Gus Sholah, Tokoh Moderat Penjaga dan Pengisi Kebangsaan Indonesia

Resensi Buku: Sahlul Fuad, dkk (eds.), Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat. Tebuireng: Penerbit Tebuireng, 2021. 542 h.

Budhy Munawar Rachman

KH. Salahuddin Wahid merupakan salah satu tokoh Islam Indonesia yang dikenal sebagai sosok ulama moderat dan nasionalis. Hal ini terlihat dari kiprah dan karyanya yang dijadikan banyak referensi oleh tokoh-tokoh nasional di tanah air, sebagaimana dalam buku, Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat, yang terbit baru-baru ini.

Buku ini meneguhkan kesaksian keluarga besar Gus Sholah, dan masyarakat luas, bahwa sesungguhnya Gus Sholah itu adalah insan yang khair (baik) Hal-hal baik tentang Gus Sholah yang terekam dalam buku ini akan menjadi teladan dan diteladani oleh anak-anak muda Nahdliyin, dan anak-anak muda pada umumnya, sesuai dengan mimpi Gus Sholah selama masih hayat, yang mendambakan anak-anak muda tampil sebagai kelompok masyarakat yang bertanggungjawab, baik sebagai warga bangsa maupun sebagai umat suatu agama.

Selama hidupnya Gus Sholah dikenal sebagai seorang kolumnis dan penulis produktif. Beberapa buku karyanya, mengangkat berbagai topik dan isu. Kebanyakan adalah gagasan dan pemikiran mengenai ideologi Pancasila, demokrasi dan politik, isu sosial kemasyarakatan, masalah korupsi di Indonesia yang kian akut, tentang pendidikan, dan tidak ketinggalan adalah tulisan tentang NU dan problematikanya. Gus Sholah melanjutkan perjuangan sang ayah dan kakeknya dalam memperjuangkan Islam di Indonesia. Melalui karyanya Memadukan Keislaman dan Kebangsaan, yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng, beliau banyak memaparkan pandangan kebangsaan. Sejauh ini ia selalu mengingatkan bahwa Indonesia dan Islam memiliki hubungan romantisme yang baik. Tidak ada yang berbenturan antara satu dengan yang lain.

Dengan melihat perkembangan situasi kebangsaan yang memprihatinkan, Gus Sholah membentuk Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (PKPHAT) untuk mempersatukan umat Islam yang kian di ambang perpecahan. Pusat kajian tersebut mempunyai kepentingan dan kewajiban melakukan al-muhafadhah, meresapkan, mengaktualisasikan, dan mengimplementasi pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Konsep yang ditawarkan menjadi bentuk rekonsiliasi konflik internal di dalam kaum nahdliyin, konflik internal di dalam Islam, dan konflik yang melanda dunia internasional. Konsep yang digunakan adalah konsep al-ishlahiyah (akomodatif) dan at-tawasuthiyah (moderat). Pesan kebangsaan itu pada dasarnya mengingatkan kembali kepada bangsa Indonesia akan cita-cita besar para pendiri bangsa yang tidak mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan.

Gus Solah mengingatkan agar NKRI dan Pancasila yang merupakan hasil pemikiran para pendiri bangsa dari berbagai golongan tetap dijaga. “Perpaduan keindonesiaan dan keislaman yang merupakan faktor utama persatuan Indonesia serta berpotensi menjadi model bagi dunia harus kita kawal dan rawat bersama,” tegasnya. Inilah gambaran dakwah kebangsaan Gus Sholah dengan jiwa komitmennya menjaga persatuan kebangsaan demi merealisasikan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia tidak sekedar dokumen atau ucapan, tapi juga secara nyata dirasakan oleh masyarakat bangsa Indonesia.

Pada kolom bertajuk “Belum (Sepenuhnya) Menjadi Indonesia” yang terbit di Kompas, Gus Sholah jeli menyorot turunnya sentimen kesukuan di Indonesia. Namun begitu, sentimen keagamaan justru muncul sebagai masalah baru. Konflik-konflik baru pun muncul, di antaranya polemik GKI Yasmin di Bogor, warga anggota jemaah Ahmadiyah Indonesia di sejumlah tempat, dan pengikut Syiah di Sampang. Melihat perkembangan intoleransi yang demikian itu Gus Sholah tak segan mengkritik egoisme keagamaan sejumlah kalangan umat Islam.

Menurutnya, banyak umat Islam dan tokoh-tokohnya tidak mampu memisahkan atau membedakan antara masalah keagamaan dan masalah kenegaraan. Kasus yang menimpa warga Syiah di Sampang menunjukkan bahwa warga hanya memakai hukum Islam (menurut tafsiran mereka) sebagai dasar tindakan, tanpa mau tahu bahwa warga pengikut Syiah itu warga negara Indonesia yang punya hak untuk hidup.

Selian itu, sebagaimana pengakuan Romo Benny Soesatyo (h. 377), Gus Sholah kerap mencari solusi perdamaian terkait konflik-konflik yang melanda sejumlah daerah seperti di Papua, Ambon, dan Poso bersama tokoh lintas agama. Beliau konsisten dalam masalah memperjuangkan nilai kemanusiaan yang universal dan selalu berupaya menjaga agar bangsa ini selalu tunduk konstitusi.

Sebagaimana kesaksian Haedar Nashir (Ketua PP. Muhammadiyah) dalam buku ini, perhatian Gus Sholah pada dunia pendidikan sangat luar biasa, terutama untuk pengembangan pendidikan Islam yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni. (h. 391). Gus Sholah, menurut Haedar, adalah sosok yang rendah hati, bergaul luas dengan banyak kalangan, moderat, memiliki komitmen keislaman yang kuat, dan visi kebangsaan yang luas. Gus Sholah, berkomitmen kuat pada demokrasi dan hak asasi manusia dengan konsisten. (h. 387)

Peran dan aktivitas Gus Sholah di bidang Hak Asasi Manusia barangkali juga tidak banyak diketahui publik. Gus Sholah merupakan anggota Komnas HAM periode 2002-2007. Dalam penyelidikan kasus kerusuhan Mei 1998, Gus Sholah berperan sebagai ketua tim penyelidik. Memasuki awal 2000-an, Gus Sholah semakin dekat dengan dunia politik. Kiprah politiknya mencuat ketika bergabung dengan Partai Kebangkitan Umat dan dianggap berseberangan pandangan dengan Gus Dur. Pada Pilpres 2004 Gus Sholah dipinang sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto. Pengalamannya mengikuti kontes pilpres ini juga sempat dituliskannya dalam sebuah buku.

Selain sebagai arsitek, penulis, dan aktivis HAM, Gus Sholah juga berkarya dalam bidang pendidikan. Pada 2006 ketika kembali ke Tebuireng sebagai pengasuh pondok pesantren, Gus Sholah segera mencurahkan pemikiran serta daya tenaganya untuk membenahi pesantren tersebut. Gus Sholah mewarisi prinsip pengajaran Hadratussyaikh Hasyim Asyari dan KH. Wahid Wahid Hasyim yang menekankan perlunya seorang santri mengaktualisasikan ilmu dan pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Oleh Gus Sholah, prinsip tersebut kemudian diakselerasikan secara lebih progresif. Tebuireng dibenahinya tidak hanya secara fisik dengan merenovasi bangunan, tapi juga mendorong para pengurus, guru, dan karyawannya untuk bekerja lebih profesional. Baginya pesantren merupakan salah satu pilar penting yang menopang masa depan bangsa Indonesia. Menurut sejarahnya pesantren bahkan telah ikut membangun bangsa dengan membentuk manusia-manusia berkarakter.

Gus Sholah memiliki pola pandang yang runtut dalam menyampaikan gagasan-gagasanya yang memenuhi logical framework yang ajeg, tidak meloncat-loncat. Pemikirannya jika direkam, maka rekaman itu manakala ditranskrip sudah bisa menjadi tulisan yang runtut dan bisa dipahami alur pikiran besarnya. Karena itulah tidak heran jika Gus Sholah dinilai sebagai sedikit dari tokoh NU yang mampu menulis di media massa, bahkan amal jariyah dalam bentuk buku pun banyak kita dapati di toko buku atau lewat e-book.

Menurut Ali Masykur Musa (h. 362), salah satu yang kuat dari pemikiran Gus Sholah adalah kemampuannya mengurai hubungan Islam dan negara yang tidak saling diperhadapkan. Islam dan negara adalah mutual simbiotik yang saling mencerahkan. Gus Sholah memaparkan bahwa gerakan Islam mempunyai konstribusi yang besar bagi lahirnya NKRI sejak jaman penjajahan maupun jaman perjuangan kemerdekaan. Gerakan Islam itu dilakukan oleh hampir seluruh organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam dan lain sebagainya. Oleh karena itu Gus Sholah sangat aktif menggalakkan ukhuwah Islamiyah. Misalnya, Gus Sholah aktif di ICMI, di saat banyak orang NU tidak menyukainya, seperti ditunjukkan oleh Gus Dur, Sang Kakak.

Gus Sholah yang juga adik kandung dari Gus Dur merupakan tokoh Islam nasional yang pernah menduduki jabatan strategis di Indonesia. Ia pernah jadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di awal periode reformasi 1998. Gus Solah juga pernah jadi calon wakil presiden pada 2004 mendampingi Wiranto. Di luar politik, Gus Solah adalah mengasuh pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur dan merupakan salah satu sesepuh di ormas Islam besar Nahdlatul Ulama. Ia tercatat pernah menjadi anggota MPR dalam periode singkat 1998-1999. Menjelang Pemilu 1999, Gus Sholah terlibat lebih intens lagi dalam politik. Saat itu sejumlah tokoh NU terlihat berlomba-lomba bikin partai. Ada PKB yang dikomando oleh Gus Dur dan Mathori Abdul Jalil, juga Partai Nahdlatul Ummat (PNU) dan Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI).

Gus Sholah senantiasa mampu membalut kejujuran dengan kesantunan dan kelembutan dalam berinteraksi maupun bertutur. Sama halnya dengan Gus Dur, sekalipun tidak lagi terlibat dalam jabatan formal struktural di organisasi pemerintahan atau di lembaga politik atau lembaga sosial, Gus Sholah tetap memiliki peran sentral di tengah masyarakat.

