Peace Train Indonesia #12 Segera Meluncur ke Salatiga

Rabu, 24 Maret 2021

 

Jakarta – Setelah melalui diskusi intensif dengan rekan-rekan tim local di Salatiga, akhirnya Peace Train Indonesia (PTI) ke-12 ditetapkan untuk dihelat pada 23 – 25 April 2021 mendatang.

Salatiga menjadi tujuan PTI kali ini karena baru saja mendapatkan predikat kota paling toleran tahun 2020 dari Setara Institute pada Februari lalu.

“Selain sebagai kota multikultur, Salatiga sudah sejak lama kita kenal sebagai kota yang mampu mengeloala keragaman suku, agama, dan ras. Karena itu kita bisa belajar banyak dari masyarakat di sana dalam menjaga toleransi, kerukunan, dan perdamaian,” ujar Pdt. Frangky.

Direktur Eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace ini mengatakan, PTI kali ini hanya akan membawa 20 peserta, yakni 15 orang dari berbagai kota di luar Salatiga, dan 5 orang peserta local dari kota Salatiga.

“Sengaja kita batasi seperti PTI ke-11 yang lalu di Temanggung. Hanya 15 orang bahkan. Ini karena masih pandemic Covid-19 sehingga harus mematuhi protocol Kesehatan,” terangnya.

Baca juga: Peace Train Indonesia #12 Akan Hadir di Salatiga

Tema PTI ke-12 ini adalah “Belajar Merawat Kebinekaan dan Perdamaian di Kota Toleran”.

Pendaftaran PTI ke-12 dimulai tanggal 24 Maret – 12 April 2021. Pengumuman seleksi peserta tanggal 14 April 2021. Lalu dilanjutkan dengan pelatihan menulis tanggal 17 April 2021.

Info lebih lanjut dapat menghubungi nomor telepon ICRP: 021-4280 2349; 4280 2350 dan WA: 0852 8148 1413.

Penyelenggaraan PTI ke-12 ini hasil kerjasama ICRP, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Ayuk, bagi kamu-kamu yang berminat mau ikut di acara ini segera mendaftar, ya…  Ini tidak hanya bagi orang muda, tapi juga mereka yang pernah muda. [ ]

Peace Train Indonesia #12 Akan Hadir di Salatiga

Selasa, 16 Maret 2021

 

Jakarta – Peace Train Indonesia (PTI) akan kembali meluncur membawa narasi kebinekaan dan toleransi untuk perdamaian Indonesia dan dunia. Kali ini kota tujuannya adalah Salatiga, Jawa Tengah.

Salatiga menjadi kota tujuan PTI #12 karena kota ini baru saja terpilih sebagai kota paling toleran tahun 2020 urutan pertama dari 10 kota yang terpilih versi Setara Institute dengan skor 6,717. Sembilan kota lain adalah Singkawang (dengan skor 6,450), Manado (6,200), Tomohon (6,183), Kupang (6,037), Surabaya (6,033), Ambon (5,733), Kediri (5,583), Sukabumi (5,546), dan Bekasi (5,530).

Sebagaimana diketahui, Peace Train Indonesia pertama kali dilaksanakan pada September 2017 lalu dengan tujuan kota Semarang. Dengan membawa 40 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, di Kota Atlas tersebut mereka berkunjung ke rumah-rumah ibadah yang berbeda, yakni masjid, gereja, vihara, dan pura.

Baca juga: Peace Train Indonesia-Ruang Dialog Generasi Muda Lintas Agama (Bag. 1)

Setelah itu PTI secara berturut-turut menggelar trip-trip berikutnya hingga ke-11 di Temanggung pada 15 – 17 Januari 2021.

“Di Salatiga kita akan belajar bagaimana teman-teman di kota tersebut merawat kebinekaan, toleransi dan perdamaian,” ujar Ahmad Nurcholish, salah seorang penggagas PTI.

Deputi direktur ICRP ini menambahkan, “Tentu tidak mudah untuk mewujudkan kota paling toleran. Ada sejumlah indicator yang harus dipenuhi. Apa saja itukah yang hendak kita gali dari teman-teman dan pemangku kepentingan di sana.”

Helatan PTI #12 rencana akan dilaksanakan pada akhir April 2021 mendatang. Kapan tanggal persisnya? Tunggu saja info selanjutnya, ya…

Dari Keluarga Menjadi Cahaya Perdamaian, Kilas Balik PTI 11 Temanggung

Jumat, 15 Januari 2021, pukul 03.00 WITA, alarm hp berbunyi, mengingatkan saya untuk segera bergegas, mempersiapkan apa yang harus dibawah ke pulau seberang, Pulau Jawa. Pukul empat lebih perjalanan menuju bandara Sam Ratulangi Manado. Penerbangan yang semestinya pukul 07.20 WITA, akan tetapi harus tiba lebih awal untuk validasi surat kesehatan. Satu hal yang baru untuk bisa berangkat menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Hal baru yang diterapkan semenjak wabah pandemi virus corona.

Jakarta, tempat tujuanku, untuk melihat hal baru yang masih nampak buram dalam angan-anganku. Bermodalkan alamat yang diberikan oleh panitia, tanpa seorang pun teman yang berangkat bersama, kenekatan dan semangat yang tentunya ditemani oleh rasa waswas.

Tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, diharuskan mengisi kartu kewaspadaan elektonik (e-HAC). Perjalanan dilanjutkan menuju stasiun kereta api bandara, disini saya bertemu dengan seorang pemuda dengan tujuan yang sama. Informasi yang saya dapat dari panitia bahwa ada seorang peserta sedang berada di stasiun yang sama. Wildan, nama pemuda tersebut, mahasiswa asal Pontianak. Percakapan dimulai dan keakraban mulai terjalin antar kami. Obrolan ringan tercipta selama perjalanan menuju Stasiun Kereta Manggarai untuk transit ke Stasiun Pasar Senen, titik kumpul semua peserta.

Peace Train Indonesia (PTI), ya, itulah nama kegiatan yang akan kami ikuti dan sudah pada edisi ke-11. Kegiatan traveling yang melibatkan pemuda lintas iman dengan menggunakan moda transportasi kereta api dan menuju lokasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu oleh panitia pelaksana. Kegiatan ini merupakan edisi kesebelas dengan tujuan Kab. Temanggung, Jawa Tengah. Kegiatan ini yang pertama dilaksanakan semenjak wabah covid-19 muncul dan menyebar di Indonesia. Tentu saja kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menaati dan memperhatikan protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh satgas covid-19.

Tiba di Stasiun Pasar Senen, kami para peserta dikumpulkan dan kegiatan yang pertama yaitu pembukaan kegiatan PTI-11 ini. Setelah pembukaan kami melanjutkan perjalanan kurang lebih enam jam menuju Stasiun Weleri menggunakan kereta api. Dalam perjalanan, peserta mulai saling berinteraksi satu dengan yang lain yang merupakan tujuan dari kegiatan ini, selain juga untuk memecah suasana canggung antar sesama peserta

Pukul 23.00 WIB, kami tiba di Stasiun Weleri. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus menuju Temanggung menuju Dusun Krecek, tempat dimana kami akan Live In  selama beberapa hari. Suasana keakraban antar peserta semakin nampak. Sesampainya di Dusun Krecek, udara dingin yang khas menyambut kami, suguhan teh jahe panas menghangatkan tubuh kami yang perlahan tapi pasti pun mulai berdaptasi.

