[:id]Survei Setara: 11 Persen Siswa SMA Inginkan Khilafah[:]

[:id]Lembaga yang mendukung pluralisme dan hak asasi manusia, Setara Institute, menyurvei tingkat toleransi siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung Raya. Hasilnya menunjukkan tingkat toleransi siswa masih cenderung besar.

Namun beberapa temuan unik diperoleh. Salah satunya mengenai sistem sosial politik. “Idealisasi, romantisme, dan utopis agama, dukungan terhadap agama sebagai sistem sosial, hasilnya cukup besar,” ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naispospos di Cikini Raya, Jakarta, Selasa, 24 Mei 2016.

Salah satu hasil ditarik dari pertanyaan: pemerintahan apakah yang paling baik untuk diterapkan di Indonesia saat ini? Dari total 760 siswa, sebanyak 647 responden atau 86 persen menjawab demokrasi. Pilihan lain yang disediakan menunjukkan 85 responden atau 11 persen menjawab khilafah, 16 responden atau 2 persen tidak tahu/tidak menjawab, dan 6 responden atau 1 persen menjawab monarki.

Hasil lainnya menunjukkan persetujuan atas pengaturan kehidupan manusia oleh agama diafirmasi oleh 69 persen responden. Yang tidak setuju sebesar 21 persen responden.

Dalam hasil selanjutnya, dikatakan sebanyak 437 responden atau 58 persen menginginkan hukum agama (syariat) di setiap aspek sendi kehidupan di Indonesia. Yang tidak setuju sebanyak 131 responden atau 17 persen, ragu-ragu 130 responden atau 17 persen, dan tidak tahu/tidak menjawab 60 atau 8 persen responden.

Bonar menganggap hasil itu sebagai gambaran imajinasi masyarakat yang sebagian besar belum memahami problem empiris dan sosial yang lebih kompleks.

Responden juga diminta menanggapi pertanyaan mengenai pemimpin atau kepala daerah. Terkait pemimpin di lingkungan organisasi pada lingkungan mikro di sekolah, responden menganggap ketua jelas/OSIS tidak harus satu agama sebesar 62,2 persen dan harus satu agama 30,8 persen. Sedangkan untuk pemimpin organisasi di luar sekolah hanya terdapat sedikit perbedaan.

Penelitian ini juga menunjukkan tanggapan responden pada dua calon bupati/wali kota, yang seagama dan tidak seagama. Sebanyak 443 responden atau 58 persen menjawab tidak mempersoalkan agama, tapi untuk kemampuan memimpin, 288 responden atau 38 persen menjawab yang seagama, 27 responden atau 4 persen menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

AKMAL IHSAN/Tempo.co[:]

[:id]Di Kendal Mesjid Ahmadiyah Dirusak, Akankah Negara Bertindak?[:]

[:id]Perusakan rumah ibadah kembali terjadi. Minggu ini Mesjid muslim Ahmadiyah di Kendal menjadi target serangan sekelompok orang tak dikenal. Saat sekelompok beringas merusak Mesjid  Al-Kautsar pada Minggu (22/5), tidak ada jemaat Ahmadiyah yang tinggal dan menyaksikan aksi vandalisme terhadap Mesjid. Adapun kerugian materi ditaksir mencapai sekitar Rp. 200.000,00.

“Segalanya dirusak. Tembok-tembok ruang pembacaan Quran diruntuhkan…atap-atap rusak. Al-Quran juga dirusak,” kata Imam mesjid tersebut, Encep Jamalaudin sebagaimana dikutip kompas.com pada Senin (24/5)

Ketua komunitas muslim Ahmadiyah untuk wilayah Purworejo dan sekitarnya, Ta’zis menyatakan tidak ada hal yang bermasalah dengan perizinan. Pasalnya, menurut  Ta’zis jemaat Ahmadiyah di Kendal telah mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). “Kami sudah memiliki IMB untuk mesjid kami, lalu mengapa masih ditolak mengapa mesjidnya dirusak? kata Ta’zis pada kompas.com.

Penolakan terhadap jemaat Ahmadiyah ternyata juga seolah disponsori oleh pemerintah setempat. Para pemangku otoritas mulai dari kepala RW hingga bupati memberikan nada sinis pada pembangunan mesjid. Bahkan camat setempat ikut-ikutan menolak pendirian mesjid.

Terkait soal perizinan, hal erbeda dinyatakan menteri agama Lukman Hakim Saifudin.  Lukman mengaku memperoleh dua informasi yang berbeda ihwal masalah yang memicu terjadinya peristiwa itu. Versi pertama, menurut dia, masjid itu sebenarnya tidak layak dipermasalahkan karena telah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) pada 2004. Versi lainnya menyatakan IMB masjid itu tak berlaku lagi karena Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kendal telah menangguhkannya. “Ini yang sedang kami dalami persoalannya. Saya sudah minta Kemenag Kendal untuk mengumpulkan informasi,” ujar Lukman seb.agaimana dikutip oleh tempo.co

Namun terlepas dari persoalan administrasi, Lukman menyesalkan perusakan mesjid muslim Ahmadiyah. Baginya, hanya jalur hukum lah yang pantas untuk menyelesaikan sengketan dalam kehidupan masyarakat beradab. “Hanya jalur hukum yang bisa selesaikan sengketa antarumat beragama secara beradab,” ujarnya. Lukman mengingatkan, main hakim sendiri, terlebih dengan kekerasan, bukanlah cermin kelompok yang beradab. Apalagi menuding umat beragama lain melanggar hukum. “Dan bukan sesuatu yang diajarkan agama,” tuturnya.

