Bom Bunuh Diri di Katedral Makassar 2021

Rabu, 31 Maret 2021

 

Oleh Ridwan al-Makassary

 

Kota Makassar berduka. Minggu, 28 Maret 2021, pukul 10.30 WITA, bom bunuh diri (suicide bombers) telah mengguncang gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Peristiwa tragik tersebut terjadi pada perayaan Minggu Palma yang kudus, dalam tradisi Katolik, sebagai satu rangkaian Pekan Suci menunju Paskah pada 4 April 2021, dan pada saat Muslim bersiap menyambut malam Nisfu Sya’ban yang syahdu.

Bom bunuh diri dipilih sepasang suami istri, yang dikenali sebagai Lukman dan Yogi Safitri Fortuna, berdasarkan identifikasi dari Tim INafis Polrestabes Makassar dan Tim labfor Mabes Polri. Mereka berdua yang baru menikah enam bulan dan istrinya diduga sedang hamil muda adalah kaum muda “millenial”, yang mengendarai sepeda motor dengan nomor polisi DD 5984 MD dalam menuntaskan aksinya.

Data awal yang terkumpul menyebutkan bahwa pelaku acap hadir dalam pengajian di Villa Mutiara, Cluster Biru, Makassar dan terpapar doktrin jihad yang ekstrem. Hal yang menarik dikaji adalah pelaku bom bunuh diri mendasari tindakan “heroik”nya  dengan jihad, satu doktrin dalam Islam yang melahirkan beragama interpretasi. Jihad dalam Islam tidak monolitik, mulai dari jihad dalam pengertian menuntut ilmu hingga mengangkat senjata melawan penguasa kafir.

Selain karena sibuk merevisi riset di Centre for Muslim States and Societies University of Western Australia, saya menahan diri untuk merespon peristiwa tragik tersebut sambil melihat perkembangan. Paska kejadian di pagi hari itu, dan mendapati media sosial, facebook terutama sore harinya, telah dipenuhi beragam surat pernyataan sikap lembaga yang rerata mengutuk, pelbagai komentar dan analisis dari berbagai pihak, termasuk sebagian teman-teman saya yang mendalami isu radikalisme agama dan teroris. Tidak ketinggalan beberapa host zoom seminar berlomba untuk menampilkan webinar tentang kejadian di Makassar itu dengan menghadirkan berbagai pembicara. Hal yang absah saja di tengah tuntutan zaman yang membutuhkan informasi cepat dan berlomba menampilkan citra diri dan lembaga yang diusung untuk eksistensi.   

Kota Makassar adalah sebuah kota yang istimewa, karena orang tua dan leluhur saya berasal dari kota Daeng. Masa remaja, dan cinta pertama saya, sebagai santri di salah satu pesantren di kota Makassar masih teringat di rerimbun ingatan. Bahkan, di ujung nama saya ada tambahan Al-Makassary, sehingga acap saya dikira cucu Syekh Yusuf Al-Makassary, yang terkenal itu. Karenanya, saya selalu merindukan kota ini, meskipun saya lebih banyak menghabiskan umur saya di Jawa, Papua dan beberapa negara manca.

Setahun yang lalu, pada fajar Maret 2020, dalam ancaman Covid-19, saya menjejak kaki di kota Makassar untuk mengkoordinir satu kegiatan “Pengarusutamaan Dialog Antar Agama untuk Perdamaian”, sebuah program yang dibiayai KAICIID Internasional yang berpusat di Austria. KFN Indonesia bekerjasama dengan YPMIC menggelar beberapa kegiatan, di antaranya seminar sehari tentang “Dialog Antar Agama untuk Perdamaian di kampus UIN Alauddin; Makan malam bersama para pegiat perdamaian dan Camping perdamaian bersama pemuda lintas iman di Malino. KFN Indonesia juga menerbitkan satu buku kompilasi para pegiat damai seIndonesia bertajuk “Menyalakan Lilin Dialog Antar Agama” (2020), yang saya edit bersama sahabat kandung Romo Yusuf Daud, yang saat ini sebagai ketua KFN Indonesia.

Pada saat itu, saya menaruh harapan yang besar bahwa kota Makassar menjadi pilot percontohan toleransi beragama di tanah air dengan melihat ghirah para pemuda Camping Perdamaian, pegiat damai kota Makassar, para penulis buku dari kota Daeng serta peserta seminar, dan juga berbagai kegiatan lintas iman berbagai organisasi masyarakat sipil dan lembaga pendidikan seperti UIN Alauddin. Sebelumnya, saya juga pernah turut serta dalam pembuatan draft Modul perdamaian Dian Interfidei di kota ini beberapa tahun sebelumnya.  Namun, harapan saya tersebut hancur berkeping-keping dengan kejadian bom di kota Makassar tersebut.

Saya tidak mendalami perkembangan Islamisme di kota Makassar, kecuali mengetahui dari berbagai bacaan ilmiah bahwa masyarakat Muslim di kota Makassar termasuk fanatik dalam beragama. Sewaktu di pondok tersebut saya menyaksikan perkembangan Jemaah Tabligh dan animo pemberlakuan perda Syari’at Islam di Bulukumba paska reformasi. Belakangan saya tahu HTI dan kelompok-kelompok Salafy juga berkembang di kota Makassar. Namun, sejauh mana panetrasi gerakan Islam transnasional tersebut untuk pertumbuhan radikalisasi mungkin perlu diteliti lebih jauh. 

Tentang “Bom di Katedral Makassar”, saya hanya ingin mendiskusikan pandangan beberapa skolar yang tampaknya relevan dalam melihat persoalan Bom Makassar dari sebuah perspektif yang lebih luas. Strozier dkk (2010) berpandangan bahwa generasi baru jihadi global, khususnya setelah 11 September 2001, adalah orang modern, berorientasi internet, dan pemuda yang melek teknologi. Umumnya mereka ingin membalas dendam dengan kondisi penindasan Muslim di Afghanistan, Irak, Palestina dst. Elemen pembalasan dendam jihadism adalah penting. Pembalasan dendam berdasarkan sebuah psikologi  perlawanan serupa dengan  gagasan Nietzche: ia adalah sebuah reaksi ketimbang suatu aksi, berdasarkan suatu rasa kebencian yang mendistorsi realitas dan memandang musuh sebagai tidak bermoral.

Baca juga: PMKIT: Bom Bunuh Diri Bertentangan dengan Hukum, Hak-hak Asasi Manusia dan Agama

Lebih jauh, Strozier dkk menjelaskan bahwa jihadis memiliki dua dunia yang berbeda, dengan mana di dunia Islam dan dunia Barat terdapat perbedaan. Di Eropa, kebanyakan jihadis adalah orang Eropa, baik yang convert kepada Islam atau yang sudah menjadi bagian dari komunitas Islam, di mana mereka umumnya miskin dan tidak memiliki kerja yang mapan. Mereka merasa terasing dan tidak tersertakan dalam pembangunan di Eropa. Mereka merasa ditolak dan terstigmatisasi. Sebaliknya, dalam dunia Muslim, kebanyakan jihadis berasal dari golongan kelas menengah, meskipun dalam beberapa kasus mereka berasal dari golongan tradisional.

Pandangan di atas bisa menjelaskan bahwa pelaku Bom Katedral  adalah kaum milenial, yang tampaknya berasal dari kelas menengah, berpendidikan, melek teknologi karena bisa mengakses informasi tentang tutorial pembuatan bom melalalui internet. Selain itu, tampaknya pelaku memiliki sebuah kelompok pengajian di Makassar yang dari sana ajaran-ajaran jihad yang ekstrem, riba haram, non-Muslim kafir, dst, dipupuk. Tampaknya sejalan juga dengan sinyalemen Hwang and Schulze (2018) yang menyebutkan empat pintu masuk ke kelompok ekstremis Islam di Indonesia: pengajian, konflik lokal, kekerabatan, dan sekolah. Melalui pengajian tersebut narasi perlawanan atas ketertindasan Muslim acap dihidupkan, termasuk jihad yang berarti perang dan kekhalifahan sebagai sesuatu yang mesti perjuangkan. Sehingga tindakan jihadis di Makassar dapat diujarkan sebagai bagian dari jihad global.

Gambaran psikologis dari jihadi global dapat disingkat sebagai berikut. Pertama, internalisasi penindasan dan upaya untuk membalikkan situasi ketertindasan dengan cara yang tidak proporsional. Kedua adalah viktimisasi (merasa sebagai korban). Ketiga, keinginan untuk mendapatkan pengakuan narsistik melalui media dunia. Jihadis adalah produk dari sistem komunikasi global; proses pengakuan mereka, tidak seperti para jihadis nasional, didasarkan pada kemunculan gambar mereka di mana-mana di media di seluruh dunia.

Mengakhiri tulisan singkat ini, penulis ingin mengutip Salman Rusdhi dalam novelnya Shalimar bahwa ciri esensial orang yang melakukan teror adalah gagasan tentang kejantanan yang tidak dihormati (the idea of dishonored manhood). Karakternya Shalimar mengangkat senjatanya bukan hanya karena hatinya terluka, tetapi karena kehormatannya dihinakan dengan kehilangan wanita yang dia cintai. Dia harus membangun kembali rasa kejantanannya dengan jalan menyayat leher duta besar Amerika. Seperti halnya pasangan Lukman dan Safitri yang bercita-cita untuk menjadi mujahid melawan sebuah dunia yang menindas kaum Muslim dengan bom bunuh diri.

 

Ridwan Al-Makassary,  Pekerja perdamaian yang sedang meniti jalan sunyi intelektual di Perth, dan penulis buku “Terorisme Berjubah Agama”.

Wajah Ganda Agama

Rabu, 31 Maret 2021

 

Jika ada sebagian orang yang menilai agama sebagai fenomena yang berwajah garang dan menakutkan, maka kita tidak bisa menyalahkahkan sepenuhnya. Di mata mereka, agama hanya menjadi biang kekacauan, kebencian, percekcokan, permusuhan, konflik, bahkan peperangan. Tindakan terror, seperti bom bunuh diri di Makassar belum lama ini kian memperkokoh tesis tersebut.

Konon Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria al-Razi (863-925), seorang dokter dan filsuf di dunia Islam, sebagaimana dinukil Kautsar Azhari Noer (2008:91), mengkritik agama dan memandangnya sebagai bencana. Ia menolak kenabian. Baginya, akal sudah cukup untuk mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Dengan akal manusia mampu mengetahui rahasia-rahasia ketuhanan dan mengatur segala persoalan hidup.

