Jenderal Pol Tito Karnavian

[:id]Kapolri: Jangan Mudah Terprovokasi[:]

[:id]Jakarta, ICRP – menanggapi rencana aksi unjuk rasa ormas keagamaan pada 4 November 2016 di Jakaera, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meminta masyarakat agar tidak terprovokasi. Dia mengingatkan situasi jelang pelaksanaan Pilkada 2017 ini rentan ditunggangi kepentingan politik sejumlah pihak.

“Jangan mudah terprovokasi, apalagi sampai melakukan kekerasan. Tolong jangan sampai anarkis,” kata Kapolri di sela-sela acara Kirab 190 Bendera Negara Peserta Sidang Umum Interpol, di Jakarta, Minggu (30/10).

Meskipun belum mengetahui jumlah pasti berapa pendemo yang akan turun ke jalan pada 4 November, namun Tito meminta demo berjalan damai dan menaati peraturan.

“Kalau dilakukan dengan cara damai, tentu akan kami lindungi. Jangan sampai anarkis, melakukan kekerasan. Maka kami akan melakukan langkah hukum,” ucapnya, menegaskan.

Tito juga telah merapatkan barisan guna untuk mengamankan kegiatan demo tersebut. Selain itu, jajarannya juga sudah disiapkan untuk mengamankan pilkada serentak yang berlangsung tahun 2017 ini.[:]

Laman Change.org yang menampilkan Petisi yang menuntut audit terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI)

[:id]Ribuan Orang Petisi MUI Untuk di Audit[:]

[:id]Jakarta, ICRP  – Seorang warga bernama Andi Hajrin memulai membuat sebuah petisi untuk melakukan audit terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI). Petisi tersebut ditulis pada laman petisi online change.org. Saat ini sudah 4,769 orang yang mendukung dan menandatangani petisi tersebut.

Petisi tersebut ditujukan kepada lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan Agung, Badan Pengawas Keuangan, Komisi Informasi dan  Kementrian Agama.

“Masyarakat  meminta agar MUI lebih transparan soal keuangannya, mengingat mereka adalah organisasi publik yang mendapatkan dana dari pemerintah (APBN dan kementerian) plus dana dari masyarakat (salah satunya lewat sertifikasi halal). Intinya, jangan sampai kita curiga duit yang diterima MUI gak bisa dipertanggungjawabkan.” Demikian petikan petisi yang tertulis di Change.org.

Dalam petisi tersebut juga disebutkan, jika MUI mau transparan terhadap keuangan yang meliputi pemasukan dan pengeluaran hal tersebut akan menambah kepercayaan terhadap lembaga agama plat merah tersebut.

“Seharusnya MUI merasa tertolong dengan upaya ini (permintaan transparansi keuangan) agar kecurigaan-kecurigaan orang bahwa MUI terima uang dari Saudi Arabia atau MUI menerima dana untuk meloloskan proses sertifikasi halal, itu bisa hilang seandainya MUI bersedia diaudit secara publik.” Kutip petisi tersebut.

Sementara itu, masyarakat yang turut mendukung petisi tersebut terlihat geram dengan tingkah MUI yang selama ini tidak transparan. Akun Gusti Devitto dari Semarang, Jawa Tengah menuturkan tindakan MUI yang tidak mau transparan bisa membuat malu orang Islam.

” Kalau ngaku suci, seharusnya gak masalah mau diaudit sampai ke sudut manapun. kalau banyak alasan, berarti diasumsikan ada yang ditutup-tutupi. jangan bikin malu orang islam, jangan coba2 makan duit rakyat!” tegas Gusti

Komentar cukup keras datang dari akun Iman Fattah. Dia minta MUI dibubarkan saja karena sudah membohongi rakyat mengatasnamakan agama.

“Cukup sudah rakyat dibohongi mengatasnamakan agama. Bubarkan MUI!” geram Iman.

