Ilustrasi Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sumber: Detik.com

[:id]Fenomena Padepokan Dimas Kanjeng, Potret Masyarakat Instan Tak Rasional[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Di zaman modern seperti saat ini ternyata masih banyak masyarakat terbuai iming-iming mendapatkan uang instan dengan cara ghaib. Seperti yang dilakukan di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang belakangan ini ramai. Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditengarai bisa menggandakan uang santri-santrinya. Hingga akhirnya dicokok polisi karena dugaan pembunuhan.

Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Ahmad Nurcholish menyatakan fenomena masyarakat berbondong-bondong menggandakan uang ke Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi adalah potret masyarakat instan yang tidak mau berusaha.

“Hal ini menandakan masyarakat kita yang suka sekali dengan budaya instan. Tidak mau bersusah payah dan berusaha keras. Jadinya mudah terpikat dengan cara-cara seperti ini” tegas Nurcholish.

Menurut penulis buku Agama Cinta ini, fenomena padepokan Dimas Kanjeng membukakan mata kita bahwa masyarakat saat ini sudah kehilangan daya kritisnya.

“Masyarakat tidak kritis lagi apakah uang itu benar atau tidak, palsu atau tidak?” ungkapnya.

Selain motif ekonomi, Nurcholish menengarai bahwa ada motif agama dibalik kejadian ini. Menurutnya, pengajaran agama yang salah akan menyebabkan hal-hal tidak rasional seperti ini terus berkembang.

 [:]

Upcara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat

[:id]Upacara Adat Seren Taun, Menghargai Alam dan Perbedaan[:]

[:id]

Upcara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat

Upcara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat

Kuningan, ICRP – Ribuan orang dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara memadati halaman Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur-Kuningan, Minggu (25/9/2016). Masyarakat berbondong-bondong mengikuti upacara adat Seren Taun 22 Rayagung 1949 Saka Sunda.

Upacara adat Seren Taun ini budaya tradisional masyarakat Sunda yang agraris.  Kegiatan ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Upacara adat Seren Taun adalah simbol penyerahan hasil panen serta memohon berkah dan perlindungan kepada Tuhan YME pada musim berikutnya.

Berbagai pertunjukan budaya ditampilkan dalam rangkaian upacara adat Seren Taun. Beberapa rangkaian acara Seren Taun di antaranya Damar Sewu, Pesta Dadung, Seribu Kentongan, Nyiblung dan Duyung Buyung, Helaran atau pawai budaya, Gondang, Kidung Spiritual, Ngareremokeun, Tari Buyung, Angklung Buncis serta acara Ngajayak.

Upcara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat

Upcara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat

“Acara Seren Taun merupakan tradisi masyarakat agraris Sunda Cigugur dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen tahun ini yang melimpah dan memohon hasil lebih baik di tahun mendatang,” ungkap Ketua Umum Panitia Seren Taun Gumirat Barna Alam yang juga putra mahkota Pangeran Rama Djatikusumah pimpinan adat masyarakat Cigugur.

Puncak Seren Taun dilaksanakan dengan penumbukkan padi ranggeuyan atau padi yang dipanen dengan cara dipetik. Terdapat 22 kwintal padi ranggeuyan disediakan dalam setiap kegiatan Seren Taun, namun tidak semuanya ditumbuk melainkan hanya 20 kwintal saja yang ditumbuk di saung lisung bersama seluruh masyarakat, dan sisanya sebanyak 2 kwintal untuk benih. Penetapan jumlah padi tersebut sesuai dengan tanggal dilaksanakannya acara Seren Taun yaitu pada tanggal 22 Rayagung.

Sejumlah pejabat penting negara hadir dalam acara Seren Taun kali ini, di antaranya Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan Anggota DPR RI Maman Imanul Haq. Hadir pula pejabat setempat seperti Bupati Kuningan Acep Purnama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, serta pejabat FKPD Kuningan. Sejumlah perwakilah kelompok masyarakat sipil juga turut hadir di acara ini seperti, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Yayasan Cahaya Guru, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dll.

