Sebuah kelompok perempuan lintas agama menyiapkan makanan untuk anak-anak di sebuah vihara Buddha dekat bantaran Sungai Irrawaddy di Mandalay pada 20 Desmeber 2015.

[:id]Perempuan bangun kerukunan di tengah sentimen anti-Muslim di Myanmar[:]

[:id]Tin Tin Aye, seorang ibu rumah tangga Muslim, dibesarkan di lingkungan umat Buddha, Kristen dan Hindu di Myanmar dan dia sering mengunjungi gereja-gereja dan kuil-kuil Hindu bersama teman-temannya pada masa kecil.

Dekat rumah orangtuanya, sebuah masjid, pagoda Buddha, gereja Katolik dan kuil Hindu yang terletak berdampingan di pusat kota Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

“Saya melupakan agama saya saat berinteraksi dengan umat Buddha, Kristen dan Hindu dan saya melihat mereka sebagai teman-teman saya,” kata Tin Tin Aye, yang bekerja sebagai pemandu wisata, kepada ucanews.com.

Tin Tin Aye telah bergabung dengan kelompok lintas agama perempuan itu, yang didirikan tahun 2007 oleh Suster Kathleen Geaney, seorang biarawati Colomban asal Irlandia.

“Ini adalah suatu istimewa bagi saya karena saya lebih mengenal agama-agama lain dengan berpartisipasi dalam kelompok lintas agama,” kata ibu dua anak itu.

Sementara Tin Tin Aye dan para perempuan dari berbagai agama berusaha membangun kerukunan antaragama, Mandalay terguncang oleh kekerasan anti-Muslim pada Juli 2014 yang menewaskan dua orang dan belasan luka-luka.

Sentimen anti-Muslim juga telah memicu konflik di Negara Bagian Rakhine, di mana kekerasan tahun 2012 menewaskan lebih dari 200 orang dan memaksa puluhan ribu orang – kebanyakan Muslim Rohingya – meninggalkan rumah-rumah mereka. Baru-baru ini pasukan keamanan melakukan tindakan represif setelah tiga pos polisi diserang di Rakhine. Kekerasan ini menyebabkan lebih dari 69.000 orang melarikan diri ke Banglades dan 24.000 orang terlantar di negara itu.

===

Kini Tin Tin Aye khawatir dengan keamanan keluarganya, tapi dia mengatakan bahwa hubungannya dengan wanita dari berbagai agama tidak akan terpengaruh oleh kekerasan itu.

“Teman-teman Buddha kami menghibur saya dan memberi saya dukungan moral dan itu menunjukkan bahwa kami memiliki hubungan yang kuat,” katanya.

Adanya kelompok ini bertujuan menyampaikan kepada Kyin Kyin, seorang ibu rumah tangga beragama Buddha, anggota kelompok itu.

“Saya tidak curiga dan benci terhadap umat Islam,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia sangat antusias mendukung orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka tanpa memandang ras dan agama.

Negara mayoritas Buddha itu telah menyaksikan sejumlah serangan kekerasan agama sejak 2012 di Rakhine menyebabkan sejumlah orang tewas dan lebih dari 120.000 orang, sebagian besar warga Rohingya, mengungsi. Kekerasan itu dipelopori oleh kelompok garis keras Buddha, Komite Perlindungan Ras dan Agama atau Ma Ba Tha.

Cynthia Yin Yin Ohn, seorang Katolik dari kelompok lintas agama perempuan, menyalurkan beras kepada para siswa di sebuah biara Buddha di dekat sungai Irrawaddy, Mandalay, pada 20 Desember 2015.

Cynthia Yin Yin Ohn, seorang Katolik dari kelompok lintas agama perempuan, menyalurkan beras kepada para siswa di sebuah biara Buddha di dekat sungai Irrawaddy, Mandalay, pada 20 Desember 2015.

Kebencian terhadap Muslim di media sosial tetap terjadi meskipun pemerintah sipil Aung San Suu Kyi mulai menjabat pada April 2016 mengakhiri puluhan tahun kekuasaan militer.

Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon mengatakan kebencian terhadap orang lain dari berbagai ras dan agama telah mencapai “tingkat yang sangat mengkhawatirkan.”

Sebanyak 37 wanita Buddha, Kristen dan Muslim telah bergabung dengan kelompok lintas agama di mana mereka membangun persahabatan melalui kegiatan rutin, program penjangkauan dan pelatihan.

Kelompok itu menjalankan program keuangan mikro, dukungan pendidikan, program anak-anak cacat dan menyediakan makanan untuk masyarakat miskin perkotaan.

“Kelompok perempuan kami perlahan-lahan maju dengan tujuan membangun kerukunan antaragama dan saya membiarkan anggota inti menjalankan program itu sendiri,” kata Suster Geaney, pendiri kelompok itu, kepada ucanews.com.

Kyin Kyin, seorang Buddhis (berbaju hijau), Cynthia Yin Yin Ohn, seorang Katolik (tengah) dan Tin Tin Aye, seorang Muslim, bercerita di kantor Katedral Hati Kudus, Mandalay pada 21 Februari.

Kyin Kyin, seorang Buddhis (berbaju hijau), Cynthia Yin Yin Ohn, seorang Katolik (tengah) dan Tin Tin Aye, seorang Muslim, bercerita di kantor Katedral Hati Kudus, Mandalay pada 21 Februari.

Cynthia Yin Yin Ohn, seorang ibu rumah tangga Katolik, mengatakan bahwa mereka berupaya membuat jaringan usaha bersama 37 perempuan lintas agama.

“Umat Buddha dan Muslim bertemu di gereja dan umat Kristen dan Muslim pergi ke vihara dan berbicara dengan para biarawan Buddha sebagai akibat dari persahabatan kami,” kata Yin Yin Ohn, seorang ibu dari dua anak, kepada ucanews.com.

Dia menambahkan bahwa tidak ada diskriminasi antara perempuan dan mereka berdoa bersama sesuai dengan agama masing-masing setiap kali mereka melakukan kegiatan, meditasi atau pergi berkunjung.

“Kami seperti keluarga. Kami berbagi kebahagiaan dan tantangan kami bersama. Kami semua perlu bergabung bersama-sama masyarakat yang damai dan harmonis,” kata Yin Yin Ohn.

Umat Muslim meniliki 4,3 persen dari negara berpenduduk mayoritas Buddha, menurut 2014 sensus. Umat Muslim pertama tiba pada abad ke-9 dan sebagian besar dari India, keturunan Cina atau Pathi. Kristen memiliki 6 persen.

Sumber: ucanews.com[:]

[:id]Teruntuk Rizieq Shihab, Ini Catatan Kang Dedi soal Sampurasun[:]

[:id]Catatan Kecil tentang Makna “Sampurasun”

Berasal dari kalimat “sampurna ning ingsun” yang memiliki makna “sempurnakan diri Anda”. Kesempurnaan diri adalah tugas kemanusiaan yang meliputi penyempurnaan pandangan, penyempurnaan pendengaran, penyempurnaan penghisapan, penyempurnaan pengucapan, yang kesemuanya bermuara dalam kebeningan hati. Pancaran kebeningan hati akan mewujudkan sifat kasih sayang hidup manusia, maka orang Sunda menyebutnya sebagai ajaran Siliwangi; silih asah, silih asih, silih asuh.

Ketajaman indrawi orang sunda dalam memaknai sampurasun melahirkan karakter waspada permana tinggal (ceuli kajaga ku runguna, panon kajaga ku awasna, irung kajaga ku angseuna, letah kajaga ku ucapna, yang bermuara pada hate kajaga ku ikhlasna). Waspada permana tinggal bukanlah sikap curiga pada seluruh keadaan, tetapi merupakan manifestasi dari perilaku sosok sunda yang deudeuhan, welasan, asihan, nulung sunda yang deudeuhan, welasan, asihan, nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun (selalu bersikap tolong menolong terhadap sesama hidup).

Sikap ini melahirkan budaya gotong royong yang dilandasi oleh semangat sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salogak. Sistem komunalitas yang bermuara pada kesamaan titik penggerak (museur/berpusat) pada yang maha Tunggal Penguasa Seluruh Kesemestaan.

Memusatkan seluruh energi kemanusiaan pada Kemahatunggalan Allah Penguasa Alam Semesta melahirkan karakter hilangnya sifat peng-aku-an dalam diri orang sunda. Hirup kudu sasampeuran, awak ukur sasampayan, sariring riring dumadi, sarengkak saparipolah sadaya kersaning Gusti Nu Maha Suci (Tak ada sedikitpun pengakuan dan keakuan dalam diri). Sifat totalitas ini melahirkan sosok yang bernama Rawayan Jati Ki Sunda.

Sebelumnya dilaporkan dalam suatu acara dakwah yang terekam pada 15 November 2015, pentolan kelompok pro ISIS, FPI, Rizieq Shihab memelesetkan kata sampurasun.

