Opini

Aksi Teroris Mujahid Indonesia Timur (MIT) Di Sigi, Sulawesi Tengah: Anasir ISIS dan Sebuah Perang Kosmik?

Ridwan al-Makassary

Serangan teroris mematikan merundung Sigi, Sulawesi Tengah. Duka cita dan air mata kemanusiaan tumpah bagi Indonesia. Berdasarkan laporan dari lapangan (dan media online) bahwa pada Jumat pagi menjelang siang, 27 November 2020, telah terjadi serangan teroris yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan mengakibatkan kerugian material: Gedung Gereja Pos Pelayanan Lewonu Lembantongoa terbakar habis; Enam rumah jemaat terbakar dan empat orang jemaat meregang nyawa (2 orang meninggal dipotong, 1 orang putus leher dengan badan dan I orang dibakar). Pelakunya kuat diduga adalah teroris Mujahid Indonesia Timur (MIT) dibawah pimpinan Ali Kalora. Saat ini, pihak pengemban hukum sedang melakukan pengejaran kepada pelaku teroris tersebut. Berbagai kecaman dan kutukan telah dikeluarkan oleh berbagai pihak, termasuk NGO lintas iman dan lembaga keagamaan, yang intinya menuntut adanya penegakan hukum dan keadilan bagi pelaku serta mengharapkan pemerintah hadir untuk menjaga kemanan dan membasmi jaringan pelaku hingga akar-akarnya.

Karenanya, berdasarkan entry point di atas, penulis ingin mengkaji fenomena di atas secara general dan membatasinya (karena keterbatasan ruang) kepada dua bahasan: pertama, Perkembangan anasir Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) terkini di Indonesia, dan juga di Sulteng, dan kedua, aksi teroris Indonesia adalah bagian dari upaya memenangkan sebuah perang kosmik. Singkatnya, aksi teroris yang terjadi di Sigi saat ini dan juga di beberapa daerah lain di tanah air, termasuk di Papua adalah para teroris yang terpapar ideologi ISIS, dan juga mereka meyakini sedang melakukan perang kosmik (a cosmic war) dan sedang menyiapkan serangan teroris untuk menebar jala ketakutan di tengah masyarakat.

ISIS di dunia global sedang menuju kehancuran, namun anasir dan ideologinya tidak serta mati. Indonesia tidak diragukan memiliki mantan pendukung dan simpatisan yang telah terpapar ideologi ISIS, yang tersebar di beberapa area di tanah air termasuk di Sulteng. Menurut Schulze dan Liow (2018), anasir ISIS dapat berkembang di tanah air karena kurangnya pembatasan dan implementasi legislasi atas organisasi keagamaan, politik dan sosial yang memungkinkan penyebaran ISIS ke dalam jaringan-jaringan yang sudah eksis seperti Tawhid wal Jihad, Jemaah Ansharut Tauhid (JAT), Mujahid Indonesia Timur (MIT) dan sebagian anasir Negara Islam Indonesia (NII). MIT inilah yang sedang beroperasi dan meneror di Sigi, Sulteng.

Penyebaran kelompok-kelompok pro-ISIS digerakkan oleh sebuah kompetisi dalam komunitas Jihad Indonesia, dengan mana afiliasi dengan ISIS digunakan untuk memperkuat justifikasi dan agenda jihad beberapa tokoh-tokohnya. Termasuk dalam hal ini adalah tokoh MIT, Santoso atau Abi Wardah. MIT, sejatinya, berasal dan tumbuh dari JAT cabang Poso di mana Santoso adalah seorang komandan militer. Ia menggunakan kepahitan dan kekelaman akibat konflik komunal 1998-2007 antara Muslim dan Kristen di Sulawesi Tengah. Memang Santoso sendiri telah mengalami radikalisasi selama konflik tersebut hingga pembantaian Walisongo di Mei 2000, yang membawanya untuk bergabung dalam mujahidin local yang berafiliasi dengan Jemaah Islamiyah. Dari tahun 2010 hingga saat ini, MIT telah menggerakkan jihad melawan kepolisian Indonresia dai markas mereka di pegunungan Poso. Antara tahun 2011 dan 2015, MIT telah memapankan kamp pelatihan tidak hanya untuk para pengikutnya tepai juga bagi kelompok-kelompok jihad di Indonesia.