Salah satu tarian yang dipentaskan dalam upcara adat Seren Taun

Salah satu tarian yang dipentaskan dalam upcara adat Seren Taun

Ribuan masyarakat terlihat senang meskipun mereka berdesak-desakan di bawah terik matahari. Mereka ikut menumbuk padi dan menikmati hidangan khas Seren Taun yakni Nasi Bogana.[:]

Diskusi "Violent Extremism, Strategic Comunication and the role of the Media" yang digelar saat 2016 Jakarta World Forum for Media Development. Sumber Foto: facebook ML WORKS MAROC

[:id]Jakarta Word Forum for Media Development Bahas Strategi Tangkal Radikalisme[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Media massa berfungsi penting terhadap menangkal isu radikalisme karena pemberitaan media massa dapat menyadarkan dan mengubah perilaku seseorang. Namun, upaya untuk menangkal radikalisme tersebut tidaklah mudah. Perlu pemahaman, strategi dan komunikasi yang tepat. Demikian kesimpulan diskusi bertajuk “Violent Ekstremism, Strategic Communication and the Role of Media” yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Jakarta World Forum for Media Development, Rabu (21/09/2016).

Courtney Radsch, salah satu narasumber diskusi tersebut menyatakan media harus tahu betul apa yang mereka hadapi dan apa yang mereka lakukan.

“Media dan kaum ekstrem bertempur dalam ide dan informasi. Selain itu, media juga harus menyuarakan ide-ide toleransi,” ucap Direktur Advokasi Komite untuk Proteksi Jurnalis (CPJ) tersebut, seperti dilansir harian Kompas.

Selain itu, Jurnalis yang berada langsung di lapangan juga menjadi perhatian penting. Seperti diungkap Mourad Teyeb, Jurnalis asal Tunisia. Interaksi dengan kelompok ekstremis sangat diperlukan untuk mendapatkan berita yang benar-benar akurat.

“Ketika berada di lapangan, jurnalis bisa tahu betul bagaimana pergerakan kelompok ini. Media harus berhenti memakai data dan informasi pantulan yang kerap keliru atau bias,” ujarnya.

Pembicara yang lain, Editor Senior Jakarta Post, Endy Bayuni menyatakan, media harus mempunyai sikap yang jelas terhadap pemberitaan kelompok ekstrem. Seperti kebijakan yang diterapkan di medianya, tidak memberi ruang terhadap kelompok ekstremisme untuk menyebarkan propaganda.

“Kami hanya memberitakan kelompok itu jika mereka bertindak pidana,” tegas Endy.

Namun, Endy menuturkan tidak semua media mempunyai kebijakan seperti itu. Hal tersebut, dianggapnya salah satu kendala melawan radikalisme di media.

Nasser Weddady, Konsultan Sosial Media dan Politik Timur Tengah dan Afrika Barat mengungkapkan, salah satu kegagalan media menangkal radikalisme kini adalah ketidaksadaran penyebaran propaganda saat ini bersifat baru dan global.

“Kita harus betul-betul sadar akan bahaya ekstremisme. Media perlu mencurahkan waktu dan pikiran menangkalnya. Dengan begitu, media ikut merawat demokrasi,” pangkasnya seperti dikutip Harian Kompas.[:]

Focus Group Discussion antar pemuda lintas agama di Jakarta, 17 September 2016. (Ist) Sumber: sesawi.net

[:id]Ratusan Pemuda Lintas Agama Berkomitmen Menjaga Keberagaman[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang dan organisasi di Jakarta menyepakati untuk merayakan keberagaman dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut disampaikan saat mereka mengikuti Focus Group Discussion  bertema “Celebrating Diversity of Peace : Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila” di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen MPR,DPR, dan DPD RI Jakarta.

Kegiatan ini dimanfaatkan oleh kaum muda lintas agama untuk berbagi ide dan dialog mengenai peran pemuda dalam membangun perdamaian dan toleransi di Indonesia. FGD ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya: Yudi Latif, Alisa Wahid, Banthe Dhammakaro, Pdt. Manuel E . Raitung, dan Franz Magnis-Suseno SJ.

Sementara, untuk sesi kedua narasumbernya adalah: Ketua Lakspesdam NU Dr.Rumadi, Ketua Matakin Js. Liem Liliany Lontoh, Wayan Sudane dari PHDI DKI Jakarta, dan Romo Benny Susetyo.

