Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

Natal dan Keindonesiaan Kita

Oleh Joan Damaiko Udu, OFM

(Biarawan Fransiskan, tinggal di biara St. Antonius Padua, Jakarta)

Pada setiap momen Natal, umat Kristiani merayakan sebuah peristiwa monumental: Allah menjadi manusia. Dalam Injil Yohanes, hal ini diulas secara gamblang, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1); “…Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Injil Yohanes meletakkan pendasaran teologis-biblis yang adekuat tentang peristiwa Natal.

Lantas, mengapa Allah (mau) menjadi manusia? Ini merupakan pertanyaan klise dalam refleksi iman tentang inkarnasi—refleksi iman mengenai peristiwa Allah menjadi manusia. Dalam sejarah, ada banyak pandangan teologis yang merefleksikan pertanyaan tersebut. Namun, dari sekian banyak pandangan, saya terpincut pada refleksi teologis Beato Yohanes Duns Scotus (1266—1308), seorang biarawan dan ahli filsafat-teologi dari Ordo Fransiskan.

Bagi Duns Scotus, pesan yang paling kuat dari Natal adalah kasih. Bahasa Natal tak lain adalah bahasa kasih Allah yang tiada batas kepada manusia. Berbeda dari pendapat tradisional pada masanya yang secara konstitutif mengaitkan inkarnasi dengan penebusan dosa, Duns Scotus menempatkan kasih ilahi sebagai motif inkanasi (Sunarko, 2017: 116). Hemat Scotus, inkarnasi tidak ditentukan oleh dosa Adam; inkarnasi dipandang sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri baik sebab mengalir dari kasih bebas Allah terhadap ciptaan. Maka, jika pertanyaan tadi (mengapa Allah menjadi manusia?) ditanyakan kepada Beato dari Ordo Fratrum Minorum (OFM) ini, sekiranya ia akan menjawab: semata-mata karena kasih dan kehendak ilahi untuk mengomunikasikan diri.

Di sini, inkarnasi tidak dikondisikan oleh fakta jatuhnya manusia ke dalam dosa. Ia selalu merupakan bagian dari rencana Allah sejak keabadian. Inkarnasi tidak dipahami sebagai “koreksi” terhadap tatanan penciptaan yang telah dirusak dosa manusia, tetapi sebaliknya, penciptaan manusia dan dunia merupakan persiapan bagi inkarnasi. Oleh karena itu, pandangan bahwa dosa manusia merupakan pra-kondisi bagi inkarnasi ditolak oleh Duns Scotus.

Natal dan Konkretisasi Kasih

Dari pandangan Scotus itu, kita bisa melihat bagaimana kasih ilahi itu bekerja dalam peristiwa Natal. Tentu hanya karena kasih, Putra Allah mau mengosongkan diri, meninggalkan segala atribut kemuliaan-Nya, dan mengambil rupa manusia yang kecil dan sederhana. Ia lahir di lingkungan kumuh, di kandang yang hina, cuma dibalut kain lampin, dalam suasana dingin dan sepi, tanpa ritual penyambutan yang meriah serta jauh dari sorotan media. Bahkan, kelahiran-Nya diawali dengan kisah pahit: Maria dan Yusuf, orang tuanya, ditolak di rumah-rumah di Betlehem.

Lebih ngeri lagi, Herodes Agung, raja yang lalim dan kejam, menyambut-Nya dengan ancaman pembunuhan. Tidak seperti raja-raja lain di dunia ini, yang disambut dengan semarak dan dieluk-eluk dengan gemuruh sorak-sorai, Yesus, Sang Putra Allah yang hidup, justru mendapat penolakan dan ancaman teror. Warta Kebenaran yang dibawa-Nya mendapat aral yang berat, tetapi justru untuk itulah Ia datang ke dunia (bdk. Yoh 18: 37). “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh 4: 9). Semata-mata karena kasih, seperti dikatakan Duns Scotus tadi, Putra Allah mau menjadi salah satu di antara kita melalui cara yang miskin dan dina. Inilah esensi atau pesan terkuat dari Natal.

Pesan Kasih untuk Indonesia

Pesan kasih, yang menjadi esensi Natal, menurut saya, sangat relevan dan kontekstual untuk kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini. Dalam kondisi bangsa yang carut-marut seperti sekarang, bahasa kasih itu perlu dikobarkan lagi. Di tengah menguatnya segregasi sosial, primordialisme sempit, sentimen SARA, hujat-menghujat, dan korupsi, kita dituntut untuk menumbuhkan kembali kasih yang tulus dalam hati masing-masing agar kita tetap kuat sebagai satu bangsa.

Bahasa kasih mesti mewarnai kehidupan bersama di masyarakat. Bahasa kasih, berupa kelembutan, keramahan, kesabaran, kemurahan hati, tidak menaruh dengki dan iri hati, serta tidak sombong dan memegahkan diri (bdk. 1 Kor 13: 4), memampukan kita untuk hidup berdampingan dan bersaudara satu sama lain, saling menghormati, bersolider, dan senasib-sepenanggungan dengan sesama warga negara-bangsa. Kasih menjadi bahasa universal yang mengatasi sekat-sekat suku, agama, ras, dan golongan, serta memperkuat ikatan kolektif kita sebagai bangsa yang besar.

Semangat kasih akan menggerakkan kita untuk selalu akrab dengan kebenaran sejati. Di tengah masifnya penyebaran berita abal-abal (hoax) di negeri ini, yang sering mengancam kohesi sosial kita sebagai satu bangsa, keakraban dengan nilai-nilai kebenaran itu sangat dibutuhkan. Kesetiaan pada apa yang baik dan benar diharapkan manjadi kekuatan dalam kehidupan bersama sehingga teror-teror mutakhir seperti hoax dapat dibendung. Dengan demikian, Natal dapat sungguh meng-Indonesia dan memberi energi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.

Momen Natal harus menjadi tanda kelahiran baru kita sebagai manusia Indonesia. Saling mengasihi-menghormati-menghargai, empati, dan solidaritas sosial mesti menjadi jiwa bangsa ini. Lunturnya nilai-nilai tersebut hanya akan membuat kita terus bertikai, terkotak-kotak, saling menghujat dan memfitnah, larut dalam dendam dan kebencian, dan sibuk mengejar kepentingnan diri masing-masing. Tiadanya semangat kasih dan solidaritas membuat orang sulit mengosongkan diri dan melayani sesama sehingga yang diperjuangkan akhirnya hanya kepentinggan dan kemuliaan diri sendiri, kadang dengan cara apa saja. Kekuasaan dimanfaatkan, kekerasan dihalalkan, agama dimanipulasi, dan uang menjadi pelicinnya. Maka, tak pelak, korupsi pun terus bertumbuh subur.

Fenomena semacam ini jelas ironis karena de facto, di negeri ini, hampir semua orang mengaku beragama, bahkan sering merasa paling religius dari yang lain. Akan tetapi, faktanya, agama belum sungguh-sungguh memberi efek yang signifikan dalam kehidupan sosial, bahkan sebaliknya, lebih sering dipolitisasi dan akhirnya menjadi bumerang dalam kehidupan bersama. Di tengah situasi krusial seperti ini, semangat kasih, pengosongan diri, dan solidaritas sosial, yang menjadi pesan Natal, mutlak ditumbuhkan agar kehidupan bersama kita sebagai satu bangsa tetap utuh dan kuat. Selamat Natal! (Ed. Melkior Sedek)

Seputar Tafsir Historis Kritis Biblika

Studi-studi tafsir biblis (ekseget) dalam lingkungan Kekristenan, khususnya Gereja katolik, bukan lagi sebuah hal baru. Artinya, kegiatan berkaitan dengan penafsiran diberi ruang dan bahkan beberapa cendikiawan menekuninya hingga meraih gelar tertentu. Tulisan ini bertujuan memberikan sedikit gambaran mengenai salah-satu metode tafsir biblis dalam Kekristenan khususnya Gereja Katolik. Di sini, saya tentunya tidak hadir sebagai seorang ahli.

Saya hanya ingin menunjukkan esensi dari metode tafsir historis kritis, yang kiranya dapat memperluas wawasan baik bagi umat Kristiani maupun non-Kristiani. Harus diakui, metode tafsir historis kritis ini pun tidak dikenal secara menyeluruh bagi umat Kristiani. Saya dapat menjamin jika hal ini saya jelaskan bagi seorang awam (umat biasa), dia akan sulit memahami atau menilainya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman.

Meskipun demikian, metode ini diakui oleh Gereja Katolik sebagai salah-satu cara untuk memperdalam teks tertentu atau Alkitab secara keseluruhan. Adapun beberapa esensi atau maksud dari metode tafsir ini. Pertama, Kitab Suci diposisikan sebagai buku refleksi orang-orang beriman. Hal ini tentu akan berimplikasi pada eksistensi dari Kitab Suci sebagai buku yang ditulis oleh-oleh orang-orang yang mendapat ilham dari Allah sendiri.

Akan tetapi, penekanan bahwa penulis mendapat ilham dari Allah tidak begitu ditekankan, dalam arti, penulis tetap berperan dalam isi dari teks tertentu. Misalkan saja, adanya dua tradisi dalam Perjanjian Lama, yaitu tradisi elohis dan yahwis. Tradisi elohis berisi berbagai kisah dari Kerajaan Israel Utara, sedangkan tradisi yahwis didominasi oleh cerita dari Kerajaan Israel Selatan (Yehuda).

Kitab Suci adalah buku yang berisi refleksi orang beriman, sehingga dalam arti tertentu, kisah-kisah yang termuat di dalamnya bukanlah fakta historis. Misalnya, kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian. Kisah ini bukanlah kisah historis, karena dari segi sejarah Kitab Kejadian ditulis pada saat pembuangan bangsa Israel di Babilonia. Kitab Kejadian ditulis dalam konteks usaha reflektif umat Israel dalam mengharapkan sebuah tatanan harmoni, sehingga tidak terus-menerus dalam keadaan kacau-balau dalam pembuangan.

Meskipun demikian, Kitab Suci termasuk pula buku historis. Sebagian besar Perjanjian Lama menceritakan sejarah bangsa Israel. Berkaitan dengan tulisan reflektif orang beriman, kisah-kisah ajaib dalam cerita bangsa Israel dilihat sebagai upaya penulis untuk menonjolkan kebesaran Allah.

Dalam metode historis kritis, kisah penyeberangan di laut merah, dipahami hanyalah sebagai gejala alam di mana suatu saat air laut mengalami pasang surut.
Keadaan demikian, secara tidak langsung membantu orang Israel agar luput dari kejaran pasukan Firaun. Demikian kisah ajaib lainnya seperti: “Tuhan mengirimkan burung puyut dan roti manna”.

Secara historis kritis, peristiwa ini hanyalah sebuah gejala alam di mana pada suatu ketika adanya rombongan burung yang melakukan imigrasi dan hal itu menyebabkan burung-burung itu kelelahan dan jatuh di sekitar rombongan bangsa Israel yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju Kanaan.

Para penulis atau bangsa Israel sering menempatkan gejala alam sebagai tanda penyertaan Allah ataupun sebagai hukuman dari Allah. Namun tetap diperhatikan bahwa pesan dibalik kisah itulah yang paling penting dibandingkan dengan perdebatan benar dan salahnya sebuah kisah. Allah sebagai Sosok Yang Maha Besar itulah yang menjadi penekanan penulis di mana Allah “berkarya” dalam tanda-tanda alam. Allah yang selalu melindungi dan memberkati bangsa-Nya

Selain itu, alamat yang ditujukan penulis bukan lagi orang-orang yang mengalami peristiwa ajaib itu tetapi bagi orang sesudahnya. Itu artinya, konteks waktu Kisah atau kitab tertentu ditulis sangat menentukan isi dan relevansi bagi zaman itu.
Ketiga, metode historis kritis “berlawanan” dengan keyakinan teologis yang memandang secara harafiah semua kisah dalam Alkitab.

Misalnya saja, keduabelas suku Israel itu adalah 12 suku di tanah Kanaan di mana awalnya mereka tidak mengenal satu sama lain. Lalu untuk menyatukan mereka, dibuatlah sebuah kisah yang menceritakan bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mulai dari Abraham hingga keduabelas anak Yakub.

Cerita itu dapat menyatukan mereka dan menjadi “bukti” bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Abraham.

Relevansi Metode Historis Kritis

Bagi teman-teman non-kristiani tentu hal ini sulit terpikirkan ataupun bagi orang kristiani yang tidak terbiasa dengan metode historis kritis. Pertanyaan lanjutannya adalah apakah dengan demikian Alkitab tidak memiliki nilai kebenaran atau metode ini dapat mengurangi kadar iman seseorang?

