Aku Berkereta, Maka Aku Ada: Sebuah Perjalanan Yang Belum Usai

(Refleksi Peace Train ke-11)

Oleh: Daeng Ahmad SM*

Kita diuji dengan adanya suatu kelompok yang mengira bahwa Allah tidak memberi petunjuk selain pada mereka

(Avicenna)

 

Inilah saatnya

melepas sepatu yang penuh kisah

meletakkan ransel yang penuh masalah

dan mandi mengusir rasa gerah

menenangkan jiwa yang gelisah.

Prolog: Pandemi Yang Merobek Kebhinnekaan

Sudah hampir setahun pandemi covid-19 ini dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pagebluk covid-19 ini tidak sekadar mengubah kebiasaan manusia, tapi juga mengubah banyak struktur masyarakat di berbagai sendi kehidupan. Protokol untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak digaungkan di mana-mana. Selain itu, perintah untuk menjauhi kerumunan dan tetap di rumah saja makin membawa manusia mengalami hari sabat terlamanya. Seolah, pandemi ini benar-benar menjadi jeda dari rutinitas manusia yang mekanis.

Di satu sisi, kondisi pandemi ini memunculkan banyak solidaritas antar kelompok atau komunitas untuk bahu membahu di tengah ombang-ambing keadaan yang menghancurkan hampir semua struktur kehidupan manusia. Bioskop tutup, sekolah berganti mode daring dan tentu saja kesenjangan sosial makin terasa, kondisi sosial-ekonomi guncang seketika. Selain terancam oleh virus mematikan ini, ancaman yang lainnya adalah kelaparan. Manusia seolah hanya punya dua pilihan, mati akibat corona, atau mati karena kelaparan.

Di sisi lainnya, solidaritas yang konstruktif tersebut diwarnai oleh aksi-aksi intoleransi di tengah kondisi huru-hara ini. Sehingga pandemi covid-19 dan intoleransi menjadi double kill bagi rakyat Indonesia di negeri berslogan Bhinneka Tunggal Ika ini. Kondisi pandemi seperti ini rupanya tak menyurutkan nafsu untuk melakukan tindakan intoleransi kepada kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan.

Kondisi pandemi yang dijadikan oleh sebagian orang untuk beribadah dan makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ternyata tidak digunakan baik oleh segelintir kelompok tertentu untuk melancarkan aksi intoleransiya. Masih segar di ingatan kita, bulan September 2020 lalu, terjadi empat kasus intoleransi sekaligus dalam sebulan. Bukannya September ceria, namun September kelabu.

Pertama, 1 September, terjadi pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas pendeta di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Kec. Napagaluh, Kab. Aceh Singkil. Kedua, 13 September, sekelompok orang mengganggu ibadah jemaat HKBP KSB di Kab. Bekasi. Ketiga, 20 September, terdapat penolakan ibadah yang dilakukan oleh sekelompok warga Graha Prima terhadap jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kec. Jonggol, Kab. Bogor. Keempat, 21 September, terjadi lagi pelarangan ibadah bagi umat Kristen di Desa Ngastemi, Kec. Bangsal, Kab. Mojokerto. (Sumber: Siaran Pers Setara Institute, 29 September 2020). (Baca juga: https://peacenews.yipci.org/sudahkah-kita-membalut-luka-nya/)

Jika ditarik lagi ke belakang, kasus intoleransi akan ditemukan tidak sedikit dan hari ini tidak mengalami penurunan meskipun virus covid-19 melanda, justru sebaliknya—mengalami eskalasi. Meski tak ada satu pun orang yang mampu meyakinkan kita kapan kondisi ini akan berakhir.

Belum selesai kasus intoleransi, paling tidak hingga bulan Januari, awal tahun 2021—negeri ini terus digempur oleh maraknya duka yang terus berdatangan. Di mana korban pagebluk ini tak jua menunjukkan penurunan kasus, justru sebaliknya, makin melangit. Lalu kabar duka datang dari pesawat yang jatuh yang menelan banyak korban jiwa, ditambah bencana alam menimpa berbagai daerah di Indonesia. Bertubi-tubi dan menambah panjang soal ujian sebagai manusia yang ternyata tidak berdaya apa-apa di hadapan kemahaan-Nya.

Inilah saatnya

Duduk bersama dan bicara.

Saling menghargai nyawa manusia.

Ahimsa,

tanpa kekerasan menjaga martabat bersama.

Anekanta,

memahami dan menghayati

keanekaan dalam kehidupan

bagaikan keanekaan di dalam alam.

Peace Train: Laku Meditasi Menemukan Diri

Membaca membuat manusia utuh, meditasi menjadi manusia yang mendalam, wacana menjadi manusia yang jernih” (Benjamin Franklin)

Meditasi atau samadhi adalah satu momentum menyelami kesadaran diri manusia. Masuk pada sebuah titik dimana kita memiliki diri kita sendiri. Titik dimana kita dapat memahami diri kita. Mengecek ulang apakah semua berjalan dengan pengetahuan kita, atau hanya berjalan mekanis oleh sebab kerumunan manusia lainnya berlaku demikian.

Perjalanan kunjungan ke berbagai tempat peziarahan, dari dusun Krecek, gereja, klenteng, sanggar (tempat ibadah Sapta Dharma), Umbul Jumprit hingga berbagai tempat lainnya adalah rute menyelami semesta ciptaan yang direfleksikan ke dalam diri. Perjalanan fisik atau tubuh material satu sisi membantu tubuh rohani berefleksi untuk melihat-Nya di semua ciptaan, melihat wajah kerahiman-Nya di segala sesuatu. Karena sesungguhnya Sang Pencipta tidak menyembunyikan diri dari mereka yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.

