Gus Sholah, Tokoh Moderat Penjaga dan Pengisi Kebangsaan Indonesia

Resensi Buku: Sahlul Fuad, dkk (eds.), Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat. Tebuireng: Penerbit Tebuireng, 2021. 542 h.

Budhy Munawar Rachman

KH. Salahuddin Wahid merupakan salah satu tokoh Islam Indonesia yang dikenal sebagai sosok ulama moderat dan nasionalis. Hal ini terlihat dari kiprah dan karyanya yang dijadikan banyak referensi oleh tokoh-tokoh nasional di tanah air, sebagaimana dalam buku, Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat, yang terbit baru-baru ini.

Buku ini meneguhkan kesaksian keluarga besar Gus Sholah, dan masyarakat luas, bahwa sesungguhnya Gus Sholah itu adalah insan yang khair (baik) Hal-hal baik tentang Gus Sholah yang terekam dalam buku ini akan menjadi teladan dan diteladani oleh anak-anak muda Nahdliyin, dan anak-anak muda pada umumnya, sesuai dengan mimpi Gus Sholah selama masih hayat, yang mendambakan anak-anak muda tampil sebagai kelompok masyarakat yang bertanggungjawab, baik sebagai warga bangsa maupun sebagai umat suatu agama.

Selama hidupnya Gus Sholah dikenal sebagai seorang kolumnis dan penulis produktif. Beberapa buku karyanya, mengangkat berbagai topik dan isu. Kebanyakan adalah gagasan dan pemikiran mengenai ideologi Pancasila, demokrasi dan politik, isu sosial kemasyarakatan, masalah korupsi di Indonesia yang kian akut, tentang pendidikan, dan tidak ketinggalan adalah tulisan tentang NU dan problematikanya. Gus Sholah melanjutkan perjuangan sang ayah dan kakeknya dalam memperjuangkan Islam di Indonesia. Melalui karyanya Memadukan Keislaman dan Kebangsaan, yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng, beliau banyak memaparkan pandangan kebangsaan. Sejauh ini ia selalu mengingatkan bahwa Indonesia dan Islam memiliki hubungan romantisme yang baik. Tidak ada yang berbenturan antara satu dengan yang lain.

Dengan melihat perkembangan situasi kebangsaan yang memprihatinkan, Gus Sholah membentuk Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (PKPHAT) untuk mempersatukan umat Islam yang kian di ambang perpecahan. Pusat kajian tersebut mempunyai kepentingan dan kewajiban melakukan al-muhafadhah, meresapkan, mengaktualisasikan, dan mengimplementasi pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Konsep yang ditawarkan menjadi bentuk rekonsiliasi konflik internal di dalam kaum nahdliyin, konflik internal di dalam Islam, dan konflik yang melanda dunia internasional. Konsep yang digunakan adalah konsep al-ishlahiyah (akomodatif) dan at-tawasuthiyah (moderat). Pesan kebangsaan itu pada dasarnya mengingatkan kembali kepada bangsa Indonesia akan cita-cita besar para pendiri bangsa yang tidak mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan.

Gus Solah mengingatkan agar NKRI dan Pancasila yang merupakan hasil pemikiran para pendiri bangsa dari berbagai golongan tetap dijaga. “Perpaduan keindonesiaan dan keislaman yang merupakan faktor utama persatuan Indonesia serta berpotensi menjadi model bagi dunia harus kita kawal dan rawat bersama,” tegasnya. Inilah gambaran dakwah kebangsaan Gus Sholah dengan jiwa komitmennya menjaga persatuan kebangsaan demi merealisasikan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia tidak sekedar dokumen atau ucapan, tapi juga secara nyata dirasakan oleh masyarakat bangsa Indonesia.

Pada kolom bertajuk “Belum (Sepenuhnya) Menjadi Indonesia” yang terbit di Kompas, Gus Sholah jeli menyorot turunnya sentimen kesukuan di Indonesia. Namun begitu, sentimen keagamaan justru muncul sebagai masalah baru. Konflik-konflik baru pun muncul, di antaranya polemik GKI Yasmin di Bogor, warga anggota jemaah Ahmadiyah Indonesia di sejumlah tempat, dan pengikut Syiah di Sampang. Melihat perkembangan intoleransi yang demikian itu Gus Sholah tak segan mengkritik egoisme keagamaan sejumlah kalangan umat Islam.

