Menggapai Kebahagiaan dan Ketenangan Batin

Selasa, 30 Maret 2021

 

Oleh Untung Suhardi

 

Kebahagiaan bukan sesuatu yang baru dan sulit digapai dan dicapai. Sebab, kebahagiaan itu melekat pada diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lupa dan belum mampu menghayatinya karena tertupi oleh Ego. Ego ini berperan sebagai tabir yang menyelubungi kebahagiaan tertinggi dan menyembunyikannya dari pandangan kita. Kita harus merobek tabir/selumbung hingga hancur, maka akan muncullah sifat asli kita yaitu Ananda (kebahagiaan).

Kedamaian batin kita harus alami, dengan berusaha sedapat mungkin mengurangi serta melenyapkan keinginan, hawa nafsu serta kebencian. Berusahalah mengembangkan dan meningkatkan kebenaran, kebajikan, kasih, kesabaran, dan ketahanan menderita. Bersamaan dengan itu, praktik dan lakukan sadhana secara terus menerus. Apabila telah melakukan perilaku keutamaan tersebut, tidak akan ada orang yang merebut atau menyerobot secara egois. Setiap orang akan saling dihormati dan kedamaian dunia akan terpelihara.

Sebaliknya, apabila kita tidak memiliki kedamaian batin pada diri kita sendiri, bagaima bisa kita mewujudkan kedamaian dunia. Jadi untuk mewujudkan kedamaian dunia, kita harus belajar menghayati dan menikmati kedamaian itu dalam diri kita sendiri, barulah kemudian, kita menyebarkan kedamaian tersebut kepada lingkungan sekitarnya dan mengembangkannya.

Dalam Bhagavad-Gita 12:13 dijelaskan bahwa: Advesta sarva bhutanam, maitrah karuna eva ca. Nirmamo nirahamkara, sama dukha-sukha ksami. Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, pemberi maaf (Pudja, 2010).

Harus disadari bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman. Dengan demikian, jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman. Maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini. Sebab, kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini: tanah, air, api, udara, dan angkasa.

Baca juga: Harapan yang Membawa Sukacita

Dalam agama Hindu dikenal ajaran Tat Twam Asi yang mengandung pengertian bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Menyakiti makhluk hidup lain, pada dasarnya adalah menyakiti diri sendiri, dan juga sebaliknya. Dari kesadaran inilah, akan tercapai kebahagiaan dan keharmonisan. Sebab, orang sadar dab tahu bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain, serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam). Kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, bagaikan satu rumah dengan satu atap dengan sifat dan tempramen yang berbeda, tetapi satu.

Hal ini juga dijelaskan dalam Atharwa Veda III. 30. 1 yang dijelaskan bahwa: Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah. Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya. Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu (Griffith, 2005).

Kehidupan dalam bingkai kerukunan yang ada dalam agama Hindu jelas dalam tatanan yang berbhineka tunggal ika. Konsep yang ada, tat twam asi, vasudaidewa kutumbhakam, tri hita karana dan serangkaian konsep yang lain hanya sebatas konsep dengan deretan kata-kata indah. Semuanya harus  dijalankan dalam kehidupan. Penerapan nilai-nilai kerukunan yang ada dalam kehidupan ini harus segera dipupuk sejak dini bahwa Indonesia adalah negara Pancasila.

Cinta kasih dan kasih sayang mempunyai makna yang universal, yaitu tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Untuk menumbuhkan cinta dan kasih sayang, harus dimulai dari individu masing-masing dengan cara menaklukan nafsu, amarah, serakah, irihati, kebingungan dan kemabukan.

Oleh karena itu, marilah kita coba merenung sejenak, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku benci kepadanya, mengapa aku selalu dendam kepadanya, mengapa aku memusuhi dia, kenapa aku dengki kepadanya, mengapa aku iri kepadanya? Sambil merenung, kita harus sadar bahwa di antara kita adalah saudara (vasudaiva kutumbhakam) dan diri kita dengan seluruh makhluk hidup lain adalah sama bahwa aku adalah engkau (Tat Twam Asi). Maka, Setiap timbul dalam pikiran kita benih-benih permusuhan selalu ingat yaitu Satya (kebenaran), Santy (kedamaian), Dharma (kebijakan), Ahimsa (tanpa kekerasan).

 

Untung Suhardi, Rohaniwan Hindu, Pengajar Religious Studies Universitas Prasetya Mulya, Tangerang

Sejarah Agama Khonghuchu di Indonesia

Sabtu, 27 Maret 2021

 

Jakarta – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (disingkat MATAKIN) adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1955.

Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu di antara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara.

Kehadiran Agama Khonghucu di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, Kelenteng Ban Hing Kiong di Manado didirikan pada tahun 1819 . Di Surabaya didirikan tempat ibadah Agama Khonghucu yang disebut mula-mula : Boen Tjhiang Soe, kemudian dipugar kembali dan disebut sebagai Boen Bio pada tahun 1906. Sampai dengan sekarang Boen Bio yang terletak di Jalan Kapasan 131, Surabaya masih terpelihara dengan baik dibawah asuhan Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) “Boen Bio” Surabaya.

Baca Juga : Gelar Turun Temurun Keturunan Nabi Kong Zi

Di Sala didirikan Khong Kauw Hwee sebagai Lembaga Agama Khonghucu pada tahun 1918. Pada tahun 1923 telah diadakan Kongres pertama Khong Kauw Tjong Hwee (Lembaga Pusat Agama Khonghucu) di Yogyakarta dengan kesepakatan memilih kota Bandung sebagai Pusat. Pada tanggal 25 September 1924 di Bandung diadakan Kongres ke dua yang antara lain membahas tentang Tata Agama Khonghucu supaya seragam di seluruh kepulauan Nusantara.

Sejarah perjalanan dan perkembangan agama Khonghucu (Kong jiao) sangatlah panjang. Agama Khonghucu adalah agama yang ada dengan mengambil nama Sang Nabi Khongcu (Kongzi/Kong Fuzi) yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM di negeri Lu (kini jasirah Shandong). Awalnya agama ini bernama Ru jiao (儒 教). Huruf Ru (儒) berasal dari kata (亻-人) ‘ren’ (orang) dan (需) ‘xu’ (perlu) sehingga berarti ‘yang diperlukan orang’, sedangkan ‘Ru’ sendiri bermakna (柔) ‘Rou’ lembut budi-pekerti, penuh susila, (优) ‘Yu’ – Yang utama, mengutama perbuatan baik, lebih baik,..和 He – Harmonis, Selaras,.. 濡 Ru – Menyiram dengan kebajikan, bersuci diri,.. ‘Jiao 教 berasal dari kata ‘xiao’孝 (berbakti) dan 文 ‘wen’ (sastra, ajaran). Jadi ‘jiao’ berarti ajaran/sastra untuk berbakti; =agama. Maka Ru jiao adalah ajaran/agama untuk berbakti bagi kaum lembut budi pekerti yang mengutamakan perbuatan baik, selaras dan berkebajikan.

Ru jiao ada jauh sebelum Sang Nabi Kongzi lahir. Dimulailah dengan sejarah Nabi-Nabi suci Fuxi(2952 – 2836 SM), Shen-nong (2838 – 2698 SM), Huang-di (2698 – 2596 SM), Yao (2357 – 2255 SM), Shun (2255 – 2205 SM), Da-yu (2205 – 2197 SM), Shang-tang (1766 – 1122 SM),Wen, Wu Zhou-gong (1122 – 255 SM), sampai Nabi Agung Kongzi (551 – 479 SM) dan Mengzi (371 – 289 SM). Para nabi inilah peletak Ru jiao. Sedangkan Nabi Kongzi adalah penerus, pembaharu dan penyempurna. Maka Ru jiao juga disebut Kong jiao.

  • 1883 – Boen Tjhiang Soe (Wen Chang Ci 文昌祠), dan kemudian menjadi Boen Bio (Wen Miao 文廟) Jl.Kapasan No. 131 Surabaya. Oleh pihak Belanda disebut “Gredja Boen Bio atau Geredja Khonghoetjoe (de kerk van Confucius). Dewasa ini sebagai tempat ibadah umat Agama Khonghucu Indonesia. Dibina oleh MAKIN – Majelis Agama Khonghucu Indonesia Surabaya.
  • 1886 – diterbitkan kitab Hikayat Khonghucu, disusun oleh Lie Kim Hok.
  • 1900 – terjemahan Kitab Thay Hak (Da Xue, Ajaran Besar) dan Tiong Yong (Zhong Yong, Tengah Sempurna) disusun oleh Tan Ging Tiong.
  • 1897 – SoeSie (Si Shu, Empat Kitab) terjemahan Toean Njio Tjoen Ean dicetak di Ambon.
  • 17 Maret 1900 – 20 pemimpin Tionghoa mendirikan lembaga sosial kemasyarakatan Khonghucu yang disebut Tiong Hoa Hwee Kwan (Zhonghua Huiguan 中華會館) yang bermaksud memurnikan Agama dan menghapuskan sinkretisme. [MATAKIN ]

Sumber: harmoni.or.id/sejarah-agama-khonghuchu-di-indonesia/

Bergandeng Tangan Menolong dan Melayani Sesama

[dropcap]P[/dropcap]ada masa yang sulit ini, kita perlu bergandengan tangan. Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19 ini berisikan komunitas dari berbagai latar belakang agama, Majelis Agama, semua berkumpul dalam jaringan ini melakukan usaha-usaha yang terbaik, untuk membantu bangsa ini sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki.

