[:id]Pernyataan Sikap ICRP Terhadap Perusakan Tempat Ibadah Di Tanjung Balai[:]

[:id]Menyikapi kerusuhan bernuansa SARA yang menyebabkan sejumlah vihara dan kelenteng terbakar, Jumat (29/7) malam, di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Sejumlah tokoh agama yang tergabung dalam Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengecam tindakan kekerasan tersebut. Apapun alasannya, seharusnya bisa diselesaikan dengan jalur dialog yang damai.

Ketua Umum ICRP, Ulil Abshar Abdalla meminta pemerintah untuk segera menindak tegas pelaku kerusuhan tersebut dan segera melakukan upaya mediasi ke pihak-pihak yang berkonflik.

“Pemerintah harus memberikan jaminan keamanan masyarakat Tanjung Balai, jangan sampai ada kerusuhan susulan. Upaya-upaya mediasi dan rekonsiliasi harus segera dilakukan melalui komunikasi intensif antar lembaga keagamaan” ungkap Ulil.

Menyikapi hal tersebut, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Pemerintah harus segera memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat Tanjung Balai. Meminimalisir potensi konflik lanjutan dengan menerjunkan aparat keamanan ke lokasi konflik yang saat ini masih mencekam.
  2. Mendorong pemerintah dan aparat keamanan untuk segera menindak pelaku dan aktor yang melakukan penghasutan serta memobilisasi massa perusakan rumah ibadah di Tanjung Balai. Hal tersebut merupakan tindakan kriminal yang harus segera diadili sesuai hukum.
  3. Mendorong langkah konkret majelis-majelis agama lokal untuk segera mengambil inisiasi mediasi dan upaya perdamaian. Peran strategis majelis-majelis agama lokal diperlukan untuk mewujudkan perdamaian dan mencegah umat bertindak anarkis serta main hakim sendiri.
  4. Menghimbau kepada seluruh masyarakat dan masyarakat Tanjung Balai pada khususnya, untuk tidak terprovokasi dengan hasutan-hasutan dan adu domba. Sebagai bangsa yang majemuk, selayaknya kita hidup berdampingan dengan mengedepankan dialog dan toleransi beragama. Karena segala bentuk tindakan kekerasan tidak dibenarkan dalam semua ajaran agama.
  5. Menghimbau ke media massa untuk memberitakan fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan dan tidak menyebarkan berita provokatif yang tidak berorientasi perdamaian.

Semoga misi perdamaian, misi suci agama-agama, masih menjadi spirit kita semua dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini.

Jakarta, 30 Juli 2016

Mengetahui,

Ulil Abshar Abdalla

Ketua Umum ICRP[:]

Masjid Ahmadiyah di Sukabumi disegel oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja. Selasa (26/7/2016)

[Video] Penyegelan Masjid Ahmadiyah Sukabumi

[:id]

Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyegel sebuah masjid milik jemaah Ahmadiyah yang berada di Kampung Parakansalak pada Selasa (26/7/2016).

“Penyegelan ini karena ada permintaan dari warga sekitar Masjid Al-Furqon di Kecamatan Parakansalak dan penyegelan ini untuk mencegah konflik yang terjadi di masyarakat,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sukabumi, Dadang Eka Widianto di Sukabumi, dilansir Antara.[:]

SMK Negeri 7 Semarang. Sumber: Viva.id

[:id]Siswa Dipaksa Ikut Pelajaran Islam, Monib: Jangan Jadikan Islam Agama Kolonialistik![:]

[:id]Semarang, ICRP – ZNR, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Semarang, Jawa Tengah, gagal naik kelas karena menolak mengikuti pelajaran agama Islam. Dia menolak paksaan mengikuti pelajaran agama Islam karena dia penganut aliran kepercayaan yang notabene enam agama yang diajarkan kurikulum.

Banyak pihak geram terhadap kejadian tersebut. Salah satunya datang dari direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Mohammad Monib. Monib menyesalkan mendengar kejadian tersebut.