Seperti telah disinggung di atas, Alkitab tidak dapat secara penuh dipandang sebagai kisah historis belaka atau kisah tentang keajaiban yang dialami umat manusia. Memandangnya sebagi buku reflektif orang beriman kiranya lebih tepat sehingga dapat menyeimbangkan dua kecendrungan baik sebagai buku historis atau buku yang menceritakan kisah-kisah ajaib.

Selain itu, apakah dengan demikian kadar kesejarahan Alkitab hilang begitu saja? Saya pikir tidak. Penulis setiap kitab dalam Alkitab itu berpijak pada waktu tertentu atau masyarakat tertentu. Artinya, dia tidak sedang membuat tulisan fiksi belaka namun tetap menyelipkan pesan melalui refleksi terhadap kejadian tertentu dan itu ditujukan untuk sekelompok umat tertentu pada zamannya. Jadi dengan demikian, Alkitab bukanlah cerita fiksi.

Metode historis kritis dapat membantu kita untuk memahami pesan-pesan dibalik kisah-kisah biblis dalam konteks zaman di mana kisah itu terjadi atau ditulis. Situasi sosial dan kultural masyarakatnya sangat berpengaruh pada teks. Dengan demikian, menyamakan zaman teksi ditulis dengan zaman sekarang merupakan kesalahan yang mesti diperbaiki. Kita pun akhirnya tidak menjadi orang beriman yang terikat pada zaman tertentu.

Manusia yang utuh adalah dia yang selalu terbuka akan realitas zaman yang sedang dihidupinya. Tidak bermaksud untuk menghapus nilai-nilai kebenaran biblis, kisah-kisah biblis penuh makna dan pesan moral yang tidak dipahami secara literatur saja. Maka berbagai metode hermeneutika dapat membantu kita untuk menyelami sejuta makna itu salah-satunya adalah metode historis kritis. Semoga!

Melkior Sedek, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Menolak Ide Khilafah. Sumber Gambar: Kompasiana

[:id]Menolak Ide Khilafah[:]

[:id]Oleh: Moh Mahfud MD

Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.

Saat itu, teman saya, Prof Zainuri yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam forum tersebut dan saya diminta berbicara seputar ”Konstitusi bagi Umat Islam Indonesia”.

Pada saat itu saya mengatakan, umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.

Saya mengatakan pula, di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.

SISTEM NEGARA PANCASILA
Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku.

Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai mietsaaqon ghaliedzaa atau kesepakatan luhur bangsa.

Penjelasan saya yang seperti itulah yang memicu pernyataan aktivis ormas Islam dari Blitar itu dengan meminta saya untuk bertanggung jawab dan membuktikan bahwa di dalam sumber primer Islam tidak ada sistem politik dan ketatanegaraan. Atas pernyataannya itu, saya mengajukan pernyataan balik. Saya tak perlu membuktikan apa-apa bahwa sistem pemerintahan Islam seperti khilafah itu tidak ada yang baku karena memang tidak ada.

Justru yang harus membuktikan adalah orang yang mengatakan, ada sistem ketatanegaraan atau sistem politik yang baku dalam Islam. ”Kalau Saudara mengatakan bahwa ada sistem baku di dalam Islam, coba sekarang Saudara buktikan, bagaimana sistemnya dan di mana itu adanya,” kata saya.

Ternyata dia tidak bisa menunjuk bagaimana sistem khilafah yang baku itu. Kepadanya saya tegaskan lagi, tidak ada dalam sumber primer Islam sistem yang baku. Semua terserah pada umatnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman.

Buktinya, di dunia Islam sendiri sistem pemerintahannya berbeda-beda. Ada yang memakai sistem mamlakah (kerajaan), ada yang memakai sistem emirat (keamiran), ada yang memakai sistem sulthaniyyah (kesultanan), ada yang memakai jumhuriyyah (republik), dan sebagainya.

Bahwa di kalangan kaum Muslimin sendiri implementasi sistem pemerintahan itu berbeda-beda sudahlah menjadi bukti nyata bahwa di dalam Islam tidak ada ajaran baku tentang khilafah. Istilah fikihnya, sudah ada ijma’ sukuti (persetujuan tanpa diumumkan) di kalangan para ulama bahwa sistem pemerintahan itu bisa dibuat sendiri-sendiri asal sesuai dengan maksud syar’i (maqaashid al sya’iy).

Kalaulah yang dimaksud sistem khilafah itu adalah sistem kekhalifahan yang banyak tumbuh setelah Nabi wafat, maka itu pun tidak ada sistemnya yang baku.

Di antara empat khalifah rasyidah atau Khulafa’ al-Rasyidin saja sistemnya juga berbeda-beda. Tampilnya Abu Bakar sebagai khalifah memakai cara pemilihan, Umar ibn Khaththab ditunjuk oleh Abu Bakar, Utsman ibn Affan dipilih oleh formatur beranggotakan enam orang yang dibentuk oleh Umar.

Begitu juga Ali ibn Abi Thalib yang keterpilihannya disusul dengan perpecahan yang melahirkan khilafah Bani Umayyah. Setelah Bani Umayyah lahir pula khilafah Bani Abbasiyah, khilafah Turki Utsmany (Ottoman) dan lain-lain yang juga berbeda-beda.

Yang mana sistem khilafah yang baku? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah produk ijtihad yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Ini berbeda dengan sistem negara Pancasila yang sudah baku sampai pada pelembagaannya. Ia merupakan produk ijtihad yang dibangun berdasar realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, sama dengan ketika Nabi membangun Negara Madinah.

BERBAHAYA
Para pendukung sistem khilafah sering mengatakan, sistem negara Pancasila telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan. Kalau itu masalahnya, maka dari sejarah khilafah yang panjang dan beragam (sehingga tak jelas yang mana yang benar) itu banyak juga yang gagal dan malah kejam dan sewenang-wenang terhadap warganya sendiri.

Semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang. Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, kan, soal implementasi saja. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengimplementasikannya

Maaf, sejak Konferensi Internasional Hizbut Tahrir tanggal 12 Agustus 2007 di Jakarta yang menyatakan ”demokrasi haram” dan Hizbut Tahrir akan memperjuangkan berdirinya negara khilafah transnasional dari Asia Tenggara sampai Australia, saya mengatakan bahwa gerakan itu berbahaya bagi Indonesia. Kalau ide itu, misalnya, diterus-teruskan, yang terancam perpecahan bukan hanya bangsa Indonesia, melainkan juga di internal umat Islam sendiri.

Mengapa? Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasar Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya.

Oleh karena itu, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Ini yang harus diperkokoh sebagai mietsaaqon ghaliedzaa (kesepakatan luhur) seluruh bangsa Indonesia. Para ulama dan intelektual Muslim Indonesia sudah lama menyimpulkan demikian.

MOH MAHFUD MD
Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013.[:]

Mengenal apa itu scientology

[:id]Mengenal Apa Itu Scientology? [:]

[:id]

Anggota Scientology dilampung belajar tentang dianetik. Sumber: Ady

Anggota Scientology dilampung belajar tentang dianetik. Sumber: Ady

Oleh: Ady and Friends*

Scientology , gerakan keagamaan asal Amerika Serikat ini sempat dikenal oleh masyarakat indonesia paska beredarnya gosip  kabar perceraian antara Tom Cruise dan Katie Holmes pertengahan tahun lalu  yang katanya diakibatkan oleh campur tangan Scientology dirumah tangga mereka, memang Tom Cruise dan katie holmes sendiri sebelum mereka bercerai adalah artis yang tergabung dalam Scientology namun belakangan  beredar kabar jika Katie Holmes hengkang dari Scientology dan para penganut Scientology pun meanggapnya sebagai musuh akibat perilakunya yang katanya tidak sopan.

Memang Scientology sangat berkaitan erat dengan kehidupan banyak artis Hollywood dan seperti tipikal kehidupan artis apapun yang melekat dengan kehidupan artis tersebut termasuk hal personalnya dalam hal ini agama turut ikut diberitakan.beberapa artis Hollywood yang merupakan bagian dari Scientology adalah Tom Cruise, John Travolta, Christiane Alley, Will smith, dan belakang Justin bieber dikaitkan dengan Scientology selain itu masih banyak lagi artis Hollywood lainnya yang sedikit kurang dikenal di ranah publik indonesia yang juga bergabung dengan Scientology bahkan di Hollywood didirikan Celebrity center, sebuah pusat spiritual khusus bagi pekerja hiburan dijantung Hollywood.

Nama Scientology yang dikenal melalui gosip para artinsya ini  membuat  beberapa Televisi lokal mengulas tentang gerakan keagamaan yang satu ini kemudian disusul dengan artikel yang diupload banyak blog baik pribadi maupun kelompok tentang Scientology , namun seperti biasanya tipikal masyarakat indonesia yang cenderung lebih banyak mengetahui sesuatu tidak dari sumber langsungnya banyak dari pemberitaan tersebut hanyalah Hoax semata, seperti anggapan jika Scientology mempercayai alien, menculik orang, hanya untuk selebrity  ,ataupun anggapan jika Scientology adalah pecahan dari gereja kristen.

Saya katakan disini adalah Hoax karena sebagai individu yang sudah mengetahui tentang Scientology dari interaksi saya langsung dengan anggotanya, berkerja bersama dengan anggotanya, dan membaca buku serta informasi yang benar dari situs yang netral sejak tahun 2016 bahkan menjadi bagian keanggotaan Scientology sendiri membuat saya harus meluruskan kesalahpahaman yang selama ini dituliskan dan disebarkan lewat dunia maya tentang Scientology sendiri.

Scientology didirikan oleh penulis science fiksi terkenal asal Amerika serikat bernama L.Ron Hubbard kisahnya bermula pada tahun 1929 saat L.Ron Hubbard muda memulai studinya tentang pikiran dan jiwa manusia, kemudian menghasilkan karya pertamanya berjudul “ Excalibur”, ditahun 1938. Dalam karya yang tidak dipublikasikan inilah, kata Scientology pertama kali muncul untuk menggambarkan apa yang disebut Mr. Hubbard sebagai “studi tentang mengetahui bagaimana cara mengetahuinya.” Dia memutuskan untuk tidak menerbitkan bukunya karena fakta, “‘Excalibur’ tidak mengandung terapi apapun. Tapi hanya diskusi tentang komposisi kehidupan. Akibatnya L ron Hubbard berkata dalam Autobiograpinya berjudul Ron series ,” saya memutuskan untuk melangkah lebih jauh. ”

Dan langkahnya tersebut membuat terciptanya Dianetics, subjek yang diperkenalkan ke dalam bidang yang lebih luas dari Scientology untuk memberikan terapi sebenarnya yang mudah  diaplikasikan oleh orang diseluruh duni. Jadi, pada tahun 1947, dia menulis sebuah manuskrip yang merinci penemuan-penemuan inti dari Dianetics. Meski tidak terbit saat itu, manuskrip tersebut beredar di kalangan teman dan kolega, yang menyalinnya dan menyebarkannya kepada orang lain. (Karya ini akhirnya diterbitkan pada tahun 1951 sebagai Dianetics: Original Thesis.)

Ketika salinan manuskrip itu terus beredar, Mr. Hubbard mulai menerima banyak surat yang meminta informasi lebih lanjut.kemudian  dia segera menyadari jika  dirinya menghabiskan seluruh waktunya untuk menjawab surat-surat yang ditujukan kepadanya  sehingga kemudian dia  memutuskan untuk menulis teks komprehensif tentang masalah ini yang berjudul Dianetics : Ilmu pengetahuan modern tentang kesehatan mental.

Diluncurkan pada tanggal  9 Mei 1950, buku tersebut memicu badai antusiasme populer, dan segera masuk kedalam daftar buku terlaris dunia versi  New York Times dan berada didaftar  iselama 28 minggu berturut-turut. Dengan demikian, buku itu merupakan buku penjualan terbesar yang pernah ada dalam sejarah  dan tetap demikian sampai sekarang. Yang terkandung di dalamnya adalah penemuan pikiran reaktif – sumber mimpi buruk yang tersembunyi, ketakutan yang tidak masuk akal, gangguan dan ketidakamanan.

Namun L. Ron Hubbard tidak pernah menganggap Dianetics sebagai akhir dari penelitiannya, namun, sebuah batu loncatan untuk menemukan dan mengisolasi sumber kehidupan lama yang ilusif. Dan memang, teknik-teknik Dianetik menyediakan sarana yang dengannya para praktisi segera menemukan kehidupan lampau. Menekankan aplikasi dan penelitian lebih jauh lagi, pencapaian dari apa yang dikenal sebagai eksteriorisasi – menunjukkan jika Roh yang didalam Scientology disebut Thetan  memang terpisah dari  tubuh dan pikiran: disinilah Aliran Spiritual  Scientology lahir.

