Merealisasikan Cinta Kasih melalui Sesaji

Oleh: Anna Surahman

“Nah semuanya ini, tradisi-tradisi sesaji ini adalah sarana memohon atau berdoa kepada Tuhan YME dan yang kedua berdoa untuk sesamanya yaitu manusia, hewan-hewan dan juga maklhuk halus supaya bisa hidup bersama-sama dan berdampingan tanpa harus saling mengganggu.”

Itulah petikan pesan yang disampaikan Mbah Sukoyo selaku Kepala Dusun sekaligus sesepuh Dusun Krecek kepada puluhan peserta live in dalam sesi kelas sesaji.

Kelas sesaji menjadi kelas yang unik dan menarik bagi para peserta live in “Nyadran Perdamaian 2020” di Dusun Krecek yang dihelat kedua kalinya pada Rabu-Jum’at (10-13/03). Di samping kesan spiritual yang didapat dari mengikuti kelas sesaji namun para peserta juga mendapatkan penjelasan yang lebih mesuk akal mengenai tradisi sesaji.

Dusun Krecek memang masih kental dengan tradisi sesaji yang digunakan dalam setiap acara adat ataupun setiap melaksanakan hajat seseorang seperti pernikahan, potong rambut gimbal, memperingati usia kehamilan, ruwat kali, mengawali panen, merti dusun dan acara-acara adat dan hajat lainnya. Berbagai perlengkapan sesaji akan disediakan dan dikumpulkan dalam sebuah wadah yang diberi nama ancak.

Sesaji yang biasa digunakan dan menjadi sesaji pokok di antaranya adalah bucu atau tumpeng, ketupat bermacam-macam bentuk, jenang abang putih (merah putih), buah-buahan, ingkung (ayam yang dimasak), kinang, rokok dan berbagai sesaji lain yang menjadi pelengkap atau pengiring sesaji utama. Setiap sesaji yang disediakan sebagai bentuk sombolik yang memunyai maknanya sendiri-sendiri.

“Lha ini yang pertama ada bucu/tumpeng maknanya ini bisa menunjukkan hajatnya atau perlunya apa dan ini menjadi lambang petunjuk. Lalu kenapa ada ingkung yang dulu sebenarnya ini telur dan saat ini diganti inkgung, kenapa kok telur? Artinya ketika ada sesuatu kondisi yang tidak enak atau tidak diinginkan bisa manjing (berpindah dan menetap) di telur ini, telur ini kalau di Jawa dipercaya bisa menjadi tolak bala yaitu menolak resiko yang akan mengganggu manusia dari gangguan maklhuk halus yang tidak bertanggung jawab,” terang Mbah Sukoyo mengawali penjelasan.

Mbah Sukoyo melanjutkan penjelasan tentang kupat /ketupat dengan tiga macam bentuk. Yang pertama ada ketupat kepel artinya untuk menggambarkan sebuah tekad, kalau sudah tekad punya hajat antara hati dan pikiran harus menyatu/searah atau kempel sehingga tidak ada keraguan. Bentuk kedua adalah ketupat sumpil bentuknya segitiga sebagai simbol harapan untuk manusia, maklhuk halus dan hewan ataupun bangsa serangga supaya bisa bersama-sama untuk berkumpul walaupun ada yang tidak kelihatan tapi diyakini ada, dan juga harapan kepada Dah Hyang yang menjaga dusun ikut dirangkul dan diajak untuk memikirkan dan menjaga yang punya hajat.

Kemudian ada ketupat segi empat seagai simbol upaya usaha seseorang dalam mencari rejeki, artinya manusia ini harus mencari pengalaman, mencari rejeki atau kekayaan ini jalannya mrapat (empat penjuru mata angin) atau bisa diartikan berbagai jalan bisa dilalui untuk mencari rejeki sehingga bisa mengangkat hajat yang sudah diniatkan.

“ Lalu ada jenang abang putih ini biasanya digunakan untuk tradisi memperingati kelahiran, saat baru lahir dan akan memberi nama menggunakan jenang merah putih yang melambangkan sebuah ketetapan nama seseorang biar namanya tidak berubah-ubah, misal saya namanya Sukoyo ya tetap Sukoyo kalau pun ada yang nama paraban atau panggilan itu akan dipanggil siapa saja kalau mau ya silahkan tapi yang nama asli ya yang menggunakan jenang merah putih ini. Kalau istilah dalam Bahasa Jawa seperti kata mbah kaum atau mbah manggalia ketika memberi pengantar dalam ritual kenduri pemberian nama yaitu ilange jenang manjingo marang jeneng,” lanjut mbah Sukoyo.