Hingga saat ini, petisi tersebut masih terus berjalan dan masih banyak masyarakat yang mendukung. Petisi tersebut dapat ditemukan di link berikut:

https://www.change.org/p/komisi-pemberantasan-korupsi-audit-mui[:]

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin. Sumber: Tempo.co

[:id]Menteri Agama: Sulit Menjaga Kerukunan Agama Saat Pilkada[:]

[:id]Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengatakan pemilihan kepala daerah 2017 akan menjadi tantangan untuk menjaga kerukunan beragama di Indonesia. Musababnya, kata dia, isu agama kerap dibawa dalam pilkada, terutama untuk menaikkan atau menjatuhkan nilai dari calon kepala daerah tertentu.

Padahal, lanjut Lukman, berdasarkan hasil sigi Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama pada 2015, tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia tinggi. Dari angka tertinggi 100 persen, ucap dia, kerukunan beragama Indonesia mencapai 75,36 persen. “Tidak akan mudah mempertahankan angka itu,” ucap dia setelah memberikan paparan dua tahun pemerintah Presiden Joko Widodo di Kantor Staf Kepresidenan, Senin, 24 Oktober 2016.

Lukman pun mencontohkan, di Jakarta, isu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah nonmuslim, sehingga tak pantas kembali jadi gubernur masih kerap diungkit. Padahal, lanjut dia, hal itu tidak memiliki peran signifikan dalam menentukan kualitas atau integritasnya.

“Isu ini terjadi ketika ada kandidat yang berbeda agama. Apalagi, para kandidat dan tim sukses membawa isu agama untuk hal yang justru membuat kita saling berkonfrontasi, bukan rukun,” ujar Lukman.

Lukman melanjutkan, satu-satunya hal yang bisa menjaga tingkat kerukunan beragama saat pilkada nanti adalah kedewasaan atau kematangan dari warga Indonesia dan calon kepala daerah itu sendiri. Ia mengatakan sudah tidak mungkin memisahkan isu agama dengan politik sehingga jalan yang tersisa adalah bagaimana membuat isu agama di lingkungan politik menjadi hal yang promotif bukan konfrontatif.

“Saya optimistis itu bisa. Tentu kita tidak boleh menutup mata atas praktik-praktik intoleransi di beberapa tempat. Tapi, saya rasa, itu hanya pada di titik tertentu yang tidak perlu digeneralisir,” ujarnya.

Sumber: Tempo.co[:]

[:id]Jangan Jadikan Agama Komoditas Politik[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Beberapa kalangan sudah mulai meresahkan jika agama dijadikan dalam komoditas politik oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab. Salah satunya datang dari Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas. Yaqut meminta kampanye yang berbau SARA untuk segera dihentikan.

“Kami meminta semua pihak, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan Pilgub Jakarta untuk segera menghentikan perdebatan dan kampanye yang mengandung unsur SARA,” kata Yaqut di Jakarta, seperti dilansir ansornews.com, Senin (24/10).

Yaqut menilai kelompok yang mengambinghitamkan agama dalam kegiatan politik merupakan cara yang primitif. Menurutnya, agama tidak sepantasnya dijadikan sebagai komoditas politik

“Kami melihat bahwa segelintir oknum di sosial media sudah melampaui etika dan kepatutan dengan melecehkan secara personal tokoh-tokoh tertentu yang terkait Pilgub DKI,” ujarnya.

Pihaknya meminta pesta demokrasi ini dilaksanakan dengan kreatif dan damai. Supaya tujuan demokrasi ini bisa tercapai, yakni kesejahteraan masyarakat.

“Kami ingatkan juga pada para pasangan calon, tim suksesnya, dan pendukungnya untuk berkampanye secara kreatif dan cerdas serta mengangkat tema-tema positif bagi kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyat Jakarta,” kata dia.

Menurutnya, perang ide dan gagasan lebih bagus jika dibandingkan dengan mengambinghitamkan SARA. (ansornews.com)

 [:]

Mohammad Monib

[:id]Hanya Ada Satu Tuhan Untuk Semua Agama [:]

[:id]

Dulu, saya kira Tuhan itu banyak. Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Zoroaster,Tao, Sikh, Khong Hucu punya Tuhan sendiri-sendiri, berbeda dengan Allah, Tuhan yang Haq menurut iman umat Islam.Itu dulu. Saat saya beragama tanpa nalar, mabok dogma dan menelan teks mentah-mentah. Saya kira, sampai detik ini saya yakin, dugaan semodel masih dimiliki dan bersemayam di benak kaum beragama. Tak hanya umat Islam, non-muslim pun tak beda.

