Mengenal Agama
Trending

Agama Baha’i dan Ujian Pandemi Covid-19

Agama Bahá’í adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte atau bagian dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Bahá’í adalah Bahá’u’lláh yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan menginspirasi perubahan lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, ketunggalan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia.

Saat ini Agama Bahá‘i telah berada di 191 negara dan ada di 45 wilayah teritorial di dunia, serta mempunyai perwakilan formal di Persatuan Bangsa-Bangsa. Menurut catatan sejarah, pertama kali Agama Bahá‘i masuk ke Indonesia pada tahun 1885 dibawa oleh dua orang saudagar yang datang dari Persia. Dan sampai saat ini penganut Baha’i telah tersebar di 28 Provinsi di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya, orang-orang Baha’i baik di Indonesia, maupun di seluruh dunia telah didorong untuk melibatkan dirinya pada proses yang dapat membantu terwujudnya persatuan. Lembaga-lembaga yang memimpin komunitas Baha’i di tingkat internasional dan nasional, Balai Keadilan Sedunia  dan Majelis Rohani Nasional telah membimbing komunitas Baha’i untuk dapat mempertahakan vitalitas dan kekuatan kolektif masyarakat dengan cara bersatu dalam tindakan kolektif baik dari tingkat internasional hingga akar rumput. Mendorong teman-teman  untuk saling  menolong  dan membantu,  bersama-sama bangkit dari  kelemahan,  ketakutan, dan hanya  memikirkan diri  sendiri.”.

Baha’i dan Pandemi Covid-19

Selain itu lembaga di tingkat nasional telah menghimbau untuk taat dan patuh pada apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan melakukan social distancing. Yang telah berimpilikasi pada pembatalan beberapa agenda tahunan komunitas Baha’i, membatasi dan memindahkan kegiatan-kegiatan komunitas Baha’i dengan memperhitungkan keamana, serta di saat yang sama berusaha menumbuhkan kreativitas dalam menjalankan berbagai aktivitasnya. 

Komunitas Baha’i juga dalam berbagai kapasitas sedang berusaha terlibat dalam suatu proses percakapan dengan teman-teman mereka untuk merenungkan krisis yang sedang kita alami saat ini, mengkaji pengetahuan dan nilai-nilai spiritual yang diperlukan pada masa-masa ini. Sehingga menghasilkan keputusan untuk mengadakan doa bersama, bekerja sama dalam melihat kebutuhan mendesak yang ada di seperti menyediakan alat kesehatan (masker), sembako bagi mereka yang membutuhkan, serta yang tidak kalah penting adalah dukungan moril untuk saling menyemangati.

Krisis ini adalah sebuah ujian, dan setelahnya kita akan melihat kapasitas baru dalam diri umat manusia

Melalui Kantor Humas dan Pemerintahan, Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, komunitas Baha’i terlibat dalam  Jaringan Lintas Iman Tanggap COVID-19 untuk bersatu dengan berbagai golongan lintas iman memberikan donasi kepada mereka yang telah terdampak COVID-19. Melalui gerakan ini kita percaya bahwa apapun kepercayaan seseorang, setiap orang punya kesempatan untuk berkontribusi. Dan sebetulnya kita juga sedang berusaha untuk mengembalikan nilai sejati dari suatu agama yaitu bagi kemanusiaan.

Kita semua tentunya ingin dan sedang berusaha untuk menumbuhkan harapan dan optimise bagi banyak orang, menumbuhkan keyakinan untuk menghadapi tantangan pada saat ini. Krisis ini adalah sebuah ujian, dan setelahnya kita akan melihat kapasitas baru dalam diri umat manusia terutama akan persatuan dan kesalingtergantungan. Seperti dijelaskan dalam satu tulisan suci Baha’i: “Cobaan-cobaan adalah berkah dari Tuhan, dan untuk itu kita harus bersyukur kepada-Nya. Kesedihan dan kesengsaraan tidak datang kepada kita secara kebetulan, kesedihan dan kesengsaraan diberikan kepada kita atas rahmat Tuhan demi kesempurnaan kita.”

Show More

Kris Hidayat

Bidang Filantropi dan Pengembangan Masyarakat ~ ICRP

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close