[:id]kolom ulil abshar abdalla, tulisan khusus yang ditulis oleh intelektual muda islam ulil abshar abdalla[:]

Bersikap Adil dengan Prancis

Pidato Presiden Prancis, Emmanuel Macron, 2 Oktober 2020 di Les Mureaux, menimbulkan kecaman dari berbagai umat Muslim di dunia. Kecaman tersebut juga muncul di Indonesia yang memiliki umat Muslim terbanyak di dunia. Masyarakat Muslim di Indonesia menuntut Emmanuel Marcon untuk meminta maaf dan beramai-ramai melakukan aksi demo bahkan mengajak untuk memboikot semua produk Prancis.

Dalam webinar “Kontroversi Presiden Macron & Islam: Bagaimana sikap Kita?” yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) dan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, hari Kamis, 5 November 2020. Ulil Abshar Abdalla menyampaikan bahwa ia harus fair dengan Prancis.

“Seringkali narasi pemerintah atau kebijakan pemerintah terjemahannya dalam lapangan distorsinya banyak, kenyataan di lapangan bisa lain.” kritik Ulil.

“Ada seorang perempuan berjilbab mengikuti kompetisi menyanyi di Prancis, sempat masuk hingga putaran akhir tapi terpaksa mundur, ia dibully karena punya sikap pro Palestina. To be fair dengan Prancis, karena Prancis secara eksplisit menolak saat Amerika meminta seluruh negara di Eropa mendukung Bush untuk menyerang Irak. Misalnya lagi, ketika Trump dengan kebijakannya mendorong semua negara mengalihkan kedubesnya ke Yerusalem, Prancis termasuk negara yang menolak itu.”

“Saya mengagumi Prancis karena peradaban ini besar tapi saya jengkel juga karena Prancis ada sombong-sombognya memang. Tapi memang kesombongan dan arogansi Prancis itu perlu di kritik. Saya di satu pihak memuji Prancis tapi juga mengkritik Prancis. Saya simpati kepada masyakrat Muslim di Prancis tapi pada saat yang sama saya juga mengkritik masyarakat Muslim di Prancis, tidak bisa terus menerus mempertahankan nilai-nilai Islam mereka yang dibawa dari Tunisia, Maroko, Aljazair tapi juga harus memperhatikan nila-nilai republik yang ada di Prancis.” Ungkap Ulil dalam webinar tersebut.

Saya sependapat bahwa kita memang harus fair terhadap Prancis, bentuk diskriminasi atau kekerasan dalam bentuk apapun memang tidak dapat dibenarkan dan saya ingin mengutip apa yang disampaikan Syafiq Hasyim, intelektual Nahdlatul Ulama (NU), dalam diskusi di Cokro TV (30/10): “Bagaimana mungkin negara seperti Prancis harus mengurangi tradisi kebebasan berekspresi yang sudah dibangun berabad-abad untuk mentolerir satu nilai baru, seperti penghormatan ke orang suci, yang masuk ke negara itu?

Macron, membela Majalah Charlie Hebdo yang mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad karena menurutnya itu adalah kebebasan berbicara dan berekspresi di negaranya.

Perlu diketahui pula, Macron selama pemerintahannya mempromosikan Islam des Lumières  (Islam Pencerahan). Macron hendak memutus mata rantai ekstrimisme dan radikalisme keagamaan yang dalam tahun-tahun belakangan kerap terjadi di Prancis. Islam Pencerahan dengan yang dimaksud Marcon mungkin mirip dengan Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan di Indonesia, yaitu sebuah Islam yang khas Prancis dan tidak dipengaruhi atau dikontrol oleh negara-negara Timur Tengah; sebuah Islam yang beradaptasi atau berakulturasi dengan identitas dan karakter budaya Prancis.

(Paragraf terakhir diambil dari https://pmb.lipi.go.id/macron-vs-islam-benturan-budaya/?fbclid=IwAR3A_S0y4OTnTNC3MquUNVUljCxZY3uz51BweGZs0MTdHHLLhXBHUc14W8U)

Sumber ilustrasi: https://www.wartaekonomi.co.id/read140455/pidato-pertama-macron-usai-menang-di-pilpres

Zakir Naik

[:id]Sekali Lagi Tentang Zakir Naik, Plus Ahmad Deedat [:]

[:id]

Zakir Naik

Zakir Naik

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Di era modern, salah satu tokoh yang banyak dikenal masyarakat Islam adalah sosok bernama Ahmad Deedat (1918-2005), seorang polemikus ulung dari Afrika Selatan. Dia mempopulerkan kembali tradisi apologetika yang sudah berkembang di era klasik Islam, dengan gaya yang sangat populer. Saya ingin menyebut, Deedat adalah apologet (ahli apologetika) Muslim terbesar dalam lima puluh tahun terakhir. Sosok ini sudah menjadi selebriti debat dengan fans berat yang jumlahnya jutaan di seluruh dunia.

Rekaman ceramah dan debatnya bertebaran di mana-mana (biasa dijual di lapak-lapak yang bermunculan di depan masjid kota-kota besar saat hari Jumat). Di Youtube banyak kita jumpai debat-debat Ahmad Deedat ini.

Zakir Naik hanyalah meneruskan tradisi apologetika yang dimulai oleh Ahmad Deedat ini. Tetapi Ahmad Deedat pun bukan Sang Pemula. Dia meneruskan tradisi serupa yang sudah berkembang dengan canggih di India jauh sebelumnya (Ingat, Ahmad Deedat berasal dari India). Juga meneruskan tradisi apologetika yang sudah mengakar dalam tradisi intelektual Islam klasik. (Baca catatan saya sebelumnya).

Studi khusus yang menarik tentang polemik Islam-Kristen di India ditulis oleh Avril Ann Powell, “Muslim and Missionaries in Pre-Mutiny India” (1993).

Yang menarik adalah meneliti asal-usul kenapa Ahmad Deedat menjadi seorang polemikus ulung melawan Kristen.

Seperti ia ceritakan sendiri dalam salah satu bukunya (saya sudah lupa judulnya; saya membacanya beberapa tahun lalu), Deedat sebetulnya tak punya niat sejak awal untuk menjadi seorang polemikus. Perubahan terjadi secara mendadak ketika dia mengalami peristiwa traumatis saat remaja, menghadapi para penginjil yang secara agresif menyerang Islam di kotanya sendiri, Dearbon, Afrika Selatan.

