Wisata Alam Merajut Kebhinekaan

[dropcap]K[/dropcap]ajian Salam merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi lintas iman di Jakarta, Indonesian Conference on Religion and peace (ICRP) sebagai respon atas ide-ide dan tindakan intoleran yang marak terjadi di Indonesia. Wacana yang dibangun dan hendak dibumikan adalah tentang Islam yang ramah, toleran dan mengayomi semua makhluk Tuhan.

Kali ini Kelompok Kajian Salam mengadakan edutrip ke Banten (7/03). Para peserta tidak hanya dari kelompok kajian, tetapi terbuka untuk siapa saja yang tertarik mengikuti. Lintas golongan,usia dan juga keyakinan.

Diawali dengan kunjungan ke Museum Multatuli di daerah Rangkas Bitung, para peserta mengenal dan melihat jejak Multatuli, seorang tokoh Belanda yang menentang kolonialisme pada masa penjajahan. Karyanya yang terkenal dan banyak mempengaruhi tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia adalah Max Havelaar.

Setelah dari Rangkas Bitung, kami bertolak menuju Malingping untuk menikmati makanan khasnya, yaitu Ceu Bay. Bakso ikan tenggiri dengan kuah yang khas. Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju desa Sawarna, desa yang cukup terkenal akan keindahan pantainya.

Selain jalan-jalan, yang tidak kalah penting dari acara ini adalah sesi tausiyah keagamaan yang diisi oleh Musdah Mulia, pembina ICRP. Para peserta menyimak dengan seksama.

Musdah menyampaikan tentang misi penciptaan manusia. Bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, yakni leader dan manager untuk kehidupan di bumi. Misi utamanya adalah amar ma’ruf nahi munkar, yakni melakukan upaya-upaya transformasi untuk menyebarkan spirit kebaikan, memanusiakan manusia dan semua dimulai dari diri sendiri.

Pada akhirnya, perjalan ini membawa harapan, bahwa keindahan pantai Sawarna dan kekayaan alam Banten mampu mengingatkan kita semua akan Tuhan yang Maha Indah, Maha Penyayang. Menjadi tugas kita bersama untuk merawatnya. Para peserta pulang dengan hati yang damai dan penuh suka cita. (Amna)

Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi

Menandai awal tahun 2020, Club Islam Salam kembali menggelar kajian di Kantor Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP), Cempaka Putih Barat XXI No. 34, Jakarta Pusat pada hari Rabu, 22/1/2020.

[dropcap]T[/dropcap]ema kali ini adalah Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi. Dari waktu ke waktu, makna hijrah mengalami pergeseran. Kita sering mendengar orang-orang berhijrah kemudian menutup diri dari pergaulan. Banyak yang hijrah dan tidak bisa menerima perbedaan. Berbagai praktik diskriminasi, persekusi dan intoleransi pun kian menguat akhir-akhir ini.

Lalu, apa makna hijrah yang sebenarnya? Menilik arti katanya, hijrah berarti meninggalkan. Menurut Ragib Al-Isfahani, istilah hijrah ini mengacu pada tiga hal. Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai. Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS. Al-Ankabut: 29:26). Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mengontrol hawa nafsu: “Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan segala yang dibenci Allah.” (HR. Bukhori).

Dalam konteks Islam, peristiwa hijrah dikaitkan dengan aktivitas Nabi Muhammad saw yang meninggalkan Kota Mekkah ke Madinah. Saat di Mekkah, Nabi saw menghadapi masa-masa berat penuh ancaman dan penderitaan. Nabi kemudian berhijrah ke Madinah. Di sana, beliau diangkat menjadi kepala negara dan memegang kekuasaan politik. Disinilah, hijrah menjadi momentum perubahan dan pembebasan umat Islam dari semua belenggu diskriminasi dan kezaliman.

Masyarakat Madinah yang majemuk diikat dalam sebuah tali persaudaraan atau ukhuwah. Selain ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman), diperkenalkan pula ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Melalui persaudaraan umat Islam diajarkan untuk menghayati perbedaan dan keberagaman. Nabi saw juga memberi tanggung jawab yang sama bagi semua golongan untuk memelihara keamanan dan ketertiban. Mereka diberi hak, kesempatan serta jaminan yang sama, sehingga tidak ada yang mendominasi serta memaksakan kehendaknya satu sama lain.

Masyarakat Indonesia seharusnya mengaca pada teladan Nabi saw. Hijrah bukannya membuat kelompok dan golongan saling gontok-gontokan dan merasa diri paling benar. Hijrah seharusnya menjadi momentum perubahan dan transformasi sosial. Melalui semangat hijrah, seharusnya umat Islam terdepan dalam memberantas KKN; menghapus diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan. Terakhir, kita harus melek ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terbelakang.

Pewarta: Siti Rubaidah