Selanjutnya terdapat buah-buah yang menurut penjelasan Mbah Sukoyo merupakan simbol dari buah manusia. “Terus ini ada buah-buahan nek jenenge buahe menungso niku nopo to? (Kalau yang namanya buah dari manusia itu apa sih?) Yaitu keturunan, lha keturunan ini yang nanti akan melanjutkan sejarah hidup kita. Makanya dengan keturunan ini tradisi semacam ini bisa diturunkan ke anak cucu supaya tidak hilang. Ada juga ini namanya kinang nek ting ndeso niku enten suruh (kalau di desa ini ada sirih),kesusu leh arek weruh (buru-buru ingin melihat) maksudnya melihat kahanan (kondisi) yang kira-kira tidak enak dirasakan manusia yang berasal dari gangguan maklhuk halus sehingga bisa ditanggulangi. Ini juga bisa menjadi sesajian untuk maklhuk halus dan juga menjadi kesukaan maklhuk halus sehingga dengan memberikan apa yang menjadi kesukaan mereka, diharapkan mereka bisa berbahagia dan tidak mengganggu manusia. Ini juga ada rokok alus ini tradisinya Danyang (Dah Hyang) sini, Danyang sini kalau nggak pakai rokok alus kadang akan memberikan kode atau tanda melalui seseorang seperti ketika ada orang yang kerasukan maklhuk halus atau kesurupan menjadi lupa diri. Dan ada juga rokok yang kretek-kretek ini juga kesukaan malhuk halus yang turut menjaga Dusun Krecek ini,” imbuhnya.

Selain sesaji pokok terdapat pula berbagai sesaji yang menjadi pelengkap. Bagi warga Dusun Krecek selain menjadi sara untuk berdoa namun juga menjadi satu simbol untuk merealisasikan cinta kasih universal seperti yang terkandung dalam ungkapan “semoga semua maklhuk hidup berbahagia” yang maknanya supaya manusia dan semua maklhuk hidup bisa hidup bersama, berdampingan, saling membantu dan saling mendoakan yang terbaik.

Di akhir sesi Mbah Sukoyo menyampaikan harapan agar melalui sesaji ini bisa mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis bagi semua maklhuk dan juga berharap kelak akan ada generasi muda Dusun Krecek yang mempu melanjutkan dan memelihara tradisi sesaji.

“Mudah-mudahan besok bisa lebih berkembang lagi tradisi yang sudah diterapkan di Dusun Krecek ini, semoga ada yang bisa melanjutkan tradisi ini. Karena sudah sejak jaman dulu puluhan tahun bahkan mungkin lebih, di Dusun Krecek ini menggunakan sesaji ini,” pungkasnya.

Melihat Yang Hidup dalam Pembukaan Nyadran Perdamaian

“Nyadran, bagi saya adalah sebuah tradisi dan saya percaya ini bukan tradisi Buddha, buka tradisi Islam juga bukan tradisi Kristen, tapi ini tradisi asli Nusantara,” kata Romo Fajar Muhammad, ketua Paroki Gereja Khatolik Temanggung saat mengawali pengantar Nyadran Perdamaian Krecek – Gletuk, Selasa (10/03/2020).

Dari tradisi Nyadran itu Romo Fajar melihat Dusun Krecek seperti Borobudur yang hidup. “Semua orang ingin melihat Borobudur. Orang Amerika, Inggris, China, Arap dan sebagainnya ingin melihat Borobudur, tetapi itu hanya wujud batu, patung dan candi. Tetapi di sini, orang bisa melihat Borobudur yang hidup, karena orang dari mana-mana datang ke sini untuk melihat dan mengalami, damai.

 

“Walaupun ada ke tidak adilan juga, karena ketika sodara-sodara kita datang ke Borobudur, mbayar,” lanjut Romo. “Masak orang sembahyang Mbayar. “Tadi saya guyonan dengan Pak Kepala Dusun dari Jambi. ‘Pak kalau njenengan solad ied di Masjid Istiklal mbayar ndak?’ beliau Jawab ‘ndak’ lha ini masak umat Buddha bakan bhikkhu-bhikhunya datang untuk sembahyang ke Borobudur mbayar. Jadi kita harus ikut prihatin soal ini,” Romo Fajar berkelakar disambut tepuk tangan hadirin.