Menghadapi situasi itu, Deedat yang masih remaja dan “culun” tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak tahu bagaimana menjawab serangan-serangan agresif dari para penginjil di Afsel atas Islam itu. Hingga pada satu titik dia tak sabar lagi menghadapi keadaan yg menjengkelkannya itu.

Dia kemudian memutuskan untuk belajar Kristologi dengan niat yg spesifik: hendak membalas serangan misionaris yang sangat agresif atas Islam. Demikianlah, Deedat kemudian membangun karir pelan-pelan sebagai polemikus ulung. Hingga akhir hayatnya, Deedat telah menjalani ratusan debat denfan pendeta Kristen, baik di Afsel sendiri, maupun di negeri-negeri lain.

Dengan kata lain, Ahmad Deedat lahir dari sejarah yang sangat khas, yaitu fase sejarah ketika misi Kristen menggunakan apologetika yang agresif sebagai senjata untuk mengkristenkan umat Islam. Era ini beriringan pula dengan sejarah kolonialisme Barat di dunia Islam. Ini adalah era ketika wacana dialog antar-agama dalam pengertian sekarang belum muncul. Ini adalah era pra-Vatikan II, juga sebelum munculnya sosok-sosok seperti John Hick, Raimundo Panikkar, Hans Küng, Paul Knitter, dll. yang mempromosikan wacana “inter-faith dialogue”.

Ini adalah era yang membentang antara abad ke-19 hingga awal paruh kedua abad ke-20.

Saya membaca Deedat sebagai gejala perjumpaan Islam-Kristen di era kolonial. Sementara Zakir Naik yang melanjutkan tradisi apologetika Deedat lahir di era yang lain — era meruyaknya politik identitas yang terjadi sejak dekade 80an.

Berikut ini ciri-ciri khas wacana apologetis-polemis ala Deedat dan Zakir Naik:

(1) Using Scripture against itself-technique. Yaitu menggunakan teknik “Kitab Suci melawan dirinya sendiri.” Teknik ini beroperasi dengan cara seperti ini: mencari ayat-ayat yang saling berkontradiksi dalam Kitab Suci agama lain untuk mencapai kesimpulan pokok: kontradiksi dalam Kitab Suci itu menunjukkan bahwa dia bukanlah Kitab yang otentik, melainkan Kitab yang telah terdistorsi (muharraf).

Teknik ini dipakai secara efektif oleh Deedat dan Zakir Naik untuk menunjukkan bahwa Bible adalah Kitab yang tak otentik lagi dari Tuhan, melainkan Kitab yang sudah “diintervensi” oleh tangan-tangan manusia.

Catatan: Deedat tak sadar bahwa kontradiksi antar ayat bukan saja ada dalam Bible, tetapi juga di dalam Quran. Para sarjana Muslim klasik banyak menulis karya mengenai ayat-ayat Quran yang saling kontradiktif ini. Mereka menyebut ayat-ayat demikian itu sebagai “mutasyabihul Quran” (متشابه القران).

Sarjana Muslim tentu saja mengembangkan teknik-teknik penafsiran (الاستيراتيجيات التأويلية) untuk menyelaraskan ayat-ayat yang kontradiktif agar tak lagi saling bertentangan.

Deedat dan Zakir Naik mungkin tak tahu bahwa sarjana Al-Kitab (biblical scholars) juga mengembangkan strategi-strategi tafsir serupa dalam memahami ayat-ayat yang pada permukaannya tampak kontradiktif dalam Bible.

(2) Menggunakan parameter rasionalitas untuk menghakimi Kitab Suci agama lain. Berdasarkan parameter ini para polemikus Muslim hendak menunjukkan bahwa agama lain (dhi. Kristen) mengandung ajaran-ajaran yang tak rasional. Seolah-olah Deedat dan Zakir Naik lupa bahwa dasar agama bukanlah sepenuhnya rasionalitas, tetapi iman.

(3) Supremasisme. Yakni, upaya menunjukkan bahwa agama sendiri unggul di atas agama lain dengan cara menunjukkan kelemahan agama lain itu. Dengan kata lain, kaum polemikus umumnya menggunakan teknik “menang karo ngasoraké”, menang dengan cara merendahkan agama lain.

Padahal filosofi Jawa menganjurkan cara lain: “menang tanpa ngasoraké,” menang dengan cara terhormat, tidak dengan cara merendahkan pihak “lawan”.

(4) Menggunakan teknik-teknik retoris yang kadang, atau bahkan kerap menyinggung perasaan umat lain. Polemik adalah praktek diskursif yang mirip dengan istilah yang populer di dunia socmed sekarang: “twitwar”. Suasananya panas, dan gampang menyulut emosi.

Orang-orang yang suka twitwar pada dasarnya, secara tak disadari, adalah reinkarnasi Zakir Naik dalam bentuk yang lain. 😁😁😁

Itulah sebabnya kehadiran Deedat dan Zakir Naik sangat kontroversial di negeri-negeri Barat, karena retorikanya rawan menimbulkan ketersinggungan umat lain.

(5) Kecenderungan menyatakan menang secara sepihak. Dalam perdebatan yang sifatnya polemis, kadang kita susah menentukan siapa pemenang, siapa pecundang. Sebab, polemik-apologetis ini, jika ditelaah lebih dalam, mirip seperti debat kusir. Setiap argumen lawan bisa dijawab secara retoris oleh lawannya ad infinitum, secara tak berkesudahan.

Tetapi biasanya secara sepihak, seorang polemikus cenderung menyatakan memenangkan debat, guna memberikan rasa tenang dan “sense of vindication” kepada umat dan jemaatnya.

Wacana polemis ala Deedat dan Zakir Naik memang disukai oleh kalangan Islam supremasis yang hendak menekankan keunggulan Islam atas agama-agama lain (الاسلام يعلو ولا يعلى عليه). Tetapi wacana semacam ini kurang bermanfaat dalam kerangka dialog antar-iman.

