Timses Jokowi-JK ungguli PraHaRa soal Kebebasan Beragama

Dalam rangka mengenal visi-misi calon pemimpin bangsa berkenaan kebebasan beragama, Freedom Institute, Friedriech Nauman Foundation, dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) mengundang kedua tim sukses Rabu (18/6). Bedah visi-misi yang bertemakan“Masa Depan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” ini dilaksanakan di restoran Gado-gado Boplo.

Awalnya panitia mengundang wakil ketua umum Gerindra, Fadli Zon, untuk memaparkan pandangan jagoannya berkenaan kebebasan beragama. Tetapi, Fadli Zon siang itu tidak menampakan batang hidungnya. Dari kubu Jokowi-JK, Maman Imanul Haq pun tidak bisa hadir. Alhasil bedah gagasan kedua capres hanya dihadiri satu perwakilan dari masing-masing kubu.

Hadir dari sisi PraHaRa, sebutan yang cukup sunter di jejaring sosial bagi pasangan Prabowo Hatta Rajasa, yaitu Sosiolog Kastorius Sinaga. Dari Pihak Jokowi JK, datang agak terlambat Prof. Dr. Musdah Mulia. Debat antar kedua perwakilan timses sore itu sepanas cuaca di luar ruangan.
“Visi misi Jokowi-JK tentang pembangunan kehidupan beragama di tanah air dibuat secara serius. Tidak tergesa-gesa”, Ujar Musdah Mulia mengawali pembahasannya. Pernyataan pembuka Musdah Mulia ini disambut tepuk tangan para peserta debat. Pasalnya, dalam paparan  Kastorius Sinaga, kubu PraHara mengakui bahwa manifesto Gerindra yang kontroversial dan mengundang banyak kecaman dari tokoh intelektual itu dibuat secara “tergesa-gesa.”

Musdah yang mengenakan baju berwarna ungu pada acara itu menerangkan duduk perkara kebebasan beragama di tanah air. Profesor yang telah malang melintang dalam membela kebebasan beragama ini meyakini ada pembiaran pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terhadap kasus-kasus intoleransi di tanah air. Pernyataan itu terlihat membuat Kastorius Sinaga yang juga merupakan mantan caleg dari Demokrat itu tidak nyaman.

Siang itu dengan menggunakan beberapa slide presentasi, Musdah memberikan beberapa indikator pembiaran pemerintah sehingga mendorong menguatnya intoleransi. Musdah, berdasar hasil riset, menyatakan pemerintah abai untuk membangun kesadaran toleransi antar agama di dunia pendidikan. “Rohis kini menjadi salah satu sarang munculnya islam radikal”, kata Musdah. Bahkan, menurut Musdah banyak tenaga pengajar anti-kebhinekaan kini.

“Ada pembiaran terhadap penyebaran hate speech selama 7 tahun ke belakang”, imbuh Musdah. Meski jumlah orang radikal sedikit Musdah melihat penguatan semangat intoleransi begitu deras di dunia maya.

Selain itu, Musdah mengkhawatirkan netralitas aparat keamanan dalam melihat hubungan beragama masyarakat. “Aparat makin condong kepada kemauan mayoritas”, kata Musdah. Padahal, menurut Musdah persoalan hubungan beragama tidak bisa mengikuti besaran suara, melainkan konstitusi.

Dalam temuan di lapangan, ketua Indonesian Conference on Religion and Peace ini melihat ada paradoks aparat keamanan. “Ibu ini kan mengenal agama, kenapa membela Ahmadiyah yang sesat itu?”, kata Musdah menuturkan pernyataan salah seorang aparat keamanan di lapangan yang sempat berbicara dalam mengurusi persoalan Ahmadiyah.

Menurut Musdah persoalan kebebasan beragama bisa diatasi jika negara hadir. “Negara harus membuat peraturan, tetapi harus berdasar pada perlindungan warga negara, tanpa diskriminasi!”, tegas Musdah.

Mengakhiri sesi pertamanya, Musdah menunjukan sebuah buku kecil. “Jika Anda ingin melihat keseriusan visi-misi kami berkenaan isu kebebasan beragama silahkan baca buku ini”. Tutup Musdah.

Nisfu Sywaludin, salah satu peserta bedah visi-misi siang itu melihat kubu Jokowi-JK  lebih mantap. “Lebih keren Bu Musdah lah”, kata koordinator Forum Ide itu. Nisfu melihat Musdah memenangi forum siang itu.