Dusun Krecek tak sekedar Borobudur yang hidup, tetapi juga memperlihatkan prakti nyata pengamalan pancasila. “Kalau mau kita urut dari kanan ke kiri, kita sama-sama duduk setara, duduk bersama, nanti juga akan makan-makanan yang sama. Jadi ada keadilan di sini, sila kelima. Dan kita bisa bermusyawarah, sila keempat, lalu kita membina persatuan sila ketiga, kalau sudah ada kesatuan orang menjadi lupa agamane opo karena ada aspek yang adil dan beradap, sehingga nanti di sini kalau pulang bisa manembah kepada tuhan yang Esa itu. Jadi saya mengatakan ini bukan hanya Borobudur, tetapi juga pancasila yang hidup,” tutupnya.

Ahmad Nurcholis, wakil direktur eksekutive Indonesia Conference On Religion and Peace (ICRP) yang menjadi narasumber kedua, menganggap Nyadran adalah kekayaan bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan. Menurutnya, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari tradisi ini.

“Pertama, kita yang datang ke sini, hari ini berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda. Dari sini ada ruang perjumaan, interaksi berdialog lalu bersama-sama juga  untuk gotong royong.

“Gotong royong ini adalah nilai kedua yang saya pelajari di sini. Gotong royong ini adalah nilai kearifan lokal yang penting bagi kita sebagai bangsa yang mempunyai latar belakang berbeda. Karena dari gotong royong kita bisa mewujudkan hal-hal yang kita inginkan bersama, termasuk gotong royong dalam membangun perdamaian, apapun latar belakang kita.

Yang ketiga, tradisi seperti ini tidak asing bagi saya. Saya berasal kapung dengan tradisi pesentren. Nah, di pesantren ini kita biasa makan bersama seperti ini. Jadi nyadran ini mengingatkan saya dengan tradisi pesantren. Oleh karena itu, Nyadran Perdamaian menjadi penting karena ini bisa menjadi ruang pembelajaran bagi kita semua. Kita punya keearifan lokal yang menjadi kekayaan kita, kita perlu menjaganya,” pungkasnya.  

Sedangkan Suranto, seorang cendekiawan Buddhis yang telah beberapa kali melakukan penelitian terkait tradisi nyadran mengatakan bahwa tradisi nyadran memang sangat lekat dengan orang Jawa. Menurutnya, itu adalah wujud rasa bakti yang dimiliki oleh orang Jawa.

“Sadran itu secara etimologi, secara harafia berasal dari kata srada bahasa Sansekrerta yang artinya yakin atau keyakinan. Kenaapa Sadranan itu cocok dengan budaya Indonesia, itu karena sikap kita yang mempunyai rasa bakti yang tinggi, kemauan manekung atau menjunjung tinggi terhadap nilai-nilai agung,” jelas Suranto.

Pembukaan acara Nyadran Perdamaian dilakukan di jalanan Dusun Krecek, Desa Getas, Kec. Kaloran, Temanggung. Acara ini dihadiri oleh perangkat perangkat Desa Getas, Dusun Gletuk – Krecek, peserta live in Nyadran Perdamaian dan seluruh warga Dusun Krecek.

Nyadran merupakan kearifan lokal yang hampir ada di semua wilayah, khususnya di Jawa. Setiap tahun masyarakat Jawa melaksanakan tradisi Nyadran sebagai bentuk rasa syukur, melakukan bakti dan penghormatan leluhur. Banyak makna dari tradisi Nyadran yang bisa dipelajari dari tradisi Nyadran. Karena itu, untuk mempelajari nilai-nilai perdamaian dari upacara Nyadran, Aman Indonesia, BuddhaZine, ICRP, STAB Nalanda dan beberapa lembaga lain membuat kegiatan Nyadran Perdamaian.

