UNGKAPAN SOLIDARITAS BERSAMA UMAT BERAGAMA

Salam Perdamaian!

[dropcap]M[/dropcap]enyikapi kondisi sosial masyarakat baik secara global maupun nasional terkait pandemi Virus Corona (Covid-19) diperlukan kebersamaan berbagai komunitas umat beragama. Sebuah apresiasi yang tinggi patut disampaikan kepada berbagai komunitas umat beragama dalam solidaritas sesama anak bangsa atas respon dan tanggapan terhadap pandemi Virus Corona (Covid-19). Pemerintah dengan hati-hati telah memberikan sikap dan tindakan yang tepat sebagai bentuk tanggungjawab dalam mengupayakan pelayanan yang terbaik bagi warganya guna menanggulangi sekaligus melindungi penularan yang semakin luas.

Berbagai himbauan mengedepankan perlunya sikap agar tetap tenang dan waspada serta tetap mengikuti petunjuk dan arahan pemerintah baik melalui pernyataan presiden maupun berbagai aksi tim kerja percepatan penanganan pandemi Virus Corona (Covid-19).

Solidaritas bersama bangsa ini sangat diperlukan dengan sebuah perasaan senasib sepenanggungan atas musibah pandemi ini. Dengan demikian diperlukan Solidaritas bersama umat beragama dalam mengahadapi situasi pandemi Virus Corona (Covid-19). Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama dengan tokoh berbagai lembaga agama dan masyarakat menyampaiakan ungkapan solidaritas bangsa sebagai berikut:

  1. Secara kongkret mengmundang bersama tiap-tiap komunitas umat beragama agar menyatukan diri sebagai bangsa dalam doa agar wabah ini segera berlalu dengan korban sesedikit mungkin.
  2. Kita sesama anak bangsa merasakan bersama keprihatinan dan solidaritas kemanusiaan atas pandemi Virus Corona (Covid-19) .
  3. Secara aktif dan terencana mendukung setiap usaha pemerintah maupun masyarakat dalam berbagai upaya penanggulangan Virus Corona (Covid-19) untuk keselamatan bersama. Secara khusus penerapan social distance 14 hari kedepan dengan tujuan memutus mata rantai penularan.
  4. Dengan tegas menolak manipulasi terutama pemakaian jargon agama untuk menghukum pihak lain dengan mengkambinghitamkan baik itu terkait suku agama dan ras.
  5. Mendukung dan mengapresiasi sepenuhnya berbagai inisiatif setiap orang yang bekerja keras melawan virus, khususnya tenaga kesehatan dan relawan kemanusiaan.
  6. Dalam situasi seperti ini, kepanikan dan bisa saja mementingkan diri atau kelompok masing-masing akan menguat. Justru melalui kesempatan ini solidaritas, kebersamaan dan gotong royong bisa menjadi modal sosial yang besar kita bersama menghadapi pandemi ini.
  7. Sebagai bentuk kongkret kami mengusulkan gotong-royong bersama melalui pembentukan relawan damai dalam rangka percepatan penanggulangan dampak buruk pandemi Virus Corona (Covid-19) melaui aksi kongkret gotong royong melakukan sterilisasi rumah-rumah ibadah dengan pendampingan para ahli.

Tuhan Maha Kasih akan selalu melindungi Indonesia sebagai bangsa yang besar. Demikian ungkapan Solidaritas Bersama Umat Beragama dalam menghadapi situasi pandemi Virus Corona (Covid-19) ICRP bersama berbagai tokoh agama dan masyarakat.

Jakarta, 18 Maret 2020

Atas Nama Indonesian Conference On Religion And Peace

Musdah Mulia                                                                         Johannes Hariyanto, SJ

Ketua Umum Yayasan                                                          Sekretaris Umum Yayasan

 

Download:

 

 

Kondisi Lokasi Teror Bom Molotov di Samarinda. Sumber: Liputan6.com

[:id]Video, Teror Bom di Gereja Oikumene Samarinda[:]

[:id]

Bom molotov meledak di Gereja Oikumene Loa Janan di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Samarinda, Minggu (13/11/2016). Tindakan tidak manusiawi ini mengakibatkan 5 korban luka yang sebagian besar adalah anak-anak. Ledakan juga merusak sejumlah motor yang di parkir dekat gereja.

Seorang pria yang diduga pelaku telah dibawa ke Polsek setempat. Pelaku sempat kabur dengan menyeburkan diri ke Sungai Mahakam. Pelaku diketahui baru satu tahun tinggal di Samarinda. Polisi masih menyelidiki jaringan pelaku teror bom ini.

 [:]

Masjid Ahmadiyah di Sukabumi disegel oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja. Selasa (26/7/2016)

[Video] Penyegelan Masjid Ahmadiyah Sukabumi

[:id]

Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyegel sebuah masjid milik jemaah Ahmadiyah yang berada di Kampung Parakansalak pada Selasa (26/7/2016).