Ketika bangsa ini menghadapi berbagai persoalan atau isu krusial, Gus Sholah seringkali menjadi narasumber insan media untuk ditulis opininya. Sikap, pandangan dan opininya selalu lugas, jernih, jujur dan tidak ambigu. Sebagai figur yang tidak memiliki persoalan dan cacat moral di masa lalu, Gus Sholah tidak memiliki beban apa pun ketika menyampaikan pandangan kritisnya terhadap suatu masalah atau isu. Bolak-balik Jombang-Jakarta, menghadiri diskusi atau seminar yang satu ke diskusi dan seminar yang lain. Atau menerima tamu dari berbagai kalangan yang terus datang ke kediamannya, baik di Jakarta maupun di Jombang. Itulah keseharian Gus Sholah.

Gus Sholah terus menulis sampai menjelang akhir hayatnya. Sakit bukanlah batas, karena ia tetap meluangkan waktu menulis dengan ponselnya. Satu tulisan terakhir Gus Sholah kembali diterbitkan oleh Kompas, 27 Januari 2020. Dalam tulisan berjudul “Refleksi 94 Tahun NU” itu Gus Sholah mengingatkan pengurus dan warga NU agar tak melulu berasyik-masyuk dengan politik. Alasannya, “Pengalaman sejarah membuktikan bahwa karena organisasi NU memberi perhatian utama pada masalah politik, maka kegiatan organisasi dalam amal usaha (kegiatan pendidikan, sosial, kesehatan, dan ekonomi) terabaikan.”

Gus Sholah mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, pada Minggu, 2 Februari 2020. Beliau adalah salah seorang ulama, tokoh politik, tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), juga tokoh pemikir yang asalnya dari Jombang. Tokoh yang juga salah satu putra daerah dari trah keluarganya menghasilkan banyak tokoh besar. Putra ketiga dari enam bersaudara putra-putri KH Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholihah putri KH. Bisri Sansuri. Ia juga adik kandung dari Mantan presiden ke empat, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Meski menjadi putra kiai, Gus Solah memperoleh pendidikan cukup berbeda dengan saudaranya, Gus Dur. Jika Gus Dur lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren, Gus Solah malah banyak menempuh pendidikan umum mulai dari SD Perwari Salemba, SMP Negeri 1 Cikini lanjut SMA Negeri 1 Budi Utomo hingga menamatkan kulaihnya di jurusan Arsitek ITB.

Buku ini mendokumentasikan kiprah Gus Solah dalam menjaga dan mengisi kebangsaan Indonesia. [ ]

 

Budhy Munawar Rachman, Program Officer Islam and Development The Asia Foundation

Negarawan Sejati Itu Bernama Ahmad Syafii Maarif

Review Buku: David Krisna Alka dan Asmul Khairi (eds.), Mencari Negarawan: 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif, 2020.

Budhy Munawar Rachman

Memasuki usia ke-85, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii mendapat hadiah berupa buku yang ditulis oleh 55 orang yang terdiri dari anak didiknya, kalangan akademisi, dan politisi. Buku ini merupakan upaya untuk merekam riwayat intelektualisme Buya Syafii Maarif yang selama ini berkembang di ruang publik. Buku baru ini menjadi semacam tafsir terhadap pelajaran-pelajaran yang selama ini disampaikan Buya Syafii. Buku setebal 320 halaman ini merangkum kontribusi pemikiran dari puluhan intelektual. Di antaranya, Abd. Mu’thi, Abd. Rohim Ghazali, Ahmad Najib Burhani, Hajriyanto Y. Thohari, Luhut Binsar Panjaitan, Fajar Riza Ul-Haq, Sunanto, dan lain-lain.

Ketua Umum PP. Muhammadiyah Haedar Nashir dalam kata pembuka buku ini menyebut sosok Buya Syafii sebagai bapak bangsa dan telah menorehkan pemikiran maju bagi negara Indonesia. “Buya Syafii sosok yang sederhana, tentu cerdas berilmu dan berwawasan luas, humanis, serta lugas tapi santun. Kelugasannya lahir dari sikapnya yang terbuka secara tulus. Sikap terbuka apa adanya yang membuat dirinya sangat egaliter dan demokatis”. Ia melanjutkan, “Umat dan bangsa merindukan para negarawan yang tidak mengedepankan keakuan dalam segala atribut kegagahan diri, tetapi menghadirkan kebermaknaan yang menebar benih kebaikan melintas-batas nan autentik dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin” ungkap Haedar.

Buya Syafii Maarif, seperti yang dikatakan oleh Haedar adalah agamawan dan ilmuwan sekaligus negarawan. Tiga predikat yang melekat pada diri seorang guru bangsa yang rendah hati dan bersahaja ini jarang dimiliki tokoh bangsa lainnya. Biasanya seseorang hanya mendapat predikat ilmuwan, agamawan atau negarawan, atau paling banter dua predikat seperti ilmuwan yang negarawan atau seorang agamawan yang negarawan.

Tentunya bukan tanpa dasar, kalau Buya disebut dengan tiga predikat itu. Pertama agamawan, di samping pernah menjadi sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ormas kedua terbesar setelah NU di negeri ini (1999-2005). Buya juga sangat mengusai ilmu keagamaan. Bahkan, disertasinya pun dalam bidang pemikiran Islam. Buya juga sering menulis dan diundang dalam berbagai seminar nasional dan internasional yang membahas masalah Islam atau perkembangan Islam.

Buya juga menulis beberapa buku tentang Islam, di antaranya buku Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Selanjutnya, Buya dikenal sebagaii ilmuwan karena menjadi guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Islam Negeri Yogyakarta sekaligus sering diundang menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi.

Buya adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, sudah tidak ada ambisi atau keinginan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan keluarganya. Buya sangat menikmati hidup sederhana dan bersahaja, walaupun banyak tawaran untuk mendapat fasilitas mewah. Prinsip hidup Buya, mirip dengan prinsip hidup Bung Hatta. Bung Hatta yang hidup pas-pasan, bahkan untuk membayar tagihan listrik dan air saja kesulitan, menolak tawaran menjadi komisaris pada perusahaan asing dan perusahan dalam negeri yang bergaji besar. Bukan sesuatu yang ganjil bagi warga kawasan Nogotirto, Yogyakarta melihatnya mengayuh sepeda di jalan. Orang-orang berbagi kisah, menemui dia di angkringan, membeli sabun di warung, naik KRL dan selalu duduk di kelas ekonomi ketika menggunakan pesawat. Juga bagaimana dia begitu sabar mengantri saat memeriksakan diri di rumah sakit milik Muhammadiyah, yang turut dibesarkannya.

Sebagai seorang ilmuwan dan sejarawan, Buya selalu mengingatkan bahwa sejarah ilmu pengetahun yang banyak berasal dari dunia Islam seperti aljabar dan ilmu kedokteran oleh Ibnu Sina, harus mampu dibangkitkan kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi dunia saat ini. Umat Islam harus kreatif dan produktif seperti bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok yang merajai produksi barang-barang berteknologi tinggi. Buya berharap, umat islam mampu menjadi subjek atau pelaku dari pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi dunia, tidak seperti sekarang ketika sebagian umat hanya menjadi objek atau pasar dari produksi bangsa lainnya.

Dalam konteks politik kenegaraan Indonesia, kita semua bersepakat bahwa Buya Syafii telah memberi corak yang sangat berarti dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehadiran Buya Syafii di Nusantara adalah anugerah yang patut disyukuri. Sebagai tokoh Muhammadiyah, Buya menjadi sosok yang senantiasa hadir melintasi golongan, kelompok keagamaan, elite bangsa dan bahkan dalam pergaulan internasional. Pemikirannya selalu menjemput zaman dan benar-benar memecah ombak arus besar perkembangan problematika kemanusiaan, baik dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara.

Buya Syafii, sebagai sosok yang mewakili civil society, dia tidak anti kekuasaan dan anti rezim, tetapi juga tidak larut dan tidak masuk pada rezim itu. Tentu setiap orang punya kekurangan, tetapi benang merahnya adalah, Buya ingin menghadirkan Islam, Muhammadiyah dan wawasan kebangsaan yang merawat kemajemukan. Tidak jarang, pemikiran Buya sebagai tokoh Muhammadiyah yang maju, dinilai sebagai pemikiran liberal dalam makna positif.

Kiprah Buya Syafii melampaui batas-batas negara sebagai sebuah institusi politik dan melampaui lintas agama, di mana semua agama dan lembaga-lembaga agama juga mengakuinya. Buya Syafii memiliki pandangan agar islam yang berkembang di Indonesia adalah islam yang terbuka, inklusif dan memberi solusi pada masalah besar dan negara. Umat Islam harus bermental terbuka, visioner, optimis tidak putus asa dan tidak bermental minoritas. Pemikiran-pemikiran Buya selalu relevan dalam berbagai konteks sehingga generasi milenial digiring untuk memiliki perspektif, sikap dan pendirian yang relatif sama dengan Buya dalam memotret berbagai dinamikan dan perubahan isu yang terjadi di Indonesia. Buya memberikan pesan agar generasi muda harus menjadi jangkar bagi penyemaian berbagai ide dan gagasan di masyarakat lebih luas.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkannya, pemikiran dan karya intelektualnya harus diakui telah membawa pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia. Jika kita telisik karya karya tulisnya, Buya hampir tak pernah absen berkhutbah tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, mengumandangkan moralitas, dan keadaban publik. Tak jarang khutbah-khutbah ilmiahnya banyak menimbulkan kesalahpahaman. Jumlah umat Islam yang mayoritas di bumi nusantara ini, mendorong Buya tak pernah berhenti mengingatkan agar tidak lagi mempersoalkan hubungan trilogi antara Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsepsi tersebut, menurutnya, haruslah senafas dan seirama agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah benar-benar Islam yang berkemajuan, ramah, terbuka, dan rahmatan lil ‘alamin.

Sembari mengutip ungkapan gurunya Fazlur Rahman, Buya mengatakan bahwa Islam yang tidak memberikan solusi bagi urusan kemanusiaan, bukanlah Islam yang sejati dan tidak memiliki masa depan. Bagi Buya, agama (Islam), termasuk segala hal yang ada di dalamnya seperti Kitab Suci dan bahkan Nabi, adalah untuk manusia, dan bukan untuk Tuhan. Sikap inilah yang membedakan dengan sikap kebanyakan Muslim yang masih sangat teosentris, yakni segala hal yang ada dalam agama hampir selalu masalah Tuhan. Sedangkan perihal manusia justru terlupakan.