Menurutnya, banyak umat Islam dan tokoh-tokohnya tidak mampu memisahkan atau membedakan antara masalah keagamaan dan masalah kenegaraan. Kasus yang menimpa warga Syiah di Sampang menunjukkan bahwa warga hanya memakai hukum Islam (menurut tafsiran mereka) sebagai dasar tindakan, tanpa mau tahu bahwa warga pengikut Syiah itu warga negara Indonesia yang punya hak untuk hidup.

Selian itu, sebagaimana pengakuan Romo Benny Soesatyo (h. 377), Gus Sholah kerap mencari solusi perdamaian terkait konflik-konflik yang melanda sejumlah daerah seperti di Papua, Ambon, dan Poso bersama tokoh lintas agama. Beliau konsisten dalam masalah memperjuangkan nilai kemanusiaan yang universal dan selalu berupaya menjaga agar bangsa ini selalu tunduk konstitusi.

Sebagaimana kesaksian Haedar Nashir (Ketua PP. Muhammadiyah) dalam buku ini, perhatian Gus Sholah pada dunia pendidikan sangat luar biasa, terutama untuk pengembangan pendidikan Islam yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni. (h. 391). Gus Sholah, menurut Haedar, adalah sosok yang rendah hati, bergaul luas dengan banyak kalangan, moderat, memiliki komitmen keislaman yang kuat, dan visi kebangsaan yang luas. Gus Sholah, berkomitmen kuat pada demokrasi dan hak asasi manusia dengan konsisten. (h. 387)

Peran dan aktivitas Gus Sholah di bidang Hak Asasi Manusia barangkali juga tidak banyak diketahui publik. Gus Sholah merupakan anggota Komnas HAM periode 2002-2007. Dalam penyelidikan kasus kerusuhan Mei 1998, Gus Sholah berperan sebagai ketua tim penyelidik. Memasuki awal 2000-an, Gus Sholah semakin dekat dengan dunia politik. Kiprah politiknya mencuat ketika bergabung dengan Partai Kebangkitan Umat dan dianggap berseberangan pandangan dengan Gus Dur. Pada Pilpres 2004 Gus Sholah dipinang sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto. Pengalamannya mengikuti kontes pilpres ini juga sempat dituliskannya dalam sebuah buku.

Selain sebagai arsitek, penulis, dan aktivis HAM, Gus Sholah juga berkarya dalam bidang pendidikan. Pada 2006 ketika kembali ke Tebuireng sebagai pengasuh pondok pesantren, Gus Sholah segera mencurahkan pemikiran serta daya tenaganya untuk membenahi pesantren tersebut. Gus Sholah mewarisi prinsip pengajaran Hadratussyaikh Hasyim Asyari dan KH. Wahid Wahid Hasyim yang menekankan perlunya seorang santri mengaktualisasikan ilmu dan pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Oleh Gus Sholah, prinsip tersebut kemudian diakselerasikan secara lebih progresif. Tebuireng dibenahinya tidak hanya secara fisik dengan merenovasi bangunan, tapi juga mendorong para pengurus, guru, dan karyawannya untuk bekerja lebih profesional. Baginya pesantren merupakan salah satu pilar penting yang menopang masa depan bangsa Indonesia. Menurut sejarahnya pesantren bahkan telah ikut membangun bangsa dengan membentuk manusia-manusia berkarakter.

Gus Sholah memiliki pola pandang yang runtut dalam menyampaikan gagasan-gagasanya yang memenuhi logical framework yang ajeg, tidak meloncat-loncat. Pemikirannya jika direkam, maka rekaman itu manakala ditranskrip sudah bisa menjadi tulisan yang runtut dan bisa dipahami alur pikiran besarnya. Karena itulah tidak heran jika Gus Sholah dinilai sebagai sedikit dari tokoh NU yang mampu menulis di media massa, bahkan amal jariyah dalam bentuk buku pun banyak kita dapati di toko buku atau lewat e-book.

