Harian

#BedaIsMe Menyelenggarakan Diskusi Film “Prayer for Bobby”

Masih merupakan rangkaian perayaan Pekan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang diinisiasi oleh Gerakan #BedaIsMe, diadakan pemutaran dan diskusi film “Prayer for Bobby”. Film ini mengisahkan tentang seorang ibu yang sangat “kaku” dalam memahami keyakinan agama (Kristen). Hingga dia begitu mengutuk anak laki-lakinya yang gay. Sang anak remaja itu menjadi stress dengan sikap ibu yang selalu menghukum anaknya sebagai pendosa. Sampai akhirnya sang anak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di upacara kematian anaknya, Pendeta yang memimpin misa requiem menyatakan bahwa jiwa Bobby yang sebelumnya tersesatlah yang menuntunnya untuk melakukan dosa bunuh diri ini. Sang ibu itu yang merasa tidak terima jika anaknya dihujat kemudian mencari tahu soal ajaran alkitab tentang homoseksual. Pencarian sang ibu pun dilakukan, sampai akhirnya dia menemukan pendeta yang terbuka dan sebuah gereja yang ramah terhadap kelompok homoseksual. Akhirnya sang ibu mendapat pencerahan baru dan bergabung dengan gerakan orang tua yang mendukung hak-hak homoseksual di California. Film ini diangkat dari kisah nyata, dan sang Ibu masih terus berjuang untuk kesetaraan perlakuan kepada kelompok homoseksual.

Diskusi kemudian digelar untuk melengkapi film ini. Pemateri pertama adalah Pdt. Emmy Sahertian memberikan apresiasi tinggi kepada film ini. Pdt. Emmy juga cenderung setuju dengan pemahaman baru keagamaan yang ditampilkan dalam film ini. “Tuhan tidak akan mengadili kelamin dan orientasi seksualmu; dia mengadili apa perbuatan yang kamu lakukan kepada sesamamu” pungkasnya menutup materi yang diberikan. Guntur Romli yang kebagian memberikan perpektif Islam dalam memandang homoseksualitas mendapat giliran kemudian. Dalam uraiannya, Guntur menjabarkan betapa kisah Nabi Luth selalu menjadi sandaran untuk menyalahkan prilaku homoseksual. “Padahal, jika kita ingin melihat keseluruhan cerita Nabi Luth, ada banyak aspek lain yang dapat menjadi dasar pengazaban; mereka menyamun, merampok, memperkosa, tidak menghormati tamu, bahkan mengusir Nabi Luth sekeluarga dan menantang Tuhan untuk menurunkan azab”, papar Guntur. Di Nusantara, konsep homoseksual juga sudah dikenal sejak lama dan dijadikan institusi khusus, seperti Bissu di Sulawesi Selatan dan Warok di Ponorogo, serta di komunitas lainnya. Maka, konsep Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya merangkul keberagaman agama, suku, ras, dan golongan, tapi juga orientasi seksual dan identitas gender. Menurut Guntur, hal sebenarnya yang mendasari tindakan dan pandangan diskriminatif masyarakat terhadap kelompok homoseksual adalah karena ketidaktahuan masyarakat akan homoseksualitas ini. Pemateri ketiga, Helga Worotitjan, yang adalah konselor bagi kelompok homoseksual kemudian berbagi pengalaman tentang bagaimana pengalaman kekerasan yang dialami dalam hidupnya mendorong dia untuk lebih memperhatikan kelompok-kelompok terpinggirkan yang sering menjadi sasaran tindak kekerasan dari masyarakat.

Nonton bareng dan diskusi ini merupakan upaya kampanye #BedaIsMe dalam memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa keberbedaan tidaklah harus melahirkan sikap diskriminatif. Bahkan jika disikapi dengan arif, keberbedaan bisa menjadi kekayaan khazanah yang dapat mendinamisasi sebuah masyarakat. Maka, sudah saatnya kita mengenali apa yang ada di sekitar kita, termasuk perbedaan orientasi seksual dan identitas gender (NhR.)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close