Saya beragama Katolik menginap bersama Ahmad Annu, peserta yang beragama Islam dan kami tinggal di rumah keluarga yang beragama Budha. “1 tungku 3 batu,” ungkap Richard, salah satu peserta asal Fakfak, Papua Barat yang menimbah ilmu di Jakarta.  Jikalau diibaratkan, rumah ini adalah tungkunya maka kami yang berasal dari latarbelakan agama yang berbeda adalah batu nya. Obrolan ringan pun tercipta ketika kami tiba dirumah tempat kami menginap. Dari obolan ringan dan singkat ini kami mengetahui bahwa rumah ini milik keluarga Bapak Suradi dan Ibu Partima. Keluarga sederhana yang sehari-hari sebagai petani dan pak Suradi juga sebagai ketua RT. Kami pun menyudahi obrolan kami dan beristirahat.

(Sabtu, 16 Jan 2021) Dipagi hari kami yang seharusnya mengikuti kegiatan keluarga tempat kami menginap pun tak terlaksana, satu hal yang menurut saya adalah satu kerugian, semua itu dikarenakan kami yang terlambat bangun pagi, mungkin karena kami kelelahan ketika menempuh perjalanan yang panjang. Kegiatan dilanjutkan dengan menggunakan mobil pick-up kami menuju ke beberapa tempat ibadah, dengan tujuan untuk bisa membuka wawasan kami terhadap keberagaman yang ada.

Tempat pertama yang kami kunjungi ialah Gereja Katolik St. Yusuf Kaloran, disini kami disambut oleh Romo Fajar. Hal yang unik yaitu ketika kami mengetahui bahwa nama lengkap dari Romo Fajar dari tarekat Missionarii a Sacra Familia (MSF), yakni Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. Terjadilah dialog antar peserta dan Romo Fajar.

Perjalanan kami berikutnya, berkunjung ke kantor PCNU Kab. Temanggung, disini kami disambut oleh pengurus dan makan siang bersama. Dalam kunjungan ini kami mendengar arahan dari Satgas Covid-19 Kab. Temanggung. Selain itu, disini kami para peserta juga diajak untuk bersiaran, tepatnya dia Radio Santika radio kebanggaan masyarakat Temanggung.

Dari PCNU kami berpindah ke Vihara Cahaya Sakti, tempat ibadah umat Buddha, lalu diteruskan ke tempat ibadah Sapta Dharma, salah satu Penghayat Kepercayaan yang beberapa waktu lalu baru saja diakui oleh pemerintah. Sesudah itu kami kembali ke Dusun Krecek untuk melanjutkan kegiatan kami yakni Malam Budaya Nusantara  Sarasehan yang dirangkaikan dengan bedah buku “Ngaji Toleransi” oleh Ahmad Syarif.

(Minggu, 17 Jan 2021) Hari terakhir PTI, kegiatan kami diawali dengan menuju ke Wisata Alam Cerug, tempat yang biasa digunakan oleh umat Buddha yang ada di Dusun Krecek untuk bermeditasi. Disini kami bermeditasi, setelah bermeditasi kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan kami keluar Dusun Krecek, yang secara otomatis mengakhiri kebersaman kami dengan warga Dusun Krecek, terutama dengan keluarga tempat kami menginap. Isak tangis mewarnai pagi ini, perpisahan yang begitu mengharukan dimana kami peserta merasa waktu begitu singkat.

Perjalanan dilanjutkan menuju mata air Jumprit tempat umat Hindu mengambil air yang digunakan untuk upacara keagamaan ketika Hari Raya Waisak. Lalu dilanjutkan ke Wisata Alam Jumprit tempat milik Perhutani yang dikelola oleh Bapak Irwanto dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Hutan Desa.

Kunjungan berikutnya, Kandang Jaran. Kandang Jaran meupakan tempat pembuatan Jaran Kepang atau biasa dikenal dengan Kuda Lumping. Perjalanan kami diakhiri di “Rumah Kita”. Rumah yang dikelola oleh beberapa pemuda Temanggung, disini kami berdiskusi dan menyampaikan apa yang kami alami selama beberapa hari mengikuti kegiatan ini.  Selesai acara di “Rumah Kita” akhirnya kami berpisah, ada yang menggunakan motor menuju Yogyakarta dan ada yang menggunakan bus umum, sedangkan kami tetap menggunakan bus yang disiapkan panitia untuk menuju Stasiun Weleri dan kembali ke Jakarta

Dalam refleksi pribadi, saya menemukan pengalaman baru, ilmu yang baru dan terlebih keluarga baru yaitu keluarga Bapak Suradi, Ibu Partima, dan keluarga Peace Train Indonesia 11. Keluarga yang yang mempunyai satu visi dan misi serta tugas mulia dan tanggung jawab yang berat yakni menjadi agen toleransi dimana kita berada.

Kembali saya mengutip pernyataan dari kawan Richard : “Toleransi bukan untuk dibicarakan tapi untuk dihidupi.” Kami sadar akan hal itu dan konkritnya adalah dipraktekkan. Bahwa untuk menjadi agen toleransi kita harus memulai dari diri sendiri, dengan mengenal diri kita dan apa yang ada pada kita masing-masing sehingga kita boleh dan layak untuk berdamai dengan apa yang baru dan yang tidak ada pada kita. Kedepan dengan menjadi agen toleransi, kita boleh mencontohkan atau mempraktekkan dan menghidupi toleransi itu sendiri melalui tingkah laku kita sehari-hari.

“Merawat Kebinekaan di Era Pandemi” adalah tema PTI 11 ini. MenyebarPandemi Kebinekaan” adalah tujuan kita. Mengikis atau bahkan meruntuhkan sekat-sekat perbedaan adalah tugas kita.

Akhir kata semoga kita boleh menjadi “Cahaya Perdamaian” demi Indonesia baru tanpa perbedaan. Terima kasih Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), terima kasih kakak-adikku dalam keluarga PTI 11. Terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mensukseskan acara ini. Ditunggu keluarga-keluarga baru PTI selanjutnya.

Laurentius Viktorinus Talokon – Alumni PTI 11, Temanggung 2021

Toleransi Memperkuat dan Mengikat 15 Pemuda-Pemudi di Kota Tembakau

Pagi menuju siang di kota 1000 industri, tepatnya di Kota Tangerang aku terbangun dan membayangkan untuk menuju kota tembakau, di Temanggung untuk perjalanan lintas iman yang dinamakan kegiatan Peace Train 11. Setelah bergegas, aku berangkat dengan keyakinan dan doa yang menguatkan untuk mencoba pengalaman sekaligus kegiatan perdana dalam hidupku.

Setelah itu aku sampai di Stasiun Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Aku sudah yakin niatku tidak akan berubah, mungkin aku kelelahan sehingga terlewat, yang seharusnya turun di Stasiun Pasar Senen, aku turun di Stasiun Gang Sentiong.

Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, aku bertemu dengan Kak Isa, beliau yang mengkoordinir massa untuk keberangkatan ke Jakarta-Temanggung. Kemudian aku bertemu Wildan, asal Pontianak, Kiki, asal Tomohon, Oka, Pemuda Hindu asal Jakarta, hingga pace Fak-Fak bernama Bung Richad.