Sunanto, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, mengatakan:

“Memperingati milad Buya Syafii tidak cukup dengan mengucapkan selamat. Kader Muhammadiyah dan pemuda di Indonesia tidak cukup dengan membedah pemikiran dan perjalanan hidupnya. Seperti ajaran konsistensi Buya, bahwa nilai kenegarawanan harus menjadi komitmen kolektif seluruh anak bangsa untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari… Sosok Buya yang selalu gelisah dengan keadaan negaranya dan berani melawan ketidakadilan dan segala kesenjangan harus melekat dan menjadi komitmen kolektif.”

Selain Sunanto, Neni Nur Hayati, Direktur Eksekutif Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), memberikan kesaksian bahwa sosok pribadi dan intelektualisme Buya sangat tecermin dalam buku-buku yang dikarangnya.

“Di mata kaum perempuan milenial seperti penulis, Buya adalah teladan dan panutan bersama. Sosok sepuh yang mengayomi, hidup dengan kesederhanaan dan kejujuran, jauh dari hedonisme, ultra-konsumerisme dan pragmatisme sosial. Namun, Buya juga seorang demokrat sejati, pluralis, liberalis tapi sangat religius… Pemikiran Buya yang sangat progresif juga sangat peduli terhadap isu-isu perempuan dan anak. Oleh karena itu, perlu kiranya pemikiran Buya ini ditransformasikan oleh anak muda. Melihat sosok buya yang demikian hebat, semoga kedepan ada buya-buya lain dari kalangan kaum muda.”

Di usianya yang tidak lagi muda, Buya Syafii tetap arif dan tidak pernah merasa “mentang-mentang”, sehingga mengundang simpati Luhut Binsar Panjaitan yang juga menulis di buku ini. Di balik seluruh kehebatan pemikiran Buya Syafii, begitu kesan Luhut, ada satu karakter beliau yang sangat menawan dan patut dijadikan tauladan bagi generasi muda kita, yaitu kebersahajaannya. “Dalam kebersahajaannya, Syafii Maarif tetap konsisten dengan panggilannya untuk membela negeri ini dari “musuh” yang selama ini bersembunyi di balik selimut. Semoga ke depan bangsa ini tetap akan menemukan negarawan-negarawan baru tatkala kita mungkin saja bingung saat mencari negarawan”, tegasnya.

Tema tema besar tentang kemanusiaan dan kebangsaan menjadikan Buya Syafii diterima dan dihormati tidak saja oleh kalangan Muhammadiyah, namun juga NU dan yang lainnya, termasuk kalangan non-muslim. Buya sendiri tak pernah canggung bergaul dan menjalin hubungan baik dengan pemuka dan tokoh-tokoh agama; Kristen, Buddha, Hindu, Tionghoa, kalangan nasionalis, NU dan juga tokoh-tokoh dunia. Baginya, ini merupakan modal yang sangat besar untuk membangun toleransi dan dialog dengan kelompok lain.

Melalui buku ini kita bisa belajar dari sosok yang sangat berintegritas dan memiliki kontribusi besar untuk isu isu keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Buya Syafii adalah pribadi otentik yang berakhlak karimah. Bagi yang kenal, mereka akan punya gambaran utuh tentang guru bangsa yang sederhana dan tidak lapar dipuja-puja [BMR].

 

Budhy Munawar Rachman, Program Officer Islam and Development The Asia Foundation

Panduan Moral Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia

Budhy Munawar-Rahman

Resensi Buku: Buku Prosiding SIGMA Pancasila: Menganyam Kepelbagaian Meneguhkan Keindonesiaan”, Jakarta: BPIP, Desember 2020.

Buku ini merupakan jawaban untuk mengatasi persoalan kurikulum pendidikan agama di Indonesia yang saat ini semakin menjauhkan diri dari Pancasila. Juga dapat semakin mempertegas bahwasanya nilai-nilai luhur di dalam Pancasila sejatinya sejalan dengan ajaran-ajaran agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Semua agama yang ada di Indonesia mengajarkan kebaikan dan kedamaian hidup manusia serta saling menghormati di antara sesama manusia. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Hindu mengajarkan tatwam asi (tepo seliro), Kristen mengajarkan cinta kasih, Konghucu mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Khusus untuk Islam, hubungan antar-kelompok agama juga didasarkan pada konsep mu’ahadah atau muwatsaqah, yang berarti adanya perjanjian antar kelompok-kelompok masyarakat untuk membangun kehidupan yang damai dan rukun.

Seperti sudah menjadi kesadaran bersama, Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara yang telah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa. Namun pada implementasinya, keragaman suku, budaya dan agama yang ada di Indonesia masih menimbulkan perbedaan pandangan di masyarakat terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Untuk mendorong pemahaman Pancasila secara utuh sebagaimana dirumuskan dan dipahami oleh para pendiri bangsa perlu diiringi dengan upaya-upaya mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis antar umat beragama, baik dalam kehidupan sosial maupun politik. Kerukunan merupakan faktor penting penunjang keberhasilan pembangunan nasional.

Buku ini menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat Indonesia yang sangat dinamis, termasuk dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan masyarakat dunia, tidak menutup kemungkinan muncul pemahaman dan sikap keagamaan yang bisa mengancam kerukunan dan integrasi bangsa. Wajah kebangsaan kita yang mengalami gejala dehumanisasi, seperti praktik saling menyerang dan tindakan mendistorsi konstruk teologi masing-masing agama dan kepercayaan tak terbendung, seringkali berujung pada konflik horizontal.

Muhammad Sabri, dalam “Sekapur Siruh” buku ini menergaskan bahwa kita perlu mengkaji ulang ide kepelbagaian, atau apa yang sejauh ini dikenal secara peyoratif sebagai SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Sudah saatnya kini, SARA tidak lagi semata-mata dipandang sebagai “kambing hitam” dan paling bertanggungjawab di balik seluruh bentuk kerusuhan dan benturan horizontal lintas etnik dan agama, tetapi sebaliknya diletakkan sebagai anugerah Tuhan dan “ibu kandung” NKRI. SARA mesti dipercakapkan bersama secara terbuka dan penuh kekeluargaan di atas meja keindonesiaan. Di titik inilah Pancasila sebagai common denominator, common platform, kalimatun sawa’ dan leitstar dinamis; yakni sebagai “titik tumpu”, “titik temu”, “titik tuju” dan “haluan” bangsa Indonesia yang majemuk dalam meraih tujuan dan signifikansinya.

Menurutnya, Pancasila—dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika yang dikandungnya, dapat diandaikan sebagai “pola dasar” (archetype) keindonesiaan: yaitu pola-pola tersembunyi dalam jantung tradisi, akal budi, dan pikiran terdalam yang tidak saja membentuk tabiat bagaimana bangsa Indonesia mengalami dan menafsir realitasnya, tetapi juga sebagai bintang pemandu meraih cita-citanya.

Pola dasar tersebut tumbuh dari akar budaya dan sejarah amat panjang yang dihidupi lewat jejaring lintas tradisi, lintas agama, lintas golongan, lintas sosial, lintas ideologi, dan lintas teritorial dalam pergaulan sesama bangsa Indonesia yang pelbagai serta dalam respons bersama terhadap pengaruh dari luar.

Buku yang berjudul “Prosiding SIGMA Pancasila: Menganyam Kepelbagaian Meneguhkan Indonesia” berasal dari acara simposium nasional Studi dan Relasi Lintas Agama Berparadigma (SIGMA) Pancasila, yang diselenggarakan oleh BPIP di UIN Serang pada 10 – 12 September 2020.

Buku ini secara umum berisi tentang hubungan Pancasila dan agama, yang keduanya tidak bisa dipisahkan, karena sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Buku ini menghimpun visi dan pemikiran dari berbagai tokoh lintas agama dalam menyusun referensi kebijakan tentang Pancasila sebagai paradigma studi dan relasi lintas agama di Indonesia.

Namun demikian, kita tidak hanya mengharapkan munculnya karya-karya intelektual dari para pakar, dan tokoh-tokoh besar lintas agama yang akan menjadi sumber materi, tetapi juga untuk menegaskan bahwa sejatinya program nasional merupakan wujud kesadaran seluruh elemen umat beragama untuk saling bergotong royong menciptakan kerukunan di Indonesia.

Buku ini merupakan satu ikhtiar mewujudkan Pancasila menjadi penuntun kebijakan pemerintah dalam mengembangkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Amin Abdullah mengatakan dalam buku ini, bahwa tujuan utama manusia beragama dalam perspektif Islam adalah untuk memperoleh kemaslahatan hidup di muka bumi (blessing for human kind) dan di akhirat. Agama-agama lain memiliki istilah dan terminologi lain yang pada dasarnya adalah sama atau mirip antara yang satu dan lainnya sebagai the golden rules atau ten commandments.-nya. Kemaslahatan yang menjadi pangkal tolak teori Maqasid al-Syari’ah (fundamental virtues; nilai-nilai utama yang sangat mendasar dalam Syariat Islam) sangat dikenal dalam doktrin ajaran Islam.

Tujuan pendidikan agama Islam dan sekaligus Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila tidak dapat menjauh dari dan keluar dari rel itu. Kemaslahatan menekankan 2 hal pokok, yaitu 1) Pengembangan kapasitas dan potensi manusia (human development) dan 2) Kesejahteraan (well-being). Keduanya dapat dicapai dengan cara memberdayakan, memperkaya dan mengembangkan 5 (lima) unsur pokok kapasitas dan potensi yang dimiliki manusia sebagai ciptaan Tuhan di muka bumi.

Dalam literatur standar kajian Islam, menurut Amin Abdullah, disebutkan dengan tegas bahwa ada lima hal pokok yang perlu dilindungi dan dikembangkan dalam diri manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Kelima hal tersebut adalah 1) al-Nasl (prosterity; keturunan), 2. al-Aql (intellect; akal pikiran), 3) al-Nafs/’Irdh (human self; human dignity; harkat dan martabat manusia), 4) al-Din (religion; agama atau keberagamaan) dan 5) al-Maal (wealth; ekonomi; harta benda atau kekayaan).
Ini menegaskan, seperti dikatakan Mohammad Hatta, implikasi paradigma Pancasila pada perwujudan nilai-nilai di atas, seperti tanggung jawab, pandangan yang luas, empati, kehormatan, cinta, dan keadilan, yang kesemuanya didasarkan pada hikmah/kebijaksanaan. Yang langsung akan diafirmasi oleh pemikiran agama Islam.