Menjadi konsen utama JIC, adalah kemanusiaan. Bahwa agama berkiatan erat dengan kemanusiaan, sehingga kita tidak lupa utk memanusiakan manusia. Saat ini banyak saudara kita yang memerlukan uluran tangan, memberikan bantuan.

Umat Sikh tidak tinggal diam, walau jumlah kecil. Kami berbagi dengan masyarakat di sekitar rumah Ibadah, Gordoara. Ini dilakukan di Jakarta dan di berbagai daerah.

Kami selalu mengajak untuk selalu bersyukur dan selalu optimis, bahwa kita bisa menghadapi ini dengan bersama-sama. Kita saling bergandengan tangan dengan kapasitas kita masing-masing, menolong dan melayani masyarakat. Seperti badai akan, berlalu tentunya wabah ini juga akan berlalu.

Memaknai Kenaikan Yesus Kristus

Ada satu kata yang tertulis di Alkitab versi King James Version (KJV), tapi tidak ada dalam  versi Alkitab yang lain tentang pengamatan penulis Injil Lukas atas hari terakhir Yesus di bumi sebelum diangkat ke surga.

Until the day in which he was taken up, after that he through the Holy Ghost had given commandments unto the apostles whom he had chosen: To whom also he shewed himself alive after his passion by many infallible proofs, being seen of them forty days, and speaking of the things pertaining to the kingdom of God: And, being assembled together with them, commanded them that they should not depart from Jerusalem, but wait for the promise of the Father, which, saith he, ye have heard of me.
Acts 1:2‭-‬4 KJV (https://bible.com/bible/1/act.1.2-4.KJV)

Bila diperhatikan kata passion di situ yg hanya ada di KJV. Yesus sengaja menunda kenaikanNya ke surga setelah Dia bangkit selama 40 hari untuk memberi perintah utk “menunggu janji Allah,” menunjukkan Dia tidak mati tapi hidup sesuai dengan “kegairahan-Nya” melalui bukti-bukti yang tidak bisa disangkal dan berbicara segala hal yang berhubungan dengan Kerajaan Allah.

Bagi saya, membaca perikop ini, saya bisa lebih menghargai makna kenaikan Yesus. Yesus naik ke surga hanya setelah Dia memberitahukan siapa diri-Nya kepada para murid, Alasan Dia datang ke dunia dan memperlihatkan bagaimana Kerajaan Allah beroperasi.

Semakin banyak saya berbicara ke orang-orang, semakin saya sadar masih banyak yang belum mengenal siapa Yesus. Mereka hanya mengetahui Yesus sebagai nabi, guru, orang baik dst. Tetapi mereka tidak mengenali hati dan kegairahanNya. Orang Kristen masih banyak yang takut-takut menyebut nama Yesus. Masih banyak yang memperlakukan Yesus sebagai pembenaran mereka kembali melakukan dosa karena mereka meremehkan penderitaan dan pengorbanan-Nya. Masih banyak juga yang mendewakan Yesus sebagai ilah.

Apa yg membuat Yesus bergairah? Saya percaya karena Dia tahu tujuan hidup-Nya. We are passionate to do our calling when we know what it is. Yesus bergairah menunjukkan siapa Dia, alasan Dia mati dan bangkit kepada para murid dan agenda Kerajaan Allah selama 40 hari karena Yesus ingin memastikan mereka mengerti dan menjalankan misi kerajaan Allah.

Misi kerajaan Allah bukan menegakkan agama tapi mengembalikan sukacita, damai sejahtera dan kebenaran. Sukacita yang melebihi happiness. Damai sejahtera yang memampukan kita tetap tenang di tengah badai. Kebenaran yang memerdekakan kita dari gambar diri yang salah.

Misi kerajaan Allah melebihi dari sekedar mengabarkan keselamatan jiwa dan juga membawa nilai-nilai ilahi ke setiap ranah kehidupan. Bukan hanya ranah agama saja yang perlu kabar baik tapi juga ranah ekonomi, pendidikan, keluarga pemerintah, seni budaya dan media.

Itulah sebabnya kita memerlukan Roh Kudus yang merupakan Janji Allah untuk membimbing kita melakukan misi kerajaan tersebut. Kita diminta menunggu dalam karantina karena Dia ingin kita siap memberitakan Injil Kerajaan.

Sesudah mempersiapkan murid-murid-Nya, Dia sekarang sudah siap naik ke surga. Dan hari itulah yang kita rayakan hari ini. Selamat merayakan kenaikan Yesus Kristus.

Agama Baha’i dan Ujian Pandemi Covid-19

[dropcap]A[/dropcap]gama Bahá’í adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte atau bagian dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Bahá’í adalah Bahá’u’lláh yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan menginspirasi perubahan lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, ketunggalan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia.

Saat ini Agama Bahá‘i telah berada di 191 negara dan ada di 45 wilayah teritorial di dunia, serta mempunyai perwakilan formal di Persatuan Bangsa-Bangsa. Menurut catatan sejarah, pertama kali Agama Bahá‘i masuk ke Indonesia pada tahun 1885 dibawa oleh dua orang saudagar yang datang dari Persia. Dan sampai saat ini penganut Baha’i telah tersebar di 28 Provinsi di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya, orang-orang Baha’i baik di Indonesia, maupun di seluruh dunia telah didorong untuk melibatkan dirinya pada proses yang dapat membantu terwujudnya persatuan. Lembaga-lembaga yang memimpin komunitas Baha’i di tingkat internasional dan nasional, Balai Keadilan Sedunia  dan Majelis Rohani Nasional telah membimbing komunitas Baha’i untuk dapat mempertahakan vitalitas dan kekuatan kolektif masyarakat dengan cara bersatu dalam tindakan kolektif baik dari tingkat internasional hingga akar rumput. Mendorong teman-teman  untuk saling  menolong  dan membantu,  bersama-sama bangkit dari  kelemahan,  ketakutan, dan hanya  memikirkan diri  sendiri.”.

Baha’i dan Pandemi Covid-19

Selain itu lembaga di tingkat nasional telah menghimbau untuk taat dan patuh pada apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan melakukan social distancing. Yang telah berimpilikasi pada pembatalan beberapa agenda tahunan komunitas Baha’i, membatasi dan memindahkan kegiatan-kegiatan komunitas Baha’i dengan memperhitungkan keamana, serta di saat yang sama berusaha menumbuhkan kreativitas dalam menjalankan berbagai aktivitasnya. 

Komunitas Baha’i juga dalam berbagai kapasitas sedang berusaha terlibat dalam suatu proses percakapan dengan teman-teman mereka untuk merenungkan krisis yang sedang kita alami saat ini, mengkaji pengetahuan dan nilai-nilai spiritual yang diperlukan pada masa-masa ini. Sehingga menghasilkan keputusan untuk mengadakan doa bersama, bekerja sama dalam melihat kebutuhan mendesak yang ada di seperti menyediakan alat kesehatan (masker), sembako bagi mereka yang membutuhkan, serta yang tidak kalah penting adalah dukungan moril untuk saling menyemangati.

Krisis ini adalah sebuah ujian, dan setelahnya kita akan melihat kapasitas baru dalam diri umat manusia

Melalui Kantor Humas dan Pemerintahan, Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, komunitas Baha’i terlibat dalam  Jaringan Lintas Iman Tanggap COVID-19 untuk bersatu dengan berbagai golongan lintas iman memberikan donasi kepada mereka yang telah terdampak COVID-19. Melalui gerakan ini kita percaya bahwa apapun kepercayaan seseorang, setiap orang punya kesempatan untuk berkontribusi. Dan sebetulnya kita juga sedang berusaha untuk mengembalikan nilai sejati dari suatu agama yaitu bagi kemanusiaan.

Kita semua tentunya ingin dan sedang berusaha untuk menumbuhkan harapan dan optimise bagi banyak orang, menumbuhkan keyakinan untuk menghadapi tantangan pada saat ini. Krisis ini adalah sebuah ujian, dan setelahnya kita akan melihat kapasitas baru dalam diri umat manusia terutama akan persatuan dan kesalingtergantungan. Seperti dijelaskan dalam satu tulisan suci Baha’i: “Cobaan-cobaan adalah berkah dari Tuhan, dan untuk itu kita harus bersyukur kepada-Nya. Kesedihan dan kesengsaraan tidak datang kepada kita secara kebetulan, kesedihan dan kesengsaraan diberikan kepada kita atas rahmat Tuhan demi kesempurnaan kita.”

Memahami Islam sebagai Agama yang Rahmatan lil Alamin

Konsep Rahmatan lil Alamin

Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk menebar rahmat (cinta kasih) bagi alam semesta. Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik dalam Qur’an maupun Hadits. Kata rahmah, rahmân, rahîm, dan derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar. Jumlahnya lebih dari 90 ayat. Makna genuine kata itu adalah kasih sayang atau cinta kasih. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah menyatakan: “Anâ arrahmân. Anâ arrahîm” (Aku Sang Maha Sayang. Aku Sang Maha Kasih).

Sumber Islam paling otoritatif, Qur’an, dengan sangat tegas menyebutkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah agama “rahmatan li alâlamîn, yakni: Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (penyebar) kasih sayang bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiyâ [21]:107).

