Catatan Buruk Kebinekaan di Madura

Ketika saya mengunjungi rumah ibadah diluar agama saya dan saling berinteraksi bersama pemeluknya, bukan berarti saya sedang mencampur adukkan agama saya (islam.red) dengan agama lainnya, atau bahkan sedang menukar keyakinan saya dengan keyakinan agama lainnya. Tetapi, saya sedang belajar menikmati toleransi dan merayakan keberagaman diantara saya dengan mereka.

Bagi sebagian orang, utamanya yang berteman dengan saya di media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram dan WhatsApp, ketika saya posting foto kegiatan kunjungan saya ke rumah-rumah ibadah di Temanggung selama mengikuti peace train Indonesia yang ke -11, muncul beberapa komentar. Ada yang sedikit sinis, ada yang menyayangkan sikap saya dan bahkan ada yang mengkafirkan perbuatan saya.

Bagi saya, kegiatan yang saya ikuti di Peace Train Indonesia ke Temannggung ini bagian dari cara bagaimana kita merefleksikan kebinekaan dan keberagaman. Sebab kita belajar langsung dan merasakan langsung keberagaman antar umat beragama. Kita tidak bisa hanya sekedar membaca dari teks untuk memahami keberagaman, tetapi juga butuh berinteraksi langsung agar lebih utuh. Saya pun menyadari, komentar-komentar miring dari beberapa teman saya ini karena ketidakmengertian mereka atau bahkan ketidaksadaran mereka kalau sedang hidup di Indonesia yang multikultural, multietnik dan bahkan multi-multi yang lainnya. Rata-rata, mereka yang berkomentar ini adalah teman-teman saya di Madura. Saya memaklumi, sebab di Madura masih sedikit eksklusif masyarakatnya (termasuk saya).

Kemudian saya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu dimana aliansi lora muda Madura (anak muda keturunan kiai) melakukan penolakan terhadap kepala kepolisian daerah Jawa Timur karena non muslim. Mereka yang bergabung barisan lora muda ini mendeklarasikan diri sebagai orang yang menolak Kapolda Jawa Timur karena non muslim. Tidak lama kemudian, beredar kembali surat pemberitahuan rencana aksi demontrasi yang hendak dilakukan oleh Pemuda Madura Peduli Islam, lagi-lagi pemuda Madura yang tidak terima dengan pimpinan Kapolda Jawa Timur non muslim.

Pada 2012 silam, juga terjadi lebaran berdarah warga Syi’ah Sampang Madura, mereka penganut paham Syi’ah diusir dari tanah kelahirannya. Belum lagi kalau kita mengingat sejarah tahun 97 tragedi perang Sampit dan tahun 99 konflik antara etnis Madura vs Dayak di Kalimantan.

Sejarah kelam ini menjadi catatan penting bagi saya, bahwasanya Madura belum berhasil menanamkan nilai-nilai perdamaian dan Madura masih gagal merawat kebinekaan. Madura seperti bom waktu, sebab belum terbiasa dengan sebuah perbedaan. Bayangkan, hanya karena beda aliran dan pandangan saja dalam satu agama saling caci maki dan bahkan ada yang sampai saling pukul.

Butuh perjuangan panjang untuk membangun Madura yang toleran dan inklusif. Butuh kempanye lebih massif lagi agar Madura terbiasa dengan perbedaan dan menjunjung tinggi tinggi kerukunan. Madura memang sangat rukun dan sangat kuat dalam menjaga persaudaraan, tapi itu masih dalam satu keluarga dan satu etnis saja. Ini adalah PR kita bersama untuk merawat keberagaman di Madura.

Catatan ini, bukan dalam rangka menjatuhkan martabat Madura, tapi ini bagian dari ikhtiar saya untuk membangun kesadaran kolektif bagi pemuda Madura.

-Ahmad Annur (Peserta Peace Train ke-11) 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.