Tuhan tidak mungkin menetapkan kenabian pada sekelompok manusia tertentu, yang mempunyai kelebihan atas kelompok manusia yang lain. Padahal semua manusia dilahirkan dengan akal dan kemampuan yang sama. Lagi pula, ajaran-ajaran para nabi itu saling bertentangan yang membuat para pendukungnya saling mendustakan, memusuhi, menilainya sesat, dan lalu membunuh.

Banyak manusia binasa karena perseteruan dan peperangan atas nama agama. Dan itu terjadi bukan hanya antar umat yang berbeda agama, tetapi juga antar penganut di dalam satu agama tertentu. Sejarah agama-agama betul-betul diwarnai dengan semangat kebencian dan pertikaian serta dilumuri darah berceceran pada setiap peperangan. Nyawa pun melayang tidak hanya ribuan, bahkan mungkin jutaan.

Fakta itulah yang membuat seorang anggota Gereja Anglikan Jonathan Swift, meskipun ia adalah penganut suatu agama, tetapi mengakui secara jujur dengan mengatakan, “Kita memunyai agama yang memadai untuk membuat kita saling membenci, tetapi tidak memadai untuk membuat kita saling mencintai.”(Ibid.) Betapapun agama memang telah menampilkan sosoknya yang memiliki wajah ganda. Di satu sisi ia mengajarkan cinta, kasih-sayang, perdamaian dan toleransi, di sisi lain ia juga telah menjelma menjadi sosok mengerikan sekaligus menakutkan.

Karena itu kritik pedas juga dilontarkan oleh A.N. Wilson, seorang novelis dan jurnalis asal Inggris. Di mata Wilson, cinta pada Tuhan adalah akar segala kejahatan. Agama adalah tragedy umat manusia. Tidak ada suatu agama yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai perang, tirani dan penindasan kebenaran. Agama mendorong para penganutnya untuk menganiaya satu sama lain, untuk menggunakan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, dan untuk mengklaim diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran.

Baca juga: Ketua PBNU: Kekerasan dan Teror Bukan Ajaran Agama

Dengan tandas Wilson mengatakan:

“Dikatakan dalam Bible bahwa cinta pada uang adalah akar seluruh kejahatan. Mungkin lebih benar untuk mengatakan bahwa cinta pada Tuhan adalah akar seluruh kejahatan. Agama adalah tragedy umat manusia. Ia mengajak kepada apa yang paling mulia, paling murni, paling tinggi pada ruh manusia, namun hampir tidak ada sebuah agama yang tidak betrtanggung jawab atas banyak perang, tirani dan penindasan kebenaran. Marx melukiskan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama jauh lebih berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat rakyat tertidur. Agama mendorong mereka untuk menganiaya satu sama lain, untuk memuji-muji perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri kepemilikan kebenaran”. (Wilson, 1992: 1).

Apa yang dikatakan Wilson lebih dari 20-an tahun lalu ini bukan saja berdasarkan pada realitas empiris yang sudah terjadi sebelumnya, namun hingga detik ini pun agama kerap-kali menjelma menjadi alat untuk membenci, mencaci,  bahkan mengenyahkan yang lain. Di negeri kita tercinta Indonesia hal itu pun benar-benar nyata. Kasus penutupan (penyegelan),  pembongkaran gereja dan masjid serta pembakaran rumah ibadah lainnya telah menjadi pemandangan menyesakkan nurani bagi yang menyakini bahwa agama sejatinya tidak memiliki ajaran demikian.

Betapapun menyakitkannya kritik keras terhadap agama bagi kita, tetapi tak seharusnya kita berang apalagi meradang. Profesor Kautsar Azhari Noer (dan sejumlah tokoh lintas agama lainnya) selalu mengajak kita untuk menanggapi kritik itu dengan bijaksana. Menurutnya, mungkin ada yang keliru dengan pemahaman dan penafsiran kita tentang agama yang membuatnya berwajah menakutkan. Mungkin juga ada yang perlu diperbaiki.

Sekelompok pemikir kristis mengusulkan agar teologi agama-agama perlu diubah dari eksklusivme menjadi pluralisme. Alasan mereka adalah bahwa eksklusivisme tidak toleran terhadap perbedaan, monopoli kebenaran (mengaku hanya dirinya sendiri yang benar), memandang yang lain sesat dan kafir, dan cenderung memaksanakan keinginannya kepada yang lain. Eksklusivisme yang sempit, kaku dan tidak terkendali cenderung menjadi sumber kebencian dan permusuhan bagi para penganutnya terhadap yang lain.

Sedangkan pluralisme bukan hanya menghargai perbedaan tetapi juga mengakui bahwa kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu agama. Pluralisme mendorong para penganutnya untuk bersikap toleran, berdialog, bersahabat, kerjasama dan setiakawan dengan orang lain. Dalam sejarah Islam, banyak sufi adalah pluralis. Mereka adalah kelompok Islam yang paling toleran, paling simpatik, paling terbuka, dan paling ramah terhadap agama-agama lain. Kaum Sufi memandang bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada agama cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Cinta adalah esensi segala kepercayaan.

Dengan demikian yang perlu kita kedepankan adalah sikap humanis. Agama yang dibutuhkan oleh setiap manusia dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi adalah agama yang humanis. Agama yang menampakkan wajah ramahnya dan bukan marahnya. Agama yang menunjukkan sikap kelemah-lembutan dan bukan karakter garangnya. Agama yang selalu mengedepankan cinta-kasih dan bukan yang membawa semangat kebencian.

Sejatinya, sebagaimana pernah disampaikan Mulyadhi Kartanegara, secara ideal dan normative, semua agama bertujuan untuk kemanusiaan, dalam arti untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Semua agama memproklamirkan dirinya sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan seperti kebajikan, kedamaian, cinta, kasih sayang, kedermawanan, persaudaraan, solidaritas, persamaan, dan keadilan. (1986: 82).

Oleh karena itu, sudah saatnya kita tinggalkan wajah agama yang garang. Mari kita kembali beragama dengan semangat saling mengenal secara mendalam, menebar kasih-sayang, toleran  dan mewujudkan sepirit salam, yakni memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi sesama umat manusia, apapun etnis dan agamanya. Dengan begitu agama tak lagi berwajah ganda. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi Kabar Damai, Deputy Direktur ICRP

Saat Bom Meledak

Selasa, 30 Maret 2021

 

Oleh Albertus Patty

 

Saat mendengar berita ada bom meledak di gereja Katolik Makasar, seharusnya kita mulai bertanya: apa akar dari aksi kekerasan dan terorisme ini?

Kekerasan dan terorisme bisa muncul dari umat beragama mana saja. Aksi kekerasan itu mendegradasi kemanusiaan sang teroris, dan juga menghancurkan kemanusiaan sang korban. Dari mana akar kekerasan itu? Jawabannya bisa dari mana saja. Tidak pernah ada satu faktor tunggal dalam aksi-aksi terorisme.

Salah satu akar kekekerasan terletak pada penghayatan keberagamaan personal banyak umat beragama yang cenderung sempit, fundamentalistik dan eksklusifistik.

Dalam konteks sosial terutama dalam relasi dengan umat lain, baik yang seagama maupun yang beda agama, kaum fundamentalis membangun sikap oposisi biner yang polaristik: Kami vs Mereka. Yang lain itu sesat, kafir dan bahkan anak setan. Labelisasi itu untuk membangun dominasi dan hegemoni spiritual terhadap siapa pun yang berbeda.

Saat ini di kalangan Kristen orang suka mendengar Christian Prince. Saat mendengar ulasannya dan membaca bukunya, kita akan mendengar semangatnya untuk menjelek-jelekan umat Islam dan agama Islam. Posisi Prince terhadap Islam sangat jelas yaitu  oposisi biner. Ini posisi polaristik Kami Vs Mereka. Prince membuat banyak umat Kristen bangga, tetapi bukan bangga pada nilai kebaikan dan cinta yang menjadi ciri kekristenan. Prince membuat umat Kristen bangga karena dia mengulas kejelekan agama lain, terutama Islam. Ini suatu kebanggaan semu di atas pondasi yang rapuh. Sikap ini sangat bertolak belakang dari nilai cinta kasih Kristen.

Di Islam, posisi oposisi biner yang menganggap yang berbeda sebagai sesat atau kafir dipegang oleh orang2 seperti sang mualaf baru Yahya Waloni dan Ustad Abdul Somad atau beberapa ustad lainnya. Khotbah mereka sering mengungkit keburukan dan kesesatan umat Kristen.

Sikap yang sama sedang berkembang juga di kalangan Buddha Fundamentalis di Myanmar yg mengorbankan etnik Karen yg Kristen dan etnik Rohingya yg Islam.

Di India Fundamentalis Hindu yg ditopang partai  BJP yang berkuasa membangun mental oposisi dan polaristik terhadap umat lain sehingga terjadi penindasan terhadap umat Islam dan umat Kristen.

Baca juga: Pernyataan Sikap ICRP terhadap Aksi Bom di Depan Gereja Katedral Makassar

Apa yang disebar oleh orang2 seperti Prince,  Somad, dan Waloni  adalah kebanggaan spiritual semu yg sempit di atas pondasi nafsu kebencian, dominasi dan hegemoni spiritual terhadap umat lain.

Sikap oposisi biner yang polaristik ini akan berimbas menjadi konflik dan permusuhan peradaban seperti yang pernah ‘dikehendaki’ oleh Samuel Huntington, sang ideolog konservatif kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat.

Memang, menyampaikan pesan agama dalam kemasan oposisi biner, plus dengan bahasa  sangat vulgar super ‘keras’ yang melecehkan serta merendahkan mereka yang berbeda itu paling menarik emosi umat dan para petobat atau mualaf baru. Ia membangkitkan rasa heroisme. Ada kepuasan instingtif reptilian.

Meskipun demikian,  pesan agama yang keras ini menimbulkan cost sangat mahal yang harus dibayar bangsa ini. Virus kebencian dan konflik yg terus dipompakan akan menciptakan lingkaran kekerasan abadi yang  melenyapkan kita semua. Lingkaran kekerasan abadi ini hanya berhenti saat kita sendiri berinisiatif memutuskan rantai kekerasan itu. Dan kita percaya bahwa kekerasan dan terorisme bukanlah spirit agama mana pun. Kekerasan atas nama agama adalah pseudo religion.