Cara kerja dianetik sendiri sangat unik, Dalam Dianetics: Ilmu Kesehatan Mental Modern, L. Ron Hubbard menulis: “Sumber penyimpangan telah ditemukan sebagai sub-pikiran yang sampai sekarang tak terduga, yang lengkap dengan rekamannya sendiri, mendasari apa yang dipahami oleh Manusia kemudian ‘sadar’ akan  pikirannya . Konsep akal bawah sadar digantikan oleh Dianetika oleh penemuan bahwa ‘pikiran bawah sadar’ adalah satu-satunya pikiran yang selalu sadar. Dalam Dianetik, sub-pikiran ini disebut pikiran reaktif. ”

Pikiran reaktif tidak menyimpan kenangan seperti yang kita kenal. Ini menyimpan beberapa jenis gambar – gambar mental yang disebut engrams. Engram adalah rekaman lengkap, sampai ke detail akurat terakhir, dari setiap persepsi yang hadir pada saat sebagian atau keseluruhan “ketidaksadaran” akibat pengalaman menyakitkan. Menurut dianetik manusia tidak bisa berpotensi bukan karean apa yang dia lakukan tapi apa yang sudah dilakukan terhadapnya.

ketidaksadaran bisa disebabkan oleh kejutan,  kecelakaan, anestesi yang digunakan untuk operasi, rasa sakit karena luka atau penyakit yang serius . Selama masa-masa ini, pikiran analitis dimatikan secara utuh atau sebagian dan pikiran reaktif terpotong, seluruhnya,  atau sebagian. Sebuah engram ada di bawah tingkat kesadaran individu namun dapat diaktifkan sehingga dapat memaksakan isinya dan dapat menyebabkan ketakutan, emosi, rasa sakit dan penyakit psikosomatik yang tidak diketahui,tidak di inginkan , dan tidak dapat dinilai.

Dalam prosedur Dianetics, individu tersebut menceritakan sebuah kejadian “ketidaksadaran” dari awal sampai akhir sampai engram dikurangi  yang berarti semua tuduhan atau penderitaan diambil dari sebuah insiden, atau terhapus, yang berarti kejadian tersebut telah lenyap selamanya. Bagaimanapun, individu bebas dari efek merugikan dari  kejadian tersebut dan dapat mengalami kelegaan yang luar biasa dan naiknya skala emosi.prosesnya sendiri disebut “Auditing” seperti konseling namun dalam teknik auditing,terapis hanya mendengerkan dan bertanya untuk memunculkan pengalaman ketidaksadaran ke individu yang di audit yang disebut Preclear berdasarkan buku panduan .

Prosedurnya sendiri bukanlah seperti hipnotis karena Preclears ( orang yang diaudit) sadar 100 % ,dan perlu diketahui pula jika individu yang menggunakan teknik Dianetik tidak disebut sebagai pasien karena L.Ron Hubbard dalam rekaman wawancara pribadinya di rhodesia tahun 1965 berjudul Introduction dianetik , mengatakan jika “ Pasien identik dengan mereka yang memiliki penyakit, kami tidak menangani mereka yang memiliki penyakit kami hanya membantu individu lepas dari bayang-bayang masa lalunya dan mampu meningkatkan potensinya”.

Mengambil bentuk sebagai sebuah gereja kadang membuat Scientology  selalu  disalahpahami sebagai perpanjangan misi dari gereja kristen umumnya namun jika menurut para Scientologist ( Sebutan anggota scientology)  yang saya temui, menjelaskan jika Kata gereja berasal dari kata Yunani kyrios yang berarti “tuan” dan basis kewarganegaraan Indo-Eropa, “menjadi kuat.” Arti kata yang ada saat ini meliputi “sebuah kongregasi,” “kekuatan gerejawi yang dibedakan dari sekuler” dan “aliran bidah lainnya”.

Kata gereja tidak hanya digunakan oleh organisasi Kristen. Ada gereja sepuluh ribu tahun sebelum ada orang Kristen, dan agama Kristen sendiri merupakan pemberontakan melawan gereja mapan. Dalam penggunaan modern, orang berbicara tentang gereja Budhis atau Yahudi, merujuk secara umum ke seluruh tubuh orang-orang percaya dalam ajaran agama tertentu. Gereja adalah sebuah komunitas orang percaya yang memiliki kesamaan sistem keyakinan dan praktik keagamaan yang dikuduskan dimana mereka berusaha untuk mengatasi masalah akhir kehidupan.

Kembali kepada sejarah ketika pada tahun 1950an, Scientologists menyadari bahwa teknologi L. Ron Hubbard hasilnya sangat sukses   metode berhasil  membebaskan manusia dari masalah , dan kesadaran spiritual secara bertahap dapat diraih .pada saat itu tidak ada pertanyaan di benak mereka bahwa mereka terlibat dalam praktik keagamaan. Jadi, di awal tahun 1950an, mereka memutuskan bahwa sebuah gereja dibentuk untuk melayani kebutuhan spiritual mereka dengan lebih baik. Gereja Scientology yang pertama kemudian didirikan pada tahun 1954. Sejak saat itulah Scientology dikenal sebagai Gereja Scientology.

Setelah sukses besar pencapaian pribadinya dan makin besarnya Gereja Scientology ,membuat  Ron Hubbard menggali lebih jauh ke dalam sifat spiritual Manusia melalui buku-buku lanjutannya dan kemudian mendokumentasikan penemuannya dalam ribuan rekaman ceramah, film, artikel dan buku. Untuk lebih jauh memperkenalkan ajarannya Beliau  mengelilingi dunia dan kemudian membuka Church of Scientology di 4 Benua  – berkantor pusat pada awal mulanya  di kediamannya di Inggris selatan bernama Saint Hill Manor, yang terletak tepatnya di sussex East Grinstead, Inggris raya.

Melalui tahun-tahun berikutnya, L. Ron Hubbard terus memajukan subjek sampai dia wafat pada tahun 1986, Warisannya terdiri dari puluhan juta kata yang diterbitkan, rekaman ceramah dan film, sementara lebih dari 250 juta salinan buku dan ceramahnya beredar, dia telah mengilhami sebuah gerakan yang mencakup semua benua dan semua kebudayaan.

Kenapa Scientology bisa disebut agama? Pihak Church of scientology didalam rilis resminya melalui situs resminya www.scientology.org menyebutkan jika Scientology sudah  memenuhi ketiga kriteria yang umumnya digunakan oleh para ilmuwan agama di seluruh dunia untuk menentukan religiusitas: (1) kepercayaan akan beberapa Realitas tertitinggi, seperti kebenaran tertinggi ataupun keabadian yang melampaui dunia sekuler saat  ini; (2) praktik keagamaan yang diarahkan pada pemahaman, pencapaian atau komunikasi dengan Realitas Tertinggi ini; Dan (3) sebuah komunitas orang percaya yang bergabung bersama dalam mewujudkan  pencapaian hingga ke Realitas Tertinggi ini.

Pandangan Scientology tentang Realitas Tertinggi yang melampaui dunia material mencakup konsep tentang thetan dan dinamika yang mencakup dunia spiritual (Dinamika Ketujuh) dan Yang Mahakudus (Dinamika Kedelapan), perlu diketahui juga Scientology membagi kehidupan berdasarkan dalam 8 dinamika asumsi jika semua  aktivitas dalam kehidupan seseorang tidak hanya dapat dipahami sesuai keinginan mereka, tapi masing-masing harus diselaraskan dengan yang lain untuk meningkatkan pertahananan hidup.

Pembagian dinamikanya sendiri terdri dari Dinamika diri sendiri, Dinamika kreatifitas dimana didalamya mencakup soal membangung kelurga dan membesarkan anak, Dinamika  Group, Dinamika Spesies atau dinamika kelompok manusia yang lebih besar, Dinamika Makhluk hidup mencakup seluruh kehidupan, Dinamika universalitas fisik yang didalam Scientology disebut sebagai mest (matter, energy, space,and time ), Dinamika dunia spiritual, dan dinamika Mahakudus.

Sementara unsur kedua dapat ditemukan dalam upacara upacara ritual Scientology seperti penamaan, perkawinan dan layanan pemakaman, namun terutama dalam dinas keagamaan dalam audit dan pelatihan dimana Scientologists meningkatkan kesadaran spiritual mereka dan mencapai pemahaman tentang dunia spiritual dan akhirnya , Yang Mahatinggi. Mengenai elemen ketiga, sebuah komunitas orang percaya yang sangat penting dapat ditemukan di setiap Church of Scientology hampir setiap saat sepanjang hari.

Menurut L.Ron Hubbard dalam Buku New Slant of life menuliskan jika “ Scientology meneruskan tradisi keagamaan sepuluh ribu tahun dan mencakup kebenaran yang ditemukan dalam teks suci tertua Hindu Veda dan kebijaksanaan Buddhisme. Scientology memiliki kesamaan dengan semua agama besar yaitu adanya harapan untuk mencapai  perdamaian di Bumi dan keselamatan bagi Manusia. Apa yang baru tentang Scientology adalah bahwa ia menawarkan jalan yang tepat untuk mewujudkan perbaikan spiritual di sini dan sekarang dan cara untuk mencapainya dengan kepastian yang mutlak”.

Namun meskipun disebut agama ,Scientology bukan sebuah agama tertutup yang keanggotaannya sangat ekslusif. L.Ron Hubbard menjelaskan jika Scientology adalah filosofi religius terapan yang berbeda dari praktik keagamaan pada umumnya. Scientology tidak mengganggu kepercayaan atau keyakinan religius seseorang dengan cara apa pun. Seseorang dari agama manapun bisa menjadi Scientology. Scientology akan memberi seseorang pemahaman yang lebih baik tentang agamanya sendiri. Dalam Scientology, wilayah Dinamis ke-8, Yang Mahakuasa atau Tuhan, tidak saling terkait. Scientology tidak mengevaluasi individu di daerah ini dan membiarkan ini sepenuhnya tergantung pada pilihan individu. Dalam Scientology kita menemukan orang-orang dari semua agama, termasuk Kristen, Budha, Muslim, Yahudi dan banyak lainnya.

Berkenaan dengan Filosofi religus terapan L.Ron Hubbard menjelaskan jika “ Scientology adalah filsafat agama yang diterapkan. “Filosofi adalah sesuatu yang membantu Anda kesulitan  dalam hidup. Filsafat: Definisi – Mengejar pengetahuan. Pengetahuan tentang penyebab dan hukum segala sesuatu. Filosofi terapan adalah hubungan yang harus dilakukan dengan melakukan dan bertindak. Salah satu yang berlaku untuk hidup – bukan hanya sebuah teori, tapi teori yang dapat digunakan untuk membantu Anda mencapai kehidupan yang lebih baik. “” Ada sesuatu yang perlu dipelajari, diketahui dan digunakan dalam Scientology. “( (HCOB 4 March 1965 – MATERIALS – STUDY MATERIALS FOR HAS, LESSON 1, issued by L. Ron Hubbard)

Bahkan Scientology memiliki kredo yang menjelaskan dan mendukung pertanyaan ini yang ditulis pada tanggal 18 februari 1954 di phoniex arizona, Setelah Mr. Hubbard menerbitkan kredo ini dari kantornya di Phoenix, Arizona, Church of Scientology mengartikannya sebagai kredo karena secara ringkas mengemukakan apa yang diyakini oleh para Ilmuwan.  “

Kami gereja percaya

Bahwa semua orang dari ras, warna atau kepercayaan apa pun diciptakan dengan hak yang sama.

Bahwa semua orang memiliki hak yang tidak dapat dicabut atas praktik keagamaan dan penampilan mereka sendiri.

Bahwa semua orang memiliki hak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka sendiri.

Bahwa semua pria memiliki hak yang tidak dapat dipisahkan dari kewarasan mereka.

Bahwa semua orang memiliki hak yang tidak dapat dicabut atas pembelaan mereka sendiri.

Bahwa semua pria memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk memahami, memilih, membantu atau mendukung organisasi, gereja dan pemerintahan mereka sendiri.

Bahwa semua orang memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk berpikir bebas, berbicara dengan bebas, untuk menulis pendapat mereka sendiri secara bebas dan untuk melawan atau mengucapkan atau menulis berdasarkan pendapat orang lain.

Bahwa semua orang memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk penciptaan jenis mereka sendiri.

Bahwa jiwa manusia memiliki hak juga .

Bahwa studi tentang Pikiran dan penyembuhan penyakit akibat mental seharusnya tidak terasing dari agama atau dimaafkan di bidang nonreligius.

Dan bahwa tidak akan ada kelompok yang bisa menolak ini  karena kami percaya  Tuhan yang memiliki wewenang untuk menunda atau menyisihkan hak-hak ini, terang-terangan atau terselubung.

Dan kami gereja percaaya

Manusia itu pada dasarnya baik.

Bahwa dia berusaha untuk Bertahan Hidup.

Bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada dirinya sendiri dan pada rekan-rekannya dan pencapaian persaudaraannya dengan alam semesta.

Dan kita dari Gereja percaya bahwa hukum-hukum Allah melarang Manusia

Untuk menghancurkan sesamanya sendiri.

