Kegiatan atau aktifitas yang dilaksanakan oleh icrp

Kapolda Papua:  Perdamaian Dimulai dari Keluarga

Jayapura – Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw menyebut bahwa perdamaian harus dimulai dari keluarga. Hal ini ia sampaikan dalam acara peringatan World Interfaith Harmony Week (Pekan Harmoni Lintasagama) yang diselenggarakan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) secara daring, 20 Februari 2021 malam.

Dalam acara yang dipandu Pdt. Deasy Wattimena ini, Paulus Waterpauw mengatakan bahwa untuk mewujudkan perdamaian harus dimulai dari lingkup keluarga.

“Perdamaian pertama dimulai dari keluarga. Ada banyak permasalah justru muncul dari keluarga. Keluarga yang tidak harmonis tentu berbeda dengan yang harmonis. Ini mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Perlu adanya ketahanan keluarga,” paparnya melalui moda daring.

Dalam acara yang diikuti oleh 80-an peserta dari berbagai penjuru Tanah Air Ini, Paulus menilai bahwa saat ini  kita hidup di dunia teknologi yang sangat canggih, seperti media sosial. Itu menurutnya sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kita bersama dalam berbangsa dan bernegara.

“Untuk itu, dasar negara kita tetap harus diingatkan kembali pada generasi muda. Kita bisa seperti ini bukan sekonyong-konyong tapi karena ada perjuangan orang tua kita untuk menyatakan bahwa kita adalah bangsa yang besar. Perjuangan mereka harus diturunkan. Untuk membangun Indonesia damai kita harus sering-sering mengingat masa lalu,” terang lelaki yang mengaku sudah 18 tahun di Papua.

Ia menyontohkan, Papua misalnya tidak akan jadi seperti saat ini tanpa ada perjuangan masa lalu. Begitu pun Indonesia.

“Tetapi, kita juga tidak harus selalu memadang masa lalu. Saya ibaratkan kita seperti berkendara, kita boleh lihat kiri, kanan, tapi kita harus focus kedepan untuk mencapai tujuan. Kita harus pandang masa depan. Songsonglah hari baru dengan tantangan-tantangan masa depannya. Sama seperti Papua, jangan lah terus menerus menangisi masa lalu tapi tatap lah juga kedepan,” ajaknya.

Terkait dengan kearifal local di ranah Papua, Paulus menyebut kembali bahwa masyarakat Papua juga memiliki  tradisi atau motto yang terkenal yang berasal dari Fak Fak, “satu tungku tiga batu”.

“Artinya saya, kau dan dia,  artinya bahwa ketika mau berbicara kepentingan, ada kepentingan orang lain di situ. Ketika kita bersatu, baru bisa menjadi tungku untuk digunakan bersama. Di Sumatera Utara juga sama memaknai satu tungku tiga batu ini. Banyak sekali prinsip-prinsip dasar untuk memaknai eksistensi kita bersama,” terangnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Sekretaris Umum ICRP Romo Johanes Hariyanto mengatakan damai itu sesuatu yang bisa kita usahakan bersama karena itu adalah milik bersama.

“ICRP sejak berdirinya selalu menegaskan melalui cita-cita atau ungkapan bahwa kita itu merayakan perbedaan, celebrating diversity,” ungkapnya.

Tapi, kata pastor di Gereja Theresia, Menteng Jakarta ini, selama perjalan ICRP lebih sering membicarakan intoleransi. Kali ini, semboyan ICRP ada bentuknya yang nyata. Ada 15 penampilan yang disajikan bukan berasal dari artist terkenal tapi datang dari kita sendiri.

“Saya ingin menggaris bawahi perdamaian itu bisa terlaksana jika dikerjakan bersama. Perdamaian bukan hanya produksi para selebritas, tetapi milik kita yang kita usahakan bersama. Perdamaian bukan hanya ada dan perlu ditegaskan dan dirayakan tapi perlu dipupuk dan dipertahankan keberadannya untuk masa depan,” pungkasnya. [AN]

World Interfaith Harmony Week: KONSERFATIF (Konser, Fun, dan Edukatif)

JANGAN LEWATKAN!!!!

Dalam rangka World Interfaith Harmony Week, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bekerjasama dengan KN-LWF Indonesia, Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KKC-PGI), dan POLDA PAPUA mengadakan “KONSERFATIF” (Konser, Fun, dan Edukatif).

 

Sabtu, 20 Februari 2021

Pukul 19.00 WIB – Selesai

 

Via aplikasi zoom:

Meeting ID : 507 091 4280

Passcode : icrp4peace

 

Pendoa:

  • Atthasilani Gandhasilani – ASTINDA (Atthasilani Theravada Indonesia)
  • Sohalraj Singh (Pemuda Sikh)

 

Sambutan : JN. Hariyanto, SJ (Sekretaris Umum ICRP)

 

Narasumber Utama

  1. Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw (Kapolda Papua)
  2. Andy Yentriyani (Ketua Komnas Perempuan)
  3. Ulil Abshar Abdalla (Cendikiawan Muslim)

 

Moderator Kece: Pdt. Deasy Wattimena-Kalalo, S.Th., M.A

 

Penampilan Keren:

  1. Sekolah Cerlang
  2. Pesantren Fatihatul Quran
  3. Teater Semut Stital Bangkalan
  4. TK BPK PENABUR Paledang Bogor
  5. SD Nasional Plus BPK PENABUR Sentul Bogor
  6. Richard Riruma dan Pdt. Jimmy Sormin
  7. Imam Syahbandi
  8. Sekolah Damai Indonesia
  9. Kolektif tanpa Nama
  10. Narasi Toleransi Indonesia
  11. Relawan BPR PGI
  12. Hadroh ULUL ALBAB
  13. Yifos Indonesia
  14. Sanggar Bahana Antasari
  15. Sunkiss DC

 

Salam Damai Dan Sehat!

Direktur Eksekutif ICRP

Frangky Tampubolon

Cerita Damai dari Papua: Toleransi Sudah Diajarkan Sejak Kecil

Merayakan momen terbesar di dunia tentang keberagaman antar umat beragama, World Interfaith Harmony Week, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bekerjasama dengan KN-LWF Indonesia, dan Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan Tuhan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KKC-PGI) menyelenggarakan “Inspirasi dari Indonesia”.

Dalam kegiatan tersebut tampil orang muda dari berbagai daerah. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana merawat keberagaman di daerah masing-masing.

dr. Medzke Padwa, Ketua Solidaritas Perempuan Papua Wilayah III Doberay, salah satu narasumber yang menyampaikan keberagaman di daeranya, Papua.

Pelayanan dr. Medzke berada di wilayah III Doberay berfokus ke orang-orang muda. Ia menceritakan kalau hari Natal di Raja Ampat, Sorong, dan Fakfak keluarga kami yang sebagian besar Muslim mereka akan membersihkan gereja dan jaga keamanan. Begitu sebaliknya, jika Lebaran, umat Kristen yang membersihkan Mesjid dan juga berjaga-jaga.