Kastorius, menurut Nisfu tidak begitu ahli  dalam persoalan intoleransi.“Memang Bu Musdah kan concern terhadap isu seperti minoritas dan gender”, Pungkas Nisfu.

Kiprah ISIS di Irak pengaruhi Kelompok Radikal Tanah Air

Menguatnya ancaman ISIS (Negara Islam Irak dan Mediterania Timur) disambut meriah oleh kalangan Islam radikal di tanah air. Atas perkembangan situasi di Irak itu, Direktur proyek International Crisis Group untuk Asia Tenggara, Sidney Jones menilai dukungan terhadap kelompok teroris multinasional ini semakin menguat di tanah air. Hal ini, lanjut Sidney, terlihat dari besarnya antusiasme kelompok jihadis asal Indonesia untuk pergi ke medan perang menyertai ISIS.

Sidney menemukan website-website yang dikelola kalangan radikal tengah mengumpulkan dana guna membantu ‘perjuangan’ ISIS.

Dalam temuannya lebih lanjut yang diwartakan jakartapost, Sidney memaparkan upaya kelompok radikal membantu  ISIS sudah sampai ke UIN Syarif Hidayatullah. Padahal sebagaimana diketahui UIN Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal UIN Ciputat dinilai sebagai kampus kalangan intelektual muslim  tanah air. Infiltrasi para pendukung ISIS ke UIN ini, Sidney contohkan dengan penggalangan dana bagi ISIS pada tanggal 8 Februari. Kala itu, panitia mengundang ideolog kelompok radikal, Halawi Makmun sebagai pembicara. Tak kurang dari 41, 9 juta rupiah terkumpul dalam acara itu.

Menguatnya dukungan terhadap ISIS yang signifikan dalam enam bulan terakhir diyakini karena beberapa penaklukan ISIS atas rezim Assad dibeberapa titik di Suriah. Terlebih, kini ISIS mampu untuk merebut dua kota  di Irak, Tikrit dan Mosul.

ISIS mendapat dukungan dari jaringan teroris di Indonesia sebut saja, dari Indonesia Timur seperti Santoso yang hingga kini masih berstatus buronan, atau Abu Bakar Baasyir yang memimpin Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan juga Mujahidin dari Indonesia Barat lainnya.

Bulan lalu, Aman Abdurahman, teroris yang menjalani hukuman sembilan tahun penjara karena membantu Baasyir mendirikan pendirian kamp paramiliter di Aceh, melakukan sumpah via dunia maya pada pimpinan ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi. Dalam pernyataan sumpahnya, Aman berjanji untuk setia pada perjuangan ISIS. “Jemaah Islamiyah (kelompok teroris domestik lainnya) secara umum tidak mendukung ISIS, kelompok ini lebih mendukung saingan ISIS di Suriah yang bergabung dengan Front Al-Nusra”, tutur Sidney.

Pakar terorisme Noor Huda Ismail mengatakan bahwa sejumlah jihadis tanah air telah berniat untuk bertempur bersama ISIS di Irak dan Suriah. Beberapa diantaranya, ungkap Ismail, didorong oleh pandangan ideologi ekstrim. Sementara  sisanya , menurut Ismail, tergiur oleh imbalan. “para jihadis menyatakan mereka menerima bayaran dan akomodasi yang dipenuhi oleh ISIS”, ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail juga meyakini para jihadis asal Indonesia bisa dengan mudah memasuki teritori Suriah via Turki. Hal ini, menurutnya membuat semakin banyak militan asal di tanah air yang kelak akan bergabung dengan ISIS.

Berdasar laporan BNPT (Badan Nasional Penanggulan Terorisme) sekurang-kurangnya 50 warga negara Indonesia tengah bergabung dengan pemberontak di Suriah untuk menggulingkan Bashar Al-Assad.

Hingga kini masih belum diketahui keberadaan 50 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS itu  masih berada di Suriah atau telah hijrah ke Irak. Tetapi, dikabarkan seorang pemuda 19 tahun asal tanah air, Wildan Mukhallad, telah melakukan bom bunuh diri di Irak. Sebelumnya Wildan diketahui bertempur di Alleppo, Suriah.

Sidney meyakini para jihadis yang  pulang  pasca berperang di Suriah akan membentuk ancaman serius bagi keamanan di tanah air. Para militan itu, Sidney melanjutkan,  telah terlatih untuk melakukan pelatihan menyerang,  mahir dalam bersenjata dan berhubungan dengan jaringan teroris internasional. Hal yang tidak dimiliki kelompok teroris lokal.