Hingga kini diskriminasi tetap saja berlaku bagi Ahmadiyah di sejumlah daerah. Soal penolakan bahkan perusakan mesjid Ahmadiyah bukanlah hal baru pasca reformasi. Selain di Kendal, muslim Ahmadiyah di Subang juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Pemerintah setempat memberikan tekanan pada minoritas muslim ini untuk menghentikan pembangunan mesjid.  Tapi, tidak hanya persoalan mesjid saja. Bahkan di Tasikmalaya dikabarkan bahwa muslim Ahmadiyah dilarang untuk naik haji kecuali kembali ke Islam Sunni.

Sementara itu, bagaimana dengan sikap pemerintah pusat?

Pemerintahan Jokowi-JK menyoal kebebasan beragama pantas rasanya dinilai masih wacana belaka. Pelanggaran terhadap kebebasan beragama tidak pernah berhenti bahkan mungkin bisa dikatakan kian menjadi-jadi. Pemerintah pusat seolah abai atau belum menemukan solusi yang jitu dalam menyelesaikan sengketa intra “agama”. Kadangkala menteri agama hanya sebatas memberikan himbauan agar tidak terjadi perusakan dan atau pernyataan sikap semata.  Namun di daerah, sikap diskriminasi aparat birokrasi dan pemangku otoritas seringnya lebih menjadi acuan masyarakat merespon perbedaan pandangan keagamaan.

Pengabaian negara terkait kekerasan atas nama pada warga negara yang lemah secara politik tentu saja berbahaya. Bisa jadi suara yang banyak akan membuat negara tunduk dan patuh untuk melakukan persekusi. Negara, jika membiarkan saja, kelak seolah hanya menjadi instrumen yang turut serta melakukan kekerasan terhadap warganya sendiri atas nama membela keyakinan mayoritas

Kondisi ini bisa terlihat dari bagaimana sejarah muslim Ahmadiyah di Pakistan. 42 tahun silam, parlemen Pakistan menyatakan secara bulat bahwa Ahmadiyah merupakan mazhab yang sesat. Semenjak saat itu pulalah negara ikut terjun langsung dalam melakukan kekerasan pada jemaat Ahmadiyah di Pakistan. Negeri yang berbatasan dan tengah berkonflik dengan India itu sejak saat itu pula dipenuhi kalangan militan. Kelompok-kelompok teroris terus berjamur tiada henti hingga kini. Bukan hanya miskin, Pakistan menjadi salah satu negara yang ramai dengan konflik sektarian sehingga tak aman untuk ditinggali.

Akankah Indonesia bernasib serupa?

Semua nasib buruk yang ditimpa Pakistan hari ini mungkin saat tidak akan pernah terjadi jika dan hanya jika pemerintah berani mengambil sikap tegas untuk menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Permasalahannya, kebijakan politik bukanlah suatu hal tanpa konsekuensi. Beranikah pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla membuat kebijakan yang amat tidak populer? Memang berat, tapi harus tentu kita mendorong terus semangat keragaman antar  dan intra agama agar negeri ini tak jadi failed state sebagaimana Pakistan.

 

 

(sumber : kompas.com dan tempo.co)

 

 

 [:]

[:id]Selamat Waisak 2560 BE / 2016 M[:]

[:id]ucapan-waisak-2016[:]

Para Biksu dan umat Buddha menerbangkan lampion di pelataran Candi Borobudur, Magelang, dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2560 BE, Sabtu (21/5/2016) dini hari. Sumber: kompas.com

[:id]Lampion dan Pesan Waisak untuk Pemimpin Bangsa Indonesia…[:]

[:id]MAGELANG, KOMPAS.com — Ribuan umat Buddha melaksanakan detik-detik Tri Suci Waisak 2560 BE yang dipusatkan di Candi Agung Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2016) dini hari.

Penerbangan 5.000 lampion ke udara menjadi tanda akhir prosesi sakral tersebut.

Sebelumnya, mereka melakukan sejumlah ritual, mulai dari pembacaan parita (doa) hingga pradaksina atau mengelilingi Candi Borobudur tiga kali searah jarum jam.

Ada doa serta pesan umat Buddha yang melambung ke angkasa bersama lampion-lampion itu untuk bangsa Indonesia.

Tingginya lampion menjadi simbol keinginan agar doa dikabulkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Biksu Panyavaro Mahatera, tokoh Buddhis dalam sambutan Dharmasanti Waisak Nasional, menuturkan bahwa cinta kasih orang tua adalah benteng untuk melindungi anak-anak dari perilaku kejahatan.

Ia pun berharap para pemimpin Indonesia laksana orang tua yang melindungi serta memimbing masyarakat penuh welas asih.

“Kami ingin pemimpin yang laksana orang tua bagi masyarakat yang tidak tega melihat mereka menderita, orang tua yang selalu memberikan bimbingan tanpa pamrih agar anak-anaknya mandiri, berbudi luhur, dan sejahtera,” tutur Panyavaro.

Lebih lanjut, Panyavaro menekankan pentingnya penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Menurut dia, semboyan itu bukan sekadar semboyan, tetapi merupakan jati diri bangsa.