Kelemahan mendasar Deedatisme ini adalah satu hal: menerapkan parameter rasional kepada agama lain; tetapi tidak mengarahkan parameter serupa pada Islam. Jika Islam dikuliti dengan cara “polemis” seperti yang dilakukan Deedat atas Kristen itu, tentu hasilnya bisa juga menjengkeljan bagi umat Islam.

Umat Islam bisa membaca Kristologi-terbalik pada buku-buku Islamofob yang populer di kalangan pembenci Islam (Islamofob) di Amerika saat ini, seperti Robert Spencer. Membaca buku-buku Spencer yang menyerang Islam dengan “ganas” dan brutal sama dengan membaca buku-buku Deedat yang secara brutal menguliti ajaran Kristen.

Bagi kaum Kristen evangelis yang supremasis, buku-buku Spencer tentu menyenangkan. Sebagaimana buku-buku Deedat sangat menyenangkan bagi kaum Muslim yang memiliki kecenderungan supremasis serupa.

Baik apologetika Robert Spencer, maupun Ahmad Deedat dan Zakir Naik, kurang kondusif bagi upaya membangun harmoni dan dialog antar-agama yang berbasis pada niat saling menghargai perbedaan tradisi agama, bukan menghakimi.

Sekian.

[:]

[:id]Inilah Pendapat Lengkap Ulil Abshar Abdalla Soal LGBT[:]

[:id]Beberapa pekan ini, perhatian masyarakat dan media Indonesia cukup terkuras dengan meledaknya isu (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) LGBT. Entah dari mana mulainya, dan akan sampai kapan LGBT ini akan terus menjadi headline dan trending topic media sosial kita. Menanggapi kegaduhan soal isu LGBT ini, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Ulil Abshar Abdalla menyampaikan pesan terkait pandangan terhadap LGBT.

Berikut petikan lengkap Ulil:

PENDAPAT SAYA SOAL LGBT

Ulil Abshar Abdalla

Saya mau share sikap saya soal LGBT yang sedang ramai dibicarakan di sejumlah grup WA akhir2 ini. Saya memegang dua prinsip dalam menyikapi isu ini. Prinsip sains dan prinsip “generosity” atau kedermawanan dan toleransi.

Saya yakin seyakin2nya (orang lain boleh beda pendapat dengan saya), bahwa dua prinsip itu sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kita umat Islam untuk menghargai sains dan pengetahuan. Ilmu dan derivasinya disebut berkali2 dalam Quran; menunjukkan betapa pentingnya ilmu menurut Islam.

Sementara itu “generosity” atau sikap kedermawanan juga diperintahkan oleh Islam. Sikap “generous” yg saya maksud di sini ialah sikap toleran, dermawan pada orang lain, menghargai mereka, meskipun mereka beda dengan kita. Sikap ini sesuai dengan ajaran dalam Quran sebagaimana tertuang dalam 49:13.

Berdasarkan dua prinsip ini, saya akan menentukan sikap saya sebagai Muslim terhadap LGBT.

Pertama, “prinsip sains”. Sudah seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap segala hal berdasarkan data dan bukti sains, jika masalah yang ia hadapi melibatkan fakta2 sains. Mengabaikan sains jelas tidak sesuai dengan ajaran Quran.

Apa kata sains tentang LGBT? Apakah ini penyakit atau variasi preferensi seksual yang lumrah saja? Ada dua cabang sains yang terlibat dalam penelitian soal LGBT ini: psikologi/psikiatri dan biologi, terutama cabang biologi yang berurusan dengan genetika.

Sekarang kita lihat dulu apa kata psikiatri. Untuk waktu yang lama, psikiatri di dunia Barat menganggap bahwa homoseksualitas adalah penyakit. Yang pernah menonton film “Game Theory” tentang ilmuwan Inggris yang meletakkan landasan untuk komputer modern, Alan Turing, pasti tahu bagaimana otoritas di Inggris saat itu (pada tahun 50an) masih menganggap LGBT sebagai penyakit, bahkan kejahatan. Karena itu Turing dipaksa untuk melakukan terapi yang dalam dunia psikiatri biasa disebut “reparative therapy”. Turing akhirnya bunuh diri, karena tak kuat menghadapi terapi itu.

Baik otoritas sains dan politik di Inggris hingga dekade 50an saat Turing hidup beranggapan bahwa homoseksualitas adalah “mental disorder”, bahkan kejahatan, yang harus diobati.

Tetapi riset tentang homoseksualitas tak pernah berhenti. Pada tahun 70an, pendapat para ahli psikiatri di dunia mulai berubah. Berdasarkan riset2 mereka, disimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit atau ” mental disorder”, tetapi variasi preferensi seksual yang wajar. Pada 1973, American Psychiatric Association mencabut homoseksualitas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Pada 1975, American Psychological Association juga mengambil langkah serupa. Ahli2 psikiatri dan psikologi di seluruh dunia mengikuti langkah ini.

Langkah ini juga diikuti di Indonesia. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang menjadi acuan para ahli psikiatri di Indonesia sudah mengeluarkan homoseksualktas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Dalam PPDGK edisi II 1983 dan edisi III 1993, homoseksualutas sudah dikeluarkan dari daftar penyakit mental.

Hingga sekarang ini, konsensus saintis di dunia sudah nyaris final: bahwa homoseksualitas bukan penyakit, dan karena itu terapi (“reparative therapy”) untuk preferensi seksual ini sama sekali tak disarankan, bahkan ditolak. WHO pada 1990 mengikuti konsensus ini: bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit, tetapi preferensi yang biasa saja. Preferensi ini ada dalam dunia binatang, dan dalam jumlah yg banyak, begitu juga dalam dunia manusia.

Sebaiknya, seorang Muslim dalam menyikapi soal LGBT ini bersandar pada sains, bukan berdasarkan tradisi dan pendapat generasi2 terdahulu. Quran melarang “taqlid” pada “ajdad” atau leluhur tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

Bagi saya, soal LGBT ini sudah nyaris final secara sains, sama dengan final-nya posisi sains tentang teori gravitasi atau evolusi. Rasanya sains susah berubah pendapat soal gravitasi dan evolusi lalu mengingkarinya sama sekali. Sebagaimana sains juga susah dibayangkan akan mengubah pendapatnya soal homoseksualitas ini.