Menghancurkan kewarasan orang lain.

Menghancurkan atau memperbudak jiwa orang lain.

Menghancurkan atau mengurangi kelangsungan hidup teman seseorang atau kelompok seseorang.

Dan kami gereja percaya

Bahwa roh itu bisa diselamatkan.

Dan roh itu sendiri bisa menyelamatkan atau menyembuhkan tubuh.

 

Doktrin Scientology percaya bahwa pada dasarnya “ Manusia itu baik”, kejahatan dalam diri manusia terjadi karena manusia tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya dan lingkungan disekitarnya tidak membantunya, Scientology percaya jika pada dasarnya “ manusia itu berpotensi “, dan memiliki hak untuk kebebasan memilih apapun kepercayaannya.

Lalu Kemudian apakah Scientology mempunyai kitab suci ? ya , tentu Kata-kata yang diucapkan tertulis dan direkam dari L. Ron Hubbard tentang Ilmu Scientology secara kolektif merupakan kitab suci agama tersebut. Dia mengemukakan teologi dan teknologi Scientology dalam puluhan juta kata, termasuk ratusan buku, sejumlah film dan hampir 2.500 rekaman ceramah.namun bukan sebagai kitab suci  dalam pengertian yang sakral yang didewakan mulai dari kertasnya, hurufnya, atau pun cara peletakannya tapi lebih kepada sebuah buku biasa yang terpenting dari semuanya itu harus diterapkan dan dibagikan kepada orang lain dengan niat untuk saling tolong menolong.

 

 

* Tulisan ini ditulis langsung oleh penganut Scientology di Indonesia. Untuk menghormati orisinalitas, tulisan ini tidak melalui proses editing[:]

Ilustrasi pelangi. Sumber: Blogspot.com

[:id]Pelangi Indonesia[:]

[:id]

Dr.Yudi Latif saat menyampaikan materi di depan mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya Bintaro.

Dr.Yudi Latif saat menyampaikan materi di depan mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya Bintaro.

Yudi Latif
(Kompas, Selasa, 21 Februari 2017)

Di dalam agama cinta (rahman-rahim), kebenaran dan keadilan tak mengenal penganut dan bukan penganut. Cinta memeluk semuanya. Warga bangsa boleh berbeda keyakinan, tetapi cinta menyatukannya. Kekuatan mencintai dengan melampuai perbedaan inilah yang melahirkan pelangi Indonesia yang indah. Dengan ini, pemilihan Kepala Daerah secara serentak berlalu dengan relatif damai, menyisakan Pilkada DKI Jakarta di pusat pertaruhan.

Di 101 daerah yang menyelenggarakan Pilkada, orang dengan berbagai latar agama bisa dipilih dan memilih tanpa diskriminasi dan intimidasi. Di berbagai tempat, bahkan partai Islam, seperti Partai Keadilan Sejahtera, bisa mengusung calon kepala daerah yang agamanya bukan Islam. Situasi ini menggambarkan determinasi peradaban cinta yang masih terpatri pada jatidiri bangsa. Di sekujur tubuh kebangsaan, titik rawan daya cinta ini justru terletak di Ibu kota negara. Di Jakarta, daya pompa jantung politik dalam mengalirkan darah cinta mengalami pelemahan, terdesak penguatan aliran daya benci.

Kehilangan daya cinta di Ibu kota negara bisa menjadi pangkal kehilangan Indonesia. Harmoni dalam kemajemukan adalah kode genetik bangsa ini. Modal unggulan Indonesia yang bisa dibanggakan pada dunia. Dengan kemerosotan daya cinta, Indonesia akan mengalami kerusakan gen.

Berbilang bangsa dalam zona keseragaman terguncang hadapi globalisasi keragaman. Bahkan bangsa maju kembali mengeja multikulturalisme secara tergagap. Tak sedikit gagal,  berujung populisme dengan supremasi tribalisme anti asing, anti perbedaan. Berutung, Indonesia banyak makan asam garam. Bangsa maritim di tengah persilangan arus manusia dan peradaban dunia, terbiasa menerima perbedaan. Jauh sebelum merdeka, para pemuda lintas etnis dan agama sudah menemukan penyebut bersama dalam keragaman bangsa. Saat dasar negara dan konstitusi Indonesia dirumuskan, perwakilan berbagai golongan terwakili, menghadirkan negara semua buat semua.

Modal sosial terpenting bangsa ini terlalu berharga untuk dikorbankan demi ambisi politik jangka pendek. Dalam pedih pertikaian, warga disadarkan arti penting merawat persatuan dalam perbedaan dengan berbagi kesejahteraan. Kegelapan menyediakan kunang-kunang penuntun perjalanan bangsa, memberi mata hati kesempatan berpendar di tengah kekelaman.

Dalam nafak tilas refleksi diri bisa kita kenali bahwa hidup religius dengan kerelaan menerima keragaman telah lama diterima sebagai kewajaran oleh penduduk kepulauan ini. Sejak zaman Kerajaan Majapahit, doktrin agama sipil untuk mensenyawakan keragaman ekspresi keagamaan telah diformulasikan oleh Mpu Tantular dalam Sutasoma, “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa”; berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran yang mendua.

Islam Indonesia sendiri, yang sejauh ini dianut oleh sebagaian besar penduduk, kendatipun—seperti agama-agama lainnya—tak luput dari sejarah kekerasan, dalam sapuan besarnya didominasi warna kedamaian dan toleransi yang kuat. Meskipun doktrin dan mazhab radikal memang selalu ada, tetapi pengaruhnya relatif terbatas dan dilunakkan oleh ragam ekspresi komunitas Islam.

Secara historis, penyebaran Islam di Tanah Air pada umumnya dilancarkan secara damai dan berjejak pada fondasi kehidupan masyarakat multikultur yang toleran. Menurut antropolog ternama Clifford Geertz, etos klasik Islam Nusatara bersifat menyerap, adaptif, gradualistik, estetik dan toleran. Selain keragaman agama secara eksternal, keragaman internal dalam Islam Nusantara sendiri menyulitkan penjelmaan Islam secara tunggal. Dengan kondisi seperti itu terbuka lebar kemungkinan untuk melampaui perbedaan-perbedaan religio-kultural, memperlunak perbedaan-perbedaan itu dan menjadikannya berada pada batas toleransi yang memberi prakondisi bagi kesiapan bekerjasama lintas kultural.

Tanah Air Indonesia merupakan ladang persemaian yang cocok bagi rekonstruksi dan reaktualisasi nilai-nilai demokrasi dan toleransi Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad di negara-kota Madina. Negara-kota Madina adalah sebuah entitas politik berdasarkan konsepsi negara-bangsa (nation-state), yaitu negara untuk seluruh umat atau warganegara, demi maslahat bersama (common good). Sebagaimana termuat dalam Piagam Madina, ‘negara-bangsa’ didirikan atas dasar penyatuan seluruh kekuatan masyarakat menjadi bangsa yang satu (ummatan wahidah) tanpa membeda-bedakan antara kelompok-kelompok keagamaan dan kesukuan yang ada.

Moral publik Madina yang dibina Nabi Muhammad itu sesungguhnya bersumber dari akar teologisnya. Inti dari keyakinan Islam adalah pengakuan pada Ketuhanan Yang Maha Esa (Tawhid, Monotheisme). Dalam keyakinan ini, hanya Tuhan-lah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain Tuhan bersifat nisbi belaka. Konsekuensi logisnya adalah paham persamaan (kesederajatan) manusia di hadapan Tuhan, yang melarang adanya perendahan martabat dan pemaksaan kehendak/pandangan antarsesama manusia. Dengan prinsip demikian, tiap-tiap manusia dimuliakan kehidupan, kehormatan, hak-hak, dan kebebasannya, yang dengan kebebasan pribadinya itu manusia menjadi makhluk moral yang harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Dengan prinsip persamaan, manusia juga didorong menjadi makhluk sosial yang menjalin kerjasama dan persaudaraan untuk mengatasi kesenjangan dan meningkatkan mutu kehidupan bersama (Madjid, 1992: 4).

Pancasila dapat dikatakan merupakan penjelmaan kontemporer dari Piagam Madina. Sebuah titik-temu moral publik yang bersifat inklusif yang mempertautkan segala perbedaan dengan semangat gotong-royong berlandaskan cinta (rahmatan lilalamin).

(YUDI LATIF, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia)[:]

Peran Penting Perempuan dalam Memajukan Perekonomian


Oleh: Musdah Mulia
Islam mengajarkan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara dan sederajat. Keduanya sama-sama diciptakan untuk menjadi khalifah fil ardh (the moral agent) demi melakukan upaya-upaya transformasi dan humanisasi (amar ma’ruf nahy munkar) yang tujuan akhirnya membangun masyarakat yang maju, damai dan sejahtera dalam ridha Allah (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur). Untuk tujuan yang mulia ini Tuhan telah menganugerahkan seperangkat potensi dan kemampuan kepada keduanya agar mampu berkiprah seoptimal mungkin dalam kehidupan di dunia dengan tujuan memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat nanti.

Namun, dalam realitas sosial di masyarakat, tidak semua perempuan mampu melaksanakan tugasnya sebagai  khalifah fil ardh secara optimal karena sejumlah faktor menghambat. Di antaranya, faktor kultur masyarakat yang masih kuat dipengaruhi budaya patriarki. Budaya yang melihat perempuan hanya sebagai obyek sangat sulit dihapuskan karena sudah tertanam dalam benak masyarakat sejak ribuan tahun lalu. Tambahan lagi, faktor struktur berupa regulasi pemerintah dan kebijakan publik yang masih bias gender. Tidak hanya itu, faktor interpretasi agama yang sangat memojokkan perempuan juga merupakan kendala lain bagi perempuan untuk berkiprah secara maksimal.

Salah satu bidang kehidupan yang cukup terjal dijalani kaum perempuan di Indonesia adalah bidang ekonomi. Masyarakat terlanjur memahami bahwa dunia ekonomi adalah dunia laki-laki. Tidak heran jika sejumlah regulasi dan kebijakan publik hanya menempatkan perempuan sebagai pekerja tambahan, bukan sebagai pekerja utama. Meski perempuan merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga, tetap saja dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. 

Secara tradisional, pola keluarga patriarkhi menempatkan istri sebagai pihak yang mengurusi pekerjaan domestik. Sistem patriarkhi dalam sejarah gender merupakan sistem yang menempatkan kekuasaan laki-laki atas perempuan dalam segala aspek kehidupan. Dalam aspek ekonomi segenap manajemen senantiasa menggantungkan pengusahaan survival keluarga kepada laki-laki (suami), sementara perempuan (istri) menempatkan diri pada penerimaan serta pembelanjaan keluarga. Perempuan dianggap sebagai bagian penting dari faktor domestik, sedangkan laki-laki (suami) ditempatkan pada posisi publik. Peranan domestik perempuan adalah peranan sosial yang terkait dengan aktivitas internal rumah tangga, seperti memasak, mengurus anak, dan melayani suami, sedangkan peranan publik adalah peranan sosial yang berkaitan dengan aktivitas sosial, ekonomi, dan politik di luar rumah tangga. Jika peranan tersebut dapat dilakukan oleh seorang perempuan maka dia memainkan peranan ganda. Peranan ganda perempuan dapat dilihat secara kasat mata di masyarakat. 

Di samping itu, interpretasi agama pun sangat kuat menunjuk laki-laki sebagai pemberi nafkah, dan perempuan hanyalah penerima nafkah. Implikasi dari pemahaman seperti ini adalah laki-laki menjadi kepala rumah tangga karena mereka penanggung jawab ekonomi keluarga. Laki-laki mendapatkan warisan dua kali lebih banyak dari bagian perempuan dan seterusnya. Pertanyaan muncul, bagaimana menghadapkan interpretasi agama yang normatif ini dengan realitas sosial yang sudah berubah drastis? Lihat saja di sekeliling kita, hampir semua perempuan bekerja, baik bekerja di luar rumah maupun di dalam rumah. Bahkan, secara ekonomi tidak sedikit perempuan yang penghasilannya lebih banyak dari laki-laki. Di antara mereka justru menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, perempuanlah yang menopang seluruh kebutuhan keluarga. 

Perempuan memiliki sejumlah keunggulan dibanding laki-laki. Umumnya mereka lebih tekun bekerja, lebih teliti dalam melihat peluang kerja, lebih hemat dalam pengeluaran keuangan dan lebih peka terhadap kebutuhan anggota keluarga. Hanya saja, umumnya perempuan belum sepenuhnya merdeka dari hambatan kultur, struktur dan teologis. Tidak sedikit perempuan pekerja harus memikul beban multi ganda dalam keluarga. Sebelum berangkat kerja mereka harus menyelesaikan berbagai urusan domestik di rumah tangga. Mulai dari urusan menyiapkan makanan untuk anggota keluarga, membersihkan rumah dan beragam kerja-kerja rutin yang terlalu panjang untuk disebutkan di sini. Meski punya asisten rumah tangga tetap saja mereka harus mampu menjadi manajer rumah tangga yang baik. Sepulang kerja, urusan domestik pun masih menunggu sehingga tidak sedikit mereka mengalami stres dan depresi karena tidak mampu menangani semua persoalan dengan baik.