“Kami membuktikan moral Bhinneka Tungga Ika kepada dunia. Bhinneka ini dimulai sejak jauh sebelum Empu Tantular menulisnya dalam Sotasoma, sejatinya sudah menjadi jati diri bangsa, sifat dasar bangsa hingga saat ini,” papar dia.

Panyavaro lalu mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk senantiasa bekerja keras. Tidak sekadar mencapai kasejahteraan, tetapi membangun bangsa agar menjadi bangsa yang tangguh dan berbudi luhur.

“Berjuanglah dengan penuh kesadaran,” ucap Panyavaro mengutip pesan terakhir sang Buddha.

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah David Hermanjawa menambahkan, pesan Waisak 2016 ini diharapkan menjadi semangat umat untuk memperbaiki mental.

Mengubah mental yang buruk menjadi mental yang lebih baik.

“Ajaran Buddha dan agama mana pun, tidak diajarkan korupsi, mencuri, tidak bayar pajak, dan perilaku buruk lainnya. Waisak kali ini diharapkan membawa spirit memperbaiki mental kita,” ujar David.[:]

Ratusan masyarakat berkumpul di Tugu Proklamasi Jakarta untuk mengenang YY, Gadis SMP yang menjadi korban kekerasan seksual.

[:id]Seribu Lilin untuk Korban Kekeran Seksual[:]

[:id]YY, pelajar SMP di sebuah desa Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong Provinsi Bengkulu tidak pernah bermimpi bahwa hidupnya akan berakhir tragis. YY, menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan secara tidak manusiawi oleh 14 pemuda setempat. Kasus tersebut adalah salah satu dari ratusan ribu kasus kekerasan seksual di negeri ini yang terus meningkat setiap tahunnya.

Jumat malam, 13 Mei 2016 lalu, Tugu Proklamasi dipenuhi ratusan orang yang umumnya kaum muda dalam aksi 1000 lilin untuk korban kekerasan seksual. Hari itu tepat 40 hari wafatnya gadis belia,YY, yang tewas akibat kekerasan seksual yang menimpanya.

Malam solidaritas itu diisi dengan orasi berisi pesan moral, pembacaan puisi, nyanyian, talkshow dan doa lintas iman.

Musdah Mulia dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), pada kesempatan tersebut, memberi pesan bahwa kasus kekerasan seksual yang terus meningkat akibat luputnya anak-anak kita dari pendidikan seksual yang komprehensif. Jangan ada lagi korban yang lain dan mari bersama-sama menjaga anak-anak kita.

Talkshow, malam solidaritas untuk korban kekerasan seksual yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta. Sumber: Dok. ICRP

Talkshow, malam solidaritas untuk korban kekerasan seksual yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta. Sumber: Dok. ICRP

Talkshow yang dimoderatori oleh Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan; Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin; Anggota DPR Komisi III Eva Kusuma Sundari; Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise; Kepala Divisi Humas Polri Boy Rafli dan Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.

“Pendidikan kita kurang memperhatikan dimensi karakter. Pendidikan karakter berperan besar dalam relasi dengan orang lain yaitu bagaimana menghargai dan menghormati orang lain”, kata anies Baswedan.

Menteri agama menyatakan hal senada. Menurutnya pendidikan agama tidak kalah penting membangun karakter manusia. Agama punya makna yang luas tapi yang ditekankan adalah aspek sosial agama. Ini penting dalam membentuk manusia yang bermoral.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Yohana Yambise mengatakan, perlu ada gerakan nasional menyikapi kekerasan seksual. Ini menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa. Dimulai dari keluarga-keluarga sebab keluarga adalah basis penting pendidikan anak-anak. Juga gerakan laki-laki melindungi perempuan dan anak-anak.

Aksi seribu lilin ditutup dengan doa lintas iman oleh perwakilan 5 Tokoh Agama. Kyai Nahe’i dari Islam; Sr Irena Handayani OSU dari Katolik; Pdt Gomar Gultom dari Kristen Protestan, Bapak Ws Wichandra dari Khong Hu Cu dan Pandita Anton Susilo dari Budha.[:]

[:id]Hizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler[:]

[:id]Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Untuk megenal lebih dalam dan kaffah (komprehensif) tentang Hizbut Tahrir (HT atau “Partai Pembebasan”) tidaklah lengkap jika kita tidak mempelajari sejarah pendirinya, Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), dan untuk mengenal lebih dalam dan kaffah tentang Taqiyuddin, maka tidaklah lengkap jika kita tidak mempelajari dan mengenal teman, mentor, dan inspirator-nya yang bernama Amin al-Husseini (1895-1974), seorang Mufti Besar Jerusalem dan bekas tentara Emperium Turki Usmani (Ottoman Empire).

HT yang berdiri tahun 1952, di Jerusalem, Palestina, sebetulnya hanyalah penjabaran dan aktualisasi dari gagasan, konsep, strategi, dan taktik gerakan yang diprakrsasi oleh Amin al-Husseini ini yang populer dengan sebutan “Hitler Arab” karena keterlibatannya dalam berbagai aksi-aksi sadis dan serangkaian perang brutal melawan siapa saja yang ia anggap sebagai musuh sejak zaman Turki Usmani sampai post-kolonial Arab.