Enam jam perjalanan dalam kereta dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Aku duduk disamping Dini, peserta asal Jakarta, lalu di depanku ada Ine peserta asal NTT, dan Kak Tri peserta dari Pontianak. Selama perjalanan itu kami bertukar pikiran tentang permasalahan pendidikan dan guru. Kami juga banyak bercerita tentang bagaimana kegiatan ini nantinya dan bercerita tentang pengalaman lainnya. Sesampainya di Stasiun Cirebon kami berfoto bersama sebagai dokumentasi kegiatan kami.

Setelah selesai merokok aku dan kawan-kawan langsung bergegas naik ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Aku merasa lapar dan memutuskan pergi ke kantin dan disana tak sengaja bertemu dengan Kak Jojo, salah satu fasilitator Peace Train 11. Kak Jojo bercerita bagaimana pengalaman-pengalamannya ketika mengikuti Peace Train sebelumnya, dimulai dari Peace Train di Bandung, Malang, Wonosobo.

Sesampainya di Stasiun Weleri, kami di jemput panitia dan kawan-kawan dari “Rumah Kita” dengan bus. Mas Adi pendiri “Rumah Kita” di Temanggung, adalah salah satu panitia Peace Train 11. Empat pilar dari “Rumah Kita” yaitu Rumah Belajar Kita, Koperasi KITA, Media Kita, Rumah Zakat KITA. Sesampainya di “Rumah Kita” mencicipi kopi dan jahe khas Kota Temanggung. Setelah beberapa jam di “Rumah Kita” kami melanjutkan lagi perjalanan ke Dusun Krecek. Jalan menuju kesana memakan waktu 1 sampai 2 jam banyak lika liku jalanan yang track nya sangat terjal dan sangat berbahaya menurutku. Disana lah perjalanan lintas iman kita dimulai.

Setelah hampir jam 3 subuh kami sampai di Dusun Krecek kami mesti berjalan sekitar 5 menit untuk ke tempat sekretariat Panitia Peace Train untuk diarahkan sekaligus ada beberapa hal yang dikoordinasikan. Dengan sambutan penuh keramahtamahan hingga kehangatan yang terasa membuatku merasa nyaman untuk yakinkan bahwa perjalanan lintas iman ini akan menjadi pengalaman yang terbaik.

Setelah mendapatkan arahan aku langsung bergegas ke rumah Pak Sarmin. Disana aku bertemu salah satu peserta yang sudah menyusul duluan ke rumah Pak Sarmin. Ahmad Shalahuddin, beliau pemuda Pare-Pare yang sudah lama berkuliah di Yogyakarta. Aku satu rumah dengan Ahmad dan yang menyambut kami adalah Ibu Yati, karena Pak Sarmin, suami Ibu Yati sudah tertidur. Kami kemudian bercerita dan bersilahturahmi. Keramahtamahan Ibu Yati membuatku merasa seperti anak sendiri yang disambut sehabis perjalanan yang jauh.

Setelah minum teh tubruk aku dan Ahmad langsung bergegas ke kamar untuk istirahat walaupun dengan waktu yang singkat. Kami bercerita tentang soal filsafat dan kondisi sosial saat ini dengan lantunan musik sebagai penghantar tidur kami, karena sudah banyak minum kopi tadi.

Tepat pukul 7 pagi aku terbangun dan merasakan dinginnya Dusun Krecek hingga kami mau mandi saja merasa takut karena air nya seperti es batu yang sangat dingin sekali. Pukul delapan sampai pukul sembilan kami mencoba memberanikan diri untuk mandi, kemudian sarapan, dimana sarapan itu sudah disiapkan Ibu Yati. Setelah itu kami langsung ke sekretariat untuk berkumpul untuk mendapatkan arahan mengenai kegiatan kami hari ini.

Momen paling menyenangkan ialah saat kami menaiki mobil bak terbuka walaupun sensasinya agak sedikit menegangkan tapi itu sangat menyenangkan karena kita bisa melihat alam sekitar hingga menghirup udara Dusun Krecek yang masih sangat bersih.

Destinasi pertama kami di Gereja Katolik Santo Yusup, satu hal yang ku ingat dan menjadi ketertarikan ku ialah Romo di Gereja Katolik tersebut memilik nama Romo Ibnu Fajar Muhammad. Hal ini menjadi menarik karena beliau memiliki nama yang unik. Gereja Katolik Santo Yusup juga gereja yang tak luput dari sejarah yang begitu panjang, salah satunya yang memberkati gereja ini adalah Mgr. Soegijopranoto, salah satu pahlawan indonesia.

Selepas dari gereja kita beranjak ke PCNU Kabupaten Temanggung. Sebelum acara dimulai kita makan siang di PCNU dengan khas makanan Temanggung, yang sangat enak. Tidak lupa setelah makan siang kita berlanjut untuk mendengarkan pengarahan sedikit dari Satgas Covid-19 Kabupaten Temanggung. Beliau menghimbau agar kita lebih menjaga jarak dan mencuci tangan serta menggunakan masker. Karena penyebaran Covid-19 di Kabupaten Temanggung sangat masif. Oleh karena itu kita harus berjaga-jaga.

Masih di tempat sama, kami bersiaaran di Radio Santika (96.4 Santika FM), pada siaran kami kali itu kami mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dalam sudut pandang orang muda dan bagaimana kita tetap konsisten dalam merawat kebinekaan di tengah pandemi covid-19 saat ini.

Setelah dari PCNU, kami menuju Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti. Melalui dialog dijelaskan Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti masih tetap konsisten dalam menjalankan kegiatan lintas iman walaupun untuk situasi pandemi kali ini mereka mengurangi aktivitasnya.

Kemudian kami beranjak ke Komunitas Penghayat Kepercayaan Sapto Darmo. Jaraknya memang sangat jauh, dan perjalanan kami sempat diguyur hujan. Tapi niat kami tidak terurungkan oleh keadaan disana di Komunitas Sapto Darmo kami melakukan dialog seperti, bagaimana persebaran pertama kali di Kabupaten Temanggung dan siapa yang menyebarkannya. Hal itu menjadi pengalaman baru lagi bagi saya setelah sebelumnya mengetahui Komunias Penghayat Kepercayaan yaitu Sunda Wiwitan, dimana para penganut Kepercayaan dulu pernah tidak diakui oleh negara dan bersyukur hari ini mereka sudah diakui oleh negara.

Agenda terakhir, malma harinya kami dengan mendengarkan bedah buku Gus Yahya yang berjudul “Ngaji Toleransi” satu hal yang bisa saya simpulkan dalam bedah buku tersebut, bahwa toleransi harus mengikat kita walauapun suku agama kita berbeda tetapi bahasa kemanusiaan itu penting agar cinta dan toleransi itu bisa mengikat kita semua.

Setelah bersantap malam dan berfoto saya berjumpa dengan Ahmad lagi untuk kembali ke tempat istirahat karena kami sudah lelah, dan harus persiapan di hari esok.

Saya terbangun karena kaget dan merasa kedinginan, jam menunjukan pukul 5, bertepatan dengan kegiatan kami yang memang dimulai pada jam itu. Saat saya keluar kamar, saya melihat Bu Yati sedang menyiapkan dagangannya, bubur. Saya tidak ingin berdiam diri dan memutuskan untuk membantu Ibu Yati. Selesai membantu Ibu Yati saya melakukan sedikit pemanasan sebelum berangkat menuju curug untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

Perjalanan menuju curug lumayan licin tapi tidak menyulutkan semangat saya ke curug untuk bermeditasi. Jarak ke curug memakan waktu berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Saya merasa beruntung walau sedikit lelah tapi lelah saya terobati karena mendengar curahan air terjun yang membuat hati saya tenang dan teduh. Kemudian saya beserta teman-teman lainnya mencoba untuk bermeditasi. Walaupun saat meditasi saya merasa agak sedkikit capek, tapi saya tetap bisa fokus saat melakukan meditasi.

