Ahmad NurcholishJacky ManuputtyVideo

Bung Jacky Bertanya Cak Nur Menjawab: Berbagi Berkah dan Inspirasi Ramadhan

Buku “Kristen Bertanya Muslim Menjawab,” sangat menginspirasi Pdt. Jacky Manuputy dan menjadi “berkah ramadhan” yang sangat istimewa, tidak saja karena buku ini diberikan langsung oleh ustad Ahmad Nurcholish, tetapi juga telah mendorong sebuah dialog dalam ruang perjumpaan yang dapat saling berbagi inspirasi.

Pdt. Jacky Manuputty mengajak Ustad Nurcholish berbagi inspirasi ditengah situasi pandemi wabah Covid-19 yang tengah melanda bangsa Indonesia.  Bersamaan dengan itu Bulan Ramadhan berlangsung ditengah situasi yang bagi banyak orang sangat memprihatinkan, yang berimplikasi banyak pada kondisi sosial ekonomi.

Bagaimana Ustad Nurcholis mempertemukan makna ramadhan dalam situasi yang seperti sekarang ini?

Salah satu ritus dalam bulan Ramadhan ini adalah puasa. Puasa berasal dari kata saum, yang artinya menahan diri, menahan diri dari nafsu dan kesenangan dunia, pesan yang ingin disampaikan pada masa ramadhan ini adalah bagaimana setiap individu muslik mampu menahan diri dari nafsu duniawi, artinya setiap kita harus mau melahirkan semangat sosial dan kemanusiaan kepada sesama.

Islam sendiri disetiap perintah ritual selalu disertai dengan perintah untuk melakukan kepedulian sosial. Perintah solat, misalnya ada perintah dirikanlah solat dan berikan zakat. Ritus itu kewajiban kita kepada sang Khalik, sementara itu setelahnya adalah kita perlu menganyam jalinan kemanusiaan, kepedulian antra sesama, dalam Islam ada instrumen zakat, yang dalamnya merupakan ajaran dimana harta yang kita miliki itu tidak semua punya kita, ada sebagian yang harus kita berikan sebagian kepada yang membutuhkan.  Kalau kita kaitkan dengan pandemi Korona, maka disini lah kita membuktikan bahwa ajaran agama kita mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian kepada sesama.

Dompet Duafa yang telah melatih tim relawan dalam gerakan Gereja Melawan Covid (GMC-19), dalam pelaksanaan tugasnya salah satu teman dari mereka meninggal dunia, tetapi di sana kami melihat ada panggilan tentang persaudaraan antar manusia. Bagaimana Ustad Nurcholish memaknainya?

Di dalam Islam ada ajaran persaudaraan misalnya ukuwah islamiah, tetapi juga ada ukuwa insaniah, persaudaraan antar manusia. Nah persaudaraan mestinya bisa kita aplikasikan secara aktif dalam arti dalam kondisi seperti ini, kita penting untuk bisa menjaga diri agar tidak tertular dan juga sekaligus tidak menulari orang lain. Lebih penting dari itu semua adalah bagaimana kita peduli kepada sesama, dengan cara membantu. Itu sebabnya kami membuat gerakan berupa jaringan lintas iman tanggap bencana Covid-19 (JIC), kami mengajak berbagai latar belakang agama yang berbeda, baik islam, ahmadiah, dari Kristen tidak saja dari PGI tetapi juga dari kelompak lainnya.

Apa saja yang sudah dilakukan oleh JIC-19, sebagai gerakan lintas iman yang dikerjakan oleh Ustad Nurcholish?

Ide awalnya, selama ini kami dan teman-teman penggiat lintas agama telah terbiasa melakukan dialog, walaupun seringkali hanya seremonial dari atas panggung. Nah ini saatnya dialog itu diimplementasikan dalam ranah praksis nyata dan membuatnya menjadi dialog kemanusiaan. Lalu teman-teman dari berbagi agama membuat suatu wadah jaringan yang bernama JIC – jaringan lintas iman tanggap Bencana Covid-19. Dari sekian banyak donatur yang sudah mendonasikan, pertama ada  dana yang terkumpul melalui Konser Amal Didi Kempot, dari beliau melalui konser sobat Ambyar, kami mendapatkan 1,5 Milyar, yang kita sudah belanjakan menjadi 5350 paket bantuan sembako. Hari ini dan sampai lusa kita akan membagikan melalui 53 posko di seluruh Jabodetabek. Sebelumnya, kami sudah menerima donasi khusus untuk driver Ojol. Karena masa PSBB ini, para driver ini tidak bisa mangangkut orang, jadi perlu mendapatkan bantuan. Lalu kemarin baru tiba bantuan masker untuk paramedis, sebanyak 100 ribu masker bantuan dari China bernilai lebih setengah milyard, rencana akan kami distribusikan ke Indonesia Timur, karena kabarnya disana kekurangan APD – termasuk masker.

Saya ingin tahu bagaimana membangun jejaring di basis oleh lembaga antar iman?

Logikanya sederhana, PGI misalnya punya jejaring gereja sampai ke tingkat basis RW misalnya, nah itulah yang kita bekerjasama dengan mereka. Demikian juga dengan jaringan katholik, begitu pula dengan Gusdurian, mereka punya 100 posko di seluruh Indonesia, jadi bila kita katakan kita perlu kerjasama di Jabodetabek, mereka sudah ada datanya. Dan kita juga berkoordinasi, misalnya satu posko yang sebelumnya sudah dan di area tersebut, ada lembaga Bakat, Permabudi, dan gereja sudah bekerjasama dengan  PGI punya Gereja melawan Covid, ICRP punya ICRP Peduli, nah kita masing-masing punya data dengan kegiatan sebelumnya, nah ini kita berbagi data.

Memanfaatkan jejaring, adalah kunci dari kerja yang terkonsolidasi, termasuk kerja-kerja antar iman. Pak Ustad dan teman-teman jaringan lintas iman bisa memanfaatkan dan mengkapitalisasi jaringan yang sudah terbentuk, sehingga dialog pada tataran konseptual bisa diterjemahkan secara fungsional menjadi dialog kehidupan. 

 

Tags
Show More

Kris Hidayat

Bidang Filantropi dan Pengembangan Masyarakat ~ ICRP

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close