(sumber : detik.com)[:]

Suasana Konferensi ICIS. Sumber: uin-malang.ac.id

[:id]Suara Perdamaian Dari Malang[:]

[:id]Malang, ICRP – Maraknya tindakan terorisme, radikalisme, dan kekerasan atas nama agama di belahan penjuru dunia membuat ulama-ulama dari berbagai negara resah. Sekurangnya,  65 tokoh agama berasal dari 34 Negara serta 500 ulama dan cendekiawan dari seluruh Indonesia melaksanakan International Conference of Islamic Scholars (ICIS), di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 23-25 November 2015. Acara ini dilaksanakan atas kerja sama ICIS, Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, UIN Maliki Malang, dan Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah (Jatman).

Informasi kegiatan konferensi ICIS di Malang. Sumber: @icicNabawiyah

Informasi kegiatan konferensi ICIS di Malang. Sumber: @icicNabawiyah

Konferensi ini bertujuan untuk meneguhkan Islam rahmatan lil alamin;  Islam sebagai agama  rahmat bagi seluruh jagat, tidak hanya manusia yang beragam etnis, bahasa dan agama, tetapi juga makhluk lainnya. Karena Rahmatan lil alamin adalah bahasa pilihan Al Quran yang bersifat all embracing, universal, dan beyond sectarianism. Demikian tutur panitia dalam siaran persnya.

Selain itu, konferensi ini juga bertujuan memperkuat pemahaman Islam yang moderat dan toleran, mewujudkan sistem pendidikan yang memadukan fikir dan zikir, membuka jaringan ulama dan pemikir Islam dunia, serta menemukan titik persamaan perjuangan dalam menatap masa depan dan dunia global. Rencanayanya, konferensi ICIS yang ke-4 ini akan mendeklarasikan Malang Message sebagai respons problematika dunia Islam.

“Umat Islam Indonesia, mulai dari cendekiawan, ulama, dan para sufi harus tampil ke depan untuk membendung gerakan ekstremisme dan terorisme tersebut melalui gerakan diseminasi Islam moderat, Islam yang rahmatan lil alamin menuju perdamaian dunia,” demikian tutur Sekjen ICIS, KH Hasyim Muzadi, dalam rilisnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir dalam kesempatan pembukaan konferensi tersebut menuturkan, pihaknya mendukung penuh kegiatan ICIS tersebut. Ia berharap konferensi ulama dan cendekiawan ini menghasilkan langkah konkrit untuk mencegah dan menangkal terorisme dan radikalisme. Terutama menangkal ISIS masuk menyebarkan bibit radikalisme.

 [:]

Ilustrasi toleransi. Sumber: ministry127.com

[:id]Inilah 10 Kota Paling Toleran di Indonesia[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Semenjak reformasi bergulir pada tahun 1998 lalu, kekerasan dan intoleransi satu persatu pecah di berbagai daerah di Indonesia. Bermacam-macam latar belakang pemicu terjadinya tindakan kekerasan tersebut. Namun, tahukah anda di manakah kota yang paling toleran di Indonesia?

Setara Institute, sebuah lembaga yang fokus terhadap toleransi dan HAM, baru-baru ini  mengeluarkan hasil penelitian Indeks Kota Toleran pada 2015. ada sepuluh kota yang dipilih sebagai kota toleran karena tidak pernah ada peristiwa yang menyebabkan konflik dan pelanggaran kebebasan beragama.

10 kota tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pematang Siantar (1,47),
  2. Salatiga (1,47),
  3. Singkawang (1,47),
  4. Manado (1,47),
  5. Tual (1,47),
  6. Sibolga (1,58),
  7. Ambon (1,58),
  8. Sorong (1,58),
  9. Pontianak (1,58), dan
  10. Palangkaraya (1,58).

Peneliti Setara Institute Aminudin Syarif mengatakan, indikator penilaian dalam penelitian tersebut menggunakan skala 1-7. Indikator 1 menjelaskan nilai terbaik atau paling toleran suatu kota. Sementara indikator 7 menjadi nilai terburuk atau paling tidak toleran. “Ketika rendah di indikator ini tetapi tinggi di indikator lain, nilai indeksnya masih bisa kecil,” katanya.

Dalam pengukuran tingkat toleransi ini, Setara Institute menggunakan empat variabel penelitian. Pertama, regulasi pemerintah kota yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan peraturan daerah dengan penilaian diskriminatif atau non-diskriminatif.

Kedua, tindakan pemerintah kota. Dalam hal ini, Setara menilai respons  pemerintah dalam menangani persitiwa intoleran yang terjadi di daerahnya. Misalnya, pernyataan pemerintah kota yang tidak memihak.

Ketiga, regulasi sosial, atau peristiwa intoleran yang terjadi selama beberapa waktu terakhir di kota tersebut. Dan keempat adalah demografi agama dan komposisi penduduk. Dalam hal ini, penelitian membandingkan komposisi penduduk berdasarkan agama.

Penelitian ini dilakukan terhadap 94 kota di seluruh Indonesia. Penelitian menggunakan studi dokumen berdasarkan data dan pengamatan peristiwa, yang dilakukan pada 3 Agustus- 13 November 2015.

Sumber: tempo.co, kompas.com[:]

[:id]Akankah Spiritualitas dan Agama Lenyap?[:]

[:id]Pengkaji sejarah kristen asal Uwak Sam Diana Butler Bass menolak pandangan bahwa religiusitas masyarakat dewasa ini menurun. Melainkan, menurut Butler, religiusitas telah mengalami transformasi. Pandangan Butler menjadi semacam sanggahan atas temuan dari pew research mengenai religiusitas masyarakat Amerika Serikat.

“Saya kira ke depan kita akan menyaksikan peningktan spiritualitas sekularisme. Yang mana hal ini tidak selalu berasal dari tradisi klasik agama-agama, tapi kita mulai melihat hal itu,” kata Diana Butler dalam sebuah talkshow di huffingtonpost.com yang diunggah, Kamis (5/11).

Menurut perempuan yang menyuarakan semangat progresitivitas di dunia kristen ini, yang dimaksud dengan spiritualitas sekularisme adalah kecenderungan untuk  hidup tanpa bertuhan namunlebih humanis dan sangat memperhatikan hal-hal mengenai keadilan dan etika. Dari sana, Ia melihat pula banyak kalangan sekular dan humanis juga menemukan keagungan dalam transendensi mistikal dari musik, puisi-puisi yang indah, atau filsafat.

“Keindahan yang diciptakan oleh manusia (musik, puisi, filsafat) menjadi semacam sumber, seperti halnya injil bagi umat kristen dan torah bagi yahudi, yang menjadi teks suci bagi kalangan sekular-humanis,” ujar Butler

“Dari sana kita bisa melihat semacam spiritualitas di masa depan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Butler menyatakan lahirnya spiritualitas semacam ini tidak perlu ditabrakan dengan spiritualitas yang berasal dari agama-agama klasik. Bahkan, menurutnya  baik dari spiritualitas sekular maupun tradisi agama-agama klasik perlu untuk saling bahu-membahu ke depan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

“Karena Tuhan tak perlu juga untuk dinamai…Saya pikir kita bisa saling membantu dalam “perjalanan” ini untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi kita bersama,” pungkasnya.

 [:]

Suasana upacara bendera memperingati 70 tahun Indonesia Merdeka di GKP Tanjung Barat

[:id]Pentingnya Merayakan Perbedaan[:]

[:id]

Suasana bedah buku di GKP Tanjung Barat

Suasana bedah buku di GKP Tanjung Barat

Jakarta, ICRP – Bagi sebagian orang, perbedaan adalah sebuah ancaman. Perbedaan suku, agama, ras, dan kebangsaan sering kali menjadi momok dalam menciptakan sebuah persatuan. Namun perbedaan akan menjadi indah jika perbedaan itu mampu dikelola. Bukankah kita tercipta karena sebuah perbedaan?

Perbedaan sudah selayaknya dirayakan,tidak lagi dihindari. Hal itulah yang dilakukan oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam gerakan Peace in Diversity (PID). Memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, para pemuda ini melaksanakan kegiatan bertajuk “Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka, Merayakan Perbedaan Merajut Perdamaian”. Acara ini dilaksanakan di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Tanjung Barat, Sabtu (22/8/2015).

Acara dimulai dengan upacara bendera merah putih. Sekitar 70 peserta mengikuti kegiatan upacara pengibaran bendera merah putih secara khidmat. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi dan bedah buku. Ada tiga buku yang dibahas dalam kegiatan ini, yakni: Dialog 100, Merayakan Perbedaan Merajut Perdamaian, dan Perjalanan Menjumpai Tuhan. Ketiga buku ini adalah hasil karya anak muda berbagai daerah yang menceritakan pengalaman mereka bertemu dengan kepercayaan yang berbeda.