Selesai bermeditasi kami berdiskusi dan berfoto, darisana kami kembali ke rumah tempat menginap untuk berkemas dan melanjutkan kegiatan selanjutnya. Jujur aku sedih karena waktu interaksiku dengan Pak Sarmin dan Ibu Yati sangat singkat.

Saya sangat bersyukur dalam tiga hari yang singkat itu saya diterima dengan baik dan sudah dianggap anak sendiri oleh Pak Sarmin dan Ibu Yati. Saya pun sempat bertanya dengan anak Pak Sarmin, David namanya. Saya bertanya apa cita-cita David, jawabnya “Ingin menjadi gamers dan youtubers” membuatku merasa agak tergelitik tapi itulah cita citanya yang nyata.

Mobil bak sudah siap dan kami harus pergi. Destinasi selanjutnya ke Air Mata Umbul Jumprit, kawasan mata air yang terletak di Lereng Gunung Sindoro, disana banyak sekali binatang monyet. Air Mata Umbul Jumprit bisa diambil airnya untuk diminum, dan biasanya Air Mata Umbul Jumprit digunakan untuk Hari Raya Waisak di Candi Borobudur.

Beranjak dari Umbul Jumprit kita ke Wisata Alam Jumprit atau biasa disebut Wapitt. Udaranya dan embunnya sangat terasa karena di bawah kaki Gunung Sindoro. Disana sangat dingin ditambah curah hujan yang gerimis. Salah satu pemilik Wapitt ialah mantan bupati Kabupaten Temanggung. Kami berdiskusi dengan beliau terkait potensi pengembangan usaha nya dan juga melihat bagaiamana fenomena pandemi ini apakah sangat berpengaruh dalam pengembangan sektor pertanian dan rekreasinya.

Selesai diskuis kami kembali bersantai dan sekaligus santap makanan khas Temanggung. Saya paling suka makan nasi gono dan saya hampir nambah 3 kali, nasi gono enak sekali, dengan campuran suwir ikan, ayam, ditambah tempe itu sangat nikmat.

Setelah dari Wapit, segera kami bergegas ke Kandang Jaran, dimana Kandang Jaran ini ciri khas kesenian Kabupaten Temanggung dan yang sangat saya banggakan atas kesenian ini tetap berjalan walaupun disituasi pandemi. Kanang Jaran milik Temanggung sangat variatif dan unik.

Perjalanan berakhir di “Rumah Kita” disana kami diberi pengarahan, serta melakukan sharing atas perjalanan yang sudah kami lalui.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Saya yakin alumni Peace Train 11 disetiap langkah mereka, mereka akan selalu optimis mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dan bukan sekedar itu saja tetapi juga melakukan hal itu menjadi tindakan yang nyata.

Akhirnya kami pergi meninggalkan Kabupaten Temanggung untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.

Satu hal yang saya bisa ambil dari perjalanan ini, kebersaman akan timbul dalam bingkai keberagaman bila kita saling toleransi satu sama lain dan bahasa kemanusiaan juga harus tetap terjaga tanpa memandang agamamu apa, sukumu apa..

_Janeiro Subiyanto Manuhua, Alumni Peace Train Indonesia 11

Hatiku Tertanam di Bumi Temanggung

Pagi itu tepat pukul 5 saat fajar menyingsing aku bergegas pergi ke Bandara Supadio Pontianak untuk melakukan sebuah perjalanan menlintasi pulau tempat tinggalku ke Pulau Jawa tepatnya daerah Temanggung. Pesawatku terjadwal pukul 8.10 sebelum itu aku melakukan Rapid Test Antigen sebagai salah satu syarat untuk naik pesawat karena pandemi yang tak berkesudahan ini, cuaca cerah saat aku terbang di ketinggian dan aku melihat berbagai pemandangan menakjubkan dari atas langit, awan putih yang mempesona dihiasi dengan warna kuning kemerahan cahaya matahari hingga aku terlelap tidur di pesawat.

Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta aku beranjak melalui beberapa koridor bandara menuju pintu keluar. Namun, sesampainya di tengah perjalanan terdapat pengecekan E-Hac, aku pun terbelalak karena kuota yang sudah ku isi semalam sebelum berangkat tidak bisa terpakai, pada saat itu aku bingung untuk mencari paket data internet lalu ada seseorang yang mungkin umurnya dibawahku sedang mengisi data E-Hac, aku pun meminta bantuan untuk berbagi jaringat internet (Tethering), dia dengan senang hati mempersilakan aku menggunakan jaringan internetnya untuk beberapa menit.

Jam menunjukkan pukul 10.30 setelah selesai memverifikasi E-Hac aku pergi menuju lantai 2 bandara untuk menaiki Shuttle Bus tujuan Stasiun Bandara, saat aku menaiki bus aku bersampingan dengan seseorang yang berasal dari Yaman. Dia terkejut saat aku menggunakan bahasa Arab untuk beberapa percakapan dan selebihnya aku menggunakan bahasa Inggris, sesampainya kami di Stasiun Bandara kami beranjak memesan tiket dengan tujuan Stasiun Manggarai. Pada saat di Stasiun Bandara aku bertemu dengan salah satu peserta kegiatan (Peace Train indonesia) yang berasal dari Tomohon, Laurensius namanya atau biasa dipanggil Kiki. Kereta kami berangkat pukul 11.27, saat dalam perjalanan kami pun berbincang sedikit mengenai di mana kami akan turun, tenyata Kiki memesan tiket tujuan Stasiun Duri dan aku tujuan Stasiun Manggarai.

Pada akhir percakapan kami putuskan untuk turun di Stasiun Manggarai, Kiki sudah siap untuk menambah biaya tiket yang dipesannya. Sesampainya kami di Stasiun Manggarai, aku terkejut tidak ada tindakan berarti dari pihak Stasiun mengenai tiket Kiki, aku pun merasa sedikit menyesal karena memesan tiket tujuan Stasiun Manggarai dengan biaya 70 ribu sedangkan tujuan Stasiun Duri hanya 50 ribu, terlepas dari itu semua orang Yaman yang kutemui pamit untuk beranjak melanjutkan perjalanan dengan tujuan Stasiun Tebet menggunakan kereta. Aku dan Kiki juga melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kembali dengan tujuan Stasiun Pasar Senen.

Kami tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 12an, aku dan Kiki pun memutuskan untuk makan siang bersama di area Stasiun sambil menunggu beberapa peserta dan panitia berkumpul. Setelah makan kami bergegas berkumpul dengan beberapa peserta dan panitia kegiatan untuk melakukan Opening Ceremony pelepasan peserta Peace Train Indonesia di salah satu ruangan di Stasiun.