“Solidaritas perempuan Papua adalah wadah yang sudah dibangun oleh orangtua kami sejak tahun 2000. Saya di wilayah III doberay lebih fokus ke anak-anak muda. Karena kami di Raja Ampat, Fakfak, ada keluarga kami yang sebagian besar Muslim. Jadi kalau Hari Natal biasanya keluarga kami yang Muslim, mereka yang bersihkan gereja dan juga jaga keamanan. Saat Lebaran, kami yang harus ke mesjid untuk bersihkan mesjid, berjaga-jaga, dan membantu,” tutur dr. Medzke.

Toleransi antar umat beragama sendiri sudah diajarkan kepada dr. Medzke sejak kecil, bahkan kakek dari dr.Medzke seorang Muslim. Oleh karena itu mereka tidak pernah membedakan agama.

“Kami di Papua tidak membedakan keluarga kami yang Kristen dan Muslim. Kami sama-sama saling menghormati, di dalam satu pulau yang kecil bisa ada dua agama, Kristen dan Muslim. Saya sendiri, kakek saya Muslim, Nahdlatul Ulama. Jadi itu bukan sesuatu yang berbeda bagi kami, toleransi dalam keluarga kami terjadi sudah sejak kami kecil,” ungkap dr. Medzke dalam acara yang dihelat secara daring ini.

dr. Medzke pun mengumpamakan bahwa Tuhan itu menciptakan pohon mangga tidak hanya satu jenis saja, ada banyak jenis pohon mangga. Apalagi manusia yang lebih mulia, mempunyai hak untuk memilih apa yang ia mau kerjakan.

“Saya pikir, kita bangsa Indonesia, bangsa yang mengakui adanya Tuhan. Tuhan itu unik. Tuhan tidak menciptakan pohon mangga satu jenis saja tapi banyak jenis mangga. Apalagi manusia yang lebih mulia ini ya, manusia itu berhak memilih apa yang mau ia kerjakan, apa yang mau ia lakukan,” imbuhnya.

Pada akhir kisahnya, dr. Medzke memberikan pesan kepada seluruh peserta yang hadir yaitu supaya tidak mudah terpancing dengan isu apapun dan jadilah warga negara yang bijak.

“Pesan kami dari wilayah III Doberay, jangan mudah terpancing dengan isu apapun, jadilah warga negara yang bijak dan melihat dengan kacamata bahwa kita itu unik. Kalau ada hitam pasti ada putih. Jadilah warga negara yang pintar, supaya bisa hidup di dunia ini,” pungkasnya. [ ]

Tujuan Semua Agama Menghadirkan Perdamaian

Sabtu, 13 Februari 2021, dalam rangka World Interfaith Harmony Week, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bekerjasama dengan KN-LWF Indonesia, dan Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KKC-PGI) menghelat acara “Inspirasi dari Indonesia.”

Mengawali rangkaian acara, moderator menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjadi ruang jumpa lintas iman, wadah inspirasi, serta ruang berbagi cinta menyampaikan pesan perdamaian.

“Kegiatan kita ini pertama, menjadi ruang jumpa lintas iman dan suku dari anak-anak muda Indonesia, dan yang kedua menjadi wadah inspirasi dan berbagi cerita serta pesan perdamaian dar pelosok negeri melalui seni,” terang Dominggus Sada.

Sekretaris Eksekutif KN-LWF Indonesia, mewakili lembaga mitra dalam kegiatan ini menyampaikan sambutan. Menurutnya menciptakan harmoni tidak semudah membalikkan telapak tangan. PGI sudah hampir 7 tahun mengupayakan kebebasan di Singkil, Aceh tapi belum sepenuhnya berhasil.

“Memang tak semudah membalikan telapak tangan untuk menciptakan harmoni diantara keberagaman agama ataupun perbedaan-perbedaan. Saya ingin menceritakan sedikit bahwa kami gereja-gereja Lutheran juga dengan PGI sudah hamper 7 tahun berupaya mewujudkan kebebasan beribadah di Aceh, Singkil. Ini salah satu contoh tapi sampai sekarang upaya masih terus dilakukan tetapi belum juga selesai atau katakanlah belum berhasil sepenuhnya,” terang Pdt. Basa Hutabarat, Sekretaris Eksekutif KN-LWF Indonesia.

Pdt. Basa menyampaikan bahwa KN-LWF Indonesia juga kerap melakukan berbagai webinar terkait Christianophobia dan Islamophobia, untuk merawat kerukunan antar umat beragama, namun masih saja ada tindakan intoleransi.

“Kami juga melakukan webinar tentang christianophobia, islamophobia, ada juga webinar mengenai “Kemana Setelah Perancis”, diskusi-diskusi, riset, dan lain sebagainya itu dilakukan terkait untuk merawat kerukunan atau merawat harmoni itu tapi lagi-lagi masih berlanjut tindakan intoleransi. Ini yang saya katakan tadi tidak mudah membalikan telapak tangan,” imbuhnya.

Menurut Pdt. Basa tindakan intoleransi muncul bukan salah atau bermasalah di agamanya, karena tiap agama mempunyai tujuan yang sama yaitu menghadirkan perdamaian. Bahkan dalam kitab suci umat Kristen, dalam Matius 22 dikatakan “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
“Sebenarnya masalahnya bukan diagamanya, karena agama itu masing-masing punya tujuan yang sama yaitu menghadirkan perdamaian. Bagi kami agama Kristen sangat jelas, dalam Matius 22 dikatakan “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” pungkasnya. [ ]

World Interfaith Harmony Week: Inspirasi dari Indonesia

Dalam rangka World Interfaith Harmony Week, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bekerjasama dengan KN-LWF Indonesia, dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengadakan acara “Inspirasi dari Indonesia”

Sabtu, 13 Februari 2021
Pukul: 19.00 WIB – Selesai

Melalui aplikasi zoom meeting
Meeting ID : 870 9943 1921
Passcode : peace

Sambutan:
Pdt. Basa Hutabarat (Sekretaris Eksekutif KN-LWF Indonesia)

Narasumber:

1. Sopian Lubis (Yayasan SAKA)
2. Cici Situmorang (Rumah Inspirasi)
3. Nindia Putri Prameswari SH MKn (Penghayat Kepercayaan)
4. Dona Ollya Khamim (Bahai Indonesia)
5. Yitzhak Benjamin Meijer, S.E., M.M (Pemuda Yahudi)
6. Winston neil Rondo (Komunitas Peacemaker Kupang)
7. Fernando Sitohang (KN-LWF Indonesia)
8. Babardin, Ssi (Pelita Tomohon)
9. Ahmad Annur (Center For Islam and Democracy Studies)
10. Standy Christianto (Borneo Institute)
11. Dr. Mizke (Papua)
12. Richa F. Shofyana (Narasi Toleransi Indonesia)

Menyampaikan Pesan Damai:

1. Benediktus Papa (Ketua Presidium PP PMKRI)
2. Arya Kharisma Hardy (Ketua Umum PB-HMI)
3. Imanuel Cahyadi (Ketua Umum DPP GMNI)
4. Agus Herlambang (Ketua Umum PB PMII)
5. Ari Sutrisno (Ketua Umum HIKMABUDHI)
6. I Kadek Andre Nuaba (Ketua Umum KMHDI)
7. Korneles Galanjinjinay (Ketua Umum PP GMKI)
8. Najih Prasetyo (Ketua Umum DPP IMM)
9. Susanto Triyogo (Ketua Umum KAMMI)
10. Bryna Meivitawanli, S.E., B.Sc.,M.B.A., Ph.D (Pemuda Khonghucu)
11. Komang Juli Agustawan, SH (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia)

Moderator:
Evi Mala Wijayanti dan Dominggus Sada

Penampil:
Corry Yosephine

#icrpforpeace

IDI Gandeng ICRP Sosialisasikan Pencegahan Covid-19

Jumlah kematian akibat terpapar virus Covid-19 di Indonesia sudah menembus angka 1 juta lebih. Jal inilah yang mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggandeng ICRP untuk terus mendosialisasikan kepada khalayak masyarakat bahaya virus tersebut.

Kali ini, sosialisasi pencegahan covid-19 dilaksanakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bekerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) berlangsung pada 0 Januari 2021 secara daring.
IDI dan ICRP merasa perlu untuk melakukan sosialisasi pencegahan covid-19 ini. Dalam sosialisasi ini Dr Asturi Putri, tim mitigasi IDI menyampaikan bahwa jumlah dokter di Indonesia tidak banyak, kematian dokter bukan hanya kematian secara fisik tetapi kematian secara keilmuan, ketangkasan, dan kompetensi.

“Jumlah dokter di Indonesia tidak banyak, kami hitung, kurang lebih 185ribu terlalu sedikit untuk jumlah penduduk Indonesia 270juta dimana jumlah spesialisnya jauh lebih kecil dari jumlah dokter umum. Jika ada kematian di kami bukan hanya kematian secara fisik atau kehilangan keluarga, saudara, tetapi juga kematian secara keilmuan, ketrampilan, ketangkasan, dan kompetensi yang tidak gampang kami lalui untuk bisa memberikan layanan kesehatan yang baik,” ungkap Dr Asturi Putri.

Tingginya tingkat kematian pada dokter dikarenakan covid-19 membuat Dr Asturi mengajak agar seluruh masyarakat tetap melakukan protokol kesehatan.
“Para sejawat kami yang wafat sangat besar, 289 kematian dokter di Indonesia per 26 Januari kemarin kami release.

Per tanggal 30 Januari sudah lebih dari 290 hampir 295 bahkan lebih, sepertinya hari ini saya mencatat ada beberapa kejadian kematian lagi. Nah karena itu kami berharap teman-teman ICRP memahami kenapa teman-teman sekalian untuk tetap melakukan protokol kesehatan karena transmisi covid-19 ini melalui droplet, melalui udara, kemudian bisa didapatkan pergaulan kita diluar, imbuhnya.

Senada dengan Dr. Asturi Putri, dr. Ekasakti Octohariyanto, Mpd, Ked yang juga bagian dari tim mitigasi IDI menyampaikan sebuah prestasi yang tidak mengenakan yang diperoleh oleh Indonesia terkait jumlah kasus covid-19. Ekasakti menyampaikan Indonesia masuk ke peringkat 19 di dunia, sedangkan untuk Asia Indonesia menempati urutan ke-4.

“Melihat dari angka yang ada di Indonesia kita masuk peringkat ke-19 dari 102 juta penduduk Indonesia, yang paling mengerikan adalah daya sebarnya yang luar biasa mengakibatkan kematian yang luar biasa. Kita masuk peringkat 19, jadi 1 persennya ada di Indonesia dari seluruh dunia, dan untuk Asia. Indonesia menempati peringkat ke-4, untuk Asia Tenggara, Indonesia adalah yang pertama,” paparnya menjelaskan.

Kondisi pandemi yang memprihatinkan ini mengingatkan betapa pentingnya untuk terus menerus melakukan sosialisasi pencegahan covid-19, dr. Rahmi Alfian Nur Alam, salah satu pengurus ICRP juga mengingatkan bahwa IDI dan ICRP setelah sosialisasi ini harus ada social action agar paparan covid-19 bisa menurun dan tokoh-tokoh agama memiliki peran disana.

“Tokoh agama sangat berperan untuk membantu teman-teman dari IDI untuk bagaimana ketiga protagonis, individu, masyarakat, dan pemerintah mengerti. Saya punya saran kita harus punya plan of action setelah ini yang mebuat social action. Saya berharap IDI dan ICRP setelah ini kita juga harus melakukan sesuatu, plan of action, apa sih yang harus kita bantu sehingga mata rantai atau paparan dari covid-19 betul-betul bisa cepat menurun selain dari adanya vaksin,” tandas dokter yang bekerja di Rumah Sakit Pondok Indah ini.

Pada akhir sosialisasi disampaikan pula komitmen dimana seluruh masyarakat, bersama-sama menjalankan protokol kesehatan dan yang terus diingatkan selama sosialisasi yaitu menjalankan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi). [ ]

Dari Keluarga Menjadi Cahaya Perdamaian, Kilas Balik PTI 11 Temanggung

Jumat, 15 Januari 2021, pukul 03.00 WITA, alarm hp berbunyi, mengingatkan saya untuk segera bergegas, mempersiapkan apa yang harus dibawah ke pulau seberang, Pulau Jawa. Pukul empat lebih perjalanan menuju bandara Sam Ratulangi Manado. Penerbangan yang semestinya pukul 07.20 WITA, akan tetapi harus tiba lebih awal untuk validasi surat kesehatan. Satu hal yang baru untuk bisa berangkat menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Hal baru yang diterapkan semenjak wabah pandemi virus corona.

Jakarta, tempat tujuanku, untuk melihat hal baru yang masih nampak buram dalam angan-anganku. Bermodalkan alamat yang diberikan oleh panitia, tanpa seorang pun teman yang berangkat bersama, kenekatan dan semangat yang tentunya ditemani oleh rasa waswas.

Tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, diharuskan mengisi kartu kewaspadaan elektonik (e-HAC). Perjalanan dilanjutkan menuju stasiun kereta api bandara, disini saya bertemu dengan seorang pemuda dengan tujuan yang sama. Informasi yang saya dapat dari panitia bahwa ada seorang peserta sedang berada di stasiun yang sama. Wildan, nama pemuda tersebut, mahasiswa asal Pontianak. Percakapan dimulai dan keakraban mulai terjalin antar kami. Obrolan ringan tercipta selama perjalanan menuju Stasiun Kereta Manggarai untuk transit ke Stasiun Pasar Senen, titik kumpul semua peserta.