Bagi umat Kristen, kita percaya bahwa hal yg paling utama dan paling prinsip adalah Yesus tidak mengajarkan kita untuk memberitakan Injil dengan cara menjelekkan atau merendahkan umat lain atau agama2 lain. Cara seperti itu jauh dari prinsip kasih. Cara itu tidak kristiani!

Sikap memandang umat atau agama lain sebagai lawan, musuh, kafir atau sesat adalah warisan kolonialis dan kecenderungan agama suku yg masih kita pelihara. Padahal sikap ini merupakan ‘bom nuklir’ yg suatu saat akan menghancurkan kita semua, terutama generasi mendatang.

Rasanya sudah saatnya kita, umat Kristen, memiliki sikap seperti Yesus yang bersikap positif,  merangkul dan mencintai siapa pun. Bukan merendahkan atau meniadakan umat yg lain.

Kalau kita mampu menerapkan nilai cinta kasih Kristen yang dipraktekkan Yesus, kita pasti tegas menolak para demagog agama yang memprovokasi umat dengan tujuan perpecahan bangsa.

Nilai cinta yang merangkul dan menghormati perbedaan dan keragaman mendorong kita mengatakan TIDAK terhadap Yahya Waloni, tetapi juga mengatakan TIDAK terhadap  Christian Prince atau demagog Kristen manapun.

 

Pdt, Dr. Albertus Patty, Rohaniwan Kristen, aktivis lintas-agama

Menuju Damai Positif

Minggu, 28 Maret 2021

 

Jakarta – Masih banyak yang memahami bahwa perdamaian adalah ketika tiadanya perang, tiada kekerasan, atau tiada konflik di tengah masyarakat. Dalam pandangan Johan Galtung, kondisi seperti itu ia sebut sebagai damai negative (negative peace). Lantas bagaimanakah damai positif itu?

Galtung mendefinisikan perdamaian negative sebagai situasi absennya konflik (conflict) dan kekerasan (violence). Dari permukaan bisa jadi ini sebuah kondisi yang menyenangkan. Akan tetapi, realitas yang sesungguhnya bisa jadi berbeda. Banyak masyarakat mengalami penderitaan akibat konflik dan kekerasan. Bahkan ketidakadilan kerap menimpa sebagian masyarakat kita.

Baca Juga : Mewujudkan Perdamaian Dunia Bisa Dimulai dari Hal-hal Kecil

Oleh karena itu, sembari menjaga kondisi damai negative tersebut, kita harus memikirkan untuk beranjak ke arah damai positif (positive peace). Perdamaian positif oleh Galtung didefinisikan sebagai absennya kekerasan structural atau terciptanya keadilan social serta terbentuknya suasana harmoni (Globalizing God, 2008: 16).

Apa yang diungkapkan sosiolog asal Norwegia tersebut senada dengan yang disampaikan Robert B. Baowollo, “si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)”. (IDEA, Maret 2011: 29).

Mengacu konsep tersebut, usaha mewujudkan perdamaian tidak hanya untuk mengurangi dan menghilangkan tindak kekerasan semata, tetapi juga adanya ikhtiar untuk mewujudkan rasa tentram, harmoni, dan damai dalam realita kehidupan social.

Paling tidak ada tiga ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai usaha menuju damai positif. Pertama, menggali kembali ajaran-ajaran perdamaian di masing-masing agama. Terlalu banyak ajaran-ajaran tersebut dapat kita ungkap kembali. Tak hanya di dalam agama-agama, bahkan juga terdapat dalam ajaran-ajaran kebijaksanaan masyarakat (local wisdom).

Islam misalnya, adalah agama perdamaian. Banyak alasan untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan, yakni; (1),  Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace). (2), salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam).(3), perdamaian dan kasih-sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya Al-Quran Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan. (2010: 329).

Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.

Pada tataran ontologis, agama manapun pada hakikatnya tidak mengajarkan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri bukan bagian integral dari agama. Agama mengajarkan sikap cinta-kasih dan keharmonisan dalam hidup.  Agama memprioritaskan cara-cara damai dan kemanusiaan dalam bersikap sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai universal agama itu sendiri.

Kedua, tradisi dialog yang sudah dirintis sejak tahun 1970-an oleh sejumlah tokoh dan cendikiawan dari berbagai agama nampaknya mesti kita lanjutkan dan kembangkan. Dialog adalah langkah pertama dari realisasi ajaran agama tentang perdamaian. Dialog pula merupakan cerminan bahwa setiap kita telah memulai membuka diri kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, dialog juga menjadi pintu masuk pertama bagi terjalin-eratnya hubungan antar umat beragama. Karena itu dialog tak hanya dilakukan atau dimotori oleh kalangan elitis saja: tokoh atau pemuka agama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat biasa dari berbagai agama dan kepercayaan. Dengan begitu dialog memiliki semangat kebersamaan yang akan memberikan sumbangan positif terhadap upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu saja. Dialog juga menjadikan ruang negosiasi menjadi sangat terbuka. Dengan begitua jika salah satu pihak atau berbagai pihak memiliki kebutuhan yang menyangkut agamanya dapat dengan mudah dikomunikasikan. Melalui dialog itulah antarumat beragama tersebut memahami kebutuhan di setiap komunikas/kelompok agama.

Ketiga, ini merupakan lanjutan dari dialog, yakni kerjasama antarumat beragama. Dialog tanpa kerjasama nyata hanya akan hubungan antaragama menjadi “editansil” (ejakulasi dini tanpa hasil) semata. Kerjasama ini tidak hanya dalam bentuk kerja-kerja social kemanusiaan belaka, seperti pembuatan posko kemanusiaan bersama atau aksi tanam pohon bersama, tetapi juga kerjasama dalam ranah yang lebih mencerminkan keseriusan adanya hubungan yang sangat baik antarumat beragama.

Salah satu contoh kongkritnya adalah saling membantu dalam mempersiapkan perayaan hari-hari besar keagamaan hingga saling membantu dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Betapa menyenangkannya jika ketika umat Kristen tengah membangun gereja, umat agama lain turuty membantunya. Begitu pula sebaliknya.

Jika ketiga hal di atas dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin kondisi damai positif akan segera dapat diwujudkan. Karena itu ini menjadi PR besar bagi semua kelompok/komunitas umat beragama. Kita harus memulainya segera. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi Kabar Damai, Deputy Direktur ICRP

Taat Pancasila ala Pesantren

Sabtu, 27 Maret 2021

 

Jakarta – Tak mengagetkan jika hingga kini masih sering kita dengar dan dijumpai, beberapa kelompok keagamaan menolak Pancasila. Alasannya, Pancasila itu buatan manusia, bukan Allah. Kelompok ini lalu berusaha mengubah Pancasila dengan apa yang mereka pahami sebagai syariat Islam dan negara Islam.

Kelompok ini mengharamkan menghormat bendera. Sebab sama saja berbuat syirik, menduakan Allah. Yang patut disembah dan dihormati hanya Allah. Isu lain yang biasanya diangka juga seputar “kristenisasi” dan antek-antek Barat. Untuk mempertahankan pendirian tersebut, kelompok bahkan melakukan tindakan melawan hukum dari intimidasi, menyebar kebencian, hingga kekerasan fisik berupa terorisme.

Keyakinan bahwa yang patut disembah hanyalah Allah tentu benar. Tapi apakah menghormat bendera sama dengan menyembah selain Allah tampaknya kesimpulan yang terburu-buru dan menyederhanakan masalah. Bahwa Pancasila adalah buatan manusia, orang tahu.

Baca Juga : Mendikbud: Pengajaran Pancasila Tak Sekadar Hafalan

Namun apakah setiap yang dibuat manusia tidak menyimpan bahkan mengemban prinsip-prinsip yang digariskan Allah? Apakah setiap yang dibuat manusia harus ditolak? Bukankah ini kehidupan kita sebagai manusia dan karenanya kita berpikir, beragama, bermusyawarah, dan bernegara?

Indonesia telah menerima Pancasila sebagai dasar negara. Itu dirumuskan para pendiri bangsa ini melalui proses dan musyawarah yang panjang.

Pancasila menjadi kontrak sosial kita untuk hidup di negerini ini dan karena itu dipahami sebagai paham kebangsaan. Pancasila mengandaikan dengan jelas, Indoensia bukanlah negara agama juga bukan negara sekuler. Pada saat yang sama, Pancasila juga menegaskan jika negara melindungi segenap warga negara apapun latar belakangnya, termasuk mereka yang mengkritik tajam Pancasila. Pancasila menolak segala bentuk kekerasan yang tak sah menurut hukum.

  1. Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, dalam tulisannya “Islam, Negara, dan Pancasila” di buku Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), berpendapat, Pancasila dan Islam tak memiliki hubungan polaritatif, saling bertentangan, justru sebaliknya, versifat dialogis. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila juga bersumber dari nilai luhur yan ada dalam agama.

Pada saat yang sama ideologi negara menjamin kebebasan pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agamanya. Dengan kata lain, agama menurut KH. Abdurrahman Wahid berperan memotifikasi kegiatan individu melalui nilai-nilai yang diserap Pancasila dan dituangkan dalam bentuk pandangan hidup Bangsa.

Masih menurut KH. Abdurrahman Wahid, penerimaan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa itu juga bentuk kesadaran atas realitas keberagamaan Indonesia. Islam di Indonesia bukan satu-satunya agama yang ada. Dengan demikian, negara harus memberi pelayanan yang adil kepada semua agama yang diakui.  Itu juga berarti negara harus menjamin pola pergaulan yang serasi dan berimbang antara sesama umat.

Ia memberi ilustrasi. Kalau berurusan dengan tentangga yang muslim dalam soal agama, misalnya, seseorang dapat menggunakan keislamannya. Kalau berurusan dengan sesama muslim dalam urusan negara atau dengan orang beragama lain dalam soal agama digunakanlah Pancasila.

Cara pandang semacam ini hanya mungkin diterapkan melalui strategi penemuan bersama prinsip-prinsip universal yang terdapat dalam setiap agama dan keyakinan, yang bisa dijadikan common platform setiap warga negara dalam merumuskan peraturan perundang-undangan atau kesepakatan hidup berbangsa bernegara. Dan debat yang terbuka adalah arena di mana setiap warga negara bebas mengemukakan pendapat mereka secara fair untuk merumuskan kebijakan publik. Dalam mekanisme semacam itu, perdebatan tentang tafsir Pancasila sebagai sebagai negara sekuler, Islam, atau kombinasi keduanya, juga menjadi sangat dimungkinkan dan sah. Debat ini pasti akan terus terjadi.