Suasana upacara bendera memperingati 70 tahun Indonesia Merdeka di GKP Tanjung Barat

Suasana upacara bendera memperingati 70 tahun Indonesia Merdeka di GKP Tanjung Barat

Buku Dialog 100 adalah buku yang ditulis oleh pemuda-pemuda di Bandung, Jawa Barat yang telah mengikuti kegiatan toleransi dan perdamaian yang dilaksanakan oleh Komunitas Jakatarub. Pengrus Jakatarub, Wawan Gunawan yang hadir dalam kesempatan tersebut menuturkan bahwa perbedaan yang ada di negeri ini adalah sebuah keniscayaan, kenapa harus dipermasalahkan? Memang ada beberapa pihak yang mencoba membuat keruh suasana, namun sebagai generasi muda, hendaknya punya cara sendiri yang kreatif untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Salah satunya adalah melalui buku tersebut.

Sementara itu, buku Merayakan Perbedaan Merajut Perdamaian merupakan buku yang ditulis oleh peserta PID yang berada di Daerah Jakarta dan sekitarnya. Pengalaman peserta selama mengikuti kegiatan PID seperti kunjungan ke rumah ibadah, pelatihan menulis, dan live in di pesantren dibubukan dalam buku ini. Peserta PID ini berasal dari beragam latar belakang, menjadikan buku ini menarik untuk dibaca.

Fatma Utami Jauharoh, salah satu penulis menuturkan, selama mengikuti kegiatan PID dia mendapatkan perspektif baru bagaimana melihat orang yang beragama lain. Dia menemukan suasana damai, persaudaraan, dan keterbukaan ketika rumah-rumah ibadah menerima dengan lapang hati kedatangan mereka. Selain itu, keterbukaan antar peserta yang berbeda agama pun menjadi bagian menarik yang perlu diceritakan kepada orang lain melalui buku tersebut.

Buku yang ketiga, yakni Perjalanan Menjumpai Tuhan adalah buku yang ditulis oleh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro. Mahasiswa-mahasiswi ini mendapatkan materi perkuliahan agama yang diampu oleh dosen-dosen dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Namun, dalam perjalanan perkuliahan, mahasiswa diajak untuk berkunjung ke rumah-rumah ibadah dan berdialog langsung dengan para pemuka agama. Sehingga mereka mendapatkan pengalaman pribadi secara langsung bagaimana bertemu dan mendapatkan penjelasan terkait agama-agama. Respons mahasiswa sangat beragam. Namun sebagian besar menyatakan ketertarikan dan baru menyadari keindahan perbedaan agama. Oleh sebab itu, atas inisiatif dosen-dosen dari ICRP, refleksi mahasiswa terhadap perkuliahan agama ini dijadikan sebagai sebuah buku.

Gita Widya Laksimini S, salah satu dosen dari UPJ menuturkan kegiatan kunjungan ke rumah ibadah perlu ditingkatkan lagi. Kunjungan seperti itu, membuat kita semakin dekat dengan orang dari kepercayaan lain.

Suasana Dialog Refleksi 70 tahun Indonesia Merdeka, Merayakan perbedaan merajut perdamaian

Suasana Dialog Refleksi 70 tahun Indonesia Merdeka, Merayakan perbedaan merajut perdamaian

Setelah bedah buku selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan permainan perlombaan. Lomba ini diadakan untuk mempererat persaudaraan antara pemuda GKP dengan komunitas pemuda lintas iman. Ada berbagai lomba khas 17-an yang digelar seperti tarik tambang, balap karung, dll. Setelah perlombaan selesai, peserta diajak makan bersama dengan khas adat Sunda yang disebut Ngariung.

Kegiatan ini merupakan kerja sama antara pemuda GKP Tanjung Barat, PID, ICRP, Departemen Pemuda PGI, dan The Wahid Institute. Ke depan kegiatan seperti ini akan lebih sering dilakukan untuk memperkuat hubungan pemuda lintas agama dan memperkuat jaringan kerja sama.

 [:]

Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Keragaman Rumah Ibadah: Refleksi Kunjungan ke Berbagai Rumah Ibadah

komar tsuji1Oleh: Drs. Komar, M.Hum (Koordinator Program Pelatihan Yayasan Cahaya Guru)

“If someone were to ask me whether I believed in God,

or saw God, or had a particular relationship with God,
I would reply that I don’t separate God from my world in my thinking.

I feel that God is everywhere.
That’s why I never feel separated from God

or feel that I must seek God any more than a fish in the ocean feels it must seek water.
In a sense, God is the “ocean” in which we live.”

(Robert Fulghum)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

(QS Al Baqarah 115)

 GPIB Immanuel masjid Istiqlal

klentengpura 

 Gereja KetdralGPIB Tugu

Tuhan Saya hadir di Beragam Rumah Ibadah

Coba perhatikan foto-foto tersebut dengan mata hati kita masing-masing! Perasaan apa yang muncul ketika memadangi rumah ibadah beragam agama tersebut? Bagi saya, yang bergelora adalah perasaan takjub, karena kelima bangunan itu menampilkan keindahan yang mempesona walaupun dalam nuansa arsitektural yang berbeda. Kelimanya mencerminkan betapa kayanya kreatifitas, dan betapa tingginya peradaban kita. Ketika mulai melangkah perlahan ke dalam masing-masing bangunan, hanya ada satu perasaan yang mendominasi batin saya: rasa damai.

Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke beberapa rumah ibadah dalam suatu rangkaian Wisata Rumah Ibadah pada hari Sabtu-Minggu, 31 Januari -1 Pebruari 2015 yang diselenggarakan oleh YCG dan ICRP. Ketika melangkah memasuki Katedral, Gereja Immanuel, Pura, Vihara dan Kuil Sikh, saya menemukan suasana dan spirit yang sama seperti ketika memasuki Masjid dalam balutan konstruksi bangunan yang berbeda. Tuhan saya hadir di beragam rumah ibadah tersebut, dan ada di sekitar kita. Pengalaman batin ini menjadi bukti tak terbantahkan dari kebenaran ayat Al-Qur’an yang menjelaskan:  “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah 115).

Keragaman bentuk bangunan justru mencerminkan kekayaan budaya bangsa yang menghormati dan mengakomodir semangat berkreasi dan mencipta untuk mengaktualisasikan ruh spiritualitas dalam beragam nuansa arsitektural. Perbedaannya terletak pada dimensi eksoterik (lahiriah) ajaran agama-agama, sedangkan pada dimensi esoterik (batiniah) atau substansinya sama, bahwa setiap ajaran agama ingin mewujudkan masyarakat yang dinaungi welas asih, keadilan, kedamaian, saling menghormati, kesejahteraan dan nilai-nilai kemanusiaan universal lainnya. Pada keragaman ajaran agama dan perbedaan kepercayaan terhadap wujud transenden yang terimplementasi pada keragaman ibadah ritual, keragaman simbol-simbol dan arsitektural rumah ibadah, terkandung substansi yang sama yaitu nilai-nilai kemanusiaan. Bagi saya, tidak ada realitas objektif tentang Tuhan, karena Tuhan adalah simbolisasi potensi kemanusiaan kita yang tanpa batas. Tuhan adalah orientasi dan rujukan hidup kita. Cita-cita luhur yang ingin kita wujudkan bersama, melalui cara yang berbeda sesuai dengan konteks perkembangan sejarah dan budaya. Hal ini selaras dengan doktrin dalam Islam, di mana manusia merupakan khalifah Tuhan, yang punya tanggung jawab untuk mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan (asmaul husna) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dipaparkan dalam Al-Quran: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Al-Baqarah:30). Begitu pula  dengan doktrin Katolik, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut citra Tuhan (Imago Dei).

 

Tuhan: antara Konsepsi dan Realitas

Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki jejak sejarah yang panjang, karena gagasan itu selalu memiliki arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya pada berbagai periode waktu. Konsepsi tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada suatu generasi, bisa saja tidak memiliki arti lagi bagi generasi selanjutnya. Bahkan pemahaman para teolog tentang Tuhan walaupun pada periode yang sama, mungkin sangat berbeda dengan pemahaman para filsuf atau ilmuwan. Sehingga, tidak ada satu gagasan pun yang tidak berubah dalam kandungan kata Tuhan. Kata ini mencakup keseluruhan rentang makna, di mana sebagian di antaranya ada yang bertentangan atau bahkan saling meniadakan. Jika gagasan Tuhan tidak memiliki keluwesan seperti ini, niscaya ia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi salah satu gagasan besar umat manusia, karena ketika sebuah konsepsi tentang Tuhan tidak lagi mempunyai makna atau relevansi, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh sebuah teologi baru.

Setiap kita memiliki konsepsi dan imajinasi sendiri-sendiri tentang Tuhan. Setiap konsepsi dan imajinasi tersebut, tentu saja bukan Tuhan. Selama ribuan tahun kita bergumul dengan konsep-konsep dan imajinasi tentang Tuhan yang tidak merujuk pada realitas objektifnya. Tetapi, mungkin orang yang mengaku beriman akan keberatan dengan pernyataan tersebut, karena menurut mereka Tuhan telah mewahyukan diri-Nya pada kitab-kitab suci, baca dan hafalkan. Titik! Pertanyaannya adalah kitab suci yang mana? Injilkah, dengan atau tanpa Perjanjian Baru? Al-Qur’an? Kitab Veda? Avesta?  Mengapa bukan ketahayulan Realian? Dan masih ada beberapa kitab suci agama lain. Bagaimana caranya memutuskan akan mempercayai yang mana? Bukankah ayat-ayat tersebut juga harus kita tafsirkan? Menafsirkan tidak terlepas dari aktivitas mengonsepsi dan mengimajinasikan. Jika kita mau jujur, Tuhan-tuhan yang kita imani sebenarnya adalah Tuhan-tuhan ciptaan pikiran dan imajinasi kita sendiri. Bukan Tuhan yang sesungguhnya, yang berada di luar konsep kebahasaan dan keterbatasan pikiran serta imajinasi kita.

XenopanesDalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang penyair dan filsuf Yunani kono, Xenophanes menentang cara pandang orang Yunani pada waktu itu terhadap dewa-dewi. Ia memberikan kritik terutama kepada Herodotos dan Hesiodos yang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat Yunani. Menurut kedua penyair itu, dewa-dewi melakukan pelbagai perbuatan yang memalukan, seperti pencurian, zina, dan penipuan satu sama lain. Di sini, Xenophanes membantah antropomorfisme dewa-dewi, maksudnya penggambaran dewa-dewi dalam rupa manusia. Menurut Xenophanes, manusia selalu menaruh sifat-sifat manusia kepada dewa-dewi sesuai kehendak mereka. Misalnya saja, dewa-dewi dilahirkan sebab manusia juga dilahirkan, dan bahwa dewa-dewi memakai pakaian, suara, dan rupa seperti manusia. Xenophanes memberikan argumentasi sesuai bukti yang ia temukan:

“Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan menggambarkan tubuh dewa-dewi serupa dengan tubuh mereka.”.

“Orang Etiopia mempunyai dewa-dewi yang berkulit hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang-orang Thrake mengatakan bahwa dewa-dewi mereka bermata biru dan berambut merah.”.

Xenophanes dapat menyimpulkan bahwa antropomorfisme terhadap dewa-dewi tidaklah tepat sebab ia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan melihat pelbagai kepercayaan mereka. Karena itu, ia menjadi yakin bahwa semua itu bukanlah konsep dewa-dewi yang tepat. Ia menyatakan bahwa sebenarnya hanya ada “Satu yang meliputi Semua”.  Maksudnya di sini serupa dengan konsep “Tuhan” namun tidak sama dengan monoteisme sebab ia juga menyebutnya dalam bentuk jamak.

Menurut Xenophanes, “yang Satu meliputi Semua” ini tidak dilahirkan dan tidak memiliki akhir, artinya bersifat kekal. Hal ini berbeda dengan konsep dewa-dewi yang dilahirkan dan dapat mati. Ia tidak menyerupai makhluk duniawi mana pun, baik manusia ataupun binatang. Ia juga tidak memiliki organ seperti manusia, namun mampu melihat, berpikir, dan mendengar. Ia juga senantiasa menetap di tempat yang sama namun menguasai segala sesuatu dengan pikirannya saja.

Wisata yang Mencerdaskan dan Mencerahkan

Wisata rumah ibadah adalah sebuah terobosan cemerlang ketika masyarakat lebih gandrung pada sesuatu yang bersifat materil dan kemewahan dalam wujud wisata belanja atau wisata mall. Terlebih lagi, begitu terasa manfaatnya ketika negeri ini masih sering dilanda konflik mematikan antar umat agama. Dari kunjungan ke berbagai rumah ibadah dan dialog dengan para tokoh lintas agama tersebut, maka diharapkan jurang budaya dan jurang iman yang sebelumnya terbentang menganga, bisa terjembatani dengan baik, sehingga yang tumbuh bukan lagi rasa curiga,  saling menghina dan menyalahkan, tetapi rasa empati dan saling memahami perbedaan masing-masing.

Jika saya renungkan lebih dalam, ada kemiripan antara wisata rumah ibadah dengan wisata kuliner yang sekarang menjadi acara sangat populer di beberapa stasiun televisi. Kita bisa menikmati kelezatan rasa beragam kuliner dari berbagai etnis di Indonesia: karedok, tutug oncom atau gepuk dari tanah Pasundan, getuk, gudeg atau lumpia dari Jawa, mpek-mpek dari Palembang, rendang dan pange dari Minang, coto dari Makasar dan sebagainya. Jika kita amati lebih seksama, keragaman kuliner tersebut terutama terletak pada proses atau teknik pembuatan, rasa, tampilan hidangan dan peruntukannya. Tetapi secara substansi, ada kandungan  universal yang ada pada beragam jenis hidangan tersebut. Misalnya: karbohidrat selain ada pada nasi juga terdapat pada ubi, singkong, sagu, jagung, talas, atau gandum. Protein terkandung pada daging ayam, daging sapi, daging babi, ikan, udang, kepiting, dan seterusnya. Vitamin dan mineral terdapat pada beragam buah dan sayur: jeruk, manga, manggis, delima, markisa, wortel, brokoli, buncis, dan lain-lain. Jika kita mau jujur, maka sebenarnya yang kita butuhkan bukan beragam jenis kuliner tersebut, tetapi kandungan gizi yang ada di dalamnya. Kita bukan butuh nasi, tapi kita butuh karboidrat sebagai sumber energi yang selain ada pada nasi juga terdapat pada biji-bijian dan umbi-umbian yang lainnya. Kita bukan butuh daging atau ikan, tetapi kita butuh protein yang ada pada daging, ikan, udang dan sebagainya. Beragam kuliner tersebut adalah bungkus luar dari substansi utama yang ada di dalamnya.

Beragam agama, dengan segala perbedaan ritual, simbol dan variasi bentuk rumah ibadahnya, hanyalah menampilkan bungkus dari substansi yang lebih universal, yaitu nilai-nilai kemanusiaan  luhur yang ingin kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Malahan ingin kita implementasikan dalam dimensi global untuk kemaslahatan umat manusia. Bukankah itu yang menjadi tujuan ajaran agama-agama?

Semoga kegiatan Wisata Rumah Ibadah ini bisa mewujudkan saling pemahaman di antara berbagai pemeluk agama sehingga terjalin simpul-simpul persaudaraan yang disatukan oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai penutup, izinkanlah saya mengutip ungkapan yang indah berikut ini:

Aku mencari Tuhanku, tetapi Tuhan meninggalkan aku

Aku mencari jiwaku, tetapi aku tidak dapat menemukannya

Aku mencari saudaraku untuk melayaninya

dan aku menemukan ketiganya, Tuhan, jiwa dan saudaraku.

(Anonimous)

PID: Wadah Pemuda Lintas Agama, Pecinta Indonesia

Peace in Diversity (PID), sesuai maknanya, nama ini sengaja dipilih untuk mempertemukan anak-anak muda yang berbeda namun mempunyai semangat tinggi menjaga perdamaian. Yang menggagas kegiatan ini adalah Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), The Wahid Institute (WI), dan didukung oleh Mission 21.

Forum ini akan menjadi ajang bagi pemuda lintas agama untuk saling mengenal, berkomunikasi, serta berbagi informasi terkait aktifitas-aktifitas keberagamaan. Sabtu-Minggu (27-28/09/14) kemarin, sekitar 40-an peserta PID telah melaksanakan kegiatan kunjungan ke rumah ibadah di sekitaran Jakarta.

Beberapa rumah ibadah yang telah dikunjungi adalah Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, Vihara Mahavira, GPIB Tugu, dan Lithang TMII. Semua rumah ibadah tersebut menyambut baik kunjungan mahasiwa lintas agama ini. Para pengelola rumah ibadah pun dengan senang menjelaskan informasi terkait rumah ibadah, seperti sejarah, tata cara beribadah, simbol-simbol agama, dll.

Selain berkunjung ke rumah ibadah, kegiatan ini juga diisi dengan workshop menulis yang difasilitatori oleh Alamsyah M Dja’far (aktivis Wahid Institute), dan Ahmad Nurcholish (aktivis ICRP). Dalam workshop ini peserta mendapat bekal bagaimana membuat sebuah tulisan reflektif yang menarik.

Kegiatan lain dari PID ini adalah live in yang akan dilaksanakan di sebuah pesantren di Bekasi, Jawa Barat. Dalam live in tersebut peserta akan tinggal bersama selama dua hari untuk belajar bersama, berdiskusi, dan sharing pengalaman terkait kehidupan beragama di Indonesia. Live in akan dilaksanakan bulan 24-25 Oktober mendatang.

Beberapa peserta terlihat antusias mengikuti acara ini. Mereka menyatakan, selain mendapatkan teman baru, dalam kegiatan PID ini, mereka merasakan indahnya perbedaan. Perbedaan tidak harus menjadi halangan, demikian ungkap salah satu peserta.

“Kita boleh berbeda, namun tetap damai” demikian ungkap Fawwas, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra yang menjadi salah satu peserta dalam kegiatan PID.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nur Hidayat, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut pemuda yang akrab disapa Dayat ini menyatakan bersyukur bisa mengikuti kegiatan PID ini. Pasalnya kegiatan ini dapat memberikan perspektif positif terhadap kemajemukan yang telah menjadi fitrah bangsa Indonesia.