Berbeda dengan laki-laki, umumnya mereka tidak terbebani oleh pekerjaan domestik di rumah tangga. Akibatnya, tidak sedikit laki-laki menjadi sangat tergantung pada perempuan dalam kehidupannya. Tanpa perempuan mereka sulit mandiri di rumah tangga karena sudah terbiasa semua keperluannya ditangani oleh perempuan (ibu, isteri atau saudara perempuan). Kondisi ini harus diubah. Laki-laki pun sebaiknya mengerti pekerjaan di rumah tangga dan dibebani tanggung jawab mengelola urusan domestik. Untunglah sekarang kondisinya semakin membaik, semakin banyak laki-laki yang sadar tentang tugas-tugas domestik mereka. 

Ke depan, laki-laki dan perempuan hendaknya dididik untuk mampu mengelola kerja-kerja domestik di rumah tangga dengan cara-cara profesional sehingga keduanya dapat saling membantu dengan tulus dan penuh kasih-sayang. Dengan demikian, keduanya pun dapat bekerja di luar rumah dengan penuh tanggung jawab. Hal penting yang perlu ditanamkan kepada perempuan dan laki-laki adalah menjadi manusia berguna, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Perkembangan global pun tampaknya memihak kepada perempuan. Akibat kemajuan sains dan teknologi, khususnya teknologi dalam bidang transformasi dan informasi, semakin banyak lapangan kerja yang dapat digeluti kaum perempuan. Jika sebelumnya, beragam pekerjaan tidak mungkin dimasuki perempuan karena mengandalkan kelebihan fisik dan kekuatan otot, kini akibat kemajuan teknologi hambatan tersebut dapat dihilangkan. Semakin banyak pekerjaan tidak lagi membutuhkan kekuatan otot, melainkan membutuhkan kekuatan otak dan kecekatan, dan hal ini lebih menguntungkan kaum perempuan.

Masalahnya, kemajuan sains dan teknologi yang memberi peluang kepada perempuan tidak selalu diiringi dengan perubahan budaya masyarakat dan juga perubahan struktur kebijakan publik oleh pemerintah. Akibatnya, budaya masyarakat yang masih meletakkan perempuan sebagai makhluk kelas dua dan berbagai kebijakan publik dan regulasi pemerintah yang bias gender menjadi penghalang besar bagi perempuan untuk berperan dalam memajukan ekonomi masyarakat padahal potensi dan peluang mereka seringkali sangat mengagumkan. 

Menarik membaca hasil temuan survei tentang Gender dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah di Indonesia oleh LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) yang menyimpulkan bahwa perusahaan perempuan berpotensi memajukan perekonomian, meskipun perusahaan milik perempuan umumnya lebih kecil dibanding perusahaan milik laki-laki. Survei tersebut juga menjelaskan, perusahaan milik perempuan kebanyakan bergerak pada sektor informal yang membutuhkan banyak tenaga kerja. 

Pemerintah berkomitmen mengintegrasikan komponen gender di dalam program, namun data berbasis gender tentang Unit Layanan Pengadaan (ULP) maupun calon perusahaan peserta pengadaan masih sangat terbatas. Tujuan utama survei adalah mengisi kekosongan (gap) tersebut, merumuskan pengetahuan dasar dan data tentang perusahaan milik perempuan dan lelaki penyedia barang dan jasa bagi pemerintah, memahami isu-isu utama yang menjadi tantangan, serta mengusulkan solusinya. 

LKPP dengan dukungan dari MCC (Millennium Challenge Corporation) melalui MCA-Indonesia terlibat dalam Proyek Modernisasi Pengadaan yang terfokus pada reformasi dan modernisasi sistem pengadaan barang/jasa pemerintah Indonesia. Survei LKPP tahun 2013 tersebut mengambil sampel sebanyak 406 perusahaan yang tersebar di Jakarta dan Bandung. Ini adalah survei pertama yang menyoroti aspek gender dalam pengadaan barang/jasa di Indonesia, sehingga menjadi capaian penting dalam Proyek Modernisasi Pengadaan. Penelitian tersebut bertujuan menemukan hambatan berbasis gender yang dihadapi perusahaan milik perempuan dan laki-laki dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, serta mengidentifikasi cara menjadikan persaingan lebih adil dan transparan bagi perempuan dan laki-laki. Survei ini sesuai dengan komitmen pemerintah dalam Peraturan Presiden nomor 70/2012 tentang proses pengadaan yang non-diskriminatif, efisien, dan efektif. Survei ini juga menginisiasi dan merumuskan definisi Perusahaan Milik Perempuan melalui sejumlah diskusi dengan pemangku kepentingan serta menarik pengalaman dan contoh di tingkat internasional.  Proses tersebut menyepakati definisi perusahaan milik perempuan sebagai “perusahaan yang dipimpin dan dikelola oleh satu atau lebih perempuan”, atau “perusahaan di mana perempuan pengelola memiliki saham dalam struktur kepemilikan perusahaan”.

Temuan menarik dalam survei ini, umumnya para perempuan pengusaha memiliki motivasi utama untuk menciptakan lapangan kerja. Artinya, mereka punya kepedulian yang tinggi untuk mengentaskan kemiskinan dan penganguran. Tahun 2006 sebuah studi di lima provinsi menemukan bahwa 97% responden perempuan pengusaha mengaku termotivasi untuk menciptakan pekerjaan dan mengurangi pengangguran. Studi itu juga menyimpulkan, perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengakses pengadaan dan mendapatkan nilai kontrak di lingkungan institusi pemerintah. Salah satu penyebabnya, rerata perusahaan mereka lebih kecil ketimbang perusahaan milik lelaki. 

Lebih rinci survei mengungkapkan, perusahaan milik perempuan memiliki omzet rata-rata 4,4 kali lebih kecil daripada perusahaan milik laki-laki. Namun, perusahaan milik perempuan mempekerjakan lebih banyak pekerja dan manajer yang juga perempuan. Artinya, meningkatkan kesempatan perempuan pengusaha menjadi salah satu strategi untuk  meningkatkan tenaga kerja perempuan yang produktif. Semakin banyak perusahaan yang dimiliki perempuan akan mempekerjakan lebih banyak tenaga perempuan. 

Selain itu, rata-rata omzet tahunan perusahaan milik perempuan yang pernah mengajukan pinjaman bank dan menjadi penyedia bagi pemerintah adalah Rp 9,1 miliar, hanya sepertiga dari rerata omzet tahunan perusahaan milik laki-laki (Rp 25,7 miliar). 62% dari perusahaan milik laki-laki yang pernah ikut tender pemerintah pernah mengajukan pinjaman ke bank, namun hanya sekitar 50% perusahaan milik perempuan yang melakukannya.

Mayoritas perusahaan milik perempuan mengetahui informasi pelelangan melalui media. Sebanyak 61% perusahaan milik perempuan mendapat kontrak melalui lelang umum, sedangkan hanya 52% perusahaan milik laki-laki mendapatkannya dengan cara yang sama. Adapun perusahaan milik lelaki lebih banyak mendapat informasi dari petugas pelayanan dan mendapat kontrak dari penunjukan langsung.

Problem paling nyata bagi perempuan adalah sekitar 25% perusahaan milik perempuan (21% pada laki-laki) yang tidak pernah ikut lelang atau menjadi penyedia barang/jasa pemerintah percaya tidak akan mendapat kontrak karena proses pengadaan hanya formalitas, pemerintah sudah memutuskan pemenangnya. Satu dari tiga responden merasa aturan pengadaan pemerintah terlalu banyak dan membingungkan. Banyaknya peraturan yang tumpang-tindih tersebut menjadi alasan utama mereka tidak berpartisipasi dalam pengadaan pemerintah. Anggapan tentang adanya korupsi menjadi alasan lain yang disebut oleh 15% perusahaan.

Selain itu, kurangnya informasi merupakan hambatan serius bagi perusahaan kecil untuk mendapatkan peluang. Meskipun Peraturan Presiden nomor 70 tahun 2012 mengatur proyek bernilai hingga Rp 2,5 miliar dialokasikan bagi perusahaan kecil, 92% perusahaan milik perempuan (76% laki-laki) yang tidak pernah mengikuti pelelangan dan tidak pernah menjadi penyedia tidak tahu tentang peraturan tersebut.

Hasil survei juga menyebutkan adanya unsur diskriminasi terhadap perempuan dalam interaksi dengan petugas pelayanan untuk mendapatkan informasi dan akses pengadaan. Menurut pengalaman pengusaha perempuan yang bekerja pada bisnis pengendalian hama, pemerintah dirasa lebih suka berbicara dengan laki-laki daripada perempuan. Ini pengakuan seorang perempuan pengusaha: “Ketika saya bernegosiasi dengan staf pemerintah, saya pernah ditanya, “Apakah benar Anda direkturnya? Tidak malu bekerja dengan hama?” Mereka tidak percaya saya bekerja di sektor tersebut. Kemudian saya minta ayah saya untuk menolong saya bernegosiasi, semua berjalan seperti biasa. Tapi ketika saya mengundang mereka ke pertemuan, mereka berkata, “Ok, di mana kita akan makan siang?”Jadi saya merasa sedikit dilecehkan dan memutuskan tidak melakukan negosiasi itu lagi.”

Hal lain yang menggembirakan, umumnya pengusaha perempuan lebih enggan menggunakan mekanisme sanggah saat tak sukses dalam pengadaan. 69% perusahaan milik perempuan dan 53% perusahaan milik laki-laki menganggap itu tidak berguna karena masih kentalnya korupsi, kolusi, dan nepotisme, kurangnya transparansi, dan ketakutan dimasukan dalam daftar hitam pengusaha. 

Hasil survei juga mengungkapkan, terdapat hubungan positif antara keanggotaan asosiasi bisnis dengan keberhasilan memenangkan kontrak pemerintah. Sekitar 50% perusahaan yang pernah ikut lelang umum juga aktif dalam asosiasi bisnis. Namun, pengusaha perempuan umumnya belum cukup aktif dalam asosiasi bisnis.

Ke depan, saya pikir pemerintah perlu segera mengadopsi definisi resmi tentang perusahaan milik perempuan, yang diintegrasikan dalam sistem informasi pengadaan secara elektronik untuk dipantau dan dipublikasikan secara berkala. Pemerintah selayaknya juga meningkatkan transparansi pengadaan, terutama dengan perbaikan berkelanjutan pada sistem pengadaan secara elektronik. Selain itu, pemerintah perlu melaksanakan peningkatan kapasitas yang menyasar lebih banyak ULP perempuan dan perusahaan milik perempuan, serta menyediakan dan membudayakan sistem umpan balik atau gugatan sebagai bentuk akuntabilitas layanan. 

Selanjutnya, Perusahaan milik perempuan disarankan agar lebih proaktif dalam asosiasi bisnis, sehingga  meningkatkan jejaring akses informasi dan meningkatkan peluang untuk  untuk sukses memenangkan tender pengadaan pemerintah. Mereka pun perlu membantu pemerintah meningkatkan sistem pengadaan dengan aktif memberikan umpan balik yang diajukan secara anonim. Perusahaan milik perempuan direkomendasikan pula memaksimalkan berbagai sesi diskusi untuk berbagi informasi dan peningkatan kapasitas, terutama untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan tentang cara berkompetisi yang profesional. 

Mitra pembangunan disarankan untuk mendukung reformasi kebijakan dan peningkatan kapasitas untuk perbaikan kebijakan dalam pengadaan barang/jasa, meningkatkan kesetaraan, transparansi, efisiensi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah. Mereka juga perlu mendukung peningkatan kapasitas yang berfokus pada perusahaan milik perempuan, serta mendukung penguatan asosiasi bisnis perempuan dan peluang jejaring.

Akhirnya, untuk kemajuan ekonomi bangsa dan kesejahteraan seluruh masyarakat, peluang dan akses perempuan untuk berkiprah dalam dunia ekonomi harus dibuka seluas-luasnya. Untuk itu, sejumlah kebijakan dan regulasi yang masih bias gender perlu segera direvisi. Demikian juga, interpretasi agama yang ramah terhadap perempuan dan akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi mainstream di masyarakat. Pemerintah dan masyarakat hendaknya sepakat menjadikan perempuan sebagai subyek pembangunan, termasuk dalam bidang ekonomi karena mereka adalah warga negara penuh dan manusia merdeka yang posisinya setara dengan kaum laki-laki.