Lalu, siapakah sebetulnya Amin al-Husseini ini? Lahir di Jerusalem (seperti pendiri HT, Taqiyudin) yang waktu itu di bawah kekuasaan Turki usmani, Amin adalah seorang tentara Turki Usmani yang bertugas di Smyrna yang bersama sang rezim melakukan pembantaian terhadap setengah juta umat Kristen Armenia di Turki dan sekitarnya pada 1914-1917. Setelah “Khilafah” Turki Usmani tumbang di tangan Mustafa Kamal Atturk pada 1923/4, ia kemudian bukan hanya menjadi sosok pemimpin politik yang anti-Kristen tetapi juga anti-Muslim yang melawan ide-idenya dan juga anti-Yahudi.

Amin-lah yang membawa pengalaman “genoside Armenia” ke dalam konteks politik lokal Arab, baik di daerahnya Palestina maupun di kawasan Arab lain. Paska “genoside Armenia”, Amin memproklamirkan gerakan politik “Pan-Islamisme” yang kelak menginspirasi pendirian “kelompok jihad” Ikhwanul Muslim (IM) di Mesir yang didirikan oleh Hasan al-Banna, dan HT di Palestina yang didirikan oleh Taqiyuddin. Taqiyudin sendiri adalah bekas anggota IM yang membelot karena menganggap IM terlalu lunak dalam perjuangannya.

Atas nama Pan-Islamisme inilah, Amin untuk pertama kali membangkitkan ideologi anti-Semitisme dan kampanye kebencian terhadap Yahudi di Palestina yang kemudian meledak kekerasan anti-Yahudi sejak 1920-an, tragedi pertama kali dalam sejarah di negeri itu. Umat Yahudi di Hebron dibantai, padahal mereka sudah tinggal lebih dari 2 ribu tahun di kawasan itu, dan selama berabad-abad umat Yahudi hidup berdampingan dengan Muslim sebelum sang “Hitler Arab” lahir.

Karena kebencian terhadap Yahudi (juga Kristen) inilah, kelak mendorong Amin berkoalisi dengan Adolf Hitler dan Benito Mussolini (fasis Italia) untuk mewujudkan impiannya membangun “Empirium Islam” dan menumbangkan rezim-rezim pemerintahan lokal Arab (apapun namanya) yang ia anggap “sekuler” dan “anti-Islam”, sebuah impian yang kelak dilanjutkan oleh Taqiyuddin melalui HT dan juga para pengasongnya di Indonesia (HTI). Maka tidaklah mengherankan jika HTI itu gembar-gembor anti-Pancasila, anti-Yahudi, anti-demokrasi, anti-NKRI dan seterusnya. (11/5)

sambungan…

Ini sambungan “kuliah virtual” saya yang tertunda. Seperti saya katakan dalam postingan saya sebelumnya bahwa sahabat, mentor, dan inspirator dari pendiri Hizbut Tahrir (HT atau “Partai Pembebasan”), Taqiyuddin al-Nabhani, adalah seorang yang dikenal dengan sebutan “Hitler Arab” karena kedekatannya dengan Adolf Hitler dan Nazi Jerman (Third Reich). Asal-usul, sejarah, motivasi, tujuan, strategi, dan taktik pendirian HT ala Taqiyuddin kurang lebih sama dengan gagasan Emperium Islam atau Pan-Islamisme-nya Amin al-Husseini. Dan baik HT maupun Pan-Islam ala Amin ini sama persis dengan “doktrin Nazi” yang anti-Yahudi.

Mari kita simak sejarahnya. Sebagai bekas tentara Turki Usmani yang terlibat dalam genoside atau pembantaian terhadap ratusan ribu warga Kristen Armenia, Amin geram melihat “Khilafah” Turki Usmani (Ottoman Empire) tumbang di tangan Muslim sekuler Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1923/4. Ia kemudian bersumpah untuk “menghidupkan kembali” Turki Usmani dalam bentuk Emperium Islam (atau Khilafah ala HT) serta melawan siapa saja, termasuk kaum Muslim, yang melawan ide-ide dan ambisinya. Di kemudian hari nanti, ia juga mengobarkan perlawanan terhadap sejumlah rezim Muslim di kawasan Arab yang ia anggap “tidak Islami”.

Untuk memuluskan jalan ini, ia melakukan sejumlah strategi dan taktik: dari menjalin patronase dengan Inggris, memprakarsai kongres Islam dunia, sampai bersekongkol dengan Nazi. Karena berpatron dengan pemerintah kolonial Inggris, ia diangkat sebagai “Mufti Besar Yarusalem” dan juga “Kepala Pengadilan Islam”. Padahal masyarakat Islam setempat menolaknya dan tidak mendapat suara memadai dalam pemilihan karena mereka menganggap Amin tidak punya kualitas dan kredibilitas sebagai “mufti” (pemberi fatwa) maupun “hakim”. Oleh kaum Muslim setempat, Amin dianggap bukan seorang “shaikh” (pemimpin agama kredibel) maupun alim (sarjana Islam) yang memiliki wawasan keislaman mumpuni. Amin memang bekas tentara, bukan ulama, jadi pantas kalau kaum Muslim menolaknya.

Tapi asssudahlah. Singkat cerita, supaya bisa mendapat “simpati” publik Muslim, ia menciptakan “kambing hitam” sebagai musuh bersama dan “tumbal kekuasaan”, dan “kambing hitam”-nya itu adalah Yahudi. Ini seperti strategi Pak Harto dulu yang menjadikan komunis sebagai kambing hitam dan target kekerasan untuk memuluskan jalan kekuasaan sekaligus guna menebar ketakutan dan teror di masyarakat. Teror adalah sarana paling ampuh untuk mengontrol dan mengendalkan publik.