Tanda kenangan untuk para sumber di Focus Group Discussion kelompok pemuda lintas agama di Jakarta. (ist) Sumber: sesawi.net

Tanda kenangan untuk para sumber di Focus Group Discussion kelompok pemuda lintas agama di Jakarta. (ist) Sumber: sesawi.net

Ketua Pelaksana, Bondan Wicaksono menyatakan kegiatan dialog seperti ini perlu dilaksanakan untuk membangun perdamaian dan toleransi bangsa. Dia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan bersama lebih banyak lagi komunitas yang berpartisipasi di berbagai macam kesempatan.

“Budaya dialog perlu terus dihidupkan untuk membangun persaudaraan yang inklusif untuk membangun bangsa yang lebih humanis dan damai,”ungkap Bondan.

Berikut ini Petikan Komitmen Bersama Orang Muda Lintas Agama

  1. Menggugah dan mengingatkan orang muda Indonesia tentang pentingnya budaya dialog antar umat dari berbagai latar belakang agama dan tradisi budaya agar tercipta budaya damai, toleran dan saling memahami antar umat, sebagai aktualisasi kasih kepada Tuhan Allah dan sesama sesuai dengan ajaran kasih dari agama dan keyakinan masing-masing.
  2. Agar peran kerukunan antar agama dapat menjadi suatu forum untuk saling tukar informasi diantara umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama guna mendapatkan pemahaman yang lengkap dan mencari common world agar tercipta budaya toleransi dan saling memahami satu sama lain.
  3. Menyebarluaskan budaya damai dan toleran sampai di tingkat akar rumput secara bersama-sama oleh tokoh lintas agama dan memperteguh pelayanan kasih dalam sesama umat beriman.
  4. Memfasilitasinya orang muda dari berbagai agama untuk saling mengenal perbedaan agama dan memahami nilai-nilai pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Membentuk komunitas orang muda lintas agama yang mempunyai visi keterbukaan, toleran dan mengedepankan dialog untuk mewujudkan perdamaian.
  6. Memunculkan para orang muda sebagai lokomotif perdamaian berbakat yang concern terhadap isu-isu kerukunan dan perdamaian.

[:]

Sekjen PBB Ban Ki-Moon saat membunyikan lonceng perdamaian dalam memperingati hari perdamaian internasional 2016.

[:id]Peringatan Hari Perdamaian Internasional, PBB Ajak Turunkan Semua Senjata[:]

[:id]Jakarta, ICRP –  Hari ini, Rabu (21 Oktober 2016) adalah hari perdamaian internasional (International Day of Peace). Peringatan ini bertujuan mengampanyekan perdamaian dan mengakhiri peperangan.

Peringatan Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati pada tahun 1982. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi menjadikan 21 Oktober sebagai hari perdamaian internasional pada tahun 2013.

Hari ini berbagai kalangan dari penjuru dunia memperingati dengan berbagai macam cara. Seperti biasa, untuk membuka peringatan hari perdamaian internasional Sekjen PBB akan membunyikan lonceng perdamaian di Markas Besar PBB di Kota New York. Lonceng perdamaian ini adalah lonceng yang terbuat dari koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua kecuali Afrika.

Sesaat sebelum membunyikan lonceng perdamaian, Sekjen PBB Ban Ki-Mon menyatakan bahwa di manapun berada konflik memaksa keluarga keluar dari rumah mereka, merampas anak dari pendidikan mereka, menyebabkan seseorang terluka dan eksploitasi.

“Pada Hari Perdamaian Internasional, kita minta pihak yang berperang di seluruh dunia untuk meletakkan senjata mereka dan mematuhi genjatan senjata dan non-kekerasan” ungkap Ban Ki-Moon.

[:]

Ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat. Sumber: Kompas

[:id]Masih Ada 97 Kasus Pembangunan Rumah Ibadah Menunggu Diselesaikan[:]

[:id]

Ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat. Sumber: Kompas

Ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat. Sumber: Kompas

Jakarta, ICRP – Persoalan rumah ibadah di negeri ini semakin mengkhawatirkan. Komnas HAM mencatat, saat ini ada 97 laporan pengaduan terkait rumah ibadah yang menunggu di tuntaskan. Ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat menyatakan pengaduan terbanyak adalah terkait pembangunan Gereja dan Masjid.