“Kita memang tidak mampu memprediksi ke depan seperti apa, tetapi pemerintah Indonesia harus bersiap diri untuk menghadapi dampak yang bisa jadi lebih mengerikan ketimbang era 90an ketika para mujahid asal Indonesia pulang dari Afghanistan dan membentuk gelombang baru terorisme”, Ujar Sidney.

Guna mencegah alumni ISIS melakukan aksi-aksi terorisme di tanah air, Ismail menyarankan pemerintah harus secara serius memberikan perhatian pada mereka ketika pulang ke Indonesia.

“(pemerintah) perlu untuk memberikan wacana alternatif yang menerangkan pada para mujahid yang kembali ke tanah air bahwaapa yang terjadi di Suriah dan Irak tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Ada banyak kepentingan yang berperan dalam konflik itu, Indonesia menjadi salah satu kepentingan yang signifikan”, Pungkas Ismail. (thejakartapost.com)

 

 

 

 

 

 

Paus Francis inisiasi Perdamaian di Tanah Suci dengan Berdoa

Presiden Mahmoud Abbas dan Presiden  Shimon Peres menepati janjinya untuk datang ke Vatikan Minggu (8/6). Kunjungan presiden kedua negara yang tengah berkonflik ke Vatikan itu merupakan undangan dari Paus Francis saat mengunjungi tanah suci Yerusalem dua minggu lalu. Pertemuan ini merupakan salah satu upaya menuju proses perdamaian di Timur Tengah.

Meski demikian pertemuan Abbas maupun Shimon Peres di Vatikan tidak sebagaimana pertemuan-pertemuan yang lawas. Dalam pertemuan hari Minggu itu, tidak ada perbincangan politik ataupun negosiasi untuk mencapai resolusi damai bagi kawasan yang senantiasa bergejolak itu. Tidak seperti cara-cara tradisional dalam politik, di Vatikan kedua tokoh politik itu bersama Paus Francis berdoa demi perdamaian.

Pertemuan pada minggu antara Abbas dan Shimon Peres merupakan yang kali pertama di Vatikan. Sebelumnya pemimpin kedua belah pihak yang berselisih dalam puluhan tahun itu tidak pernah berdoa bersama.

Bagaimanapun sucinya pertemuan untuk berdoa bersama itu, kunjungan Abbas dan Shimon Peres tidak sepenuhnya terlepas dari perkara politik.

Setelah berdoa dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Italia dari beragam agama, tiap pemimpin menawarkan harapan masing-masing.

“Tanpa perdamaian, kita tidak pernah sempurna. Kita memang belum sanggup meraih tujuan kemanusiaan”, Kata politikus Israel peraih nobel perdamaian itu. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa meski perdamaian terasa jauh, tiap pihak harus terus berupaya meraihnya atau mendekatinya.

“Kami memohon, pada-Mu, Tuhan, agar terciptanya damai di Tanah Suci, Palestina dan Jerusalem,” Kata Abbas berdasar hasil terjemahan CNN. “Bersama rakyat Palestina, kami memohon pada-Mu untuk menciptakan Palestina dan Jerusalem tanah yang aman bagi setiap orang beriman, sebuah tempat untuk menyembahmu dan bersembahyang pada-Mu”, imbuh Abbas.

Paus Francis menuturkan pertemuan ini sebagai jawaban bagi tiap orang yang ingin hidup dalam persaudaran bukan permusuhan.

“Saya berharap pertemuan ini akan menjadi sebuah perjalan ke depan yang menyatukan kita melampaui apa-apa yang memisahkan kita” Kata Paus mengharapkan hasil dari pertemuan minggu itu.

Pertemuan minggu itu dipermanis dengan penanaman pohon Zaitu di Vatikan. Pohon  itu merupakan permintaan Paus Francis dua minggu lalu saat mengunjungi tanah suci.

 

 

 

Khutbah Alumnus Jihad Afghanistan Provokasi Rakyat Yogyakarta

Khutbah Alumnus Jihad Afghanistan Provokasi Rakyat Yogyakarta

Jebolan Jihadis Afghanistan Jafar Umar Thalib kembali menyampaikan khutbah provokatif di Yogyakarta, Minggu (8/6).  Dalam tabligh akbar di Mesjid Agung Gede, Jafar  mendeklarasikan perang melawan pluralisme.

Berperan sebagai pengkhutbah di acara bertemakan “Umat Islam Bersatu untuk Indonesia Maju”, Jafar mengecam pluralisme sebagai ajaran yang sesat bagi muslim.  Pluralisme dinilai ajaran sesat oleh pria kelahiran Malang 52 tahun lalu karena memandang semua agama adalah benar.