Tersebutlah satu ungkapan dalam mistik Islam bahwa “mengenal diri sama dengan mengenal Sang Pencipta”, manusia dapat melihat pancaran atau emanasi Sang Pencipta dalam dirinya sendiri dan seluruh ciptaan lainnya. Dia sesungguhnya dekat, tak pernah jauh di sana. Melalui dan menziarahi beberapa tempat selama Peace Train berjalan adalah upaya untuk mendalami lebih dekat tiap detail dari ragam ciptaan-Nya yang bertebaran di muka bumi. Mengunjungi tempat di mana nama-Nya disebut dan dimuliakan, membawa manusia sekaligus mensyukuri kebhinnekaan yang telah tercipta, bahwa kebhinnekaan tersebut disyukuri dengan cara merayakannya, bukan memperdebatkannya.

Kahlil Gibran dalam salah satu syairnya juga pernah memberitahu kepada umat manusia bahwa Sang Pencipta juga melingkupi semesta ini, “kalau kamu ingin mengenal Tuhan, maka janganlah menjadi pemecah masalah”, kata penyair kelahiran Lebanon itu. “Lihatlah saja sekelilingmu berada, engkau akan melihat Dia dan anak-anakmu bermain bersama. Dan layangkanlah pandangmu ke angkasa. Kau akan melihat-Nya berjalan diantara mega, menjulurkan tangan-Nya dalam guntur datang melalui hujan yang turun. Kau akan melihatnya tersenyum diantara bunga-bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan di pucuk pepohonan”.

Dari perjalanan singkat kurang lebih 3 hari dan 2 malam tersebut, laku serta refleksi dalam Peace Train kali ini membawa batin pesertanya ke dalam renungan pengalaman jasmani, pengalaman rohani atau spiritual serta pengalaman tentang kediriannya. Menyelami hikmah dan merefleksikannya ke dalam diri dari tiap-tiap peristiwa serta menghayati keugaharian dari tiap-tiap orang yang ditemui dalam perjalanan.

Epilog: Menjadi Kereta, Merawat Kebhinnekaan

Menerima hidup bersama

dengan golongan-golongan yang berbeda.

Lalu duduk berunding

tidak untuk berseragam

tetapi untuk membuat agenda bersama.

Di akhir perjumpaan para peserta Peace Train, di atas tanah Kabupaten Temanggung yang baru usai diguyur hujan, beberapa peserta mengutarakan tentang waktu perjumpaan yang dirasa kurang, acaranya dirasa terlalu sebentar, Peace Train ini dirasa begitu singkat. Hal ini mungkin bukan soal yang besar, karena saat ini kita adalah train atau kereta itu sendiri. Kali ini kita tidak lagi menumpang di atas kereta, tetapi justru kita adalah kereta itu sendiri.

Sudah saatnya kita menjadi kereta bagi orang yang lain, menjadi kereta yang membawa penumpangnya dari stasiun satu ke stasiun lainnya, menyambungkan kota-kota yang berbeda, menyambungkan mereka yang terpaut jarak, mendekatkan yang jauh. Demikianlah kita menjadi kereta di tiap baris kehidupan kita, menjadi penghubung banyak kota—menjadi penghubung banyak umat manusia yang penuh ragam perbedaan. Mendekatkan perbedaan, menyatukannya dalam irama harmoni kehidupan yang puspa warna.

Lepas kereta api mengantar para pesertanya pulang ke peraduannya masing-masing—ini jelasn bukan berarti akhir dari perjalanan, namun justru awal dari perjalanan baru yang sebenarnya. Dalam satu lingkaran yang sama ketika pelatihan berlangsung, suasana damai dan harmoni terjalin dengan indah antar para peserta yang berbeda latar belakang kota, agama, suku dan komunitasnya. Tanpa disadari bahwa perjalanan sebenarnya baru saja dimulai setelah mereka semua tiba di peraduan masing-masing, di kota atau di lokasi kita berada, berinteraksi, bertumbuh, berdinamika, dan menemukan makna. Perjalanan yang sebenarnya adalah perjalanan yang tak berujung di tengah realitas kehidupan sehari-hari, yang kita lihat di televisi, di jalan-jalan hingga di media sosial dalam genggaman kita, serta semua hal yang tampil di hadapan mata kita.

Kita adalah kereta itu sendiri, yang terus melaju dan singgah di tiap perhentian di stasiun demi stasiun. Kita singgah di tiap stasiun pengalaman sehari-hari. Di tiap stasiun tersebut kita mengangkut penumpang yang beragam. Menemani para penumpang bertemu tujuannya. Hingga ke tujuan yang hakiki, ke sebuah tempat yang tak ada lagi penghakiman atas pilihan-pilihan pribadi manusia, ke tempat yang penuh penghargaan atas martabat manusia, ke tempat di mana manusia memuliakan Sang Pencipta dengan cara memuliakan ciptaan-Nya.

Namun, sekali lagi, tujuan kita yang hakiki yang berjarak ratusan mil di depan, tidak akan tercapai tanpa memulai satu meter pertama bukan?

Inilah saatnya

Inilah saatnya.

Ya, saudara-saudariku.

Inilah saatnya bagi kita.

Di antara tiga gunung

memeluk rembulan.

(WS. Rendra – “Inilah Saatnya”)

 

Pulang-Pergi Yogyakarta dan Temanggung,

Di atas tanah Ngayogyakarta Hadiningrat,

19 Januari 2021.

 

* Peserta Peace Train ke-11

(Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia)

(Mahasiswa Pascasarjana Fak. Teologi UKDW Yogyakarta)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.