Imdad menegaskan kondisi demikian mengindikasikan sikap intoleransi di masyarakat masih tinggi. Dan sebaliknya, toleransi masih menjadi barang yang mahal di negeri ini. Menurutnya, belum semua umat beragama menghargai, menghayati, dan menghormati perbedaan sehingga masalah rumah ibadah sering dijadikan alasan bagi kelompok mayoritas untuk menindas minoritas.

Imdad menuturkan sebagian besar umat beragama saat ini mengalami hemofili atau kecenderungan untuk menerima yang sama dengan dirinya.

“Kalau ada rumah ibadah yang berbeda seolah-olah ada ancaman besar, akan membuat dia masuk neraka,” ujarnya.

Ketua Komnas HAM ini mengingatkan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang berat dalam menghadapi kondisi keberagaman.

“Intoleransi tidak boleh dibiarkan dan harus jadi perhatian,” pungkas Imdad seperti dilansir tempo.co.[:]

Ilustrasi teroris sosial media

[:id]BNPT: Awasi Penyebaran Paham Radikal Di Media Sosial[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius mengatakan, lembaganya kini tengah fokus mengawasi penyebaran paham radikalisme melalui media sosial. Sel-sel terorisme baru besar kemungkinan tumbuh di kantong-kantong sosial media.

“Hasil survei, 64,7 persen itu anak SMA main di sosial media 181 menit mereka habiskan di sosial media, 134 menit di TV. Dari survei 2015 ada 139 juta pengguna internet di Indonesia,” kata Suhardi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/9/2016).

Suhardi menekankan, internet dan sosial media saat ini seperti pisau bermata dua. Bisa berdampak positif dan negatif. Apalagi saat ini anak muda saat ini sangat dekat sekali dengan dunia itu.

Namun Suhardi menegaskan, BNPT tidak bisa bekerja sendiri. Pihaknya mengajak masyarakat dan lembaga terkait untuk berperan aktif dan menangkal terorisme ini. Pihaknya meminta Kemenristek Dikti untuk mengawasi dan melaporkan jika menemukan indikasi terorisme dikalangan mahasiswa.

“Bagaimana Kominfo, Kemdikbud mengatur kurikulum, para guru, para dosen, pendidik, juga orang tua memantau anaknya sehibgga tidak terpapar radikalisme dan perbuatan menyimpang lainnya,” ujar Suhardi.

 [:]

[:id]Tak Sesuai Izin, Doa Bersama di Istiqlal di Batalkan[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Sebuah acara doa bersama yang digagas oleh Aliansi Peduli Ummat dan Bangsa dibatalkan oleh Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI). Acara yang sedianya dilaksanakan pada hari Minggu (18 September 2016) tersebut dibatalkan karena tidak sesuai izin semula.

Acara bertajuk “Silaturrahim Akbar Doa untuk Kepemimpinan Ibu Kota” tersebut dilaksanakan menjelang pendaftaran Calon Gubernur DKI Jakarta ke KPU. Beberapa narasumber yang dijadwalkan akan mengisi ceramah di antaranya adalah Abdul Rasyid, Didin Hafidhuddin, Hidayat Nur Wahid, Amin Rais, Bachtiar Nasir, Muhammad Zaitun Rasmin, Rizieq Syihab, Yusuf Mansur, Fahmi Salim, Derri  Sulaiman, dan Taufiq Ismail.

Belum jelas, langkah apa yang akan dilakukan oleh panitia terkait dengan pembatalan ini. Sebelumnya, acara yang menggunakan hastag #selamatkanibukota ini sempat ramai di sosial media dan WA Group.

Dalam salah satu ajakan di sosial media mengatakan setelah orasi, jama’ah yg ditargetkan minimal 50.000 orang akan longmarch menuju KPK menuntut KPK melengserkan Ahok secara hukum.

Namun, terkait pembatalan ini, Netizen justru mendukung langkah pengurus masjid Istiqlal. Salah satu pengguna facebook bernama Astuti menyatakan setuju acara ini dibatalkan karena masjid bukan tempat untuk kegiatan politik.