Fungsi kerahmatan ini dielaborasi oleh Nabi Muhammad SAW dengan pernyataannya yang terang benderang:”Inni bu’itstu li utammima makârim al-akhlâq” (Aku diutus Tuhan untuk membentuk moralitas kemanusiaan yang luhur).  Atas dasar inilah, Nabi Muhammad SAW selalu menolak secara tegas cara-cara kekerasan, pemaksaan, diskriminatif, dan sekaligus Nabi SAW tidak pernah melakukannya. Nabi Muhammad SAW menegaskan misinya ini dengan mengatakan:

ما بعثت لعانا وانما بعثت رحمة

Aku tidak diutus sebagai pengutuk, melainkan sebagai rahmat bagi semesta”

Allah telah memberikan kesaksian sekaligus merestui cara-cara atau metode penyebaran Islam yang dijalankan Nabi SAW tersebut sambil menganjurkan agar dia meneruskannya:

 

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لا نفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم فى الامر

 

“Maka disebabkan rahmat (kasih sayang) Tuhanlah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekitarmu, maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampunan bagi mereka dan bermusyawaralah dengan mereka dalam segala urusan. (Q.S. Âli Imrân [3]:159).

Pernyataan ini tentu saja seharusnya menginspirasi setiap Muslim untuk melakukan langkah-langkah kemanusiaan yang tegas dalam menegakkan keadilan yang menjadi esensi ajaran Islam.  Yakni mewujudkan suatu tatanan kehidupan manusia yang didasarkan pada pengakuan atas kesederajatan manusia di hadapan hukum (al-musâwah amâma al-hukm), penghormatan atas martabat (hifdh al-‘irdl), persaudaraan (al-ukhuwwah), penegakan keadilan (iqâmat al-‘adl), pengakuan atas pikiran dan kehendak orang lain, dialog secara santun, serta kerjasama saling mendukung untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Ini adalah pilar-pilar kehidupan yang seharusnya ditegakkan oleh setiap umat Islam, tanpa harus mempertimbangkan asal usul tempat kelahiran, etnis, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, orientasi seksual, gender, keturunan, keyakinan agama, dan sebagainya.

Islam Memanusiakan Manusia

Islam sebagai agama, pada hakikatnya terlihat pada aspek nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Yang membedakan hanyalah prestasi dan kualitas takwa manusia. Soal takwa, Tuhan semata berhak melakukan penilaian, bukan manusia.

Tujuan hakiki Islam adalah memanusiakan manusia; membina manusia agar menjadi baik dalam semua aspek: fisik, mental, moral, spiritual, dan aspek sosialnya. Intisari dari semua ajaran Islam berkisar pada penjelasan tentang masalah baik dan buruk. Yakni menjelaskan mana perbuatan yang masuk dalam kategori perbuatan baik yang membawa kepada kebahagiaan, dan mana perbuatan buruk yang membawa kepada bencana dan kesengsaraan. Ajaran Islam memberikan seperangkat tuntunan kepada manusia agar mengerjakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk demi kebahagiaan dan ketenteraman manusia itu sendiri. Tuhan, Sang Pencipta, sama sekali tidak merasa untung jika manusia mengikuti aturan yang diwahyukan, sebaliknya juga tidak merasa rugi jika manusia mengabaikan tuntunan-Nya.

Manusia diciptakan dengan visi yang jelas, yaitu sebagai khalifah fil ardh (agen moral). Tugas manusia adalah membawa kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, dan kemuliaan di alam semesta (rahmatan lil-‘âlamîn). Adapaun misi utama manusia adalah menegakkan keadilan, kebenaran, mendorong terwujudnya hal-hal yang baik dan mencegah terjadinya hal-hal yang buruk dan tidak terpuji (amar ma’rûf nahi munkar). Kerja-kerja itu mencakup semua upaya transformasi dan humanisasi sehingga pada ujungnya terwujud baldatun thayyibah wa rabbun ghafur.

Salah satu tuntunan Islam yang mendasar adalah keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin biologis, jenis kelamin sosial (gender), ras, suku bangsa, dan berbagai ikatan primordial lain. Karena itu, Islam mempunyai dua aspek ajaran: ajaran tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Yang pertama berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara yang terakhir berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Sayangnya, dimensi horisontal ini tidak terwujud dengan baik dalam kehidupan penganutnya, khususnya dalam interaksi dengan sesamanya.

Pesan-pesan kemanusiaan Islam dielaborasi secara sangat mengesankan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M) dan dikembangkan lebih lanjut antara lain oleh Abu Ishaq al-Syathiby (w.790 H) dengan konsep al-dlarûriyât al-khams.

Al-Imam al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan utama syariat Islam (maqâshid al-syarî’at) pada dasarnya adalah kesejahteraan sosial atau kebaikan bersama (kemaslahatan). Al-Imam al-Ghazali menyatakan:

“Kemaslahatan menurut saya adalah mewujudkan tujuan-tujuan agama yang memuat lima bentuk perlindungan (al-dlarûriyât al-khams). Yaitu [1] perlindungan hak berkeyakinan/beragama (hifdh al-dîn); [2] perlindungan jiwa, hak hidup (hifdh al-nafs); [3] perlindungan akal, hak kebebasan berpikir dan berpendapat (hifdh al-‘aql); [4] perlindungan hak kesehatan reproduksi (hifdh an-nasl); dan [5] perlindungan kekayaan (property), hak milik (hifdh al-mâl). Segala cara yang dapat menjamin perlindungan terhadap lima prinsip ini disebut kemaslahatan; dan mengabaikan kemaslahatan adalah kerusakan (mafsadah); menolak kerusakan adalah kemaslahatan.”

Dalam pendekatan kontekstual, konsep maqâshid al-syarî’at dapat dikembangkan pemikiran sebagai berikut: Pertama, hifdh al-dîn (perlindungan terhadap keyakinan agama dan kepercayaan), mengandung pengertian bahwa perlindungan bukan hanya terhadap agama dan keyakinan dirinya semata, melainkan juga terhadap keyakinan orang lain, sehingga tidak seorang pun boleh memaksa atau menindas orang lain hanya karena keyakinan atau agamanya atau kepercayaannya yang berbeda dengan dirinya.

Kedua, hifdh al-nafs (perlindungan terhadap jiwa), mengandung arti perlindungan terhadap nyawa dan tubuh siapapun, sehingga tidak ada hak sedikitpun bagi siapapun untuk melukai, melecehkan, membunuh, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain atas dasar apapun, baik agama, etnik, ras, warna kulit, gender, jenis kelamin, maupun orientasi seksual.

Ketiga, hifdh al-‘aql (perlindungan terhadap akal pikiran), mengandung makna penyediaan ruang yang bebas untuk mengekspresikan pendapat, pikiran, gagasan, dan kehendak-kehendak yang lain, sehingga tidak seorangpun boleh melakukan pemasungan, pelarangan, dan pembredelan terhadap pikiran dan pendapat orang lain. Keempat, hifdh an-nasl (perlindungan terhadap kehormatan dan keturunan), membawa konsekuensi perlindungan dan penghormatan terhadap alat-alat, fungsi, dan sistem reproduksi dalam rangka menjaga kesehatannya,  sehingga tidak seorangpun boleh melakukan pemerkosaan, eksploitasi seksual, pemaksaan seksual, pelecehan seksual, dan pemaksaan kehamilan, rentang masa kehamilan, atau berketurunan dan jumlah keturunan,

Kelima, hifdh al-mâl perlindungan terhadap hak milik pribadi maupun masyarakat, mengandung implikasi adanya jaminan atas pilihan-pilihan pekerjaan, profesi, hak-hak atas upah sekaligus jaminan keamaanan atas hak milik tersebut, sehingga tidak boleh terjadi adanya larangan terhadap akses pekerjaan, perampasan hak milik pribadi, korupsi, penyelewengan, penggelapan, penggusuran, perusakan lingkungan hidup dan alam, serta eksploitasi-eksploitasi haram lainnya oleh siapapun; individu, masyarakat, institusi keagamaan, sosial, maupun institusi negara. Untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan memanusiakan manusia ini dalam kehidupan nyata harus dimulai dengan memahami kembali inti ajaran Islam, yaitu tauhid.

 

Apa itu Tauhid?

Tauhid adalah inti ajaran Islam, mengajarkan bagaimana berketuhanan secara benar dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Dalam kehidupan sehari-hari, tauhid menjadi pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan manusia untuk bertindak benar, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Pengetahuan awal mengenai tauhid adalah mengakui keesaan Allah, yang menciptakan alam semesta, mengenal Asma (Nama) dan Sifat-Nya, serta mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud-Nya. Tapi pengertian tauhid lebih dari sekadar itu. Pasalnya, kalau tauhid hanya berupa pengakuan akan keesaan dan kekuasaan Tuhan, maka makhluk serendah iblis pun bisa melakukan hal serupa. Iblis mempercayai Allah sebagai Tuhan, namun pengakuan itu tidak diiringi dengan ketaatan kepada perintah-Nya, yakni agar bersujud kepada Adam sebagai tanda patuh dan penyerahan diri kepada-Nya. Iblis malah melakukan sebaliknya. Dia percaya kepada Allah, tetapi justru memohon agar diizinkan berbuat zalim, yaitu menjerumuskan manusia.

Masyarakat Arab jahiliyah, tempat Rasulullah Saw. diutus, juga meyakini bahwa pencipta, pengatur, pemelihara, dan penguasa alam ini hanya Allah.  Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka belum menjadikan mereka sebagai makhluk berpredikat “Muslim” dan “Mukmin,” yakni makhluk yang berserah diri dan beriman secara total kepada Allah Swt. Karena dalam kenyataannya, pengakuan itu tidak menjadikan mereka sebagai “muwahhid” (orang yang bertauhid) secara esensial, baik secara vertikal dengan Sang Khalik, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk.