Ilustrasi pencatatan pernikahan. Sumber: www.dailymoslem.com

[:id]Kawin Tanpa Pencatatan?[:]

[:id]Oleh: Musdah Mulia[1] 

Pendahuluan

Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI) yang diajukan Tim PUG Departemen Agama tahun 2004 menyatakan secara tegas bahwa pencatatan perkawinan merupakan salah satu syarat sahnya perkawinan (Pasal 6). Tanpa pencatatan (Akta Nikah), perkawinan batal secara hukum dan pelakunya harus mendapatkan sanksi karena telah melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku. Hanya saja, draft CLD KHI belum sampai merumuskan secara konkret sanksi hukum terhadap pelanggar.

Karena itu, dapatlah dipahami respon yang sangat kuat terhadap Rancangan Undang-Undang Materiil Peradilan Agama (RUU MPA) di bidang perkawinan akhir-akhir ini. Sebab, RUU tersebut merumuskan sanksi pemidanaan bagi mereka yang menikah tanpa pencatatan atau dikenal dengan kawin sirri (pasal 143).

Spirit ketentuan baru tersebut adalah memberikan proteksi terhadap isteri dan anak-anak. Selama ini merekalah paling banyak merasakan kesengsaraan akibat tiadanya pencatatan perkawinan yang menjadi bukti legal bagi pemenuhan hak-hak mereka. Bahkan, juga memproteksi laki-laki dari tuntutan orang-orang yang mengaku isteri atau anak.

Tanpa pencatatan (Akta Nikah) berarti tak ada proteksi hukum bagi isteri dan anak-anak. Hal ini seharusnya menyadarkan masyarakat untuk tidak menikah secara sirri. Sebab, jika terjadi masalah dalam perkawinan, maka sangat sulit bagi isteri dan anak-anak untuk memperoleh hak-haknya, seperti hak nafkah, hak tunjangan, hak waris, dan hak isteri atas harta gono-gini, serta sejumlah hak lainnya.

Karena itu, pencatatan perkawinan bukan dimaksudkan sebagai intervensi negara terhadap masalah agama, melainkan harus dilihat dalam konteks pemenuhan hak-hak sipil warga. Adalah kewajiban negara melindungi warganya dengan melakukan pencatatan perkawinan dan peristiwa vital lain dalam kehidupan warganya.

 

Apa itu Perkawinan Tanpa Pencatatan?

Perkawinan tanpa pencatatan adalah perkawinan yang tidak dicatatkan di institusi negara yang berwenang, yakni KUA (Kantor Urusan Agama) bagi umat Islam dan KCS (Kantor Catatan Sipil) bagi non-Muslim. Ada sejumlah alasan mengapa perkawinan tidak dicatatkan. Namun, alasan mengemuka adalah: 1) karena mempelai laki-laki masih terikat perkawinan. Jadi, dia ingin melakukan poligami tanpa diketahui isteri terdahulu. 2) karena mempelai laki-laki tidak memiliki identitas diri yang jelas, umumnya karena dia pendatang atau orang asing; 3) karena mempelai perempuan tidak mendapat restu dari orang tua atau walinya; 4) karena mempelai laki-laki -dan ada juga perempuan- hanya ingin mendapatkan kepuasan seksual, bukan untuk tujuan membentuk keluarga sakinah yang penuh mawaddah wa rahmah; 5) karena mempelai laki-laki kawin dengan perempuan di bawah umur atau anak-anak (pedofili);  6) dan untuk tujuan trafficking (penjualan manusia). Perkawinan merupakan cara paling mudah merenggut anak-anak perempuan dari keluarganya.

Selain itu, ada pula karena alasan teologis. Mereka melakukan perkawinan tanpa pencatatan ini karena meyakini demikianlah syariat Islam. Dalam Syariat yang mereka yakini, pencatatan bukanlah sebuah keharusan agama. Tidak sedikit pula yang menolak mencatatkan perkawinannya dengan alasan keuangan. Mereka mengaku tidak punya cukup uang untuk membayar biaya administrasi pencatatan di kantor pemerintah. Menurut mereka biaya administrasi sangat mahal. Demikian juga, ditemukan sekelompok masyarakat tidak mencatatkan perkawinan mereka karena terhalang oleh peraturan pemerintah, seperti kelompok penghayat kepercayaan dan penganut agama di luar 6 agama yang diakui pemerintah. Contohnya, komunitas Sunda Wiwitan di Jawa Barat dan Parmalim di Sumatera Utara, juga tidak mencatatkan perkawinan karena agama mereka tidak diakui pemerintah. Mereka ditolak di KUA dan di KCS.

Kalau laki-laki dan perempuan sungguh-sungguh punya niat baik untuk membangun keluarga sakinah sebagaimana dianjurkan Islam, mengapa mereka menghindari pencatatan? Karena itu, dapat dipastikan bahwa kawin sirri hanya dilakukan oleh mereka yang bermasalah atau punya motivasi tidak terpuji.

 

Mengapa Kawin Tanpa Pencatatan?

Paling tidak, ada tiga argumentasi mengemuka dari kelompok pro kawin sirri atau mereka yang setuju kawin tanpa pencatatan. Pertama, menurut mereka, negara tidak boleh mencampuri urusan agama warganya. Kalau kawin sirri dilarang, dan apalagi dianggap perbuatan kriminal, maka prostitusi semakin menjadi marak. Menurut mereka, kawin sirri adalah sah dalam ajaran Islam.

Menurut saya, pencatatan perkawinan bukanlah dimaksudkan untuk  mencampuri urusan agama masyarakat. Sebab, pencatatan sejatinya merupakan kewajiban negara dengan tujuan memproteksi warga. Pencatatan ditujukan kepada semua warga negara tanpa melihat agamanya. Dokumen HAM internasional menggariskan kewajiban negara mencatat seluruh peristiwa vital dalam kehidupan warga, seperti kelahiran, perkawinan, perceraian, dan kematian. Itulah yang disebut catatan sipil. Semakin maju dan modern sebuah negara semakin tertib dan rapi catatan sipilnya.

Sejumlah negara Islam, seperti Yordan mewajibkan pencatatan perkawinan dan bagi mereka yang melanggar terkena sanksi pidana. Undang-undang Perkawinan Yordan, tahun 1976, pasal 17 menjelaskan bahwa mempelai laki-laki berkewajiban mendatangkan qadhi atau wakilnya dalam upacara perkawinan. Petugas yang berwenang sebagaimana ditunjuk oleh qadhi mencatat perkawinan tersebut dan mengeluarkan sertifikat perkawinan. Apabila perkawinan dilangsungkan tanpa pencatatan, maka semua pihak yang terlibat dalam upacara perkawinan, yaitu  kedua mempelai, wali dan saksi-saksi dapat dikenakan hukuman berdasarkan Jordanian Penal Code dan denda lebih dari 100 dinar.

Kedua, alasan mereka bahwa jika kawin sirri dilarang, dan apalagi dianggap perbuatan kriminal, maka perzinahan akan semakin merebak. Menurut saya, ini adalah pandangan yang sangat dangkal dan juga keliru. Sebagai makhluk bermartabat, manusia dianugerahi pilihan bebas. Manusia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, bukan hanya kawin sirri dan prostitusi. Manusia dapat memilih kawin sesuai hukum; atau menunda kawin dan menyibukkan diri dengan aktivitas sosial; atau berpuasa agar dapat mengelola syahwat. Dan sejumlah pilihan positif lainnya.

Sebaliknya, menurut saya, dengan dibolehkannya kawin sirri, maka prostitusi terselubung semakin merebak. Bahkan, sebagian orang menyebut kawin sirri sebagai prostitusi dengan ijab-qabul. Secara kasat mata di masyarakat banyak dijumpai “mafia” yang menawarkan paket kawin sirri, di dalamnya sudah termasuk oknum penghulu liar (bukan dari KUA), saksi dan wali yang semuanya serba dibayar. Lalu, apakah perbuatan rekayasa demikian masih pantas disebut perkawinan yang dalam Islam mengandung nilai ibadah? Apakah pantas disebut ibadah jika proses dan prosedurnya sarat dengan tindakan manipulasi dan menghalalkan segala cara? Belum lagi, akibat dari kawin sirri banyak menimbulkan mudarat, khususnya bagi isteri dan anak.

Ketiga, alasan mereka bahwa perkawinan secara Islam tidak membutuhkan pencatatan. Memang betul soal pencatatan perkawinan tidak ditemukan dalam kitab-kitab fikih klasik. Sebab, ketika itu kehidupan masyarakat masih sangat sederhana, pencatatan belum menjadi kebutuhan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan yang demikian pesat akibat kemajuan teknologi dan dinamika masyarakat sesuai tuntutan zaman. Kehidupan manusia semakin kompleks dan rumit. Pencatatan menjadi suatu kebutuhan demi kemaslahatan manusia dalam hidup bermasyarakat.

 

Pentingnya Pencatatan Perkawinan

Persoalan pencatatan perkawinan dalam Draft UU Materiil Peradilan Agama mengacu kepada UU Perkawinan Tahun 1974, pasal 2: (1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu;  (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada hakikatnya kedua ayat dalam pasal tersebut bermakna satu, yakni sahnya perkawinan adalah dicatatkan. Artinya, perkawinan yang tidak dicatatkan tidak sah menurut negara dan pengertian itu pula yang diperpegangi oleh para hakim di pengadilan, baik pengadilan negeri maupun agama. Akan tetapi,  masyarakat umumnya memahami sahnya perkawinan adalah jika sudah dilakukan berdasarkan hukum agama meskipun tidak dicatatkan.

Pemahaman masyarakat tersebut mengacu kepada pandangan mazhab Syafi`i yang meyakini syarat sahnya perkawinan apabila tersedia lima unsur, yaitu, adanya kedua mempelai, ijab qabul, saksi, wali, dan mahar. Berdasarkan pandangan fiqh tersebut pencatatan dianggap bukan merupakan rukun atau syarat sahnya perkawinan. Karena itu, di masyarakat banyak dijumpai perkawinan yang tidak tercatatkan yang dikenal dengan istilah kawin sirri atau kawin bawah tangan. Bahkan, data Kementerian Agama R.I, tahun 2013 menjelaskan sekitar 40% perkawinan di masyarakat tidak tercatatkan.

Untuk perbaikan ke depan kedua ayat dalam pasal KHI tersebut hendaknya digabungkan saja sehingga berbunyi: Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu dan wajib dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya disertakan sanksi yang ketat bagi mereka yang melanggar aturan, dan sanksi itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sehingga efektif menghalangi munculnya kasus perkawinan bawah tangan (tidak dicatatkan).

Akan tetapi, meskipun soal pencatatan itu tidak dimasukkan sebagai salah satu rukun nikah dalam KHI, namun harus diakui bahwa pencatatan perkawinan dalam KHI telah diatur lebih rinci, seperti terbaca dalam pasal-pasal  4,5,6 dan 7. Berbagai ketentuan dalam pasal tersebut sesungguhnya telah mengarah kepada pengertian bahwa pada hakikatnya fungsi pencatatan perkawinan merupakan “keharusan” hukum. Keharusan itu didasarkan pada pengembangan “illat ketertiban” perkawinan di lingkungan komunitas Muslim. Oleh karena itu, setiap perkawinan yang dilakukan tanpa pencatatan, apalagi jika dilakukan di luar PPN adalah perkawinan yang tidak mempunyai kekuatan hukum. Secara teknis yuridis, setiap perkawinan yang tidak mempunyai kekuatan hukum dianggap tidak pernah ada (never existed).

Dengan demikian, meskipun KHI tidak secara tegas menempatkan pencatatan sebagai faktor formal keabsahan perkawinan, namun ditinjau dari segi teknis yuridis maka ketentuan pasal-pasal 5, 6 dan 7 sudah cukup jelas menempatkan fungsi pencatatan sebagai syarat yang menentukan kekuatan hukum suatu perkawinan.

Hanya perkawinan yang dicatat PPN yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, selain itu dipandang “tidak memiliki kekuatan hukum”  atau tidak sah secara hukum. Tuntutan persyaratan formal berupa pencatatan perkawinan yang sudah menjadi kelaziman di masa modern sekarang ini harus diterima sebagai persyaratan dalam konteks hukum Islam. Hal itu didasarkan pada ketentuan hukum: “jika ada ketentuan yang mengharuskan dipenuhinya syarat formal itu di samping syarat materiil, maka keduanya hendaklah dipahami sebagai hukum Islam”.

