) studi agama membuka cakrawala agama dan sekaligus menanamkan self-criticism pada diri kita masing-masing tentang ajaran agama kita sendiri; (3) perbandingan teologi (comparative theology) yang sebelumnya dijadikan jembatan untuk menanamkan kesalingpengertian antara agama/keyakinan ternyata dianggap gagal karena perspektif metodologisnya masih bersifat eklusif; (4) studi perdamaian menjadi sangat penting, bukan karena karena banyaknya konflik dan kekerasan yang terjadi, akan tetapi untuk kepentingan kematangan disiplin ini sendiri; (5) secara practical, studi perdamaian akan membantu memetakan, mengurai dan mencarikan jalan keluar soal potensi kekerasan dan kekerasan itu sendiri. Model kekerasan yang semakin variatif dan diverse, karena itu  peace studies diharapkan mampu menjawab tantangan ini. Catatannya secara karakter, peace studies berbeda dengan religious studies dimana yang kedua itu lebih banyak dipicu kematangannya oleh perdebatan-perdebatan diskursif, yang pertama dipicu oleh peristiwa-peristiwa kekerasan.

Kelas pertama ini juga diwarnai kerinduan peserta untuk mengkaji agama asli nusantara, selain Kristen, Katolik dan Islam sebagai agama impor yang saat ini dominan di Indonesia. Termasuk di dalamnya harapan nilai-nilai kedamaian dari agama/keyakinan nusantara. Nah, marilah kita lanjutkan belajar bersama ini. Semoga dekontruksi beragama/berkeyakinan yang menyumbang perdamaian di bumi lebih lapang jalannya.
*Tulisan ini adalah refleksi dari Studi Agama dan Perdamaian pertemuan ke-1 yang dilaksanakan ICRP

Studi Agama dan Perdamaian Harus Berkembang

eunika gloria

Eunika Gloria (Sumber: dok. pribadi)

Oleh: Eunika Gloria (Peserta Studi Agama dan Perdamaian ICRP 2015)

Jum’at, (29/5/2015), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) melaksanakan perkuliahan Studi Agama dan Perdamaian. Pertemuan ini membahas mengenai urgensi studi agama dan perdamaian. Adapun narasumbernya adalah Syafiq Hasyim, Ph. D, Doktor dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Faculty of History and Cultural Studies (Fachbereich Geschichts–und Kulturwisseenschaften) Freie Universitat, Berlin, Jerman. Pembicara lainnya adalah Pdt. Nelman Wenny, salah satu doktor dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Penjelesan kedua narasumber sungguh sangat menarik. Begitu pun juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kelas. Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan. Sejujurnya, pertanyaan saya di kelas belum terlalu dijawab oleh pembicara. Bagaimana studi agama dapat menjadi sebuah studi yang terus netral? Yang kemudian dilanjutkan dengan, bagaimana para akademisi studi agama dapat mempertahankan netralitas kajiannya? Jawaban yang saya dapat hanya menyelesaikan pertanyaan kedua, yaitu dengan selalu menjaga jarak antara agama sebagai yang ia yakini dengan agama sebagai yang ia kaji.

Namun, untuk pertanyaan pertama, perlu mengingat bahwa studi agama sifatnya akademis. Maka, pengolahan metodologi yang tepat sepertinya dapat menjadi salah satu jawaban bagi studi agama untuk dapat menjadi kajian akademis yang netral. Dr. James L. Cox (University of Edinburgh, 2013) melalui catatan kuliahnya yang berjudul Religion without God, menjabarkan mengenai perdebatan di antara para akademisi dalam hal penggunaan metodologi yang tepat untuk studi agama.

Secara tradisional, para akademisi memulai proses netralitas studi metodologi agama dengan ‘metodologi ateisme’, yaitu metodologi yang mengutamakan proses pendefinisian realita secara religius. Metodologi ini mengimplikasikan adanya penyangkalan tentang kemungkinan bahwa objek keyakinan dari agama itu eksis. Kemudian berkembanglah ‘metodologi agnostik’ yang tidak menyangkal kehadiran tatanan alam semesta–yang transenden dianggap sebagai given–namun tidak memunculkan pertanyaan mengenai hal tersebut. Akademisi studi agama mendeskripsikan, menganalisa, dan membandingkan posisi para pemegang keyakinan terhadap yang transenden tersebut.

Perkembangan ini menjadi menarik, karena di Indonesia, kemajuan studi agama sebagai studi belum memiliki tren yang signifikan. Pada pendidikan tinggi, tidak banyak institusi non universitas berbasis agama yang mau (atau mampu) mencakup prospektus studi ini. Dibandingkan dengan school of divinity di beberapa universitas besar di Inggris dan Amerika Serikat, Indonesia masih tertinggal dalam hal kurikulum maupun penelitian. Padahal, ragam keyakinan dan keagamaan di Indonesia berpotensi besar – baik sebagai sumber keilmuan maupun sumber dialog.