“Dari forum ini saya mengetahui indahnya perbedaan. Saya bisa mengetahui kegiatan sahabat-sahabat saya yang berbeda agama. Melihat ke dalam gereja, menelisik vihara, dan lain-lain” ungkapnya.

“Kegiatan ini bukan pendangkalan aqidah. Justru semakin menambah keyakinan saya. Tuhan sangat luar biasa, menciptakan makhluknya dengan sangat beragam dan indah” tegas Fatmau Utami Jauharoh, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ahmad Nurcholish, Tim Pengajar Religius Studies menyampaikan materi perkuliahan di Universitas Pembangunan Jaya Bintaro Tangerang Selatan

Belajar Mengenal “Yang Lain”

Oleh Ahmad Nurcholish

“Yang saya inginkan dari mata kuliah ini adalah tumbuhnya rasa toleransi dan menghargai antar-umat beragama yang berbeda tanpa menggoyahkan keyakinan masing-masing.”

Keinginan tersebut ditorehkan Ghaliza Amola, mahasiswi Akuntansi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) saat diminta  menuliskan harapan dan kekhawatiran ketika mengikuti mata kuliah Studi Agama pada Selasa (2/9) lalu. Ini merupakan program hasil kerjasama UPJ dengan Indonesian Conference On Religion and Peace (ICRP). Tahun 2014 ini merupakan tahun ketiga program Religious Studies dihelat di kampus yang bertengger di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.

Sejatinya, keinginan Amola bukanlah hal muluk dalam konteks keindonesiaan yang mejemuk – yang secara kultural – masyarakatnya memiliki basis nilai untuk hidup rukun dan damai dalam perbedaan selama ratusan tahun sebelumnya. Namun, tidak dapat kita pungkiri pula bahwa pasca Indonesia merdeka justru diwarnai oleh berbagai peristiwa yang merusak tatanan hidup rukun dan damai tersebut. Konflik dan kekerasan antar kelompok masyarakat yang berbeda etnis, suku, ras, dan agama, bahkan aliran keagamaan dalam satu agama telah terjadi ratusan kali di negeri ini.

Tentu kita tidak ingin membiarkan berbagai konflik terus mewarnai kehidupan kita di masa mendatang. Perlu upaya serius bagaimana kebhinekaan yang merupakan anugerah dari Yang Mahapencipta ini tidak lagi menjadi sumber konflik dan pertikaian. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan dan hidup meranba di pengungsian seperti warga Syiah dan Ahmadiyah di sejumlah tempat di Indonesia. Sudah terlalu sering kita mendengar bagaimana sulitnya umat Kristiani mendirikan gereja sebagai tempat ibadah mereka. Bahkan yang sudah berdiri pun kerap mendapatkan indimitasi, perusakan, dan tuntutan untuk segera ditutup.

Pertanyaan pun senantiasa mengiang di telinga kita. Apakah memang agama mengajarkan hal demikian, di mana umat beragama lain tak berhak hidup di negeri ini? Lalu di mana ajaran agama yang toleran, harus menghormati keberadaan umat agama lain, harus menghargai mereka sebagaimana kita menghargai diri sendiri dan keluarga yang selalu kita dengungkan? Apakah memang hanya lips service semata? Atau jangan-jangan kitanya yang tak paham secara mendalam ajaran-ajaran luhur tersebut? Lantas bagaimana pelajaran agama yang diajarkan sejak SD hingga SMA oleh guru-guru agama mereka. Apakah di dalamnya tidak mengajarkan toleransi dan menghargai terhadap keberadaan umat agama lain, atau justru hanya mendoktrinasi murid-muridnya untuk tidak mengakui kebenaran agama-agama di luar yang dianutnya?

Sejumlah pengamat, pendidik dan akademisi memang menjawab satu hal penting: bahwa pendidikan agama di sekolah-sekolah kita, bahkan hingga perguruan tinggi tidak banyak mengajarkan tentang bagaimana hidup bersama, berdampingan dengan umat agama lain yang berbeda. Peserta didik justru terlalu banyak didoktrin untuk hanya menyakini agamanya sendiri dan dalam waktu bersamaan menilai keliru, bahkan sesat ajaran agama yang dianut oleh orang lain.

Karenanya itu wajar jika ketika anak didik kita terjun langsung di tengah masyarakat, meraka gagap dalam memposisikan dirinya di tengah keberadaan orang lain yang berbeda. Mereka cenderung tumbuh menjadi manusia beragama yang eksklusif: yang hanya menilai ajaran agamanya sendiri yang paling benar, sementara yang lain salah, sesat dan tidak akan diterima oleh Tuhan. Keyakinan seperti inilah yang kontraproduktif bagi upaya mewujudkan hidup rukun, damai, nirkekerasan dalam bingkai kemajemukan. Suasana kehidupan umat beragama yang kelihatannya aman, tentram dan nyaman, nyatanya sewaktu-waktu dapat meletup dan berubah menjadi konflik yang mengerikan. Sebagian dari kita mudah dihasut. Sebagian yang lain gampang digoda untuk berperan sebagai pembela agama, pembela Tuhan, namun sejatinya dalam praktiknya telah menginjak-injak martabat ketuhanan dan merendahkan ajaran agama yang mengedepankan nilai-nilai cinta kasih dan perdamaian.

 

Anick HT, salah satu tim pengajar Religius Studies

Anick HT, salah satu tim pengajar Religius Studies

Mengapa Religious Studies?

Beratolak dari hal-hal tersebut maka program Religious Studies didesain dan dilaksanakan di sejumlah kampus, termasuk di UPJ yang hingga 2014 telah berlangsung selama tiga tahun. Format perkuliahan studi agama ini berbeda dengan yang diterapkan secara konvensional di kampus-kampus di Indonesia secara umum. Di mana mahasiswa biasanya dikumpulkan dalam satu kelas dengan mahasiswa yang seagama dan diajar oleh dosen yang seagama pula. Model ini nyaris tak memberi ruang bagi mahasiswa untuk “melihat” keberadaan (umat) agama lain. Berbeda dengan yang dihelat ICRP bersama UPJ ini, mata kuliah studi agama didesain untuk dapat dikuti oleh semua mahasiswa dari berbagai agama.

Dengan model seperti itu mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal “yang lain” yang berbeda dengan mereka, selain memperdalam ajaran agamanya masing-masing. Materi kuliah didesain bertujuan memberikan pemahaman kepada para mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) mengenai konsep, pengalaman perjumpaan, dialog dan ekspresi keagamaan. Sesi-sesi kuliah didesain searah tujuan: menjadikan mahasiswa memahami dan mengaktualkan nilai-nilai (values) agama dalam kehidupan nyata dan dinamis.

Dalam pelaksanaannya sesi awal perkuliahan dimulai dengan: orientasi perkuliahan, introduksi pengertian, unsur dan hakikat agama. Sesi selanjutnya ada penulisan pemahaman dan padangan keagaman, workshop penulisan reflektif, kunjugan (eskursi) ke rumah-rumah ibadah dan menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk reflektif. Untuk menguji dan memperdalam pemahaman keagamaan, akan diadakan diskusi, kelompok kerja, dan presentasi. Rangkaian materi tersebut diharapkan mampu menghantarkan mahasiswa untuk berfikir terbuka, memiliki banyak persepektif mengenai agama(-agama) dan keyakinan di sekitarnya, juga membentuk karakter diri yang selalu berfikir moderat, bertindak terbuka, toleran, dan senantiasa mengedepankan sikap toleransi, menghormati dan menghargai keberadaan keyakinan orang lain. Dari situlah harapan ujungnya adalah mereka siap untuk terjun di tengah masyarakat dan menjadi contoh sekaligus inisiator pengerak perdamaian di tempat masing-masing.

Perkuliahan (saya lebih senang menyebutnya dengan pembelajaran) ini juga didesain untuk menyikapi realitas religio-sosiologis mahasiswa yang berlatarbelakang agama yang berbeda, juga untuk mengenalkan dan menyemaikan toleransi, semangat kebersamaan dalam membangun rasa damai, sejuk dan harmonis, perkuliahan ini menggunakan pendekatan dan perspektif pluralisme dan perennialisme. Pluralisme mengandaikan kita, kaum beriman mampu bersikap positif menghadapi fakta kebhinekaan, dan perbedaan apapun. Bahkan mampu bekerjasama dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sementara perenialisme dihadirkan agar para mahasiswa memiliki pemahaman dan keinsyafan akan adanya titik-temu ajaran, esensi-esensi agama, kearifan, dan spiritualisme agama-agama. Akhirnya, diharapkan tumbuh subur dalam jiwa mereka kearifan bahwa agama apapun, merupakan jalan ke arah kebaikan, keharmonisan, kedamaian dalam cahaya Tuhan.