 

Memahami Tauhid Dengan Benar

Tauhid dalam realitas sosial sering kali direndahkan maknanya sedemikian rupa sehingga menjadi doktrin yang tidak menyentuh persoalan riil manusia dan masalah-masalah kemanusiaan kontemporer. Tauhid sering kali dipahami hanya sebatas mengetahui sifat-sifat Allah, mengetahui rukun iman atau yang semacam itu. Tauhid tidak lagi tampak sebagai kekuatan pencerahan dan pembebasan manusia dari ketidakadilan, ketertindasan, dan penistaan-penistaan lainnya sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah.

Tauhid secara bahasa adalah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa sesuatu itu satu. Secara terminologis, tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah Swt. dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa tawadhu, cinta, harap, dan takut hanya kepada-Nya. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tauhid. Di antara sekian banyak ayat tentang tauhid, surah Al-Ikhlas bisa disebut sebagai inti ajaran tauhid, surah ini mengandung beberapa ajaran penting tentang tauhid, yakni Allah adalah Esa, Allah adalah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada satu pun makhluk di alam semesta yang menyamai Allah.

Ajaran-ajaran pokok ini telah diimplementasikan dengan baik oleh Rasulullah dalam kehidupan individual maupun sosial. Dengan ajaran ini, Rasulullah melakukan perubahan di segala bidang, dari tingkat ideologis sampai ke tingkat praktis. Keyakinan akan keesaan Allah membuat Rasulullah dengan tegas melarang praktik mempertuhankan apa pun selain Allah, seperti patung berhala, kebesaran suku, pemimpin, penguasa. Termasuk hawa nafsu dan ego yang ada dalam diri manusia.

Keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung menjadikan Rasulullah memiliki kekuatan moral yang luar biasa dalam melapangkan jalan menuju revolusi sosial, walau dihadang dengan sangat keras oleh para pembesar Quraisy dan suku-suku Arab lainnya. Kebesaran musuh-musuh ini tidak membuat Rasulullah gentar, karena dia memiliki tempat bergantung dan bersandar yang jauh lebih kuasa dan perkasa, yakni Allah Yang Maha Agung. Tidak ada ketakutan terhadap kekuatan apa pun selain Allah, dan tidak ada pengharapan apa pun yang patut digantungkan selain kepada Allah.

 

Tauhid Melahirkan Prinsip Kesetaraan

Keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Allah dan tidak ada anak dan titisan Tuhan pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama makhluk Allah. Tidak ada manusia nomor satu dan manusia nomor dua. Manusia pada hakikatnya sama. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat.

Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuhan bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin. Oleh karena mereka bukan tuhan, maka rakyat tidak boleh mempertuhankan rajanya dan pemimpinnya, bawahan tidak boleh mempertuhankan atasannya dan istri tidak boleh mempertuhankan suaminya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Allah merupakan pengingkaran terhadap tauhid.

Pada tataran sosial, kekuatan tauhid pada diri Rasulullah Saw. membuatnya berani membela mereka yang direndahkan, teraniaya dan terlemahkan secara struktural dan sistemik (mustadh’afîn), seperti kaum perempuan, budak, anak-anak, dan kelompok rentan lain yang diperlakukan secara zalim oleh para penguasa dan pembesar masyarakat yang menutupi kezalimannya di balik nama Tuhan.

Dengan demikian, tampak bahwa tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, rasa takut, penindasan individu atau kelompok yang lebih kuat, dan sebagainya. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw.!

Di samping membebaskan manusia dari belenggu thâghût dan kezaliman, tauhid menghapuskan semua sekat-sekat diskriminasi dan subordinasi. Keyakinan bahwa hanya Allah yang patut dipertuhankan dan tidak ada siapa pun dan apa pun yang setara dengan Allah, meniscayakan kesamaan dan kesetaraan semua manusia di hadapan Allah, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah. Manusia, baik laki-laki maupun perempuan, mengemban tugas ketauhidan yang sama, yakni menyembah hanya kepada Allah swt.

Sebagai khalifah di muka bumi, tugas manusia adalah membawa kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, dan kemuliaan di alam semesta (rahmatan lil-‘âlamîn). Satu hal paling penting untuk menuju ke sana adalah adanya kesadaran menegakkan kebenaran, mendorong terwujudnya hal-hal yang baik dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak benar (amar ma’rûf nahi munkar). Tugas ini tidak mungkin dilakukan oleh satu jenis manusia, sementara satu jenis yang lain melakukan hal yang sebaliknya. Sebagai manusia yang sama-sama mengemban tugas kekhalifahan, laki-laki dan perempuan diperintahkan oleh Tuhan untuk saling bekerja sama, bahu-membahu dan saling mendukung dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar demi menciptakan tatanan dunia yang benar, baik, dan indah dalam ridha Allah.

Dalam ayat di atas terdapat kata khalâ’if (bentuk jamak dari khalîfah) yang berarti penguasa. Dalam tata bahasa Arab, kata khalifah tidak menunjuk pada jenis kelamin atau kelompok tertentu. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi yang sama dan akan mempertanggungjawabkan kekhalifahannya di hadapan Allah swt. Hanya satu kata kunci yang memungkinkan manusia bisa mempertanggungjawabkan segala peran dan fungsinya baik sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Kata kunci itu adalah ketakwaan, bukan keutamaan nasab, bukan jenis kelamin tertentu, dan bukan pula kemuliaan suku.

Sangat jelas akhirnya, Islam membawa gagasan besar kesetaraan manusia sehingga tidak boleh ada manusia -untuk alasan apa pun- mendapatkan perlakuan diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan dari sesamanya manusia. Itulah fungsi rahmat dari ajaran Islam. Dengan ungkapan lain, Islam hadir menebar rahmat bagi semua manusia dan juga bagi sekalian alam semesta.

 

 

Haruskah Teks-Teks Agama Dihafalkan?

Belakangan ini di tanah air kursus-kursus menghapalkan Al-Quran kian menjamur. Segala macam teknik ditawarkan dan dijajakan oleh tiap-tiap lembaga agar menarik minat masyarakat muslim menjadi Hafidz. Biar makin masif, pengiklanan pun jadi keharusan. Selembaran hingga poster-poster dipajang di ruang-ruang publik terlihat di beberapa sudut Ibukota.

Gairah keagamaan masyarakat di tanah air sebagaimana terlukis dengan banyaknya poster-poster ini di Ibukota memang membuat pasar tersendiri bagi beberapa kalangan. Maraknya lembaga-lembaga yang menawarkan masyarakat muslim menjadi Hafidz tidak bisa dipungkiri dari besarnya gairah muslim untuk mengenal kembali identitas keislaman.

Namun, adakah korelasi antara menghapal teks suci dengan peningkatan pemahaman agama seseorang? sebuah kritik pagi hari dari mahasiswa doktoral neurosains mungkin cukup menggigit. Mohamed Ghilan pada akun media sosial twitternya (@mohamedghilan) melontarkan kritiknya pada cara gairah keagamaan muslim.

Menurut pria kelahiran Arab Saudi ini menghapal teks-teks suci seperti Al-Quran maupun Hadits tidak langsung berkorelasi dengan kemantapan seseorang dalam beragama. “Memorizing books without understanding the content is no more special than a donkey carrying books on its back, (menghapalkan buku-buku tanpa memahami isinya tidak lebih baik daripada seekor keledai yang membawa buku-buku di punggungnya)” cuit Ghilan empat jam lalu.

Ghilan menyanyangkan semangat beragama umat Islam yang kurang tepat. “Too many Muslims believe that by memorizing a couple of texts that they can speak with authority about any topic, (Terlalu banyak muslim percaya bahwa dengan menghapal sejumlah teks mereka akan mampu secara otoritatif membahas topik apapun)” sindir pria keturunan Sudan-Yaman ini.

Bila pembaca kerap sesekali memperhatikan wacana di pengajian-pengajian mesjid. Anda akan bertanya-tanya secara serius mengenai pembahasan. Acapkali, sang ustadz di mesjid tertentu mengomentari isu-isu mengenai sains yang dicocokan dengan Al-Quran. Meskipun sosok yang bersangkutan tak memiliki kompetensi untuk membahas hal tersebut.

Lebih lanjut peminat diskursus teologi dan hukum Islam ini menilai pandangan sebagian besar umat Islam keliru mengenai relasi menghapal teks agama dengan kemampuan memahami agama. “You can get a parrot to repeat phrases. Memorizing traditional texts is not an indication you have a clue about what you’ve memorized, Anda bisa mengajarkan burung kakak tua untuk mengulangi frasa-frasa. Mengingat teks-teks tradisional tidak menjadi sebuah tanda anda memahami apa yang anda hapalkan,” twitnya.

Akankah semangat keberagamaan kita berhenti pada taraf mengingat teks-teks agama semata? atau lebih lanjut pada tataran memahami pentingnya kemanusiaan dalam beragama?

 

Mengenal Sikhisme

Oleh: Ubed Abdilah S.

“Kenali ‘orang lain’, Kenali dirimu, Kenali Tuhanmu”

“Anda tanya saya orang mana, dan dari mana? Saya orang Sikh, saya dari Jakarta, dan saya Indonesia”

(Ben)

Memang, penampilan seorang penganut Sikhisme (Sikhi) nampak berbeda dan sesungguhnya paling mudah dikenali karena mereka, terutama laki-laki, memiliki identitas kuat dalam cara berpakaian. Model penampilannya adalah menggunakan turban (penutup kepala) khas umat Sikh, memelihara janggut dan jambang. Penampilan itu bukan sekedar membuat mereka tampak beda dan menonjol, namun identitas itu merupakan representasi dari akar kepercayaan dan teologi Sikhisme.