Nyadran perdamaian dengan tema “Menjaga Tradisi Lintas Generasi” ini digelar jelang Nyadran Krecek Gletuk dan diikuti oleh sekitar 40 peserta live in dari berbagai daerah di Indonesia. Antaranya; Jakarta, Jogja, Semarang, Solo, Banyuwangi, Jambi juga beberapa mahasiswa dari kampus seperti, Nalanda, Syailendra, Unnes, Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta dan Brawijaya Malang. Acara akan berlansung selama 4 hari; Selasa – Jumat (10 – 13/03).

Berbagi Saat Memberi dari Ketulusan

[dropcap]B[/dropcap]anyak orang sebenarnya yang peduli dengan sesama. Namun, terkadang mereka harus punya uang banyak dulu untuk dapat berbagi. Sayangnya banyak orang yang keliru memaknai “berbagi”. Berbagi bukan lah hal yang sulit karena kita miskin. Berbagi adalah saat kita memberi dari kekurangan kita.

Tidak peduli seberapa banyak dan mahalnya kita memberi. Tetapi seberapa tulus dan ikhlas kita untuk berbagi agar sesama kita juga merasakan apa yang kita makan dan minum. Meski hanya berbagi makanan. Jangan salah banyak orang yang bingung “besok makan apa”. Ditambah lagi dengan pandemi Covid 19 ini.

Banyak orang yang menjadi pengangguran. Misalnya ojol dan supir taxi mereka saat ini sudah kehilangan mata pencaharian mereka. Tidak ada lagi penumpang yang mau naik. Bahkan saat ini di aplikasi Grab atau Gojek sudah dihilangkan menu bike. Tidak bisa lagi mereka menanggalkan hidupnya disana.

Lalu apa yang mereka kerjakan saat ini? Bagaimana mereka dapat mencukupi kehidupan mereka hari lepas hari?
Apakah ada yang membantu mereka?

 

Foto: Program berbagi makan siang, dari Warteg, yang memberikan nasi kotak untuk didistribusikan melalui ICRP Peduli Covid-19 (25 Maret 2020)

Dr. Musdah Mulia: Jangan jadikan wabah COVID-19 bahan untuk menebar hoaks

Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr. Siti Musdah Mulia meminta masyarakat tidak menjadikan wabah COVID-19 sebagai bahan olok-olok untuk menebar kebencian dan hoaks di media sosial.
“Saya selalu mengatakan tolong jangan menjadikan wabah corona itu semacam olok-olokan atau semacam cara untuk menebar kebencian, permusuhan. Meskipun kita membenci seseorang, tapi tolong jangan menggunakan wabah atau pandemi ini sebagai alat untuk balas dendam, untuk mencaci-maki atau membangun permusuhan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, dengan adanya wabah ini seharusnya merenung ‘apa yang salah dengan diri kita, apa yang salah dengan keluarga kita’ selama ini. Dengan hal tersebut tentunya harus berupaya untuk mengoreksi diri, mengevaluasi diri agar bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

“Karena kalau kita ini mengakui sebagai makhluk yang berguna, makhluk yang bermartabat, mari kita semua menghindarkan diri dari menyebarkan berita hoaks atau berita palsu, berita dusta atau berita-berita yang mengandung kebencian dan permusuhan terhadap sesama. Karena itu perlihatkanlah bahwa kita ini adalah manusia yang beradab,” tutur Musdah.

Karenanya menurut Musdah penting bagi semua untuk bersama-sama membangun solidaritas untuk menguatkan satu sama lain, meningkatkan sikap positif dan berprasangka baik.

“Misalnya, kita dengar berita bahwa si Anu positif terpapar corona, oh tidak apa-apa yang penting berobat yang baik dan ikut anjuran untuk istirahat, berdoa lebih banyak lagi, perkuat solidaritas dengan keluarga dan sebagainya’. Jadi dukungan keluarga itu juga sangat penting,” ujar wanita pertama yang pernah dikukuhkan LIPI sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan ini.

Selain itu menurut Musdah, daya tahan atau imunitas tidak hanya tubuh dengan makan makanan yang baik dan bergizi, juga imunitas sosial harus ditingkatkan dengan membantu sesama umat manusia jika ada yang tidak mampu sehingga membentuk solidaritas untuk saling menguatkan antar-sesama.

Musdah juga mengatakan penting untuk mengedukasi masyarakat dalam berperilaku di tengah bencana wabah COVID-19 ini, seperti imbauan untuk jaga jarak atau physical distancing, cuci tangan, menggunakan masker dan sebagainnya. Dengan edukasi diharapkan masyarakat dapat terbangun kesadarannya.

