Pernyataan Sikap Keluarga Besar dan Mitra ICRP Atas Penetapan UU CIPTAKER

PERNYATAAN SIKAP KELUARGA BESAR DAN MITRA ICRP
ATAS PENETAPAN UNDANG-UNDANG CIPTA KERJA

Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menuai beragam reaksi dari masyarakat. Demonstrasi yang terjadi masif di negeri ini menunjukkan ada persoalan yang harus direspons secara bijak oleh pemerintah agar tidak berkepanjangan dan semakin menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.

Kami menyadari serta mengapresiasi niat baik pemerintah melalui UU Ciptaker agar negara kita tercinta ini memiliki iklim investasi yang kondusif dan segera melewati masa resesi ekonomi. Namun, proses pembahasan RUU Ciptaker yang memiliki cakupan luas dan menyangkut harkat hidup orang banyak ini terkesan terburu-buru di tengah konsentrasi kita bersama untuk selamat dari ancaman Covid-19. Demikian pula kondisi dan harapan masyarakat agar UU yang kompleks ini ditunda pengesahannya seakan tidak diindahkan. Gelombang demonstrasi dan kritik dari berbagai penjuru tanah air perlu dilihat dalam konteks akumulasi dari kekecewaan masyarakat atas abainya pemerintah terhadap suara serta harapan tersebut.

Sebagai anak-anak bangsa, kami memandang penting bagi pemerintah untuk mengedepankan aspirasi publik atau partisipasi masyarakat luas dalam membahas berbagai produk legislasi. Pendekatan yang humanis di tengah perjuangan kita menghadapi masa darurat keselamatan jiwa ini sangatlah dibutuhkan ketimbang pemenuhan prosedur-prosedur administratif maupun mekanisme yang ada di
pemerintah.

Pada sisi lain, kami juga memandang bahwa demokrasi memberi kesempatan yang luas kepada rakyat untuk menyampaikan hak berpendapatnya secara bebas, namun tentu tidak dengan anarkis dan merugikan anak-anak bangsa lainnya. Tindakan represif, kekerasan dan anarkis dari pihak manapun tentu tidak akan menghasilkan hal yang positif, melainkan sebaliknya.

Selain aksi demonstrasi, petisi dan/atau kritik yang bisa disampaikan, kita juga memiliki jalur hukum untuk melakukan Judicial Review dengan membawa UU yang dipandang bermasalah ini ke Mahkamah Konstitusi. Oleh karenanya, kami berharap sekaligus mengundang seluruh warga negara untuk menjaga keutuhan bangsa dan duduk bersama mengupayakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan cara yang bermartabat. Pada saat yang sama pemerintah juga diminta agar semakin membuka hati dan ruang untuk berdialog dengan masyarakat.

Terhadap situasi bangsa pasca penetapan UU Ciptaker, dari hati nurani kami menyampaikan beberapa pokok yang menjadi sikap keluarga besar dan mitra ICRP.

