Harian

Akhiri Sunat Perempuan!

Catatan Diskusi Santai Lintas NGO

Bertempat di Gedung Aksara di bilangan Kemang, Jakarta, beberapa organisasi seperti Rutgers, Yes I Do, dan NGO-NGO lainnya pada hari Kamis, 20 Desember 2018 lalu, mengadakan diskusi dalam rangka kampanye penghapusan Sunat Perempuan atau Female Genital Mutilation (FGM).

Musdah Mulia, salah seorang narasumber pada diskusi ini menegaskan bahwa sunat perempuan harus dihentikan. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. “Pertama, itu (FGM) hanyalah tradisi kuno, dikenal juga dg tradisi fir’aun, yang secara medis tidak ada sedikit pun manfaatnya, jadi tidak layak untuk dipertahankan tanpa bertanya.”

Alasan kedua yang dikemukakan adalah bahwa masyarakat umumnya melakukan praktik FGM karena percaya pada mitos dan alasan tidak rasional lainnya. Musdah memberikan contoh “Misalnya, FGM dianggap salah satu kewajiban agama, bahkan ada yang meyakini FGM sebagai salah satu syarat menjadi Islam. Padahal tidak ada kewajiban untuk melakukan FGM di dalam ajaran Islam. FGM juga dianggap sebagai cara untuk mensucikan perempuan karena dipercaya dapat mengontrol seksualitas perempuan.”

Lebih lanjut, ulama perempuan yang juga adalah Ketua Umum Yayasan ICRP ini mengemukakan bahwa FGM sangat berbahaya untuk kondisi fisik perempuan. Sejumlah praktik FGM menyebabkan kerusakan organ reproduksi, seperti terjadinya peradangan pada area genital, perusakan vagina, dan bahkan membuat cacat dan sakit yang harus ditanggung seumur hidup.

Alasan keempat untuk menolak FGM adalah karena praktik ini menyebabkan perempuan kehilangan kesempatan orgasme dan hasrat seksual dikarenakan tidak lengkapnya organ seksualnya. Tidak sedikit perempuan yang kemudian menderita gangguan kejiwaan karena merasa bersalah akibat tidak bisa orgasme dan sulit merasakan kenikmatan seksualnya.

Dalam diskusi ini juga terungkap bahwa FGM ternyata tidak dikenal di wilayah Saudi Arabia, Syria, Iran dan beberapa negara Islam lainnya. FGM berasal dari tradisi kuno Mesir dan di sana bukan hanya dilakukan oleh penganut Islam, melainkan juga oleh penganut Yahudi dan Kristen.

Mufti Mesir sejak 2003 membuat fatwa yang melarang praktik FGM. Alasannya jelas karena lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Kaidah hukum Islam: La dharara wa la dhirar. Segala yang mendatangkan kerugian dan bencana bagi umat harus ditinggalkan.

Praktik FGM jelas tidak punya landasan dalam Qur’an. Hanya ada hadis Nabi yg menyatakan kebolehannya. Tapi,  hadis itu lemah karena ada hadis lain yang lebih kuat mengabarkan bahwa FGM tidak dilakukan di masa Nabi.

Di lain pihak, WHO telah mendeklarasikan larangan FGM sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. FGM di seluruh dunia disetujui sebagai salah satu bentuk pelanggaran hak anak.

“Mari hentikan FGM agar masa depan anak perempuan kita lebih baik dan berkualitas karena terjaga dari berbagai kemungkinan yang membahayakan kesehatan reproduksinya.” Pungkas Musdah Mulia.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close