Sore sudah mulai meredup, arlojiku juga sudah menunjukkan pukul 16.15 tepat di saat aku sedang mengikuti acara pelepasan peseta kegiatan untuk menuju gerbong perjalanan yang jauh. Mataku sudah tak lagi bisa menahan kantuk setelah melalui perjalanan panjang dari Pontianak menuju Jakarta. Momen yang sudah kutunggu sejak lama untuk mengikuti perjalanan di luar tempat tinggalku, hingga tercapailah hari ini. Hari dimana aku mengikuti kegiatan Peace Train Indonesia yang ke-11, semua lelah di sekujur tubuhku selama perjalanan terbayarkan dengan bertemu orang baru dan menikmati perjalanan bersama menuju Stasiun Weleri yang memakan waktu 6 jam perjalanan, kuabadikan semua di kameraku.

Di dalam kereta aku berbincang-bincang dengan beberapa peserta untuk menghilangkan penat, saat kereta berhenti di Stasiun Cirebon aku dan beberapa peserta turun untuk meregangkan otot-otot kami setelah lama duduk di dalam kereta untuk melakukan sesi foto bersama, aku, Kiki dan Berto merokok setelah sesi foto. Beberapa menit kemudian kereta melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perjalanan panjang kami akhirnya sampai Stasiun Weleri dengan disambut panitia yang sudah bersiaga di lokasi dan kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan bis menuju Dusun Krecek yang memakan waktu 3-4 jam perjalanan.

Melewati beberapa jalur curam menggunakan bis, aku sedikit takut dan mabok karena dinginnya AC bis dan hawa dingin di Temanggung. Aku akui supirnya jago banget ngelewati jalur yang cuma untuk satu mobil, bagaimana tidak supir bis begitu lihai mengendarainya tentu dengan asas keselamatan kami wkwk. Subuh bertemu subuh, ungkapan yang bisa aku katakan karena perjalananku hampir memakan waktu 24 jam akan tetapi dari semua itu terbayarkan sudah dengan sambutan hangat warga Dusun Krecek yang menyambut kami dengan ginseng panas, cocok untuk hawa dingin yang menyelimuti Dusun.

Kami diinapkan di beberapa rumah warga, 1 rumah terdapat 2 orang peserta. Aku bersama dengan Richard atau biasa dipanggil Pace peserta dari Fakfak yang berkuliah di Jakarta, kami menginap di rumah pak Supriyanto. Beliau orangnya asik di ajak ngobrol dan supel sekali bung, sebelum tidur kami berbincang sedikit mengenai Dusun Krecek dengan hawa dinginnya yang menusuk sambil menikmati kopi khas Dusun yang di suguhi, setelah beberapa menit berbincang aku dan Pace beranjak pergi ke kamar dan beristirahat.

Pagi yang cerah di Dusun Krecek, kami bangun untuk melanjutkan kegiatan kami berkeliling rumah ibadah yang ada di Temanggung, sebelum pergi kami menikmati teh khas Krecek yang bgitu menyegarkan. Pace berinisiatif untuk mandi duluan, karena lamanya mandi si Pace jadi aku hanya mencuci muka (karena dingin juga jadi malas mandi kwkw). Sesampainya ke tempat berkumpul kami, ternyata kami yang paling terlambat. Para peserta dan panitia sudah menunggu lama.

Kami berangkat menggunakan 2 mobil bak terbuka, jalur yang mendaki dan menurun membuat kami waswas dan berpegang erat pada pinggiran mobil. Namun, dari semua itu pemandangan yang tidak bisa kami lihat di Kota membuat kami having fun di atas mobil. Tujuan pertama kami yaitu Gereja Katolik Santo Petrus Paulus, kami tiba sekitar pukul 11an. Setibanya kami di lokasi kami disambut oleh Romo Fajar, Romo Fajar menjelaskan mengenai Agama Katolik dan Arsitektur Bangunan Gereja yang tampak seperti di bawah jembatan, tujuan dari arsitektur tersebut ialah agar menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan Manusia. Fakta unik mengenai Romo yakni nama lengkapnya yang bernuansa Agama Islam yaitu Romo Ibnu Fajar Muhammad, beliau menjelaskan bahwa namanya tersebut pemberian dari orang tuanya dan mengandung makna dari nama Yesus.

Setelah 1 jam lebih kami berada di Gereja kami melanjutkan perjalanan dengan mengunakan bis ke PCNU (Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama) Kabupaten Temanggung, sesampainya kami di sana kami makan siang terlebih dahulu dengan menu khas Temanggung (aku lupa namanya) dilanjutkan dengan penjelasan mengenai preventif Covid-19 dan New Normal, sehabis beberapa pemaparan kami mengisi radio Santika FM yang masih satu gedung dengan PCNU Temanggung, masing-masing peserta masuk 2 orang pembagiannya. Lalu, kami pun beranjak pergi ke Klenteng Tri Dharma Cahaya Sakti tidak jauh dari lokasi kami sebelumnya untuk menerima pemaparan tentang Agama Konghucu dari mulai cara berdoa hingga sejarah berdirinya Klenteng tersebut.

Lalu setelah selesai mengunjungi Klenteng kami berangkat kembali ke Gereja untuk berganti transportasi menjadi mobil bak terbuka lagi dan melanjutkan perjalanan ke Komunitas Penghayat Sapta Dharma yang merupakan salah satu penghayat yang ada di Temanggung. 1 jam telah berlalu kami pun tiba di lokasi yang terletak cukup jauh dari Gereja, ini pengalaman pertamaku untuk bertemu dengan Komunitas Penghayat Sapta Dharma karena sebelumnya aku tidak tahu sama sekali mengenai Sapta Dharma.

Seharian kami menghabiskan perjalanan untuk mengunjungi tempat ibadah beberapa agama dan penghayat, kami pun beranjak balik ke Dusun Krecek untuk acara malam budaya dan bedah buku Ngaji Toleransi. Dalam kondisi ngantuk dan lelah kami tetap coba untuk bersemangat agar apa yang disampaikan tidak ada yang terlewati, hingga sampai lah di pengujung acara ditutup dengan makan nasi tumpeng bersama. Setelah itu, kami beranjak balik ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Jam menunjukan pukul 5 pagi tepat dimana kegiatan meditasi akan dilangsungkan, kami berkumpul di tempat yang sudah ditentukan semalam. Setelah semuanya berkumpul kami pun pergi ke Curug yang tak jauh dari Dusun Krecek tempat yang biasanya dipakai untuk bermeditasi warga Dusun. Pemandangan dan suasana Curug sangat mendukung kami untuk bermeditasi, setelah 15 menit meditasi satu persatu peserta menceritakan apa yang dibayangkan pada saat meditasi berlangsung. Setelah bermeditasi kami bersiap-siap untuk pergi dari Dusun Krecek karena acara kami di sana sudah berakhir. Aku dan Pace berpamitan dengan orang tua asuh kami di sana, dengan raut wajah sedih di campur bahagia kami salam dengan satu persatu anggota keluarga asih kami.

Kami berangkat menggunakan bis dari Gereja yang kami kunjingi kemarin, tujuan pertama hari ini ialah Wisata Umbul Jumprit yang berlokasi di daerah Jumprit. Air yang segar sejenak melupakan lelah kami selama perjalanan, mata air Umbul Jumprit ini pun merupakan satu-satunya air yang diambil untuk Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Setelah menikmati air segarnya kami beranjak pergi ke Wapitt (Wisata Alam Jumpit Temanggung) yang berlokasi tak jauh dari Umbul Jumprit, disambut dengan pepohonan yang tinggi nan rindang dengan kabut yang menyertainya membuat aku tak tahan ingin segera turun bis dan mengambil beberapa spot foto yang indah nan asri.