“Penyegelan ini karena ada permintaan dari warga sekitar Masjid Al-Furqon di Kecamatan Parakansalak dan penyegelan ini untuk mencegah konflik yang terjadi di masyarakat,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sukabumi, Dadang Eka Widianto di Sukabumi, dilansir Antara.[:]

Demo Ahok, FPI Kehilangan Akal Sehat Menilai Pejabat Publik

Selain Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada), fenomena politik yang menohok di Ibukota tidak lain dan tidak bukan adalah demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) pada Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama Selasa (23/9).

Kelompok Islam radikal ini dalam aksinya menolak DKI Jakarta berada di bawah nahkoda Basuki. Ada beberapa alasan yang FPI utarakan dalam menolak Basuki. Salah satu alasan paling kuat penolakan ormas yang dipimpin Rizieq Syihab terhadap kepemimpinan Ahok adalah karena persoalan identitas primordial Basuki.

Ahok Panggilan Basuki sebagaimana diketahui bersama merupakan seorang Katolik dan Tionghoa. Dual Minority melekat di diri Ahok. Sehingga kerap kali, Bupati Belitung Timur itu menjadi sasaran kelompok radikal seperti FPI dalam menjalankan roda pemerintahan.

Redaksi ICRP-Online.org mewawancarai Direktur Pelaksana Indonesian Conference on Religion and Peace  (ICRP) Mohammad Monib perihal demo berbau Suku Ras dan Agama (SARA) itu.

Apakah  Demonstrasi FPI pada Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama  merupakan sebuah ancaman bagi keberagaman di DKI Jakarta? 

Pertama-tama saya ingin berikan pandangan saya mengenai ormas radikal seperti FPI. Bagi saya aksi FPI merupakan: 1.sikap beragama dan berislam yang buruk, tidak sehat, merusak nama islam. FPI lah selama penoda wajah islam yg seharusnya di ruang publik indah, sejuk dan damai. 2. Dakwah islam yang toleran di dunia internasional dirusak oleh geromban ini.

Dengan demikian  saya melihat ormas berjubah ini tak lebih dari para preman.

Saya setuju bahwa FPI merupakan ancaman bagi Indonesia. Karena ormas ini merusak toleransi dan pluralisme. FPI telah menunjukkan absentnya akal sehat dalam menilai pejabat publik.

   FPI telah menunjukkan absentnya akal sehat dalam menilai pejabat publik.

Apa yang mesti Ahok lakukan dalam menghadapi ormas seperti FPI?

Selain Ahok harus senantiasa menegakan konstitusi, ada baiknya Ahok untuk mengintensifkan dialog dengan kelompok-kelompok muslim moderat. Dalm makna agar Ia lebih leluasa mmberikan ruang bagi moderasi dan edukasi untuk publik.

Apakah bisa dikatakan bahwa  demonstrasi FPI pada ahok selasa lalu merupakan cerminan dari semakin menguatnya paham keagamaan yang radikal di tanah air?

Saya ingin garis bawahi satu hal. Menurut saya ada tendensi bahwa FPI bagian dari perselingkuhan politik fasis dengan ormas fasis yg kita analisa jelang pilpres.

Saya tidak memungkiri bahwa radikalisme memang menguat di ruang publik. Hanya saja, dalam pengamatan saya,  jumlahnya kecil dibanding yang sehat dan moderat.

Sayangnya, hal ini mendapat cakupan yang besar di media. Kita paham tentu di dunia warta adalah istilah  Bad News is Good News

Wahabi dan ISIS : Saudara Sekandung Yang Tengah Tak Akur

Hampir seluruh pemimpin dunia mengutuk kebiadaban ISIS di Suriah dan Irak. ISIS dinilai sudah tidak lagi menunjukan sisi kemanusian sedikitpun dalam menyikapi perbedaan. Pola pandang keagamaan organisasi teroris ini, banyak pengamat menilai, terinsipirasi dari ideologi Wahabisme. Nah, bagaimana pandangan negara asal muasal Wahabisme terhadap ISIS?

Sungguh aneh tapi nyata, ternyata ulama-ulama Arab Saudi malah menisbatkan ISIS sebagai penerus Khawarijz. Salah satu di antara yang mengatai kelompok teroris pimpinan Al-Baghdadi sebagai Khawarijz adalah Mufti besar Arab Saudi Sheikh Abdulaziz Al al-Sheikh. Ulama Wahabi ini menegaskan bahwa ISIS telah melakukan bid’ah terbesar, dan menyebabkan perpecahan pertama dan paling traumatis di dunia Islam.