 

Pesantren dan Pancasila

Sebagai organisasi keagamaan tradisional, NU memiliki sejarah pergulatan yang panjang terhadap pengakuan Pancasila sebagai dasar negara. Salah satunya adalah penerimaan Wahid Hasyim yang mewakili kalangan NU untuk mengganti piagam Jakarta dengan rumusan Ketuhanan yang Maha Esa dalam rapat anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan pada 18 Agustus 1945.

Salah satu alasannya adalah mempertimbangkan situasi politik dan keamanan kala itu yang lebih memerlukan persatuan dan kesatuan bangsa. Dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya masih dapat ditampung pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945.

Penerimaan Pancasila juga dihasilkan di Munas NU tahun 1983 di Situbondo yang salah satu agenda pentingnya membahas Pancasila kaitannya dengan asas organisasi. Dalam Munas, pembahasan ini menjadi tema pokok pada salah sub-komisi dalam Komisi Khittah, yaitu Sub-Komisi Deklarasi dimana KH. Abdurrahman Wahid menjadi pimpinan komisinya. Hasilnya Munas menghasilkan Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam, dengan lima butir pokok

Pertama, Pancasila sebagai dasar falsafah Negara Republik Indonesia bukankan agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

Kedua, “Sila Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

Ketiga, bagi NU Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. Keempat, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Kelima, sebagai konsekuensi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengalamannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Jauh sebelum kemerdekaan, penerimaan terhadap keragaman masyarakat dan nasionalisme juga ditunjukan NU dengan menerima negara Hindia Belanda sebagai negara Islam dalam Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin tahun 1936. Dengan merujuk kitab Bughyatul Mustarsyidin (hasrat para pencari petunjuk) bab Hudnah wal Imamah (perdamaian dan kepemimpinan), Indonesia dinilai sebagai negara Islam karena pertimbangan bahwa mayoritas penduduknya muslim dan pemerintah yang berkuasa saat itu tidak juga melarang orang untuk menjalankan agamanya, termasuk alasan bahwa wilayah Nusantara sejak dulu pernah dikuasai kerajaan-kerajaan Islam.

Dengan kenyataan di atas, tampaknya NU cukup berhasil membangun pondasi untuk menyelesaikan kerumitan untuk memposisikan relasi agama-negara, yang bagi sejumlah kelompok dewasa ini “bermasalah”.

Penerimaan terhadap Pancasila itulah yang juga mendasari keputusan di tahun 2007 dalam forum Bahstul Masail di Pesantren Zainul Hasan Genggong bahwa tak ada satupun nash dalam al-Quran yang mendasari gagasan negara Islam. Negara Islam atau khilafah Islamiyah merupakan persoalan ijtihadiyah.

Berkaca dari pengalaman pesantren ini kita bisa belajar bahwa ternyata Islam bisa menerima dan mendukung Pancasila tanpa harus kehilangan keimanan sedikitpun. Sebaliknya justru memperkuat. Penerimaan secama ini harus terus dipertahankan dan disuarakan, apalagi di tengah situasi bangsa dan keagamaan yang sedang dalam ancaman gerakan radikalisme. Dan kita berharap pesantren diharapkan menjadi pusat gerakan pengembangan nilai-nilai kebangsaan semacam ini. [ ]

Penulis : Abu Alrescha R. Noor, pemerhati isu-isu kebinekaan dan kebangsaan

Katong Samua Basudara

Jumat, 26 Maret 2021

 

Oleh Hilary Syaranamual

 

Bulan Oktober 1993, pertama kali saya menginjakan kaki di tanah Maluku. Ketika itu saya baru menikah dengan Nyong Ambon, Reza Syaranamual. Dalam perjalanan ke Ambon itu

kami menggunakan kapal Pelni KM Rinjani. Memasuki Teluk Ambon, hamparan lautnya terlihat indah, belum nampak dicemari polusi maupun sampah.

Di Ambon, ternyata pada bulan Oktober cuacanya paling cerah. Laut tenang berkilau seperti kaca, dan lumba-lumba ketika itu berlompatan mengiringi kapal masuk untuk merapat ke Pelabuhan Yos Sudarso. Suatu hadiah manis dan indah bagi seorang pengantin baru

yang belum pernah menyaksikan keindahan alam di Maluku.

Walaupun saya sudah tinggal lebih dari sepuluh tahun di Indonesia, tepatnya di Malang, Jawa Timur, saya tidak tahu apa-apa mengenai budaya atau bahasa yang dipakai di Ambon. Sebelumnya Reza sudah memberitahu saya bahwa bahasa yang dipakai di Ambon sama saja

dengan bahasa Indonesia yang saya pakai di Malang.

Minggu-minggu pertama di kota ini kami pakai untuk mulai mengenal keluarga, termasuk mulai memahami bahasa yang ada di sekeliling saya. Oma (mama dari ibu mertua saya) tinggal di kawasan Waihaong. Kami sering mengunjungi beliau di kawasan tersebut dan mengenal para tetangga di sana. Saya juga ingat ketika pertama kali mencicipi papeda bersama dengan keluarga besar, persisnya ketika tete (papa dari bapak mertua saya) meninggal di Amahai, Pulau Seram.

Sebagian besar waktu kami dipakai untuk pelayanan penuh waktu di gereja. Maka pergaulan kami sering kali terbatas dengan warga gereja dan kebutuhannya. Namun kami juga bertemu dengan temanteman suami saya. Ada teman sekolah dari SD, SMP maupun SMA.

Lalu ada juga teman-temannya yang sama-sama bermain sepak bola dulu. Selain mereka, ada juga teman-teman Reza di kawasan Rumah Sakit Tentara (RST) Ambon. Saat Reza kecil, keluarganya mulai dari opa, oma, papa dan mama, pernah kerja di RS sehingga dia akrab dengan lingkungan tersebut.

Kami juga sempat pulang ke Desa Nolloth di Pulau Saparua yang merupakan kampung leluhur Reza. Ke Nolloth, kami bisa mengenal lebih dekat keluarga besar bapak mertua di sana. Kami juga sempat menonton acara “Pukul Sapu” di Mamala dan Morela sebagai satu

aspek budaya di Pulau Ambon.

Setelah cukup lama berdiam di Ambon, saya mulai mengerti bahwa bagi orang Maluku yang penting adalah identifikasi posisi seseorang dalam tatanan sosial. Orang tuanya siapa? Pernah tinggal di mana? Asal dari negeri mana? Pernah sekolah di mana? Kalau identifikasi itu sudah terjadi, maka seseorang akan bercerita dengan leluasa, sebab dia sudah mengerti latar belakang lawan bicaranya sebagai sesama orang Maluku.

Dalam suatu percakapan, jika baru pertama bertemu, selalu ada usaha untuk mengerti persis hubungan seseorang dengan yang lain. Kalau tujuan itu tercapai, maka semua yang terlibat dalam percakapan itu merasa nyaman. Setelah tinggal dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari di Maluku, saya menemukan bahwa rasa kekeluargaan di antara orang Maluku sangatlah kental.

 

Keresahan dari Malang

Pada bulan Mei 1998 kami berangkat ke Malang agar Reza bisa menyelesaikan studinya untuk mendapatkan sarjana penuh. Sesampainya di Malang, kota yang pernah saya huni selama beberapa tahun sebelumnya itu, ada rasa asing dalam diri. Sampai-sampai saya

ingin cepat balik ke Maluku. Saya sama sekali tidak ingat bahasa Jawa yang pernah saya gunakan. Mungkin karena selama sekian tahun di Maluku, saya menggunakan bahasa Ambon. Ini membuat saya agak susah berkomunikasi pada beberapa minggu pertama tiba di Malang. Kami mulai menyesuaikan diri lagi dengan situasi di Jawa Timur, tempat Reza kembali belajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.

Persis pada tanggal 19 Januari 1999, Reza menelepon ke Ambon untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada salah satu jemaat kami yang tinggal persis di depan masjid Raya Al-Fatah. Kami kaget ketika mendengar dari teman itu bahwa asap kelihatan di daerah Silale

dan rumah keluarga Nikijuluw sudah terbakar. Rumah itu tidak jauh dari rumah oma di Waihaong. Reza sudah sering main di rumah itu karena Heidy adalah teman sekolahnya dari TK sampai SMA. Mama juga adalah teman sekolah dengan ayahnya Heidy. Kami telepon ke

rumah di OSM untuk mengecek keadaan orang tua. Ternyata mama sedang berada di kawasan Soabali untuk mengucapkan selamat hari Lebaran bagi teman-teman di sana. Kami merasa tidak berdaya karena jauh di Malang dan tidak bisa buat apa-apa. Malam hari kami terima kabar bahwa mama bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Konsentrasi Reza untuk tetap melanjutkan studi rasanya agak mustahil. Berita-berita dari Ambon yang terus sampai ke kami membuat kami resah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang mengontrak rumah oma di Waihaong harus melarikan diri menyelamatkan diri.

Keluarga kami di Hunuth terpaksa mengungsi, dan salah satu saudara dikabarkan meninggal ketika dia mengemudikan truk untuk menjemput anak-anak yang saat itu melakukan retreat di lokasi tempat penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) di dekat Desa Hila.

Setelah berada satu tahun di Malang, kami pindah rumah dan tinggal dekat kampus Universitas Merdeka (Unmer). Kepindahan ini terutama karena gereja tempat kami melakukan pelayanan meminta kami melayani mahasiswa. Di waktu bersamaan, saya juga diminta menjadi pembina mahasiswa Kristen di universitas tersebut. Ketika kami mulai berkenalan dengan mahasiswa di Unmer, ternyata cukup banyak dari mereka yang

berasal dari Indonesia Timur termasuk Maluku. Ada juga yang berdarah Maluku tetapi keluarganya berdomisili di Papua, atau daerah-daerah lain di Indonesia. Kami memutuskan untuk menjadikan rumah kami “open house” secara khusus bagi mereka para mahasiswa yang kami layani. Tidak itu saja, rumah itu juga terbuka bagi siapa saja yang mau singgah di situ.

Kami berusaha menciptakan suasana kekeluargaan supaya mereka yang merasa jauh dari orang tua bisa merasakan sedikit kehangatan saudara-saudara dari daerah yang sama. Lama-kelamaan bahasa yang dipakai di rumah kami adalah bahasa Ambon. Maka semua yang masuk pintu rumah kami mau tidak mau harus belajar bahasa Ambon, termasuk mahasiswa keturunan Jawa, Dayak maupun Batak, yang juga datang ke rumah. Pemikiran di balik kebiasaan ini adalah supaya kami semua yang tinggal jauh dari orang tua bisa mengungkapkan isi hatinya sendiri. Maka orang Sumba, orang Timor, orang Papua, orang

Toraja, Orang Manado dan orang Maluku, bisa berkomunikasi dengan lebih bebas.