Identitas itu merupakan penanda seorang Sikh yang setia pada ajaran nabi Guru pembawa pesan dan pendiri ajaran Sikhisme, Guru Nanak. Kata “Guru” secara literal berasal dari kata “gu” berarti kegelapan dan “ru” berarti cahaya. Bagi penganut agama Sikh, guru adalah “pencerah” (enlightener), yaitu orang yang menyibak kegelapan dan mengarahkan pada cahaya jalan spiritual menuju Tuhan. Setelah Guru Nanak, ada sembilan Guru lain yang menggantikan dan mengambil peran menyiarkan dan menjadi panutan ajaran Sikhisme antara periode abad ke 15-17 M. Guru terakhir, Guru Gobind Singh memutus garis kenabian Guru yang hidup (living guru) dengan menginstruksikan bahwa sebagai pegangan terakhir adalah kompilasi shabad (word/sabda) sepuluh Guru yang dituliskan dalam sebuah kitab yang sekarang menjadi kitab suci agama Sikh, yaitu “Guru Grant Sahib”.

Laki-laki Sikh yang memakai turban, tidak memotong rambut, dan bernama belakang “Singh” yang berarti Singa (lion) adalah mereka yang sudah dibaptis (Amrit) dan berpegang pada nilai dan semangat khalsa (yang murni). Khalsa adalah semangat kembali pada kemurnian seperti “lima orang tercinta” (panj pyare); yaitu lima orang Sikh terpilih yang rela mengorbankan dirinya demi kejayaan Sikhisme dan simbol keimanan pada ajaran nabi Guru Nanak. Mereka adalah lima orang yang pertama kali menerima baptis (Amrit) oleh Guru ke sepuluh, Guru Gobind Singh. Usai dibaptist, mereka tampil dengan menggunakan 5 K; Kesh (rambut panjang yang tidak boleh dipotong), kangha (sisir kecil  untuk membereskan rambut), Kara (Gelang dari besi baja), Kachera (celana), Kirpan (pedang kecil).

Kata Sikh yang diambil dari bahasa Sansakerta sishya bermakna “pengikut atau pembelajar” (follower) terhadap Sepuluh Guru (Ten Gurus) yang merupakan para utusan dan penyebar ajaran spiritual yang diajarkan oleh Guru Nanak. Seorang Sikh adalah seorang pencari kebenaran, yang percaya dengan hanya satu Tuhan, sang realitas tertinggi, dan mengikuti ajaran sepuluh guru yang tercermin dalam kitab suci, Guru Grant Sahib.

Teologi, Rumah Ibadah, dan Ikatan Sosial   

Saya mengenal Ben dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Meskipun tidak lagi muda dan pernah terserang stroke, tapi ia orang yang tetap semangat dan tidak tampak telah mengalami sakit  yang cukup berat. Ia mengundang saya dan teman-teman untuk mengunjungi kediamannya dan bertemu komunitas Sikh di Yayasan yang ia bangun sejak hampir dua dekade lalu.

Minggu pagi, akhir November 2014, saya memenuhi undangan Ben datang ke kantor  Yayasan komunitas Sikh di Kampung Sawah-Ciputat. Gedung kantor Yayasan itu sekaligus juga mencakup beberapa gedung yang digunakan sebagai sekolah internasional tingkat dasar dan juga bangunan rumah ibadah agama Sikh yang disebut Gurdwara (Jalan menuju Tuhan). Sekilas, arsitektur bangunan Gurdwara mirip dengan Masjid karena menggunakan ornament kubah seperti yang ada pada pintu dan jendela masjid. Tak ada kursi atau tempat duduk di dalam ruangan, hanya karpet. Laki-laki diwajibkan menggunakan tutup kepala, sebagian menggunakan turban, sebagian lagi hanya potongan kain yang diikatkan di kepala. Sementara kaum perempuan menggunakan busana panjang dengan kerudung, mirip dengan cara pakaian muslimah Indonesia.

Penganut Sikhisme adalah komunitas keturunan etnis Punjab, India utara. Maka, saya tak melihat seorang pun penganut Sikhisme yang berwajah lokal Indonesia di Gurdwara ini. Ben mengundang saya ke dalam ruangan utama untuk tempat ibadah. Hari minggu adalah waktunya untuk ibadah bersama, seperti kebaktian bagi umat Kristiani.

Saya mengambil tempat duduk di barisan laki-laki di sebelah kanan, sementara kaum perempuan berada di bagian kiri. Ada sekitar 100-an orang jemaah laki-laki dan 100-an orang jemaah perempuan, muda, tua dan anak-anak. Di bagian depan tengah terdapat semacam mimbar (Manji Sahib) yang diatasnya diletakkan kitab suci Guru Grant Sahib. Seseorang menjaga dan mengipasinya dengan kipas yang khusus. Saat memasuki ruang ibadah, umat Sikh memberikan penghormatan, membungkuk dan bersujud menghadap kitab suci, kemudian memberikan sumbangan infaq (perpuluhan).

Bagi saya, “mengikuti” ibadah agama lain bukan hal baru, dalam konteks melakukan observasi partisipatoris dalam penelitian agama di luar agama yang saya anut, Islam. Ada banyak kesan ketika melakukan observasi agama-agama diluar agama sendiri. Dari perspektif psikologi, perilaku beragama dalam beribadah yang merupakan inti sebuah ajaran agama, menunjukkan hal yang sama atas dasar rasa kemanusiaan yaitu penghambaan terhadap sesuatu yang “maha” diluar sana. Ekspresi ibadah dalam banyak hal tak jauh berbeda; menyembah, bersujud, dan tunduk sesuai kaidah ritual masing-masing agama. Pemberian, sumbangan, persembahan, shodaqoh atas nama Tuhan merupakan bentuk pengorbanan dan pengakuan terhadap keberadaan Yang Maha itu.

Ben yang dipanggil “Baba” oleh anggota komunitas Sikh di Gurdwara Ciputat ini menjelaskan bahwa Sikhisme menganut monotheisme mutlak, percaya dengan Tuhan Yang Esa. Doktrin keesaan Tuhan dari Guru Nanak Dev disebut Mool Mantra yang mengatakan Tuhan Yang Esa adalah kebenaran tertinggi, Dia Sang Pencipta, Yang melebihi waktu, tak terlahirkan, Yang Abadi, dan Dia adalah realitas tertinggi. Monotheisme Sikh tergambar dalam symbol Ek Oankar yang berarti Tuhan yang Tunggal.

 

“Guru Nanak Dev lahir di abad pertengahan, tepatnya di tahun 1469, di desa Talwandi, daerah Punjab yang saat ini masuk wilayah Pakistan. Masa itu, masyarakat di India merasa tengah dalam kejumudan spiritual karena kejatuhan Dharma. Dalam kondisi itu, masyarakat percaya akan datang seorang utusan baru yang akan mengembalikan Dharma  itu.  Dharma adalah kesadaran akan keberadaan realitas universal, Tuhan, dan hukum universal (universal order) semisal hukum yang mengontrol dan mengatur alam dan manusia. Para utusan seperti ini telah muncul di dunia ini dari waktu ke waktu. Jesus Kristus, Muhammad, Buddha Gautama, Sri Raamachandra, Sri Khrisna dan lain-lain adalah contoh-contoh para utusan itu. Pesan dan visi mereka tentang cinta kasih dan perdamaian telah menyebar ke penjuru dunia dan memberikan penyembuhan dan penghiburan bagi mereka yang menderita dan merasakan kesedihan. Guru Nanak Dev juga adalah salah satu utusan Tuhan yang muncul di abad ke 15” jelas Ben.

Simbol spiritualitas Sikhisme juga terwujud dalam Khanda, yaitu gambar dua pedang kecil (kirpan) yang menyilang lengkung, satu pedang lurus ditengah dengan lingkaran kecil di dalamnya (Chakkar). Khanda ini merepresentasikan empat aspek; dua ujung mata pedang yang tajam menunjukkan kekuatan ilahi; kebenaran, kebebasan, keadilan dan kekuatan daya cipta Tuhan. Chakkar, lingkaran dalam menggambarkan life cycle (lingkaran kehidupan) dari tuhan kembali ke tuhan, , sementara dua pedang yang menyilang (kirpan) merupakan simbol agar seorang Sikh memiliki keseimbangan antara hasrat spiritual dengan kewajiban sosial.

 simbol agama sikh

Simbol Khanda (Doc. Ubed A.S.)

Saya mendengarkan, sesama umat Sikh mengucap salam  “Waheguru Ji ka Khalsa, Waheguru Ji ki Fateh” yang bermakna “Khalsa (Yang Murni) itu milik Tuhan, kemenangan milik Tuhan”. Salam tradisional lainnya bagi ummat Sikh adalah “Sat Sri Akal” yang bermakna “Tuhan yang Abadi adalah Kebenaran”. Adapun saat ibadah, kata “waheguru” merujuk pada mengamini do’a, semacam kata “amin/amen” dalam tradisi Islam/Kristen.

Prosesi ibadah minggu kurang lebih memakan waktu dua jam, biasanya antara jam 10 pagi hingga jam 12 siang. Ibadah mencakup pembacaan kitab suci, khutbah dan ditutup dengan makan kue pudding yang terbuat dari tepung dan diberi gula. Bacaan ayat suci Guru Grant Sahib berupa hymne (lagu) yang memiliki ragas (irama, nada) diiringi music kendang khas ranah India/Pakistan dan alat music sejenis rebab. Menurut Ben, ragas dan music menjadi bagian penting dalam pembacaan ayat kitab suci karena bisa mengantarkan orang pada intimacy (kedekatan) dengan Tuhan (transendensi). Kedua hal itu bisa membangun kesempurnaan meditasi yang tujuan utamanya adalah merasakan menyatu denganNya.