Retorika ini sungguh kontradiktif, sebagaimana diketahui bersama, dengan dukungan pemerintah Arab Saudi untuk menebarkan gagasan takfirisme. Takfirisme dikenal sebagai pandangan yang berupaya mengeluarkan pola pandang keagamaan yang berbeda. Oleh karenanya, tak jarang, para pendakwah terkenal di negeri kaya minyak itu masih mendorong sikap tidak toleran terhadap kelompok tertentu yang selama ini juga menjadi sasaran persekusi ISIS di Irak.

Sebagai contoh ambilah pandangan Ulama konservatif Abdulrahman al-Barrak dan Nasser al-Omar, yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di Twitter itu. Ulama yang cukup tersohor ini dengan mudahnya menuduh kelompok Syiah menabur “perselisihan, korupsi dan kerusakan diantara umat Islam”.

Bahkan seorang ulama yang merilis fatwa mati bagi media yang tak sepaham dengan garis Wahabisme kini malah menduduki salah satu anggota majelis tertinggi umat Islam di Saudi. Ulama yang sempat dipecat dari jabatan kepala peradilan itu dikenal dengan nama Sheikh Saleh al-Luhaidan.

Ultra konservativisme Wahabi yang disokong oleh kerajaaan Saudi kerap ditenggarai sebagai inspirasi bagi munculnya kelompok yang lebih ekstrim seperti al-Qaeda. Bukan saja menunjukan ancamannya pada dunia, menariknya, Al-Qaeda juga menentang ISIS.

Spekulasi pun muncul. Banyak pengamat geopolitik menilai sikap Saudi yang “mengfatwa” ISIS sebagai kelompok teroris hanya murni politis. Saudi, diprediksi, hanya merasa ketakutan akan munculnya pesaing baru dalam wacana radikal yang masih tetap dipertahankannya.

Duta besar Negeri Raja Minyak ini di London, Pangeran Mohammed bin Nawaf, menulis bulan lalu bahwa itu ”bahkan tidak sesuai” dengan ajaran Wahabi.Selama ini kerajaan Arab Saudi menuding pengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin telah menjadi inspirasi pemikiran jihadis. Sikap politik Saudi, ternyata pada saat bersamaan mengecilkan peran Riyadh dalam wacana Islamisme.

Keengganan menindak sikap tidak toleran atas kelompok non-Sunni yang selama ini dipertahankan kerajaan Saudi telah mendorong sejumlah kelompok liberal di negeri itu untuk melakukan kritik terhadap pemerintah diktator yang disokong sekte wahabi itu. Mereka bersama para pengamat asing meminta kerajaan itu lebih berkomitmen dalam mengatasi akar radikalisme dan gejalanya.

“Definisi mereka atas ekstrimisme kami tidak setuju. Masih dianggap biasa untuk menyebut Syiah sebagai kafir. Itu tidak dilihat sebagai ekstrimis,“ kata Stephane Lacroix, penulis ”Awakening Islam”, sebuah buku tentang Islamisme di Arab Saudi.

(Sumber :Deutsche Welle)

Tentang Etnis Kelas Dua di Negeri Tirai Bambu : Uighur

Uighur adalah salah satu etnis pribumi di kawasan Barat Laut Republik Rakyat China (RRC), Xinjiang. Mereka pada umumnya beragama Islam. Etnis Uighur memandang diri mereka sendiri secara kultural dekat dengan bangsa-bangsa di Asia Tengah.

Perekonomian wilayah ini selama ratusan tahun telah mengalami perubahan dari mulai pertanian hingga perdagangan, dengan perkotaan seperti Kashgar yang berkembang sebagai pusat rute perdagangan yang tekenal, Jalur Sutra.

Pada awal abad ke-20, Bangsa Uighur sempat mendeklarasikan kemerdekaannya. Tetapi, wilayah ini direbut dan menjadi bagian dari Republik Rakyat china pada 1949.

Xinjiang secara administratif dibentuk sebagai sebuah wilayah otonomi di Cina, sama seperti Tibet di bagian Selatan negeri Tirai Bambu.

Para aktivis pro demokrasi menilai kebijakan pusat negeri uni partai ini secara berangsur-angsur membatasi aktivitas keagamaan, dagang, dan budaya masyarakat Uighur di Xinjiang. Beijing dituding telah membuat suasana di Xinjiang tegang setelah terjadi protest di wilayah kaya minyak itu pada tahun 90an. Kembali, RRC melakukan hal serupa pada saat Olimpiade Beijing 2008.

Selama sepuluh tahun kebelakang, banyak tokoh-tokoh Uighur telah dipenjarakan atau mencari suaka politik ke negara asing setelah dituding terlibat dalam aktivitas terorisme. Migrasi yang massif dari etnis Han ke Xinjiang telah membuat Uighur, etnis pribumi, menjadi minoritas kini.

Beijing diduga telah berlebih-lebihan dalam merespon ancaman dari separatis Uighur. Hal itu dilakukan China sebagai justifikasi untuk melakukan represi di kawasan itu.