Peace Train Indonesia (PTI), ya, itulah nama kegiatan yang akan kami ikuti dan sudah pada edisi ke-11. Kegiatan traveling yang melibatkan pemuda lintas iman dengan menggunakan moda transportasi kereta api dan menuju lokasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu oleh panitia pelaksana. Kegiatan ini merupakan edisi kesebelas dengan tujuan Kab. Temanggung, Jawa Tengah. Kegiatan ini yang pertama dilaksanakan semenjak wabah covid-19 muncul dan menyebar di Indonesia. Tentu saja kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menaati dan memperhatikan protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh satgas covid-19.

Tiba di Stasiun Pasar Senen, kami para peserta dikumpulkan dan kegiatan yang pertama yaitu pembukaan kegiatan PTI-11 ini. Setelah pembukaan kami melanjutkan perjalanan kurang lebih enam jam menuju Stasiun Weleri menggunakan kereta api. Dalam perjalanan, peserta mulai saling berinteraksi satu dengan yang lain yang merupakan tujuan dari kegiatan ini, selain juga untuk memecah suasana canggung antar sesama peserta

Pukul 23.00 WIB, kami tiba di Stasiun Weleri. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus menuju Temanggung menuju Dusun Krecek, tempat dimana kami akan Live In  selama beberapa hari. Suasana keakraban antar peserta semakin nampak. Sesampainya di Dusun Krecek, udara dingin yang khas menyambut kami, suguhan teh jahe panas menghangatkan tubuh kami yang perlahan tapi pasti pun mulai berdaptasi.

Saya beragama Katolik menginap bersama Ahmad Annu, peserta yang beragama Islam dan kami tinggal di rumah keluarga yang beragama Budha. “1 tungku 3 batu,” ungkap Richard, salah satu peserta asal Fakfak, Papua Barat yang menimbah ilmu di Jakarta.  Jikalau diibaratkan, rumah ini adalah tungkunya maka kami yang berasal dari latarbelakan agama yang berbeda adalah batu nya. Obrolan ringan pun tercipta ketika kami tiba dirumah tempat kami menginap. Dari obolan ringan dan singkat ini kami mengetahui bahwa rumah ini milik keluarga Bapak Suradi dan Ibu Partima. Keluarga sederhana yang sehari-hari sebagai petani dan pak Suradi juga sebagai ketua RT. Kami pun menyudahi obrolan kami dan beristirahat.

(Sabtu, 16 Jan 2021) Dipagi hari kami yang seharusnya mengikuti kegiatan keluarga tempat kami menginap pun tak terlaksana, satu hal yang menurut saya adalah satu kerugian, semua itu dikarenakan kami yang terlambat bangun pagi, mungkin karena kami kelelahan ketika menempuh perjalanan yang panjang. Kegiatan dilanjutkan dengan menggunakan mobil pick-up kami menuju ke beberapa tempat ibadah, dengan tujuan untuk bisa membuka wawasan kami terhadap keberagaman yang ada.

Tempat pertama yang kami kunjungi ialah Gereja Katolik St. Yusuf Kaloran, disini kami disambut oleh Romo Fajar. Hal yang unik yaitu ketika kami mengetahui bahwa nama lengkap dari Romo Fajar dari tarekat Missionarii a Sacra Familia (MSF), yakni Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. Terjadilah dialog antar peserta dan Romo Fajar.

Perjalanan kami berikutnya, berkunjung ke kantor PCNU Kab. Temanggung, disini kami disambut oleh pengurus dan makan siang bersama. Dalam kunjungan ini kami mendengar arahan dari Satgas Covid-19 Kab. Temanggung. Selain itu, disini kami para peserta juga diajak untuk bersiaran, tepatnya dia Radio Santika radio kebanggaan masyarakat Temanggung.

Dari PCNU kami berpindah ke Vihara Cahaya Sakti, tempat ibadah umat Buddha, lalu diteruskan ke tempat ibadah Sapta Dharma, salah satu Penghayat Kepercayaan yang beberapa waktu lalu baru saja diakui oleh pemerintah. Sesudah itu kami kembali ke Dusun Krecek untuk melanjutkan kegiatan kami yakni Malam Budaya Nusantara  Sarasehan yang dirangkaikan dengan bedah buku “Ngaji Toleransi” oleh Ahmad Syarif.

(Minggu, 17 Jan 2021) Hari terakhir PTI, kegiatan kami diawali dengan menuju ke Wisata Alam Cerug, tempat yang biasa digunakan oleh umat Buddha yang ada di Dusun Krecek untuk bermeditasi. Disini kami bermeditasi, setelah bermeditasi kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan kami keluar Dusun Krecek, yang secara otomatis mengakhiri kebersaman kami dengan warga Dusun Krecek, terutama dengan keluarga tempat kami menginap. Isak tangis mewarnai pagi ini, perpisahan yang begitu mengharukan dimana kami peserta merasa waktu begitu singkat.

Perjalanan dilanjutkan menuju mata air Jumprit tempat umat Hindu mengambil air yang digunakan untuk upacara keagamaan ketika Hari Raya Waisak. Lalu dilanjutkan ke Wisata Alam Jumprit tempat milik Perhutani yang dikelola oleh Bapak Irwanto dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Hutan Desa.

Kunjungan berikutnya, Kandang Jaran. Kandang Jaran meupakan tempat pembuatan Jaran Kepang atau biasa dikenal dengan Kuda Lumping. Perjalanan kami diakhiri di “Rumah Kita”. Rumah yang dikelola oleh beberapa pemuda Temanggung, disini kami berdiskusi dan menyampaikan apa yang kami alami selama beberapa hari mengikuti kegiatan ini.  Selesai acara di “Rumah Kita” akhirnya kami berpisah, ada yang menggunakan motor menuju Yogyakarta dan ada yang menggunakan bus umum, sedangkan kami tetap menggunakan bus yang disiapkan panitia untuk menuju Stasiun Weleri dan kembali ke Jakarta

Dalam refleksi pribadi, saya menemukan pengalaman baru, ilmu yang baru dan terlebih keluarga baru yaitu keluarga Bapak Suradi, Ibu Partima, dan keluarga Peace Train Indonesia 11. Keluarga yang yang mempunyai satu visi dan misi serta tugas mulia dan tanggung jawab yang berat yakni menjadi agen toleransi dimana kita berada.

Kembali saya mengutip pernyataan dari kawan Richard : “Toleransi bukan untuk dibicarakan tapi untuk dihidupi.” Kami sadar akan hal itu dan konkritnya adalah dipraktekkan. Bahwa untuk menjadi agen toleransi kita harus memulai dari diri sendiri, dengan mengenal diri kita dan apa yang ada pada kita masing-masing sehingga kita boleh dan layak untuk berdamai dengan apa yang baru dan yang tidak ada pada kita. Kedepan dengan menjadi agen toleransi, kita boleh mencontohkan atau mempraktekkan dan menghidupi toleransi itu sendiri melalui tingkah laku kita sehari-hari.