Kesimpulannya: LGBT bukan penyakit menurut sains modern. Karena ajaran Quran mengharuskan kita menghargai sains, maka sudah sepatutnya pandangan kita umat Islam mengenai isu ini juga berubah, dan tidak sekedar mengikuti pandangan yg diwariskan oleh tradisi kita dulu.

Sementara itu prinsip “generosity” yang merupakan prinsip Islami mengahruskan seorang Muslim untuk menghindari sikap2 homofobia, yaitu membenci orang2 yang memiliki preferensi homoseksual.

Kita boleh saja tak sepakat dengan mereka, bahkan membenci atau jijik pada prilaku seksual mereka. Tetap ketidaksukaan kita pada mereka tak boleh menghalangi kita untuk bersikap adil pada mereka. Quran mengajarkan kita untuk bersikap adil, bahkan terhadap mereka yg kita tak suka (QS 5:8). Ini, setahu saya, adalah ayat yg kerap dikutip oleh Cak Nur dulu.

Sebab sikap adil itu lebih dekat kepada ketakwaan, demikian kata Quran.

Manifestasi sikap adil pada kaum LGBT adalah memberikan hak2 hidup yg sama pada mereka, bukan mendiskriminasikan.

Salah satu sikap adil juga adalah tak memaksa LGBT melakukan terapi penyembuhan. Satu2nya terapi yg diperbolehlan adalah dalam satu kasus ini: yaitu menakala ada orang LGBT yang merasa terganggu dengan kecenderungan seksualnya. Jika yang bersangkutan merasa terganggu dengan homoseksualitas dan minta diterapi, maka terhadap dia boleh dilakukan tindakan “reparative therapy”. Tetapi terapi ini tak boleh kita paksakan kepada kaum LGBT hanya karena pendapat kita bahwa LGBT adalah penyimpangan.

Hal terakhir yang mau saya ulas adalah anggapan populer bahwa LGBT menular. Menurut penelitian sejauh ini, tak benar LGBT menular. Dia hanyalah bisa menular pada orang2 yang memang sejak awal memiliki kecendetungan LGBT.

American Psychological Associaton menyarikan konsensus mutakhir di kalangan sains seperti ini:

Although much research has examined the possible genetic, hormonal, developmental, social, and cultural influences on sexual orientation, no findings have emerged that permit scientists to conclude that sexual orientation is determined by any particular factor or factors. Many think that nature and nurture both play complex roles; most people experience little or no sense of choice about their sexual orientation.”

Demikian urun pendapat saya. Semoga berguna. ***[:]

[:id]Syiah: Islam atau Bukan?[:]

[:id]Salah satu rekomendasi penting dari Muktamar Muhammadiyah Ke-47 di Makassar pada 1-7 Agustus kemaren adalah himbauan agar umat Islam menempuh corak keberagamaan yang moderat, menghindari  takfir (gemar mengkafirkan sesama Muslim) dan membangun dialog Sunni-Syiah.

Ini adalah undangan sangat penting yang perlu mendapatkan apresiasi. Bravo kepada Muhammadiyah yang berani memulai tradisi moderatisme selangkah lebih maju. Buat saya, istilah “Islam moderat” belum mengatakan apa-apa jika tidak diberikan isi yang progresif dan maju. Moderat saja bisa berarti suatu konservatisme. Moderatisme yang progresif, seperti ditunjukkan oleh Muhammadiyah ini, perlu kita dorong.

Himbauan ini merupakan “theo-political breakthrough” yang sangat berani. Andai saja ini dinyatakan lewat Facebook, tentu saja layak memperoleh berjuta-juta “like” beserta ikon jempol!

Yang menarik, undangan ini menyeruak di tengah-tengah kampanye besar-besaran yang tampaknya dibiayai oleh uang petro dollar dari negeri-negeri teluk. Tujuannya: menyebarkan sentimen sektarianisme dan mengekspor konflik Sunni-Syiah ke Indonesia.

Kampanye ini jelas bagian dari usaha negeri-negeri teluk, terutama Saudi Arabia yang berpaham Wahabi, untuk meluaskan “sphere of influence” ke dunia Islam vis-à-vis Iran yang juga melakukan hal yang sama. Di sini, kita melihat “war of proxies” versi dunia Islam. Indonesia, tampaknya, hendak diseret sebagai salah satu proxy dalam “perang” ini.

Refrain” berikut kerap kita dengar akhir-akhir ini: Bahwa Syiah bukanlah Islam. Masalah ini sudah diperdebatkan sejak ratusan tahun lalu, dan tak akan membawa dunia Islam ke mana-mana selain jurang perpecahaan yang konyol. Umat Islam sebaiknya belajar dari umat Kristen yang berhasil mengakhiri konflik Katolik-Protestan yang pernah berlangsung ratusan tahun.

Dalam tulisan lalu, saya mengajukan suatu definisi minimalis mengenai Islam dan Muslim. Siapa saja yang mengucapkan syahadat, dia adalah Muslim, tak peduli apa sekte, mazhab dan afiliasi politiknya. Definisi minimalis ini sengaja saya ajukan untuk menghindarkan umat Islam dari perang “truth claims” yang tiada berkesudahan dan sia-sia belaka.

Dengan merujuk definisi minimalis itu, saya hendak meyakinkan Anda bahwa umat Syiah adalah bagian yang sah dari umat Islam. Syiah adalah salah satu firqah/sekte saja dari sejumlah sekte yang ada dalam sejarah Islam. Syiah adalah sekte, sebagaimana Sunni juga sekte. Sesama sekte janganlah saling menjatuhkan. Kesamaan antara orang Sunni dan Syiah jauh lebih banyak daripada perbedaannya. Keduanya adalah sama-sama ahl al-qiblah.

Sebagaimana umat Sunni, orang Syiah mengucapkan syahadat, melaksanakan salat, puasa, membayar zakat, dan melakukan ritual haji. Jangan percaya kepada sejumlah fitnah yang disebar-sebarkan untuk mengobarkan sentimen anti-Syiah. Misalnya: fitnah bahwa Syiah memiliki syahadat yang beda, Qur’an yang beda, dan gemar mencerca sahabat.