Salah satu tragedi mengenaskan yang menimpa etnis Uighur terakhir terjadi pada Juli 2009. Pada bulan itu hampir 200 jiwa melayang dalam kerusuhan etnis di Urumqi, Ibu kota administratif Xinjiang. Salah satu hal yang menjadi letupan kekerasan diduga adalah kematian dua orang Uighur setelah ribut dengan etnis han di sebuah pabrik yang berada di Selatan China, Ribuan kilometer dari Xinjiang.

Pihak berwenang menyalah separatis Xinjiang yang berada di luar negara itu atas ketegangan yang terjadi di Urumqi. China secara terbuka menuding personal pemimpin Uighur yang tereksilkan, Rebiyia Kadeer, sebagai penylut kekerasan. Reebiya, atas tudingan pemerintah China, menolak bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan di Urumqi.

Reebiya, seorang Uighur yang hidup di perasingan, menyatakan polisi telah mendiskriminasi protes damai yang menggiring pada kekerasan dan hilangnya banyak nyawa di Urumqi.

Meski Xinjiang telah menerima bantuan investasi dari pusat untuk proyek-proyek energi dan industri, masyarakat Uighur mengklaim tidak merasakan dampaknya secara signifikan. Mereka, etnis pribumi Xinjiang, merasa dikelas duakan oleh pemerintah. Pasalnya, hanya etnis Han yang mendapatkan pekerjaan, sementara ladang-ladang orang Uighur telah dirampas oleh pemerintah China atas nama pembangunan.

Para aktivis lokal dan jurnalis asing selama ini dipantau ketat oleh pemerintah. Hanya ada sedikit sumber informasi independen dari wilayah xinjiang.

(sumber BBC.COM)

Nigeria dan Latar Belakang Aksi Teror Boko Haram

Kata Boko Haram beberapa minggu ke belakang menjadi buah perbincangan di PBB. Aksi-aksi teror yang dilakukan, terutama penculikan hampir 300 siswi di Nigeria menjadi sorotan dunia internasional. Sejenak mari kita   ulas singkat kelompok teroris paling menakutkan di benua hitam ini.

Anggota Boko Haram dikabarkan terpengaruh dengan penafsiran frasa dalam Quran yang berbunyi siapapun yang tidak menggunakan sistem pemerintahan atas wahyu Allah adalah golongan yang sesat.

Boko Haram mengkampanyekan pelarangan bagi muslim untuk melakukan aktivitas sosial maupun politik yang berbau kebarat-baratan. Di antaranya adalah memilih dalam pemilu, mengenakan rok atau celana panjang, hingga pada menggunakan sistem pendidikan sekular.

Boko Haram memandang Nigeria sebuah sebuah negara yang dijalankan oleh orang-orang kafir. Meskipun sebagaimana diketahui presiden negara berpopulasi terbesar di benua hitam itu beragama islam.

Nama resmi kelompok teroris ini adalah Jamaatu Ahlis Sunna Liddawati wal Jihad, yang berarti “orang yang menjalankan anjuran sunnah dan jihad nabi”

“Kaderisasi”

Masyarakat di Timur laut Miduguri, tempat dimana markas besar kelompok teroris itu berada, kerap menamai jihadis ini sebagai Boko Haram. Kata “Boko Haram” berasal dari bahasa lokal Hausa yang secara luas diartikan “Pendidikan Barat adalah Haram.” Sebenarnya secara harfiah  kata Boko dipahami sebagai palsu. Sementara itu, sebagaimana diketahui bersama kata Haram bermakna dilarang atau terlarang.

Sejak kerajaan Sokoto  yang menguasai Nigeria Utara, Niger, dan selatan Kamerun jatuh ke tangan Inggris pada 1903, telah terjadi banyak resistensi masyarakat  di sebagian wilayah muslim terhadap sistem pendidikan Barat.

Msyarakat di wilayah ini hingga kin ini tetap menolak anak-anak mereka disekolahkan di “sekolah-sekolah barat” yang dikelola pemerintah. Keadaan buruk ini ditambah dengan elit penguasa yang tak memandang pendidikan sebagai prioritas.

Menentang pandangan “serba barat” ini, seorang tokoh muslim terkemuka setempat, Mohammaed Yusuf, mendirikan Boko Haram di Maiduguri pada 2002. Yusuf merancang sebuah sistem pendidikan yang lengkap termasuk di dalamnya sebuah sekolah islam dan mesjid.

Banyak keluarga muslim yang miskin bahkan orang-orang asal negara yang berbatasan dengan Nigeria memasukan anak-anak mereka ke sekolah milik Mohammaed Yusuf. Tetapi, pada kelanjutannya Boko Haram tidak hanya tertarik pada dunia pendidikan semata. Tujuan politiknya tidak lain adalah mendirikan sebuah negara islam dan sekolah merupakan saran untuk melakukan proses kaderisasi para jihadis.