Begitu pula dengan Umat Kristen Indonesia—sebagaimana dikatakan oleh Andreas A. Yewangoe—menerima, mempertahankan dan berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebab dengan derajat kemajemukan bangsa kita yang begitu tinggi (suku, agama, ras, etnis) sangat rawan untuk pecah-belah kalau tidak ada ikatan yang mengikat. Pancasila telah membuktikan bagaimana kesatuan bangsa itu diwujudkan dan dipertahankan kendati tidak kurang pula goncangan-goncangan yang menghantamnya.
Umat Kristen Indonesia meyakini rumusan-rumusan nilai di dalam Pancasila adalah refleksi dari Hukum Kasih, “…mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri” (Matius 22:37-39). Mengasihi Allah itu terungkap dalam sila pertama, sedangkan hal mengasihi sesama manusia tercermin dalam sila ke dua hingga ke lima. (h. 53)

Agama Hindu juga mengajarkan setiap umat melaksanakan dua dharma sekaligus, yaitu dharma agama dan dharma negara. Dharma agama merupakan wujud bhakti umat Hindu terhadap kemahakuasaan Tuhan dalam memerankan ajaran agama yang inovatif, kreatif, dan integratif di samping meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang pluralistik.

Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban serta tanggung jawab umat Hindu untuk senantiasa membela, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, sekaligus mencintai tanah air.

Dalam melaksanakan dharma negara, Pancasila sebagai landasan ideologi, sekaligus sebagai dasar negara Republik Indoensia wajib diamalkan oleh umat melalui penerapan nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam kelima silanya.

Nilai-nilai Pancasila dalam agama Buddha sejalan dengan ajaran Dharma yang dapat dihayati dan di terapkan kehidupan sehari-hari oleh umat Buddha. Interdependensi kehidupan adalah esensi dari ajaran Buddha Gautama. Nilai universal dari agama Buddha mengatasi perbedaan bangsa, tetapi agama Buddha tidak meniadakan kebangsaan. Buddha mengajarkan pentingnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat agar kejahatan dan gangguan sosial dapat dihindari.

Demikian juga Khonghucu, baik keseluruhan maupun sila per sila dari Pancasila, seperti keadilan, musyawarah, persatuan, kemanusiaan dan ketuhanan senafas selaras sejalan dengan ajaran Khonghucu. Ketuhanan Yang Maha Esa Agama Khonghucu hanya menyembah pada Tuhan yang disebut dengan Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shang Di, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang merupakan awal dan akhir dari segalanya. Yang maha pasti dan maha tetap hukumNya. Yang menjadikan semua manusia tunduk sujud menyembah kepadaNya.

Karena itu, memahami ide Ketuhanan Yang Maha Esa dalam realitas masyarakat Indonesia yang majemuk ini tidak dapat dipisahkan dari pengakuan dan kesadaran atas realitas Tuhan yang dihidupi oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali di tanah air.

Realitas serba majemuk ini tidak dapat ditampik, melainkan justru dirayakan dengan penuh kegembiraan menyusul pembukaan seluas-luasnya ruang-ruang perjumpaan antarpemeluk agama dan kepercayaan: mendialogkan pengalaman iman dan penghayatan perihal Yang Ilahi masing-masing warga negara untuk kemudian dikontribusikan bagi pembangunan peradaban bangsa Indonesia yang berkemajuan, damai, sejahtera, inklusif, moderat dan toleran.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Franz Magnis-Suseno, bahwa Pancasila hanya dapat menjalankan fungsinya, yaitu mendasari persatuan bangsa, apabila didukung oleh agama-agama yang diyakini di Indonesia. (h. 97)

Pancasila, sebagai “dasar bersama” dalam berbangsa dan bernegara sesungguhnya telah memuat prinsip-prinsip pokok dalam “beragama” (Ketuhanan Yang Maha Esa) sekaligus merawat “kebhinekaan” Indonesia dalam persatuan dan model keberagamaan yang mendorong “keadilan sosial” bagi masyarakat Indonesia.

Sejumlah cendekiawan Muslim telah berpikir perlunya didirikan semacam Fakultas atau departemen yang khusus mengkaji agama-agama dan keyakinan masyarakat Indonesia dalam konteks relevansinya dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Setidaknya ada tiga manfaat studi agama-agama: pertama, dengan mengkaji banyak agama dan keyakinan, seorang pemeluk agama akan mengetahui, tidak semata “perbedaan” dan “persamaan” diantara agama-agama, tetapi yang juga penting adalah ia akan menemukan apa yang “khas”, yang “unik”, yang “istimewa” dari agama-agama yang ada.

Kedua, dengan mengkaji secara obyektif teologi agamaagama, maka seorang pengkaji akan menemukan “pemahaman yang benar” tentang agama-agama orang lain. Selama ini, seorang penganut agama hanya menerima informasi tentang agama orang lain berdasar “ukuran agamanya” atau berdasar „informasi dari agamanya‟, yang seringkali tidak sesuai dengan “apa yang diyakini” oleh pemeluk agama orang lain itu. Inilah pemahaman yang subyektif.

Akibat dari pemahaman subyektif ini, para pemeluk agama sering “bertengkar” karena “memandang” agama orang lain berdasar keyakinan “agama sendiri”.

Jika itu yang terjadi, maka studi ini bukan “studi perbandingan agama”, tetapi jadi “studi pertandingan agama”. Kalau pertandingan, maka agama sendiri akan “menang” atau “unggul”, sedangkan agama orang lain akan “kalah”. Dengan pemahaman obyektif tentang agama-agama orang lain, maka akan muncul sikap hormat, respek dan toleran terhadap agama dan keyakinan orang lain.

Ketiga, studi lintas agama atau studi agama-agama akan mendorong terwujudnya “dialog antar agama” yang sesungguhnya. Dialog, bukan monolog, adalah kita mendengar dari orang lain, dan orang lain mendengar dari kita. Dialog antar-agama adalah “suatu perjumpaan yang sungguh-sungguh, bersahabat dan berdasarkan hormat dan cinta antar berbagai pemeluk agama yang beragam”.

Oleh karenanya, agama semestinya tidak dijadikan sebagai faktor pemecah belah (disintegratif), tetapi menjadi faktor pemersatu (integratif) dalam kehidupan masyarakat. Dan sejalan dengan hal ini, agama semestinya tidak dipahami secara eksklusif dan ekstrim, melainkan dipahami dengan memperhatikan pula konteks dan kondisi obyektif bangsa Indonesia yang majemuk (multi-kultural, multi-agama dan multi-etnis).

Pandangan dan paham keagamaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila termasuk paham radikalisme sikap intoleran dapat dicegah sedini mungkin. Sehingga dapat terwujud harmoni dan kerukunan umat beragama.

Pancasila telah menjadi konsensus nasional dan semua golongan masyarakat Indonesia. Pancasila telah menjadi kesepakatan maka Pancasila tidak boleh diganti dengan ideologi lain. Begitu juga dengan NKRI tidak boleh diganti dengan sistem yang lain. Karena upaya tersebut berarti telah menyalahi kesepakatan nasional.

Buku “Prosiding SIGMA Pancasila: Menganyam Kepelbagaian Meneguhkan Keindonesiaan”, tidak semata kompilasi gagasan vital-subtansial-progresif para cendekiawan-agamawan, tetapi juga merupakan sebuah ikhtiar untuk terbangunnya Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila (SIGMA) di Indonesia yang moderat, inklusif, dan toleran kini dan di masa depan. [ ]

Budhy Munawar-Rachman, Program Officer Islam and Development The Asia Foundation

Mencari Titik Temu Kristen-Islam

Horas, salam sejahtera untuk kita semua!

Ketika Ketua STT HKBP, Bapak Pdt. Dr. Hulman Sinaga meminta saya untuk membaca dan memberi tanggapan atas buku ini, “Kriten Bertanya Muslim Menjawab” yang ditulis oleh Bapak Ahmad Nurcholish, saya langsung menyambutnya dengan senang hati. Di samping ingin mengenal lebih dekat penulis, saya juga merasa yakin bahwa buku ini berisi pertanyaan yang tertanam dibenak hampir sebagian besar orang Kristen dan buku ini pasti memberi jawaban yang cukup memuaskan atas keingintahuan para penanya tersebut, termasuk saya sendiri.

Benar saja, setelah membaca buku ini saya hanya dapat mengatakan luarbiasa. Jawaban yang jujur, luwes dan dengan mudah dimengerti oleh kalangan akademisi maupun awam. Buku ini kiranya memberi double impact; kepada orang Kristen, khususnya para penanya menjadi menjadi lebih mengenal beberapa ajaran yang ada di dalam Islam. Demikan juga kepada umat Muslim sendiri, menjadi tahu apa yang ingin diketahui orang lain dari mereka.

Terimakasih untuk penulis, Bapak Ustad Ahmad Nurcholish yang telah berbagi pengetahuan dengan kami. Terimakasih untuk Ketua STT HKBP, Bapak Pdt. Dr. Hulman Sinaga yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menanggapi buku ini. Terimakasih kepada Elex Media & ICRP yang yang telah menggagas dan memfasilitasi webinar ini. Secara khusus kepada ibu Nosen selaku Staf ICRF yang selalu berkomunikasi dan memberi informasi untuk penyelenggaraan acara yang berhikmat ini. Terimakasih pula untuk seluruh pihak yang telah terlibat dan juga peserta yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dalam acara ini.

Buku biru muda setebal 554 halaman ini, terbagi dalam Tujuh Bab. Secara khusus, kami diminta untuk menanggapi Bab Ketiga tetang TITIK TEMU KRISTEN ISLAM, yang berisi sebelas pertanyaan, yaitu:  Apakah orang Kristen haram bagi Islam?, Apakah umat Islam dilarang masuk rumah ibadah agama lain?, Bagaimana proses turunnya Al Qur’an?, Apakah Isa lahir di bawah pohon Kurma?, Siapakah yang dikorbankan; Ishak atau Ismail?, Bagaimana tentang Tanah Palestina?, Bagaimana Muslim Moderat memahami Trinitas?, Apakah dibenarkan umat Islam merusak rumah ibadah non-Muslim?, Bolehkah orang Kristen masuk Masjid?, Bolehkah orang tua Katolik mewariskan hartanya pada anaknya yang Muslim?, dan Bagaimana Konsepsi Keselamatan dalam Islam dan Katolik?.