Saat awam, saya menduga hanya Islamlah yang diturunkan Tuhan. Agama & umat beragama selainnya tidak dikehendaki, percuma,  mubadzir, tak punya tempat, di luar kuasa Allah. Hiks hiks hiks. Menyedihkan. Padahal, al-Qur’an menandaskan, hanya ada satu Tuhan bagi semesta alam. Tuhan tak sedang bercanda dan maen-maen dengan ciptaan dan makhluk-Nya.

Dulu, saya menduga, cukuplah baca syahadatain, sekadar melakukan 6 & 5 sudah pasti selamat & masuk surga. Padahal itu baru kulit luar & minimalis. Betapa sederhana bila sekadar itu. Dan, kini saya beragama, beribadah dan menjalani kebaikan bukan untuk kompensasi material dan ngejar janji hedonisme akhirat itu. Saya lakukan semua itu sebagai kesyukuran, sejatinya begitulah kita menjalani hidup dan rahmat Tuhan puncak harapan.

Saat itu, saya menduga hanya orang Islam yang berhak masuk surga, selain mereka langsung ke neraka. Ah,betapa kejamnya diriku. Kebaikan itu bukan seladar angan-angan & prasangka. Rahmat Tuhan tak terjangkau pikiran & imajinasi-imajinasi manusia. Malangnya diriku!

Saat lugu, saya menduga, jadi muslim yang benar & baik itu mesti anti non-muslim, garang, intoleran, penuh kebencian kepada yang beda, pasang muka judes, kecut dan bigot. Hiks hiks hiks, malang nian masa laluku.

Dulu, saya menduga, selain masjid bukan tempat ibadah. Sinagog, gereja, wihara, lithang, candi, pura tak bermakna. Bukan rumah Tuhan. Betapa malangnya bila Tuhan hanya bisa  bersemayam & ditemui di masjid atau di rumah ibadah selainnya. Tuhan yang materialistik dan hedonis.

Dulu, saya menduga, Iblis, syetan & jin itu terkutuk dalam makna sesungguhnya. Lha, lantas bagaimana kebaikan & keburukan itu berfungsi & operasional tanpa yinyang kehidupan itu?Bukankah itu peran & fungsi yang Tuhan sendiri menciptakannya?Bukankah ini grand scenario-Mu?

Saya tutup dengan do’a:

Ya Tuhan, ampuni kelalaian & kealpaan diriku. Samudera ilmu Tuhan tak terselami. Saya hanya menebak-menafsirkan setitik ilmu-MU dalam bentangan milik-MU. Allahumma zidni ilma warzuqni fahma wahdini ila hidayatik.

[:]

Keindahan Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

[:id]Raja Ampat dan Ikhtiar Perdamaian[:]

[:id]Oleh: Ahmad Nurcholish

Menjadi pengalaman berharga sekaligus menyenangkan ketika pekan lalu saya dapat berkunjung ke Raja Ampat yang namanya telah mendunia itu. Pada 18 hingga 22 Oktober lalu, atas undangan dari panitia  Festival Pesona Raja Ampat 2016, saya berada di kabupaten yang terletak di bagian barat kepala burung (Vogelkoop) Pulau  Papua.

Selain menjelajahi pulau Painemu, Kampung Arborek dan Pasir Timbul saya juga bertemu dengan para pimpinan pemerintahan di kabupaten Raja Ampat tersebut. Dua diantaranya adalah Abdul Faris Umlati sang bupati dan Yudis N Lamatenggo yang menjabat sebagai kepala dinas pariwisata kabupaten di Papua Barat ini.

Pertemuan dengan Abdul Faris Umlati kami lakukan pada Jumat pagi (21/10) di kantornya. Saya ditemani oleh Pendeta Frangky Tampubolon dan Jonni Hermanto, seorang politisi yang memiliki daerah pemilihan di Papua Barat.

Ada sejumlah hal menarik yang kami bincangkan pagi itu yang kemudian saya namai dengan ikhtiar perdamaian. Ikhtiar inilah yang akan segera kami rancang agar kiranya dampar direalisasikan mulai awal tahun 2017 mendatang.