  1. Kami memahami sikap penolakan dari banyak pihak terhadap UU Ciptaker. Meskipun demikian, kita semua juga harus waspada terhadap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang dapat menunggangi situasi ini demi kepentingan jangka pendek mereka. Jangan biarkan para “penumpang gelap” demokrasi menyalahgunakan kondisi ini untuk kepentingan yang justru antidemokrasi dan kesatuan bangsa.
  2. Unjuk rasa atau demonstrasi sah dilakukan di negera demokrasi ini, namun tetap harus disesali pelaksanaan demonstrasi yang mengeksploitasi anak-anak berusia sekolah. Kita perlu mengecam setiap demonstrasi yang dilakukan secara anarkis, semua demonstrasi yang direkayasa demi kepentingan segelintir orang. Demikian pula kita mengecam sikap kepolisian yang represif dalam menangani aksi unjuk rasa masyarakat di beberapa tempat. Pembiaran atas benturan dan kekerasan telah membuktikan bahwa lingkaran kekerasan dapat terus berulang dan menimbulkan korban yang sia-sia dari masyarakat maupun kepolisian.
  3. Presiden sebagai pemimpin tertinggi negara patut mengedepankan empati terhadap masyarakat serta upaya persuasif dalam rangka meredam aksi penolakan yang dapat menyebabkan krisis yang lebih buruk. Kami menghargai respons Presiden terhadap situasi bangsa pasca penetapan UU Ciptaker–melalui media, pada Jumat, 9 Oktober 2020. Sebagai tindak lanjutnya, kami sangat mengharapkan kebesaran hati Presiden untuk membuka ruang-ruang dialog solutif dan komunikasi lebih luas dengan pihak-pihak terkait. Untuk maksud tersebut, diharapkan pula pemberlakuan UU Ciptaker ini dapat ditunda oleh Presiden dengan mekanisme yang berlaku–sampai terlaksananya proses dialog dimaksud dan situasi menjadi lebih kondusif
  4. DPR RI dan seluruh Pemangku Kebijakan hendaknya lebih membuka diri, melakukan refleksi dan introspeksi terhadap berbagai kebijakan diskriminatif dan eksploitatif. Sikap mendengar dan kerendahan hati sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan peraturan atau kebijakan yang berlaku untuk seluruh rakyat. Kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia harus selalu menjadi prioritas utama para wakil rakyat yang dipercaya untuk memimpin negara ini. Dalam hal rencana sinkronisasi UU Ciptaker terhadap berbagai masukan, perubahan serta peraturan lainnya, sepatutnya dilakukan dengan mengedepankan prinsip kejujuran dan transparansi agar dapat diterima oleh rakyat secara luas.
  5. Dengan semakin meningkatnya angka penderita Covid-19, kami memandang semestinya pemerintah lebih fokus dan mendorong percepatan penanggulangan masalah pandemi yang belum menunjukkan penurunan signifikan.
  6. Kami mengajak seluruh tokoh agama dan masyarakat untuk tidak terjebak pada gerakan yang ekstrem ke kanan ataupun ke kiri. Sebagai anak-anak bangsa yang dikaruniai kepemimpinan dan kemampuan untuk memengaruhi banyak umat dan masyarakat, hendaknya para tokoh dapat mengedepankan sikap kritis-prinsipil dan moderasi demi terwujudnya keutuhan, kedamaian dan kesejahteraan bangsa.

Demikian penyampaian kami sebagai anak-anak bangsa. Semoga bangsa kita terhindar dari segala musibah, dan mimpi-mimpi kita untuk perubahan yang lebih baik ke depan bagi pemerintah, rakyat, dan seluruh sumber daya Indonesia dapat terwujud.

Jakarta, 10 Oktober 2020

Keluarga Besar dan Mitra ICRP

Prof. Musdah Mulia
Ulil Abshar Abdalla
Pdt. Gomar Gultom
Prof. Philip K. Wijaya
Mgr. Yohanes Harun Yuwono
Budi Santoso Tanuwibowo
Johannes Hariyanto, SJ
H. Denny Sanusi
Pdt. Jimmy Sormin
Astono Chandra Dana
Endang Retno Lastani
dr. Rahmi Alfiah Nur Alam
Naen Soeryono, SH. MH.
Engkus Ruswana
Pdt. Frenki Tampubolon
Ust. Ahmad Nurcholish

Narahubung:
Pdt. Jimmy Sormin (085228385610)
Pdt. Frenki Tampubolon (0811138816)

 

Unduh file PDF:

https://tinyurl.com/pernyataansikapICRP

Mencari Norma Baru Jejaring Lintas Iman

[dropcap]A[/dropcap]da koreksi besar bahwa fundamentalisme beragama tidak relevan lagi, ini sudah cukup lama ditengarai, terutama karena fundamentalisme gagal total menghadapi krisis kemanusiaan. Fundamentalisme sangat tidak cocok dengan kehidupan global yang menuntut kolaborasi dan solidaritas. Solidaritas kemanusiaan dalam menghadapi Pandemi Covid-19 inilah yang dibutuhkan saat ini, ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa fundamentalisme nol besar kontribusinya bagi kemanusiaan.

Tentu saja ada recovery yang kita imajinasikan setelah pandemi covid ini berlalu. Misalnya ada beberapa yang memulai mempercakapkan secara serius misalnya Ketahanan Pangan oleh PGI, secara menyeluruh hal ini telah menjadi wacana yang tidak dapat lagi ditolak.

Beberapa pengusaha yang saya kenal telah mengatakan bahwa pandemi covid menghantam telak dunia usaha. Pada kesempatan ini penting bagi kita untuk focus pada new normal. Pandemic covid-19 dalam pendekatan lama mengatakan kita merugi secara material plus non-material.