Soal mencerca sahabat (sabb al-shahabah) ini perlu saya bahas sedikit. Inilah tuduhan yang kerap dijadikan alasan kalangan Sunni/Wahabi untuk terus mengobarkan kebencian kepada kaum Syiah.

Menurut saya, tuduhan kaum Sunni ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi sejumlah caatatan perlu saya berikan di sini. Apa yang disebut sebagai “mencerca” itu, jika kita telaah literatur Syiah secara menyeluruh, sebetulnya adalah sejenis kajian kritis atas sahabat. Kalangan Syiah memang memiliki pandangan yang kritis tentang sahabat. Ini berbeda dengan doktrin Sunni yang cenderung memandang semua sahabat adalah baik (‘adalat al-shahabah). Sebaiknya perbedaan mengenai posisi terhadap sahabat ini dipandang sebagai perbedaan sudut pandang saja. Tak harus membuat seseorang dianggap telah keluar dari Islam.

Meski demikian, saya setuju: Kebiasaan kalangan Syiah yang kadang menggunakan redaksi yang cenderung keras terhadap satu-dua figur sahabat sebaiknya dihentikan, karena hanya akan mengobarkan sentimen sektarianisme. Kultur baru yang lebih kondusif untuk menjalin dialog sebaiknya dikembangkan.

Dalam konteks inilah himbauan Muhammadiyah untuk membangun dialog Sunni-Syiah amatlah muhim. Ini mengingatkan pada inisiatif Pendekatan Mazhab-Mazhab (Al-Taqrib Bain al-Madzahib) yang pernah digagas di Mesir pada 1947, dan melibatkan beberapa tokoh seperti Syekh Mahmud Syaltut dan Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin.

Ada fatwa Mahmud Syaltut yang menarik: Mazhab fiqh Imamiyyah-Ja’fariyyah yang banyak dianut di Iran adalah mazhab yang sah dalam Islam. Kita boleh menjalankan ibadah (al-ta’abbud) dengan mengikuti mazhab ini. Bersama dengan empat mazhab Sunni yang lain, mazhab Imamiyyah merupakan kekayaan intelektual Islam yang patut dihargai dan dipelajari.

Penduduk Iran saat ini berjumlah sekitar 79 juta. Mayoritas adalah pengikut mazhab Syiah. Jika anda menganggap Syiah bukan Islam, paling tidak anda telah mengeluarkan sekitar tujuh puluh juta orang dari Islam. Ini jelas pemurtadan massal dan terbesar dalam sejarah Islam. Pendeta Kristen manapun tak akan kuasa melakukan hal seperti ini.

Dan ini malah dilakukan oleh orang Islam sendiri. Lucu bukan?[]

Sumber: islamlib.com[:]

[:id]Nabi, Quran, dan Kitab Suci: Konsep-Konsep “Einmalig” dalam Islam[:]

[:id]Masing-masing agama memiliki kekhususan sendiri. Dan atas dasar kekhususannya itu, agama bersangkutan membangun suatu identitas yang terpisah dari agama lain; menegakkan semacam “the discourse of difference”. Tanpa diskursus perbedaan, sebuah agama sulit tegak sebagai entitas yang berdiri sendiri. Meskipun, jika kita telaah dengan cermat, pada esensinya yang paling dalam, semua agama adalah sama.

Karena setiap agama tegak pada “the discourse of difference”, kita tak bisa menjadikan agama yang satu sebagai standar untuk mengukur kebenaran agama yang lain. Kita sulit menyebut adanya sebuah “meta-religion” atau narasi besar di balik agama yang bisa menjadi “yard stick” untuk mengukur semua agama. Sebab, sekali lagi, setiap agama unik pada dirinya sendiri, persis seperti masing-masing lukisan yang merupakan dunia yang “einmalig,” khas pada dirinya masing-masing.

Karena itu, apa yang ada pada Islam tidak bisa dijadikan sebagai standar untuk menilai Kristen. Dan apa yang ada pada Kristen juga tak bisa dipakai untuk menilai Islam. Hal yang serupa berlaku pada semua agama. Meski, ini tidak berarti kita tak bisa melakukan suatu kajian perbandingan, komparatif, antara satu agama dan agama yang lain. Tetapi kajian komparatif bukan untuk mencari semacam “meta-agama” yang bisa menjadi ukuran universal, melainkan untuk “verstehen”, memahami kekhususan agama-agama itu.

Umat Islam meyakini bahwa agamanya paling benar. Hal yang sama juga berlaku pada pemeluk agama-agama yang lain. Meskipun saya tidak sepakat dalam hal ini, sebab saya memandang agama sebagai entitas yang bisa saling melengkapi satu terhadap yang lain. Tetapi, baiklah. Saya terima kenyataan itu: bahwa masing-masing pemeluk agama memiliki keyakinan bahwa agamanya adalah paling benar di dunia ini. Itulah yang dalam kajian agama disebut sebagai “truth claim”.

Tetapi itu bukan berarti bahwa agama yang satu bisa menjadi “standar” untuk menilai agama yang lain. Kebenaran Islam tak bisa dipakai sebagai kriteria untuk menilai kebenaran dalam agama Kristen. Kebenaran agama sifatnya “einmalig,” khas, bukan kebenaran dalam pengertian yang kita kenal dalam sains, yaitu kebenaran universal, kebenaran yang prediktif dan sekaligus “exhaustive”.

Sekarang saya akan masuk ke beberapa konsep kunci yang merupakan kekhususan Islam. Dalam Islam, kita kenal sejumlah istilah penting: nabi, rasul, kitab suci, dan Quran. Saya akan mencoba menunjukkan bahwa konsep-konsep ini memiliki pengertian yang sangat “einmalig” atau khas Islam dan tidak bisa, bahkan tidak “fair” jika kita jadikan sebagai standar kebenaran untuk menilai dan menghakimi konsep-konsep serupa dalam agama lain, misalnya Kristen atau Yahudi.

Banyak pendapat sarjana Islam mengenai apa itu yang disebut nabi dan rasul. Salah satu pendapat yang dominan mengatakan bahwa nabi adalah seseorang yang menerima wahyu, tetapi tak dituntut untuk menyebarkannya kepada publik. Sementara rasul adalah dia yang menerima wahyu dan sekaligus mendapatkan “call” atau panggilan untuk menyebarkannya kepada orang lain.