“ini (pluralisme) merupakan sebuah pernyataan perang terhadap muslim, karena pandangan itu membuat seorang muslim menjadi murtad”, Ujar Jafar malam itu kepada kurang lebih 2000 jemaat yang hadir. Lebih lanjut, ia meyakini bahwa memerangi pluralisme adalah sebuah kewajiban. Karena pluralisme, kata Jafar, memiliki potensi untuk menimbulkan konflik.

“Tidak ada toleransi saat agama direndahkan”, ujar Jafar yang sempat menjadi komandan Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jamaah. Dikabarkan anggota organisasi Jafar pernah berkiprah ini terlibat dalam konflik berdarah di Ambon awal tahun 2000.

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta itu disebarkan lewat poster berwarnakan hitam dan putih yang bertuliskan “Umat Islam Bersatu Melawan Pluralisme”. Pada umumnya kelompok Islam garis keras menyukai kedua warna ini. Hal ini bisa dilihat dari bendera ISIS (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Imam mesjid Gede, Budi Setiawan menuturkan acara tablig akbar tersebut awalnya bertemakan “Umat Islam Bersatu Melawan Pluralisme”. Tetapi, Ia memohon pada panitia pelaksana untuk mengubah tema acara agar tidak terlalu meresahkan warga. Ia mengatakan telah menerima beragam pengaduan atas tema yang diangkat setelah selebaran dan poster bertebaran dimana-mana. Kekecewaan pun, menurut Budi, terlihat dari suara di sosial media.

Budi memastikan panitia telah mengganti tema tablig akbar tetapi, ia tak sebegitu yakin jika publik menerima surat undangan yang versi revisi.

“tema pertama yang diangkat tidak kondusif untuk sekarang, terlebih setelah rantaian peristiwa akhir-akhir ini”, kata Budi sebagaimana dilansir Jakarta Post.

Sebelumnya diwartakan beberapa aksi kekerasan yang diduga berkaitan dengan paham agama radikal mewarnai Yogyakarta. Beberapa waktu lalu, jemaat Gereja yang tengah melakukan ibadah diserang gerombolan lelaki bergamis dan berkalung surban. Dalam waktu yang berdekatan dengan penyerangan terhadap jemaat Gereja, kembali sebuah gereja jadi target gerombolan tak dikenal yang menerikan keagungan tuhan.

Budi khawatir tema yang diangkat panitia memperkeruh suasana di Daerah Istimea Yogyakarta. Ia menduga tema awal itu bisa memperburuk kekerasan sektarian yang tengah mewabah di Yogyakarta akhir-akhir ini.

Sempat diberikan ruang dalam membuka tablig akbar, Budi menyampaikan pada jemaat bahwa isi khutbah sebaiknya tidak memicu kebencian antar umat beragama. Ia juga mengatakan bahwa Islam agama yang adil terhadap perbedaan. “Adalah tujuan kita mencari persamaan, bukan perbedaan”, imbuh Budi.

Sementara itu, Koordinator Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo) Denny Susanto memandang khutbah Jafar amat provokatif.

“Yogyakarta tengah menghadapi tantangan serius dalam merawat pluralisme,” kata Denny yang juga hadir dalam acara itu.

Budi Setiawan tidak sepakat dengan pandangan Jafar. Menurutnya, Islam yang dipahami Jafar tidak bisa dijadikan rujukan untuk menilai pandangan muslim secara umum. Pernyataan ini ia maksudkan untuk membantah komentar Jafar yang memandang Islam sebagai sebuah “agama peperangan”.

Banyak pihak khawatir acara malam itu didorong oleh kepentingan politik. Meskidemikian tidak ada politisi satupun yang menghadiri tablig akbar itu. (Jakpost)

Gomar Gultom : “Agama Apapun, Harus Dihormati”

Sekretaris Jendral Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom menilai Undang-Undang berkaitan kebebasan beragama itu semestinya mengatur bukan membatasi atau melarang. Secara struktur dan pendekatan negara, lanjut Gultom, pemerintah masih bermasalah memandang kebebasan beragama. Pernyataan itu, Gultom sampaikan dalam “Pendidikan Demokrasi, HAM, dan Konstitusi bagi Penyuluh Agama-agama” Sabtu (7/6).