Pada tahun 2009, Boko haram melakukan serangan besar-besaran ke kantor-kantor polisi dan fasilitas negaera lainnna di Maiduguri. Fenomena ini mendorong meletusnya kontak senjata di jalanan. Ratusan anggota Boko Haram tewas  dan sementara ribuan lainnya mengungi ke kota terdekat.

Pasukan Nigeria pada akhirnya menaklukan markas Boko Haram tahun itu, menangkap para jihadis dan menewaskan Mohammaed Yusuf. Mayat Yusuf ditunjukan oleh tv milik negara. Pasukan keamanan menyatakan kala itu bahwa Boko Haram telah tamat.

Meski demikian ternyata para milisi berhasil berkumpul kembali. Posisi kepemimpinan dipegang oleh Abubakar Shekau. Perlawanan terhadap pemerintah Nigeria kembali berlangsung.

Pada tahun 2010, Uwak Sam memasukan Boko Haram ke dalam daftar organisasi teroris. Keputusan AS kala itu di tengah-tengah kekhawatiran bahwa Boko Haram telah mengembangkan jejaring dengan kelompok militan islamis lainnya seperti Al-Qaeda di daerah Maghribi untuk melakukan jihad global.

Pada mulanya, Boko Haram dikenal sebagai para pengguna sepeda motor bersenjata yang membunuh polisi, politisi atau siapapun yang mengkritik Boko Haram. Bahkan Boko Haram tak sungkan membunuh para imam dari tradisi muslim yang berbeda dan pendeta-pendeta  kristen.

Milisi Boko Haram pada kelanjutannya berani secara terang-terangan melakukan serangan di kawasan utara dan tengah Nigeria. Umumnya, serangan pengeboman diarahkan pada gereja, pemberhentian bus, bar. Bahkan kini Boko Haram telah mampu melakukan serangan ke Abuja, Ibukota Nigeria, dimana barak militer dan polisi, kantor PBB berada.

Pada Mei 2013 Ditengah kecemasan atas meningkatnya aksi-aksi kekerasan, Presiden Goodluck Jonathan menyatakan Darurat Militer untuk tiga wilayah negara bagian dimana Boko Haram begitu kuat di antaranya adalah Borno, Yobe dan Adamawa.

Pengiriman pasukan ke tiga wilayah tersebut telah memukul mundur milisi Boko Haram dari Maiduguri yang merupakan markas  kelompok teroris ini. Kini dikabarkan mereka bersembunyi di kawasan hutan Sambisa yang berbatasan dengan Kamerun.

Dari hutan itulah, para milisi Boko Haram melakukan serangan besar-besarnya ke desa-desa, merampok, membunuh, dan membakar properti masyarakat. Strategi ini digunakan untuk menakut-nakuti penduduk desa untuk tidak bekerjasama dengan aparat keamanan sebagaimana penduduk Maiduguri lakukan.

Kemiskinan yang akut

Boko Haram juga melaukan kampanye anti pendidikan Barat. Kelompok Islam garis keras ini percaya pendidikan Barat menghancurkan nilai-nilai moral muslim. Salah satu target utama dari kelompok ini adalah para gadis yang terbukti dengan  dua kali serangan besar-besaran terhadap sekolah – di Yobe pada maret dan Chibok pada April.

Di Chibok serangan besar-besaran Boko Haram juga ditambah dengan penculikan 200 lebih siswi. Para milisi dikabarkan memperlakukan para gadis itu sebagai budak dan menikahi mereka – sebuah pandangan kuno dalam islam bahwa perempuan yang diciduk saat konflik dinilai sebagai bagian dari rampasan perang.

Pada waktu yang bersamaan dengan penculikan, Boko Haram melanjutkan pengeboman di perkotaan. Kala serangan diarahkan ke  Ibu Kota dan setidaknya menewaskan 70 orang seketika saat ledakan terjadi di sekitar tempat parkir. Serangan lanjutan juga terjadi pada 2 Mei yang menelan korban sejumlah 19 orang. Kasus ini menunjukan bahwa Boko Haram tidak hanya memiliki pasukan perang, tetapi juga unit-unit yang ahli dalam perihal pengeboman.

Para ahli memaparkan bahwa Nigeria Utara memiliki sejarah panjang berkembang biaknya kelompok-kelompok islam garis keras. Tetapi, Boko Haram h melampaui perkembangannya dan terbukti jauh lebih berbahaya dengan agenda jihad globalnya.

Lebih lanjut menurut para ahli ancaman dari Boko Haram hanya musnah jika membangun sebuah sistem pendidikan yang mendapat dukungan dari tokoh-tokoh muslim setempat. Dan yang tidak kalah penting , parah ahli menekankan agr pemerintah Nigeria berupaya mengurangi tingkat kemiskinan yang akut.