Dalam analogi yang sederhana: nabi adalah seperti seorang cendekiawan yang (meminjam istilah Arif Budiman dulu) “berumah di angin”. Dia mendapatan “pengertian” (wahyu) dari Tuhan, tetapi dia hanya menikmati pengertian itu untuk dirinya sendiri, sebagai bagian dari kenikmatan kehidupan soliter seorang intelektual.

Sementara rasul adalah seorang aktivis yang bertindak untuk mengubah sejarah dan dunia. Rasul adalah seseorang yang menerima pengertian dari Tuhan, dan merasakan suatu “panggilan ilahiah” untuk menyebarkannya kepada publik luas. Jika nabi bersikap soliter, rasul adalah sosok yang misionaris, yang ingin menyebarkan misinya kepada seluas mungkin publik di luar sana.

Salah seorang yang pernah mengartikulasikan dengan sangat cemerlang pengertian mengenai dua konsep ini adalah Ali Shariati (1933-1977), seorang intelektual Iran yang dianggap menjadi ilham bagi Revolusi Iran pada 1979 itu. Dalam bukunya yang berjudul Tugas Cendekiawan Muslim (Rajawali Press, 1987), Ali Shariati membuat pembedaan tentang tipe-tipe seorang intelektual. Nabi dan rasul adalah salah satu tipe keintelektualan.

Pengertian Islam mengenai nabi dan rasul ini jelas berbeda dengan, misalnya, pengertian mengenai istilah-istilah itu dalam Yahudi atau Kristen. Dalam tradisi Yahudi/Kristen, nabi ialah juru bicara Tuhan melalui nubuat atau ramalan tentang masa depan. Karena itu, Daud, misalnya, dalam tradisi Yahudi tidak disebut sebagai nabi. Dia adalah murni seorang raja, dan dia bukan “juru bicara” Tuhan melalui sebuah nubuat. Sebaliknya, Islam menganggap sosok ini nabi.

Sementara itu, istilah rasul sangat berbeda dalam Kristen. Rasul, dalam agama Kristen, berarti utusan-utusan yang membawa kebenaran yang dibawa Yesus kepada seluruh dunia. Murid-murid Yesus yang berjumlah dua belas itu disebut sebagai apostles, rasul, utusan yang menyebarkan kebenaran Yesus ke pada orang-orang lain. Yesus sendiri bukan rasul. Dia, dalam keyakinan Kristen, adalah Tuhan. Atau tepatnya, firman Tuhan yang mendaging. Re-inkarnasi.

Yang menarik adalah konsep mengenai Kitab Suci. Ketika orang Muslim dan Kristen menggunakan istilah “Kitab Suci”, mereka hampir sulit saling memahami. Sebab pada kepala mereka ada pengertian yang berbeda tentang apa itu Kitab Suci. Bagi seorang Muslim, yang disebut Kitab Suci adalah kumpulan wahyu Tuhan yang “diturunkan” (inzal) oleh Tuhan secara verbal kepada seorang rasul/nabi.

Quran, dalam pandangan umat Islam, adalah Kitab Suci, sebab ia berisi wahyu Tuhan yang diberikan secara verbal kepada Nabi Muhammad. Istilah yang dipakai adalah “anzala” atau “nazzala” yang artinya adalah menurunkan sesuatu dari atas ke bawah. Sebab umat Islam yakin bahwa wahyu datang dari atas, langit, menuju ke bawah, ke para nabi yang ada di bumi. Dalam keyakinan umat Islam, para nabi itu menerima wahyu dari Tuhan secara verbal, seperti kita menerima sebuah pesan langsung dari orang lain melalui ujaran.

Pengertian semacam ini tak ada baik dalam Yahudi atau Kristen. Apa yang ada dalam Taurat (lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama) dan Injil bukanlah wahyu dalam pengertian yang dipahami oleh umat Islam. Istilah “wahyu” di sini juga harus kita pahami secara hati-hati, sebab dia memiliki pengertian yang beda dalam Islam dan Yahudi/Kristen.

Umat Islam percaya bahwa apa yang disebut wahyu adalah situasi berikut ini: Tuhan mengirimkan pesan secara verbal kepada nabi/rasul. Pesan yang diterima nabi itu sudah dalam bentuk kalimat dan redaksi yang komplit. Kedudukan nabi, seperti pernah digambarkan dengan sebuah metafor yang sangat baik oleh alm. Fazlur Rahman, adalah persis seperti tukang pos yang sekedar hanya menyampaikan pesan saja, tanpa mencampuri isi pesan itu.

Dalam Yahudi/Kristen, pengertian wahyu semacam ini tidak ada. Tidak ada wahyu dalam pengertian “verbal revelation” dari Tuhan kepada manusia. Apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama atau Baru adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Hanya saja, dalam menuliskan kitab-kitab itu, manusia-manusia itu dituntun dan dibimbing oleh roh Tuhan.

Injil Matius, misalnya, bukanlah berisi “wahyu” dalam pengertian yang dipahami oleh umat Islam. Injil Matius adalah rekaman dan kesaksian tentang kehidupan Yesus Kristus yang ditulis seorang pengarang, seorang manusia. Begitu juga injil-injil yang lain: Markus, Lukas,Yohanes. Injil-injil itu tidak pernah ada sebagai sebuah “buku” pada zaman Yesus. Keempat injil yang biasa disebut dengan Injil Sinoptik itu ditulis oleh manusia-pengarang setelah Yesus mati dalam rentang antara tahun 60-90 M.

Injil mungkin tidak tepat disetarakan dengan Quran. Injil lebih tepat dibandingkan dengan hadis. Sama dengan injil, hadis adalah rekaman para sahabat Nabi Muhammad mengenai ucapan, tindakan dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh Nabi.

Umat Islam sama sekali keliru jika mengira bahwa pada zaman Yesus ada “wahyu” dalam pengertian seperti wahyu yang turun pada Nabi Muhammad. Tidak wahyu semacam itu baik dalam Yahudi maupun Kristen. Jadi, baik umat Islam atau Kristen harus hati-hati saat menggunakan istilah-istilah seperti wahyu atau Kitab Suci. Istilah yang mereka gunakan boleh jadi sama, tetapi memiliki pengertian yang berbeda.