Menurut Ali Masykur Musa (h. 362), salah satu yang kuat dari pemikiran Gus Sholah adalah kemampuannya mengurai hubungan Islam dan negara yang tidak saling diperhadapkan. Islam dan negara adalah mutual simbiotik yang saling mencerahkan. Gus Sholah memaparkan bahwa gerakan Islam mempunyai konstribusi yang besar bagi lahirnya NKRI sejak jaman penjajahan maupun jaman perjuangan kemerdekaan. Gerakan Islam itu dilakukan oleh hampir seluruh organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam dan lain sebagainya. Oleh karena itu Gus Sholah sangat aktif menggalakkan ukhuwah Islamiyah. Misalnya, Gus Sholah aktif di ICMI, di saat banyak orang NU tidak menyukainya, seperti ditunjukkan oleh Gus Dur, Sang Kakak.

Gus Sholah yang juga adik kandung dari Gus Dur merupakan tokoh Islam nasional yang pernah menduduki jabatan strategis di Indonesia. Ia pernah jadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di awal periode reformasi 1998. Gus Solah juga pernah jadi calon wakil presiden pada 2004 mendampingi Wiranto. Di luar politik, Gus Solah adalah mengasuh pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur dan merupakan salah satu sesepuh di ormas Islam besar Nahdlatul Ulama. Ia tercatat pernah menjadi anggota MPR dalam periode singkat 1998-1999. Menjelang Pemilu 1999, Gus Sholah terlibat lebih intens lagi dalam politik. Saat itu sejumlah tokoh NU terlihat berlomba-lomba bikin partai. Ada PKB yang dikomando oleh Gus Dur dan Mathori Abdul Jalil, juga Partai Nahdlatul Ummat (PNU) dan Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI).

Gus Sholah senantiasa mampu membalut kejujuran dengan kesantunan dan kelembutan dalam berinteraksi maupun bertutur. Sama halnya dengan Gus Dur, sekalipun tidak lagi terlibat dalam jabatan formal struktural di organisasi pemerintahan atau di lembaga politik atau lembaga sosial, Gus Sholah tetap memiliki peran sentral di tengah masyarakat.

Ketika bangsa ini menghadapi berbagai persoalan atau isu krusial, Gus Sholah seringkali menjadi narasumber insan media untuk ditulis opininya. Sikap, pandangan dan opininya selalu lugas, jernih, jujur dan tidak ambigu. Sebagai figur yang tidak memiliki persoalan dan cacat moral di masa lalu, Gus Sholah tidak memiliki beban apa pun ketika menyampaikan pandangan kritisnya terhadap suatu masalah atau isu. Bolak-balik Jombang-Jakarta, menghadiri diskusi atau seminar yang satu ke diskusi dan seminar yang lain. Atau menerima tamu dari berbagai kalangan yang terus datang ke kediamannya, baik di Jakarta maupun di Jombang. Itulah keseharian Gus Sholah.

Gus Sholah terus menulis sampai menjelang akhir hayatnya. Sakit bukanlah batas, karena ia tetap meluangkan waktu menulis dengan ponselnya. Satu tulisan terakhir Gus Sholah kembali diterbitkan oleh Kompas, 27 Januari 2020. Dalam tulisan berjudul “Refleksi 94 Tahun NU” itu Gus Sholah mengingatkan pengurus dan warga NU agar tak melulu berasyik-masyuk dengan politik. Alasannya, “Pengalaman sejarah membuktikan bahwa karena organisasi NU memberi perhatian utama pada masalah politik, maka kegiatan organisasi dalam amal usaha (kegiatan pendidikan, sosial, kesehatan, dan ekonomi) terabaikan.”

Gus Sholah mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, pada Minggu, 2 Februari 2020. Beliau adalah salah seorang ulama, tokoh politik, tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), juga tokoh pemikir yang asalnya dari Jombang. Tokoh yang juga salah satu putra daerah dari trah keluarganya menghasilkan banyak tokoh besar. Putra ketiga dari enam bersaudara putra-putri KH Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholihah putri KH. Bisri Sansuri. Ia juga adik kandung dari Mantan presiden ke empat, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Meski menjadi putra kiai, Gus Solah memperoleh pendidikan cukup berbeda dengan saudaranya, Gus Dur. Jika Gus Dur lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren, Gus Solah malah banyak menempuh pendidikan umum mulai dari SD Perwari Salemba, SMP Negeri 1 Cikini lanjut SMA Negeri 1 Budi Utomo hingga menamatkan kulaihnya di jurusan Arsitek ITB.