Dalam tanggapan ini, saya sengaja tidak mengikuti alur pertanyaan yang tertera dalam buku, semata-mata hanya untuk mempermudah urutan pembahasan. Sehingga urutannya menjadi demikian:

  1. Apakah orang Kristen haram bagi Islam?
  2. Apakah umat Islam dilarang masuk rumah ibadah agama lain?
  3. Bolehkah orang Kristen masuk Masjid?
  4. Apakah dibenarkan umat Islam merusak rumah ibadah non-Muslim?
  5. Bolehkah orang tua Katolik mewariskan harta kepada anaknya yang Muslim?
  6. Bagaimana proses turunnya Al Qu’ran?
  7. Apakah Isa lahir di bawah pohon kurma?
  8. Siapakah yang dikorbankan; Ishak atau Ismail?,
  9. Bagaimana Muslim moderat memahami
  10. Konsepsi Keselamatan dalam Islam dan Katolik
  11. Bagaimana tentang Tanah Palestina?, (Tanggapan lisan)

 

  1. Pertanyaan pertama hingga kelima berhubungan dengan konsep kebenaran dan kesucian dalam ajaran agama (Islam dan Kristen). Allah yang Maha Suci dan Maha Benar menuntut umatNya untuk hidup dalam kebenaran dan kesucian. Kebenaran dan kesucian itu hanya bisa diraih dengan jalan melakukan kehendak Allah sebagaimana yang tertulis dalam kitab suci agama-agama. Pemahaman yang rigid, blinded dan partial terhadap isi kitab suci menumbuhkan ekslusivisime di antara umat beragama. Orang-orang demikian sangat meyakini bahwa kesucian dan kebenaran itu hanya ada di dalam agamanya, sedang di luar itu bukan hanya suatu “kesalahan”, melainkan juga suatu kekafiran/kotor/haram dan sebagainya. Seperti penyakit yang bau dan mematikan, maka segala yang kafir dan haram harus dihindari, bahkan bila perlu disingkirkan karena hal itu bisa menular, mengancam dan merusak kesucian hidup orang beriman. Karena Kristen memiliki kitab suci yang berbeda dengan Islam, dan di dalam Al Qur’an terdapat wahyu yang menyatakan, bahwa; Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”(Q.S. Ali Imran/3, 19), juga wahyu yang berbunyi: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi” (Q.S. Ali Imran/3, 85). Wahyu ini menjadi acuan utama untuk menolak umat Kristen dan yang lainnya. Konsekuensi dari penolakan tersebut, maka apa pun yang bersentuhan dengannya – harta benda, makanan, ide-ide, perayaan, dsb – tentu akan menjadi kafir dan diharamkan. Demi kesucian dan kebenaran, inilah yang mendasari kelompok eksklusif dan radikalis Muslim menyatakan bahwa orang Kristen itu haram dan tidak boleh masuk ke Masjid dengan apa pun alasannya, karena akan mencemar kesucian tempat ibadah mereka. Sebaliknya, umat Islam juga dilarang masuk ke dalam Gereja atau rumah ibadah agama lainnya karena itu adalah tempat pemujaan para dewa kafir. Bila perlu tempat-tempat ibadah itu harus dimusnahkan agar azab Allah tidak ditimpakan kepada mereka. Dengan pemahaman ini, ada pula yang meyakini bahwa setiap anak Muslim tidak dibenarkan menerima warisan orangtuanya yang beragama lain, demikian sebaliknya orang tua Muslim dilarang mewariskan hartanya kepada anaknya yang beragama lain. Kita bersyukur dengan adanya buku ini, Ustad Nurcholish mewakili mayoritas kaum Muslim berbeda dari pemahaman di atas. Dengan argument yang jujur, jelas dan mendalam, beliau menjelaskan penolakannya terhadap pemikiran yang eksklusif dan radikalis. Pengalaman pribadi yang berlandaskan ajaran kitab suci, Pak Ustad Nurcholish selalu memandang umat manusia dalam bingkai “ukhuwah insaniyah”. Keberadaan umat Kristen sendiri banyak disebut di dalam kitab suci Alquran. Dalam Alquran, kata an-naṣārā (an-naṣrānī) yang langsung menunjuk orang-orang Kristen muncul sebanyak 14 kali. Di samping menunjuk letak geografis daerah Nasirah/Nazaret, akar katanya, n-ṣ-r, berarti menolong. Kata ini dikenakan kepada orang-orang Kristen karena kebiasaan mereka yang saling menolong dan menyediakan diri untuk membantu yang lainnya. Dan dalam Q.S. al-Baqarah/2, 62  umat Kristen disebut sama-sama akan mendapatkan pahala atas amal kebaikan mereka. “Sesungguhnya orang-orang mukmin (beriman), orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pa-hala dari Tuhan mereka, tidak ada kekha-watiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah/2, 62.) Dalam Kristen, perintah untuk menghargai dan mengasihi sesame manusia begitu jelas disampaikan Yesus dalam salah satu dialognya bersama para ahli Taurat. Ia berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. (Matius 22:37-39). Sebelumnya dalam di awal kitab Kejadian 1:26-27 dikatakan bahwa manusia adalah Imago Dei, gambar (tselem) dan rupa Allah (demuth), “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Ayat-ayat ini merupakan bagian kecil dari banyak lagi ayat Alkitab yang menyatakan penghargaan tertinggi kepada derajat manusia dan menuntut hidup untuk saling mengasihi terhadap sesamanya.

 

  1. Lalu, tentang proses turunnya Al Qu’ran?. Pertanyaan ini dilatarbelakangi perbedaan yang amat kontras antara Al Qur’an dan Alkitab dalam hal proses turun dan penulisannya. Bagi umat Muslim, Al Qur’an bersumber dari induk Kitab yang diturunkan Allah melalui wahyuNya kepada Nabi Muhammad, sebagaimana tertulis dalam Q.S. az Zukhurf/43, 4 yang artinya; Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”. Induk Kitab/Kitabullah ini berisi risalah Allah yang diwahyukan dengan perantaraan malaikat Jibril ayat demi ayat selama 23 tahun untuk menjawab segala persoalan yang telah, sedang dan akan dihadapi. Keunikan Al Qur’an jelas terlihat dari malaikat penyampai pesan “Jibril” dan sang penerima pesan, Nabi Muhammad, tidak pernah tergantikan oleh malaikat atau manusia lainnya. Hal ini perlu demi mempertahankan kemurnian wahyu yang diberikan. Bahkan untuk itu, ketidakmampuan Nabi Muhammad membaca dan menulis menjadi suatu yang alasan yang sangat tepat, jalan menghindari intervensi dan kreasi pikiran manusia dalam penyampaian pesan Allah, termasuk pikiran Nabi sendiri. Al Qur’an turun kepada Nabi Muhammad dalam susunan yang lebih acak, tidak seperti yang ada sekarang, sesuai peristiwa yang datang dan bagaimana memaknainya. Setiap kali wahyu baru diberikan, Nabi Muhammad akan mengucapkannya keras-keras, sehingga kaum muslim menghafalnya dan beberapa sahabat yang bisa baca tulis menyalinnya. Sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya, mushaf resmi pertama atas wahyu ini diselesaikan, surah-surah terpanjang diletakkan di bagian awal dan yang tersingkat di bagian akhir. Para ulama umumnya membagi proses turunnya Al Qur’an dalam dua periode, yakni periode Makkiyah dan periode Madaniyyah. Namun dalam buku ini, penulis membagi proses turunnya Al Qur’an ke dalam tiga periode, yaitu: Periode Pertama, awal turunnya wahyu Q.S. al Alaq 1-5, berlangsung selama empat tahun. Periode Kedua, pertikaian dahsyat antara kelompok Islam dan Jahiliyah, berlangsung selama sembilan tahun. Periode ketiga, kelompok Islam telah hidup bebas melakukan ajaran agamanya di Yatrib, berlangsung selama 10 tahun. Selanjutnya tentang penulisan hingga menjadi satu mushaf telah dijelaskan secara rinci di dalam buku ini. Dalam Kristen (Protestan), Alkitab adalah sekumpulan buku yang ditulis pada zaman berbeda dan oleh pengarang yang berbeda. Buku-buku ini terbagi dalam dua bagian; Perjanjian Lama 39 buku dan Perjanjian Baru 27 buku. Meski demikian, umat Kristen percaya bahwa seluruh buku tersebut berbicara tentang penyataan Allah untuk menyelamatkan hidup manusia dari dosa. Allah menyatakan diriNya dengan Firman dan KaryaNya. Puncak keselamatan itu nyata dalam diri dan karya Yesus Kristus. Percaya akan Alkitab adalah sama dengan menerima kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai alat penyelamatan Allah terhadap umat manusia. Mengenai penulisannya, dalam dogma Kristen dikenal istilah “Theopneustos”, artinya “diilhamkan”, “dihembus”, dimasukkan nafas Allah”. Dalam 2 Tim. 3:6 dikatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Teolog Kristen memiliki pandangan berbeda tentang konsepsi pengilhaman ini. Ada yang menyebutnya sebagai “Pengilhaman Mekanis”, di mana manusia hanya berfungsi seperti mekanik/mesin untuk menyalurkan kata demi kata yang telah dihembuskan Allah padanya. Yang lain menyebutnya “Pengilhaman Pasif”, di mana penerima ilham dijaga Roh Kudus agar tidak melakukan kesesatan. Fokus utama paha ini adalah si penerima ilham, dijaga agar tidak sesat. Ada pula yang menyebutnya “Pengilhaman Dinamis”, di mana urutan dan rentang waktu penulis dengan sumber tulisan dianggap lebih terpercaya. Misalnya, tulisan para rasul lebih dipercaya dari pada tulisan murid rasul itu sendiri. Tulisan Matius dan Yohanes lebih dipercaya dari pada tulisan matius dan Lukas. Gereja Protestan umumnya menerima “Pengilhaman Organis” di mana para penulis Alkitab dibebaskan menggunakan kata-kata, tenaga dan pemikirannya menyampaikan kesaksian atas apa yang telah diilhamkan padanya. Meskipun kesaksian itu adalah hasil pekerjaan sendiri, akan tetapi Para Rasul yakin bahwa roh Kudus ada di balik semua itu. Dalam 1 Kor, 7:6-7 dikatakan, “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran (artinya: bukan sebagai perintah Tuhan), bukan sebagai perintah. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu”. Demikian juga dalam 1 Kor. 7:10-12, dikatakan, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia”, terlihat jelas bagaimana Paulus diizinkan memakai kata dan pikirannya, yang tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Untuk mencari titik temu Islam dan Kristen dalam hal ini sebaiknya berangkat dari pemahaman substansial kitab suci itu sendiri, di mana Allah telah menurunkan Kalimatullah dengan mewahyukannya kepada Nabi Muhammad. Kalimatullah ini pula yang menggerakkan dirinya untuk kembali dirangkai menjadi Al Qur’an, yang suci, kekal dan tak berubah-ubah. Dengan pemahaman yang sama, umat Kristen memercayai bahwa, Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh.1:1). “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh.1:14). Firman itu – Logos itu, Kalimatullah itu – menjadi daging dalam rupa Yesus Kristus, yang suci, kekal dan tak berubah-ubah.