Pendekatan baru para pegiat lingkungan, pegiat lintas agama dan seharusnya bagi kita semua tanpa terkecuali.  Inilah saatnya mengatur ulang langkah bersama tanpa seorangpun terpinggirkan. Seorang teman mengatakan, “Bumi bisa bernafas kembali dari istirahatnya hiruk pikuk keserakahan manusia.”

Karena itu sumbang saran sekaligus catatan acak saya bagi kita bersama dalam upaya membangun kerjasama lintas iman bisa dimulai dengan hal-hal berikut:

  1. Dalam dialog lintas iman, relasi sosial yang baru tentu saya mengamati masih banyak orang atau lembaga agama hidup dengan pola lama yakni mencari aman. Koreksi terbesar saat ini pola dialog antar iman “kemenag dengan selalu memakai template hanya 6 agama” yang dilakukan di atas panggung masih gencar dilakukan. Semua media meliput dialog ala “kemenag style”, pengaruh gaya seperti ini sudah terasa juga di kalangan anak muda dan anak-anak, ini memprihatinkan sekali. Kita tahu pada masa lampau gus dur, Nucholish Madjid, TH Sumartana meskipun mereka adalah tokoh elit/popular tetapi mereka merakyat dan banyak mengoreksi dengan tegas kepada penguasa.
  2. ICRP tidak henti-hentinya mengkampanyekan bahwa Indonesia itu bukan hanya terdiri atas 6 agama. Ada ratusan agama dan kepercayaan yang seharusnya memperoleh kesempatan yang sama dalam. Spiritualitas perdamaian menjadi panggilan kolaborasi lintas iman. Dan generasi muda menjadi fokus terbesar saat ini. Post Secularism bisa kita pakai untuk melihat bersama bahwa cara lama (cat. kolonialisasi Barat) yang kental menjadi nilai penentu dalam kita melakukan pengamatan. Pelanggaran KBB buah dari konservatisme menguat, yang disebut dengan politik identitas. Kita semua ditantang untuk mengakui bahwa kita enggan melangkah keluar dari ruang nyaman rumah ibadah kita semua. Melauli pandemi Covid-19 ini, secara perlahan,  orang mulai mengerti untuk berpikir dan bertindak berbeda harus dilakukan dalam kehidupan beriman maupun relasi sosial masyarakat.
  3. Saya sangat setuju Pdt Gomar ketum PGI mengatakan berulang-ulang bahwa tantangan terbesar kehidupan sosial masyarakat termasuk hubungan antar iman yang sangat berbahaya adalah, bila terjadi perselingkuhan antara pengusaha, penguasa dan tokoh agama. Kuatnya pengaruh pengusaha dalam ruang agama bisa dibuktikan dengan tidak sedikit pengusaha yang menjadi tokoh agama, dan tentu ada juga tokoh agama yang ingin menjadi pengusaha dan gejala ini muncul diberbagai lapisan. Saya juga menaruh hormat kepada pengusaha yang pada akhirnya menjadi tokoh agama ini berarti lebih mendekatkan diri kepada spiritualitas. Kita sangat senang masih ada AA Yewangoe, Buya Safii Maarif yang secara tegas memperlihatkan keteladanan hidup sederhana dan berlaku selayaknya tokoh agama.
  4. Saya sendiri sangat tertantang untuk melakukan sebuah pendalaman studi dialog antar iman, saya akan mencoba fokus pada pengamatan dialog pasca reformasi. Masih sebuah pengamatan yang perlu dibuktikan bahwa dialog semakin elitis nyaris tidak berkembang. Apakah hal ini bisa disebabkan banyaknya tokoh agama dan jaringannya yang melingkari pusat kekuasaan sehingga ketika ada persoalan diskriminasi umat beriman. Lihatlah kasus yang mengemuka: Sudarto di Padang, Ibu Meliiana di Tanjung Balai, pembakaran masjid di Tolikara Papua dan pembakaran gereja di Aceh Singkil, GKI Yasmin dan HKBP Filadelphia,  apapun yang terjadi, daya kritis yang diperlukan kian memudar/terhilang untuk dapat tetap jernih dan menyelesaikannya. Tentu saja dialog sampai kapanpun adalah sebuah perjalanan bersama, yang sekaligus menjadi sebuah perjalanan yang seharusnya banyak berbagi cerita (bahagia), bukan rasa curiga.
  5. Krisis Kaderisasi. Cerita bahwa ruang dialog lintas agama dilabeli dengan 4L (Lu lagi-lu lagi) membuktikan persoalan kaderisasi adalah mutlak. Adakah lembaga-lembaga agama yang secara serius melakukan ini secara terencana? Proses alamiah kaderisasi tidak akan mencukupi pemenuhan kebutuhan nyata di masa mendatang. Harus ada upaya serius mempersiapkan kader-kader penggiat dialog lintas iman, demi memenuhi kebutuhan nyata di saat pendemi Covid-19 seperti sekarang dan di masa mendatang.