Ia mengharapkan para tokoh agama dan tokoh masyarakat turut serta untuk memberikan edukasi tersebut sehingga membangun solidaritas kepada umat ataupun warganya.

“Karena itu diperlukan tokoh atau influencer , yang bisa mempengaruhi kelompoknya. Jadi harus bisa memberikan contoh konkrit yang dia bicarakan dan dia juga praktikkan. Misalnya, dengan mengatakan ‘demi menjaga situasi menjadi lebih kondusif saya tidak ke mana-mana, saya tetap di rumah’. Jadi ya dia tinggal di rumah tidak keluyuran di luar,” ucapnya menegaskan.

Peraih Doktoral bidang Pemikiran Politik Islam di IAIN Jakarta ini juga berpendapat bahwa “kita sebagai manusia juga harus selalu melakukan ikhtiar, karena Tuhan hanya akan mengubah nasib seseorang atau sekelompok masyarakat kalau orang atau masyarakat itu mengubah perilakunya sendiri”.

“Jadi jangan selamanya beranggapan ‘ah terserah Tuhan saja’ tidak bisa seperti itu, Ini yang banyak orang salah paham. Bahkan ada yang mengatakan bahwa corona ini juga ciptaan Tuhan, iya memang ciptaan Tuhan tetapi kita sebagai manusia juga harus bisa menggunakan akal pikiran untuk menjauhi musibah itu,” tutur Musdah.

Untuk itulah Musdah mengingatkan bahwa janganlah mempertaruhkan nama Tuhan untuk hal-hal yang konyol seperti, misalnya, mengatakan ‘ini adalah takdir Tuhan’ tanpa kita melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya.

Sumber: Antaranew.com

Relawan Gotong Royong Semprot Disinfektan di Musholla, Gereja, dan Wihara

[dropcap]R[/dropcap]elawan Gong atau Gotong-royong bersama masyarakat lintas agama melakukan aksi penyemprotan disinfektan ke sejumlah rumah ibadah yang berada di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Adapun rumah ibadah yang disemprot disinfektan yakni gereja, wihara, dan masjid.

Di GKRI Dwiwarna, sejumlah relawan langsung melakukan penyemprotan disinfektan ke sudut-sudut gereja hingga bagian mimbar. Bangku untuk jemaat gereja pun tak luput dari penyemprotan disinfektan.

Selain gereja, para relawan juga melakukan penyemprotan di area wihara. Adalah Wihara Chandra Metta disemprot oleh relawan di setiap sudutnya dan imbauan untuk mengurangi sementara aktivitas keagamaan membuat wihara ini untuk sementara tidak ramai dikunjungi umat.

Selanjutnya, sejumlah masjid ataupun musholla yang berada di kawasan tersebut juga disemprot disinfektan. Menurut perwakilan Relawan Gong, kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian antar anak bangsa tanpa harus melihat latar belakang suku, agama, ras, ataupun golongan.

Sumber: Kompastv

NYADRAN (Krecek, Temanggung, Jawa Tengah)

[dropcap]K[/dropcap]egiatan nyadran dalam arti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti mengunjungi makam atau tempat keramat pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur (ayah, ibu, dan sebagainya) dengan membawa bunga atau sesajian. Pada tanggal 10 Maret 2020, kami (Rombongan Staf ICRP) mengikuti Nyadran yang didahului dengan proses perkenalan kebudayaan Krecek yang mayoritas beragama Buddha. Kami ditinggal di rumah penduduk setempat yang kami sebut sebagai induk semang.

Acara dimulai dengan perkenalan semua orang-orang dari berbagai dedominasi di luar daerah Temanggung. Acara pembukaan dilakukan pukul 18.00 WIB yang disebut Kendurian, kegiatan ini diikuti oleh masyarakat di desa Krecek. Pembukaan berlangsung dengan meriah karena masyarakat juga antusias dengan kedatangan tamu dari berbagai daerah di Indonesia seperti Papua, Sumatra, Jakarta dan lainnya. Puncak acara adalah kegiatan makan bersama menggunakan daun pisang sebagai alas dan salin berhadap-hadapan untuk dapat menikmati makanan yang telah disediakan. Makanan yang berlebih dan tidak habis, sebagian akan dibawa oleh masing-masing warga hingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