 

Iringan musik (art) dalam suasana ibadah banyak dijumpai dalam agama, budaya dan tradisi manapun. Kreatifitas daya seni manusia bisa mengantar pada bangunan relasi yang kuat ketika melakukan “pemujaan” terhadap “Yang Maha” di luar sana.  Jauh sebelum manusia mengenal agama yang terorganisir (organized religion), budaya-budaya masyarakat adat telah menggunakan musik dan seni dalam ritual peribadatan dan pemujaan.  Bahkan jenis musik kontemporer yang saat ini digandrungi anak-anak muda juga digunakan oleh kelompok aliran Kristen Karismatik khususnya dalam ibadah-ibadah kaum muda (youth).

 

Selama mengikuti ibadah itu, sedikitpun saya tidak memahami isi khutbah yang disampaikan pendeta. Menurut Ben, memang bahasa yang digunakan oleh pendeta adalah bahasa Punjabi (Gurmukhi) yang merupakan bahasa asli kitab suci Sikh. Beberapa kalimat yang menjadi poin-poin khutbah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan ditampilkan di layar monitor dan tv ukuran besar di bagian depan atas altar. Saya hanya bisa menebak-nebak arti beberapa kata yang mirip dengan bahasa arab yang sedikit banyak saya pahami.

Kedekatan Sikhisme dengan ajaran Islam sebenarnya juga terkait juga dengan isi ajarannya karena ternyata Guru Nanak Dev, pendiri Sikhisme, menyerap nilai-nilai dan ide dari orang-orang suci dari berbagai agama, sekte, ordo dan orang-orang suci (saints). Menurut Ben, kitab suci Guru Grant Sahib menyerap cukup banyak pesan spiritual dari para sufis Islam (Islamic mysticism). Guru Nanak Dev sendiri melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat, mengunjungi kota suci ummat Islam,Makkah dan juga bertemu dengan para pemimpin Vatikan-Roma, menemui para pendeta, tokoh agama sembari mengamalkan dan melakukan amalan-amalan kesucian, membantu orang-orang dan melawan kejahatan dan para pelakunya.

Namun sikhisme yang diajarkan Guru Nanak Dev pada dasarnya tak lepas dari akar kultural masyarakat India yang mayoritas menganut Hinduisme (Brahmin). Satu hal yang  menjadi perhatian khusus ajaran Guru Nanak Dev adalah sikap anti sistem kasta yang ada di masyarakat India. Dalam teologinya, Sikhisme mencakup doktrin tentang kesetaraan (equality); bahwa Tuhan bisa digapai secara sama oleh setiap orang dari kalangan apapun, dan manusia adalah setara di hadapanNya. Atas dasar itu, Sikhisme sangat menjunjung keadilan dan menolak kesewanang-wenangan, kekuasaan yang tiran, dan penindasan.

Sekitar jam 12.30 siang, ibadah usai. Semua jemaah bergegas ke ruangan terbuka yang menjadi lobby bangunan ini dimana sudah tersedia makanan dan minuman. Tikar dan karpet memanjang lurus, diatur ke dalam beberapa shaf (baris). Semua orang duduk di lantai beralaskan tikar/karpet,sementara sebagian orang sibuk melayani; ada yang mengambilkan minum, nasi, lauk, buah-buahan, kue dan roti. Semua orang mendapatkan makan dan minum ini secara cuma-cuma dan tanpa perlu khawatir ada halangan karena menu makanan semuanya berbahan tumbuhan (vegetarian). Sebelumnya, sebagian orang jemaat juga memasak, mempersiapkan dan mencuci alat-alat makan dan minum.

 makan bersama dengan sikh

Makan bersama di Langgar (Doc. Ubed A.S.)

“Inilah langgar..” kata Ben. Ia menjelaskan bahwa langgar adalah simbol kesetaraan; semua orang boleh makan, sama-sama tanpa kenal status kasta, profesi, latar belakang agama, keyakinan. Pelayanan adalah bagian dari ibadah dan cara hidup asketis mengikuti ajaran nabi Guru Nanak. Di Amritsar, Kuil Emas (Golden Temple) di Punjab yang merupakan salah satu tempat suci bagi umat Sikh, ribuan orang antri hanya untuk memberikan berbagai macam bentuk pelayanan di Gurdwara yang dianggap seperti kota suci Makkah/Kakbah bagi umat Islam.

Sikhisme di Indonesia

Dalam kunjungan berikutnya, usai ibadah minggu pagi di tempat yang sama, saya bertemu dengan petugas kementerian agama bagian pelayanan agama Hindu. Pak Putu, begitu ia memperkenalkan diri, dan tentunya, ia keturunan orang Bali. Dia mengatakan kedatangannya itu sebagai bentuk pelayanan pemerintah kepada warganya apapun agama dan keyakinannya. Memang, menurut pak Putu, kementerian agama RI melihat Sikhisme sebagai bagian dari agama Hindu, sehingga pelayanan penganutnya berada di bawah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Agama Hindu. Putu menjelaskan “Dalam hal keyakinan dan teologi memang ada hal yang berbeda, itu semua diserahkan kepada penganut Sikhisme, kita menghormati, kita juga sebatas melayani keperluan administrasi dan sosial kemasyarakatannya”.

Sementara itu, dalam beberapa kesempatan Ben mengatakan bahwa seiring reformasi dan era keterbukaan di Indonesia saat ini, tak salah jika penganut Sikhisme di Indonesia juga mendapat perlakuan yang sama. “Kami hanya ingin Sikhisme dipandang dan diakui sebagai agama yang ada di Indonesia setara dengan agama-agama lain, tidak lebih” tandas Ben. Ia menambahkan, Sikhisme di Indonesia juga sudah ada sejak era pra-kolonial ketika para pedagang dari Gujarat India masuk ke wilayah nusantara. Teori lain menyebutkan ada sekian banyak pasukan sekutu Inggris dan Belanda yang merupakan prajurit penganut Sikhisme. Saat melihat dan menyaksikan apa yang terjadi di nusantara sebagian pasukan Sikh itu justru bersimpati dan beralih membantu perjuangan kaum pribumi. Mereka yang bersimpati ini kemudian menetao di sejumah daerah di nusantara. Saat ini, penganut Sikhisme banyak yang bermukim di Medan-Sumatera Utara, Palembang, Jakarta dan beberapa kota lain.

Sementara di seluruh dunia saat ini diperkirakan pengikut Sikhisme sebesar dua puluh tiga juta hingga dua puluh tujuh juta orang. Tiga perempat diantaranya hidup di daerah asal mula kepercayaan ini tumbuh, negara bagian Punjab, India. Sisanya lebih banyak yang tinggal di Inggris, Amerika dan Kanada. Namun, saat ini mereka telah menyebar di hampir semua benua dan menjadikannya sebagai penganut agama ke lima terbesar di dunia.

 

 

Mengenal Ordo Xaverian

Caritas Christi Urget Nos, Kasih Kristus mendorong kami, demikian seruan para Misionaris Xaverian ketika menginjakkan kaki di Indonesia. Jauh dari tanah airnya, entah itu Italia, Mexico, Brasil atau wilayah lain, hanya kasih Kristuslah yang membawa mereka ke Indonesia.

“Xaverian merupakan kelompok kecil dari ratusan kelompok tarekat diKatholik” demikian ungkap Francesco Marini SX dalam Sekolah Agama ICRP Jumat, (08/03/2012). Dalam kesempatan tersebut Romo Marini, begitu beliau akrab disapa, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menjelaskan berbagai macam aliran dalam kehidupan Katholik lengkap dengan sejarah perkembangan masing-masing aliran.

Ordo Xaverian sendiri didirikan oleh satu keluarga misionaris baru yaitu Serikat Misionaris Xaverian (SX) yang diprakarsai oleh Beato Conforti pada tahun 1895 silam. Empat tahun kemudian (1899) dua misionaris Xaverian pertama berlayar menuju ke Cina untuk meneruskan karya misioner St. Fransisikus Xaverius, pelindung Serikat Misionaris Xaverian. Pada tahun 1902 Guido Maria Conforti diangkat menjadi Uskup Agung Ravenna, Italia Utara. Setelah beberapa lama menjabat Uskup Ravenna karena kesehatannya lemah ia minta mengundurkan diri. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia diangkat menjadi Uskup Agung Parma.

Romo Marini menuturkan bahwa kondisi kekairan Cina saat itu tidak memungkinkan untuk para misionaris xaverian. Sehingga banyak dari mereka yang pergi kenegara-negara sekitar Cina, termasuk salah satunya adalah Indonesia.

Perjalanan Xaverian di Indonesia memang belum terlalu lama. Bahkan baru pada tahun 1980-an warga asli Indonesia diundang bergabung menjadi Xaverian. Di Indonesia terdapat 30-an Pastor dan 20-an Xaverian muda yang mengabdi. Tetapi sabagian mereka melayani gereja di luar Negeri. Demikian tutur Romo Marini.