Ini, dalam bahasa Arab, disebut sebagai fenomena ishtirak (equivocality): satu kata dengan makna dan pengertian yang banyak. Fenomena ini ada dalam semua bahasa. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “genting” yang bisa bermakna “gawat” dan “atap rumah.”

Konsep-konsep seperti wahyu, nabi, Kitab Suci bisa kita anggap sebagai bagian dari fenomena “ekuivokalitas” atau homonim ini. Yakni, suatu istilah yang sama dengan pengertian yang berbeda. Istilah wahyu dipakai dalam Islam dan Kristen, tetapi pengertiannya sangat berbeda. Jebakan ekuivokalitas ini bisa menimbulkan salah paham yang fatal, seperti kita lihat dalam debat dan polemik kristologis selama ini.

Sekali lagi: agama-agama adalah realitas yang “einmalig,” khas, spesifik. Karena itu kita harus hati-hati memahami kekhususan mereka. Kita harus menghindari melakukan proyeksi kekhususan satu agama kepada agama lain. Jebakan semacam ini bisa menimbulkan pertengkaran yang yang tak berkeputusan.[]

** Disampaikan sebagai pengantar kuliah di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro Jaya, Jumat 16/10/2015. Dimuat juga di islamlib.com[:]

[:id]Ebionite: Asal-Usul Penolakan Islam atas Trinitas?[:]

[:id]Ulil Abshar ngajiTesis yang saya anut adalah: Tak ada agama yang lahir dari ruang kosong sepenuhnya. Tak ada agama yang “ujug-ujug” datang ke permukaan bumi dengan membawa hal baru, tanpa “memungut” bahan-bahan yang sudah ada di sekitarnya saat itu. Tak ada religio ex nihilo. Tesis ini berlaku untuk semua agama, termasuk Islam. Islam bukanlah agama yang membawa hal baru. Dia hanya memungut ajaran-ajaran yang sudah ada sebelumnya.

Dengan tesis ini, saya akan mencoba masuk ke kawasan yang agak sedikit sensitif dan berbahaya, untuk menjawab pertanyaan berikut ini: Dari mana asal-usul penolakan Islam atas trinitas Kristen dan ajaran tentang ketuhanan Yesus? Apakah ini diilhami oleh agama Yahudi? Sebab, pada zaman Nabi, ada cukup banyak komunitas Yahudi yang mukim di Jazirah Arab, terutama di sekitar Madinah. Atau ada sumber-sumber lain yang mengilhami penolakan Quran atas ketuhanan Yesus?

Pertanyaan ini memang tidak bisa dijawab dengan memuaskan, sebab sumber-sumber Islam sendiri jarang menyebutkan secara eksplisit dari mana ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi berasal. Meskipun, sejumlah sumber Islam klasik secara terserak memuat sejumlah informasi yang menarik tentang praktek-praktek pra-Islam yang diasumsikan mengilhami sejumlah ajaran Islam.

Salah satu karya modern oleh sarjana Muslim sendiri yang menulis secara ekstensif dengan data-data yang massif mengenai periode Arab pra-Islam adalah buku karya sarjana Irak Dr. Jawad Ali: al-Mufassal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam (Keterangan Rinci tentang Sejarah Arab Pra-Islam). Dalam buku ini kita jumpai banyak informasi mengenai kondisi kehidupan spiritual Arab pra-Islam yang bisa membantu kita menduga dari manakah sejumlah ajaran yang dibawa Nabi berasal.

Sementara itu, mayoritas umat Muslim saat ini tampaknya beranggapan bahwa semua yang dibawa Nabi Muhammad adalah hal yang baru sama sekali, seperti ujug-ujug datang dari ruang kosong. Ritual-ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, wudu, mandi besar (ghasl al-junub), larangan makan babi, bangkai, darah, larangan makan sembelihan yang dipersembahkan untuk dewa-dewa, larangan minum khamr – semuanya itu dianggap sebagai hal baru.

Asumsi itu, jika kita baca buku Dr. Jawad Ali di atas, sama sekali keliru. Semuanya itu sudah ada sejak sebelum Islam datang. Bahkan ritual haji, berikut Kabah yang menjadi pusat ibadah, sudah ada sejak sebelum Islam datang pada abad ke-7 Masehi, lengkap dengan seluruh detil-detil ritualnya – mulai dari tawaf, sa’i, mencukup rambut (tahallul), talbiyah.

Kembali ke soal trinitas tadi: Dari manakah penolakan Islam atas gagasan Kristiani ini datang? Dari mana sumbernya? Saya, secara pribadi, memang memiliki perhatian khusus terhadap isu trinitas ini, sebab persis di sinilah debat-debat kristologi antara Kristen-Islam, sejak zaman klasik hingga modern, berputar-putar.

Salah satu tokoh penting dalam karir kenabian Muhammad adalah sosok bernama Waraqah ibn Naufal. Dia adalah sepupu Khadijah, isteri Nabi. Waraqah, konon, adalah seorang Nasrani,wa qila (menurut pendapat lain), dia adalah Yahudi. Yang jelas, dia menguasai bahasa Ibrani dan sangat akrab dengan dua kitab suci pra-Islam: Taurat dan Injil.

Saat pertama kali menerima wahyu, Nabi agak kurang begitu yakin tentang apa yang dia alami dan terima. Sebab pengalaman “spiritual” itu tak pernah ia alami sebelumnya. Bahkan, Nabi cenderung ketakutan dan skeptik: jangan-jangan terkena roh jahat. Pada momen krusial itulah, Khadijah memainkan peran yang penting. Dia menyarakan agar suaminya itu berkonsultasi dengan Waraqah.

Tentang pengalaman yang dialami Nabi itu, Waraqah memberikan komentar berikut, sebagaimana direkam dalam Sahih Bukhari: Hadza al-namus al-ladzi nazzala ‘l-Lahu ‘ala Musa. Ini (maksudnya wahyu pertama yang datang kepada Muhammad) adalah “namus” yang sama yang pernah datang kepada Musa sebelumnya. Setelah mendengar keterangan ini, Nabi merasa tenang, sebab dia menerima sesuatu yang baik.