Meskipun memiliki SDA yang besar,  berdasar data yang dirilis PBB,Nigeria menduduki posisi negara paling tidak setara (secara ekonomi) di dunia. Kemiskinan yang ada di utara begitu kontras jika dibanding wilayah negara bagian di sebelah selatan yang lebih maju. Sementara itu,  masyarakat Deta dan Akwa Ibom di tenggara yang kaya akan minyak kawsan kaya minyak mengeluh karena sumber kekayaan mereka mengalir lewat pipa-pipa ke Abuja dan Lagos saja. (CNN)

 

Kasus Sampang: Gagalnya Penegakan HAM dan Pembodohan Umat

 

Lebaran baru saja usai dan kita telah memasuki bulan Syawal. Tapi apa hendak di kata, bulan Syawal, yang menjadi bulan baik menjadi berbeda maknanya, seperti yang dialami oleh kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura. Mereka dirundung  pilu dan awan kelabu yang terus menggelayuti sejak kemarin (Minggu/ 26/08/2012). Bahkan sejumlah media, sejak kemarin terus berupaya  menghubungi korban di tempat kejadian agar mengetahui kondisi terkini dari Sampang. Kemarin siang, sejumlah media mendapat kabar: bahwasanya pada pukul 11.00 pagi, telah terjadi penyerangan brutal kepada kelompok Syiah yang dilakukan oleh sekitar 500-an orang yang berkumpul dengan membawa pedang, pentungan, clurit sampai bom molotov. Imbasnya, kekerasan yang dilakukan oleh massa yang intoleran kepada kelompok Syiah tersebut, telah mengakibatkan banyak rumah yang luluh lantah karena dibakar, banyak warga yang mengalami luka berat saat mencoba melindungi diri, bahkan sampai ada seorang warga Syiah yang meninggal dunia.

 

Sisa bara api kembali menyala

Peristiwa ini merupakan imbas dari kasus sebelumnya yang tidak terselesaikan (atau memang tidak niat untuk diselesaikan) dari kejadian yang terjadi tanggal 29 Desember 2011, yaitu penyerangan kepada ustad Syiah yang bernama: Tajul Muluk. Pada penyerangan bulan Desember tersebut, ustad Tajul Muluk yang diserang, malah ustad tersebut yang didakwa dan ditahan kurungan selama 2 tahun dengan dakwaan penistaan agama. Kali ini, sisa bara api itu kembali menyala,  selepas bulan lebaran lagi.

Adanya kaitan peristiwa kemarin dengan kejadian tahun 2011 tersebut, seperti yang disampaikan oleh Iklil, abang ustad Tajul Muluk: ratusan massa yang kemarin datang adalah massa yang sama saat kejadian bulan Desember 2011. Namun kali ini penyerangan massa tidak lagi hanya ditujukan kepada properti ustad Tajul Muluk semata, melainkan kepada seluruh warga Syiah.  Hingga berita diturunkan, tanggal 27 Agustus 2012, kepolisian telah menangkap tujuh orang tersangka yang diduga terlibat dalam kasus penyerangan Syiah di Sampang.

Namun kasus kali ini, menjadi pelik karena tidak hanya menimbulkan korban fisik dan materi namun telah mengakibatkan telah meninggalnya seorang anak manusia. Kita semua kembali dihantui kasus Cikeusik di Banten. Menurut Iklil, Tiga hari sebelum terjadinya penyerangan sudah ada sweeping terhadap warga Syiah yang dibarengi dengan ancaman-ancaman kalau warga Syiah sampai bulan Ramadhan ini masih belum pergi dari wilayah yang ditempatinya maka para peneror menghabisinya. “Kita akan dibuat habis,” ucap Iklil.

 

Dehumanisasi banal!

Acaman dan intimidasi yang semula terjadi menjadi mata rantai yang mengarah kepada aksi pembunuhan. Dehumanisasi banal! Hal inilah yang juga dinyatakan oleh Musdah Mulia, selaku ketua ICRP. Menurut Musdah Mulia, “Pembunuhan terhadap orang Syiah di Sampang membuktikan gagalnya penegakan HAM di negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi ketiga di dunia. Sungguh ironis! Terlebih karena masyarakatnya dikenal sangat religius. Tragedi Sampang ini menambah jumlah noda hitam dalam sejarah pemerintahan SBY. Dan ICRP mengutuk para pelaku sebagai manusia biadab, mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus ini, dan mengajak masyarakat tetap bersatu menegakkan keadilan dan kedamaian untuk semua manusia.” Dalam penekanan kasus yang terjadi di Sampang ini, Musdah Mulia menggunakan kata “pembunuhan” yang menyiratkan sebuah kejahatan kemanusiaan. Beliau tidak lagi melihat ini hanya persoalan antara dua aliran agama yang berbeda. Penekanannya adalah telah terjadinya kejahatan kemanusiaan yang teramat banal!