Model perkuliahan ini diterapkan agar para mahasiswa memahami nilai dan pesan-pesan esensial agama serta mengalami langsung perjumpaan, dialog dan memperoleh pesan dan kesan-kesan damai, harmonis tentang agama-agama. Karena realita sosio-religi mahasiswa, dan merupakan fakta bahwa kehidupan keagamaan dan agama-agama ditakdirkan plural, maka perspektif perkuliahan agama pun berbasis multipersepektif: experiential, pluralism and perennial. Artinya, mahasiswa akan dikenalkan, diperjumpakan dengan keragaman agama-agama melalui ekskursi rumah-rumah ibadah dan berdialog langsung dengan rohaniwan dari berbagai agama tersebut.

Harapannya (kelak) dalam diri mahasiswa tumbuh kesadaran dan semangat keberagamaan yang toleran terhadap perbedaan, memiliki spirit kebhinekaan (pluralisme), menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tercerahkan yang siap membangun dialog lintas agama demi kerja-kerja kemanusiaan dan peradaban yang damai, aman dan harmonis. Sebuah generasi yang amat dibutuhkan bagi Indonesia kita tercinta ini. Itu karena kita tidak rela jika Indonesia dengan segala kekayaan dan kearifan nilai-nilai luhur ini jatuh ke tangan-tangan jahat yang hendak mendesain Indonesia untuk menjadi satu warna. Saya termasuk orang yang tidak rela.

 

Rektor Universitas Pembangunan Jaya, Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Saat melakukan sambutan pada pembukaan Religius Studies.

Rektor Universitas Pembangunan Jaya, Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Saat melakukan sambutan pada pembukaan Religius Studies.

Persepektif Pluralisme dan Perennialisme

Dalam kolomnya di Republika yang dimuat pada 10 Agustus 1999, Cak Nur (Nurcholish Madjid) menulis demikian:

“Pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar sebagai “kebaikan negative” (negativie good), hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai  “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Bahkan pluralism adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. Dalam kitab suci justru disebutkan bahwa Allah menciptakan mekanisme pengawasan dan pengimbangan antara sesame manusia guna memelihara keutuhan bumi, dan merupakan salah satu wujud kemurahan Tuhan yang melimpah kepada manusia. “Seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan segolongan yang lain, maka pastilah bumi hancur; namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh alam.” (Al-Qur’an, s. al-Baqarah/2: 251).”

Kutipan panjang ini juga dapat kita baca dalam buku Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman karya Budhy Munawar Rachman (Jakarta: Paramadina, 2001, 31). Dalam buknya itu, Budhy menandaskan bahwa ada masalah besar dalam kehidupan beragama yang ditandai oleh kenyataan pluralism dewasa ini. Dan salah satu masalah besar dari paham pluralisme – yang telah menyulut perdebatan abadi sepanjang masa menyangkut masalah keselamatan, kata Budhy,  adalah bagaimana suatu teologi dari suatu agama mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Dalam bahasa John Lyden yang dikutipnya, “Wahat should one think about religions other than one’s own?” (apa yang seseorang pikirkan mengenai agama lain, dibandingkan agama sendiri?). sehingga berkaitan dengan semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralism dan toleransi agama-agama, berkembanglah suatu paham “teologia religionum” (teologi agama-agama) yang menekankan kian pentingnya untuk dapat “berteologi dalam konteks agama-agama” dewasa ini, untuk suatu tujuan:

Pertama, to Clarify the theological reasons why Christian [di sini bisa diganti dengan Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu, atau agama lainnya] should enter into religion dialogue, prepared to give account of the hope that is in them and equally prepared to receive through their partners in the dialogue “new depths of understanding of God’s saving ways.

Kedua, to substantiate the thesis that those in the community of faith responsible for teological leadership ought to be involved in interreligious dialogue and ought to work, in close cooperation with all who have been enriched by the interfaith experience, toward the gradual formation of “a dialogical theology” relevant to the particular multifaith situation in their society.

Dua tujuan yang dapat kita baca dalam “The Theology of Religion: A Review of Developments, Trends, and Issues” dalam Christian-Muslim Dialogue: Theological & Practical Issues (Geneva: Dept. for Theology & Studies The Lutheran World Federation, 1998), 82) karya Willem A. Bijlefeld, sebagai dikutip Budhy (Islam Pluralis, 32) ini, menandaskan bahwa berteologi dalam konteks agama-agama mempunyai tujuan untuk memasuki dialog antaragama, dan dengan demikian mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan penyelamatan. Pengalaman ini penting untuk memperkaya pengalaman antariman, sebagai pintu masuk ke dalam dialog teologis yang kini dikembangkan di UPJ ini.

Sementara itu persepektif perennialisme, sebagaimana dikemukakan oleh Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis dalam Agama Masa depan Persepektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995),  digunakan sebagai alat untuk melihat keunikan, perbedaan, dan kesamaan dalam semua agama yang ada di sekitar kita. Perennial dari sudut kebahasaan berasal dari bahasa Latin, perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris, berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi. Istilah perennial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama di mana agenda yang dibincangkan adalah, pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Mahabenar adalah satu, sehingga semua agama yang muncul dari Yang Satu pada prinsipnya sama karena dating dari sumber yang sama. Kedua, filsafat perennial hendak membahas fenomena pluralism agama secara kritis dan kontemplatif. Meskipun Agama (Religion) – dengan A dan R besar – yang benar hanya satu, tetapi karena ia diturunkan pada manusia dalam spectrum historis dan sosiologis, maka – bagaikan cahaya matahari yang tampil dengan beragam warna – “Religion” dalam konteks historis selalu hadir dalam formatnya yang pluralistic (religions atau agama-agama – dengan r dan a kecil, juga sekaligus menunjukkan plural). Dalam konteks ini, maka setiap agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga memiliki juga memiliki kekhasan sehingga berbeda dari yang lain. (h. 1)

Ketiga, filsafat perennial berusaha menulusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui symbol-simbol, ritus serta pengalaman keberagamaan. Dengan begitu secara metodologis filsafat perennial berhutang pada apa yang disebut sebagai transcendental psycology. (h. 2). Karena itu dalam pembelajaran ini mahasiswa tidak hanya belajar dan beriteraksi di ruang kelas yang serba terbatas, tetapi juga melakukan ekskursi dengan cara mengunjungi rumah-rumah ibadah yang berbeda itu untuk mengetahi lebih dekat keunikan dan nilai-nilai “sacral” di dalamnya.

 

Direktur eksekutif ICRP, Mohammad Monib, memberikan referensi bacaan untuk mahasiwa terkait perkuliahan Religius Studies di Universitas Pembangunan jaya.

Direktur eksekutif ICRP, Mohammad Monib, memberikan referensi bacaan untuk mahasiwa terkait perkuliahan Religius Studies di Universitas Pembangunan jaya.

Mengajak Memahami Apa Itu Agama?

Dalam kuliah perdana yang berlangsung awal Sepetmber (2/9) lalu saya memberikan pemahaman mendasar tentang “Agama dan Problematika di Sekitarnya.” Di tengah 170-an mahasiswa yang terbagi dalam dua kelas, pagi dan siang itu saya mengajak kembali mereview ingatan para mahasiswa terhadap pengertian apa itu agama dan permasalahan yang kerap mengelilinginya.

Saya memulai dengan bertanya kepada sejumlah mahasiswa, dengan melontarkan pertanyaan, “Apa itu agama?” Jawaban sejumlah mahasiswa itu berbeda-beda. Ada yang menjawab, “keyakinan”, ada juga yang menjawab, “kepercayaan diri manusia”, ada pula yang menjelaskan dengan agak detil, “ajaran yang berasal dari Sang Khalik untuk umat manusia.” Saya sudah menduganya bahwa kita akan mendapatkan jawaban yang beragam. Bahkan ketika kita tanyakan kepada sepuluh orang apa itu agama. Kesepuluh orang itu mungkin akan menjawab berbeda-beda pula. Tergantung pengalaman dan pemahaman masing-masing. Sebagian mungkin saja menjawab secara hati-hati. Bagaimanapun agama juga menyangkut sesuatu yang suci dan pengalaman batin manusia. Belum lagi kalau dianggap memaknai dengan pengertian yang tak umum dan tak biasa. Salah-salah bisa dituduh sesat.

Terus terang tak mudah merumuskan pengertian agama. Usaha memaknai agama, kata Profesor emeritus University of Lausanne, Switzerland, Jacques Waardenburg bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi cukup nyali. Selain harus berhati-hatri dalam menyampaikannya.

Ada banyak ragam pengertian agama seperti beragamnya jenis-jenis agama yang tumbuh di dunia. Di seantero dunia, menurut  World Christian Encyclopedia,  terdapat 19 agama besar dunia yang menjadi induk dari 279 kelompok-kelompok besar keagamaan, termasuk kelompok-kelompok kecil. Di Kristen misalnya diperkiraan ada 34 ribu kelompok yang diidentifikasi. (“Religions of the world,” http://www.religioustolerance.org/worldrel.htm ). Masing-masing mengklaim kebenarannya.

Kesulitan menyeragamkan pengertian agama juga terjadi di dunia akademis. Ada ratusan definisi. Tapi, untuk memudahkan, pengertian agama yang saya sampaikan dalam pembelajaran ini  bisa dilihat dalam empat kelompok pendekatan.