Dalam workshop yang dilaksanakan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Gultom memandang kebebasan beragama di tanah air pasca reformasi pada titik yang mengkhawatirkan. Indikator yang ia pakai adalah masifnya penutupan rumah ibadah di Indonesia selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Lebih lanjut, Gultom menuturkan fenomena penutupan rumah ibadah kerap terjadi seperti saling membalas.”kristen jadi mayoritas di Medan mereka larang rumah ibadah parmalin di sana, ini konyol  juga”, ujar pendeta Goemar Gultom. Menurut Gomar Gultom hal ini menunjukan ironisitas keberagaman di tanah air.

Dalam acara yang dihadiri dari mahasiswa beragam agama dan keyakinan itu, hadir juga penganut Parmalin. Penganut agama lokal itu mengakui betapa susahnya membangun rumah ibadah di Medan.

Selain menguliti persoalan pembuatan rumah ibadah, pendeta Gultom menyayangkan menguatnya aksi-aksi kekerasan di tanah air.

“Ada pembiaran bahkan negara mendukung kasus-kasus kekerasan”, Imbuh pendeta asal  Batak ini. Hal ini, tutur Gultom terlihat dari ada impunitas terhadap pelaku kekerasan atas nama agama. “Pembunuhan di Cikeusik pelaku hanya diganjar 1 sampai 5 bulan saja”, tambah Gultom.

Kemudian, Gultom meyakini pelaku kekerasan pada dasarnya minoritas di tanah. Hanya saja, menurut gultom, masyarakat  cenderung kurang aktif dalam menentang kelompok kecil yang radikal itu.

Gultom menekankan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi aksi-aksi kekerasan agama. Salah satu faktor utama, dalam temuannya adalah tidak adanya penegakan hukum yang baik. Sebagaimana diketahui, penegakan hukum merupakan bagian penting dalam proses demokratisasi. “Demokrasi seolah dimaknai  suara mayoritas, bukan penghormatan kebebasan individu”, Ujar Gultom.

“Demokrasi ktia tersandera oleh prosedur, dan melupakan substansi”, imbuhnya. Lebih lanjut Goemar Gultom melihat ini salah satu penyebab kuat munculnya perundang-undangan yang tidak pro terhadap kebebasan beragama.

Faktor yang tidak kalah penting dalam menyebabkan munculnya teror-teror atas nama agama ialah menguatnya doktrin kekerasan di masyarakat. Bagi Gultom, ini merupakan tantangan serius bagi demokrasi Indonesia ke depan.

“kalau di lihat gereja, mesjid, ramai. tapi, menariknya tidak memberikan transformasi pada masyarakat”, Kata Gomar. Siang itu, ia memberikan contoh betapa agama belum mampu memberikan perubahan signifikan dalam mereduksi kemiskinan.

“Agama perlu berperan lebih transformatif pada masyarakat”,Pungkas Gultom.

Toleransi Beragama di Media Sosial, ini kata Kader Muda NU

Kader muda NU Savic Ali mengakui trend menebar kebencian berbasis agama semakin menguat di dunia maya. Meningkatnya gelombang kebencian berbasis agama ini, tutur Savic Ali, bisa dikategorikan sebagai New Tribalism. Pernyataan demikian, Savic sampaikan dalam Workshop Konferensi Kebebasan Beragama : Anak Muda, Media Sosial, dan Gerakan Toleransi, Senin (2/6).

Berdasar temuan Savic, dunia maya telah dikuasai kalangan intoleran. Pada presentasinya, pimred Voice + Magazine itu menunjukan situs semacam VOA-Islam.com, Arrahmah dan sejenisnya memiliki rating yang tinggi. Keadaan sebaliknya terlihat di situs-situs Islam moderat. “situs garis keras luar biasa menjamur dan kreatif, Islam moderat kalah di dunia maya!”, Kata Savic.

Savic menduga kalangan islam moderat dan pro pluralisme kalah militan dengan kelompok intoleran. “Kelompok intoleran mempersepsikan ada musuh Islam yang harus diperangi. Nah, dari sanalah muncul militansi mereka”, ujar Savic Ali. Gairah ini lah yang menurut Savic Ali tidak ada di kalangan moderat. “kita tidak mengasumsikan adanya musuh, hidup santai biasa saja”, canda Savic memandang kalangan moderat.

Kondisi semacam itu, lanjut Savic, yang membuat kalangan Islam moderat hanya punya sedikit inisiatif. Sehingga gagasan-gagasan dan gerakan toleransi terlihat seolah padam di dunia maya.

Selain kurangnya militansi, Savic menambahkan persoalan lain di sisi kalangan toleran dan moderat. “Ada perasaan minder dari kalangan moderat karena pemahaman agama yang masih belum mapan untuk menangkis pandangan kelompok intoleran”, kata Savic. Perspektif  tersebut dinilai kurang tepat. Menurut Savic kalangan moderat harus creating more content! “Tidak selalu harus menggunakan argumentasi agama dalam melawan konten garis keras”, imbuh Savic.