Tujuan utama kami adalah pembinaan rohani. Harapannya, mahasiswa dapat menjadi lebih dewasa dan dapat menyelesaikan studi mereka, yang terganggu karena dampak dari kerusuhan. Mahasiswa ini sangat kuatir akan keluarga mereka, juga kiriman dana untuk studi dan kebutuhan sehari-hari mereka yang tidak lancar. Dengan bantuan dari saudara-saudara di Malang, maka karton-karton mie instan didrop di rumah. Ada juga dana yang kami salurkan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Selain kegiatan rohani, kami juga membina suatu vocal group yang sudah ada sampai kelompok ini bisa bermusik keliling Jawa Timur, bahkan pernah ke Denpasar, Palangka Raya, hingga sempat menghasilkan dua album rekaman, sekalipun untuk kalangan sendiri. Bagi mereka yang lebih suka olah raga, kami sempat membina suatu kelompok sepak bola yang pernah turut dalam kompetisi di Kostrad di Malang. Tujuan dari semua kegiatan ini adalah supaya semua tenaga disalurkan ke kegiatan yang positif.

Walaupun mahasiswa yang berasal dari Maluku cukup banyak, di Malang dapat dikatakan bahwa mereka bebas dari masalah yang berbau agama. Di rumah kami pun semua bebas datang dan berbaur. Masalah yang kami selesaikan biasanya adalah masalah pacaran dan masalah-masalah lain yang lazim terdapat di kalangan mahasiswa. Kalau ternyata berat, maka masalahnya diselesaikan suami saya merupakan seorang pendeta, bersama-sama dengan teman tentara yang berasal dari Ambon yang bertugas di Malang.

Hanya ada satu peristiwa yang terjadi di Unmer yang kami rasakan adalah rekayasa dari luar. Suatu hari mahasiwa Ambon lari ke rumah untuk memberitahukan kami bahwa ada seorang mahasiswa Kristen asal Ambon yang dipukul di gedung Fakultas Ekonomi oleh seorang mahasiswa Islam yang juga dari Ambon.

Situasi akhirnya dapat diatasi tanpa ada penggalangan massa. Ternyata pemukulan itu merupakan balasan setelah seorang mahasiswa Ambon yang beragama Islam dipukul terlebih dahulu oleh seorang mahasiswa Ambon beragama Kristen. Setelah diselediki ternyata orang itu sudah lama tidak kuliah, dan kami bingung kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu. Masalah ini kemudian mau dibesar-besarkan di Badan Eksekutif Mahasiswa karena laporan ormas dari luar kampus.

Kami tidak terlibat langsung dalam proses penyelesaian masalah tersebut di kampus, tapi kami sempat memberi masukan kepada anak binaan kami di Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen, agar melihat secara jernih akar masalahnya dan agar menyelesaikannya secara baik-baik. Akhirnya masalah itu reda, karena diakui bahwa kedua belah pihak sudah dirugikan dan tidak perlu diperbesar untuk menjaga kerukunan di kampus.

Walaupun kami tinggal di luar Ambon, dampak dari kerusuhan tetap terasa. Karena itu kami berusaha untuk menolong mahasiswa-mahasiswa, bukan hanya untuk tetap kuliah tapi juga untuk peduli sesama. Kami pernah melakukan pembinaan bagi 44 calon polisi asal Ambon yang ditugaskan mengikuti pendidikan di SPN Mojokerto. Mereka juga merasa jauh dari keluarga dan setiap akhir pekan ada beberapa yang datang tinggal dengan kami. Sebelum masa pendidikan mereka berakhir, kami diizinkan membuat sebuah retreat bagi mereka

di Pacet dan mahasiswa dari Unmer terlibat untuk mengarahkan para calon polisi ini.

Selama di Malang, teman-teman mahasiswa yang kami bina menjadi mahir menyeleksi dan mengatur pengiriman pakaian layak pakai yang kami terima dari kenalan-kenalan yang mau membantu saudara-saudara di Ambon. Walapun kami tinggal di Malang, perhatian kami tetap tertuju ke keadaan di Ambon dan kami berusaha untuk pulang ke kota ini pada saat tertentu.

Baca juga: Menjalin Hidup Damai Antar Manusia

Kesedihan di Ambon

Pertama kami pulang lagi ke Ambon adalah saat libur semester Juni 1999. Kami naik salah satu kapal Pelni dan tiba di pelabuhan Yos Sudarso. Pengalaman kali ini sangat berbeda dibanding pertama kali saya tiba di Ambon. Ada rasa senang karena ada kesempatan pulang

serta membawa bantuan berupa obat-obatan, pakaian dalam dan

pembalut wanita, bagi saudara-saudara di Ambon. Namun ketika berdiri di tangga kapal, kami merasa cemas. Ada kegetiran dan rasa takut mengiringi langkah kami menuruni tangga kapal. Perasaan itu muncul karena kami tidak tahu bagaimana kami bisa sampai di rumah.

Tidak ada yang menjemput. Kami juga takut salah naik kendaraan umum. Saya merasa sedih mengingat suami saya pulang ke tempat asalnya tapi tidak merasa tenang.

Selama di Ambon kami coba mengerti situasi yang sebenarnya. Karena saya “kulit putih”, rasanya tidak bijaksana untuk langsung mengunjungi tempat tertentu karena warna kulit saya mungkin mengundang perhatian orang yang tidak mengenal kami. Ketika itu

jalan masih terbuka sampai di kawasan Waihaong dan kami rindu bertemu tetangga-tetangga yang masih tinggal di sana. Reza masuk di gang terlebih dahulu untuk melihat situasi. Jika dia merasa situasi di situ aman, maka kami berdua menuju “rumah tua” oma.

Keluarga-keluarga yang tinggal di dekat rumah itu sangat senang melihat kami. Mereka memeluk kami dan mengangis terharu setelah mengetahui bahwa kami mau mencari mereka. Sempat ada warga pendatang yang mempertanyakan kehadiran kami. Namun tetangga lama kami itu itu langsung memberitahu bahwa kami adalah keluarga

mereka. Kami masuk ke dalam rumah dan saling berbagi cerita. Mereka menjelaskan apa yang terjadi di sekitar “rumah tua” kami. Meski kami memeluk agama yang berbeda, tapi itu sama sekali tidak menjadi penghalang untuk menikmati kehangatan kehidupan orang

basudara di Maluku.

Waktu kedatangan itu kami sempatkan untuk mengumpulkan beberapa teman dari kalangan medis, guna mengatur pengobatan massal pada Sekolah Calon Tamtama (Secata) TNI AD di Suli. Bersamaan dengan itu, kami membawa bantuan dari teman-teman di

Malang untuk dibagikan ke pengungsi. Semua pengungsi di tempat itu dilayani tanpa memandang latar belakang agama maupun sukunya. Tujuan kami adalah membantu sesama orang Maluku, dengan tidak memperhitungkan kepercayaan maupun asal sukunya.

Kedatangan kami berikutnya ke Ambon menumpang pesawat Hercules yang diterbangkan dari Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang. Semua adminstrasi sudah diselesaikan beberapa hari sebelumnya, dengan seorang petugas datang ke rumah dan memeriksa KTP-KTP kami. Pembayaran juga sudah dilunasi sebelum pemberangkatan kami.

Ketika kami sampai di Lanud dan sedang mengantri agar barang kami ditimbang, seorang petugas intel mendekati kami dan mengatakan kami tidak boleh berangkat karena saya merupakan ancaman bagi kestabilan di Ambon. Alasannya karena saya “kulit putih”. Saya sedikit bingung sebab kartu keluarga, KTP dan SIM saya adalah dari Ambon. Yang menarik, beberapa detik setelah itu, seorang petugas yang lain datang dan menyuruh kami bersiap-siap. Jika kami diberi sinyal, maka kami harus cepat lari ke pesawat. Kami sudah bayar sehingga jika kami tidak berangkat mereka harus mengembalikan uang kami.

Kami akhirnya berangkat dan terbang lewat Yogyakarta, Makassar dan akhirnya mendarat di bandara Pattimura Laha, Ambon. Ketika itu ada pergantian Paskhas AU dan kami melihat beberapa aparat berdiri di gunung dengan senjatanya diarahkan ke bandara. Teman-teman

yang mau mejemput kami terlambat datang. Kami takut sebab tidak tahu bagaimana caranya keluar dari bandara jika tidak dijemput. Setelah lama menunggu akhirnya jemputan pun datang. Selanjutnya kami pun belajar bagaimana naik speed boat ke kawasan Gudang

Arang, baru naik oto penumpang ke rumah.

Setiap kali pulang ke Ambon, kami berusaha bertemu dengan keluarga dari mahasiswa yang ada di Malang. Tujuannya supaya keluarga mereka mengetahui bahwa ada orang dewasa yang memperhatikan anak-anak mereka di sana. Ketika situasi Ambon sudah mulai pulih, sekitar tahun 2003 kami pulang dengan vocal group yang kami bina untuk menghibur para pengungsi. Kami pun mengantar salah satu mahasiswa dari Waai untuk bertemu kembali dengan kakek dan neneknya yang ada di pengungsian Kompleks Barito di kawasan Passo Ambon. Di waktu yang lain kami mengunjungi keluarga ini setelah orang Waai pulang ke negeri mereka, sementara waktu itu sebagian besar orang masih takut melewati negeri Tulehu. Orang-orang heran ketika mendengar soal kunjungan kami ke negeri Waai. Kami pun menjelaskan bahwa mereka tidak perlu takut jika mau jalan melewati negeri Tulehu yang mayoritas warganya Muslim itu.

Setelah kami lihat Ambon makin kondusif dan hampir semua mahasiswa yang kami bina sudah wisuda, maka kami putuskan untuk kembali ke Ambon. Kami juga memutuskan untuk bekerja freelancemembangun Maluku daripada terikat dengan satu jemaat saja.