“Berita ini menyedihkan. Miris dan saya berduka. Begitukah tafsir makna Islam yang benar?Begitu bernafsukah ngumpulin pahala?Begitu nyandu masuk surgakah mereka ini?Sadarkah para ‘predator’ keagamaan ini merusak wajah Islam?Apa begitu tafsir dakwah dan tabligh?Benarkah Tuhan bernafsu keimanan manusia?” tegas Monib.

Lanjut Monib, Islam tak ubahnya kaum kolonial yang melakukan penjajah teologi. Hal ini justru akan merusak citra dan ajaran Islam itu sendiri.

“Sebuah sekolah memaksa siswanya masuk Islam supaya naik kelas. Islam dipaksakan. Dijadikan agama predator. Tak ubahnya kaum kolonial. Penjajah teologi. Agama diberingaskan. Seharusnya agama itu mengindahkan,menenteramkan dan mengharmoniskan. Dakwah atau tablig itu sejatinya menyejukkan dan menawarkan bahagia dan suka cita” jabarnya.

Mengajarkan Islam kepada orang lain dengan cara memaksa menurut Monib adalah perbuatan yang sia-sia. Dia mengingatkan, tidak perlu bangga dengan banyaknya jumlah umat Islam, jika perilakunya beringas dan provokatif.

“Jangan jadikan Islam colonialistic theology dong! Jauhkan Islam dari posisi sebagai agama predator!Tak ada untungnya. Tak ada manfaatnya. Untuk apa bangga-banggaan dengan jumlah kalau toh tak lebih dari buih-buih yang tak berguna? Untuk apa bila yang ada saja mampunya bergerombol dan tak lebih dari kerumunan beringas? Untuk apa memuslimkan non-muslim bila ujungnya hanya memproduksi provokator dan agitator kemanusiaan? Ah, kalian itu senangya bergincu dan pepesan kosong saja” kecamnya tegas.[:]

[:id]AFSC Kunjungi ICRP, Bahas Kondisi Kehidupan Beragama Saat Ini[:]

[:id]Jakarta, ICRP – American Friends Service Committee (AFSC) sebuah organisasi perdamaian yang berlokasi di Amerika Serikat, Selasa (26/7/2016), berkunjung ke Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

AFSC adalah sebuah organisasi Quaker yang bergelut di bidang perdamaian. Mereka memprosikan perdamaian agama melalui penegakan keadilan dan respek terhadap kemanusiaan.

Kehadiran AFSC di ICRP disambut hangat oleh beberapa pengurus dan agamawan di antaranya adalah Ulil Abshar Abdalla, Ballwant Singh, Wendah Soetomo, Mohammad Monib, Zafrullah Pontoh, dll.

Mari Oye, perwakilan dari AFSC menyatakan bahwa kehadirannya di beberapa daerah di Indonesia adalah untuk mempelajari kondisi keberagaman di Indonesia.

ICRP, sebagai organisasi yang juga berkecimpung di dunia perdamaian, memberi tanggapan dan sharing pengalamannya dalam menciptakan perdamaian di Indonesia.

“Di indonesia, konflik intra-agama lebih sulit diselesaikan, bukan berarti konflik antar-agama lebih mudah,” tutur Ulil Abshar Abdalla.

Di dalam diskusi, AFSC mengangkat isu suku Rohingya di Myanmar. Sai salah satu peneliti di Myanmar menyatakan, meskipun memiliki unsur agama, namun sejatinya persoalan yang utama adalah persoalan etnis yang kemudian menjalar ke persoalan hukum, hak asasi, agama, dsb. Konflik yang sempat jadi sorotan dunia ini, sampai saat ini, belum menemukan titik temu penyelesaiannya.

Menurut Ulil, Indonesia beruntung memiliki Abdurahman Wahid seorang presiden yang mempunyai kapasitas dan vokal terhadap isu pluralisme dan keadilan untuk masyarakat minoritas. Hari ini, tantangan terbesarnya adalah menjaga hati nurani ruang publik. Struktur politik di Indonesia dengan Myanmar mungkin berbeda, tetapi upaya menciptakan perdamaian harus terus berlanjut.[:]

[:id]Jangan Tanam Pengalaman Diskriminasi Agama pada Anak![:]

[:id]Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang mempunyai latar belakang beragam, baik suku, budaya maupun agama yang dipeluk penghuninya. Perbedaan tersebut adalah sebuah kekayaan yang harus terus-menerus dirawat agar tidak menimbulkan gesekan antarsesama anak bangsa.