Menurut pengetahuan saya yang terbatas, studi agama di Indonesia saat ini masih berfokus pada sosialisasi melalui dialog antar keyakinan, pendidikan keagamaan mendasar, maupun resolusi konflik. Tentu, fokus ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat Indonesia yang memang belum sepenuhnya mendekati situasi yang ideal. Namun semoga di masa depan, studi agama ini mampu berkembang dengan lebih terstruktur sehingga kekayaan keagamaan Indonesia dapat terus dilestarikan.[MM]

Agama Jadi Solusi Semua = Hidup dalam Ilusi

JAKARTA, ICRP – Munculnya intoleransi kerap kali dikaitkan dengan menguatnya agama dalam kancah politik di suatu negara. Kata Desekularisasi yang sempat ditenarkan oleh Peter L. Berger ini menjadi wacana awal yang diutarakan Pendeta Albertus Patty dalam diskusi di sekretariat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Jumat (8/5).

“Orang hidup dalam ilusi dimana  agama menjadi semua solusi. Seolah ketika diagamakan semua masalah lalu selesai,” ujar tokoh lintas iman dari protestan ini.

Menurut salah satu ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) ini kondisi psikologis umat beragama yang demikian menebarkan benih intoleransi. “Ketika masyarakat berpikir bahwa agama menyelesaikan semua masalah maka muncul kekerasan dan penindasan baru,” ujar Pdt. Albertus Patty.

Pendeta yang dikenal cukup humoris ini menilai penting bagi umat beragama untuk keluar dari sekat-sekat primordial seperti agama dan etnis.

Albertus Patty juga menyinggung hubungan monoteisme dengan kekerasan. Menurutnya kekerasan telah mencederai monoteisme. “Saat kekerasan terjadi maka tidak ada lagi monoteisme melainkan machiavellianisme,” katanya.

Albertus Patty menduga meski para pelaku kekerasan atas nama agama menggunakan ayat-ayat suci namun, mereka telah mengabaikan pesan inti dari Tuhan. “Mereka sudah lupa pada God of Compassion,” sesal Albertus Patty.

“kalau kita percaya pada God of Compassion maka kita akan melihat semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang maha kasih,” sambungnya.

Berkenaaan dengan konstitusi, Albertus Patty melihat Indonesia memiliki kejanggalan. “Kita melihat UUD sudah ok namun ketika diimplementasikan  pada UU justru ada gap yang sangat besar. Disana ada pengaruh agama yang amat primordialistik.

Dalam bedah buku kali ini, selain mengundang Albertus Patty ICRP juga turut mendaulat tim penyusun buku Budhy Munawar Rachman. Ruang diskusi ICRP nampak padat. Beberapa peserta diskusi bahkan terpaksa dudut di luar ruangan.

Intelektual Islam Serukan Beragama dengan Cinta

JAKARTA, ICRP – Laporan Human Right Watch (HRW) beberapa tahun ke belakang menunjukan Indonesia telah gagal melindungi minoritas dari kekerasan atas nama agama atau etnis. Perkara ini menjadi awal bahasan yang diuraikan Peneliti The Asian Foundation Budhy Munawarkan Rachman dalam bedah buku “Membela Kebebasan Beragama” di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Jumat (8/5).

Dalam bedah buku yang turut mengundang Pdt. Albertus Patty ini, Budhy melihat alasan teologis tidak bisa dilepaskan dari munculnya kekerasan atas nama agama. Hal ini, lanjut Budhy, karena adanya pemahaman terhadap teks-teks agama yang  polemis secara tidak bijak. “Mestinya kita bijaksana dalam melihat ayat-ayat yang memungkinkan intoleransi,” ujar murid Cak Nur ini.

Selain itu, adanya pandangan dalam agama-agama semitik bahwa selain tiga agama besar selain mereka sebagai “agama bumi” bukan tidak menjadi masalah. “Sebagian besar kasus yang menimpa penganut agama-agama lokal disebabkan karena pandangan muslim atau kristen yang melihat adanya agama langit dan agama bumi,” ujarnya.

karena itu, Budhy menambahkan pentingnya masyarakat sipil untuk memahami alasan munculnya penyebaran kebencian. Kekerasan atas nama agama, sambung Budhy, bisa muncul dari cara beragama yang mengesampingkan rasionalitas.

Meski demikian, pria berkacamata ini meyakini  bahwa agama pun bisa menjadi pendorong perdamaian. Sore itu Budhy memberikan resepnya di hadapan 70 peserta diskusi. “Kita harus mengembangkan beragama dengan cinta. Kalau mau lawan kekerasan agama maka kembangkan cinta kasih dalam agama,” kata Budhy.

Budhy pun menggarisbawahi fenomena takfirisme di masyarakat. Bagi Budhy istilah kafir dan murtad harus ditinggalkan dalam teologi. Solusinya, kata Budhy perlu dikembangkan teologi yang lebih pluralistik.”ini (takfirisme) warisan teologi ekslusif. padahal kita tidak punya hak untuk menyesat-nyesatkan orang,” ucap Budhy.

“Menjadi religius dewasa ini adalah menjadi interreligious,” tegas Budhy.

Pada kesempatan diskusi di sekretariat ICRP ini, Budhy pun menceritakan perjalanan dalam membuat buku “Membela Kebebasan Beragama”. “Waktu awal didiskusikan ada sekelompok orang protes kenapa tidak ada yang mewakili Islam?” kata Budhy meniru tanya dari kalangan Islam marah.

“Bukan tidak mewakili Islam, namun buku ini hanya butuh dari Islam yang ramah,” ucap Budhy.