 

Tali Persaudaraan

Banyak hal yang bisa diceritakan, tapi saya mau fokus ke pemulihan kehidupan persaudaraan di Maluku. Yang saya perhatikan, setelah kami kembali tinggal di Ambon, ada usaha dari banyak pihak untuk merajut kembali tali persaudaraan yang hampir putus. Reza dulu sekolah di SMP 3 dan SMA 1. Ia dan teman-temannya mulai saling mencari satu dengan yang lain. Ada teman yang hilang dari peredaran dan tidak tahu rimbanya setelah terpisah karena kerusuhan di Maluku. Dia kemudian dicari semua temannya sampai akhirnya ditemukan kabar beritanya di kawasan Bekasi Jakarta. Semua bersukacita ketika diketahui bahwa teman itu ditemukan kembali. Reuni yang dilakukan oleh teman-teman SMP 3 sungguh mewujudkan kehidupan bersaudara di Maluku. Suasana hangat ketika reuni berlangsung sangat terasa dan usaha untuk bertemu, baik di Jakarta maupun di Ambon,

terus dilakukan.

Selain itu kami pernah terlibat di kalangan musisi dan di antara para wartawan. Kami diberi tanggungjawab untuk mengatur majalah anakanak Kacupeng. Walaupun majalah itu mengalami kesulitan untuk terbit secara berkala, tapi kehadirannya bertujuan mulia, yaitu agar anak-anak Maluku dapat mengerti budaya mereka, serta belajar untuk saling

menerima dan saling menghargai. Hal yang sama diwujudkan dalam komunitas fotografi yang dimulai dengan Perkumpulan Fotografer Maluku (Performa) dan belakangan menjadi Maluku Photo Club (MPC).

Kejadian tanggal 11 September 2011 membuat semua orang kaget dan rasa percaya satu dengan yang lain hampir hilang. Namun ada hal yang menarik bagi saya. Hari itu kami baru pulang dari Hotel Aston di Natsepa dan ketika kami melewati kawasan Batu Gantung, suasana terlihat sepi.

Setelah tiba di rumah beberapa menit kemudian, kami menerima pesan pendek (SMS) dari anak binaan kami yang berdomisili di Masohi. Dia menanyakan, apakah betul berita bahwa ada pertikaian di kawasan Waringin dan Batu Gantung? Segera sesudah itu kami menghubungi teman-teman dan baru tahu apa yang terjadi. Reza langsung balik ke arah kota untuk mencari tahu lebih jelas apa yang terjadi. Malam itu sampai pagi harinya, kami tetap kontak dengan teman-teman Muslim untuk memantau situasi, dan memberikan informasi yang jelas bagi mereka.

Bagi saya, gerakan akar rumput berusaha keras untuk memadamkan informasi yang tidak betul, dengan memberitakan informasi yang betul dan akurat. Gerakan seperti ini rasanya dulu tidak ada, tetapi sekarang hubungan orangbasudara lebih erat dan dapat menolong mengurangi rasa takut dan rasa curiga yang timbul ketika ada peristiwa yang tidak diinginkan.

Bagi saya, hubungan persaudaraan di Maluku terasa lebih baik dibanding beberapa tahun yang lalu, dan yang penting adalah rasa saling mempercayai yang dapat menghapus kecurigaan serta ketakutan yang timbul karena kejadian-kejadian yang muncul tiba-tiba. Sebagian orang Maluku sudah mulai mengerti nilai-nilai yang ditanam oleh leluhur mereka. Saya berharap dengan semakin mengerti nilai-nilai adat dan budayanya, kehidupan orang basudara di Maluku akan semakin indah. [ ]

Hilary Syaranamual, sarjana pendidikan dari Warwick Univer­sity United Kingdom (UK), dan M.A. Sejarah Gereja, Trinity College, Bristol UK, dan anggota Steering Committee Sister City Ambon – Vlissingen.

 

Sumber: buku Carita Orang Basaudara: Kisah-kisah Perdamaian dari Maluku (Editor: Jacky Manuputty,  Zairin Salampessy, Ihsan Ali-Fauzi,  Irsyad Rafsadi), Lembaga Antariman Maluku (LAIM) – PUSAD Paramadina, Jakarta, 2014.

Redefinisi: Korupsi ‘Extra Ordinary Crime’

Jumat, 26 Maret 2021

 

Oleh Pdt. Albertus Patty

 

Tahukah anda, sejak diberlakukannya Undang-Undang No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), negara kita mengklasifikasikan kejahatan korupsi sebagai kejahatan luar biasa atau dikenal sebagai extra ordinary crimes.

Mengapa korupsi diklasifikasikan extra ordinary crimes? Alasannya karena korupsi di Indonesia sudah meluas dan sistematis. Jumlahnya bukan saja yang milyaran, tetapi juga banyak yang trilyunan. Kasus Asabri, Jiwasraya, Pelindo 2, Bank Century, dan sebagainya adalah beberapa contoh kasus-kasus korupsi.

Korupsi itu adalah kejahatan luar biasa karena membangkrutkan bangsa dan secara tidak langsung membunuh nyawa dan masa depan ratusan juta warga bangsa. Koruptor seperti tikus gemuk yang berpesta pora dalam gudang beras kita.

Oleh karena klasifikasinya yang ‘extra ordinary’ logikanya hukuman untuk para koruptor harus seberat-beratnya. Misalnya dibangkrutkan, penjara  30 tahunan di Nusakambangan atau hukuman mati seperti yang dilakukan pemerintah China.

Memang, korupsi adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau lembaga untuk menghilangkan hak asasi yang dimiliki oleh manusia lain. Sifatnya pun transnasional. Dana yang dikorupsi bisa beredar ke berbagai negara. Konon, 40% saham di Singapore milik orang Indonesia. Kemungkinan, sebagian besar merupakan hasil korupsi.

Itulah penyebab utamanya mengapa pemerintah Singapore menolak meratifikasi perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Singapore pasti khawatir, bila perjanjian itu diberlakukan, dana-dana korupsi itu akan terbang ke berbagai negara. Singapore pun akan bangkrut mendadak! Masuk akal?

Baca juga: Musdah Mulia: Pendidikan Agama Ruh Penguatan Karakter Bangsa

Kita bisa menduga bahwa pondasi kekuatan ekonomi Singapore adalah dana-dana korupsi para koruptor kita. Ironisnya, besarnya hutang luar negeri bangsa kita yang mencapai 5930 trilyun rupiah terjadi karena banyaknya praktek korupsi dalam berbagai mini dan mega proyek bangsa kita. Bila proyek-proyek kita tidak di ‘mark up’, juga tidak mangkrak atau bila tidak terjadi praktek suap, saya yakin hutang kita tidak akan membengkak sebesar itu.  

Koruptor itu memang tuna moral! Dana apa pun dirampoknya, termasuk dana bantuan sosial pemerintah untuk rakyat miskin. Robin Hood masih agak ‘bermoral.’ Dia merampok dana dari orang kaya untuk diberikan kepada rakyat miskin. Betapa pun maksudnya baik tetap saja caranya buruk. Tetapi, koruptor itu benar-benar buta nurani. Maksud dan caranya benar-benar menjijikkan. Mereka menjarah dana yang dialokasikan untuk menolong orang miskin guna memperkaya dirinya. Mereka adalah benalu kemanusiaan. Mereka adalah serigala berwajah manusia!

Sayangnya, kini istilah korupsi sebagai extra ordinary crime atau sebagai kejahatan luar bisa seolah sudah mengalami redefinisi. Korupsi sebagai kejahatan ‘luar biasa’ berarti baik kasusnya maupun koruptornya bisa mendapatkan penanganan dan pelayanan ‘luar biasa’ indah dan menyenangkan! 

Kalau lagi sial, kasus korupsi akan diangkat dan, perhatikanlah, sehebat apa pun korupsinya, koruptornya paling lama dihukum 4 tahun. Tidak lebih! Kalau ‘backing’nya kuat, kasus korupsinya menguap. Tidak jelas! Para penjahat korupsi ini selalu mendapatkan pelayanan ‘luar biasa.’  Koruptor selalu mendapat ‘peluang’ untuk kabur. Bisa sogok sana-suap sini! Pukulin orang atau ‘piknik’ keluar saat seharusnya di dalam penjara. Lebih indah lagi, koruptor bisa diijinkan ‘cuti’ tahanan untuk dilantik sebagai pejabat publik baik Bupati, Walikota atau Gubernur.

Realitas di atas menunjukkan bahwa sudah ada redefinisi terhadap korupsi sebagai extra ordinary crime atau kejahatan ‘luar biasa.’ Arti barunya koruptor diperlakukan ‘luar biasa’ yaitu memperoleh pelayanan, kemudahan dan kemewahan dalam segala hal.

Pantas saja saat ditangkap, para koruptor selalu tersenyum bangga. Bangga jadi  koruptor! Setelah 4 tahun dibui, itupun dengan puluhan kali potong masa tahanan, para koruptor akan berpesta pora menikmati hasil jarahannya! Jayalah koruptor!

 

Pdt. Dr. Albertus Patty. Tokoh lintas-agama, pemerhati social kemanusiaan

In Memoriam Farid Husain: Sosok Kunci Perdamai RI – GAM

Kamis, 25 Maret 2021

 

Oleh: Gomar Gultom

 

Saya baru saja mau rebahan di kamar hotel ketika menerima kabar dari Loli J Simanjuntak: Farid Husein meninggal dunia sejam lalu di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Ah, saya baru saja tiba di Rantepao setelah seharian perjalanan panjang Makassar – Tanah Toraja.

Sayang sekali saya tak mungkin melayat, walau sedang berada di Sulsel.

Sudah lama juga tak mendengar kabar beliau.

Semula, selama bertahun-tahun saya hanya mengenalnya sebagai atasannya Loli, dan tak pernah berintetaksi dengannya. Maklum dia pejabat tinggi: Dirjen Yankes di Kemenkes. Tapi karena beliau juga Sekretaris CCM Global Fund untuk ATM, sedikit banyak saya mengikuti juga sepak terjangnya. Apalagi pada tahun-tahun ketika saya dan Loli banyak menggeluti masalah AIDS.

Interaksi saya yang intens dengan beliau justru terjadi sesudah beliau pensiun. Di sekitar 2007 beliau ditunjuk oleh SBY (Susilo Bambang Yudoyono) sebagai special envoy untuk masalah Papua. Dan oleh karena tugas saya sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia di PGI, berkali-kali kami jumpa dan diskusi tentang masalah Papua.

Komunikasi kami menjadi sangat kuat ketika beliau mengetahui saya suami Loli. Sebelumnya mereka banyak kerjasama dalam kapasitas Loli sebagai Ketua Komite AIDS HKBP yang berbasis di Balige.

Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan komitmennya sebagai special envoy tersebut. Betapa tidak, dalam usia yang sudah relatif lanjut, beliau menjelajahi pedalaman Papua.  Naik turun gunung, untuk menjumpai berbagai pihak yang bersengketa di Papua, termasuk para petinggi OPM. Mendengar kisah-kisah beliau menjumpai tokoh-tokoh tersebut berikut lika-likunya sangat menarik dan menegangkan.

Awalnya beliau sangat antusias. Dari beberapa kali pertemuan dengannya saya menangkap kesan bahwa dialog Papua dan Jakarta akan segera terwujud. Hingga pada suatu hari beliau berkata, “sepertinya usaha kita akan sia-sia”. Apa pasal?

Menurutnya SBY menyambut baik upaya yang beliau rintis, dan bersedia meneruskan langkah-langkah yang beliau rekomendasikan dalam rangka menuju dialog penyelesaian menyeluruh masalah Papua. “Ada kekuatan-kekuatan di sekitar istana yang tak suka apa yang saya kerjakan”.

Baca juga: Mengenang Nawal El Saadawi, Feminis Mesir yang Gigih dalam Berkarya

Dan tak lama kemudian, akhirnya memang Farid Husein berhenti. Saya tidak tahu apakah beliau mundur atau penugasannya diakhiri oleh SBY. Pokoknya berhenti begitu saja, sesuatu yang saya sangat sesalkan. Sejak itu saya tak pernah bertemu beliau lagi, hingga mendengar berita malam ini.

Ketika di kemudian hari, 2011, SBY membentuk UP4B dan dikomandoi oleh Letjen Bambang Darmono, dan sobat saya Amiruddin Al Rahab mempertemukan saya dengan Pak Bambang, saya sempat menyampaikan kepada Pak Bambang agar meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Farid Husein. Tapi nampaknya hal itu tak bersambut.

Strategi Farid Husein dalam mengatasi konflik adalah melakukan langkah-langkah pendahuluan berupa pendekatan personal yang cair, sebelum menghadirkan dua pihak di ruang pertemuan yang serba formal dan kaku.

Sesungguhnya penugasan sebagai special envoy untuk masalah Papua kepadanya tidaklah mengejutkan. Farid telah membuktikan diri sebagai sosok pemersiap perdamaian. Banyak penulis yang mengakui itu.

Walau namanya tidak secemerlang Jusuf Kala dan Hamid Awaludin dalam perdamaian Helsinki, Farid Husein adalah sosok kunci di balik perdamaian antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Publik memang hanya mengetahui Jusuf Kalla yang ketika itu menjabat Wakil Presiden atau Hamid Awaludin selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ketika itu. Padahal sesungguhnya, Farid Huseinlah yang mempersiapkan semua itu sehingga penandatanganan perdamaian itu bisa terjadi.

Atas jasanya dalam perdamaian itu, beliau memperoleh Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI pada 2010. Selain itu, beliau juga memperoleh Gelar Pahlawan Masa Kini, bidang Perdamaian dari Modernisiator Indonesia dan Majalah TEMPO (Tahun 2008). Pemerintah Aceh sendiri menganugerahinya dengan Gelar Bungong Jaroe Perdamaian dari Pemerintah Aceh pada 2006.

Kini Sang Perintis Perdamaian yang murah senyum itu telah tiada. Namun karyanya untuk perdamaian akan terus dikenang dunia, khususnya masyarakat Aceh.

 

Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI

Mengenal Agama Lokal Nenek Moyang

Senin, 22 Maret 2021

 

Jakarta – Agama lokal sejatinya merupakan kenyataan sejarah yang tak terbantahkan oleh siapa pun dan generasi kapan pun. Sayangnya, dalam perjalanan dan pergumulan sejarah pula nasib agama lokal ini tak sepenunya mengggembirakan, bahkan cenderung memprihatinkan.

Pendulum politik dan kebijakan negara tak sepenuhnya mampu merawat dan meruwat keberadaan agama yang sejatinya kaya dengan kearifan lokal (local wisdom) yang sangat berguna bagi warga penganutnya maupun masyarakat umum lainnya.

Catatan Tirto.id mengungkap, berdasarkan data Sensus Penduduk 2010 (SP2010), jumlah penghayat Kepercayaan di Indonesia dapat dikatakan relatif kecil. Tercatat, kelompok penghayat Kepercayaan itu hanya berjumlah 299.617 orang, atau sekitar 0,13 persen dari total penduduk.

Angka itu didapatkan dengan melihat indikator kategori “Lainnya” sebagai jawaban di luar enam agama lain yang kita kenal. Meskipun, dalam SP2010 ini dimungkinkan bahwa para penghayat Kepercayaan mendaftarkan dirinya dengan salah satu dari status “agama” yang resmi.

Agama lainnya antara lain adalah: Sunda Wiwitan di Kuningan-Jawa Barat; Kejawen di Jateng; Parmalim (Sumatra Utara); Kaharingan (Kalimantan); Tonaas Walian (Minahasa-Sulut); Tolottang (Sul-Sel); Aluk Todolo (Toraja); Wetu Telu (Lombok, NTB); dan Naurus di Pulau Seram provinsi Maluku.

Sayangnya, data berapa sebenarnya jumlah penghayat Kepercayaan di Indonesia tidak pernah valid. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) misalnya, melalui Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi berada, memberi perkiraan sekitar 10-12 juta orang di seluruh Indonesia.

Hingga saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menginvertarisir 190 organissasi perkumpulan penghayat kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.Kehadiran organisasi tersebut kini mendapat ruang di mata hukum.

Sayangnya, nasib (penganut) agama lokal di Indonesia tak selamanya mujur. Tekanan dan diskriminasi dari berbagai pihak selalu menyandra bahkan mengkibiri mereka sehingga tak mampu berkembang lebih mekar.

Sejumlah agama lokal lainnya bahkan ditengarai telah “lenyap” karena para penganutnya hijrah memeluk agama impor seperti Islam, Kristen atau Katolik. Tekanan bisa datang dari masyarakat sekitar yang (telah) menganut agama maenstrim di negeri ini dengan cara ‘mengintimidasi’ agar masuk ke agama yang dianut mayoritas masyarakat, juga datang dari kebijakan pemerintah yang tidak mengakomodir keberadaan penganut agama lokal ini. Kebijakan yang ada cenderung diskriminatif dan berdampak negatif bagi penganut agama leluhur tersebut.

Oleh karena itu menjadi penting untuk melihat secara jernih dan arif keberadaan agama-agama lokal ini yang kesemuanya pada umumnya mengandung nilai-nilai luhur yang juga tercermin dalam ajaran agama-agama impor yang kemudian banyak dianut oleh mayoritas  masyarakat bangsa ini. Dalam agama-agama lokal juga mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik pada sesama, hidup berdampingan dalam masyarakat majemuk, dan menghargai serta menghormati keberadaan kelompok atau penganut agama lain yang berbeda.

Dalam  bagian ini penulis hendak mendedahkan apa itu agama lokal dan sebagian ajarannya, bagaimana kebijakan negara mengatur keberadaan mereka dan bagaimana pula dinamikanya dengan penganut agama maenstrim yang kerap memantik segregasi dan diskriminasi. Tujuannya tentu agar kita mampu melihat fakta keragaman sosial secara arif dan bijaksana serta menempatkan seluruh komponen masyarakat yang berbeda keyakinan itu dalam koridor hukum yang setara.

Baca juga: Potret Toleransi: Tiga Tempat Ibadah Berdiri Berdampingan di Karanganyar

Agama, Budaya atawa Adat?

Dalam kamus bahasa tentu ketiga istilah ini memiliki arti dan definisi yang berbeda. Namun dalam konteks agama lokal ketiganya bisa (di)sama(kan). Oleh kelompok yang kontra, para penghayat kepercayaan dinilai tidak memeluk agama tertentu seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau pun Khonghucu.

Mereka disepadankan dengan penganut adat atau budaya tertentu yang diyakini secara turun temurun. Karena itu perlu kiranya menelaah kembali devinisi agama yang digunakan dalam studi keagamaan. Definisi agama secara ringkas dapat disebut sebagai definisi 4 Cs. (Leonard Swidler and Paul Mojzes, The Study of Religion in an Age of Global (Philadelphia: Temple University Press, 2000).

Keempat Cs tersebut adalah creed, code, cult dan community.

  • Creed: kepercayaan tentang sesuatu yang secara mutlak dianggap benar bagi kehidupan manusia. Kebenaran itu dapat berbentuk dewa atau Tuhan atau Ilah, akan tetapi juga dapat berbentuk yang bukan itu, seperti misalnya gagasan, kesenangan, dan sebagainya.
  • Code: pedoman tata tindak (perilaku) yang timbul akibat adanya kepercayaan di atas. Maksudnya, tindakan manusia terjadi berdasarkan pemahaman atas kepercayaan di atas. Tindakan-tindakan ini termasuk dalam kategori tindak etis.
  • Cult: upaya manusia untuk menyelaraskan dirinya dengan yang dipercayai itu, baik sebagai cara untuk memahami kehendak-Nya atau meperbaikin kembali kesalahan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak kepercayaan tadi.
  • Community: adanya kenyataan suatu umat (paguyuban, perkumpulan) yang terikat dalam kepercayaan, tindakan etik dan kultus tadi.

Dengan demikian, budaya maupun adat istiadat yang melekat dalam kepercayaan sebuat komunitas atau masyarakat yang memiliki keempat ciri tersebut bisa dikatakan sebagai agama, meski oleh penganutnya sendiri tidak menyebutnya sebagai agama. Maka, adat Sunda Wiwitan dapat disebut sebagai agama Sunda Wiwitan. Begitu pun dengan agama Parmalim, agama Wetu Telu, dan seterusnya. Dalam konteks ini pembedaan antara agama, budaya dan adat menjadi tidak relevan.

Mengacu pada definisi di atas sejatinya agama-agama lokal pun memiliki keempat ciri tersebut. Karenanya tidak ada alasan untuk tidak menyebut bahwa para penganut penghayat kepercayaan juga dapat dikatakan sebagai pemeluk agama. Dengan kata lain Sunda WiwitanParmalim, Wetu Telu, dan juga Tolotang bisa disebut sebagai agama yang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dan  tidak layak untuk didiskriminasi. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Perenialisme Agama-Agama

Kabar Damai | Senin, 22 Maret 2021

 

Diskursus filsafat perennial kembali mengemuka sejak 20 tahun terakhir di Indonesia. Sebelumya, mereka yang pernah mempelajari tema filsafat di sebuah jurusan filsafat, tak mengenal materi ini. Kalau toh mengenal, hanya sepintas lalu saja, dan tidak secara mendalam dibahasnya.

