Datang ke Gereja Theresia, Pegiat Lintas Iman Ucapkan Selamat Natal

Pegiat lintas iman yang tergabung dalam Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyambangi Gereja St Theresia, Jakarta, untuk mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani.

Rombongan yang berasal dari berbagai latar belakang agama itu menempati balkon untuk menyaksikan prosesi misa Natal I di Gereja St Theresia, Jakarta, Selasa.

Ada sekitar 25 pegiat lintas agama yang ikut kegiatan itu, antara lain dari muslim, Hindu, Sikh, Baha’i, hingga Sunda Wiwitan.

Usai misa, Romo Paroki Gereja St Theresia Romo Johannes Haryanto SJ yang memimpin misa mengundang rombongan pegiat lintas agama untuk maju ke mimbar.

“Kita kedatangan tamu dari berbagai macam komunitas agama, sebagai tanda simpati mereka kepada kita semua yang merayakan Natal,” kata Romo Haryanto, usai prosesi Misa Natal.

Mewakili Paroki Gereja St Theresia, Romo Haryanto berterima kasih atas kunjungan para pegiat lintas agama yang tergabung dalam ICRP.

“Kita tidak boleh kalah dengan intoleransi, ujaran kebencian. Maju terus sebagai sama-sama mahluk tuhan. Semoga ini menjadi inspirasi,” serunya kepada umat.

Romo Haryanto juga mengajak umat Kristiani, khususnya jemaat Paroki St Theresia untuk terus membangun persahabatan dengan sesama.

“Bahwa ada orang tidak suka, ada di semua agama. Jangan takut membangun persahabatan,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Pendidikan dan Riset ICRP Sapri Sale menjelaskan kegiatan itu merupakan bagian dari penghormatan perayaan hari besar pemeluk agama lain.

“Tidak hanya kepada penganut Kristiani. Kepada penganut agama-agama lain kami juga hadir,” katanya.

Prem Singh, pemeluk Sikh yang ikut dalam rombongan itu menambahkan selama ini dirinya beberapa kali ikut dalam kunjungan hari raya ke komunitas agama lain.

“Tidak ada di negara lain yang keberagamannya seperti Indonesia, termasuk toleransinya,” kata Prem yang mengenakan Dastar, sorban khas pemeluk Sikh.

Gereja St Theresia Jakarta melaksanakan tiga kali misa Natal 2019, yakni Misa I dimulai pukul 17.00 WIB, Misa II mulai pukul 20.00 WIB, dan Misa III pukul 22.30 WIB.

Kunjungan Gerakan Kebangsaan Indonesia ke kantor ICRP

Pengurus baru Gerakan Kebangsaan Indonesia (GKI) berkunjung ke kantor ICRP, dalam rangka silaturahmi dan pendalaman kerjasama kelambagaan, (Selasa, 18/12). Rombongan yang terdiri Pdt. Norman (Ketua GKI), Pdt. Tya (Sekretaris GKI) dan Benny Lumi penggiat gerakan kebangsaan, mendalami bentuk-bentuk kerjasama yang bisa dimunculkan antara GKI dan ICRP.

Secara khusus, Pdt. Frangky Tampubolon – direktur ICRP memaparkan adanya gagasan pendirian Sekolah Kebangsaan Indonesia, yang telah mulai diperbincangkan dengan pengurus GKI sebelumnya dan dengan beberapa tokoh Sinode Wilayah Gereja Kristen Indonesia (GKI Jabar), yang adalah payung dari keberadaan lembaga Gerakan Kebangsaan. Gagasan Sekolah Kebangsaan ini adalah untuk menjawab kebutuhan akan pengembangan sekolah kader perdamaian dan toleransi yang berwawasan kebangsaan dan berkarakter di masa mendatang.

Pdt. Norman secara spesifik mendalami kerjasama dalam pelaksanaan program Peace Train, tentang model pelibatan peserta, target, kegiatan ikutan dan juga pendanaan. GKI dalam hal ini pernah melakukan kegiatan serupa dalam bentuk Peace Journey. Ke depan, diharapkan GKI dan ICRP dapat melaksakan kegiata ini dengan bersinergi agar dapat memperbesar dampak dari kegiatan interfaith yang dapat diciptakan melalui Peace Train ini.

Kegiatan lain yang juga digagas adalah kegiatan pengelolaan media perdamaian oleh anak muda. Secara mendalam Anick HT, Koordinator Bidang Media ICRP, memaparkan program-progam ICRP ke depan yang berbasis pada pengelolaan media sosial, jaringan konten maker perdamaian dan jaringan influencer yang berdampak bagi kampanye dan penyebaran narasi-narasi perdamaian yang mempunyai effek yang mendalam bagi kaum milenial.