Salam damai Frangky Tampubolon – pegiat perdamaian lintas iman.

Pelajaran Berbagi dari Realitas Pandemi Covid-19

[dropcap]N[/dropcap]ama saya Frangky Tampubolon, saya tinggal di Bekasi dan saya aktivis perdamaian lintas agama. Saya ingin bercerita sesuatu yang membuat hati saya tersentuh beberapa waktu ini, khususnya beberapa bulan ini. Ada seorang ibu yang saya jumpai, ia menyampaikan bahwa ia telah kehilangan mata pencahariannya dan hari itu memberi kabar bahwa dia sudah tidak punya beras. Dan saya cukup kaget bagaimana pandemi covid-19 ini membuat dia sangat kesulitan.

Saya langsung memberikan apa yang ada di rumah kami, kebetulan saya baru membeli beras 5 kg. Lalu saya bagi beras itu untuknya, saya kirimkan dengan tambahan bumbu dapur dan lainya, itu membuat saya terkejut dengan realitas saat ini tentang pandemi covid ini. Kemudian saya berjumpa lagi dengan seorang ibu yang mengatakan saya demikian waktu saya memberikan telor, “Pak saya ini mungkin tidak akan mati karena covid,tetapi bisa saja saya mati karena kelaparan.”

Tetapi lain hal yang membuat saya lebih terkejut lagi, ketika saya bertemu lagi dengannya dan dia berkata, “Pak saya menerima bantuan telor, dan ternyata di sekitar saya banyak orang yang perlu bantuan, sehingga bantuan bapak saya bagi per seperempat kilo telor, supaya orang bisa ikut makan.”

 

Realitas tentang pandemi Covid-19 ini, sungguh-sungguh membuat saya tidak bisa diam tidak bisa tidur. Saya bersama teman membangun kepedulian, melalui lembaga yang kebetulan saya nahkodai, yakni ICRP. Kami membangun sebuah kebersamaan dengan teman-teman relawan, ICRP Peduli. Ini semua membuat saya sampai pada hal, apapun yang bisa kita lakukan, sekecil apapun yang kita lakukan mengatasi pandemi Covid ini sangat berarti.

Teman-teman ada yang memberikan bantuan kecil, ada yang memberikan bantuan sedikit demi sedikit. Dari semua ini, anda tidak perlu menunggu menjadi orang kaya atau memiliki segala hal baru bisa memberi kepada orang lain. Saya sendiri sangat tergerak ketika ada orang yang mengatakan dia tidak beruntung, tetapi dia juga mengatakan bahwa masih banyak orang lain yang tidak beruntung. Dan karena itu, kebersamaan yang dibutuhkan saat ini adalah kebersamaan yang sungguh-sungguh ingin membangun kehidupan solidaritas, kehidupan yang ingin memperhatikan satu dengan yang lain.

Kalau anda merasa tidak beruntung, lalu melihat orang lain lagi yang juga tidak beruntung, maka disitulah sebenarnya nilai-nilai kebersamaan itu ada, gotong royong itu ada.

Sampai kapan kita harus menerima realitas ini? Saya yakin kita semua pasti bisa melewati badai yang sangat besar ini. Dan ini mungkin peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan terjadi, dimana dunia mengalami pergolakan yang sangat besar.

Kunci dari keberhasilan kita bersama melewati semua ini adalah, lihatlah disekeliling anda, perhatikanlah dan jangan merasa kita tidak pernah menjadi bagian dari sekeliling kita itu. Tuhan memberkati kita semua, dan saya yakin Covid-19 akan bisa kita atasi bersama.