Maka sejak 1920-an, Amin menebarkan teror, rumor dan informasi palsu tentang–sekaligus memprakarsai kekerasan terhadap–Yahudi. Maka pecahlah kerusuhan dan kekerasan terhadap Yahudi di Hebron dan kawasan lain yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam sejarah Palestina. Puncaknya pada 1936, ketika terjadi kekerasan dan kekejaman hebat terhadap Yahudi. Celaknya, bukan hanya Yahudi yang menjadi korban, para tokoh Muslim dan Kristen Palestina yang melawan kekejaman dan kebengisan Amin pun ikut dimusnahkan. Tercatat sejumlah tokoh Islam yang ikut menjadi korban kebrutalan Amin adalah: Shaikh Daoud Anshari (Imam Masjid Al-Aqsa), Shaikh Ali Nur al-Khattib, Shaikh Nusbi Abdulrahim, Nasruddin al-Nasser, dan masih banyak lagi termasuk tokoh-tokoh adat dan komunitas lokal. (17/5)

 

(Tulisan ini didapat dari postingan Prof. Sumanto Al Qurtuby di akun facebooknya dalam waktu yang berbeda tanpa merubah sedikitpun isi tulisan)

Penulis merupakan dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals

 

 [:]

[:id]Adakah Bahaya Laten Bagi NKRI?[:]

[:id]Oleh : Erton Vialy Arsy

 

Awas bahaya laten komunisme. Itulah tulisan pada sebuah spanduk ormas di Jalan dekat kantor. Belakangan segala hal yang berbau kiri memang dicurigai. Di beberapa kota diskusi mengenai penuntasan kasus 65 atau tentang segenap gagasan kiri ditolak oleh sekelompok ormas yang mengklaim Islami. Anehnya, ini terjadi pada era reformasi, masa yang menjanjikan kebebasan untuk berekspresi.

Tidak berhenti di sana keantian terhadap kiri bahkan juga dilontarkan sejumlah kalangan politisi dan birokrasi. Sebut saja misalnya menteri pertahanan Ryamizard yang mendesak publik menyerahkan buku-buku bertensi kiri. Bahkan pelaksana tugas perpustakaan nasional ikut mengamini ujaran menhan. Dedi Junaedi dalam konferensi pers dua hari lalu menyatakan kesepakatannya terkait ide pemusnahan buku-buku kiri. Pasalnya, menurut Dedi buku-buku kiri dinilai meresahkan.

Entah karena kesadaran atau desakan akhirnya Istana pun turun tangan. Mewakili Presiden Jokowi, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan aparat tidak boleh bersikap berlebihan seperti melakukan razia pada buku-buku kiri atau bahkan sweeping diskusi. Tidak hanya istana saja, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga turut bersuara soal ide pemberangusan buku-buku kiri. Ia menjelaskan bahwa kini negara tak boleh melakukan pelarangan pada sesorang untuk menulis atau menyebarkan ide tertentu meskipun ide itu dinilai keliru. Artinya di jajaran pemerintahan masih ada yang jernih dalam pikiran.

Tetapi di luar itu, pertanyaan yang menggelitik adalah mengapa masih begitu menakuti ide-ide kiri? Atau kita lebih persempit saja jika mau menggunakan istilah komunisme. Ketakutan pada komunisme ii pasalnya aneh. Zaman sudah berubah tapi masih saja warisan orde baru itu masih menancap di kepala birokrat dan sejumlah rakyat. Sampai-sampai ideologi yang diakui menjadi oposisi abadi terhadap liberalisme itu dinilai sebagai bahaya laten bagi negeri.

Komunisme sudah mati. Intinya demikian dalam sebuah buku Francis Fukuyama berjudul The End of History. Demokrasi liberal dan sekaligus ekonomi pasar beserta segenap variannya menang dengan tanda rubuhnya Tembok Berlin. Ada sih negara yang masih tetap ingin pakai komunisme sebagai ideologi negara dengan jargon kerayaktan, tapi sengsara. Tentu mana lagi negara macam itu kalau bukan Kuba dan Korea Utara. Ada jua yang masih pakai dalam sistem politiknya, namun dalam praktik ekonominya jauh lebih liberal dari Uwak Sam. Negeri ini jadi kaya raya dalam tempo yang singkat.  Siapa lagi kalau bukan Republik Rakyat China.

Komunisme sebagai sebuah gagasan riil dalam berpolitik dan eknomi sudah bangkrut. Tak ada negara yang menjadi kaya dengan ideologi ekonomi-politik ala itu. Jadi untuk apalagi ditakuti? Kiri memang asik untuk wacana  berbincang dalam diskusi para mahasiswa atau aktivis di warung kopi. Pada implementasi di kebijakan gagasan Adam Smith dan cucu-cucunya lebih cakap berbincang.

Jangan-jangan anti komunisme yang digencarkan sejumlah orang ini hanya ingin menebar phobia belaka. Orang dibuat tak paham apa itu komunisme  yang penting benci saja. Wah kalau seperti ini jalurnya tentu berbahaya. Karena kita sudah mengikuti gaya bersikap ala NAZI dulu yang gemar bakar-bakar buku.  Kalau sudah demikian caranya, bagaimana kita bisa mengkritik ide-ide yang sudah usang itu. Pandangan semacam ini saya masih ingat juga dilontarkan professor di bidang kriminologi Prof. J.E. Sahetapy dalam sebuah diskusi.