Pertama, Gong Perdamaian. Ini merupakan murni gagasan dari bupati Raja Ampat tersebut. Ia menginginkan di Raja Ampat itu ada prasasti perdamaian berbentuk gong sebagaimana yang sudah ada di Ambon, Ciamis, Yogyakarta dan Kupang.

Gong perdamaian di sejumlah tempat tersebut tentu hanya simbol semata. Ia memiliki arti dan pesan yang luar biasa. Gong dapat kita maknai sebagai suara yang menggema, sedangkan perdamaian tidak lain adalah sebut keadaan yang harmoni, nirkekerasan. Jadi, Gong Perdamaian merupakan simbol bagi upaya untuk selalu mewujudkan perdamaian di bumi pertiwi khususnya dan di muka bumi umumnya.

Ahmad Nurcholish saat bertemu dengan jajaran Pemerintah Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

Ahmad Nurcholish saat bertemu dengan jajaran Pemerintah Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

Menyambut gagasan sang bupati itulah kami mengusulkan untuk menghelat kegiatan pengantar sebagai penopang dari dibangunnya Gong Perdamaian.

Kedua, Peace Camp Pemuda Lintas Agama. Inilah yang kami usulkan sebagai kegiatan pengantar sebagai penopang Gong Perdamaian itu. Kemah perdamaian menjadi penting agar prasasti Gong Perdamaian lebih menggema seantero nusantara, bahkan dunia sebagaimana mendunianya nama Raja Ampat.

Mungkin saja namanya The Adventure Peace Camp (TAPC) yang memadukan antara kegiatan wisata dan kemah perdamaian. Perpaduan ini akan membawa dua misi sekaligus, yakni promosi pariwisata dan mengajak generasi muda untuk memegang peran sebagai promotor sekaligus penggerak perdamaian.

Bayangkan jika TAPC ini bisa diikuti oleng 200-an pemuda lintas agama dari seluruh Indonesia, maka kita telah melakukan proses investasi terhadap upaya menjaga persatuan NKRI, toleransi antar umat beragama dan mewujudkan perdamaian sebagai misi utama dari ikhtiar ini.

Ketiga, Peacesantren. Ini bukan pesantren biasa laiknya yang sudah ada di Indonesia. Peacesantren adalah pesantren perdamaian, sebuah lembaga pendidikan atau pembelajaran yang memfasilitasi generasi muda untuk belajar dan menyiapkan diri sebagai peacemaker (pelaku atau pengupaya perdamaian.

Dalam sejumlah kesempatan saya sudah pernah melontarkan gagasan ini. Juga melalui beberapa tulisan yang sudah terbit di beberapa media. Ide ini pula yang disambut baik oleh sang bupati Raja Ampat buntu dapat direalisasikan.

Dalam benak saya, peacesantren tidak hanya menerima siswa muslim sebagaimana di pesantren yang kita kenal semata ini. Di peacesantren ini semua siswa dari berbagai agama bisa mendaftar menjadi santri atau siswanya. Padi hingga siang hari mereka belajar di sekolah sebagaimana dilakukan siswa-siswi lainnya. Pada sore hingga malam hari  mereka belajar tentang perdamaian.

Tak hanya itu, di area peacesantren juga akan didirikan sejumlah rumah ibadah sebagai representasi dari agama-agama yang ada di Indonesia. Ada mesjid, gereja, vihara, pura, lithang, gurudwara, dan lainnya. Rumah-rumah ibadah ini nantinya akan dikelola oleh pimpinan dan umat sesuai agama tersebut. Dibangun di satu area yang sama tujuannya agar para pimpinan dan jemaat rumah ibadah tersebut dapat saling berjumpa, berinteraksi dan berdialog satu sama lain dengan semangat saling menghargai, menghormati dan toleransi.

Selain sebagai lembaga pendidikan atau pembelajaran bagi studi agama dan perdamaian, peacesantren tersebut tentunya dapat dijadikan sebagai destinasi wisata yang unik pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Ia akan menjadi simbol bergerak yang akan mengukuhkan Papua sebagai The Land of Peace yang dicanangkan beberapa tahun silam.