Meskipun begitu, kehadiran Xaverian di Indonesia cepat diterima oleh masyarakat karena mewartakan Injil mereka mempergunakan cara-cara santun dan damai. “Kita sangat terbuka menerima dialog, karena dialog akan menambah wawasan kita” tutur Romo Marini. ” Semua agama berhak untuk berdakwah dan mengajak orang lain, tetapi kami tidak suka fundamentalis” pungkas Romo Marini. [Mukhlisin]

Caritas Christi Urget Nos, Kasih Kristus mendorong kami, demikian seruan para Misionaris Xaverian ketika menginjakkan kaki di Indonesia. Jauh dari tanah airnya, entah itu Italia, Mexico, Brasil atau wilayah lain, hanya kasih Kristuslah yang membawa mereka ke Indonesia.

“Xaverian merupakan kelompok kecil dari ratusan kelompok tarekat diKatholik” demikian ungkap Francesco Marini SX dalam Sekolah Agama ICRP Jumat, (08/03/2012). Dalam kesempatan tersebut Romo Marini, begitu beliau akrab disapa, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menjelaskan berbagai macam aliran dalam kehidupan Katholik lengkap dengan sejarah perkembangan masing-masing aliran.

Ordo Xaverian sendiri didirikan oleh satu keluarga misionaris baru yaitu Serikat Misionaris Xaverian (SX) yang diprakarsai oleh Beato Conforti pada tahun 1895 silam. Empat tahun kemudian (1899) dua misionaris Xaverian pertama berlayar menuju ke Cina untuk meneruskan karya misioner St. Fransisikus Xaverius, pelindung Serikat Misionaris Xaverian. Pada tahun 1902 Guido Maria Conforti diangkat menjadi Uskup Agung Ravenna, Italia Utara. Setelah beberapa lama menjabat Uskup Ravenna karena kesehatannya lemah ia minta mengundurkan diri. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia diangkat menjadi Uskup Agung Parma.

Romo Marini menuturkan bahwa kondisi kekairan Cina saat itu tidak memungkinkan untuk para misionaris xaverian. Sehingga banyak dari mereka yang pergi kenegara-negara sekitar Cina, termasuk salah satunya adalah Indonesia.

Perjalanan Xaverian di Indonesia memang belum terlalu lama. Bahkan baru pada tahun 1980-an warga asli Indonesia diundang bergabung menjadi Xaverian. Di Indonesia terdapat 30-an Pastor dan 20-an Xaverian muda yang mengabdi. Tetapi sabagian mereka melayani gereja di luar Negeri. Demikian tutur Romo Marini.

Meskipun begitu, kehadiran Xaverian di Indonesia cepat diterima oleh masyarakat karena mewartakan Injil mereka mempergunakan cara-cara santun dan damai. “Kita sangat terbuka menerima dialog, karena dialog akan menambah wawasan kita” tutur Romo Marini. ” Semua agama berhak untuk berdakwah dan mengajak orang lain, tetapi kami tidak suka fundamentalis” pungkas Romo Marini. [Mukhlisin]

Selintas Mengenal Agama Konghucu

Agama Konghucu, Ji Kauw, Ru Jiao

Agama Konghucu dikenal pula sebagai Ji Kauw (dialek Hokian) atau Ru Jiao (Hua Yu), yang berarti agama yang mengajarkan kelembutan atau agama bagi kaum terpelajar. Agama ini sudah dikenal sejak 5.000 tahun lalu, lebih awal 2.500 tahun dibanding usia Kongzi sendiri.

Kongzi, Khongcu, Confucius

Kongzi (Hua Yu) atau Khongcu (dialek Hokian) atau Confucius (Latin) adalah nama nabi terakhir dalam agama Konghucu.  Ia lahir tanggal 27, bulan 8, tahun 0001 Imlek atau 551 sM.  Kongzi adalah nabi terbesar dalam agama Konghucu dan oleh sebab itu banyak orang yang kemudian menamai Ru Jiao sebagai Confucianism, yang kemudian diIndonesiadikenal sebagai Agama Konghucu.

Sebagai bukti akan kebesaran Kongzi atau Nabi Khongcu, tahun pertama dari penanggalan Imlek dihitung sejak tahun kelahirannya.  Padahal penanggalan Imlek diciptakan pada jaman Huang Di, 2698-2598 sM dan telah digunakan sejak Dinasti Xia, 2205-1766 sM.  Penetapan tahun pertama ini dilakukan Kaisar Han Wu Di dari Dinasti Han pada tahun 104 sM.

Beberapa Nabi Lain Dalam Agama Konghucu

Nabi pertama yang tercatat dalam sejarah Ru Jiao adalah Fu Xi, hidup pada 30 abad sM, yang mendapat wahyu dan menuliskan Kitab Yi Jing atau Kitab Perubahan. Fu Xi beristrikan Nabi Nu Wa, yang menciptakan Hukum Perkawinan. Sejak saat itu anak bukan lagi dianggap anak  ibu saja, melainkan juga anak ayah.  Selain Nu Wa, di dalam Ru Jiao dikenal nabi perempuan lain, yaitu Lei Zu, Jiang Yuan dan Tai Ren. Nabi lain yang masih dikenal antara lain Huang Di, Yao, Sun, Xia Yu, Wen, Zhou Gong atau Jidan dan terakhir Kongzi.  Kitab Yi Jing yang kita kenal sekarang tidak ditulis oleh Fu Xi belaka, namun ditulis dan disempurnakan oleh 5 (lima) nabi yang mendapat wahyu dalam tempo berlainan, yaitu : Fu Xi, Xia Yu, Wen, Zhou Gong dan Kongzi.

Kitab Suci Agama Konghucu

Kitab suci agama Konghucu sampai pada bentuknya yang sekarang mengalami perkembangan yang sangat panjang. Kitab suci yang tertua berasal dariYao(2357-2255 sM) atau bahkan bisa dikatakan sejak Fu Xi (30 abad sM).  Yang termuda ditulis cicit murid Kongzi, Mengzi (wafat 289 sM), yang menjabarkan dan meluruskan ajaran Kongzi, yang waktu itu banyak diselewengkan.

Kitab suci yang berasal dari Nabi Purba sebelum Kongzi, ditambah Chunqiujing (Kitab atau Catatan Jaman Cun Ciu/ Musim Semi dan Musim Rontok) yang ditulis sendiri oleh Kongzi, sesuai dengan wahyu Tian, kemudian dihimpun Kongzi dalam sebuah Kitab yang disebut Wujing. Beberapa saat sebelum wafat, Nabi Kongzi mempersembahkan Wujing dalam persembahyangan kepada Tian.

Wu Jing terdiri atas :  (i) Shijing (Kitab Sanjak), yang berisi nyanyian religi, puji-pujian akan keagungan Tian dan nyanyian untuk upacara di istana, (ii) Shujing (Kitab Dokumentasi Sejarah Suci), yang berisi sejarah suci Agama Konghucu, (iii) Yijing, berisi tentang penjadian alam semesta, sehingga mereka yang menghayati Kitab ini akan mampu menyibak takbir kuasa Tian dengan segala aspeknya, (iv) Lijing (Kitab Kesusilaan), yang berisi aturan dan pokok-pokok kesusilaan dan peribadahan, serta (v) Chunqiujing.

Pokok-pokok ajaran dan sabda-sabda Nabi Kongzi sendiri, kemudian dihimpun oleh murid-muridnya dalam sebuah Kitab Suci yang disebut Si Shu (Kitab Suci Yang Empat), yang terdiri atas : (i) Daxue  (Ajaran Agung/Besar) yang berisi bimbingan dan ajaran pembinaan diri, keluarga, masyarakat, negara dan dunia. Daxue ditulis oleh Zengzi atau Zengshen, murid Kongzi dari angkatan muda, (ii) Zhongyong      ( Tengah Sempurna) yang berisi ajaran keimanan Agama Konghucu. Zhongyong ditulis oleh Zisi atau Kongji, cucu Kongzi, (iii) Lunyu       (Sabda Suci) yang berisi percakapan Kongzi dengan murid-muridnya. Kitab ini dibukukan oleh beberapa murid utama Kongzi, yang waktu itu berjumlah 3.000 murid, dimana 72 orang diantaranya tergolong murid utama, dan (iv) Kitab Mengzi yang ditulis Mengzi.

Konsep Ketuhanan Dalam Agama Konghucu

Ru Jiao atau agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.

Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).

Watak Sejati Atau Sifat Kodrati Umat Manusia, Menurut Agama Konghucu

Sifat kodrati atau watak sejati manusia (Xing) menurut Agama Konghucu adalah bersih dan baik, karena berasal dari Tian sendiri. Agar sifat baik ini bisa terpelihara, maka manusia perlu berupaya hidup di dalam Jalan yang diridhoi Tuhan (Jalan Suci, Dao).  Bimbingan agar manusia dapat hidup dalam Jalan Suci disebut agama.  Dengan demikian menjadi jelas bahwa agama diciptakan oleh Tuhan dan disampaikan oleh para nabi untuk kepentingan umat manusia.

Menyadari bahwa agama-agama diturunkan Tuhan lewat para nabi untuk kepentingan umat manusia, maka umat Konghucu wajib hidup penuh susila, tepasalira, penuh toleransi dan penghormatan kepada umat agama lain, atas dasar keyakinan bahwa agama-agama atau Jalan-Jalan Suci itu semuanya berasal dariNya.