Namun, sebetulnya jika dikaji ulang adakah bahaya laten terkait suatu ide bagi negeri ini? Terus terang saya menduga ada. Hanya saja ini bukan berasal dari komunisme itu. Suka atau tidak, ide itu kini tengah melambung menjadi sebuah wacana yang dibalut dengan ayat-ayat suci. Pandangan keagaman radikal memang sudah seharusnya menjadi sorotan pemerintah. Tidak dalam bermaksud fobia, justru harus kita pelajari. Toh kita yakin ayat-ayat suci tak elok sama sekali dijadikan alat untuk mencelakakan orang.

Tadi sore, Saya berjumpa dengan seorang kawan yang dua minggu lalu baru menyelesaikan survey dengan tema yang cukup menarik.  Peserta yang menjadi target dalam survey ini adalah anak-anak Rohani Islam (Rohis) di SMA-SMA se tanah air. Tema survey ini pada intinya ingin mengukur sejauh mana tingkat radikalisme di kalangan rohis se tanah air. Adapun siapa penyelenggaranya, karena memang belum ada hasil resmi yang diumumkan maka belum jua bisa disampaikan. Yang jelas penyelenggaranya bukan tim asal-asalan.

Dari hasil input survey sekitar 200 peserta  ada temuan yang menurut saya cukup mengkhawatirkan. Misalnya saja begini, banyak sekali para peserta yang disurvey oleh kawan Saya ini mendukung serangan Bom Sarinah. Atau juga banyak yang sepakat dengan melakukan pembunuhan pada non-muslim atas dasar pemahaman agama. Ini sangat mengerikan kalau dibiarkan terus menerus berkembang.

Memang belum valid karena belum terkumpul semua hasil survey dari kawan-kawan yang lain. Tapi, dugaan Saya ini bisa menjadi warning bagi kita bahwa kebencian antar warga negara bukan dibentuk dalam kantung-kantung diskusi, tapi dari serambi-serambi mesjid sekolah anak-anak kita. Karena jika dibiarkan mesjid bisa jadi wahana untuk menebarkan kebencian dan permusuhan bukan semata untuk beribadah.

Jika sudah terkumpul dari hasil survey tersebut dan secara terbuka semuanya diumumkan, maka tentu ini akan mengejutkan. Survey tersebut seolah akan mengafirmasi dugaan bahwa selama ini memang mesjid kerap dijadikan tempat penyerbukan gagasan-gagasan radikal. Pemerintah semestinya sigap menangani permasalahan ini. Jika, tentu saja, kita tak ingin bernasib seperti Bangladesh, Suriah dan kawan-kawan. Paham keagamaan radikal kiranya patut dikategorikan bahaya laten. Bahaya yang bisa timbul kapan saja jika tak diperhatikan secara seksama dan sigap.

 

 

Penulis adalah aktivis forum ide dan pegiat kebebasan beragama [:]

[:id]Patung dan KFC : Benci-Benci Namun Dinikmati[:]

[:id]Oleh : Erton Vialy Arsy

 

Minggu lalu, saya berkesempatan jalan-jalan ke Purwakarta. Bersama teman-teman SMA yang kebetulan akan merayakan reuni 10 tahun umur angkatan. Sebelum menuju lokasi reuni, panitia mengumpulkan peserta di depan mesjid Agung Purwakarta. Tepat di hadapan mesjid terdapat sebuah taman  yang sebentar lagi akan dilaunching. Taman tersebut dinamai Taman Maya Datar.

Di Taman Maya Datar ini terdapat patung harimau putih dan kalau tidak keliru terdapat pula patung-patung lainnya. Kami pun tak ragu untuk berselfie ria di hadapan si Maung Bodas (Harimau Putih).  Selain itu terdapat kolam, saung, dan pernak-pernik taman yang enak dipandang. Singkatnya, Taman ini memang aduhai. Saya duga kelak setelah dilaunching popularitas taman itu tak akan kalah dengan Situ Buleud (Danau Bulat) yang kini tengah ramai diperbincangkan.

Purwakarta era Dedi Mulyadi memang agak nyentrik. Berbagai taman dengan tata ruang kota yang bergaya klasik membuat kota ini menarik. Namun, tidak dipungkiri pula sebagian masyarakat melontar kritik. Katanya, Dedi Mulyadi yang gemar merias kota dengan patung-patung dan taman-taman nan elok itu tengah menebarkan ajaran syirik.

Ketika di perjalanan menuju lokasi, seorang teman pun membincangkan si Bupati yang gemar memakai ikat kepala itu. “Ya, Dedi memang maksudnya mengembangkan budaya, tapi kan buat patung itu gak sesuai ajaran Islam,” kata kawan. Dalam hati, Saya tersenyum dan bergumam “lah bukannya tadi kita foto-foto depan patung?”. Saya pun iseng bertanya balik, “Lalu bagaimana dengan patung yang ada di Koramil?” Kawanku pun menjawab, “Waduh tak tahu yang kalau itu”.

Anda akan sering mendengar obrolan seperti teman saya ini ketka membahas  Dedi Mulyadi dan Purwakarta. Percayalah, di sosial media gendrang  pembangunan patung sebagai gagasan anti Islam pun nyaring terdengar. Patung-patung perias tata kota itu tak sedikit mendapat serangan. Sejumlah patung bahkan sempat dirobohkan oleh sebagian kalangan.