Buku ini mendokumentasikan kiprah Gus Solah dalam menjaga dan mengisi kebangsaan Indonesia. [ ]

 

Budhy Munawar Rachman, Program Officer Islam and Development The Asia Foundation

“Kristen Bertanya, Muslim Menjawab” karya Ahmad Nurcholish

Menjelajahi buku ini, kita dibawa ke pengembaraan dan dialog spritualitas yang sejuk. Mengundang tanya dan rasa ingin tahu, serta mencerahkan. Buku ini menunjukkan, bahwa untuk menjawab pertanyaan yang rada rada serem-pun tidak perlu harus dengan diksi dan kalimat kalimat seram.

[dropcap]P[/dropcap]eluncuran buku secara daring ( on line – karena dalam suasana PSBB) beberapa minggu yang lalu, yang dihadiri banyak orang – sekitar 100 orang, menampilkan tiga pembahas yang sangat kompeten. Ada Pdt. Gomar Gultom – Ketum PGI, Romo Jo Hariyanto – Sekum ICRP, dan ibu Susi Ivvaty (Founder alif.id). Beberapa pandangan, harapan, apresiasi dan masukan diberikan. Yang intinya bagaimana dalam rumah bersama Indonesia ini dialog antar iman tersebut menjadi sesuatu yang konstruktif, kolaboratif dan memberi kontribusi dalam semangat kebhinnekaan keluarga besar Indonesia.

Beberapa pertanyaan yang kritis disampaikan terhadap refleksi dan ekspektasi para penanggap tersebut, mendapat jawaban secara proporsional. Bung Jerry Sumampow sebagai host moderator dapat mengatur lalu lintas diskusi – sambil ngabuburit on line tersebut dengan baik.

Dengan menyimak daftar dan sambutan dari berbagai kalangan pada bagian awal buku ini, sesungguhnya telah menunjukkan kelas sosial dan kasta pergaulan spritualitas penulisnya. Penulis, yang menyandang nama Nurcholish di belakangnya, tidak berada di bawah bayang bayang kebesaran alm. Nurcholish Madjid, sang cendekiawan muslim par excellence pada zamannya. Tetapi justru mempertegas benang biru DNA tradisi kecendekiawanan mereka sebagai keluarga muslim yang inklusif, toleran dan mempraktekkan bahwa agama itu adalah rahmat untuk manusia dan kemanusiaan kita.

Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesia Conference on Religion And Peace (ICRP) menyimpulkan dengan tepat “Letak penting buku ini adalah menjelaskan ajaran Islam yang benar dan kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sehingga selaras dengan prinsip demokrasi dan pluralisme beragama, serta juga selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia.

Jawaban jawaban yang diberikan tidak menunjukkan adanya kepongahan rohani, debat kusir apologetik – meminjam istilah Pdt Albertus Patty. Buku ini juga menjawab hoax yang lagi subur suburnya berseliweran di jagat maya Indonesia. Buku ini merupakan menu yang pas bagi penggemar kuliner “berkuah” ukhuwah wahtoniyah maupun ukhuwah basyariyah, meminjam istilah KH M. Cheng Hoo Djadi Galapajo.

Buku ini adalah seteguk oase yang dirindukan

Walau cukup tebal, 530 halaman, 7 bagian, di luar sambutan dan daftar pustaka, sesungguhnya isinya dapat kita cerna dengan santai. Sambil mendengar lagu lagu top hit dari spotify misalnya. Tidak membosankan.

Cara menjawab Cak Nurcholish yang terkadang jenaka, tetapi mengena dan walau sedikit diambangkan bagi saya sangat terasa pas. Beberapa bagian saya coba cuplik ya.
Pada Bagian I hal Kitab Suci dan Kenabian Muhammad, ada yang bertanya apa alasan Nabi Berpoligami.

Saya memperhatikan struktur cara menjawab Cak Ahmad yang cukup jitu. Ada simpati kepada para wanita yang mungkin mempertanyakan dan menolak praktek tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan alasan historis, alasan teologis, dan kondisi faktual pada zaman Nabi, terutama akibat kekalahan pada perang Uhud yang menyisakan banyak anak yatim dan janda-janda, yang tidak terlalu percaya kepada sebagian wali yang lebih tertarik kepada harta almarhum dibanding untuk melindungi anak anak itu. Juga dijelaskan bahwa Nabi berpoligami selang tiga atau empat tahun setelah isteri pertama beliau meninggal, dan yang dinikahi tersebut adalah para janda. Penulis juga menjelaskan bahwa tradisi poligami itu telah ada jauh sebelum masa Nabi. Nabi mengaturnya agar memenuhi unsur keadilan.