Itulah yang mendorong digelarnya “Lokakarya Pendamping Anak Lintas Iman” dalam rangka menyongsong Hari Anak Nasional. Acara yang diselenggarakan di hotel Panorama, Jember, Jawa Timur itu berlangsung dua hari dan berakhir Sabtu (23/7).

Menurut penggagas acara tersebut, Farha Cicik, peserta lokakarya diberi pembekalan wawasan yang luas agar bisa mendampingi anak secara lebih terbuka dan berjejaring tanpa membeda-bedakan latar belakang agamanya.

“Bagaimanapun perbedaan (agama) jangan dijadikan pemicu konflik, tapi justru dijadikan sumber pemersatu dan perdamaian. Sebab, agama apapun tak pernah mengajari konflik,” paparnya kepada NU Online di sela-sela rehat acara.

Ia menambahkan, anak adalah amanah, dan harus dirawat dan besarkan dalam suasana teduh dan damai. Kondisi psikis anak sangat tajam dalam merekam persitiwa yang terjadi di sekelilingnya atau yang menimpa dirinya. “Sehingga anak yang merasakan ada perlakuan diskriminatif lantaran terkait perbedaan agama, itu akan melekat cukup lama dalam memori otaknya. Karena itu perlakukan anak dengan baik, tanpa memandang agamanya apa. Ya paling tidak, peserta lokakarya bisa memberi contoh yang baik, tidak diskriminatif dalam memperlakukan anak,” ucapnya.

Lokakarya tersebut diikuti 40 peserta yang berasal dari unsur PMII, Fatayat, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan lintas agama. Mereka datang dari Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Sumatera, Jakarta, dan Jember sendiri.

Dipilihnya Jember sebagai tuan rumah lokakarya tersebut, kata Farha, karena Jember termasuk daerah yang toleransi antarpemeluk agama cukup bagus. Hubungan dan sinergitas antartokoh lintas agama juga dinilai baik. “Jadi banyak faktor. Namun yang penting Jember damai meski di beberapa desa juga berdiri gereja, tapi aman-aman saja,” ujarnya.

Sumber: nu.or.id[:]

Diskusi Publik dengan Tema Pluralisme dan Hubungan Antaragama di Arab teluk dan Indonesia dengan narasumber Profesor Sumanto Al Qurtuby

[:id]Diskusi Publik Pluralisme dan Hubungan Antaragama di Arab Teluk dan Indonesia[:]

[:id]

Diskusi Publik dengan Tema Pluralisme dan Hubungan Antaragama di Arab teluk dan Indonesia dengan narasumber Profesor Sumanto Al Qurtuby

Diskusi Publik dengan Tema Pluralisme dan Hubungan Antaragama di Arab teluk dan Indonesia dengan narasumber Profesor Sumanto Al Qurtuby

[:]

[:id]Selamat Jalan Srikandi Buddhis dari Solo[:]

[:id]Dr. Metta Pannakusuma Parwati Soepangat Soemarto, MA atau Ibu Parwati merupakan salah satu dewan Pembina Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Beliau dilahirkan di Keraton Sala pada 1 Mei 1932.

Anak dari pasangan (Alm.) Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyonagoro yang merupakan Bupati Keraton dan (Alm.) Pendidikannya diselesaikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan melanjutkan Masternya ke Amerika Serikat. Dia juga dikenal sebagai salah satu tokoh psikologi di Indonesia. Ia menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha di Bandung. Ia juga terlibat aktif dalam pembelajaran Agama Buddha di beberapa kampus.

Ketertarikannya pada Theosofi mempertemukannya dengan Tee Boan An yang kemudian lebih dikenal sebagai Mahabiksu Ashin Jinarakkhita (1923-2002), putra Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi biksu sejak punahnya kerajaan Majapahit dan sekaligus merupakan pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.