“Merawat Kebinekaan di Era Pandemi” adalah tema PTI 11 ini. MenyebarPandemi Kebinekaan” adalah tujuan kita. Mengikis atau bahkan meruntuhkan sekat-sekat perbedaan adalah tugas kita.

Akhir kata semoga kita boleh menjadi “Cahaya Perdamaian” demi Indonesia baru tanpa perbedaan. Terima kasih Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), terima kasih kakak-adikku dalam keluarga PTI 11. Terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mensukseskan acara ini. Ditunggu keluarga-keluarga baru PTI selanjutnya.

Laurentius Viktorinus Talokon – Alumni PTI 11, Temanggung 2021

Toleransi Memperkuat dan Mengikat 15 Pemuda-Pemudi di Kota Tembakau

Pagi menuju siang di kota 1000 industri, tepatnya di Kota Tangerang aku terbangun dan membayangkan untuk menuju kota tembakau, di Temanggung untuk perjalanan lintas iman yang dinamakan kegiatan Peace Train 11. Setelah bergegas, aku berangkat dengan keyakinan dan doa yang menguatkan untuk mencoba pengalaman sekaligus kegiatan perdana dalam hidupku.

Setelah itu aku sampai di Stasiun Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Aku sudah yakin niatku tidak akan berubah, mungkin aku kelelahan sehingga terlewat, yang seharusnya turun di Stasiun Pasar Senen, aku turun di Stasiun Gang Sentiong.

Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, aku bertemu dengan Kak Isa, beliau yang mengkoordinir massa untuk keberangkatan ke Jakarta-Temanggung. Kemudian aku bertemu Wildan, asal Pontianak, Kiki, asal Tomohon, Oka, Pemuda Hindu asal Jakarta, hingga pace Fak-Fak bernama Bung Richad.

Enam jam perjalanan dalam kereta dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Aku duduk disamping Dini, peserta asal Jakarta, lalu di depanku ada Ine peserta asal NTT, dan Kak Tri peserta dari Pontianak. Selama perjalanan itu kami bertukar pikiran tentang permasalahan pendidikan dan guru. Kami juga banyak bercerita tentang bagaimana kegiatan ini nantinya dan bercerita tentang pengalaman lainnya. Sesampainya di Stasiun Cirebon kami berfoto bersama sebagai dokumentasi kegiatan kami.

Setelah selesai merokok aku dan kawan-kawan langsung bergegas naik ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Aku merasa lapar dan memutuskan pergi ke kantin dan disana tak sengaja bertemu dengan Kak Jojo, salah satu fasilitator Peace Train 11. Kak Jojo bercerita bagaimana pengalaman-pengalamannya ketika mengikuti Peace Train sebelumnya, dimulai dari Peace Train di Bandung, Malang, Wonosobo.

Sesampainya di Stasiun Weleri, kami di jemput panitia dan kawan-kawan dari “Rumah Kita” dengan bus. Mas Adi pendiri “Rumah Kita” di Temanggung, adalah salah satu panitia Peace Train 11. Empat pilar dari “Rumah Kita” yaitu Rumah Belajar Kita, Koperasi KITA, Media Kita, Rumah Zakat KITA. Sesampainya di “Rumah Kita” mencicipi kopi dan jahe khas Kota Temanggung. Setelah beberapa jam di “Rumah Kita” kami melanjutkan lagi perjalanan ke Dusun Krecek. Jalan menuju kesana memakan waktu 1 sampai 2 jam banyak lika liku jalanan yang track nya sangat terjal dan sangat berbahaya menurutku. Disana lah perjalanan lintas iman kita dimulai.

Setelah hampir jam 3 subuh kami sampai di Dusun Krecek kami mesti berjalan sekitar 5 menit untuk ke tempat sekretariat Panitia Peace Train untuk diarahkan sekaligus ada beberapa hal yang dikoordinasikan. Dengan sambutan penuh keramahtamahan hingga kehangatan yang terasa membuatku merasa nyaman untuk yakinkan bahwa perjalanan lintas iman ini akan menjadi pengalaman yang terbaik.

Setelah mendapatkan arahan aku langsung bergegas ke rumah Pak Sarmin. Disana aku bertemu salah satu peserta yang sudah menyusul duluan ke rumah Pak Sarmin. Ahmad Shalahuddin, beliau pemuda Pare-Pare yang sudah lama berkuliah di Yogyakarta. Aku satu rumah dengan Ahmad dan yang menyambut kami adalah Ibu Yati, karena Pak Sarmin, suami Ibu Yati sudah tertidur. Kami kemudian bercerita dan bersilahturahmi. Keramahtamahan Ibu Yati membuatku merasa seperti anak sendiri yang disambut sehabis perjalanan yang jauh.

Setelah minum teh tubruk aku dan Ahmad langsung bergegas ke kamar untuk istirahat walaupun dengan waktu yang singkat. Kami bercerita tentang soal filsafat dan kondisi sosial saat ini dengan lantunan musik sebagai penghantar tidur kami, karena sudah banyak minum kopi tadi.

Tepat pukul 7 pagi aku terbangun dan merasakan dinginnya Dusun Krecek hingga kami mau mandi saja merasa takut karena air nya seperti es batu yang sangat dingin sekali. Pukul delapan sampai pukul sembilan kami mencoba memberanikan diri untuk mandi, kemudian sarapan, dimana sarapan itu sudah disiapkan Ibu Yati. Setelah itu kami langsung ke sekretariat untuk berkumpul untuk mendapatkan arahan mengenai kegiatan kami hari ini.

Momen paling menyenangkan ialah saat kami menaiki mobil bak terbuka walaupun sensasinya agak sedikit menegangkan tapi itu sangat menyenangkan karena kita bisa melihat alam sekitar hingga menghirup udara Dusun Krecek yang masih sangat bersih.

Destinasi pertama kami di Gereja Katolik Santo Yusup, satu hal yang ku ingat dan menjadi ketertarikan ku ialah Romo di Gereja Katolik tersebut memilik nama Romo Ibnu Fajar Muhammad. Hal ini menjadi menarik karena beliau memiliki nama yang unik. Gereja Katolik Santo Yusup juga gereja yang tak luput dari sejarah yang begitu panjang, salah satunya yang memberkati gereja ini adalah Mgr. Soegijopranoto, salah satu pahlawan indonesia.

Selepas dari gereja kita beranjak ke PCNU Kabupaten Temanggung. Sebelum acara dimulai kita makan siang di PCNU dengan khas makanan Temanggung, yang sangat enak. Tidak lupa setelah makan siang kita berlanjut untuk mendengarkan pengarahan sedikit dari Satgas Covid-19 Kabupaten Temanggung. Beliau menghimbau agar kita lebih menjaga jarak dan mencuci tangan serta menggunakan masker. Karena penyebaran Covid-19 di Kabupaten Temanggung sangat masif. Oleh karena itu kita harus berjaga-jaga.