Pembahasan lebih luas, bukan hanya di kalangan pemikir dan kasus Indonesia, tetapi juga pemikir dan kasus negara lain tentang status pencatatan perkawinan, berikut diuraikan pandangan sejumlah cendekiawan dan pemikir. Di antara mereka adalah Ahmad Safwat, seorang pakar hukum asal Mesir. Safwat mengharuskan pencatatan perkawinan berdasar pada pemikiran bahwa ada hukum yang mewajibkan perilaku tertentu, dan mestinya hukum ini tidak berubah kecuali hanya dengan perubahan tersebut tujuan hukum dapat dicapai dengan tepat guna (efisien). Artinya, kalau ada cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan, cara itulah yang lebih diutamakan. Kehadiran saksi dalam akad nikah, menurut Ahmad Safwat, bertujuan sebagai pengumuman kepada khalayak ramai (publik). Kalau ada cara yang lebih baik atau lebih memuaskan untuk mencapai tujuan tersebut, cara ini dapat diganti, yakni dengan pencatatan perkawinan secara formal (official registration)[2] Dengan ungkapan lain, pencatatan perkawinan bagi Safwat sebagai ganti dari kehadiran saksi, sebuah rukun yang harus dipenuhi untuk sahnya akad nikah.

Untuk perbaikan RUU Materil Peradilan Agama ke depan, tawaran revisi yang diberikan adalah: Pertama, pencatatan perkawinan ditegaskan sebagai salah satu rukun atau syarat sahnya perkawinan disertai sanksi yang berat bagi pihak-pihak yang menikahkan tanpa pencatatan. Kedua, pencatatan  merupakan kewajiban negara, dan sebaliknya menjadi hak warga negara. Kemudian, agar tidak menjadi sumber korupsi bagi oknum-oknum tertentu yang akan menyengsarakan rakyat, pencatatan perkawinan hendaknya dilakukan secara gratis di kelurahan.

 

Dalil Syar’i Pencatatan Perkawinan

Mendukung pandangan tersebut, sejumlah argumentasi teologis dapat dikedepankan, di antaranya:

  1. Surah al-Baqarah, 2: 228: berisi perintah menuliskan transaksi atau perjanjian utang-piutang.
  2. Hadis Nabi: … jangan melacur dan jangan melakukan pernikahan sirri” (Lihat Kitab an-Nikah, Sunan at-Tirmizi, hadis no. 1008;  Kitab an-Nikah Sunan an-Nasai no. 3316-3317;  Kitab an-Nikah, Sunan Ibn Majah, hadis no. 1886).
  3. Terdapat sejumlah hadis menghimbau agar mengumumkan perkawinan (Lihat as-Sarakhsi, al-Mabsut; V:31; Sunan at-Tirmidzi no. 1009;  Sunan Ibn Majah no. 1885; dan Musnad Ahmad no. 15545)  dan hadis-hadis  yang menghendaki hadirnya empat unsur dalam akad nikah demi sahnya sebuah perkawinan.
  4. Atsar Umar yang tidak mengakui sahnya perkawinan jika hanya dihadiri satu orang saksi.

Terlihat jelas bahwa Al-Baqarah, 2:282 sangat bisa dijadikan dalil untuk pencatatan perkawinan. Berdasarkan mafhum muwafaqat dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa urusan perjanjian utang-piutang saja sudah disyariatkan untuk dituliskan, tentu akan lebih penting lagi mencatatkan perjanjian atau akad yang mengikat kehidupan dua insan dalam bentuk perkawinan. Apalagi, perkawinan dalam Qur’an dianggap perjanjian yang sangat kuat (mitsaqan ghalizan).

Qiyas yang digunakan tersebut dalam istilah ushul fikih disebut qiyas al-aulawi (analogi yang hukumnya pada furu’ lebih kuat dari pada yang melekat pada asalnya). Perkawinan sejatinya merupakan transaksi yang penting, bahkan jauh lebih penting dari transasksi lainnya dalam kehidupan manusia. Kalau suatu transaksi hutang saja harus dicatat, bukankah transaksi perkawinan merupakan hal yang lebih krusial untuk dicatatkan?

Terakhir, sangat relevan diungkapkan di sini pernyataan Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah, ahli fikih Mazhab Hanbali. Dia menulis dalam kitabnya, I`lan al-Muwaqqiin an Rabb al-Alamin: “Syariat Islam sesungguhnya dibangun untuk kemaslahatan manusia dan tujuan-tujuan kemanusiaan universal, seperti keadilan, kerahmatan, kebijaksanaan. Prinsip-prinsip inilah yang harus menjadi acuan dalam pembuatan hukum dan juga harus menjadi inspirasi bagi setiap pembuat hukum. Penyimpangan terhadap prinsip-prinsip ini berarti menyalahi cita-cita hukum Islam itu sendiri.”

 

Dampak Buruk Perkawinan Tanpa Pencatatan

Muncul pertanyaan kritis, mengapa pencatatan perlu dijadikan salah satu rukun sehingga menentukan sah tidaknya suatu perkawinan? Jawabnya demi kemaslahatan manusia. Sebab, perkawinan yang tidak tercatatkan berdampak sangat merugikan bagi istri dan anak-anak. Bagi istri, dampaknya secara hukum adalah tidak dianggap sebagai istri yang sah karena tidak memiliki Akta Nikah sebagai bukti hukum yang otentik. Akibat lanjutannya, istri  tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami jika terjadi perceraian atau suami meninggal dunia; istri tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perceraian karena secara hukum perkawinan tersebut dianggap tidak pernah terjadi.

Adapun dampaknya bagi anak adalah status anak yang dilahirkan dianggap sebagai anak tidak sah. Di dalam akta kelahiran akan dicantumkan “anak luar nikah”. Konsekuensinya, anak hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu, dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayah (ps. 42 dan 43 UUP). Tentu saja pencantuman anak luar nikah akan berdampak buruk secara sosial dan psikologis bagi si anak dan ibunya.

Tambahan lagi bahwa ketidakjelasan status anak di muka hukum, mengakibatkan anak tidak berhak atas nafkah, warisan, biaya kehidupan dan pendidikan dari ayahnya. Selain berdampak hukum, perkawinan ini juga membawa dampak sosial yang sangat buruk bagi perempuan. Perempuan yang melakukannya akan sulit bersosialisasi di masyarakat karena mereka sering dianggap sebagai istri simpanan atau melakukan “kumpul kebo” (tinggal serumah tanpa menikah).

Jika disimpulkan ada sejumlah problem  sosial sebagai dampak perkawinan yang tidak dicatatkan, yaitu: maraknya poligami sebab hampir semua perkawinan poligami tidak dicatatkan; Maraknya perkawinan bawah tangan (perkawinan sirri), dan nikah kontrak; Maraknya prostitusi terselubung; Ketiadaan Akta Nikah menyebabkan pengabaian dan penelantaran hak-hak istri dan anak, serta penghilangan status mereka secara hukum;   dan Ketiadaan Akta Nikah menyulitkan pengambilan Akta Lahir bagi anak, dan itu akan berimplikasi buruk dalam kehidupan anak kelak.

Selama ini berkembang anggapan, nikah yang dilakukan tanpa pencatatan (nikah sirri) bisa di-itsbat-kan. Anggapan ini sangat keliru, karena nikah sirri berada di luar konteks sebab itsbat. Nikah sirri bukan merupakan salah satu sebab dibolehkannya itsbat. Solusi bagi mereka yang terlanjur menikah tanpa pencatatan adalah datang menghadap ke kantor KUA dengan membawa para saksi yang masih hidup disertai bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa mereka betul telah menikah. Di sana mereka disumpah dengan sanksi yang tegas jika melanggar sumpah. Lalu, KUA dapat mencatatkan perkawinan dan selanjutnya menerbitkan Akta Nikah bagi mereka.

Menurut Abu Hasan al-Mawardi dan Ibn Taimiyah, pemerintah dalam hukum Islam memiliki kewajiban melindungi warganya dari berbagai bentuk eksploitasi dan perlakuan yang merugikan dengan menciptakan peraturan-peraturan yang dapat menimbulkan ketenteraman dan kedamaian. Sebagai uli al-amr pemerintah mempunyai dua fungsi utama, yaitu fi harasah al-din (menjaga agama) dan fi siyasah al-dunya` (mengatur urusan dunia).

Dalam pelaksanaan kedua fungsi tersebut, pemerintah wajib ditaati oleh warganya,[3] sepanjang tidak mengajak kepada kemungkaran dan tidak pula mendatangkan kemudharatan. Dalam konteks pelaksanaan kedua fungsi inilah pemerintah dibenarkan membuat perundang-undangan dalam bidang siyasah al-syar’iyah. Siyasah al-syar’iyah adalah seperangkat aturan yang dibuat pemerintah dalam rangka menunjang keberlakuan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, meskipun belum pernah dirumuskan oleh ulama sebelumnya.

Oleh karena itu, negara berkewajiban mempersiapkan peraturan perundang-undangan untuk mengantisipasi adanya perilaku diskriminasi dan eksploitasi  yang merugikan rakyatnya. Kewajiban negara ini, antara lain didasarkan pada kaidah-kaidah fikih berikut: tasharruf al-imam ala ar-ra’yah manutun bi al-maslahah dan inna li waliyyi al-amr an ya’mura bi al-mubah lama yarahu min al-maslahah al-‘ammah wa mata amara bihi wajabat tha’atuhu.  Kaidah fiqh tersebut menurut Al-Suyuthi berangkat dari pernyataan Imam Syafii bahwa: manzilah al-imam min ar-ra’yah manzilah al-waliy min al-yatim. [4]

Akhirnya, ke depan sangat perlu desakan kuat kepada pemerintah untuk melarang pernikahan tanpa pencatatan, dengan menghukum para pelanggarnya. Selain itu, yang penting juga dilakukan adalah melakukan pemberdayaan komponen pelaksanaan hukum (structure of law). Wallahu a’lam bi as-shawab.

 

[1] Profesor riset bidang lektur agama dan Ketua Umum ICRP (Indonesian Conference on Religions for Peace)

[2]Ahmat Safwat, “Qa’idat Islah Qanun al-Ahwal asy-Syakhsiyyah,” Makalah pada Pertemuan bar Association di Alexandria, Mesir, tanggal 5 Oktober 1917, hlm 20-30, seperti dikutip Farhat J. Ziadeh, Lihat Farhat J. Ziadeh, Lawyers, the Rule of and Liberalism in Modern Egypt (California: Stanford University,  1968), hlm. 126.

[3] Abu Hasan al-Mawardi, Ahkam al-Sulthaniyyah, Dar al-Fikr, t.th,  Beirut, h.5. Lihat juga Ibn Taimiyah, Al-Siyasah al-Syar`iyah, Dar al-Kitab al-Gharbi, 1951, h. 22-25.

 

[4] Lihat Al-Suyuthi, Al-Asybah wa an-Nadzair fi al-Furu’, t.th, h. 83-84;  Ibn Nujaim, Al-Asybah wa an-Nadzair, al-Halabi, Kairo, 1968, h. 123;  dan Ali Ahmad an-Nadwi, Al-Qawaid al-Fiqhiyah, Dar al-Qalam, Damsyiq, 1986, h. 122-123 dan 138.[:]

Musdah Mulia sedang Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan Santri Pesantren Nurul Islam, Timika, Papua

[:id]Makna Kontekstual Maulid [:]

[:id]Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal yang bertepatan dengan 12 Desember 2016 umat Islam sedunia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw atau lebih dikenal dengan istilah maulid. Meski demikian, tidak seluruh umat Islam sepakat merayakannya. Umat Islam di Saudi Arabia dan kelompok Wahabi di berbagai wilayah, termasuk yang berdomisili di Indonesia tidak merayakan maulid Nabi dengan alasan bid’ah atau sesuatu yang haram hukumnya. Argumen mereka semata-mata karena perayaan itu baru muncul setelah Nabi wafat dan tidak dikenal ketika Nabi masih hidup.

Memang benar Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya, tapi bukanlah sebuah kesalahan atau keharaman merayakan hari kelahiran Nabi karena beliau juga tidak pernah mengeluarkan hadis yang melarang perayaan maulid. Tentu saja kita dapat menghargai pendapat Wahabi yang berbeda dengan mayoritas umat Islam, namun mereka juga hendaknya bisa menghargai kelompok yang merayakannya.

Hanya saja, kelompok Wahabi di Indonesia sulit untuk bersikap toleran yang merupakan ciri khas umat Islam di Nusantara. Tidak sedikit laporan menyebutkan bahwa kelompok Wahabi mengusik perayaan maulid di berbagai wilayah, bahkan tanpa segan-segan menuduh mereka yang merayakannya sebagai kaum kafir dan murtad. Sudah sering terdengar bentrok antara kelompok Islam Wahabi dan kelompok Islam Nusantara yang biasanya diwakili oleh kaum Nahdliyyin.

Perayaan maulid Nabi di Indonesia umumnya diperingati secara intens oleh kelompok Nahdliyyin atau mereka yang tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Tidak heran jika hampir semua pesantren dan madrasah di lingkungan Nahdlatul Ulama akan sibuk mempersiapkan berbagai perhelatan meriah menyongsong perayaan maulid. Bahkan, perayaan maulid di sejumlah komunitas Muslim Indonesia sudah menjadi tradisi yang pelaksanaannya banyak dipengaruhi unsur-unsur budaya lokal.