Gagasan-gagasan tersebut memang tidak madah untuk diwujudkan, tapi jika sejumlah pihak yang memiliki perhatian besar terhadap keutuhan negeri ini, terhadap kehidupan umat beragama dan misi perdamaian yang menjadi impian setiap kita, maka bukan mustahil dapat diwujudkan dengan segera. Semoga!

Ahmad Nurcholish, pengampu Studi Agama dan Perdamaian dan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok, Jabar.[:]

Kepala BNPT Komjen Suhardi Alisu

[:id]Waspada, Target Terorisme Bisa Siapa Saja[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), KomjenSuhardi Alius  mengingatkan aksi terorisme saat ini bisa menyerang siapa saja sebagai targetnya. Mereka bisa menyerang siapa saja yang dianggap berseberangan dengan mereka. Namun, pihaknya menekankan saat ini yang paling rentan menjadi sasaran adalah aparat kepolisian karena mereka bertugas secara terbuka.

“Targetnya bukan polisi saja. Bisa pemerintah atau pejabat pemerintah, pokoknya yang berseberangan akan dianggap musuh. Selama ini memang yang paling aktif polisi dan memang bertugas terbuka sehingga mudah bagi mereka untuk menjamah. Ke depan memang Kapolda dan jajarannya kami pesankan lebih waspada dan melengkapi anggotanya agar lebih aman menghadapi situasi seperti ini,” kata Suhardi kepada wartawan di Sukoharjo, Jumat (21/10/2016).

Suhardi meminta kepada masyarakat terutama aparat kepolisian untuk lebih waspada dan peduli. Jika melihat ada keluarga atau orang dekat yang mulai menampakkan perubahan sikap harap segera melaporkan. Hal tersebut terutama pada remaja usia 15 tahun hingga usia 30 tahun ketika sedang masa proses pencarian diri sehingga mudah menelan informasi sepihak yang bisa menjerumuskan.

“Radikalisme itu soal mindset. Radikalisme bisa datang kepada siapapun tanpa perlu mengetuk pintu rumah. Bisa menyasar siapa saja, keluarga siapa saja. Survei dan fakta menunjukkan saat ini dari usia dini hingga pendidikan tinggi sudah terpapar pemikiran radikalisme. Tolong kita semua waspada dan peduli dengan lingkungan. Kalau ada yang mulai tertutup dan terus-menerus bersama internet, segera laporkan,” tegasnya seperti dikutip detik.com (21/10/2016).[:]

lokasi penyerangan salah satu pemuda yang diduga anggota ISIS di Tangerang. Setidaknya, tiga anggota polisi mengalami luka berat dalam serangan ini, salah satunya adalah Kapolsek Tangerang. Sumber: Tempo.co

[:id]Anak Muda Penyerang Kapolsek Tangerang, Sering Chatting dengan ISIS[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Sultan Aziansyah (22) menyerang kapolsek Tangerang dan dua polisi lainnya di Pos Lalu Lintas, Cikokol, Tangerang pada pukul 07.10 WIB, Kamis (20/10/2016). Kapolri Jenderal Tito Karnavian menengarai Sultan sudah setahun bergabung kelompok Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), pendukung terkuat ISIS di Indonesia. Tito juga menyebut, Sultan menjalin komunikasi via Chatting dengan kelompok ISIS Bahrun Naim yang berada di Suriah.

“SA ini adalah salah satu yang direkrut, baru satu tahun kurang lebih, dia baru 22 tahun ya. Selain itu dia sering online dengan website yang dimiliki ISIS termasuk chatting dengan kelompok ISIS, yang kita curigai kelompok Bahrun Naim,” kata Tito di RS Siloam, Karawaci, Tangerang, Jumat seperti dilansir detik.com(21/10/2016).

Bahrun Naim saat ini menjadi salah satu bagian penting                 ISIS. Meskipun berada di Suriah, Bahrun Naim disebut-sebut menjadi dalang penyerangan beberapa anggota ISIS di Indonesia. Salah satunya, penyerangan yang terjadi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Sultan sendiri diketahui sudah membaiatkan diri bergabung dengan ISIS. Di sebuah pesantren di Ciamis, Jawa Barat Sultan turut membaiatkan dirinya ke ISIS.