Masih di tempat sama, kami bersiaaran di Radio Santika (96.4 Santika FM), pada siaran kami kali itu kami mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dalam sudut pandang orang muda dan bagaimana kita tetap konsisten dalam merawat kebinekaan di tengah pandemi covid-19 saat ini.

Setelah dari PCNU, kami menuju Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti. Melalui dialog dijelaskan Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti masih tetap konsisten dalam menjalankan kegiatan lintas iman walaupun untuk situasi pandemi kali ini mereka mengurangi aktivitasnya.

Kemudian kami beranjak ke Komunitas Penghayat Kepercayaan Sapto Darmo. Jaraknya memang sangat jauh, dan perjalanan kami sempat diguyur hujan. Tapi niat kami tidak terurungkan oleh keadaan disana di Komunitas Sapto Darmo kami melakukan dialog seperti, bagaimana persebaran pertama kali di Kabupaten Temanggung dan siapa yang menyebarkannya. Hal itu menjadi pengalaman baru lagi bagi saya setelah sebelumnya mengetahui Komunias Penghayat Kepercayaan yaitu Sunda Wiwitan, dimana para penganut Kepercayaan dulu pernah tidak diakui oleh negara dan bersyukur hari ini mereka sudah diakui oleh negara.

Agenda terakhir, malma harinya kami dengan mendengarkan bedah buku Gus Yahya yang berjudul “Ngaji Toleransi” satu hal yang bisa saya simpulkan dalam bedah buku tersebut, bahwa toleransi harus mengikat kita walauapun suku agama kita berbeda tetapi bahasa kemanusiaan itu penting agar cinta dan toleransi itu bisa mengikat kita semua.

Setelah bersantap malam dan berfoto saya berjumpa dengan Ahmad lagi untuk kembali ke tempat istirahat karena kami sudah lelah, dan harus persiapan di hari esok.

Saya terbangun karena kaget dan merasa kedinginan, jam menunjukan pukul 5, bertepatan dengan kegiatan kami yang memang dimulai pada jam itu. Saat saya keluar kamar, saya melihat Bu Yati sedang menyiapkan dagangannya, bubur. Saya tidak ingin berdiam diri dan memutuskan untuk membantu Ibu Yati. Selesai membantu Ibu Yati saya melakukan sedikit pemanasan sebelum berangkat menuju curug untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

Perjalanan menuju curug lumayan licin tapi tidak menyulutkan semangat saya ke curug untuk bermeditasi. Jarak ke curug memakan waktu berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Saya merasa beruntung walau sedikit lelah tapi lelah saya terobati karena mendengar curahan air terjun yang membuat hati saya tenang dan teduh. Kemudian saya beserta teman-teman lainnya mencoba untuk bermeditasi. Walaupun saat meditasi saya merasa agak sedkikit capek, tapi saya tetap bisa fokus saat melakukan meditasi.

Selesai bermeditasi kami berdiskusi dan berfoto, darisana kami kembali ke rumah tempat menginap untuk berkemas dan melanjutkan kegiatan selanjutnya. Jujur aku sedih karena waktu interaksiku dengan Pak Sarmin dan Ibu Yati sangat singkat.

Saya sangat bersyukur dalam tiga hari yang singkat itu saya diterima dengan baik dan sudah dianggap anak sendiri oleh Pak Sarmin dan Ibu Yati. Saya pun sempat bertanya dengan anak Pak Sarmin, David namanya. Saya bertanya apa cita-cita David, jawabnya “Ingin menjadi gamers dan youtubers” membuatku merasa agak tergelitik tapi itulah cita citanya yang nyata.

Mobil bak sudah siap dan kami harus pergi. Destinasi selanjutnya ke Air Mata Umbul Jumprit, kawasan mata air yang terletak di Lereng Gunung Sindoro, disana banyak sekali binatang monyet. Air Mata Umbul Jumprit bisa diambil airnya untuk diminum, dan biasanya Air Mata Umbul Jumprit digunakan untuk Hari Raya Waisak di Candi Borobudur.

Beranjak dari Umbul Jumprit kita ke Wisata Alam Jumprit atau biasa disebut Wapitt. Udaranya dan embunnya sangat terasa karena di bawah kaki Gunung Sindoro. Disana sangat dingin ditambah curah hujan yang gerimis. Salah satu pemilik Wapitt ialah mantan bupati Kabupaten Temanggung. Kami berdiskusi dengan beliau terkait potensi pengembangan usaha nya dan juga melihat bagaiamana fenomena pandemi ini apakah sangat berpengaruh dalam pengembangan sektor pertanian dan rekreasinya.

Selesai diskuis kami kembali bersantai dan sekaligus santap makanan khas Temanggung. Saya paling suka makan nasi gono dan saya hampir nambah 3 kali, nasi gono enak sekali, dengan campuran suwir ikan, ayam, ditambah tempe itu sangat nikmat.

Setelah dari Wapit, segera kami bergegas ke Kandang Jaran, dimana Kandang Jaran ini ciri khas kesenian Kabupaten Temanggung dan yang sangat saya banggakan atas kesenian ini tetap berjalan walaupun disituasi pandemi. Kanang Jaran milik Temanggung sangat variatif dan unik.

Perjalanan berakhir di “Rumah Kita” disana kami diberi pengarahan, serta melakukan sharing atas perjalanan yang sudah kami lalui.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Saya yakin alumni Peace Train 11 disetiap langkah mereka, mereka akan selalu optimis mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dan bukan sekedar itu saja tetapi juga melakukan hal itu menjadi tindakan yang nyata.

Akhirnya kami pergi meninggalkan Kabupaten Temanggung untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.

Satu hal yang saya bisa ambil dari perjalanan ini, kebersaman akan timbul dalam bingkai keberagaman bila kita saling toleransi satu sama lain dan bahasa kemanusiaan juga harus tetap terjaga tanpa memandang agamamu apa, sukumu apa..

_Janeiro Subiyanto Manuhua, Alumni Peace Train Indonesia 11

Hatiku Tertanam di Bumi Temanggung

Pagi itu tepat pukul 5 saat fajar menyingsing aku bergegas pergi ke Bandara Supadio Pontianak untuk melakukan sebuah perjalanan menlintasi pulau tempat tinggalku ke Pulau Jawa tepatnya daerah Temanggung. Pesawatku terjadwal pukul 8.10 sebelum itu aku melakukan Rapid Test Antigen sebagai salah satu syarat untuk naik pesawat karena pandemi yang tak berkesudahan ini, cuaca cerah saat aku terbang di ketinggian dan aku melihat berbagai pemandangan menakjubkan dari atas langit, awan putih yang mempesona dihiasi dengan warna kuning kemerahan cahaya matahari hingga aku terlelap tidur di pesawat.

Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta aku beranjak melalui beberapa koridor bandara menuju pintu keluar. Namun, sesampainya di tengah perjalanan terdapat pengecekan E-Hac, aku pun terbelalak karena kuota yang sudah ku isi semalam sebelum berangkat tidak bisa terpakai, pada saat itu aku bingung untuk mencari paket data internet lalu ada seseorang yang mungkin umurnya dibawahku sedang mengisi data E-Hac, aku pun meminta bantuan untuk berbagi jaringat internet (Tethering), dia dengan senang hati mempersilakan aku menggunakan jaringan internetnya untuk beberapa menit.