Savic Ali meyakini di dunia nyata, kalangan moderat masih dominan. “kalangan moderat ini Silent Majority”, ujar Savic Ali. Meskidemikian kondisi dunia maya, dalam pandangan Savic bisa mengubah pola pandang silent majority ini.

“Hanya butuh tiga orang untuk membakar hutan, sebaliknya dibutuhkan ribuan orang untuk merawan hutan”, tutur Savic memberikan analogi antara kalangan intoleran dan toleran.

Workshop yang diselenggarakan oleh The Indonesia Legal Resource Center (ILRC), LBH Jakarta, AWC Universitas Indonesia, CRCS Universitas Gajah Mada, Yayasan Cahaya Guru, SEJUK dan HIVOS ini turut mengundang inisiator Ayah ASI Shafiq Pontoh dan direktur komunikasi change.org Arief Aziz.\

Pada acara Workshop sore itu, peserta nampak dari berbagai kalangan muda dan beragam keyakinan. Salah satu yang sempat berbincang dengan redaksi icrp-online.org adalah Asep Somantri. Ia mengklaim diri sebagai penganut Sunda Wiwitan.

Penulis : Erton

Forum Ide Kecam Serangan Gereja di Sleman

Kecaman atas serangan gerombolan berjubah terhadap jemaat gereja  Santo Franciscus Agung, Sleman mengalir dari pelbagai pihak. Forum Ide, sebuah forum anak muda ibukota yang peduli isu pluralisme turut bersuara terhadap perilaku intoleran di Sleman.

Dalam  email diterima oleh redaksi icrp-online.org, Forum-Ide mengutuk keras aksi intoleransi yang terjadi terhadap Jemaat Gereja Santo Franciscus Agung di Sleman. Intoleransi di Sleman, menurut Forum Ide, sudah pada tahap yang memprihatinkan. Dalam satu halaman pernyataan sikap itu, Forum-Ide menyesalkan ketidaksigapan aparat keamanan dalam mengantisipasi konflik berbasis perbedaan agama di Sleman.

Forum yang kerap melaksanakan text reading bersama Ulil Abshar Abdalla ini mendesak aparat keamanan segera menangkap pelaku aksi intoleransi yang menimpa jemaat gereja Santo Franciscus Agung. Selain itu, Forum ide meminta kepolisian setempat untuk tidak ragu dalam memberikan hukuman terhadap perobek tenun kebangsaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Koordinator Forum-Ide Rizal Lubis meminta para tokoh-tokoh agama, masyarakat dan pemerintah lokal dan nasional untuk tidak membuat pernyataan yang membenarkan tindakan kekerasan atas nama agama. Pernyataan semacam itu, lanjut Lubis, mampu menimbulkan tindakan kekerasan terhadap kelompok minoritas atau kepercayaan.

Forum Ide juga berharap Kementerian Agama untuk lebih hadir  dalam penyelesaian konflik-konflik atas nama agama. Konstitusi, tegas Forum Ide, harus dijadikan satu-satunya sandaran perspektif yang digunakan oleh Kementrian Agama menyelesaikan konflik-konflik antar umat beragama.  Forum  Ide menyarankan Kementerian yang menterinya tengah jadi tersangka perkara rasuah itu untuk lebih mendengarkan suara korban ketimbang pelaku kekerasan.

Dikabar sebelumnya .  Segerombolan orang berjubah gamis membabi buta serang acara kebaktian jemaat umat Kristiani Santo Franciscus Agung Gereja Banteng, Sleman, Kamis (29/5). Berdasar lansiran Tribun Jogja, gerombolan orang tak bertanggung jawab ini mendapat mandat dari salah seorang pemuka agama.

Menggunakan kendaraan beroda dua, Mereka sesampainya di lokasi kebaktian, rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus (54) pada pukul 20:30.  bersamaan dengan ibadah rutin tersebut,  pada malam itu jemaat tengah melaksanakan peringatan Hari Kenaikan Isa Almasih.

Setibanya di lokasi, gerombolan orang tak bertanggung jawab ini meneriakan kebesaran Tuhan sembari melempari jemaat yang tengah beribadah dengan batu. Beberapa motor yang terparkir di depan rumah sekitaranPerum YKPN itu  juga tak luput menjadi sasaran penyerangan. Tak cukup sampai disana, gerombolan ini merengsek ke dalam ruangan dan berniat membubarkan jemaat yang tengah beribadah.