“Jadi ini katakanlah rekrutmen baru, direkrut baru, lebih kurang satu tahunan lebih. Tapi dia masuk ke jaringan lama, ex Jamaah Al Islamiyah yang bergabung dengan kelompok JAD. JAD ini adalah kelompok supporter terkuat di Indonesia untuk ISIS,” tegas Tito.[:]

Rasul Berislam yang Lapang, Mengapa Umatnya Kok….?

[:id]​

Jelang maghrib. Seorang alumni Gontor menyapaku via japri. Kemudian, ia  ngirim tayangan video. Segera saya buka. Menakubkan isinya. Sebuah gereja di Scotlandia membuka diri dan dwifungsi. Sebagai gereja dan masjid. Lonceng panggilan & penanda ibadah Kristiani dan azan silih berganti. Bukan hanya sekali waktu lho! 5 x waktu shalat. Seperti biasa ada kontraversi di jamaah Kristianinya. Namun, mayoritas mendukung langkah sang pendeta. Sebuah sikap kekristianian yang dewasa dan lapang hati. Kerrreeen top.

Tak lama, seorang alumni dari ujung pulau Sumatra  menyapaku via japri. “Syeikh, para senior ma’had kok bisa setegang itu ya. Ini kan perkara politik?!”, ia membuka diskusi. Nampaknya ia merespon cuitan emosional seorang profesor di WAG alumni Gontor. “Ya, begitulah. Tidak semua orang Gontor punya kedewasaan beragama dan keislaman yang lapang”, jawabku.

Terkait sikap keberagamaan, juga keislaman, saya percaya, silent majority umat beragama, dan umat Islam cinta damai, harmonis dan penikmat hidup dalam kebhinekaan. Berislam yang lapang, nyantai, full of tabassum, wajah cerah dan mampu bersinergi dalam urusan sosio-ekonomi-politik. Hanya seupil saja yang ngasong ekstrimisme, radikalisme dan nyupport terorisme.

Serius, amatan saya bukan perkara iman. Perkara dan motif politic as usual. Coba Ahok melembut dan nego2 sesuatu. Pasti bergeser posisi duduknya. Saya kenal kok karakter para tokoh agama, politisi dan tokoh ormas keislaman kita. Hiks hiks hiks. Gak ada zuhudnya. Para  pengepul harta.

Terkait video di atas, saya ingat kisah Rasulullah. 60 pendeta Najran datang ke Madinah. Nantang debat teologi. Trinitas atau tauhidkah yang benar?Beritanya 3 hari 2 malam adu nalar dan jual beli dalil berlangsung antara Rasul dan para pendeta. Yang menarik, saat mereka ijin ibadah, Rasul menyilahkan mereka lakukan di dalam masjid. Kerrrrrren top Rasulku. Nampaknya spirit kenabian itu yang dicopypaste pendeta di Scotlandia itu.

Sedihnya, sikap kenabian itu sirna dalam diri umat Islam. Serombongan ormas, politisi, kuyaha dan asatidz  kini bergairah menjual keberislaman yang ekstrim, wajah kecut, memprovokasi kekejian dan kekejaman. Reinkarnasi nafsu al ammarah bi al suu’ Abu Bakar al-Baghdadi merasuki jiwanya. Naudzubillah.

[:en]​

Jelang maghrib. Seorang alumni Gontor menyapaku via japri. Kemudian, ia  ngirim tayangan video. Segera saya buka. Menakubkan isinya. Sebuah gereja di Scotlandia membuka diri dan dwifungsi. Sebagai gereja dan masjid. Lonceng panggilan & penanda ibadah Kristiani dan azan silih berganti. Bukan hanya sekali waktu lho! 5 x waktu shalat. Seperti biasa ada kontraversi di jamaah Kristianinya. Namun, mayoritas mendukung langkah sang pendeta. Sebuah sikap kekristianian yang dewasa dan lapang hati. Kerrreeen top.