Bahkan, filsafat ini nyaris tidak pernah diperkenalkan dalam universitas. Mengapa demikian? Apakah filsafat perennial ini merupakan sebuah filsafat semu (pseudo philosophy), sebagaimana pernah disinggung oleh Budhy Munawar-Rahman – BMR (2001: 80-98), sehingga para ahli filsafat di era modern ini tidak membicarakannya sama sekali, dan menjadikannya sebagai sebuah perspektif? Padahal, sebagai istilah, filsafat perennial (the perennial philosophy) sangat popular di kalangan New Age.

Filsafat perennial (philosophia perennis) dalam definisi teknisnya, adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Dalam ungkapan Frithjof Schuon, ia mengatakan, “the timeless metaphysical truth underlying the diverse religion, whose written sources are the revealed Scriptures as well as writtings og the graet spiritual masters.” Definisi yang lebih terang dikemukakan oleh Aldous Huxley, yang menyebut bahwa filsafat perennial adalah:

Pertama, Metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan Ilahi dalam segala sesuatu: kehidupan dan pikiran; Kedua, Suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu dalam jiwa manusia (soul) identic dengan kenyataan Ilahi itu; dan Ketiga, Etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan, yang bersifat imanen maupun transenden, mengenai seluruh keberadaan. (The Perennial Philosophy, 1945; BMR, Islam Pluralis, 2001: 86).

Pengetahuan filsafat perennial ini, demikian Rahman, memang memperlihatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini, dengan realitas Yang Absolut. Realisasi pengetahuan ini dalam diri manusia, hanya bisa dicapai melalui apa yang – sejak era Plotinus melalui bukunya The Six Eneals, – disebut “intelek” (Soul/Spirit), yang “jalannya” pun hanya dapat dicapai melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, symbol-simbol dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perennial ini sebagai bersumber dari Tuhan. Dasar-dasar teoritis pengetahuan tersebut, ada dalam setiap tradisi keagamaan yang otentik, yang dikenal dengan berbagai konsep.

Contoh yang dapat kita paparkan, dalam agama Hindu disebut Sanathana Dharma, yaitu kebajikan abadi yang harus menjadi dasar kontekstualisasi agama dalam situasi apa pun, sehingga agama senantiasa memanifestasikan diri dalam bentuk etis, dalam keluhuran hidup manusia. Pun dalam Taoisme, diperkenalkan konsep Tao, sebagai asas kehidupan manusia yang harus diikuti  kalau ia mau alami sebagai manusia. Di Tiongkok, misalnya Taoisme berusaha mengajak manusia untuk berpaling dari dunia kepada Tao (“jalan”) yang dapat membawa manusia kepada penyucian jiwa dan kesalehan dalam bahasa Islam. Dengan Tao, manusia dibawa kepada jati diri yang asli, yang hanya dapat dicapai dengan sikap wu-wei (tidak mencampuri) jalan semesta yang sudah ditetapkan.

Dengan demikian, Tao mengajak manusia untuk hidup secara alami (suci), yang dalam Islam dikenal dengan istilah fitrah. Begitu pun dalam agama Buddha, diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran untuk sampai kepada The Buddha-nature, atau dalam agama Islam disebut al-Din, yang berarti “ikatan” yang harus menjadi dasar beragama bagi seorang Muslim. Inilah yang dalam filsafat abad pertengahan diistilahkan dengan sophia perennis, dan sebagainya.

Baca juga: Dakwah Melalui Jalan Damai

Oleh karena itu, jika disebut perennial religion, itu artinya ada hakikat yang sama dalam setiap agama, yang dalam istilah Sufi kerap diistilahkan dengan religion of the heart, meskipun terbungkus dalam wadah/jalan yang berbeda. Ini sejalan denga apa yang dikatakan Sri Ramakrisna, seorang suci dan filsuf India abad ke-19 bahwa, “Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai pemeluk, berbagai waktu dan berbagai negeri. Semua ajaran merupakan jalan. Sesungguhnya seseorang akan mencapai Tuhan, jika ia mengikuti jalan mana pun, asal dengan pengabdian yang sepenuh-penuhnya.”

Dengan demikian, hakikat dari agama perennial adalah, “mengikatkan manusia dengan Tuhannya.” Kata ini sebetulnya biasa dan kerap didengar. Tetapi, sebagaimana diuraikan Rahman, karena tidak adanya kesadaran perennial, maka menjadi verbal semata. Padahal, dari sudut pandang perennial, ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah, demi kebajikannya sendiri. Religion, yang berasal dari kata religio, yang berarti to bind with God. Istilah ini, hakikatnya mengatasi aspek institusional dari agama – termasuk komunitas, system symbol, ritus, pengalaman religious, dan sebagainya – yang kini telah menjadi arti sempit dari agama itu sendiri. (BMR, 2001: 88).

Berangkat dari pemahaman di atas, memungkinkan kita untuk mencapai “kesatuan transenden agama-agama” atau istilah asli yang digunakan Frithjof Schuon adalah The Transcendent Unity of Religion. Tetapi, yang mesti kita pahami pula, bahwa kesatuan agama-agama ini hanya berada pada level “esoteric” dalam bahasa Huston Smith,  “essensial” dalam istilah Baghavas Das, atau “transenden” istilah yang gunakan oleh Schuon dan Seyyed Hossein Nasr, selain oleh pengikut setia filsafat perennial sendiri.

Oleh karena itu, kesatuan agama-agama tidak terjalin pada ranah eksoterisme (lahiriah). Inilah yang kerap disalahpahami oleh kalangan atau kelompok yang selalu menkritik konsep pluralisme agama yang dipahaminya sebagai kesamaan atau penyamaan agama-agama, termasuk dalam hal ajaran, syariat, atau ritualnya. Jadi, yang menandaskan adanya kesatuan agama-agama itu “hanya” pada level esensi atau subtansi ajaran, bukan pada level tata-cara ibadah, syariat, atau manhaj dalam berteologi.

Mari kita simak metaphor yang tepat untuk menggambarkan kesatuan agama-agama yang kerap digunakan oleh kaum perennialis. Jika esoterisme adalah cahaya, maka setiap agama menangkap cahaya itu dalam berbagai warna (sebagai agama-agama) dan berbagai “daya terang” – ada yang sangat terang, ada yang terang biasa, dan ada juga yang redup-samar. Tentu ini perumusan doktrin metafisiknya. Tetapi dari sudut pandang filsafat perennial, adanya aneka warna cahaya berikut “daya terang”-nya tidaklah penting. Ada dua alasan, sebagaimana dikemukakan Budhy Munawar-Rachman:

Pertama, meskipun ada berbagai macam cahaya (merah, kuning, hijau, hitam, dan sebagainya), tetapi semua itu tetap dinamakan cahaya. Jadi, kalau agama itu otentik, tetap ada core yang sama. Kesamaan ini ada pada tataran esoteric, bukan pada ranah eksoterik.

Kedua, walaupun cahaya memiliki daya terang yang beragam, tetapi semua cahaya (juga agama) akan mengantarkan manusia pada Sumber Cahaya itu (yakni, Tuhan), yang sekalipun ada yang tipis dan remang-remang. Sebab, jika ia terus menelusuri cahaya itu, ia akan tetap sampai kepada Sumbernya. “Sampai pada Sumber” inilah yang paling penting dalam agama. Karena itu, hakikat agama adalah adanya sense of the absolute pada diri manusia, sehingga ia merasakan terus-menerus adanya “Yang Absolut” pada dirinya. Kehadiran “Yang Absolut” inilah yang senantiasa mengawal manusia berada dalam jalan “kebenaran”-Nya, jalan suci yang diajarkan oleh semua agama.

Pada aras ini pula, manusia merasakan makna simbolik kehadiran Sang Pemilik Kehidupan. Wujud hakikat agama itu, sejatinya merupakan pengetahuan, sekaligus pula kebijaksanaan. Istilahnya Sophia, kata orang bijak dari Yunani Kuno; atau sapientia menurut istilah orang suci Kristiani abad Pertengahan; jnana dalam ungkapan tradisi Hindu; dan al-ma’rifah atau al-hikmah menurut konsep Sufi. Itu sebabnya, hakikat agama kerap disebut sebagai scientia sacra yang berarti pengetahuan suci atau devine knowledge. Pengetahuan ini dialami – bukan sekadar diyakini – berasal dari “Alam Surgawi,” yang kemudian diturunkan sebagai wahyu dengan berbagai cara/metode. Oleh karena itu, sekali lagi, harmoni (kesatuan agama-agama) berada dalam “langit Ilahi” (esoteric, transenden), bukan dalam “atmosfir bumi” (eksoteris), yang kerap memantik perdebatan.

Dengan demikian, filsafat perennial menguraikan keanekaragaman “jalan keagamaan” yang ada dalam kenyataan historis setiap agama, mestinya bisa diterima dengan lapang data dan penuh toleransi. Sebab, pada hakikatnya, ajaran (perennial) Tuhan – seperti Tuhan itu sendiri – hanya Satu, tapi diungkapkan dengan banyak nama dan ajaran yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul. “Yang Satu” ini dalam perspektif perennial adalah “Yang Tidak Berubah,” merupakan fithrah. Mengembalikan keanekaragaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari ini kepada “Yang Tidak Berubah,” merupakan pesan dasar filsafat perennial, yang pada dasarnya adalah pesan keagamaan, sebagaimana disebut dalam terminology Islam al-din-u ‘l-nashihah (“agama itu pesan/nasihat”). Pesan ini tersurat dalam Q., s. al-Rum [30]: 30.

Dari pemaparan ini harapan kita, secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab, melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religions, melainkan bahkan mendiskusikannya secara lebih mendalam. Sehingga terbukalah kebenaran yang betul-betul benar. Dan tersingkirlah kesesatan yang benar-benar sesat – meskipun tetap dalam lingkup langit kearifan. Keduanya – kebenaran dan kesesatan – mungkin saja terjadi pada sikap kita atau suatu kelompok tertentu yang seakan berada pada posisi paling atas sehingga yang lain diklaim berada di bawah.

Pendekatan perennial inilah, walaupun secara teoritis memberikan harapan dan kesejukan, namun karena belum secara luas dipahami dan diterima kecuali oleh kalangan terbatas, ke depan pelan tapi pasti mampu mewarnai belantika cakrawala berfikir kita dalam memandang agama kita di tengah keberadaan agama-agama atau keyakinan milik orang lain. [ ]

 

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi kabardamai.id, Deputi Direktur ICRP