Keesokan harinya pukul 05.00-06.00 WIB kami mengikuti kegiatan meditasi dengan suasana pegunungan yang masih asri nan indah. Dalam meditasi ini dipimpin oleh biku/biksu yang memandu berlangsungnya meditasi hingga akhirnya. Meditasi diakhiri dengan sharing hasil meditasi masing-masing orang yang dirasakan dan dialami saat meditasi. Setelah selesai kegiatan meditasi, kami diharuskan mengikuti kegiatan di rumah induk semang. Selama setengah hari hingga makan siang tiba, ada yang ke kebun, mencari rumput untuk ternak, kayu untuk memasak hingga mengambil sayuran untuk dimakan.

Setelah makan siang dan istirahat sebentar, kami diharuskan mengikuti kelas karawitan pertama. Di kelas tersebut kami diajari untuk bermain alat musik khas jawa atau gamelan. Kami diajari untuk mengiringi sebuah nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh sinden. Kelas karawitan ini sangat seru, dengan mempelajari alat musik baru dan sangat mengasyikkan karena menguji ketangkasan dalam hal mendengarkan irama sehingga terbentuk melodi yang indah.

Kelas selanjutnya yaitu kelas Jaran Kepang, kelas ini menuntut kita untuk bisa menari dengan kuda (jaran) buatan khas Krecek. Tarian ini juga diiringi dengan alunan musik untuk mempertegas gerakan si penarinya. Hampir semua dari kami ikut mencoba dan belajar tarian tersebut yang cukup menguras tenaga karena durasi tarian yang cukup lama. Setelah itu, kami pun disuruh istirahat dan makan malam di rumah induk semang kami masing-masing. Acara malam harinya kami di suruh mengikuti kelas Sesaji. Kelas ini bertujuan untuk mengajari tentang berbagai hal terutama alat dan bahan yang digunakan untuk sesaji. Malam ke dua ini diakhiri dengan kelas karawitan kedua untuk belajar lebih matang dan memahirkan latihan.

Hari berikutnya, kami mengawali dengan meditasi dan materi tentang  perempuan bercerita, Jelajah dusun dan sejarahnya, kelas jarang kepang II dan Macapat serta persiapan Nyadran. Keesokan harinya barulah dimulai nyadran yaitu membawa sesaji ke dekat makam atau kuburan dan ditutup dengan pentas seni yang sangat meriah.

 

ICRP Bertemu Menko Polhukan Mahfud MD, Bahas IMB Rumah Ibadah hingga Kebebasan Beragama

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menemui Menko Polhukam, Mahfud Md. Pertemuan itu membahas izin pembangunan rumah ibadah hingga kebebasan beragama. “Karena isu kebebasan beragama, toleransi dan sebagainya ini adalah isu nasional. Suasana yang kita hadapi sekarang adalah ujaran yang antitoleransi serasa lebih kedengaran dari pada praktik langsung. Kita berusaha, kurang lebih menyegarkan kembali kesadaran kita sebagai bangsa dengan meninjau sejumlah kasus terakhir yang ada,” ujar Sekretaris Umum ICRP, Johannes Hariyanto usai menemui Mahfud di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020).

Romo Hariyanto mengatakan ICRP siap bekerja sama dengan pemerintah untuk mengedepankan hidup rukun dalam beragama. Dia menilai dengan jaringan yang dimiliki ICRP, program tersebut dapat berjalan dengan baik. “Kita harapkan bahwa kontak kerja sama kita dan Menko bisa lebih baik. Sehingga bisa mendapat input dari suara yang berbeda. ICRP mempunyai jaringan nasional di seluruh daerah di Indonesia sehingga usaha formal harus tetap dikerjakan tetapi kita siap membantu,” jelas dia.

“Tadi pak Mahfud sangat bagus menekankan bahwa bukan masalah jumlah orang atau ajarannya apa. Tapi setiap orang beragama berhak dan negara harus melindungi hak itu untuk melaksanakan ibadah,” ucap dia. Selain itu, Hariyanto mengatakan pertemuan itu juga membahas masalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk rumah ibadah. Dia menyebut permasalahan IMB sering digunakan untuk kepentingan politik.