“Srikandi Buddhis asal Solo”, demikian gelar yang diberikan oleh Mahabiksu Ashin Jinarakkhita kepadanya. Parwati adalah seorang yang cerdas dan gemar menari. Kepribadiannya teguh dan berani melawan segala rintangan untuk membela kebenaran yang dia yakini.

Perhatiannya terhadap emansipasi perempuan pun sangat tinggi. Hal tersebut beliau buktikan dengan kegiatan-kegiatan ilmiah beliau seperti seminar dan tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai media. Parwati meyakini bahwa para perempuan seharusnya meningkatkan derajat perempuan dari semua segi, terutama dalam bidang Ketuhanan.

Parwatiadalah Pendiri sekaligus Ketua Umum pertama dari Wanita Buddhis Indonesia (WBI). Ia juga Dosen Agama Buddha pertama di Indonesia dan pernah menjadi Rektor Institut Ilmu Agama Buddha (IIAB) Smaratungga, Ampel, Boyolali. Ia juga mantan Wakil Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia. Parwati juga adalah dayika Mahabiksu Ashin Jinarakkhita dan termasuk generasi awal yang ikut mempelopori kebangkitan Agama Buddha di Indonesia.

Selamat jalan “Srikandi Buddhis asal Solo”

Sumber informasi:

Heru Suherman Lim, 2015, Shakyadhita: Konferensi Internasional Perempuan Buddhist ke-14, Belas Kasih dan Keadilan Sosial, Yogyakarta: Shakyadita, hlm15-18.[:]

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius menerima ucapan selamat dari Presiden Joko Widodo usai acara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/7/2016). Suhardi Alius menjadi Kepala BNPT menggantikan Tito Karnavian yang menjadi Kapolri.

[:id]Dilantik Menjadi Kepala BNPT, Suhardi Alius Fokus Komunikasi ke Stakeholder[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Komisaris Jenderal Suhardi Alius telah dilantik oleh presiden Joko Widodo sebagai kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT), Rabu (20/7/2016). Dia menggantikan Tito Karnavian yang saat ini menjabat sebagai Kapolri.

Suhardi dipilih Jokowi atas saran Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Dalam pandangan Kapolri, “(Suhardi itu) cerdas, ranking di semua level pendidikan dari Akademi Kepolisian, Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim), sampai Lembaga Ketahanan Nasional,” katanya kepada Tempo, 20 Juli 2016.

Suhardi, menurut Tito, juga memiliki jaringan luas, termasuk ke organisasi masyarakat Islam; pandai bergaul; serta memiliki good leadership dan good managerial skill. “Dia pakar terorisme. Saat menjadi Koorspri (Koordinator Asisten Pribadi Kapolri), Kabareskrim, dan saat kursus Lemhannas bersama saya pada 2011 yang topiknya tentang penanganan terorisme, beliau ranking 2.”

Sebelumnya Suhardi menduduki kursi Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional. Suhardi adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1985. Sebelum di Lemhanas, Suhardi menduduki jabatan sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Namun dia kemudian digantikan oleh Komisaris Jenderal Budi Waseso.

Sesaat setelah dilantik presiden, Suhardi mendapatkan pengarahan bahwa terorisme adalah ancaman global yang harus mendapatkan penanganan secara serius. Harus ada langkah sistematis dalam bingkai kemajemukan untuk mengcounter terorisme. Suhardi mengaku akan fokus terlebih dahulu untuk menjalin komunikasi dengan stakeholder terkait.

Selamat menjalankan tugas![:]

[:id]Penghulu Nikah Beda Agama Lintas Negara[:]

[:id]Oleh: Mohammad Monib

Jum’at sore, 15 Juli 2016, pukul 18.00 saya boarding dari Soekarno-Hatta Tanggerang. Pesawat delay. Harusnya cukup 110 menit ke Changi. Iiiih dasar Lion Air lelet  forever.Keduanya kalinya saya ngunjungi negeri seupil yang kreatif dan bernalar  “kesempatan dalam kesempitan” tetangganya ini.