Meski patung dicaci, namun ternyata Situ Buleud ramai nian dikunjungi. Tiap malam minggu, situ yang dipenuhi patung-patung itu tak surut dikunjungi muda-mudi. Bukan hanya muda-mudi, orang tua bersama bayi ingin ikut menikmati. Tiap malam minggu, para pengunjung rela untuk mengantri. Saking penuhnya, masuk ke Situ Buleud kata temanku dibatasi. Pakai shift-shift an segala lagi.

Gagasan tata ruang kota Dedi Mulyadi itu bia dicaci, namun ternyata dinikmati. Kalau dalam bahasa orang di kampung saya, kelakuan macam ini disebut, “Dipoyok, Dilebok” (dimaki, namun dimakan jua). Begitulah kiranya, Saya kira tindak-tanduk mereka yang gemar mengfitnah sana sini. Sebagian ternyata kadangkala menikmati sambil memaki. Mengumpat namun merasakan nikmat dari karya-karya yang diduga sesat.

Ternyata perilaku menuding semacam itu juga tidak hanya diarahkan pada Dedi Mulyadi. Belakangan sasaran tembak segala macam tudingan tak beralasan itu mengarah pada restoran fast food dari Uwak Sam. Kabar ini ku dapat dari Ayah. Dia bercerita dengan kesalnya terkait grup WA teman-teman SD. Di dalam kiriman salah seorang teman Ayah, ada  yang mengatakan bahwa KFC adalah musuh Islam. Karena sengaja, kata teman Ayah di WA, KFC memasukan zat-zat yang tidak halal. KFC juga dimiliki Israel. Ayah kesal bagaimana bisa KFC memusuhi Islam dengan tudingan ada zat makanan yang tidak halal atau sengaja meracuni umat Islam.

Bagaimana bisa sengaja “mengisengi” umat Islam? Pekerjanya di Indonesia toh juga banyak yang Islam. Tak sedikit jua orang Islam yang menikmati ayam KFC. Lagi-lagi dipoyok dilebok. Kalau soal semisal KFC ini dimiliki Yahudi, lah kan facebook tempat mengumpat para pemilik surga pada para “Salibis”  (demikian yang bisa dilontarkan kaum itu untuk melabeli umat kristiani) juga dimiliki seorang Yahudi. Percayalah sekuat apapun kebenciannya, tak akan urung orang  Islam menikmati facebook dan KFC.

Dari kedua kisah itu, kita bisa melihat betapa ada masalah  dengan cara berpikir sebagian masyarakat kita terkait realita kehidupan yang penuh warna dan cara beriman yang hitam putih belaka. Karenanya, tak jarang kita temui pula kontradiksi antara pikiran dan sikap antara kedua hal itu.Sebagaimana tertuang pada ujaran teman Saya dan teman ayah Saya. Menghina, namun menikmati jua. Mengatakan syirik, namun jika dirasa nikmat pun tak akan ditampik.

Barangkali, orang-orang semacam itu jauh di dalam relung hatinya mengakui pula bahwa cara beriman mereka sudah usang nan karatan. Membenci patung sebatas ujaran di mulut saja, itu pun pilih-pilih jua. Menolak KFC hanya karena biar terlihat pro-palestina dan anti-Yahudi  belaka. Toh apa dikata semua yang “anti Islam” itu ujungnya dinikmati jua. Semua teriakan itu jangan-jangan hanya  agar terlihat lebih religius dan ditambahi dengan motif politik semata.

 

penulis adalah aktivis forum ide dan pegiat isu kebebasan beragama[:]

Ilustrasi Kartu Identitas (KTP) Penghayat Kepercayaan. Sumber: tribunnews.com

[:id]Penghayat Kepercayaan di Bekasi Mencapai Ribuan Orang[:]

[:id]Bekasi – Ribuan warga Kota Bekasi dinyatakan menganut aliran kepercayaan di luar enam agama yang diakui Indonesia. Oleh karena itu, kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) milikya kosong alias diberi tanda strip. Adapun enam agama yang diakui Indonesia adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bekasi mencatat, jumlah warga yang tidak memiliki kolom agama mencapai 1.609 orang. Mereka mayoritas tinggal di dua kelurahan dari Kecamatan Jatisampurna, yaitu Kelurahan Jatiranggon dan Kranggan.

”Karena mereka tidak menganut satu di antara enam agama yang diakui pemerintah, sehingga kolom agama di KTP hanya diberikan strip saja,” kata Kepala Disdukcapil Kota Bekasi, Alexander Zulkarnaen pada Senin (16/5/2016).

Alex menjelaskan, aturan itu diterapkan sesuai dengan amanat UU No. 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan. Aturan itu menyebut, setiap warga yang menganut aliran kepercayaan hanya tercatat di dalam database kependudukan, sementara untuk kolom agama di KTP hanya dikosongkan. ”Makanya, soal aliran kepercayaan mereka hanya kami catat di database kami saja,” ungkapnya.

Meski memiliki perbedaan keyakinan, namun Alex memastikan pihaknya tidak pernah membedakan dalam memberi pelayanan administrasi kependudukan. Semua mendapat perlakuan sama, karena pihaknya harus menjalankan sesuai prosedur untuk setiap warga negara agar memperoleh identitasnya.

