Harian

[:id]Berikut Kronologis Teror Bom Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan[:]

[:id]Minggu, 28 Agustus 2016

Pada Minggu 28 Agustus 2016 pukul 08.00 wib, kegiatan ibadah di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep yang terletak di Jl. Dr. Mansyur No.75 Medan masih berjalan lancar dan kondusif seperti biasa. Sekitar 15 menit setelah dimulai ibadah, terdengar ledakan dari dalam sebuah ransel milik seorang laki-laki berinisial IAH yang duduk bersama dengan anggota jemaat yang lain. Kemudian laki-laki tersebut langsung berlari menuju mimbar tempat pastor berada sambil membawa ransel sumber ledakan tersebut dan sebuah senjata tajam berupa pisau.

Laki-laki tersebut berusaha mendekati pastor Albert Pandiangan serta ingin melakukan percobaan pembunuhan kepada Pastor. Pisau tersebut sempat mengenai tangan pastor. Pastor dan beberapa jemaat keluar dari dalam gereja dan mengubungi pihak kepolisian, sementara beberapa jemaat berusaha menangkap dan memukul pelaku tersebut hingga babak belur.

Dari keterangan beberapa saksi mata yang berada di lokasi kejadian mereka sempat mendokumentasikan pelaku beserta benda-benda yang berada didalam ransel pelaku. Dari dalam ransel pelaku ditemukan sebuah dompet yang berisi KTP, baju, bom rakitan berkekuatan Low, benda tajam (pisau dan kapak) dan sebuah kertas bertuliskan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (La Ilaha Illallah) dan sepeda motor pelaku merk Honda CS 1 dengan nomor polisi BK 4063 XY. Dari KTP yang ditemukan, pelaku beralamat di Jl. Setia Budi Gg. Sehati No. 26 Medan, beragama Islam dan lahir di Medan, 22 Oktober 1998. Saat ini bom yang ditemukan sudah di jinakan oleh anggota brimob.

Terkait jumlah tersangka, pihak polisi masih menetapkan satu tersangka atas nama IAH dan satu korban yaitu pastor Albert Pandiangan. Sejauh ini, polisi masih mengatakan motifnya adalah percobaan pembunuhan pastor. Belum bisa dipastikan apakah ada motif lain dibalik perisitiwa ini, karena pelaku masih bungkam. Tetapi, pelaku sempat mengatakan kepada pihak polisi bahwa pelaku tersebut disuruh oleh seseorang. Tetapi identitas penyuruh masih dalam proses penyelidikan.

Pastor kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Paska kejadian salah seorang jemaat yang duduk bersama disamping pelaku saat ibadah mengalami trauma hebat hingga menangis dan histeris. Disamping itu, banyak diantara jemaat yang menjadi takut untuk melakukan ibadah akibat kejadian tersebut. Akibat peristiwa ini, jadwal Ibadah pada Minggu, 28 Agustus 2016 di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep ditiadakan.

Sumber: Aliansi Sumut Bersatu

 [:]

Tags
Show More

Related Articles

One Comment

  1. Turut prihatian atas pristiw ini, semoga kasus ini tidak melauas dan tidak dijadikan alasan tertentu khususunya ditujuakan kepada aliran, kelomok, dan agama tertenu, karena banyak variabel yang digunakan dalam menganalisa supaya bis benar-benar jelas atak kasus ini, karena kalasu tidak maka kasus ini bisa saja ditugganggi atau dimanfaatkan oleh kalangan tertentu guna untuk menaikkan popularitas atau malah meraup keuntungan sendiri atas kasus ini, karena kasus seperti ini sanggat sensitif saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close