Untuk apa saya di Singapore kali ini?Hiks hiks hiks. Entah darimana, keluarga Parvez imigran asal Pakistan ini tahu nama dan posisiku sebagai konsultan dan penghulu nikah beda agama. Penghulu swasta lagi. Padahal itu amanah sampingan. Utamaku ngantor di ICRP dan ngajar di beberapa kampus swasta. Kok namaku ngetop sampai lintas negara ya? Bahkan aroma namaku tercium sampai Amerika Serikat. Beberapa kali saya menerima konsultasi via telpn dari negeri Paman Sam itu. Apa kamu bangga Nib?

Gak bangga sich. Apa yang mesti dibanggain?Orang posisi ini disumpahserapahi dan dicaci maki sebagai agen kristenisasi, penoda Islam dsb. Saya hanya heran aja dengan global village dan medsos. Dunia tanpa batas dan gak bisa nyembunyikan sesuatu. Kamu pasti ketahuan! Bila selingkuh. Saya bukan untuk selingkuh ke negara ini. Tugas keislaman dan kemanusiaan. Menyatukan takdir dua hati.

CAN I PAY WITH RUPIAH

Warteg Singapr

Foto sebuah restoran di Singapore

Sabtu pagi saya eluar dari hotel. Cari sarapan. Kali ada uduk atau bubur ayam. Tak jauh saya lihat warteg orang Pakistan dan India. Saya lapar sekali. Sayang sekali saya kehabisan dollar Singapore. Di dompet hanya ada lembaran rupiah.

“Hey, brother, I’m very hungry. But i have no SGD”,sapaku pada penjaga warteg yang rame itu. “Oh, moment”, dia noleh ke teman2nya. “What do u want”?, tanyanya. “Biryani n coffe”, jawabku. Saya sodorkan 100 ribuan. “Ok. Nevermind”, katanya. Jadilah saya sarapan nikmat tanpa SGD.

MAHARNYA SEBESAR 1000 SGD

Seperti biasa setelah opening speech menuju ijab qabul, saya memberikan pengantar syarat-rukun nikah: kedua mempelai, wali, ijab qabul, mas kawin dan saksi2.

Rameez, what’s a dowry you would like to give to your honey”, tanya saya pada mempelai laki. Rameez Parfez, anak seorang pebisnis asal Pakistan. “Just 1000 SGD”, jawabnya. “Ok. But this is not the prize of the women”, sambut saya.

Ya, mahar hanya simbol cinta dan tanggung jawab laki2 kepada istri dan keluarganya. Istri yang kita nikahi tak ternilai harganya. Ia ibu anak, teman, mitra dan segalanya.

Para tamu2 agung, keluarga keduanya tertawa. He he he. Bisa juga saya melawak dalam bahasa Inggris. Padahal bahasa Inggris buruk sekali. Si cewek Sinmok Cho, Katolik asal Korea tertawa juga. “Yes you are right. So cheap”, katanya. “Ok. I add 1 billion”, sambutnya. Wawwwwww. Very amazing. Itulah sekulumit dialog jelang ijab qabul pagi di Hotel Peninsula Singapore. Happy family ya Rameez Parvez dan Sinmok Cho.

Beruntung di Singapore gak ada FPI dan MUI. Jadi besok gak kuatir ada gerombolan yang bisa ngeruduk acara akad nikah. Kalau urusan sipil, negara ini netral, negara tak berteologi dan berakidah tertentu. Tidak ada favoritisme agama tertentu. Bahkan agama tidak diajarkan di sekolah publik. Singapore sukses menjadikan warganya tidak ribut dan berisik urusan iman. Iman dan agama itu urusan pribadi, hubungan langsung seseorang dengan Tuhan. Agama diurus keluarga dan komunitas saja.

Keluarga Parvez pening dan bingung. Rameez,anak laki2nya jatuh hati mendalam kepada Sinmok Cho, cewek asal Korea Selatan, Katolik. Keduanya tak lagi mau pisah. Berkomitmen menikah dengan tetap menghormati agama2 masing2.