Sedangkan Mohamad Monib, sebagai seorang aktivis HAM, yang asli orang Madura, lebih meneropong kalau kasus ini merupakan cermin kegagalan ulama dalam berpikir agar lebih dewasa. Menurut Monib, ”Kasus jamaah Syiah Sampang, bagi saya merupakan refleksi dari ketidakmampuan para ulama dalam mendewasakan cara pandang dan sikap beragama umat Islam. Kegagalan ulama dalam mendidik, mencerdaskan dan mengeluarkan umat dari keprimitifan dan kedangkalan mereka memahami Islam. Lebih lanjut aktivis ICRP ini mengatakan, “Bahkan, saya berpendapat ada ‘kesengajaan’ pembodohan umat. Agama, oleh ulama cenderung dibiarkan menyerupai fosil, beku dan mati. Islam tak lebih sekedar mantera-mantera dan bacaan tidak bermakna bagi kedamaian dan kemanusiaan. Sementara umara (pemerintah dan lembaga formil politik serta birokrasi) menikmati kebodohan umat menjadi lahan partisipasi dan suara politik. Sungguh mengecewakan dan menyedihkan. Apalagi kasusnya setelah Ramadhan dan Idul Fitri. Apa makna ibadah puasa yang mereka lakukan kemarin? Benar-benar sekedar berlapar dan berhaus ria semata.” ICRP juga bergabung dengan Aliansi Solidaritas Kasus Sampang bersama dengan civil society yang lainnya untuk terus mengawal kasus ini. *) Chris Poerba

Sejarah Kekristenan dI Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pendahuluan


Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) mandiri (memisahkan diri secara baik-baik dari HKBP) tahun 1995, dan memiliki kantor pusat di Sidikalang namun memiliki pelayanan kepada orang-orang Pakpak secara khusus, di Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, Aceh Singkil dan di luar daerah-daerah inti tersebut. Setelah tahun 1995 itu pula gereja yang dahulu bernama HKBP Simerkata Pakpak beralih nama menjadi gereja GKPPD, termasuk gereja-gereja yang ada di Aceh Singkil, yang terdiri dari 14 gereja (dulunya 16, namun sekarang dua gereja lain menjadi wilayah pemerintahan Kodya Subulusalam, tentu masih ada gereja lain seperti gereja Katolik sebanyak 3 unit, HKI 1 unit, dan gereja Kharismatik 4 unit dan kebaktian-kebaktian di rumah-rumah terkhusus bagi para karyawan di perkebunan Socfindo, Astra dll. Khusus dalam kewilayahan suku Pakpak dikenal dengan si 5 suak, atau 5 wilayah atau tanah ulayat kependudukan suku Pakpak, yakni Simsim (Pakpak Bharat), Keppas Pegagan (Kabupaten Dairi), Kelasasen (wilayah yang mencakup Pakkat,  Parlilitan di Humbahas, hingga Manduamas, di Tapanuli Tengah) dan yang terakhir adalah Boang (kabupaten Aceh Singkil). Khusus bagi gereja GKPPD, wilayah pelayanan di Aceh Singkil berada dalam dua Ressort, yaitu resort Kuta Kerangan dan resort Kerras (resort adalah satuan pelayanan yang menaungi beberapa gereja)

 

Untuk membaca tulisan ini lebih lanjut, silahkan mengunduh di:

http://www.ziddu.com/download/19571220/ISTENANDIACEHSINGKILPROVINSINANGGROEACEHDARUSSALAM.pdf.html

Merayakan Valentine Itu Haram?

Menolak Valentine di Aceh (Sumber Jakarta Globe)

 

Hari Valentine tinggal menghitung waktu. Biasanya momen hari kasih sayang, yang jatuh tiap tanggal 14 Februari ini, tidak akan dilewatkan oleh banyak orang, terutama oleh sepasang remaja dan kekasih. Pita-pita berwarna pinky akan menghiasi setiap pojok belantarakota, dari mall sampai kebun binatang. Ya, biasanya  momen ini selalu di indentikan dengan kisah kedua pasangan yang sedang mengalami mabukasmara. Aneh sekaliasmara bisa memabukkan. Mereka-mereka yang masih belia sering mengistilahkan “Dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak!”. Meski sebenarnya, Valentine tidak hanya terbatas kepada kedua pasangan yang terkasih dan yang tersayang tersebut. Valentine juga kasih sayang anak dan orang tuanya, guru dan murid (termasuk murid yang paling nakal), tahanan penjara dengan petugas sipir, pemilik rumah kost dengan ibu kost (yang biasanya galak), pengendara motor dan pak polisi (biasanya yang kumisnya melintang), pemulung sampah dengan agen penampung (yang kadangkala timbangannya di catut), penumpang bus kota dengan kondekturnya (yang kondekturnya sering lupa penumpang mana yang sudah dan belum bayar ongkos), dan masih banyak lagi. Kasih sayang ini pun meluas, tak hanya kepada sesama manusia saja, melainkan juga manusia kepada alam dan lingkungannya.