Tidak sedikit yang bertanya-tanya, sejak kapan maulid Nabi diperingati secara meluas? Shalahuddin Al-Ayyubi, seorang panglima perang pasukan Islam dari Mesir yang dikenal sangat bijaksana dan cerdas dianggap sebagai pionir. Dialah panglima pertama yang membawa kemenangan Islam dalam Perang Salib. Beliau dianggap sebagai orang pertama yang menggagas perayaan maulid Nabi.

Menurut catatan sejarah, Perang Salib adalah perang antara umat Islam dengan umat Kristen Eropa. Perang ini berjalan cukup lama dan tidak satu pun kelompok yang memperoleh kemenangan atau menderita kekalahan secara permanen. Begitu lamanya Perang Salib berlangsung sehingga kemenangan dan kekalahan silih berganti dialami masing-masing kelompok. Semoga perang yang membawa malapetaka dahsyat bagi kemanusiaan itu tidak terulang lagi untuk selamanya. Perdamaian dan harmoni pasti lebih indah dari perang dan semacamnya.

Dalam perjumpaan dengan tentara Salib, Al-Ayyubi melihat satu hal yang membangkitkan semangat heroik tentara Salib yaitu adanya peringatan Natal. Dalam perayaan itu para tentara salib dibangkitkan semangatnya untuk berjuang mati-matian memenangkan pertempuran. Terinspirasi dengan peringatan Natal tentara Salib, Al-Ayyubi kemudian mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw. Atas idenya tersebut maulid diperingati sampai sekarang.

Karena latar belakang kelahirannya ditujukan untuk membangkitkan semangat juang pasukan Islam, maka yang dibaca di dalam peringatan maulid  adalah cerita-cerita heroik terkait berbagai perang yang dilakukan Nabi Saw. Di dalamnya berisi tentang bagaimana Nabi mengorganisir tentaranya dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, bagaimana Makkah itu sendiri ditaklukkan pada yawm alfath, dan cerita-cerita heroik mengenai para sahabat Nabi.

Pembacaan cerita-cerita tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan semangat pasukan Islam sambil mengingatkan mereka bahwa Nabi Saw adalah seorang jenderal dan ahli perang, dan para sahabatnya adalah tentara-tentara yang tidak pernah mengenal kalah. Melalui peringatan maulid, maka semangat juang pasukan Islam termotivasi untuk bangkit. Mereka memerangi tentara Salib dengan semangat yang tinggi, dan berhasil mengusirnya dari dunia Islam untuk selamanya.

Sebagian ulama -dengan mengetahui sejarah lahirnya maulid seperti di atas- lalu menganggap maulid sebagai bid’ah. Namun, sebagian yang lain, meskipun bid’ah, tetapi itu bid’ah yang baik, atau dalam istilah fiqihnya, bid’ah hasanah, yaitu suatu kreativitas yang baik. Karena merupakan kreativitas, maka orang berbeda pendapat menilainya. Ada yang menerima, dan ada yang menolak. Bahkan di Saudi Arabia pun yang secara resmi menolak peringatan maulid, masih banyak orang yang sembunyi-sembunyi merayakannya.

 

Musdah Mulia Usai peringatan Maulid di pengajian Ulul Albab, Bogor.

Musdah Mulia Usai peringatan Maulid di pengajian Ulul Albab, Bogor.

Di Indonesia kegiatan resmi maulid di istana dimulai oleh Presiden Soekarno atas saran dari Haji Agus Salim, tokoh Islam yang sangat disegani oleh Bung Karno. Bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, Maulid mempunyai nilai simbolik yang sangat penting. Tradisi warisan Bung Karno itu patut dipertahankan. Oleh karena itu, tugas umat Islam sekarang adalah membersihkannya dari unsur-unsur yang tidak bisa dibenarkan oleh agama seperti pemujaan atau kultus yang berlebihan kepada Nabi saw.

Kalau awalnya dalam maulid dibacakan cerita-cerita heroik seperti perjuangan Nabi dalam berbagai peperangan, kini diubah dengan pembacaan syair-syair Dibbaân, dan Barzanji, sebuah ekspresi seni dengan nilai estetika yang sangat tinggi. Isinya menjelaskan sifat-sifat keutamaan Nabi dan kemuliaan beliau. Intinya adalah membacakan shalawat, doa dan pujian kepada junjungan Nabi saw sebagai ungkapan rasa cinta mendalam kepadanya. Hal ini sama halnya ketika seorang anak yang baru lahir dibacakan Barzanji, yang juga menjadi semacam doa kepada Allah melalui pernyataan kecintaan kepada Nabi. Ide shalawat sebenarnya ialah mendoakan Nabi. Ustad-ustad di pesantren biasanya menerangkan bahwa Nabi itu diibaratkan sebuah gelas yang sudah penuh. Dengan membaca shalawat berarti kita mengisi lagi gelas yang sudah penuh itu, sehingga airnya meluber dan tumpah. Tumpahannya itulah yang dianggap sebagai berkah atau syafaat Nabi.

Kalau dulu Salahuddin Al-Ayyubi memperingati Maulid untuk membangkitkan semangat pasukan Islam menghadapi tentara Salib, kini perayaan serupa tetap perlu dilakukan. Namun, spiritnya bukan lagi membangkitkan semangat perang melawan tentara Salib, melainkan semangat perang melawan musuh-musuh Islam dalam wujud imperialisme, kapitalisme, hedonisme dan konsumerisme.

Selain itu, peringatan maulid seharusnya diarahkan untuk mengenang perjuangan Nabi  memberantas kemiskinan dan kemelaratan, membela kelompok rentan dan tertindas (mustadh’afin). Mereka adalah orang-orang miskin, para perempuan yang teraniaya, anak-anak yang terlantar dan para buruh yang dieksploitasi dan sebagainya. Maulid seharusnya memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk bangkit melawan semua bentuk perbudakan dan penjajahan dalam bentuk apa pun, termasuk dalam bentuk aksi-aksi intoleransi yang akhir-akhir ini semakin menguat di kalangan umat Islam.

Maulid Nabi juga dapat menjadi medium untuk mengembangkan rasa kebangsaan dan nasionalisme. Secara politis nasionalisme merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita luhur dan mulia bagi suatu bangsa untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan. Selain itu, sebagai pendorong suatu bangsa untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia.

Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul dari bangsa dan negara lain sehingga timbul sikap memandang hina bangsa lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinism) tetapi harus menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lainnya. Jadi, dibedakan dua macam nasionalisme: Pertama, nasionalisme dalam arti sempit, yakni suatu sikap yang meninggikan bangsa sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinism. Kedua, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Akhirnya, selamat merayakan maulid Nabi saw, semoga semua doa terbaik tercurah untuk beliau, junjungan umat Islam. Semoga pula kita umatnya semakin sadar meneladani semua sifat utama  dari diri beliau, terutama sifat-sifat kemanusiaan universal yang sangat mengemuka dalam dirinya. Sifat dimaksud seperti adil, jujur, lembut, tegas, bersih, sangat penyayang pada sesama manusia, peduli lingkungan dan amat mencintai perdamaian.  Sekali lagi, shalawat dan salam untuk Nabi tercinta.[:]

Rasul Berislam yang Lapang, Mengapa Umatnya Kok….?

[:id]​

Jelang maghrib. Seorang alumni Gontor menyapaku via japri. Kemudian, ia  ngirim tayangan video. Segera saya buka. Menakubkan isinya. Sebuah gereja di Scotlandia membuka diri dan dwifungsi. Sebagai gereja dan masjid. Lonceng panggilan & penanda ibadah Kristiani dan azan silih berganti. Bukan hanya sekali waktu lho! 5 x waktu shalat. Seperti biasa ada kontraversi di jamaah Kristianinya. Namun, mayoritas mendukung langkah sang pendeta. Sebuah sikap kekristianian yang dewasa dan lapang hati. Kerrreeen top.

Tak lama, seorang alumni dari ujung pulau Sumatra  menyapaku via japri. “Syeikh, para senior ma’had kok bisa setegang itu ya. Ini kan perkara politik?!”, ia membuka diskusi. Nampaknya ia merespon cuitan emosional seorang profesor di WAG alumni Gontor. “Ya, begitulah. Tidak semua orang Gontor punya kedewasaan beragama dan keislaman yang lapang”, jawabku.

Terkait sikap keberagamaan, juga keislaman, saya percaya, silent majority umat beragama, dan umat Islam cinta damai, harmonis dan penikmat hidup dalam kebhinekaan. Berislam yang lapang, nyantai, full of tabassum, wajah cerah dan mampu bersinergi dalam urusan sosio-ekonomi-politik. Hanya seupil saja yang ngasong ekstrimisme, radikalisme dan nyupport terorisme.

Serius, amatan saya bukan perkara iman. Perkara dan motif politic as usual. Coba Ahok melembut dan nego2 sesuatu. Pasti bergeser posisi duduknya. Saya kenal kok karakter para tokoh agama, politisi dan tokoh ormas keislaman kita. Hiks hiks hiks. Gak ada zuhudnya. Para  pengepul harta.

Terkait video di atas, saya ingat kisah Rasulullah. 60 pendeta Najran datang ke Madinah. Nantang debat teologi. Trinitas atau tauhidkah yang benar?Beritanya 3 hari 2 malam adu nalar dan jual beli dalil berlangsung antara Rasul dan para pendeta. Yang menarik, saat mereka ijin ibadah, Rasul menyilahkan mereka lakukan di dalam masjid. Kerrrrrren top Rasulku. Nampaknya spirit kenabian itu yang dicopypaste pendeta di Scotlandia itu.

Sedihnya, sikap kenabian itu sirna dalam diri umat Islam. Serombongan ormas, politisi, kuyaha dan asatidz  kini bergairah menjual keberislaman yang ekstrim, wajah kecut, memprovokasi kekejian dan kekejaman. Reinkarnasi nafsu al ammarah bi al suu’ Abu Bakar al-Baghdadi merasuki jiwanya. Naudzubillah.

[:en]​

Jelang maghrib. Seorang alumni Gontor menyapaku via japri. Kemudian, ia  ngirim tayangan video. Segera saya buka. Menakubkan isinya. Sebuah gereja di Scotlandia membuka diri dan dwifungsi. Sebagai gereja dan masjid. Lonceng panggilan & penanda ibadah Kristiani dan azan silih berganti. Bukan hanya sekali waktu lho! 5 x waktu shalat. Seperti biasa ada kontraversi di jamaah Kristianinya. Namun, mayoritas mendukung langkah sang pendeta. Sebuah sikap kekristianian yang dewasa dan lapang hati. Kerrreeen top.

Tak lama, seorang alumni dari ujung pulau Sumatra  menyapaku via japri. “Syeikh, para senior ma’had kok bisa setegang itu ya. Ini kan perkara politik?!”, ia membuka diskusi. Nampaknya ia merespon cuitan emosional seorang profesor di WAG alumni Gontor. “Ya, begitulah. Tidak semua orang Gontor punya kedewasaan beragama dan keislaman yang lapang”, jawabku.

Terkait sikap keberagamaan, juga keislaman, saya percaya, silent majority umat beragama, dan umat Islam cinta damai, harmonis dan penikmat hidup dalam kebhinekaan. Berislam yang lapang, nyantai, full of tabassum, wajah cerah dan mampu bersinergi dalam urusan sosio-ekonomi-politik. Hanya seupil saja yang ngasong ekstrimisme, radikalisme dan nyupport terorisme.

Serius, amatan saya bukan perkara iman. Perkara dan motif politic as usual. Coba Ahok melembut dan nego2 sesuatu. Pasti bergeser posisi duduknya. Saya kenal kok karakter para tokoh agama, politisi dan tokoh ormas keislaman kita. Hiks hiks hiks. Gak ada zuhudnya. Para  pengepul harta.

Terkait video di atas, saya ingat kisah Rasulullah. 60 pendeta Najran datang ke Madinah. Nantang debat teologi. Trinitas atau tauhidkah yang benar?Beritanya 3 hari 2 malam adu nalar dan jual beli dalil berlangsung antara Rasul dan para pendeta. Yang menarik, saat mereka ijin ibadah, Rasul menyilahkan mereka lakukan di dalam masjid. Kerrrrrren top Rasulku. Nampaknya spirit kenabian itu yang dicopypaste pendeta di Scotlandia itu.

Sedihnya, sikap kenabian itu sirna dalam diri umat Islam. Serombongan ormas, politisi, kuyaha dan asatidz  kini bergairah menjual keberislaman yang ekstrim, wajah kecut, memprovokasi kekejian dan kekejaman. Reinkarnasi nafsu al ammarah bi al suu’ Abu Bakar al-Baghdadi merasuki jiwanya. Naudzubillah.

[:]