Kami turun dengan nuansa alam yang masih alami diiringi dengan suara musik band yang ada di sana, di sana terdapat pepohohan kopi dan strawberry hidroponik yang dikelola oleh mantan Bupati Temanggung. Tujuan dibentuknya Wapitt ialah sebagai pilot projek agar tempat lain yang serupa bisa berkembang menjadi objek wisata untuk Temanggung. Puas dan menyegarkan setelah menimati pesona alam Wapitt kami melanjutkan perjalanan menuju padepokan kuda luping Jaran Kepang. Berbagai kuda lumping yang sudah jadi dapat kami lihat di sini, mulai dari produksi 1950an hingga sekarang ada di sini terawat dengan rapi berjejer di dinding-dinding padepokan.

Akhir perjalanan kami untuk pergi ke Stasiun Weleri ke Stasiun Pasar Senen dan kembali beraktivitas seperti biasa. Jujur perjalanan yang menyedihkan bagiku untuk meninggalkan Temanggung dan seisinya setelah 3 hari berada di sana dengan banyak kesan menarik untuk dikenang.

_Wildan Mubarak – Alumni Peace Train Indonesia 11

Kandang Jaran Temanggung Jadi Destinasi Peace Train

Ada empat tempat yang menjadi tujuan Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung di hari terakhir pada Minggu (17/1). Keempat tempat tersebut adalah mata air Jumprit yang airnya biasa diambil untuk upacara Waisak, Wapitt: destinasi wisata alam di Temanggung, Kandang Jaran: tempat pembuatan Jaran Kepang kesenian khas Temanggung, dan Rumah Kita.

Para peserta mendapat pengetahuan tentang tanaman hidroponik dari Ir. Irawan Prasetyadi, MT., pemilik tempat wisata Wapitt. Selain itu, para peserta juga berdiskusi di Kandang Jaran. Kandang Jaran didirikan tahun 2010 oleh Supriwanto di Dusun Kembang Desa Dlimoyo Kecamatan Ngadirjo. Tahun 1931, pembuatan Jaran Kepang dimulai oleh Sang Mbah kemudian diteruskan oleh Sang Bapak pada tahun 1971. Supriwanto kemudian meneruskannya lagi setelah ia lulus sekolah.

“Membuat Jaran Kepang adalah panggilan jiwa sebab saya suka dengan kesenian Jaran Kepang. Saya ingin Jaran Kepang dikenal banyak orang. Orang-orang kadung tahu bahwa Jaran Kepang dikaitkan dengan mistis, padahal tidak.” Terangnya kepada para peserta.

Saat ini telah berdiri Paguyuban Jaran Kepang Temanggung (PJKT) dari 20 kecamatan pegiat Jaran Kepang dan menjadi trendsetter di wilayah Jawa Tengah. Terkait hal ini, Supriwanto mengaku bahwa alasannya adalah karena Jaran Kepang di Temanggung mengedepankan kreasi, bukan atraksi. Sementara itu, pemasaran Jaran Kepang di Kandang Jaran sudah sampai ke Malaysia.

Richard Riruma, peserta dari Papua menyatakan bahwa Peace Train merupakan langkah yang paling konkret dalam menghidupi toleransi di Indonesia. “Saya punya mimpi bahwa di Papua ada orang Papua yg beragama Hindu, Buddha atau agama-agama lainnya, dan mereka duduk sama-sama menghidupi toleransi.” Tegasya.

Perjalanan Peace Train 11 berakhir di Rumah Kita, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak muda untuk mengadu ide di Dusun Demangan, Kecamatan Ngaderjo, Kabupaten Temanggung.

Adi Budiawan, pengampu Rumah Kita berharap semua peserta bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari kunjungan-kunjungan dan bisa kembali ke Temanggung dengan melaksanakan kegiatan yang sama.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Kunjungi Klenteng, Peserta Peace Train 11 Belajar Tentang Agama Buddha

Tempat Ibadah Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti menjadi destinasi terakhir di hari pertama Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung.

Dipandu Bapak Pandita Edwin Nugraha, para peserta belajar tentang seluk-beluk agama Buddha termasuk tiga komponen Tri Darma dalam Buddha, tiga ajaran dari Buddha, Konghuchu, Lao-Tze.

“Masyarakat menjalani apa yg masing-masing disabdakan. Dalam ajaran agama Buddha, ada karma nasib, yakni nasib baik dan buruk. Semua ciri-cirinya sama. Ketiganya mesti ada.” Jelas Pandita Edwin kepada para peserta.

Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti didirikan tahun 1890, 130 tahun yang lalu. Klenteng dengan pengurus 8 orang ini biasanya rutin dikunjungi komunitas Gusdurian setiap tahunnya. Sayangnya, tahun 2020 lalu tidak ada kunjungan karena pandemi Covid-19.

Usai mengunjungi Klenteng, para peserta melanjutkan kegiatan Malam Budaya. Kegiatan diisi dengan bedah buku Ngaji Toleransi karya Gus Yahya. Dalam buku tersebut, Gus Yahya menceritakan pengalaman toleransinya sebagai santri dari kalangan pesantren yang mempelajari Islam sebagai agama inklusif dan kebanggannya menjadi orang Kaloran yang meskipun masyarakatnya berbeda-beda keyakinan tapi tak pernah ada konflik terjadi.

“Cita-cita saya adalah menjadikan Koleran sebagai wisata kota toleran.” Terangnya kepada para peserta.

Richard, peserta asal Papua menceritakan pengalaman toleransi di kampung halamannya dengan menceritakan tentang filosofi Satu Tungku Tiga Batu.

Selain itu, Kiky, peserta dari Tomohon juga bercerita tentang pengalaman toleransi di kampung halamannya di mana masyarakat di sana saling berbagi makanan satu sama lain dalam perayaan hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Paskah, dan Natal.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama Pak Sukoyo, Kepala Dusun Krecek. Acara juga dihadiri oleh Romo Fajar, Rektor Universitas Syailendra, Kades Getas, serta perwakilan Koramil dan kepolisian setempat.

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Merawat Kebinnekaan di Era Pandemi Melalui Kegiatan Peace Train

Pandemi Covid-19 tidak membuat semangat para peserta Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung meredup. Upaya merawat kebhinnekan di era pandemi tak boleh redup. Selain berkunjung ke tempat-tempat ibadah berbagai agama, salah satu tempat lain yang dikunjungi adalah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Acara dimulai dengan arahan dari Joko Prasetyono, Satgas Covid-19 Temanggung. Ia menegaskan bahwa kegiatan Peace Train 11 telah diizinkan Satgas Covid-19 sebab tetap mematuhi protokol kesehatan. Ia juga menjelaskan bahwa bencana terbagi menjadi dua yakni bencana alam dan bencaba di luar alam. Dahulu, bencana non-alam jarang populer, namun kini umat manusia menghadapi pandemi Covid-19.

Di Temanggung, orang yang terkonfirmasi virus Corona berjumlah 3.119 kasus. Saat ini, hanya tersisa 94 orang. Joko menegaskan bahwa para peserta Peace Train 11 mesti memastikan telah taat dengan protokol kesehatan.

“Jika badan merasa tidak sehat, maka harus segera istirahat.” Pesannya kepada para peserta yang berjumlah 15 orang.

Peace Train Indonesia kali ini membawa dua misi. Pertama, ajang bagi generasi muda dalam peran sertanya merawat kebinekaan dan perdamaian di era pandemi. Kedua, kampanye hidup sehat di era New Normal dengan selalu mematuhi protokal kesehatan yang diatur oleh pemerintah.