Pertama, pendekatan antropologi yang melihat kebudayaan masyarakat tertentu. Kelompok ini memandang aktivitas dan ekspresi keagamaan dipandang sebagai bentuk-bentuk dorongan fisiko-kultural manusia. Misalnya pandangan antropolog Inggris (1832 –1917), Edward Burnett Tylor. Agama menurutnya adalah “kepercayaan terhadap wujud spiritual” atau Allan Manzies yang melihatnya sebagai “penyembahan terhadap kekuatan yang lebih tinggi karena adanya rasa membutuhkan”.

Kedua, pendekatan psikologi, ilmu mengenai kejiwaan manusia, yang berusaha menutupi kelemahan pendekatan pertama. Tak seperti yang pertama. Agama dianggap bukan sekedar dorongan rasa takut dan rasa kagum, melainkan lebih sublim dari itu. Agama menyangkut hubungan batin antara seorang individu dengan kekuataan di luar dirinya. Agama kata filosof dan ahli matematik dari Inggris Alfred North Whitehead (1861-1947) “apa yang dilakukan orang dalam kesendirianya.” William James, filosof dan psikolog asal Amerika (1842-1910) mengartikan Agama adalah “perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesendirian mereka sejauh hal itu membawanya ke dalam posisi yang berhubungan dengan apapun yang dianggap sebagai sakral”.

Ketiga, pendekatan sosiologi. Sosiologi ilmu yang mengkaji struktur, institusi dan norma dalam sebuah masyarakat. Gampangnya, sosiologi itu memandang masyarakat mirip tubuh. Organ satu dengan yang lainnya terhubung dan membentuk satu sistem. Jika yang satu tak fungsi bisa berakibat pada yang lain.  Dalam pendekatan ini, agama dipandang sebagai sebuah sistem yang terekspresikan dalan kehidupan kolektif masyarakat manusia.

Pandangan Clifford Geertz dalam Religion as a Cultural System masuk dalam kategori ini. Antropolog Amerika yang lahir pada 23 Agustus 1926 ini merumuskan agama sebagai sebuah sistem simbol yang berperan membangun perasaan dan motivasi yang penuh kekuatan, merembes dan tanpa akhir dalam diri manusia dengan menakrifkan konsep tentang tatanan umum eksistensi dan membebat konsep-konsepsi-konsep ini dengan suatu aura faktualitas sehingga perasaan dan motivasi tampak realistis.

Keempat, pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini berusaha menemukan intisari atau hakikat dari agama dan pengalaman keagamaan. Mereka melihat di balik berbagai ekspresi pemikiran, tindakan, dan interaksi sosial. Keberagamaan manusia memiliki nuansa batin yang lebih sekedar persoalan psikologi. Ia sebuah perjumpaan dengan sesuatu yang melebihi dan mengatasi kefanaan dunia, yang suci, dan agung. Pengalaman seseorang atau sekelompok orang bisa berbeda dengan lainnya dan karena itu memahami agama secara berbeda.

Kelima pendekatan teologi. Kebanyakan pandangan ini berkembang dalam perspektif Timur alias wilayah-wilayah di Asia. Agama di sini merupakan hal prerogatif tuhan sendiri. Realitas sejati agama adalah sebagaimana yang dikatakan ajaran agama masing-masing. Agama dilihat dari sisi teologis atau perspektif ketuhanan. Karena itu berbeda-beda antarsatu agama dengan lainya.

Begitulah. Makin banyak pengertian mungkin membuat kita makin bingung. Tapi, baiklah dari keseluruhan pengertian ini, kita perlu mengetahui “kriteria” dan “unsur-unsur” yang biasanya ada dalam agama.

Seperti saat dalam hutan belantara, dari jarak dekat kita bisa melihat aneka pohon, dari kecil hingga yang raksasa. Jenisnya memang beragam. Tak sama. Masing-masing punya ciri dan kekhasan sendiri-sendiri. Tapi coba lihat dari ribuan kaki di atasnya, dari kaca jendela pesawat, hutan belantara itu seperti seragam, hijau, dan rata. Kita bisa mencari criteria-kriteria umum mengenai apa yang disebut hutan.

Namun begitu dalam agama-agama besar, menurut para ahli, ada sejumlah kriteria yang umum dijumpai.

Pertama, keyakinan akan Tuhan atau “Yang Tertinggi. Untuk menyebutnya, setiap agama menamainya beragam. Orang Islam menyebut Allah, yang Hindu menyebut Sang Hyang Widhi. Orang Jawa juga biasa menyebut Allah dengan Gusti Pangeran. Mereka berbahasa Arab menyebut Tuhan dengan Allah, termasuk mereka yang nonmuslim. Dalam Asmaul Husna, nama-nama terbaik Allah, Allah punya 99 nama. Orang  Tapi penduduk Arab yang Kristen juga menyebut Allah. Yang Berbahasa Prancis menyeut Dieu atau Gott untuk yang berbahasa Jerman.Dalam bahasa Ibrani, arti untuk merujuk kata Allah disebut Elohim.

Kedua, sebuah pandangan menyeluruh mengenai dunia dan tujuan-tujuan manusia. Dalam pandangan agama-agama besar, manusia adalah makhluk mulia yang memiliki posisi khusus di antara makhluk lainnya. Islam melihat manusia sebagai makhluk sempurna (ahsan at-taqwim) seperti termaktub dalam Q.S At-Tin: 4. Kata makhluk­ berasal dari akar kata yang sama dengan akhlaq, perilaku baik –bentuk plural dari khuluq. Dalam hadis populer yang diriwayatkan Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Aku tidak diutus ke muka bumi kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”. Ini menunjukan tujuan penciptaan manusia menurut Islam tak lain membangun manusia yang berperilaku baik. (KH. Hussein Muhammad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dam Gender.Yogyakarta: LKIS, 2001: 18).

Ketiga, kepercayaan mengenai kehidupan setelah mati. Dalam Islam, kehidupan setelah mati dikenal dengan alam barzakh alias alam kubur. Manusia akan diberi ganjaran sesuai amal ibadahnya selama di dunia. Yang bersalah dan berdosa masuk dalam neraka, yang berbuat baik ke sorga.

Keempat, komunikasi dengan “Tuhan” melalui ibadah dan doa. Dalam Islam salah satu ibadah wajib shalat waktu sebagai cara berkomunikasi dengan Allah, Ini juga bentuk ketundukan manusia pada Allah. Dalam Kristen dikenal dengan Kebaktian. Di Hindu dikenal dengan sembahyang, yang juga dipakai umat Islam. Umat Hindu bersembahyang di hari-hari suci yang dilakukan di pura keluarga atau lingkugan.

Kelima, perspektif tertentu mengenai kewajiban moral yang berasal dari kode moral atau dari konsepsi mengenai sifat Allah. Keenam, praktik-praktik yang melibatkan pertobatan dan pengampunan dosa. Ketujuh,  perasaan “keagaaman” mengenai kekaguman, rasa bersalah dan penyembahan. Kedelapan, penggunaan teks-teks suci. Kesembilan, organisasi untuk memfasilitasi aspek korporasi dari praktik-praktik agama dan untuk mempromosikan dan melanggengkan praktik-pratik dan kepercayaan tertentu.

Definisi ini memang berbeda dengan ciri-ciri yang dibakukan pemerintah Indonesia. Agama itu harus memenuhi unsur kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa, nabi, kitab suci, umat dan suatu sistem hukum bagi penganutnya. Ini yang akan membedakan dengan apa yang disebut “aliran kepercayaan”.

Penetapan kriteria itu tentu tak datang ujug-ujug. Ada konteks yang melatarinya. Ia lahir dari pergulatan politik dan berkembangnya kelompok keagamaan yang disebut “aliran kepercayaan” tadi di era 50-an. Sebagian orang khawatir dengan perkembangan kelompok tersebut, lantas minta pemerintah melarang mereka. Ini yang menyebabkan aliran kepercayaan dipandang bukan agama.

Padahal dalam praktiknya kita sering juga menyebut mereka sebagai agama lokal. Berarti agama juga.Yang paling penting dari perdebatan ini sebetulnya, agama dan bukan agama, adalah wewenang para pemeluknya, bukan negara.Tugas negara adalah menjamin agar mereka mendapat hak sebagai warga negara. Memastikan pula agar setiap orang tidak mendapatkan kekerasan dan perlakuan diskriminasi.

 

Takut Iman Goyah dan Pindah Agama

Sebagian besar mahasiswa menyambut baik model studi agama yang berbeda dengan studi agama yang dilaksanakan di sebagian kampus pada umumnya. Dengan metode ini kita berkesempatan untuk bisa mengenal secara dekat  keunikan, ajaran, tradisi, dan rumah ibadah di masing-masing agama. Mereka berharap dengan begitu akan semakin tumbuh rasa memahami sehingga tumbuh pula rasa toleransi, menghargai keberadaan umat agama lain yang berbeda dengan kita.