 

Penulis  : Erton

Gerombolan Bersorban serang Gereja di Sleman

Kasus intoleransi kembali terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Segerombolan orang bersorban membabi buta serang acara kebaktian jemaat umat Kristiani Santo Franciscus Agung Gereja Banteng, Sleman, Kamis (29/5). Berdasar lansiran Tribun Jogja, gerombolan orang tak bertanggung jawab ini mendapat mandat dari salah seorang pemuka agama.

Menggunakan kendaraan beroda dua, Mereka sesampainya di lokasi kebaktian, rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus (54) pada pukul 20:30.  bersamaan dengan ibadah rutin tersebut,  pada malam itu jemaat tengah melaksanakan peringatan Hari Kenaikan Isa Almasih.

Setibanya di lokasi, gerombolan orang tak bertanggung jawab ini meneriakan kebesaran Tuhan sembari melempari jemaat yang tengah beribadah dengan batu. Beberapa motor yang terparkir di depan rumah sekitaranPerum YKPN itu  juga tak luput menjadi sasaran penyerangan. Tak cukup sampai disana, gerombolan ini merengsek ke dalam ruangan dan berniat membubarkan jemaat yang tengah beribadah.

Setelah merasa puas, gerombolan ini meninggalkan lokasi. Namun, di ujung jalan kompleks perumahan sang pemilik rumah, mereka melihat Julius Felicianus menuju ke lokasi penyerangan. Kebetulan Julis baru saja pulang dari kantor.

Tanpa basa basi, gerombolan orang ini menghajar Julis dengan batang besi dan kayu hingga tersungkur ke tanah. Dengan senjata tajam, Mereka mengancam Julius untuk tidak melaksanakan kembali acara perayaan Kenaikan Isa Almasih. Syukurnya, Julius ditolong oleh salah seorang tetangganya yang berprofesi sebagai anggota polda DIY.

Julius menuturkan dirinya pulang karena mendapat informasi bahwa sgerombolan orang datang ke rumah dan melakukan penyerangan. “Tapi, belum sapai ke rumah, saya sudah dihajar habis-habisan”, Pungkas Julius.

Pamer Kebiadaban

Selain Julius yang babak belur dihajar preman-preman berjubah ini, di antara jemaat ada seorang anak tak pelak menjadi korban malam itu. Korban berinisial T mengaku disetrum tangannya oleh preman berjubah pada malam kebaktian itu.Hingga Jumat  anak berumur delapan tahun itu masih dirawat di  di Rumah Sakit Panti Rapih. Menurut penuturan Siti Noor Laila, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), T mengalami trauma.

Untuk menindak lanjuti perkara kekerasan ini, Laila berencana menggandeng  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Perilaku sewenang-wenang seperti itu, kata Laila, telah melanggar Hak Azasi Manusia. Ia mendesak penegak hukum untuk menyeret pelaku tanpa memandang dari organisasi manapun berasal. (tribun, tempo.co)

 

 

PKS Dinilai Hambat Pengesahan RUU KKG

Koordinator Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3) Ratna Batara Munti menegaskan Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Pernyataan itu, ia lontarkan dalam konferensi Pers Jaringan Lintas Iman untuk Advokasi RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender di Wahid Institute, Jumat (30/5).

“perdebatan di parlemen alot karena muncul anggapan RUU ini adalah RUU asal Barat”, kata Ratna siang itu. Berdasar temuan JKP3 selama ini ada pihak-pihak yang secara konsisten menjadi penghambat dalam meloloskan RUU KKG di Senayan.

Dalam konferensi pers yang mengundang berbagai kalangan lintas iman itu, Ratna menolak agama dijadikan asas dalam membahas perundang-undangan termasuk RUU KKG. Pernyataan Ratna itu diamini oleh semua pembicara yang hadir. Ratna beralasan hal itu akan memicu ketidakpastian hukum. “kesetaraan dan keadilan Gender telah senada dengan nilai-nilai esensi dari setiap agama-agama”, kata Ratna dengan mantap menyatakan pandangannya.

“kami khawatir tafsiran terhadap agama digunakan pihak-pihak tertentu untuk menentang keadilan yang layak didapat oleh kaum ibu”, kata Ratna.

“Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) paling menghambat di parlemen dalam loloskan RUU KKG”, Ujar Ratna. Ketika ditanya lebih lanjut bagaimana pandangan anggota dewan perempuan dari F-PKS oleh redaksi ICRP-Online.org , Ratna menunjukan kekecewaannya. “Baik lelaki maupun perempuan dari F-PKS  sama saja”, ungkap Ratna menyatakan kerasnya sikap PKS menentang digolkannya RUU KKG.