Kepala Kesatuan Bangsa, Politik dan Kesatuan Bangsa (Kesbangpol) Kota Bekasi, Momon Sulaiman menambahkan, ketiadaan kolom agama itu dikarenakan mereka tidak memilih enam agama yang diakui pemerintah. Artinya, mereka menganut aliran kepercayaan. ”Mereka memilih aliran kepercayaan, sehingga tidak ikut dalam enam agama,” kata Momon.

Menurut Momon, aliran kepercayaan itu tumbuh sejak dulu dan ada karena keyakinannya diturunkan ke tiap generasinya. Oleh karena itu, keberadaan itu masih begitu kental di lingkungan setempat. ”Saya pernah melihat sendiri proses pernikahan mereka, ada perbedaannya dengan salah satu dari enam agama yang diakui pemerintah,” ungkap Momon.

Meski begitu, kata Momon, kepercayaan itu merupakan dari amanat undang-undang yang harus dihormati. Sebab, aliran kepercayaan itu tumbuh berdasarkan dari adat istiadat para leluhur yang sudah mendahului. ”Di sinilah kerukunan hidup beragama dan semangat toleransi masyarakat dibutuhkan,” katanya.

Bahkan agar terciptanya kerukunan umat beragama, Momon mengaku, pemerintah daerah memiliki kewajiban memfasilitasi hak mereka berwarga negara , di samping enam agama yang saat ini diatur undang-undang, yakni Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu. “Sejumlah fasilitas yang harus dijalankan pemerintah adalah hak untuk beribadah, kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP), lahan kuburan dan lainnya,” katanya.

Namun, untuk aliran kepercayaan itu, kata Momon, ditangani langsung oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sehingga tidak mengikat kepada kantor wilayah agama. “Tidak mengikat ke kantor wilayah agama setempat, karena masalah aliran kepercayaan ini masuknya perihal kebudayaan,” jelas Momon.

Berdasarkan data yang diperoleh, komposisi warga Kota Bekasi berdasarkan agama, yaitu pemeluk Islam berjumlah 2 juta jiwa, Kristen Protestan 195.000 jiwa, Katolik 65.000 jiwa, Hindu 4.700 jiwa, Buddha 12.000 jiwa, Konghucu 196 jiwa dan aliran kepercayaan 1.609 jiwa.

Sumber: tribunnews.com[:]

[:id]Gaung Anti-HTI Mulai Digubris Istana[:]

[:id]Gema penolakan terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mulai didengar istana. Rencana ini seolah diafirmasi oleh menteri dalam negeri  Tjahjo Kumolo saat menghadiri acara Rembug Nasional Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) di lingkungan Pendopo Purwakarta, Senin (9/5). Tjahjo menegaskan bahwa pemerintah akan segera membubarkan ormas yang terang-terangan menolak paham pancasila.

“”Saya tidak usah sebut (nama ormas). Yang pasti sudah terang-terangan anti Pancasila. Pokoknya ini ormas cukup besar,” jelas Tjahjo.

Dukungan terhadap rencana pemerintah juga muncul dari Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dedi menegaskan, jika ormas tersebut tetap keukeuh ingin bertahan, maka patut diuji salah satunya melalui pemilu yang dipilih langsung oleh masyarakat.

“Kalau masih penasaran coba mereka suruh masuk ke politik dan ikut pemilu sehingga nanti terlihat apakah dipilih masyarakat atau tidak. Jangan sampai itu hanya sekedar klaim saja. Misal dua orang tidak sepaham tapi mengatasnamakan kelompok besar atau bagian dari daerah tertentu,” bebernya.

Lebih lanjut Dedi menegaskan, jika keputusan ormas besar tersebut dibubarkan, maka pihaknya akan langsung mengambil keputusan serupa dengan membubarkan ormas sama yang berada di Purwakarta melalui Kesbangpol.

Di tempat terpisah, jaksa agung HM Prasetyo juga ikut mengomentari rencana pembubaran HTI. Prasetyo tak menampik adanya rencana pembubaran HTI. Ia pun menyatakan bahwa kejaksaan agung hingga kini bersama kemendagri tengah mengkaji ormas tersebut.  Menurutnya, HTI dinilai publik bertentangan dengan paham negara dan ideologi Pancasila.

“Ya saya kira (HTI) termasuk, yang sekarang jadi trending topic kan itu (HTI). Kita lihat nanti seperti apa, yang pasti sedang dibahas,” kata Prasetyo i Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/5)

Menurut Prasetyo, pihaknya belum bisa mengungkap arah pembahasan terkait pembubaran ormas tersebut. Namun, dia menggaransi bahwa ormas yang berpotensi dibubarkan ini bertentangan dengan ideologi yang dianut di Indonesia.

Sebelumnya dilaporkan, HTI mulai mendapat penolakan dari sejumlah daerah. Misalnya saja di Surabaya kegiatan muktamar yang diselenggarakan ormas anti pancasila ini mesti dipercepat. Pasalnya, Gerakan Pemuda Anshor mendesak ormas tersebut untuk segera hengkang dan membatalkan kegiatan-kegiatannya yang kerap dinilai makar.

Untuk diketahui bersama, HTI merupakan bagian dari sebuah organisasi ekstrim internasional yang bermarkas di Inggris. Organisasi ini memiliki agenda untuk membubarkan sistem negara-bangsa dan menggantinya dengan pemerintahan supranasional yang dikenal dengan khilafah. Di beberapa negara mayoritas muslim bahkan seperti Arab Saudi  dan Mesir sekalipun, HTI merupakan organisasi terlarang.

 

(sumber :detik.com, tempo.co, dan sindonews.com)[:]