Ramadhan minggu kedua mereka kontak saya. Konsultasi via telpon. Saya jelaskan aspek pro kontra secara agama, konsekuensi rumah tangga beda agama dan hal2 yang mesti dikomitmenkan bagi pasangan beda. Urusan iman, anak dan aroma rumah tangga. How to manage their heart dan tradition? Selanjutnya biarkan pasangan dan keluarga itu ambil keputusan. Maju atau putus cinta.

Sebetulnya ke Singapore saya kedua kalinya. Dulu, 2010 juga ke sini. Saat itu ceweknya asal Indonesia. Dia lahir di Padang. Tentu fanatik agama. Cowoknya Protestan asal Amerika Latin. Mereka jatuh hati. Witing tresno jalaran suko kulino. Teman sekantor. Keluarga besarnya dari Padang pada datang.

Jelang acara, keluarga itu ribut di hotel. Tak seorang pun tau bagaimana ritual akad nikah beda agama itu. Ada yang gak mau ke acara. Nikah beda agama haram, zina dan masuk neraka. Para ibu ambil inisiatif. Datang ke kamar hotel. Saya jelasin pro kontra nikah ini. Ribut mereka reda dan terkendali. Akhirnya semuanya masuk dan menyaksikan ijab qabul. Semuanya senang. Kabar terakhir, sang suami melanjutkan ke Islam. Dapat hidayah.

Tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke dada bumi kecuali tertulis di lauhul mahfudz. Di mega kitab Ilahi. Begitupun pasangan beda agama. Kekuatan sifat arrahman,kasih Tuhan yang mempertemukan dan menyatukan 2 hati suci itu. Kata Mashabi, penyanyi Melayu”Rasa cinta pasti ada pada semua manusia. Cinta ciptaan yang kuasa”. Jangan pernah salahkan cinta!

LHO KOK USTADZ DI SINI?

Tak dinyana, karena jadual pesawat balik Jakarta masih lama, saya jalan2 pakai MRT. Supaya biasa nanti pas proyek MRT Pak Jokowi tuntas di Jakarta.

Pas clingak clingok mau beli tiket kok ada wajah populer. Siapa ya?Kok saya rasa kenal wajahnya. “Assalamualaikum pak Eros”, sapa saya. Tentu beliau lupa.

“Saya Monib. Dulu kita jumpa n ngobrol di Bali saat pernikahan puteri PakDicky Adiwoso pak”, terang saya. “Oh, Om Dicky kan?”. Akhirnya kami ngobrol. “Kok ustadz di sini”?, tanya beliau. ” Iya baru ada nikah beda agama”,jawabku. “Ah, ustadz uda go internasional”, canda beliau. Ha ha ha ha. Kami sempat ngobrol tentang Bangkalan. Kab saya. “Saya kenal keluarga Mbah Chalil Bangkalan”, katanya. “Siapa pak.Kiai Fuad Amin”?, tanyaku. “Iya. Beliau temanku. Saya bilang jangan terlaku serakah dong”, cerita beliau. Wah, kebetulan saya pernah akrab dengan “Raja-Kiai” Bangkalan itu. Have a nice jalan2 Pak Eros Djarot.

Itulah kisah semalam di Singapore. Jujur, iri hati saya. Negeri gak sampai sejengkal. Seupil. Tapi jalan-jalannya lebar dan bagus. Gak ada maceeeeet panjang. Bersih dan kerrren. Kita, bangsa Indonesia, tanah seluas-luasnya. Tapi jalannya sempit dan biang maceeeet dimana-mana. Kapan negera ini diurusan secara benar dan baik ya. Uang rakyat dikorup dan diburu untuk kepentingan segelintir pihak dan pribadi-pribadi rakus.  Sayang sekali, kali saya gak sempat jalan2. Jadual pekerjaan dan pembangunan pesantren uda nunggu. Mesti cepat balik ke negeri tercinta dan Fatihatul Qur’an, pesantren yang saya rintis di Bogor. Selamat tinggal negara seupil yang hidup dari kesempatan dalam kesempitan bangsa Indonesia. Pak Jokowi terus lakukan pembangunan ya![:]