Jam menunjukkan pukul 10.30 setelah selesai memverifikasi E-Hac aku pergi menuju lantai 2 bandara untuk menaiki Shuttle Bus tujuan Stasiun Bandara, saat aku menaiki bus aku bersampingan dengan seseorang yang berasal dari Yaman. Dia terkejut saat aku menggunakan bahasa Arab untuk beberapa percakapan dan selebihnya aku menggunakan bahasa Inggris, sesampainya kami di Stasiun Bandara kami beranjak memesan tiket dengan tujuan Stasiun Manggarai. Pada saat di Stasiun Bandara aku bertemu dengan salah satu peserta kegiatan (Peace Train indonesia) yang berasal dari Tomohon, Laurensius namanya atau biasa dipanggil Kiki. Kereta kami berangkat pukul 11.27, saat dalam perjalanan kami pun berbincang sedikit mengenai di mana kami akan turun, tenyata Kiki memesan tiket tujuan Stasiun Duri dan aku tujuan Stasiun Manggarai.

Pada akhir percakapan kami putuskan untuk turun di Stasiun Manggarai, Kiki sudah siap untuk menambah biaya tiket yang dipesannya. Sesampainya kami di Stasiun Manggarai, aku terkejut tidak ada tindakan berarti dari pihak Stasiun mengenai tiket Kiki, aku pun merasa sedikit menyesal karena memesan tiket tujuan Stasiun Manggarai dengan biaya 70 ribu sedangkan tujuan Stasiun Duri hanya 50 ribu, terlepas dari itu semua orang Yaman yang kutemui pamit untuk beranjak melanjutkan perjalanan dengan tujuan Stasiun Tebet menggunakan kereta. Aku dan Kiki juga melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kembali dengan tujuan Stasiun Pasar Senen.

Kami tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 12an, aku dan Kiki pun memutuskan untuk makan siang bersama di area Stasiun sambil menunggu beberapa peserta dan panitia berkumpul. Setelah makan kami bergegas berkumpul dengan beberapa peserta dan panitia kegiatan untuk melakukan Opening Ceremony pelepasan peserta Peace Train Indonesia di salah satu ruangan di Stasiun.

Sore sudah mulai meredup, arlojiku juga sudah menunjukkan pukul 16.15 tepat di saat aku sedang mengikuti acara pelepasan peseta kegiatan untuk menuju gerbong perjalanan yang jauh. Mataku sudah tak lagi bisa menahan kantuk setelah melalui perjalanan panjang dari Pontianak menuju Jakarta. Momen yang sudah kutunggu sejak lama untuk mengikuti perjalanan di luar tempat tinggalku, hingga tercapailah hari ini. Hari dimana aku mengikuti kegiatan Peace Train Indonesia yang ke-11, semua lelah di sekujur tubuhku selama perjalanan terbayarkan dengan bertemu orang baru dan menikmati perjalanan bersama menuju Stasiun Weleri yang memakan waktu 6 jam perjalanan, kuabadikan semua di kameraku.

Di dalam kereta aku berbincang-bincang dengan beberapa peserta untuk menghilangkan penat, saat kereta berhenti di Stasiun Cirebon aku dan beberapa peserta turun untuk meregangkan otot-otot kami setelah lama duduk di dalam kereta untuk melakukan sesi foto bersama, aku, Kiki dan Berto merokok setelah sesi foto. Beberapa menit kemudian kereta melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perjalanan panjang kami akhirnya sampai Stasiun Weleri dengan disambut panitia yang sudah bersiaga di lokasi dan kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan bis menuju Dusun Krecek yang memakan waktu 3-4 jam perjalanan.

Melewati beberapa jalur curam menggunakan bis, aku sedikit takut dan mabok karena dinginnya AC bis dan hawa dingin di Temanggung. Aku akui supirnya jago banget ngelewati jalur yang cuma untuk satu mobil, bagaimana tidak supir bis begitu lihai mengendarainya tentu dengan asas keselamatan kami wkwk. Subuh bertemu subuh, ungkapan yang bisa aku katakan karena perjalananku hampir memakan waktu 24 jam akan tetapi dari semua itu terbayarkan sudah dengan sambutan hangat warga Dusun Krecek yang menyambut kami dengan ginseng panas, cocok untuk hawa dingin yang menyelimuti Dusun.

Kami diinapkan di beberapa rumah warga, 1 rumah terdapat 2 orang peserta. Aku bersama dengan Richard atau biasa dipanggil Pace peserta dari Fakfak yang berkuliah di Jakarta, kami menginap di rumah pak Supriyanto. Beliau orangnya asik di ajak ngobrol dan supel sekali bung, sebelum tidur kami berbincang sedikit mengenai Dusun Krecek dengan hawa dinginnya yang menusuk sambil menikmati kopi khas Dusun yang di suguhi, setelah beberapa menit berbincang aku dan Pace beranjak pergi ke kamar dan beristirahat.

Pagi yang cerah di Dusun Krecek, kami bangun untuk melanjutkan kegiatan kami berkeliling rumah ibadah yang ada di Temanggung, sebelum pergi kami menikmati teh khas Krecek yang bgitu menyegarkan. Pace berinisiatif untuk mandi duluan, karena lamanya mandi si Pace jadi aku hanya mencuci muka (karena dingin juga jadi malas mandi kwkw). Sesampainya ke tempat berkumpul kami, ternyata kami yang paling terlambat. Para peserta dan panitia sudah menunggu lama.

Kami berangkat menggunakan 2 mobil bak terbuka, jalur yang mendaki dan menurun membuat kami waswas dan berpegang erat pada pinggiran mobil. Namun, dari semua itu pemandangan yang tidak bisa kami lihat di Kota membuat kami having fun di atas mobil. Tujuan pertama kami yaitu Gereja Katolik Santo Petrus Paulus, kami tiba sekitar pukul 11an. Setibanya kami di lokasi kami disambut oleh Romo Fajar, Romo Fajar menjelaskan mengenai Agama Katolik dan Arsitektur Bangunan Gereja yang tampak seperti di bawah jembatan, tujuan dari arsitektur tersebut ialah agar menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan Manusia. Fakta unik mengenai Romo yakni nama lengkapnya yang bernuansa Agama Islam yaitu Romo Ibnu Fajar Muhammad, beliau menjelaskan bahwa namanya tersebut pemberian dari orang tuanya dan mengandung makna dari nama Yesus.