Yang menarik adalah penggunaan istilah “namus” oleh Waraqah. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, “nomos,” yang artinya adalah hukum atau kode etik yang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan (law of chastity). Sebagai seorang yang menguasai Alkitab, tentu tak heran jika Waraqah menggunakan istilah yang tak asing dalam Yahudi itu. Salah satu elemen penting, bahkan fondasi utama agama Yahudi adalah Hukum Musa atau Taurat. Hukum itulah yang dirujuk oleh Waraqah sebagai “nomos” atau “namus”.

Meskipun di sini ada kejanggalan: Bagaimana mungkin Waraqah menyebut wahyu pertama yang turun kepada Muhammad sebagai “nomos” sementara di sana tak ada ayat hukum sama sekali? Ayat hukum sebagian besar turun di Madinah, tiga belas tahun kemudian. Jika benar wahyu pertama yang turun kepada Nabi adalah Surah al-‘Alaq (96), jelas di sana tak kita temukan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Di sana tak ada semacam Sepuluh Hukum Tuhan yang pernah diterima Musa di Bukit Sinai.

Yang menarik, menurut sejumlah informasi, Waraqah ini adalah pengikut sekte Kristen yang dianggap “sesat” oleh ortodoksi gereja setelah Konsili Nikea pada tahun 325 Masehi. Waraqah adalah pengikut sekte Kristen “sesat” bernama Ebionite (Arab: al-Ibyuniyyah). Yang menarik adalah bahwa sebagian besar sekte Kristen yang dianggap sesat oleh Konsili itu bertebaran di kawasan Timur Tengah, terutama di Mesir. Tak heran jika Waraqah mengikuti salah satu sekte semacam ini.

Sekte Ebionite cukup unik. Ini adalah sekte Kristen yang masih sangat dekat dengan tradisi Yahudi. Mereka sangat menentang versi Kristen yang “didakwahkan” oleh Paulus karena dianggap telah manjauh dari tradisi keyahudian dari mana dan di mana Yesus sendiri tumbuh. Karena itu, sekte Ebionite kerap disebut sebagai gerakan Kristen yang memiliki semangat Yahudi. Mereka masih memegang kuat hukum-hukum Taurat.

Sekte ini memiliki keyakinan teologis tentang Yesus yang sangat berbeda dengan kelompok Kristen “mainstream”. Mereka tidak mempercayai gagasan tentang ketuhanan Yesus. Mereka mengimani Yesus sebagai messiah (Arab: al-Masih) yang membawa ajaran-ajaran moral yang melengkapi hukum-hukum Musa. Mereka tak memakai injil sinoptik yang dipakai oleh gereja “mainstream” saat itu – Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka memiliki injil sendiri yang biasa dirujuk sebagai Jewish gospels – injil-injil Yahudi.

Ini, saya kira, menjelaskan kenapa dalam rekaman sejarah Islam sosok Waraqah kadang digambarkan sebagi pemeluk agama Kristen, kadang Yahudi. Kesimpang-siuran ini mungkin saja berasal dari sekte keagamaan yang diikuti oleh Waraqah. Sekte Ebionite bisa disebut sebagai sekte keagamaan yang berada di persimpangan antara tradisi Yahudi dan Kristen. Sekte ini mungkin lebih tepat disebut sebagai “the Jewish Christian” – sekte Kristen yang Yahudi. Karena itulah, Waraqah kadang disebut sebagai orang Kristen, kadang Yahudi.

Jika kita bisa berasumsi bahwa sosok Waraqah memiliki pengaruh pada formasi gagasan teologis pada diri Nabi, kita bisa mengatakan bahwa penolakan Islam atas ide trinitas Kristen mungkin saja mendapatkan ilham dari ajaran Ebionite yang diikuti oleh Waraqah, sepupu isteri Nabi.

Dengan kata lain, pandangan Islam mengenai sosok Yesus sebagai nabi, bukan Tuhan, sebetulnya bukanlah hal yang aneh dalam sejarah kekristenan sendiri. Penolakan Islam atas trinitas Kristen bisa disebut sebagai pemihakan Islam atas versi Yahudi mengenai figur Yesus melalui sebuah perantara – yaitu sekte Ebionite yang masih taat menjaga tradisi Yahudi. Meskipun, pandangan sekte ini memang ditolak oleh gereja ortodoks dan dianggap sebagai ajaran sesat.

Dengan kata lain, dalam soal trinitas ini, Islam dan Yahudi bersatu: yaitu menolak. Selain karena kemungkinan pengaruh yang datang dari Waraqah, penolakan Islam atas trinitas mungkin juga bisa dijelaskan dari arah lain, seperti yang sudah pernah saya singgung sepintas dalam artikel yang lalu. Yakni: bagi bangsa Arab yang “simple minded” dan pragmatis, gagasan trinitas terlalu rumit dan mengandung misteri yang susah dipahami. Monoteisms Islam yang simple jauh lebih cocok dengan “thought style” bangsa Arab di Mekah pada zaman itu.

Tetapi, di luar soal trinitas ini, Islam memiliki simpati yang besar terhadap Kristen. Quran bersepakat dengan Kristen dalam banyak hal mengenai sosok Yesus atau Isa. Sama dengan Kristen, Islam menyebut Yesus sebagai messiah (al-Masih) dan firman Tuhan (wa kalimatuhu – ingat gagasan Kristen tentang firman Tuhan yang mendaging!). Sama dengan Kristen, Islam menyebut Yesus lahir melalui “virginal conception,” kelahiran melalui konsepsi seorang gadis, tanpa keterlibatan laki-laki.

Semuanya ini secara ringkas diungkapkan dalam ayat 4:171: Innama ‘l-masihu ‘Isa ibnu Maryama rasulu ‘l-Lahi wa kalimatuhu. Sesungguhnya al-Masih adalah Isa anak Maryam (tak disebutkan bapaknya; ini isyarat kepada gagasan kelahiran melalui konsepsi kegadisan) dan firman-Nya. Dengan kata lain, banyak kesamaan teologis (ingat: teologis!) antara Islam dan Kristen, selain Yahudi sendiri.[]

*tulisan ini pernah dimuat di islamlib.com[:]