Nurdin Wahid, S.Pdi, Direktur Radio Santika FM di PCNU Temanggung menyatakan bahwa ia dan timnya siap mendampingi kegiatan Peace Train yang telah menginspirasi anak-anak muda. Menurutnya, Kabupaten Temanggung adalah kota yang tepat untuk dikunjungi sebab masyarakatnya memiliki latar belakang yang sangat beragam tapi tidak pernah ada konflik.

“Napas perjuangan Peace Train dan Radio Santika FM sama dan harus saling mendukung. Apa yang selama ini diperjuangkan oleh teman-teman di media cetak dan elektronik didukung oleh perjuangan edukasi yang dilakukan oleh Peace Train.” Terangnya.

Menurutnya, hidup di dunia harus belajar dengan kenyataan bahwa Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa dengan keberagaman. Bisa saja Tuhan menciptakan manusia dengan kesamaan tapi manusia diciptakan beragam, tergantung bagaimana menyikapi semua perbedaan yang ada.

Ia melanjutkan, “semakin kita dewasa dan berwawasan luas, perbedaan adalah sunnatullah. Allah Swt. menciptakan perbedaan untuk manusia, apakah perbedaan menjadi rahmat dan kasih sayang, ataukah menjadi sesuatu yang sangat merugikan.”

Kunjungan ditutup dengan wawancara para peserta oleh kru Radio Santika FM. Wawancara dilakukan dengan mekanisme physical distancing dan protokol kesehatan yang telah diatur oleh pemerintah.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Peace Train 11 Kunjungi Gereja Santo Petrus Paulus di Temanggung

Peace Train kembali digelar untuk yang ke-11 kali di Temanggung, Jawa Tengah. Peserta yang terlibat berjumlah 15 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 8 laki-laki. Peace Train 11 adalah kegiatan Peace Train pertama yang dilaksanakan selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Kunjungan toleransi pertama berlangsung di Gereja Santo Petrus Paulus, Kaloran, Temanggung. Dalam kunjungan tersebut, Yb. Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. memaparkan tentang sejarah Gereja Santo Yusuf yang berdiri tahun 1950 dan kondisi 40 gereja yang ada di Kabupaten Temanggung.

Selain itu, Romo Fajar juga menyampaikan tentang relasi umat Katolik dengan masyarakat non-katolik di Temanggung. Diskusi dengan peserta berlanjut, topik pembahasan sangat beragam, mulai dari politik identitas sampai politik internasional.

Kegiatan ini telah mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 Temanggung dan berlangsung sejak Jumat, 15 Januari 2021 sampai Minggu, 17 Januari 2021. Peace Train 11 menempuh rute Jakarta-Temanggung dengan tema kegiatan “Merawat Kebhinnekaan di Era Pandemi”.

Peserta berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Stasiun Waleri lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Desa Krecek.

Terkait kujungan ke gereja, Christy Yuhas Dini, peserta Peace Train dari kalangan Baha’i mengaku mendapatkan pengetahuan baru. “Terbukti bahwa ternyata ada nama Muslim yang ternyata seorang Romo. Kita tidak bisa menilai dari cover atau dari nama saja. Misalkan namaku, Christy, tapi tidak beragama Kristen.”

Ia menambahkan, “akar dari semua masalah adalah karena ketidaktahuan. Perlu ada dialog terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman.”

Peace Train diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang didukung oleh Demokrasi.id, Kabar Sejuk, Jaringan Gusdurian, Radio Santika FM, dan lain-lain.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Aku Berkereta, Maka Aku Ada: Sebuah Perjalanan Yang Belum Usai

(Refleksi Peace Train ke-11)

Oleh: Daeng Ahmad SM*

Kita diuji dengan adanya suatu kelompok yang mengira bahwa Allah tidak memberi petunjuk selain pada mereka

(Avicenna)

 

Inilah saatnya

melepas sepatu yang penuh kisah

meletakkan ransel yang penuh masalah

dan mandi mengusir rasa gerah

menenangkan jiwa yang gelisah.

Prolog: Pandemi Yang Merobek Kebhinnekaan

Sudah hampir setahun pandemi covid-19 ini dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pagebluk covid-19 ini tidak sekadar mengubah kebiasaan manusia, tapi juga mengubah banyak struktur masyarakat di berbagai sendi kehidupan. Protokol untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak digaungkan di mana-mana. Selain itu, perintah untuk menjauhi kerumunan dan tetap di rumah saja makin membawa manusia mengalami hari sabat terlamanya. Seolah, pandemi ini benar-benar menjadi jeda dari rutinitas manusia yang mekanis.

Di satu sisi, kondisi pandemi ini memunculkan banyak solidaritas antar kelompok atau komunitas untuk bahu membahu di tengah ombang-ambing keadaan yang menghancurkan hampir semua struktur kehidupan manusia. Bioskop tutup, sekolah berganti mode daring dan tentu saja kesenjangan sosial makin terasa, kondisi sosial-ekonomi guncang seketika. Selain terancam oleh virus mematikan ini, ancaman yang lainnya adalah kelaparan. Manusia seolah hanya punya dua pilihan, mati akibat corona, atau mati karena kelaparan.

Di sisi lainnya, solidaritas yang konstruktif tersebut diwarnai oleh aksi-aksi intoleransi di tengah kondisi huru-hara ini. Sehingga pandemi covid-19 dan intoleransi menjadi double kill bagi rakyat Indonesia di negeri berslogan Bhinneka Tunggal Ika ini. Kondisi pandemi seperti ini rupanya tak menyurutkan nafsu untuk melakukan tindakan intoleransi kepada kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan.

Kondisi pandemi yang dijadikan oleh sebagian orang untuk beribadah dan makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ternyata tidak digunakan baik oleh segelintir kelompok tertentu untuk melancarkan aksi intoleransiya. Masih segar di ingatan kita, bulan September 2020 lalu, terjadi empat kasus intoleransi sekaligus dalam sebulan. Bukannya September ceria, namun September kelabu.

Pertama, 1 September, terjadi pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas pendeta di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Kec. Napagaluh, Kab. Aceh Singkil. Kedua, 13 September, sekelompok orang mengganggu ibadah jemaat HKBP KSB di Kab. Bekasi. Ketiga, 20 September, terdapat penolakan ibadah yang dilakukan oleh sekelompok warga Graha Prima terhadap jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kec. Jonggol, Kab. Bogor. Keempat, 21 September, terjadi lagi pelarangan ibadah bagi umat Kristen di Desa Ngastemi, Kec. Bangsal, Kab. Mojokerto. (Sumber: Siaran Pers Setara Institute, 29 September 2020). (Baca juga: https://peacenews.yipci.org/sudahkah-kita-membalut-luka-nya/)

Jika ditarik lagi ke belakang, kasus intoleransi akan ditemukan tidak sedikit dan hari ini tidak mengalami penurunan meskipun virus covid-19 melanda, justru sebaliknya—mengalami eskalasi. Meski tak ada satu pun orang yang mampu meyakinkan kita kapan kondisi ini akan berakhir.