Setelah 1 jam lebih kami berada di Gereja kami melanjutkan perjalanan dengan mengunakan bis ke PCNU (Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama) Kabupaten Temanggung, sesampainya kami di sana kami makan siang terlebih dahulu dengan menu khas Temanggung (aku lupa namanya) dilanjutkan dengan penjelasan mengenai preventif Covid-19 dan New Normal, sehabis beberapa pemaparan kami mengisi radio Santika FM yang masih satu gedung dengan PCNU Temanggung, masing-masing peserta masuk 2 orang pembagiannya. Lalu, kami pun beranjak pergi ke Klenteng Tri Dharma Cahaya Sakti tidak jauh dari lokasi kami sebelumnya untuk menerima pemaparan tentang Agama Konghucu dari mulai cara berdoa hingga sejarah berdirinya Klenteng tersebut.

Lalu setelah selesai mengunjungi Klenteng kami berangkat kembali ke Gereja untuk berganti transportasi menjadi mobil bak terbuka lagi dan melanjutkan perjalanan ke Komunitas Penghayat Sapta Dharma yang merupakan salah satu penghayat yang ada di Temanggung. 1 jam telah berlalu kami pun tiba di lokasi yang terletak cukup jauh dari Gereja, ini pengalaman pertamaku untuk bertemu dengan Komunitas Penghayat Sapta Dharma karena sebelumnya aku tidak tahu sama sekali mengenai Sapta Dharma.

Seharian kami menghabiskan perjalanan untuk mengunjungi tempat ibadah beberapa agama dan penghayat, kami pun beranjak balik ke Dusun Krecek untuk acara malam budaya dan bedah buku Ngaji Toleransi. Dalam kondisi ngantuk dan lelah kami tetap coba untuk bersemangat agar apa yang disampaikan tidak ada yang terlewati, hingga sampai lah di pengujung acara ditutup dengan makan nasi tumpeng bersama. Setelah itu, kami beranjak balik ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Jam menunjukan pukul 5 pagi tepat dimana kegiatan meditasi akan dilangsungkan, kami berkumpul di tempat yang sudah ditentukan semalam. Setelah semuanya berkumpul kami pun pergi ke Curug yang tak jauh dari Dusun Krecek tempat yang biasanya dipakai untuk bermeditasi warga Dusun. Pemandangan dan suasana Curug sangat mendukung kami untuk bermeditasi, setelah 15 menit meditasi satu persatu peserta menceritakan apa yang dibayangkan pada saat meditasi berlangsung. Setelah bermeditasi kami bersiap-siap untuk pergi dari Dusun Krecek karena acara kami di sana sudah berakhir. Aku dan Pace berpamitan dengan orang tua asuh kami di sana, dengan raut wajah sedih di campur bahagia kami salam dengan satu persatu anggota keluarga asih kami.

Kami berangkat menggunakan bis dari Gereja yang kami kunjingi kemarin, tujuan pertama hari ini ialah Wisata Umbul Jumprit yang berlokasi di daerah Jumprit. Air yang segar sejenak melupakan lelah kami selama perjalanan, mata air Umbul Jumprit ini pun merupakan satu-satunya air yang diambil untuk Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Setelah menikmati air segarnya kami beranjak pergi ke Wapitt (Wisata Alam Jumpit Temanggung) yang berlokasi tak jauh dari Umbul Jumprit, disambut dengan pepohonan yang tinggi nan rindang dengan kabut yang menyertainya membuat aku tak tahan ingin segera turun bis dan mengambil beberapa spot foto yang indah nan asri.

Kami turun dengan nuansa alam yang masih alami diiringi dengan suara musik band yang ada di sana, di sana terdapat pepohohan kopi dan strawberry hidroponik yang dikelola oleh mantan Bupati Temanggung. Tujuan dibentuknya Wapitt ialah sebagai pilot projek agar tempat lain yang serupa bisa berkembang menjadi objek wisata untuk Temanggung. Puas dan menyegarkan setelah menimati pesona alam Wapitt kami melanjutkan perjalanan menuju padepokan kuda luping Jaran Kepang. Berbagai kuda lumping yang sudah jadi dapat kami lihat di sini, mulai dari produksi 1950an hingga sekarang ada di sini terawat dengan rapi berjejer di dinding-dinding padepokan.

Akhir perjalanan kami untuk pergi ke Stasiun Weleri ke Stasiun Pasar Senen dan kembali beraktivitas seperti biasa. Jujur perjalanan yang menyedihkan bagiku untuk meninggalkan Temanggung dan seisinya setelah 3 hari berada di sana dengan banyak kesan menarik untuk dikenang.

_Wildan Mubarak – Alumni Peace Train Indonesia 11

Kandang Jaran Temanggung Jadi Destinasi Peace Train

Ada empat tempat yang menjadi tujuan Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung di hari terakhir pada Minggu (17/1). Keempat tempat tersebut adalah mata air Jumprit yang airnya biasa diambil untuk upacara Waisak, Wapitt: destinasi wisata alam di Temanggung, Kandang Jaran: tempat pembuatan Jaran Kepang kesenian khas Temanggung, dan Rumah Kita.

Para peserta mendapat pengetahuan tentang tanaman hidroponik dari Ir. Irawan Prasetyadi, MT., pemilik tempat wisata Wapitt. Selain itu, para peserta juga berdiskusi di Kandang Jaran. Kandang Jaran didirikan tahun 2010 oleh Supriwanto di Dusun Kembang Desa Dlimoyo Kecamatan Ngadirjo. Tahun 1931, pembuatan Jaran Kepang dimulai oleh Sang Mbah kemudian diteruskan oleh Sang Bapak pada tahun 1971. Supriwanto kemudian meneruskannya lagi setelah ia lulus sekolah.

“Membuat Jaran Kepang adalah panggilan jiwa sebab saya suka dengan kesenian Jaran Kepang. Saya ingin Jaran Kepang dikenal banyak orang. Orang-orang kadung tahu bahwa Jaran Kepang dikaitkan dengan mistis, padahal tidak.” Terangnya kepada para peserta.

Saat ini telah berdiri Paguyuban Jaran Kepang Temanggung (PJKT) dari 20 kecamatan pegiat Jaran Kepang dan menjadi trendsetter di wilayah Jawa Tengah. Terkait hal ini, Supriwanto mengaku bahwa alasannya adalah karena Jaran Kepang di Temanggung mengedepankan kreasi, bukan atraksi. Sementara itu, pemasaran Jaran Kepang di Kandang Jaran sudah sampai ke Malaysia.

Richard Riruma, peserta dari Papua menyatakan bahwa Peace Train merupakan langkah yang paling konkret dalam menghidupi toleransi di Indonesia. “Saya punya mimpi bahwa di Papua ada orang Papua yg beragama Hindu, Buddha atau agama-agama lainnya, dan mereka duduk sama-sama menghidupi toleransi.” Tegasya.

Perjalanan Peace Train 11 berakhir di Rumah Kita, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak muda untuk mengadu ide di Dusun Demangan, Kecamatan Ngaderjo, Kabupaten Temanggung.

Adi Budiawan, pengampu Rumah Kita berharap semua peserta bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari kunjungan-kunjungan dan bisa kembali ke Temanggung dengan melaksanakan kegiatan yang sama.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11