Hukum Syariah

Namun selama ini istilah Valentine yang berkonotasikan hari kasih sayang yang terbatas hanya kepada sepasang remaja belia atau muda mudi itu, yang lebih dihayati oleh banyak orang. Sehingga banyak pula yang mencibir hari Valentine, temasuk beberapa ormas-ormas keagamaan. Pelajar-pelajar di Naggroe Aceh Darussallam pun meminta kepada ulama agar tidak merayakan hari Valentine dan karena ini tidak sesuai dengan hukum Syariah. Bahkan Valentine bertentangan dengan hukum Syariah.

“Adalah haram bagi umat Islam untuk merayakan Hari Valentine karena tidak sesuai dengan Syariah Islam,” kata Tengku Faisal Ali. Tengku Faisal Ali adalah sekretaris jenderal Asosiasi Ulama Aceh (HUDA). Faisal Ali yang juga ketua cabang Aceh Nahdlatul Ulama menyerukan kepada orang tua Muslim, terutama di Aceh, “Untuk mengajar dan mengawasi anak-anak mereka dalam hal ini. Pemerintah juga harus  mewaspadai kaum muda berpartisipasi dalam kegiatan Hari Valentine di Aceh.” (JakartaGlobe, February 06/ 2012)

Orang Asing? 

Apakah memang benar demikian adanya? Valentine menjadi sebuah ancaman yang sangat menakutkan dan bertentangan dengan ajaran agama. Untuk itu Musdah Mulia, memberikan pandangannya,”Saya tidak terkejut membaca berita Penolakan Ulama Aceh terhadap kegiatan Hari Valentine. Mengapa?  Karena bagi mereka, semua yang bernuansa Barat dan Asing dianggap sesat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Bagi mereka Barat selalu bermakna bukan wilayah Islam, padahal posisi Mekkah, dimana terletak Baitullah yang menjadi kiblat umat Islam se dunia letaknya di Barat. Jadi umat Islam kalau shalat harus menghadap Barat.”

Musdah Mulia, selain menanggapi bahwa ini lebih diibaratkan karena adanya dikotomi, timur dan barat. Dan barat, atau asing selalu dimaknai sebagai non-Muslim. Inilah baginya yang cukup menggelikan. Menurut beliau,”Sejatinya, bagi orang Indonesia, istilah asing itu berlaku untuk semua orang yang bukan penduduk asli Indonesia (non-WNI), termasuk Amerika, Arab, India dan seterusnya. Tetapi, bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia, pendatang Arab yang beragama Islam tidak dianggap asing. Aneh sekali! Para ulama itu hendaknya sadar, dulu Islam juga dianggap asing bagi masyarakat Nusantara, jauh sebelum Indonesia ada wujud. Islam juga datang dari Barat, bukan dari Timur. Jadi, kalau sekarang masih ada yang mempermasalahkan soal Barat dan Asing rasanya sudah tidak masuk akal.”

Terkait mengenai hari Valentine, beliau menambahkan kalau Valentine itu adalah tradisi yang berkembang sejak lama dan tidak mengandung unsur ajaran yang bertentangan dengan Islam. Esensinya adalah menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama manusia, khususnya kepada orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. ”Kalau terjadi perilaku menyimpang dalam prakteknya, itu bukan karena tradisi Valentine, melainkan karena manusia yang merayakannya kehilangan kontrol keadabannya. Saya setuju, polisi dan yang berwenang tetap menjalankan tugasnya, memantau kegiatan hari Valentine, khususnya karena peminatnya kebanyakan dari kalangan muda usia, agar hari Valentine tidak dinodai dengan aksi-aksi brutal yang justru bertentangan dengan pesan-pesan Valentine itu sendiri,” Ujar Ketua Umum ICRP tersebut.

Musdah Mulia juga mengatakan kalau di dalam Islam pun terdapat ajaran kasih sayang, yang esensinya serupa dengan Valentine, ”Kalau mau jujur, ajaran kasih-sayang justru melimpah dalam Islam. Bukankah setiap membaca ayat-ayat Qur’an harus dimulai dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim yang intinya mengakui dan memuja Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan, ucapan bismilah itu hendaknya mengawali semua perilaku dan ucapan kita sebagai Muslim. Dan itu maknanya, substansi agama adalah mengasihi dan menyayangi: bukan hanya sesama manusia, tetapi juga sesama makhluk, termasuk menyayangi alam semesta ini. Mari menggali kedalaman agama masing-masing sehingga agama sungguh-sungguh membebaskan manusia dari semua sifat  kejahiliyahan dan kebiadaban.” Arkian, Selamat Valentine bagi semua mahkluk  (Chris Poerba)