Pembatalan acara doa bersama di istiqlal. Netizen mendukung karena dianggap politis

Pembatalan acara doa bersama di istiqlal. Netizen mendukung karena dianggap politis

[:]

Dhamma Camp Sekotenk 2016

[:id]Hilangkan Perbedaan Sekte, Ratusan Pemuda Buddhis Gelar Dhamma Camp[:]

[:id]Semarang, ICRP – Sekitar 400 orang pemuda Buddhis dari berbagai sekte aliran berkumpul di Dusun Tekelan, Kecamatan Getasan, Semarang Jawa Tengah. Selama dua hari (10-12 September 2016) mereka melakukan Kemah Dhamma (Dhamma Camp) untuk meningkatkan persahabatan dan menanamkan nilai inklusifitas dalam melihat perbedaan.

Ketua panitia Dhamma Camp, Didik Susilo, berharap pemuda dan pemudi Buddhis dapat menjalin tali persahabatan tanpa lagi memandang aliran atau sekte tertentu.

“Sesuai tema yang kita usung pada Dhamma Camp kali ini, yaitu ‘Kobarkan Bara Api Persahabatan’, kami ingin pemuda Buddhis sebagai generasi penerus Buddha Dhamma dapat menjalin persahabatan tanpa memandang latar belakang dari sekte dan tradisi Buddhis yang dianut. Hal ini menjadi sangat penting demi menanamkan nilai-nilai keterbukaan sehingga diharapkan tercipta generasi Buddhis yang inklusif dan mampu melihat perbedaan dengan bijak.”

Kegiatan ini diisi dengan aktivitas-aktivitas yang mengkondisikan interaksi antar pemuda dari berbagai daerah, seperti puja bakti bersama, diskusi kelompok, olahraga, pentas seni malam keakraban, api unggun, dan outbond.Kegiatan Dhamma Camp ini juga diisi dengan diskusi Dhamma yang menghadirkan pembicara dari Dewan Pembina Patria dan Bhikkhu Atthapiyo.

Tugimin, salah satu pengurus Vihara setempat menyatakan kegiatan seperti ini sangat diperlukan untuk menumbuhkan solidaritas dan menanamkan semangat toleransi.

 [:]

illustrasi salat Idul Adha 2016

[:id]Relawan Lintas Agama Bantu Amankan Shalat Idul Adha di Bima[:]

[:id]Puluhan warga lintas agama dengan sukarela bergabung menjadi relawan untuk mengamankan berjalannya ibadah salat Idul Adha di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (12/9/2016).

Relawan tersebut diinisiasi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima. Kehadiran mereka sangat membantu pihak keamanan yang terdiri dari TNI dan Polri dalam mengamankan shalat Idul Adha yang digelar di tiga titik. Yakni, lapangan Merdeka, halaman kantor Pemkot Bima dan lapangan kampus STAIM.

“Ada 45 relawan lintas agama yang mengamankan Shalat Idul Adha di Kota Bima. Relawan ini terdiri dari pemuda Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Tionghoa,” kata Kepala FKUB Kota Bima, Eka kepada wartawan usai shalat Idul Adha, Senin (12/9/2016).

Eka menuturkan, relawan lintas agama ini turut serta dalam pengamanan hari raya Idul Adha semenjak malam takbir hingga pelaksanaan salat Idul Adha. Pihaknya menuturkan, relawan seperti ini sering dilibatkan saat hari raya keagamaan.

“Ini bukan kali pertama, tapi setiap tahunya relawan dari pemuda non muslim selalu terlibat dalam setiap hari besar keagamaan,” katanya.

Eka selaku ketua FKUB setempat menuturkan, kondisi toleransi umat beragama di kota Bima sudah terjalin sejak lama.

“Saya berharap kerukunan ini terus terjalin. Terutama saling menghormati setiap agama yang merayakan hari besarnya,” ujarnya.

Polres Bima Kota melalui Kabag Ops Kompol H Nurdin mengaku sangat terbantu dengan kehadiran para relawan lintas agama dalam mengamankan kegiatan umat muslim dalam menjalankan hari kebesarannya tersebut.

“Aparat TNI dan Polri sangat terbantu dengan keterlibatan para relawan non muslim yang ikut menjaga kondusivitas dan keamanan dihari perayaan idul adha,” kata Nurdin.

Sumber: babatpost.com[:]