Pengantar Kajian Ketigabelas Seksualitas dan Keluarga

Setelah pada kajian yang lalu kita membahas gender, kali ini kita akan mengangkat tema seksualitas dan keluarga. Ketika kita membahas gender, kita berbicara soal konstruksi sosial yang mengikuti kelamin dan seksualitas. Sedangkan seksualitas itu sendiri lebih banyak membahas tentang seks secara biologis dan orientasi seksual.

Ketika kita berbicara tentang seksualitas, tak luput juga kita berbicara mengenai kesehatan reproduksi yang merupakan elemen penting dalam seksualitas. Banyak wacana seputar pendidikan kesehatan reproduksi, baik untuk laki-laki dan perempuan, dianggap sebagai hal yang tabu, bahkan dilabeli haram karena dianggap mempromosikan seks bebas. Produk dari kesehatan reproduksi, seperti konsep KB dan turunannya banyak diharamkan dan dianggap sebagai bagian dari konspirasi yang ingin menghancurkan generasi Islam. Belum lagi kalau berbicara mengenai pendidikan seks yang lebih luas lagi, mencakup pembahasan otoritas tubuh, relasi kuasa dalam hubungan pacaran dan rumah tangga, dan seks sebagai kegiatan rekreasi. Bagaimana sebenarnya Islam memandang hal-hal ini? Memang, seksualitas sangat erat berkaitan dengan harkat dan martabat manusia.

Di dalam Islam, pemahaman yang umum mengenai keluarga yaitu keluarga merupakan salah satu elemen terpenting masyarakat, jika bukan yang terpenting. Keluarga tradisional inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak dianggap sebagai fondasi umat Islam, dan pendidikan serta pengasuhan anak-anak oleh orangtua diharapkan membentuk generasi Islam yang berkualitas di masa yang akan datang. Ada pengaturan peran yang saklek pula dalam gambaran keluarga ini: ia terdiri oleh ayah (laki-laki), ibu (perempuan), dan anak-anak; ayah bertugas menafkahi, mengayomi, sekaligus aktif berperan di kehidupan sosial, sedangkan ibu mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Pola pendidikan dan pengasuhan yang dipercaya sebagai yang terbaik adalah pola yang dianggap ‘Islami’, yaitu melakukan ritual ibadah, menghafal Al-Quran (kadang tanpa memaknai), dan konsep dosa-pahala, Islam-kafir, surga-neraka.

Dalam kajian ini kita akan membahas apa itu keluarga dalam Islam, bagaimana posisi dan peran keluarga dalam umat, bagaimana sebenarnya pola pendidikan yang ‘Islami’ itu? Bagaimana pandangan Islam tentangan hubungan seksualitas di dalam dan di luar pernikahan? Tentang kesehatan reproduksi? Benarkah istri tidak diperkenankan menolak berhubungan badan dengan suami? Bagaimana kita menanggapi wacana kebencian tentang LGBT yang banyak beredar belakangan ini? Mengapa perempuan mendapat bagian warisan lebih kecil daripada laki-laki? Mengapa untuk menikah perempuan mesti diwakilkan oleh wali laki-laki—benarkah harus seperti itu? Bagaimana juga pandangan-pandangam Islam tentang mengangkat anak? Apakah betul tidak boleh mengangkat anak perempuan karena khawatir nanti pernikahannya tidak sah? Bisakah kita sebagai Muslim merombak bentuk-bentuk dan eksprektasi-ekspektasi pakem tentang keluarga dan seksualitas untuk menjadi lebih baik?

Bedah Buku Muslimah Reformis di Cirebon

Dua hari yang padat dan berkualitas di Cirebon.

Bedah Buku Muslimah Reformis di Cirebon adalah kota ke-4 yang disinggahi sang penulis Prof. Dr. Hj. Musdah Mulia.

Acara ini di gelar ICRP bersama Fahmina Institute dan Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan. Kali ini peserta diskusi mendaftar online hingga berjumlah 250 orang, bahkan ada 15 orang peserta dari Malaysia.

Seperti yang disampaikan peserta bahwa buku Muslimah Reformis ini adalah buku penting nan penuh nilai-nilai teks keilmuan, prinsip ke-tauhid-an dan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga siapa pun yang membacanya akan menemukan ruang-ruang dialog dalam kontek intelektual.

Muslimah Reformis adalah Perempuan sebagai penggerak dan rekonsiliasi perdamaian, sebagai aktor intelektual berangkat dari pemahaman beragama yang benar. Bahwa perempuan shalihah bukan hanya mereka yang taat pada Tuhan dengan seperangkat atribut keagamaan, namun juga perlu aktif bergerak, penuh empati, peduli dan turut andil dalam upaya-upaya kemanusiaan.

Muslimah Reformis adalah simbol perempuan merdeka.

#MuslimahReformis