 

  1. Berikutnya, apakah Isa lahir di bawah pohon kurma/tamr?. Bagi Islam, Ya!. Pernyataan ini jelas tertulis dalam Q.S. Maryam/19, 23-25, yang artinya: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Malaikat Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. Sedang dalam Alkitab, Lukas 2:7 disebutkan, “dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Tentu sangat sulit – bahkan tidak mungkin – menyatukan perbedaan tersebut dengan mengkoreksi kisah Al Qur’an agar sama seperti yang ada di Alkitab, demikian sebaliknya. Dari pada terperangkap dalam debat yang tidak berkesudahan ini, lebih baik mencoba memahami makna positif kurma/pohon kurma dalam tradisi Islam dan domba/kandang domba/palungan dalam tradisi Kristen. Pohon kurma yang kokoh, berdiri lurus, bagi masyarakat semenanjung Arab menjadi simbol ibu yang penuh kasih sayang, melindungi dan mendekap buah dalam pelepah-pelepahnya. Buahnya sendiri mengandung unsur gizi yang amat tinggi berguna untuk memberi energi, kesehatan, imunitas tubuh dan kaya akan antioksidan. Ayat Al Qur’an banyak berbicara tentang kurma dan kegunaannya. Bahkan dalam Hadits Shahih Buhari dan Muslim, diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqash, Nabi bersabda ‘Barangsiapa mengkonsumsi kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir’. Kisah Maryam dan kelahiran Isa di bawah pohon kurma menjadi menarik jika dikaitkan dengan jati diri Maryam yang menjadi kuat mengahadapi beban phisik dan psikologis atas kehamilannya, setelah ia bertemu dengan malaikat Jibril. Juga anaknya Nabi Isa yang telah mengingatkan bani Israil atas kesalahan-kesalahan mereka, mengutamakan kasih, menyerukan keadilan dan akan turun kembali ke bumi untuk menyelamatkan manusia dari fitnah dajjal. Dalam bahasa Ibrani, kurma disebut tamar, dikenal juga sebagai palem. Ada beberapa tempat memakai nama Tamar (Yeh. 47:19, 48:28), Hazezon Tamar (kej. 14:7). Dipakai sebagai nama wanita (2 Sam. 13:1). Kurma menjadi simbol kemenangan dan sukacita, sehingga daunnya (palem) dipakai menyambut Yesus ketika akan memasuki Yerusalem (Yoh. 12:13). Sedangkan domba dan palungan merupakan gambaran Yesus sebagai Anak Manusia yang sederhana, menderita dan menjadi kurban atas dosa manusia.

 

  1. Pertanyaan tentang siapakah yang dikorbankan; Ishak atau Ismail?. Sama seperti perbedaan tentang tempat kelahiran Isa/Yesus dan beberapa kisah lainnya, juga perbedaan tentang siapakah yang dikurbankan, apakah Ismail atau Ishak tentu tidak dapat dipersatukan. Pengakuan atas siapa yang dikurbankan memang sangat penting untuk menekankan eksistensi sebagai umat yang diridhai Allah dan umat pilihan Yahwe. Yang dari padanya mengalir garis keturunan bangsa besar dan penyembah Allah yang benar. Biarlah perbedaan itu mengalir dengan benar dalam ajaran dan kepercayaan masing-masing umat, baik Islam dan Kristen, sehingga keduanya sama-sama meyakini bahwa mereka adalah di bawah garis keturunan yang diberkahi Allah. Perbedaan ini dapat dipersatukan dengan melihat Ibrahim/Abraham sebagai ayah/bapa kedua anaknya, Ismail dan Ishak. Dan memang sentral iman kedua agama ini mengalir dari kepercayaan Ibrahim/Abraham yang menjalankan perintah Allah. Dengan begitu patuhnya ia rela mengorbankan anaknya Ismail sebagai korban sembelihan kepada Allah sebagaimana isi mimpinya (Q.S. as Saffat/37, 102), atau menjalankan perintah Allah untuk menjadikan Ishak sebagai korban bakaran (kejadian 22:2). Dari kedua cerita yang berbeda ini, kita dapat menarik kesimpulan yang sama, bahwa Allah menguji kepercayaan dan ketundukkan Ibrahim/Abraham untuk mengorbankan apapun, termasuk anaknya sendiri yang begitu dikasihinya. Itu sebabnya dalam Islam, Ibrahim dikenal sebagai pembawa agama Hanifiyyah dan dalam Kristen, Abraham dikenal sebagai bapa orang-orang percaya.  Pantaslah, kedua agama ini dikenal juga sebagai agama samawi, agama Ibrahimik/Abrahamik.

 

  1. Lalu, tentang Trinitas. Dalam Islam, aqidah ini tidak ada. Secara implisit kaum Quraisy telah beriman kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, bahkan banyak dari mereka yang meyakini Tuhan sebagaimana yang disembah orang Yahudi maupun Kristen (Q.S. al Ankabut/29, 61-63). Persoalannya adalah kaum Quraisy juga menyembah ilah-ilah lain (di antaranya yang paling ternama adalah tiga dewa/I ternama; al lata, al muzza dan al manah) dan tidak menyadari tanggungjawabnya sebagai mahluk yang diciptakan Allah dan sangat bergantung kepadaNya (Q.S. Abasa/80, 24-32). Setelah mengingatkan asal usul dan tanggungjawab manusia, Nabi menerima wahyu tentang penolakan yang bergitu keras terhadap penyembahan berhala-berhala. Sejak itu, monoteis/tauhid menjadi ajaran utama Islam, dan syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain) menjadi dosa yang paling besar. Usaha kaum Quraisy yang memintanya memadukan tauhid dengan pemberhalaan ditolak dengan keras, seperti yang tertulis dalam Q.S. al Kafirun/109, 1-6, yang artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Penolakkan ini juga ditegaskan kembali dalam Q.S. al Ikhlash/112, 1-4, yang artinya: “Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Tidak hanya kepada kaum Quraisy, penolakan terhadap ajaran Kristen juga disuarakan karena memang ada segolongan umat Kristen yang menjalankan pola keagamaan mirip dengan yang dilakukan kaum Quraisy yang menyembah al lata, al muzza dan al manah sebagai tiga anak Allah. Penolakan ini tertulis dalam Q.S. al Baqarah/2, 116, yang artinya: Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” Dan Q.S. al Ma’idah/5, 73, yang artinya: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. Berdasarkan ayat ini, tidak sedikit umat Muslim yang memandang bahwa Kristen bersifat polities/triteis, percaya kepada Yesus sebagai Allah Anak, yang diperanakkan oleh Allah Bapa, dan Allah Ibu, Roh Kudus. Pemahaman yang sangat keliru terhadap dogma Trinitas Kristen. Memang, polemik Trinitas ini sudah muncul jauh sebelum Islam, sejak zaman gereja awal sekitar tahun 320-an. Bermula dari pandangan Arius (Aleksandria) yang menyatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan sama seperti Tuhan Bapa. Yesus adalah manusia yang diberi derajat keilahian oleh Tuhan Bapa sehingga Ia berbeda dari manusia lainnya. Bagi Arius dan pendukungnya, Yesus telah merintis jalan bagaimana cara manusia mencapai kesempurnaannya dengan menjalani hidup seperti yang ditunjukkan Yesus, hingga kematianNya di kayu salib. Pandangan ini ditolak Athanasius yang berpandangan teguh, bahwa Yesus adalah logos yang telah menjadi daging untuk memberi hidup kepada manusia. Logos itu sendiri adalah sehakikat dengan Tuhan Bapa. Perdebatan ini menyebabkan Kaisar Konstantinus mengundang Konsili Nicea tanggal 20 Mei 325, yang melahirkan Kredo Athanasius, berbunyi: “Kami beriman kepada Allah Yang Esa, Tuhan Bapa Yang Maha Kuasa, pencipta segala sesuatu, yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah, satu-satunya Anak Tuhan Bapa, yang berasal dari substansi (ousia) Tuhan Bapa, Tuhan dari Tuhan, cahaya dari cahaya, Tuhan sejati dari Tuhan sejati, diperankkan, tidak diciptakan dari satu substansi (homoousin) dengan Tuhan Bapa……Dan kami beriman kepada Roh Kudus.” Kecuali Arius dan dua sahabatnya, semua peserta konsili menerima kredo ini. Meski demikian, perdebatan terus berlanjut dan isi kredo Athanasius dituduh bersifat Triteisme. Perkembangan selanjutnya, gereja mengajarkan bahwa Tuhan memiliki satu esensi (ousia) yang tidak dapat dipahami, tetapi Ia memiliki tiga ekspresi (hypotases/prosopoi) yang membuatNya dapat diketahui. Hypotases tidak boleh dipahami bahwa Tuhan membelah dirinya ke dalam tiga bagian; Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan mengungkapkan diriNya secara penuh dalam ketiga manifestasi itu dan ketiganya saling terikat dalam satu kesatuan. Manusia tidak akan mengenal Bapa sekiranya tidak ada Putra, dan tidak akan mengenal Putra sekiranya tidak ada Roh yang membuat manusia mengenalNya. Bagaikan berbagai bidang ilmu yang berbeda dalam pikiran seseorang, namun tetap berada dalam satu wadah pikiran dan alam kesadaran yang sama. Agustinus menggambarkan Trinitas seperti suatu jiwa yang memiliki tiga macam isi, yaitu: ingatan, pengertian dan kehendak. Aktivitas-aktivitas mental ini secara esensial adalah satu dan saling melengkapi. Ketiganya membentuk satu hidup, satu pikiran dan satu esensi.

