Opini

Apa makna “Inna Allah tsalitsu tsalatsah”?

Imam Nakhe’i

Anggota Komisioner Komnas Perempuan

Kalimat ini seringkali diartikan dengan “bahwa Allah adalah tiga dan satu kesatuan dari tiga”. Terjemah semacam ini menurut pandangan saya, secara bahasa, adalah keliru. Tidak bisa membedakan kata ثالث dan ثلاثة.

Sebab, secara bahasa makna kalimat ini adalah “Sungguh Allah adalah yang ketiga dari tiga”. Artinya jika ada “tiga tuhan” maka Allah adalah yang ketiga. Dia (Allah) bukan yang kedua dari tiga (ثاني ثلاثة) atau yg pertama (اول ثلاثة), melainkan yang ketiga (ثالث ثلاثة).

Allah berfirman “sungguh telah kafir orang orang yang mengatakan bahwa Allah adalah yang ketiga dari tiga (tuhan). Jadi saat itu ada kelompok kafir Quraisy yang memposisikan Allah sebagai yang ketiga dari tiga tuhan. Tidak memposisikanNya sebagai yang kedua apalagi yang pertama. Itulah kekufuran.

Seandainya mereka memposisikanNya sebagai yang kedua atau yang pertama, apakah tetap Kafir? Sebab posisi kedua apalagi ketiga tentu sangat merendahkan Allah. Bagaimana jika dibalik? Allah yg pertama, sedang yang kedua dan ketiga baru tuhan anak dan ruh qudus misalnya?. Al Qur’an secara tekstual tidak menyebutnya. Al Qur’an hanya menyebut “(telah kafir orang yang memposisikan Allah sebagai yang tuhan ketiga dari tiga tuhan)”.

Siapakah sekarang ini orang orang yang memposisikan Allah sebagai yang ketiga? Maka bertayalah kepada umat beragama. Jangan diputuskan sendiri atas dasar persepsinya sendiri.

Mungkin ada yang menjawab, sekalipun Allah diposisikan yang pertama dari tiga tuhan, tidak kafir, tetapi ia musyrik karena telah menyekutukan dan menyamakan  tuhan tuhan yang hakikatnya bukan Tuhan dengan Allah.

Jika demikian maka bisa jadi telah banyak orang orang musyrik modern sekalipun ia menyatakan “muslim”. Sebab berhala berhala modern bukan hanya “batu” yang bernama “Lata dan Uzza”, melainkan batu-batu dalam hati yang menuhankan “jabatan, kekuasaan, politik, kemewahan, atasan dan kekayaan ekonomi” seperti menuhankan Allah.

Islam sangat menginginkan seluruh umat manusia dalam keselamatan dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah dan tidak menyekutukannya dengan yang lain.

Menyekutukan Allah dengan yang lain adalah kedhaliman yang nyata. Syirik disebut sebagai kedhaliman, bukan karena menurunkan derajat Allah, melainkan karena menaikkan posisi tuhan tuhan lain seperti posisi Allah.

Ketika tuhan-tuhan ini diposisikan seperti Allah, maka tuhan-tuhan ini akan menebarkan kedhaliman. Seperti fir’aun ketika ia dinaikkan posisinya seperti Allah, maka kemudian ia melakukan kedhaliman.

Sekian, pandangan ini, bukan seperti keyakinan penulis, hanya semacam refleksi kecil.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close