Belum selesai kasus intoleransi, paling tidak hingga bulan Januari, awal tahun 2021—negeri ini terus digempur oleh maraknya duka yang terus berdatangan. Di mana korban pagebluk ini tak jua menunjukkan penurunan kasus, justru sebaliknya, makin melangit. Lalu kabar duka datang dari pesawat yang jatuh yang menelan banyak korban jiwa, ditambah bencana alam menimpa berbagai daerah di Indonesia. Bertubi-tubi dan menambah panjang soal ujian sebagai manusia yang ternyata tidak berdaya apa-apa di hadapan kemahaan-Nya.

Inilah saatnya

Duduk bersama dan bicara.

Saling menghargai nyawa manusia.

Ahimsa,

tanpa kekerasan menjaga martabat bersama.

Anekanta,

memahami dan menghayati

keanekaan dalam kehidupan

bagaikan keanekaan di dalam alam.

Peace Train: Laku Meditasi Menemukan Diri

Membaca membuat manusia utuh, meditasi menjadi manusia yang mendalam, wacana menjadi manusia yang jernih” (Benjamin Franklin)

Meditasi atau samadhi adalah satu momentum menyelami kesadaran diri manusia. Masuk pada sebuah titik dimana kita memiliki diri kita sendiri. Titik dimana kita dapat memahami diri kita. Mengecek ulang apakah semua berjalan dengan pengetahuan kita, atau hanya berjalan mekanis oleh sebab kerumunan manusia lainnya berlaku demikian.

Perjalanan kunjungan ke berbagai tempat peziarahan, dari dusun Krecek, gereja, klenteng, sanggar (tempat ibadah Sapta Dharma), Umbul Jumprit hingga berbagai tempat lainnya adalah rute menyelami semesta ciptaan yang direfleksikan ke dalam diri. Perjalanan fisik atau tubuh material satu sisi membantu tubuh rohani berefleksi untuk melihat-Nya di semua ciptaan, melihat wajah kerahiman-Nya di segala sesuatu. Karena sesungguhnya Sang Pencipta tidak menyembunyikan diri dari mereka yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.

Tersebutlah satu ungkapan dalam mistik Islam bahwa “mengenal diri sama dengan mengenal Sang Pencipta”, manusia dapat melihat pancaran atau emanasi Sang Pencipta dalam dirinya sendiri dan seluruh ciptaan lainnya. Dia sesungguhnya dekat, tak pernah jauh di sana. Melalui dan menziarahi beberapa tempat selama Peace Train berjalan adalah upaya untuk mendalami lebih dekat tiap detail dari ragam ciptaan-Nya yang bertebaran di muka bumi. Mengunjungi tempat di mana nama-Nya disebut dan dimuliakan, membawa manusia sekaligus mensyukuri kebhinnekaan yang telah tercipta, bahwa kebhinnekaan tersebut disyukuri dengan cara merayakannya, bukan memperdebatkannya.

Kahlil Gibran dalam salah satu syairnya juga pernah memberitahu kepada umat manusia bahwa Sang Pencipta juga melingkupi semesta ini, “kalau kamu ingin mengenal Tuhan, maka janganlah menjadi pemecah masalah”, kata penyair kelahiran Lebanon itu. “Lihatlah saja sekelilingmu berada, engkau akan melihat Dia dan anak-anakmu bermain bersama. Dan layangkanlah pandangmu ke angkasa. Kau akan melihat-Nya berjalan diantara mega, menjulurkan tangan-Nya dalam guntur datang melalui hujan yang turun. Kau akan melihatnya tersenyum diantara bunga-bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan di pucuk pepohonan”.

Dari perjalanan singkat kurang lebih 3 hari dan 2 malam tersebut, laku serta refleksi dalam Peace Train kali ini membawa batin pesertanya ke dalam renungan pengalaman jasmani, pengalaman rohani atau spiritual serta pengalaman tentang kediriannya. Menyelami hikmah dan merefleksikannya ke dalam diri dari tiap-tiap peristiwa serta menghayati keugaharian dari tiap-tiap orang yang ditemui dalam perjalanan.

Epilog: Menjadi Kereta, Merawat Kebhinnekaan

Menerima hidup bersama

dengan golongan-golongan yang berbeda.

Lalu duduk berunding

tidak untuk berseragam

tetapi untuk membuat agenda bersama.

Di akhir perjumpaan para peserta Peace Train, di atas tanah Kabupaten Temanggung yang baru usai diguyur hujan, beberapa peserta mengutarakan tentang waktu perjumpaan yang dirasa kurang, acaranya dirasa terlalu sebentar, Peace Train ini dirasa begitu singkat. Hal ini mungkin bukan soal yang besar, karena saat ini kita adalah train atau kereta itu sendiri. Kali ini kita tidak lagi menumpang di atas kereta, tetapi justru kita adalah kereta itu sendiri.

Sudah saatnya kita menjadi kereta bagi orang yang lain, menjadi kereta yang membawa penumpangnya dari stasiun satu ke stasiun lainnya, menyambungkan kota-kota yang berbeda, menyambungkan mereka yang terpaut jarak, mendekatkan yang jauh. Demikianlah kita menjadi kereta di tiap baris kehidupan kita, menjadi penghubung banyak kota—menjadi penghubung banyak umat manusia yang penuh ragam perbedaan. Mendekatkan perbedaan, menyatukannya dalam irama harmoni kehidupan yang puspa warna.

Lepas kereta api mengantar para pesertanya pulang ke peraduannya masing-masing—ini jelasn bukan berarti akhir dari perjalanan, namun justru awal dari perjalanan baru yang sebenarnya. Dalam satu lingkaran yang sama ketika pelatihan berlangsung, suasana damai dan harmoni terjalin dengan indah antar para peserta yang berbeda latar belakang kota, agama, suku dan komunitasnya. Tanpa disadari bahwa perjalanan sebenarnya baru saja dimulai setelah mereka semua tiba di peraduan masing-masing, di kota atau di lokasi kita berada, berinteraksi, bertumbuh, berdinamika, dan menemukan makna. Perjalanan yang sebenarnya adalah perjalanan yang tak berujung di tengah realitas kehidupan sehari-hari, yang kita lihat di televisi, di jalan-jalan hingga di media sosial dalam genggaman kita, serta semua hal yang tampil di hadapan mata kita.

Kita adalah kereta itu sendiri, yang terus melaju dan singgah di tiap perhentian di stasiun demi stasiun. Kita singgah di tiap stasiun pengalaman sehari-hari. Di tiap stasiun tersebut kita mengangkut penumpang yang beragam. Menemani para penumpang bertemu tujuannya. Hingga ke tujuan yang hakiki, ke sebuah tempat yang tak ada lagi penghakiman atas pilihan-pilihan pribadi manusia, ke tempat yang penuh penghargaan atas martabat manusia, ke tempat di mana manusia memuliakan Sang Pencipta dengan cara memuliakan ciptaan-Nya.

Namun, sekali lagi, tujuan kita yang hakiki yang berjarak ratusan mil di depan, tidak akan tercapai tanpa memulai satu meter pertama bukan?

Inilah saatnya

Inilah saatnya.

Ya, saudara-saudariku.

Inilah saatnya bagi kita.

Di antara tiga gunung

memeluk rembulan.

(WS. Rendra – “Inilah Saatnya”)

 

Pulang-Pergi Yogyakarta dan Temanggung,

Di atas tanah Ngayogyakarta Hadiningrat,

19 Januari 2021.

 

* Peserta Peace Train ke-11

(Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia)

(Mahasiswa Pascasarjana Fak. Teologi UKDW Yogyakarta)