“Kita juga menyadari bahwa warna politik di dalamnya sangat kuat. Setiap isu yang terkait macam (pendirian rumah ibadah) ini dengan gampang ditelusuri di baliknya adalah kepentingan Pilkada, kepentingan untuk mendapatkan suara yang banyak. Dan suara yang banyak biasanya mengorbankan minoritas,” katanya.

Hariyanto mengusulkan kepada Mahfud untuk mencegah praktik politik itu. Menurutnya kepentingan politik itu dapat mengorbankan agama. “Ini kan praktik politik kanibal. Ini yang kita dorong supaya mari kita tinggalkan itu. Kita angkat ke permukaan. Kan yang akhirnya yang diperalat kan agama kan. Yang mendapat muka buruk itu agama padahal yang diperjuangkan kepentingan politik satu kelompok,” sebutnya.

“Kalau boleh jujur mungkin lebih dari 90 persen Masjid tanpa IMB, tidak ada satu pun Masjid di Indonesia dipersoalkan IMB-nya. Tapi pembangunan rumah ibadah lain yang dipersoalkan IMB. Ini kan asimetrik,” tutur Hariyanto. Lebih lanjut, ICRP juga mengusulkan agar setiap rumah ibadah yang sudah berdiri supaya diberikan IMB. Dia berharap IMB tersebut akan mengurangi sengketa dalam pendirian rumah ibadah.

“Kita sudah menyampaikan itu mengapa tidak diputihkan ajalah ya. Semua rumah ibadah sudah ada pun itu diberikan IMB. Lalu sesudah itu yang akan membangun minta IMB. Menurut saya lebih terhormat untuk semua agama kan. Ini lebih baik karena memberi kedudukan status hukum yang lebih baik untuk masjid. Sekarang masjid wakaf kalau pemberi wakaf bisa dibongkar,” ungkapnya.

Heriyanto menyebut Mahfud mengapresiasi usulan itu. Namun perlu ada pembicaraan lebih dalam dengan berbagai lembaga mengenai pendirian rumah ibadah. “Beliau mengatakan masih perlu dibicarakan karena ini langkah besar. Ibarat main bola ini tendangan pertama belum goal,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Wisata Alam Merajut Kebhinekaan

[dropcap]K[/dropcap]ajian Salam merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi lintas iman di Jakarta, Indonesian Conference on Religion and peace (ICRP) sebagai respon atas ide-ide dan tindakan intoleran yang marak terjadi di Indonesia. Wacana yang dibangun dan hendak dibumikan adalah tentang Islam yang ramah, toleran dan mengayomi semua makhluk Tuhan.

Kali ini Kelompok Kajian Salam mengadakan edutrip ke Banten (7/03). Para peserta tidak hanya dari kelompok kajian, tetapi terbuka untuk siapa saja yang tertarik mengikuti. Lintas golongan,usia dan juga keyakinan.

Diawali dengan kunjungan ke Museum Multatuli di daerah Rangkas Bitung, para peserta mengenal dan melihat jejak Multatuli, seorang tokoh Belanda yang menentang kolonialisme pada masa penjajahan. Karyanya yang terkenal dan banyak mempengaruhi tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia adalah Max Havelaar.

Setelah dari Rangkas Bitung, kami bertolak menuju Malingping untuk menikmati makanan khasnya, yaitu Ceu Bay. Bakso ikan tenggiri dengan kuah yang khas. Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju desa Sawarna, desa yang cukup terkenal akan keindahan pantainya.

Selain jalan-jalan, yang tidak kalah penting dari acara ini adalah sesi tausiyah keagamaan yang diisi oleh Musdah Mulia, pembina ICRP. Para peserta menyimak dengan seksama.

Musdah menyampaikan tentang misi penciptaan manusia. Bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, yakni leader dan manager untuk kehidupan di bumi. Misi utamanya adalah amar ma’ruf nahi munkar, yakni melakukan upaya-upaya transformasi untuk menyebarkan spirit kebaikan, memanusiakan manusia dan semua dimulai dari diri sendiri.

Pada akhirnya, perjalan ini membawa harapan, bahwa keindahan pantai Sawarna dan kekayaan alam Banten mampu mengingatkan kita semua akan Tuhan yang Maha Indah, Maha Penyayang. Menjadi tugas kita bersama untuk merawatnya. Para peserta pulang dengan hati yang damai dan penuh suka cita. (Amna)