 

  1. Berikut, tentang Keselamatan. Dalam buku ini, penulis mengutip tulisan Abdullah (Titik Temu Konsepsi Keselamatan….2011) menyebutkan bahwa Tertullianus[1] (160-220 M) pionir paham ekslusif Kristen yang mencetuskan extra ecclesiam nulla salus, di luar Gereja tidak ada keselamatan. Maaf, saya mencoba meluruskan, jika tidak salah, pencetus semboyan ini adalah Cyprianus (220-258, dari Kartago, Afrika Utara). Awalnya pandangan Cyprianus ini bersifat apologis, bertolak dari pemahaman bahwa Gereja merupakan “bahtera Nuh” yang menyelamatkan para penghuni di dalamnya. Yang memisahkan diri dan bidah dengan sendirinya juga telah menjauh dari keselamatan. Dengan ungkapan ini Cyprianus hendak menolak bidah dan pemisahan Gereja. Ungkapan ini bagaikan pagar bagi kesatuan dan persatuan umat Kristen yang pada masa itu amat memprihatinkan, mencegah agar tidak keluar dari ajaran yang benar dan sekaligus meyakinkan kesesatan pandangan para bidah. Cyprianus memunculkan pandangannya ini sebagai reaksi atas perdebatannya dengan Uskup Roma, Sthephanus, tentang Baptisan Kudus yang dilakukan oleh bidah. Cyprianus menolak sikap Stephanus yang mengakui sah Baptisan Kudus yang dilakukan oleh bidah. Kemudian dalam perjalanan sejarah Gereja, khususnya pada Abad Pertengahan, semangat memandang positif kebudayaan dan kepercayaan bangsa-bangsa lain mendapat tantangan hebat dengan bangkitnya kolonialisme. Kemajuan tehnologi dan penemuan benua-benua baru oleh bangsa Eropa sekaligus menandai abad dimulainya kolonialisme. Kolonialisme ternyata sekaligus merupakan invasi kebudayaan Eropa, menyingkirkan kebudayaan dan agama asli, yang digantikan dengan kebudayaan Eropa. Invasi kebudayaan yang demikian ini semakin terdukung oleh semangat aliran Yansenisme[2], mempropagandakan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan, yang pada abad XVII hingga XIX aliran ini mendapat simpati luas. Karena alasan di luar Gereja – dan dengan sendirinya di luar kekristenan – tidak ada keselamatan, proses penyingkiran kebudayaan asli atau agama-agama lain menemukan motif sucinya. Semangat para misionaris yang menonjol umumnya adalah semangat Extra Ecclesia Nulla Salus (di luar Gereja tiada keselamatan). Karena itu, mereka tidak segan-segan menampilkan heroisme dan kemartiran dalam usaha merebut jiwa-jiwa. Sikap dasar Gereja yang terbuka dan positif berubah menjadi eksklusif, dan bahkan ada yang jatuh ke dalam sikap triumphalisme. Saat ini di dalam ajaran-ajaran Gereja Protestan dan Katolik, inklusivisme menjadi sikap umum terhadap penganut agama lain. Ditantang oleh berbagai pertemuan dengan umat beragama dan berbudaya lain, sadar akan kebenaran, keindahan dan kekurang-hadiran di antara agama non Kristen, dan dirangsang oleh Risalah Konsili Vatikan II tentang agama lain yang lebih positif, Gereja-gereja Protestan dan Katolik mengakui kehadiran Allah yang menyatakan diri dan menyelamatkan sepanjang sejarah, dan karena itu di dalam agama-agama lain juga. Kasih Allah merangkul semua orang, berarti kasih itu tersedia kepada semua orang secara konkrit dan aktual. Jelaslah, agama-agama di dunia merupakan sarana kasih dan kehadiran Allah. Dasar teologis inklusifis terdapat dalam cara umat Kristen memahami Yesus Kristus. Yesus adalah Kasih karunia Allah menyelamatkan semua manusia (Tit. 2:11, band. 1 Tim. 4:10), bahkan bukan saja manusia yang diselamatkan, melainkan seluruh ciptaan, yaitu seluruh kehidupan. Kehidupan firdaus yang diciptakan Allah telah diselamatkan oleh Allah sendiri di dalam Yesus Kristus, karena kasihNya dan kehidupan firdaus itu muncul kembali di dalam lukisan Wahyu 21 dan 22, secara khusus dalam Wahyu 22:1-5.

 

Bagi Gereja dan seluruh umat Kristen harus tetap tertanam di hati, pikiran dan perbuatannya untuk  menjalankan perintah Kristus, yaitu:

  • Mencintai sesama manusia (to love people).
  • Mencintai keadilan (to love justice).
  • Menjadi pelaku-pelaku Firman dan bukan hanya pendengar (to be doers of the word and not hearers only).
  • Menjadi teladan yang baik sebagai pengikutNYa (to be examples as good followers).
  • Pembawa missi Allah (to carry out God’s mission).

 

Dalam Islam juga terdapat ayat-ayat bersifat eksklusif, di antaranya Q.S. Ali Imran/3, 19, yang artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. Q.S. Ali Imran/3, 85, yang artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi”. Namun dalam realitas sosial dan pemahaman yang lebih universal, Al Qur’an juga menyatakan pengakuan terhadap umat lain sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/2, 62, yang artinya: ”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

 

Penghargaan terhadap umat lain yang tercermin melalui perilaku hidup damai, hormat, saling mengahargai sesungguhnya telah termaktub di dalam makna kata al Islam itu sendiri. Sehingga setiap orang yang mengakui Islam sebagai agamanya harus senantiasa mengejar hidup yang penuh kedamaian dan saling menghormati.  Tradisi indah umat Muslim dalam tegursapa yang senantiasa dimulai dengan salam “Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh” “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah (Allah) dianugerahkan kepadamu” kiranya dimaknai dan dapat ditujukan untuk semua orang. Hanya dengan demikian, maka nyatalah Islam itu sebagai agama yang “rahmatan li ‘l-‘alamin’ (menjadi rahmat bagi semesta alam), agama yang senantiasa memperjuangkan “amar ma’ruf nahi munkar” (enjoying the goods and prohibiting the evils).

 

Pdt.Dr. Petrus Naek Bresman Pardede

Wakil Ketua III STT HKBP Pematangsiantar

—–

[1]      Tertulianus (150-220 M di Kartago, Afrika Utara), menolak keringanan hukum bagi yang murtad. Baginya, darah martir merupakan benih gereja. Hubungan Allah dengan Putra bagai matahari dan sinarnya.

[2]      Aliran Yansenisme didirikan oleh Cornelis Otto Jansen (1585 – 1638) dari Belgia. Inti ajaran aliran ini adalah “tanpa rahmat khusus orang tidak dapat tidak berdosa. Oleh sebab itu keselamatan hanya diperoleh dengan percaya kepada Kristus, sebagai rahmat khusus ilahi – tidak ada keselamatan di luar kekristenan”. Aliran ini ditolak dan dikutuk Gereja Katolik Roma. Tahun 1716 aliran ini dipimpin oleh Vikaris Apostolik P. Codd memisahkan diri dari Gereja RK dan tahun 1724 membentuk Gereja Utrech.

Muslimah Reformis, Membuka Pemahaman Kekininan nan Keren Perempuan Dalam Islam

Saya ingat ketika buku setebal 700 halaman itu datang. Saat itu saya tengah didera deadline. Dalam bayangan saya, tulisan di dalamnya bakal dipenuhi beragam telusuran ayat-ayat dan surah-surah dalam Al Quran, yang tentunya memerlukan pemahaman mendalam.

Ternyata, setelah membaca buku itu di bab pertama. Saya terus kepo menelusuri halaman demi halaman selanjutnya. Terutama membaca bab perempuan dan ekonomi. Mengigilkan sekujur tubuh saya menahan haru. Mungkin saya lebay. Tapi saya menangis membacanya. Ini adalah penjelasan paling komprehensif dari centang perenang pemahaman keliru soal perempuan dan feminism dalam Islam.

Ada banyak kesalahpahaman mengenai feminism. Feminisme itu ateis, feminisme ini benci laki-laki, feminisme melemahkan laki-laki, feminism hanya mendukung perempuan saja, feminisme hanya untuk perempuan, feminisme tidak menikah, membenci kecantikan, atau upaya budaya barat melemahkan Islam. Kalian mesti baca ini. Serius. Bahkan untuk aktivis feminism sekalipun, ini adalah literature keren.

Saya mengutip perkataan Prof. Musdah, bahwa arti kata muslimah dari kata al-salam. Dalam Bahasa arab artinya damai, tenang, aman, dan sejahtera. Kata-kata muslimah pun merupakan kata kerja aktif. Sehingga, bisa dikatakan peran muslimah sejatinya adalah aktif merajut damai, mulai dari diri sendiri, dan bukan hanya untuk sesama muslim saja, tapi juga sesama manusia, bahkan semesta alam. Cool kan?

Ini panduan kita beraksi. Jadi manusia wanita kekinian, namun sesuai dengan ajaran Islam. Islam itu pun sangat keren. Hal ini juga pasti diatur dalam ajaran agama lain, yang sama kerennya. Namun sejatinya, semakin kita beragama, seharusnya kita menjadi semakin manusiawi.

Musdah menekankan bahwa ajaran agama yang mengedepankan prinsip-prinsip konservatif, intoleran, dan radikal pada akhirnya akan membangun sebuah belenggu yang menghambat tumbuhnya peradaban manusia.

Bahkan, Prof Musdah mendorong agar muslimah berjihad dengan menegakkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan yang menjadi esensi ajaran Islam, dan berdialog aktif mengenai persoalan-persoalan kemanusiaan. Di buku ini juga dijawab mengenai stereotype HAM yang banyak dipahami sebagai budaya asing. Prof Musdah mengajak orang yang menilai penegakan HAM sebagai nilai asing, untuk mengkaji konsep Tauhid.

Dalam buku ini disebutkan, konsep Tauhid Islam itu menerapkan prinsip keseteraan manusia, dimana kesetaraan manusia merupakan pijakan utama dalam prinsip penegakan HAM. Saya bangga Indonesia punya perempuan keren seperti Ibu Musdah.

 

Penulis : Aseanty Pahlevi (Jurnalis Tempo dan Aktivis Perempuan)

Dunia Tidak Hanya Menghadapi Virus Covid-19

Situasi pandemi yang menguncang dunia ternyata menyadarkan kita bahwa kemajuan teknologi sangat membantu kita pada hari-hari ini. Kehadiran teknologi memungkinkan kita untuk tetap menjalankan diksusi, rapat, webinar, sekolah, dsb dilakukan dengan daring. Ruang dan jarak, bahkan situasi pandemic bukan lagi penghalang untuk dapat melakukan kerja-kerja atau aktivitas tersebut.