Padahal Kesetaraan gender kata Ratna bukanlah hal baru. Menurutnya, wacana meningkatkan kesetaraan gender merupakan hal yang telah bergulir lama. RUU KKG, lanjut Ratna merupakan implementasi dari Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women yang telah diratifikasi oleh pemerintahan Orde Baru tahun 1984.

Ratna menilai RUU ini penting untuk segera disahkan sebagai payung nasional untuk melindungi perempuan dari tindakan-tindakan diskriminatif.  “hak perempuan berkaitan reproduksi hingga kini belum terjamin”, Imbuh Ratna mencontohkan salah satu perkara yang belum usai hingga kini menimpa kaum ibu.

Sebelumnya diketahui,  RUU KKG telah tiga tahun ini belum mendapat restu dari Senayan. Padahal RUU KKG merupakan RUU yang dimandatkan di dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) untuk bisa dibahas dan diselesaikan dalam periode ini.

Dikabarkan pandangan dewan mengenai agama menjadi  penghambat serius dalam proses pembahasan RUU KKG di parlemen. Beberapa kalangan diketahui melakukan kampanye hitam RUU ini dengan jargon “ meruntuhkan sendi-sendi keimanan dan merusak ajaran agama.”

Pandangan tersebut dibantah Jaringan Lintas Iman dalam pernyataan sikapnya. “menurut pandangan kami alasan-alasan yang dikemukakan oleh sebagian pihak terlalu berlebihan. Mengingat dalam keyakinan kami sebenarnya substansi kesetaraan dan keadilan gender tidaklah bertentangan dengan spirit keimanan, agama dan kepercayaan kami terhadap Tuhan Yang Maha Esa”

 

 

Penulis : Erton

FPI Chief Calls SBY a ‘Loser’ Over Criticism of Deadly Kendal Raid

Following President Susilo Bambang Yudhoyono’s criticism of the Islamic Defenders Front’s fatal raid on a Central Java brothel last week, the chief of the hard-line organization has called the president a ‘loser’ while denying that his group committed any wrongdoing.

Habib Rizieq Syihab, the head of the group known as the FPI, on Monday said that none of its members were armed when it conducted a “peaceful monitoring” of an alleged brothel in the Central Java town of Kendal. The raid led to a violent confrontation with hundreds of local residents and a woman being killed on her motorcycle.

“The FPI was not playing judge. We came to the [Kendal Police] and asked that the prostitution parlor be shut, especially since it’s Ramadan now,” Rizieq said in a statement.

“In Kendal, the FPI was the victim and not the perpetrator. It was the FPI who was victimized by hundreds of armed thugs at the brothel.

“It’s a pity. SBY appears to be … a mere loser who likes spreading lies and being silent about sinful activities. Not to mention, he’s been protecting the Ahmadiyah and [individuals involved in] various corruption scandals. This Muslim president is a disgrace to Islamic teachings,” Rizieq’s statement said.

Rizieq further accused Yudhoyono of buying into biased media reports that Rizieq claimed failed to accurately depict what happened during the Kendal clash.

In response to the events in Kendal, President Susilo Bambang Yudhoyono on Sunday said he would not tolerate the acts of violence that occurred on Thursday.

“My position is very clear — we will not give any form of tolerance,” the president said in Kemayoran, Central Jakarta, on Sunday. “This has to be prevented so that no other entities, including the FPI [do this].”

Police said seven people — three FPI members and four local residents — have been named suspects in the case surrounding the incident.

One of the FPI-affiliated suspects, Soni Haryono, was reportedly the driver of the Toyota Avanza minivan that struck a motorcycle carrying Tri Munarti and her husband, Yulianto. Tri was killed, while Yulianto survived.

The two others — identified as Satria Yuwono and Bayu Agung Wicaksono, were found carrying sharp weapons when they were arrested shortly after the incident.

The FPI has denied that Soni is a member of the group and claimed that he was only a hired driver.

“The perpetrators who hit the dead victim are still being detained, but we are also investigating locals who committed acts of violence [against FPI members],” National Police spokesman Insp. Gen. Ronny F. Sompie said in Jakarta on Monday.

At least two FPI members were reportedly beaten by the angry mob, while several cars being used by the group were torched at the scene.

Source: http://www.thejakartaglobe.com/news/fpi-chief-calls-sby-a-loser-over-criticism-of-deadly-kendal-raid/