Ajaran Pokok Agama Konghucu

Seperti halnya ajaran pokok agama lain, dalam agama Konghucu  dikenal hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Khalik dan hubungan horizontal antara sesama manusia.  Dalam kosa kata Agama Konghucu disebut sebagai Zhong Shu, Satya kepada (Firman) Tuhan, dan Tepasalira (tenggang rasa) kepada sesama manusia.  Prinsip Tepasalira ini kemudian ditegaskan dalam beberapa sabdanya yang terkenal, “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan diberikan kepada orang lain” dan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju), berusahalah agar orang lain tegak (maju)”.  Kedua sabda ini dikenal sebagai “Golden Rule” (Hukum Emas) yang bersifat Yin dan Yang.

Dalam berbagai kesempatan Kongzi menekankan pentingnya manusia mempunyai “Tiga Pusaka Kehidupan”, “Tiga Mutiara Kebajikan” atau “Tiga Kebajikan Utama”, yaitu : Zhi, Ren dan Yong.  Ditegaskan bahwa, “Yang Zhi tidak dilamun bimbang, yang Ren tidak merasakan susah payah, dan yang Yong tidak dirundung ketakutan”.

Zhi berarti wisdom dan sekaligus enlightenment (Bijaksana dan Tercerahkan/Pencerahan). Bijaksana dapat diartikan pandai, selalu menggunakan akal budinya, arif, tajam pikiran, mampu mengatasi persoalan dan mampu mengenal orang lain. Pencerahan atau yang Tercerahkan, berarti mampu mengenal dan memahami diri sendiri, termasuk di dalamnya mampu mengenal yang hakiki. Untuk mencapai Zhi, manusia harus belajar keras, dengan menggunakan kemampuan dan upaya diri sendiri.  Agama, para Nabi dan atau Guru Agung hanya bisa membantu, namun untuk mencapainya adalah dari upaya diri sendiri. Orang yang ingin memperoleh Zhi, berarti ia harus belajar keras untuk meraih Kebijaksanaan dan sekaligus Pencerahan (batin).

Ren berarti Cinta Kasih universal, tidak terbatas pada orang tua dan keluarga sedarah belaka, namun juga kepada sahabat, lingkungan terdekat, masyarakat, bangsa, negara, agama dan umat manusia.  Ren bebas dari stigma masa lalu dan tidak membeda-bedakan manusia dari latar belakang atau ikatan primordialnya. Ren tidak mengenal segala bentuk diskriminasi atau pertimbangan atas dasar kelompok. Meski berasal dari satu kelompok, bila seseorang bersalah atau melanggar Kebajikan, maka bisa saja kita berpihak kepada orang yang berasal dari kelompok berbeda namun benar-benar berada dalam Kebajikan.  Ren dalam pengertian agama Konghucu selalu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta atau menuntut balasan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat bahwa Ren tidak berarti mencinta tanpa dasar pertimbangan baik dan buruk. Dalam salah satu sabdanya Kongzi mengatakan bahwa “Orang yang berperi-Cintakasih bisa mencintai dan membenci”. Mencintai Kebaikan dan membenci Keburukan. Balaslah Kebaikan dengan Kebaikan; Balaslah Kejahatan dengan Kelurusan”. Di sini berarti siapa pun yang bersalah, harus diluruskan, dihukum secara adil dan diberi pendidikan secara optimal agar dapat kembali ke jalan yang benar. Setelah berada di jalan yang benar, kita tidak boleh terkena stigma, menilai atas dasar masa lalu seseorang.

Yong sering diartikan Berani atau Keberanian. Namun yang dimaksud dengan Yong, bukanlah keberanian dalam “k” kecil.  Berani melawan harimau dengan tangan kosong, berani menyeberangi bengawan tanpa alat bantu, bukanlah Keberanian yang dimaksud Kongzi. Yang dimaksud dengan Keberanian di sini adalah Berani karena Benar, Berani atas dasar Aturan atau Kesusilaan, Berani atas dasar rasa Tahu Malu. Suatu ketika Kongzi berkata, “Bila memeriksa ke dalam diri aku telah berada dalam Kebenaran, mengapa aku harus merasa takut?.  Namun bila aku bersalah, kepada anak kecil pun aku tidak Berani”.

Yong juga diartikan sebagai Keberanian untuk melakukan koreksi dan  instrospeksi diri. Bila bersalah, kita harus Berani mengakui kesalahan tersebut dan sekaligus Berani untuk mengkoreksinya. Nabi Kongzi berkata, “Sungguh beruntung aku. Setiap berbuat kesalahan, selalu ada yang mengingatkannya”.  Ditambahkan, “Sesungguh-sungguhnya kesalahan adalah bila menjumpai diri sendiri bersalah, namun tidak berusaha untuk mengkoreksi atau memperbaikinya”. Maka seorang yang berjiwa besar adalah orang yang berani belajar dari kesalahan.

Oleh Mengzi, Yong kemudian dijabarkan sebagai Yi (Kebenaran) dan Li (Kesusilaan, Tahu Aturan, Ketertiban atau Hukum). Bila seseorang mampu menjalani Ren, Yi, Li dan Zhi dengan baik, maka ia diharapkan mampu menjadi seorang Junzi (Kuncu), atau orang yang beriman (dan tentu saja berbudi pekerti luhur). Dalam Islam disebut “Insan Kamil”. Dengan demikian diharapkan ia akan menjadi manusia yang terpercaya atau Dapat Dipercaya (Xin).  Pokok ajaran Ren, Yi, Li, Zhi dan Xin atau, inilah yang biasa disebut sebagai “Lima Kebajikan” atau Wu Chang.

Penyebaran Agama Konghucu

 Agama Konghucu dipeluk berbagai bangsa di :Asia, Amerika dan Eropa. Negara yang penduduknya banyak menganut agama atau setidaknya memahami ajaran atau filosofi Konghucu (Ru Jiao) : Hongkong,Indonesia,Jepang,Korea,Malaysia,Mongolia,Singapura,Taiwan, Tiongkok danVietnam. Di beberapa negara, hari kelahiran Kongzi bahkan diperingati setiap tahun dengan berbagai acara ritual dan prosesi keagamaan, seminar dan ditetapkan sebagai Hari Libur.

Agama Konghucu adalah salah satu dari 12 agama besar dunia yang diakui “Perserikatan Bangsa-Bangsa” (PBB). Menurut survai PBB tahun 1956, yang dimuat dalam Reporter” Nomor 22, “Religion and Its Followers Throughout the World”, pemeluk agama Konghucu berjumlah 300.290.500 jiwa. Dalam Undang-Undang Nomor 1/PNPS/ 1965 jo. Undang-Undang Nomor 5/1969, dijelaskan bahwa “agama-agama yang banyak dianut pendudukIndonesiaadalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu (Confusius)…………”.

Di Indonesia sendiri, kedatangan agama Konghucu diperkirakan telah terjadi sejak akhir jaman pra sejarah, terbukti dari ditemukannya benda pra sejarah seperti kapak sepatu yang terdapat di IndoChinadanIndonesia, yang tidak terdapat diIndiadan Asia Kecil.  Penemuan ini membuktikan telah terjadi hubungan antara kerajaan-kerajaan yang terdapat di daratan yang kita kenal sekarang sebagai Tiongkok denganIndonesia, baik secara langsung atau tidak langsung melalui IndoChina. Perlu diketahui bahwa pendiri Dinasti Xia, dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok kuno, adalah Xia Yu, yang merupakan orang Yunan, atau nenek moyang bangsa Melayu.

Mengingat masuknya Islam ke Indonesia banyak dibawa saudagar atau orang Tionghoa, sedangkan agama asli orang Tionghoa adalah Ru Jiao (Konghucu) dan Da Jiao (Tao), maka dapat dipastikan bahwa masuknya Islam, Konghucu dan Tao berbarengan, sekitar abad XIII.

Tempat Ibadah & Rohaniwan Agama Konghucu

Tempat ibadah Konghucu adalah Litang, Miao (Bio), Kongzi Miao, Khongcu Bio dan Kelenteng. Litang, selain merupakan tempat sembahyang, juga merupakan tempat kebaktian berkala (biasanya setiap hari Minggu atau tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek). Di sini umat mendapat siraman rohani (khotbah) dari para rohaniwan. Miao dan Kelenteng biasanya hanya merupakan tempat sembahyang. Kalau pun ada kebaktian, biasanya ditempatkan di ruangan yang terpisah agar tak terganggu aktivitas sembahyang. Di samping menjadi tempat ibadah agama Konghucu, Kelenteng biasanya juga menjadi tempat ibadah agama Tao dan agama Buddha Mahayana.

Rohaniwan agama Konghucu terdiri atas : Xueshi, Wenshi, Jiaosheng, Zhanglao dan Ketua-Ketua / Pimpinan-Pimpinan Majelis dan atau Tempat Ibadah. Sebelum menjadi Xueshi (biasa disingkat Xs), harus melalui jenjang Wenshi (Ws). Sebelum menjadi Wenshi, harus melalui jenjang Jiaosheng (Js). Tokoh yang sudah mencapai tingkatan sesepuh atau sangat senior di sebut Zhanglao (Zl).

Setiap rohaniwan, sesepuh dan para pimpinan tempat ibadah yang memegang mandat dan Surat Pengangkatan dari Dewan Pengurus Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) dan atau menerima Surat Liyuan Rohaniwan (persidian, peneguhan iman) dari Dewan Rohaniwan MATAKIN, memiliki kewenangan :

-Menyelenggarakan kebaktian bagi umat Konghucu di daerahnya.

-Melakukan Liyuan umat.

-Memimpin berbagai upacara suci bagi umat Konghucu, sesuai Hukum Agama Konghucu, termasuk Hukum Perkawinan Agama Konghucu, yang diatur dalam Tata Agama Konghucu.

Refrensi : www.matakin-indonesia.org/