Namun dalam e-book “Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Agama dan Tradisi Keagamaan; Agama, Kultur (In)Toleransi, Dan Dilema Minoritas Indonesia” disampaikan bahwa ketika ruang dan jarak tersebut tidak menjadi masalah, dunia semakin mengglobal, tersambung satu dengan lainnya, semakin kita menyadari dan tak jarang meneguhkan identitas kita masing-masing. Pada sebagian orang, hal ini membuat mereka semakin takut kehilangan jati diri, agama, dan etnisnya, serta kemudian melakukan perlindungan secara berlebihan yang kemudian mengancam mereka yang dianggap berbeda, terutama mereka yang berbeda dikelompok minoritas. Anehnya, menurut kelompok-kelompok itu, hal tersebut dianggap bukan sebuah pelanggaran hak asasi manusia (HAM), bukan tindakan intoleransi atau diskriminasi melainkan bagian dari tugas keagamaan yang suci.

Jika melihat posisi pemerintah, hal tersebut seperti ‘mendukung’ apa yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Dimana pemerintah masih melakukan pembedaan dan pengkelasan dalam pelayanan keagamaan. E-book ini mengatakan ada kelompok enam agama yang mendapat layanan penuh dari pemerintah. Ada kelompok yang “dibiarkan sebagaimana adanya”, seperti Yahudi, Bahai dan Sikh. Ada kelompok keagamaan yang dianggap “tidak sehat” dan perlu dibina, seperti Agama Leluhur dan Penghayat Kepercayaan.

Hari ini, dunia juga tidak hanya menghadapi virus covid-19 tetapi juga wabah intoleransi dan diskrimnasi terhadap mereka yang berbeda, terutama jika yang berbeda itu berasal dari kelompok minoritas. Dalam e-book ini, pembicaraan difokuskan tentang minoritas agama. Konsep mayoritas-minoritas dipakai bukan untuk melakukan pengkotak-kotakan masyarakat. Minoritas adalah cara untuk menunjukkan adanya ketimpangan yang terjadi di masyarakat, tentang adanya kelompok tertentu yang dominan dan menikmati status sosial yang lebih tinggi dan hak istimewa yang lebih besar dari kelompok lain, dan tentang adanya kelom-pok yang mengalami pengucilan dari partisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat.

Toleransi Harus Berupa AKSI NYATA

Buku “Toleransi Aksi dan Narasi” merupakan rangkaian tulisan terpilih dari hasil lomba menulis yang diinisiasikan oleh sektor Interfaith Mission 21, regio Indonesia-Malaysia bekerjasama dengan Forum Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB). Buku ini di edit oleh Wawan Gunawan (aktivis dan peneliti pada Paritas Institute, Jakarta) dan Supriatno (Koordinator Sektor Interfaith Mission 21), ada 26 orang penulis yang mengisi buku ini, dan terdiri dari 238 halaman.

Hal yang menarik dari buku Toleransi Aksi dan Narasi” sebagian besar isi tulisan adalah buah pikiran orang muda yang didasarkan pada pengalaman mereka saat berjumpa dan berinteraksi langsung dengan orang yang beragama lain atau pengalaman orang-orang di sekitar mereka yang kemudian mereka bagikan kembali.

Banyak pengalaman tertuang dalam buku ini dan menggugah saya, salah satunya adalah pengalaman mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terlibat dalam perayaan paskah di salah satu gereja katolik di Yogyakarta. Jilbab yang ia gunakan menjadi identitasnya, disampaikan dalam buku awalnya ia merasa takut dan kuatir tapi hal itu sirna ketika senyum dan sapa yang ia terima dari mereka yang hadir di gereja tersebut. Sesuai dengan judul yang diberikan untuk buku ini bahwa toleransi harus berupa AKSI NYATA dan kemudian menjadi narasi yang perlu dan terus menerus diceritakan dengan harapan jadi bagian dari kehidupan umat manusia.

-Admin ICRP-

Bedah Buku Kristen Bertanya Muslim Menjawab

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Paulus, Jakarta bekerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) akan menggelar bedah buku Kristen Bertanya Muslim Menjawab, Jumat, 6 Maret 2020 mendatang. Bedah buku karya Ahmad Nurcholish ini diprakarsai oleh Komisi Germasa GPIB Paulus, Menteng, Jakarta.

Selain menghadirkan sang penulis Ahmad Nurcholish, dalam acara tersebut juga akan menghadirkan narasumber pembahas, yakni Romo Dr. Al. Andang Binawan (Keuskupan Agung Jakarta), Pdt. Dr. Abraham Silo Wilar (Dosen STFT Jakarta), dan Dr. Neng Dara Affiah (Intelektual Muslimah NU). Bertindak sebagai moderator Ketua Komisi Germasa GPIB Paulus Jeirry Sumampow.

Secara spesifik acara akan dihelat pada pukul 16.00 – 20.00 WIB., bertempat di Gedung Pertemuan GPIB Paulus, Jl. Sunda Kelapa No. 12, Menteng, Jakarta Pusat.

“Diskusi ini dilaksanakan sebagai bagian dari program Komisi Germasa GPIB Paulus Jakarta dan dalam rangka HUT ICRP ke-20, sekaligus bagian dari kontribusi gereja untuk menumbuhkan sikap toleransi dan kerukunan hidup antarumat beragama,” tutur Jeirry Sumampow.

Ahmad Nurcholish menyambut baik acara ini. Menurutnya, pelaksanaan diskusi ini dapat dijadikan sebagai ruang dialog bagi umat Kristen serta Katolik dengan umat Muslim di Jakarta dan sekitarnya. “Dialog harus terus kita lakukan sebagai langkah awal bagi upaya saling mengenal satu sama lain. Dari situ pula diharapkan antar-umat beragama dapat berlanjut untuk bekerjasama mewujudkan perdamaian dan membangun peradaban kemanusiaan,” terang Deputy Direktur ICRP ini.

Terkait dengan buku Kristen Bertanya Muslim Menjawab, Luciana Siahaan menilai bahwa Negara kita tercinta memiliki beragam suku, agama dan ras. Ketidakmengertian sering kali menimbulkan perpecahan. Saling memahami satu sama lain sangat dibutuhkan.

“Syukurlah ada orang seperti Cak Nur yang tidak pernah lelah membangun jembatan antara Muslim dan agama lainnya. Buku ini banyak bicara hal-hal praktis yang sering menjadi pertanyaan teman-teman Kristen tentang Islam. Sangat membantu membuka wawasan. Karya ini melengkapi  buku Islam Bertanya Kristen Menjawab karya  Christian W. Troll yang terbit sebelumnya,” terang Ketua Teruna Sinode GPIB ini. 

Preorder Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis Edisi REVISI!

Buku ini lahir di era post-truth, di tengah menguatnya pandangan keagamaan yang literalistik dan konservatif serta cenderung intoleran. Hal itu terlihat dari corak keberagaman masyarakat yang cenderung menjauhkan pemikiran rasional dari persoalan iman. Tidak heran jika sering dijumpai sikap dan perilaku keagamaan masyarakat yang tidak rasional, ekslusif, dan intoleran, bahkan sering melahirkan tindakan radikalisme dan kekerasan ekstremisme yang mengarah pada aksi-aksi terorisme.

 

Musdah Mulia: Buku KBMM Refleksi Pengalaman Penulisnya

[dropcap]P[/dropcap]rof. Musdah Mulia mengapresiasi buku karya Ahmad Nurcholish, “Kristen Bertanya Muslim Menjawab” disingkat KBMM. Sebagai Muslimah, ia meyakini bahwa agama Kristen adalah paling dekat dengan keyakinan Islam. Jika diumpamakan keluarga, Kristen adalah kakak kandung Islam.

Alqur’an, menurut Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace ini mewajibkan umat Islam untuk mengimani semua Nabi dan Rasul Allah swt serta kitab suci yang diturunkan kepada mereka. Umat Islam diwajibkan mengimani Nabi Isa a.s. dan Injil, seperti mengimani Nabi Muhammad saw dan Alqur’an. Figur sentral dalam agama Kristen, terutama Ibunda Maryam dan puteranya, Isa al-Masih diposisikan sangat mulia dalam Alqur’an. Mereka disebut sebagai orang-orang suci yang patut diteladani semua manusia.

Letak penting buku ini menurut Musdah adalah menjelaskan ajaran Islam yang benar dan kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sehingga selaras dengan prinsip demokrasi dan pluralisme beragama, serta juga selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia.

“Buku ini membuka wawasan kita tentang kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat. Masyarakat Muslim sering salah memahami ajaran Kristen, sebaliknya umat Kristen pun tidak sedikit yang salah faham terhadap Islam seperti terbaca dalam sejumlah pertanyaan dalam buku ini. Kesalahfahaman tersebut perlu diakhiri atau paling sedikit dikurangi sehingga ketegangan dalam relasi Islam-Kristen bisa diurai dan diluruskan. Berharap ke depan nanti, umat Islam dan umat Kristen dapat duduk bersama, berdialog secara santai dan bahagia membincangkan ajaran masing-masing tanpa ketakutan dengan tuduhan penistaan agama,” terang guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Ahmad Nurcholish, penulis buku ini adalah Wakil Direktur ICRP, sebuah organisasi lintas iman yang menekuni pembelaan terhadap kelompok minoritas agama dan kepercayaan serta mengkampanyekan prinsip kebebasan beragama yang bertanggung jawab.

“Tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan refleksi pengalaman penulis dalam berinteraksi dengan penganut agama berbeda, khususnya penganut agama Kristen,” tandas penulis buku Ensiklopedia Muslimah Reformis ini.

Dalam konteks membangun Indonesia, Musdah menyaksikan kehadiran agama Kristen di Indonesia telah berkontribusi memberikan pencerahan dan melakukan upaya-upaya transformasi ke arah bangsa yang berkeadaban. Ajaran Kristen yang mengutamakan cinta kasih kepada sesama manusia menjadi modal utama pembangunan bangsa demi merajut perdamaian dan kehidupan bersama yang harmoni.

Para tokoh utama Kristen: Protestan dan Katolik, menurut Musdah, juga berkontribusi dalam upaya merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Mereka telah gigih berjuang bersama dengan tokoh-tokoh Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Baha’i dan beragam kepercayaan lainnya demi mewujudkan Indonesia merdeka dengan mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila. Para tokoh agama sepakat menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi dan menjadi rumah bersama di mana mereka dapat saling membantu untuk kemajuan Indonesia.

“Seluruh anak bangsa yang berbeda agama dan kepercayaan hendaknya selalu meneladani sikap demokratis dan pluralis dari para pendiri bangsa tersebut. Hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, demokratis dan berkeadaban,” pungkasnya.