Atas pertanyaan di bagian II tentang Jilbab, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi, ada pertanyaan, apakah hijab dan cadar, kewajiban agama atau budaya Arab. Beliau mengutip beberapa pandangan, termasuk yang bertolak belakang, misalnya pendapat Al-Qurtubi. Pendapat yang mengaitkan bahwa orang Arab meniru agama Persia lama, yang mewajibkan atau juga yang tidak memerintahkan dan tidak melarang juga dikutip. Penulis juga mengaitkan praktek berjilbab di Indonesia yang mulai marak pasca revolusi Iran. Didukung oleh industri fashion, sehingga menjadi pakaian populer bagi wanita muslim.

Akan halnya cadar, penulis juga menanggapi secara hati hati. Ada pernah stigmatisasi terkait dengan bom bali, di mana isteri isteri para pelaku semuanya bercadar. Penulis tidak jelas menanggapi pertanyaan itu. Tapi menutupnya dengan cerdas.. asal usul wanita bercadar, tidak penting dijadikan perdebatan apalagi sampai mengecam agama dan mencaci masyarakat tertentu.

Pertanyaan pertanyaan yang diajukan cukup tajam.

Pada bagian V misalnya hal Negara, Khilafah dan Kepemimpinan. Pertanyaan pertanyaan yang didialogkan sangat tajam. Misalnya, Adakah perintah membuat Negara Islam ?. Apa makna jihad yang sesungguhnya. Kenapa banyak umat Islam menuntut Israel. Bolehkah memilih Pemimpin non Muslim dalam Islam… dan banyak pertanyaan menarik lainnya.

Model menjawab pertanyaan ala Ahmad Nurcholish relatif seperti dua hal di atas. Beliau sadar bahwa misi buku ini adalah untuk mengkomunikasikan hal hal secara umum, menghilangkan prasangka yang salah, dan menunjukkan nilai nilai universalitas di dalamnya. Beliau mencoba meluruskan beberapa hal yang sering menjadi isu yang hangat atau kontroversial di masyarakat.
Bagian akhir atau bagian VII dari Kitab ini bertema “Dari dialog Kristen-Islam menuju Indonesia Damai”. Bagian ini tidak menyangkut pertanyaan-pertanyaan sebagaimana pada enam bab sebelumnya. Bagian VII ini merupakan perjalanan sejarah perjalanan dialog dan kerukunan antar umat beragama, yang menjadi dasar penting bagi terwujudnya perdamaian. Bab tersebut berisi prinsip dalam dialog, Tiga pendekatan dialog, yakni pendekatan teologis, pendekatan kultur atau budaya serta pendekatan politis. Bab ini juga mencatat adanya tiga tantangan perdamaian di bumi, yaitu : menguatnya kelompok radikal keagamaan yang bekerja masif, pendidikan agama yang eksklusif doktrinal, serta menguatnya kelompok mayoritas diam, yang hanya mengandalkan kata prihatin, mengutuk keras dan menyayangkan tindakan kekerasan atau radikalisme (agama) yang kerap terjadi di masyarakat.

Pemilihan judul yang mendahulukan kata Kristen dari Islam pada bagian terakhir ini menunjukkan kecerdasan sosial, simpati dan elegansi seorang Ahmad Nurcholish, yang mewongke rekan saudaranya. Konsisten dengan cara menyapanya kepada rekan rekan Kristen penanya dengan misalnya… Shalom Saudaraku yang diberkati Tuhan.

Bagi saya, kehadiran buku ini – sekali lagi – sangat bermakna berkontribusi untuk menciptakan dan membangun kedamaian dan adab Nusantara yang damai. Ibarat air dari oase yang ngademin dan ngangeni untuk diteguk berkali-kali, di tengah kegersangan dan hawa yang tidak terlalu adem ini.

Jakarta, Mei 2020
Peresensi : Sampe L. Purba
Penikmat dan Pecinta Budaya Nusantara