Tak lama, seorang alumni dari ujung pulau Sumatra  menyapaku via japri. “Syeikh, para senior ma’had kok bisa setegang itu ya. Ini kan perkara politik?!”, ia membuka diskusi. Nampaknya ia merespon cuitan emosional seorang profesor di WAG alumni Gontor. “Ya, begitulah. Tidak semua orang Gontor punya kedewasaan beragama dan keislaman yang lapang”, jawabku.

Terkait sikap keberagamaan, juga keislaman, saya percaya, silent majority umat beragama, dan umat Islam cinta damai, harmonis dan penikmat hidup dalam kebhinekaan. Berislam yang lapang, nyantai, full of tabassum, wajah cerah dan mampu bersinergi dalam urusan sosio-ekonomi-politik. Hanya seupil saja yang ngasong ekstrimisme, radikalisme dan nyupport terorisme.

Serius, amatan saya bukan perkara iman. Perkara dan motif politic as usual. Coba Ahok melembut dan nego2 sesuatu. Pasti bergeser posisi duduknya. Saya kenal kok karakter para tokoh agama, politisi dan tokoh ormas keislaman kita. Hiks hiks hiks. Gak ada zuhudnya. Para  pengepul harta.

Terkait video di atas, saya ingat kisah Rasulullah. 60 pendeta Najran datang ke Madinah. Nantang debat teologi. Trinitas atau tauhidkah yang benar?Beritanya 3 hari 2 malam adu nalar dan jual beli dalil berlangsung antara Rasul dan para pendeta. Yang menarik, saat mereka ijin ibadah, Rasul menyilahkan mereka lakukan di dalam masjid. Kerrrrrren top Rasulku. Nampaknya spirit kenabian itu yang dicopypaste pendeta di Scotlandia itu.

Sedihnya, sikap kenabian itu sirna dalam diri umat Islam. Serombongan ormas, politisi, kuyaha dan asatidz  kini bergairah menjual keberislaman yang ekstrim, wajah kecut, memprovokasi kekejian dan kekejaman. Reinkarnasi nafsu al ammarah bi al suu’ Abu Bakar al-Baghdadi merasuki jiwanya. Naudzubillah.

[:]

Foto dialog lintas agama dan budaya negara MIKTA di Yogyakarta (Foto: Kementerian Agama Republik Indonesia)

[:id]Indonesia Jadi Tuan Rumah Dialog Lintas Agama dan Budaya MIKTA[:]

[:id]YOGYAKARTA – Pada 18-19 Oktober, Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Dialog Lintas Agama dan Budaya negara-negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia). Dialog ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama Indonesia.

Dialog yang bertema “Strengthening solidarity, friendship, and cooperation through interfaith and intercultural dialogue” itu dilaporkan bertujuan untuk berbagi pengetahuan di antara negara-negara MIKTA. Namun, utamanya Indonesia menginginkan dialog ini sebagai bentuk pesan perdamaian yang mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan di tingkat pemerintah dan non-pemerintah.

Dialog yang dihadiri oleh berbagai tokoh agama, budaya, akademisi, pejabat sFoto dialog lintas agama dan budaya negara MIKTA di Yogyakarta (Foto: Kementerian Agama Republik Indonesia)erta masyarakat madani dari negara-negara MIKTA itu dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Indonesia, Dr. AM. Fachir. Berdasarkan rilis yang diterima Okezone dari Kementerian Luar Negeri Indonesia, Rabu (19/10/2016) pada sambutannya, Wamenlu Fachir menyatakan dialog ini diadakan Indonesia dalam upaya mengatasi masalah ancaman keamanan khususnya terkait radikalisme agama.

Fachir kemudian menegaskan harapannya agar kerja sama di antara negara-negara MIKTA dapat semakin menguat, strategis serta inklusif dengan melibatkan semua pihak bukan hanya dari kalangan Kementerian Luar Negeri masing-masing negara. Pembukaan dialog itu lalu dilanjutkan oleh pernyataan sambutan dari Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Sultan Hamengkubuwono mengatakan, bahwa dialog ini bukan untuk kompromi masalah iman. Namun, untuk mewujudkan empati serta menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghormati antar umat bergama.

(emj)

Sumber: okezone.com [:]