Namun demikian, ada pula yang khawatir studi ini akan membuat mereka goyang keimannya. “Saya takut iman saya goyang,” demikian disampaikan Andaru Bayu Dwi Pratama. Saya menilai kekhawatiran tersebut wajar dan alamiah. Bagaimanapun bagi mereka yang tidak terbiasa berinteraksi secara aktif dengan ajaran atau nilai-nilai agama orang lain yang berbeda, sementara mungkin pemahamannya sendiri terhadap keyakinan yang dianutnya, kekhawatiran itu sangatlah wajar. “Alih-alih studi ini dapat memperdalam dan meneguhkan iman, justru sebaliknya, menipiskan, bahkan menggoyahkan iman yang tertanam sebelumnya,” begitu mungkin yang berkecamuk dalam sebagian hati mahasiswa.

Mahasiswa lain lebih selangkah lagi. Ia bahkan takut ada keinginan untuk pindah agama. “Saya takut  ada keinginan untuk pindah ke agama lain,” ungkap Ridhoanta Lubis dalam lembar “harapan dan kekhawatiran” yang diminta oleh Tim Pengajar ICRP. Meski tak “separah” Lubis, Jenti justru mengkhawatirkan adanya perselisihan di antara para mahasiswa yang berbeda agama itu. Lebih lanjut ia mengatakan, “imannya tergoyah, saling menjatuhkan agama.” Namun dia tetap berkeinginan bahwa melalui studi ini para mahasiswa dapat saling menghargai antaragama. Dan ini menjadi fondasi utama kita semua.

Saya melihat harapan dan kekhawatiran tersebut sebagai dinamika awal yang justru menjadi sebuah kebaikan lebih lanjut. Yang memiliki harapan tentu mereka akan berusaha dengan serius untuk mengikuti rangkaian perkuliahan studi agama ini. Mereka serius menggali dan memahami tahapan demi tahapan, proses demi proses sehingga menraih apa yang mereka hendak capai.

Yang memiliki kekhawatiran juga menjadi kebaikan baginya. Dengan rasa itu mungkin ia akan lebih berhati-hati, analitis dan kritis setiap apa yang  disampaikan oleh  para pengajar. Meraka tidak sekedar melihat dan mendengar, tapi juga menelaah kembali untuk kemudian merangkainya dalam sebuah kesimpulan setelah melaui rentang pembelajaran. Saya pun pernah mengalami hal-hal semacam ini ketika awal-awal tinggal di Ibu Kota dan beraktivitas di sebuah lembaga studi Islam yang bercorak moderat, bahkan cenderung liberal.

Perjalan masih panjang. Harapan dan kekhawatiran tersebut pada akhirnya akan terjawab. Mungkin tidak semuanya. Hanya sebagian saja barangkali. Namun, fase pembelajaran melalui studi agama berpersepektif pluralism-perennialisme ini akan menjadi pengalaman berharga bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Tak terkecuali tim pengajar, fasilitator dan co-fasilitator, baik dari ICRP maupun yang dari UPJ. Semoga pengalaman itu sesuatu yang bernilai, berharga bagi kedirian setiap kita dan bagi kemaslahatan kita bersama. [ ]

Ahmad Nurcholish, pengampu Religious Studies @UPJ, Manajer Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

 

 

Message of Peace from the EastPesan Damai dari Timur

oleh: Wida Semito

‎“Sudah terlalu banyak sakit dalam hidup kalian karena perang…bom, senjata,  air mata ‎”. ‎ [Cahaya Dari Timur]

~5 tahun konflik. Ribuan korban. Sebuah tim sepakbola menyatukan mereka~

Menyimak adegan demi adegan yang terangkai dalam layar besar di hadapan saya pada Senin (23/6) sore lalu tentang sebuah  kisah perlawanan tanpa kekerasan seorang Sani Tawainella mengingatkan saya pada kisah -kisah perlawanan serupa dari daerah konflik di seluruh Indonesia yang pecah tak lama setelah tragedi Mei 1998 di Jakarta 16  tahun yang lalu.

Konflik yang pecah di Ambon, Maluku  sejak tahun 1999 memakan korban ribuan jiwa terutama dari anak-anak telah menginspirasi Sani Tawainella dari Tulehu sebuah desa berjarak  25 kilometer  dari kota Ambon untuk melakukan usaha perdamaian  melalui medium bola.

Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku ini diangkat dari kisah nyata Sani Tawainella mantan anggota Tim Nasional U-15 di Piala Pelajar Asia tahun 1996 yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Setelah gagal menjadi pemain profesional, Sani kembali ke kampung halamannya di Tulehu dan bekerja sebagai tukang ojeg.

Konflik SARA [Suku, Agama, Ras dan Antar golongan] di Ambon mulai merembet ke Tulehu dan tak sedikit merenggut korban terutama dari anak-anak. Berangkat dari keprihatinan ini Sani tergerak untuk menyelamatkan anak-anak dari konflik dan berbekal pengalamannya sebagai pemain bola profesional, maka setiap sore hari Sani mengajak anak-anak berlatih bola agar perhatian mereka akan perang  [agama: Kristen vs Islam] antar kampung bisa dialihkan.

Usaha mulia Sani tak selalu mulus dan berbanding lurus dengan realita dimana di satu sisi sebagai kepala keluarga dia harus menghidupi anak istrinya dan konflik keluarga pun tak bisa dihindari mana kala Haspa istri Sani yang diperankan oleh Shafira Umm mengeluh karena penghasilan suaminya berkurang semenjak Sani melatih bola anak-anak.

Lima tahun sudah semenjak Sani  melatih bola anak-anak dan kondisi Ambon pasca konflik sudah mulai kondusif, Sani harus mengalami cobaan lain yaitu pecah kongsi antara Sani dengan Rafi sahabatnya yang sejak awal bersama-sama melatih anak-anak bermain bola. Rafi mengambil alih anak-anak dan secara sepihak mendirikan SSB (Sekolah Sepak Bola) Tulehu Putra.  Tapi ini kemudian membuka jalan lain bagi Sani untuk melakukan usaha perdamaian, dia mendapatkan tawaran untuk melatih di SMK Passo dimana mayoritas penduduk Passo adalah beragama Kristen dan dari Passo ini pulalah Sani berhasil melakukan usaha rekonsiliasi,  dia berhasil menyatukan pemain Islam dan Kristen ke dalam satu timnya dan atas usaha ini Sani Tawainella di tunjuk menjadi pelatih kepala dari Tim Maluku untuk bertanding di kompetisi nasional U-15 di Jakarta dan berhasil membawa  Tim Maluku menjadi juara.

Meski durasi dari film ini cukup panjang, 2.5 jam, film ini cukup berhasil menghantarkan pesan kemanusiaan. Film ini tak hanya bercerita tentang sepak bola, sportifitas, disiplin dan Maluku; tentang mental orang Maluku yang tak mudah di kalahkan, film ini juga membawa pesan mendalam  tentang persatuan; tentang menjadi sebenar Indonesia dan bagaimana orang biasa seperti Sani Tawainella pun bisa melakukan usaha-usaha perdamaian yang hingga detik ini masyarakat Maluku masih mengupayakannya. Dan usaha perdamaian ini bukan hanya tugas masyarakat Maluku semata tapi juga tugas kita sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia, karena Indonesia bukan hanya Jawa atau Jakarta saja, Indonesia adalah dari Sabang – Merauku, dari Mianggas sampai Pulau Rote.

Indonesia mempunyai sejarah kelam yang berdarah-darah di masa lalu, ribuan jiwa tanpa dosa harus menjadi korban dari konflik SARA berkepanjangan,  dendam dan kebencian bukan suatu hal yang membanggakan untuk di wariskan, tetapi cinta dan damai lah yang harus kita wariskan. Mengutip kalimat Abdul Baha: “Jika timbul pikiran berperang , lawanlah dengan pikiran perdamaian lebih kuat, Jika timbul pikiran kebencian, lawanlah dengan pikiran cinta yang lebih kuat”.

Dan Sani Tawainella telah berhasil melawan tanpa kekerasan; dia melawan dengan cinta. Mengubah pikiran berperang anak-anak Tulehu menjadi pikiran perdamaian, mengubah benci menjadi cinta.  Sani telah menjadi terang , menjadi jawaban dan tidak hanya duduk menunggu, berharap kedamaian tersebut turun dari langit, tapi dia bangkit dan menciptakan kedamaian tersebut melalui sepak bola. Seperti terekam dalam dialog antara Sani dan Bapak Sufyan [diperankan oleh Glenn Fredly]: “Kasi satu ingatan yang manis, setelah semua yang pahit, Sani”.

Lewat Film Cahaya Dari Timur; Beta Maluku, Angga Sasongko sang sutradara berhasil menyampaikan pesan Sani Tawainella;  pesan damai dari Timur Indonesia untuk kita semua.

Karya besutan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini dibintangi oleh Chicco Jerikho, Safira Umm, Abdurrahman Arifin, Aula Assegaf, musisi JFlow, Glenn Fredly,  Ridho SLANK,  aktris senior Jajang.C.Noer serta pemain muda dari Ambon Bebeto Leutualy.[]