Menurut Schulze dan Liow lebih jauh, kasus MIT secara terang benderang mengilustrasikan bahwa ideology jihadi internasional dapat diimpor. Ia juga satu contoh yang sempurna dari dinamika local menjadi beririsan dengan dnia global. Santoso awalnya bergabung dengan Al-qaidah dan selanjutnya ISIS untuk menaikkan jihad Poso ke dunia internasional untuk mendapatkan funding dan mengangkat namanya. Setelah Santoso melakukan bai’at kepada Baghdadi pada tahun 2013, MIT mulai mengadopsi bendera hitam ISIS di video dan pernyataan=pernyataan orgaisasi mereka. Pihak kepolisian Indonesia meyakini bahwa MIT telah mendapatkan dukungan logistic dari ISIS, utamanyaa uang untuk membeli senjata dari Filipina. Jumlah angotanya sekitar 30 orang termasuk 3 perempuan, yang juga terkait dengan beberapa pejuang dari Uyghur Cina, yang datang ke Poso melalui kontak di dalam jaringan internasional ISIS. Hingga meninggalnya Santoso pada Juli 2016, MIT tampaknya adalah contoh bagaimana jihad local mengimpor ideolgi ISIS untuk kebutuhan lokal. Sepeninggal Santoso, MIT dipimpin Ali Kalora (nama aslinya Ali Ahmad) yang membawahi anggata dengan jumlah sekitar 20 orang pejuang. Mereka inilah yang melanjutkan jihad lokal, yang tidak segan-segan melakukan kekerasan yang sangat sadis seperti kejadian yang disebutkan di atas.

Pelaku teror di Sigi adalah Muslim, bahkan mereka menggunakan nama organisasi mereka “mujahid” (pejuang Allah), dan tindak kekerasan yang dilakukan tidak menegasikan fakta tersebut. Islam sejatinya mungkin bukanlah sebuah agama perdamaian atau agama perang (ambivalence of the sacred), namun ia sebuah agama seperti agama yang lain yang menginspirasikan rasa belas kasih dan rahmat untuk semesta, namun orang-orang yang melakukan teror ini juga membaca dan menghapal al-Qur’an dan meyakini bahwa mereka sedang melayani titah keTuhanan. Mereka, mereferensi Reza Aslan (2010), tampaknya terlibat dalam sebuah konflik metafisikal, tidak semata-mata bahwa mereka melawan warga yang berbeda dengan paham mereka, tentara, negara, tetapi juga perang antara terang (benar) dan gelap (bathil). Singkatnya, mereka sedang melangsungkan sebuah perang kosmik (a cosmic war), melawan kekuatan-kekuatan jahat yang abadi yang mesti dimusnahkan.

Menurut Azlan lebih jauh, sebuah perang kosmik adalah sebuah perang agama. Ia adalah konflik di mana Tuhan diyakini secara langsung terlibat di pihak mereka atas musuhnya. Tidak seperti sebuah holy war (perang antar agama) perang kosmik seperti sebuah drama di mana pelakuknya bertindak dalam sebuah perang yang sedang berlangsung di surga. Konflik mungkin nyata sebagai perjuangan fisik tetapi perang itu adalah dilandasi sebuah inspirasi spiritual, sebuah perjumpaan moral yang dimajinasikan, di mana mereka berpandangan, sebagaimana kaum fatalis, adalah “manusia adalah seperti wayang yang sedang berada di tangan sang Dalang”. Karenanya, korban yang ditimbulkannya menjustifikasi bahwa semakin kejam tindakan mereka, dalam kasus Sigi, memenggal kepala dan membakar rumah bukan lagi persoalan moralitas, karena dalam perang kosmik tindakan mereka merepresentasikan titah Tuhan. Dalam hal ini, tidak ada lagi rasa iba dan kasih sayang. Dengan pandangan seperti ini, mereka tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan yang ekstrem.

Sejauh ini ada keraguan dari warga di tanah air bahwa kepolisian tidak begitu serius memusnahkan jaringan MIT ke akar-akarnya. Dalam hal ini, satuan tugas Operasi Tinombala yang tampaknya tidak tuntas melaksanakan tugasnya. Ada dugaan pelaku teror tersebut dijadikan proyek untuk anggaran penanggulangan teroris bahkan ada isu-isu liar bahwa pergerakan JIT didukung kelompok-kelompok di tanah air untuk tujuan-tujuan politik. Pihak kepolisian sendiri mengakui bahwa ada kesulitan menumpas mereka karena mereka tampaknya didkung atau bergabung dengan masyarakat setempat sehingga sulit menumpasnya, selain mereka punya pengetahuan yang baik di hutan dan pegunungan. Karenanya, diperlukan sinergi dan kerjasama antara warga setempat yang bisa membantu keopilsian dan juga ada kesungguhan negara untuk hadir melindungi warganya. Tanpa itu, warga masyarakat setempat akan hidup dalam ketakutan, dan juga bisa menimbulkan aksi-aksi teror serupa dari jaringan kelompok jihad lain di berbagai wilayah di tanah air. Duka Sigi, Duka Indonesia.

Penulis adalah Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia (LPI), Pandangan berikut bersifat pandangan personal dan tidak mencerminkan sikap lembaga secara resmi.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close